Top PDF 07 Permenkes No. 919 thn 1993 ttg Kriteria Obat Yang Dapat Diserahkan Tanpa Resep

07 Permenkes No. 919 thn 1993 ttg  Kriteria Obat Yang Dapat Diserahkan Tanpa Resep

07 Permenkes No. 919 thn 1993 ttg Kriteria Obat Yang Dapat Diserahkan Tanpa Resep

M M MM EEEE MMMM UUUU TTTT UU SUUSSS KKKK AAAA NNNN MENETAPKAN : PERATURAN MENTERI KESEHATAN TENTANG KRITERIA OBAT YANG DAPAT DISERAHKAN TANPA RESEP Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri i[r]

3 Baca lebih lajut

Permenkes No.919 thn 1993 ttg Kriteria Obat yang Dapat Diserahkan Tanpa Resep

Permenkes No.919 thn 1993 ttg Kriteria Obat yang Dapat Diserahkan Tanpa Resep

bahwa peningkatan pengobatan sendiri secara tepat, aman dan rasional dapat dicapai melalui peningkatan penyediaan obat yang dibutuhkan untuk pengobatan sendiri yang sekaligus menjamin pe[r]

3 Baca lebih lajut

09 Permenkes No.924 thn 1993 ttg Daftar Obat Wajib Apotik No.2

09 Permenkes No.924 thn 1993 ttg Daftar Obat Wajib Apotik No.2

LAMPIRAN SURAT KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN RI NOMOR : 924/MENKES/PER/1993 TENTANG : DAFTAR OBAT WAJIB Apotik NO 2 OBAT KERAS YANG DAPAT DISERAHKAN TANPA RESEP DOKTER OLEH Apoteker DI [r]

4 Baca lebih lajut

Tampilkan DIP: SE Mendagri 188.2-1987A - 2013

Tampilkan DIP: SE Mendagri 188.2-1987A - 2013

SEHUBUNGAN DGN PEMBERLAKUAN UU NO 14 THN 2008 TTG KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK SEJAK TGL 30 APRIL 2008 DN MENINDAKLANJUTI PP NO 61 THN 2010 TTG PELAKSANAAN UU NO 14 THN 2008 TTG KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK KMA PERMENDAGRI NO 35 THN 2010 TTG PEDOMAN PENGELOLAAN PELAYANAN INFORMASI DN DOKUMENTASI DI LINGKUNGAN KEMENDAGRI DN PEMDA KMA SERTA SE MENDAGRI NO 188.2/3435/SJ TGL 23 AGUSTUS 2010 PERIHAL PELAKSANAAN UU NO 14 THN 2008 TTG KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK KMA DGN HORMAT DIMINTA PERHATIAN SDR TERHADAP HALS SBB TTK DUA
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

Permenkes No. 27 thn 2014 ttg Juknis Sistem INA CBGs (1)

Permenkes No. 27 thn 2014 ttg Juknis Sistem INA CBGs (1)

Regionalisasi dalam tarif INA-CBGs dimaksudkan untuk mengakomodir perbedaan biaya distribusi obat dan alat kesehatan di Indonesia. Dasar penentuan regionalisasi digunakan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari Badan Pusat Statistik (BPS), pembagian regioalisasi dikelompokkan menjadi 5 regional. Kesepakatan mengenai pembagian regional dilaksanakan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan dengan Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) dengan hasil regionalisasi tingkat propinsi sebagai berikut :

50 Baca lebih lajut

Permenkes No.003 thn 2010 ttg Saintifikasi Jamu dalam Penelitian Berbasis Pelayanan Kesehatan

Permenkes No.003 thn 2010 ttg Saintifikasi Jamu dalam Penelitian Berbasis Pelayanan Kesehatan

3. Obat Tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik), atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan, dan dapat diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat.

15 Baca lebih lajut

07 PERDA NO. 6 THN 2008 TTG BUMD

07 PERDA NO. 6 THN 2008 TTG BUMD

Untuk memperoleh calon anggota Direksi yang terbaik, diperlukan seleksi melalui uji kelayakan dan kepatutan yang transparan, profesional, mandiri dan dapat dipertanggung jawabkan. Seleksi dilakukan oleh Tim yang ditunjuk oleh Bupati dan anggota tim adalah harus memenuhi kriteria profesionalisme, pemahaman bidang manajemen dan usaha BUMD, tidak memliki benturan kepentingan dengan calon Direksi, dan memilki integritas serta dedikasi yang tinggi. Bupati dapat menunjuk lembaga profesional selain Perguruan Tinggi, yang independen untuk melakukan uji kelayakan dan kepatutan.
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

UNDANGAN PEMBUKTIAN DAN NEGOSIASI

UNDANGAN PEMBUKTIAN DAN NEGOSIASI

Perpres No.4 thn 2015 ttg perubahan ke empat perpres no.54 thn 2010 ttg pedoman pelaksanaan barang /jasa pemerintah, pasal 109 ayat 7 point c apabila penawaran yg masuk kurang dari 3 tig[r]

1 Baca lebih lajut

Penerapan Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) untuk mendeteksi Prescription Error pada resep poli jantung di Instalasi Rawat jalan RSUP Fatmawati

Penerapan Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) untuk mendeteksi Prescription Error pada resep poli jantung di Instalasi Rawat jalan RSUP Fatmawati

5.2.5.1 Diagram Ischikawa Untuk Kegagalan Membaca Riwayat Alergi Berdasarkan hasil penelitian kegagalan membaca riwayat alergi merupakan RPN dengan nilai tertinggi yaitu 120 dengan nilai SEV 6 , OCC 5, dan DET 4. Riwayat alergi dianggap memiliki tingkatan berpotensi berbahaya karena dapat menyebabkan KPC (Kejadian Potensial Cidera) yaitu kondisi yang sangat berpotensi untuk mrnimbulkan cidera tetapi belum terjadi insiden dan kegagalan dalam membaca riwayat alergi juga dianggap dapat mennyebabkan sentinel yaitu suatu KTD (Kejadian yang Tidak Diharapakan) yang dapat mengakibatkan kematian. Laporan mengenai KTD yang diakibatkan oleh alergi pasien terhadap pengobatan, Angka kejadian alergi obat diperkirakan 1:1 000 sampai 1:10 000 orang yang terpapar obat antikejang atau antibiotik golongan sulfonamida. Angka kematian berkisar 10% kasus, yang diakibatkan oleh gangguan organ sistemik yang terlibat. Obat-obatan yang sering dikaitkan dengan alergi obat adalah obat anti kejang, sufonamid, dapson, minosiklin, serta alupurinol. 22 Berdasarkan Aiken dan Clarke (2002) menyatakan bahwa kesalahan pengobatan dan efek samping obat terjadi pada rata-rata 6,7% pasien yang masuk ke rumah sakit. 2
Baca lebih lanjut

146 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  TINJAUAN KELENGKAPAN RESEP DAN EVALUASI DOSIS PADA PASIEN ANAK RAWAT JALAN DI INSTALASI FARMASI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH SUKOHARJO PERIODE BULAN OKTOBER-DESEMBER 2010.

PENDAHULUAN TINJAUAN KELENGKAPAN RESEP DAN EVALUASI DOSIS PADA PASIEN ANAK RAWAT JALAN DI INSTALASI FARMASI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH SUKOHARJO PERIODE BULAN OKTOBER-DESEMBER 2010.

Evaluasi penggunaan obat adalah suatu proses yang terus-menerus, sah secara organisasi, terstruktur diajukan untuk memastikan bahwa obat digunakan secara tepat, aman, dan bermanfaat, kriteria dapat ditetapkan oleh PFT untuk meningkatkan penggunaan obat yang tepat. Kriteria penggunaan obat adalah pedoman yang disetujui berkaitan dengan cara atau di bawah kondisi suatu obat direkomendasikan untuk digunakan. Ada 3 jenis kriteria penggunaan obat yaitu kriteria diagnosis, kriteria penulisan resep, dan kriteria spesifik obat. Kriteria diagnosis mengidentifikasi indikasi penggunaan obat formularium yang dapat diterima di rumah sakit. Kriteria penulisan resep mengidentifikasi penulis yang disetujui menggunakan obat formularium atau golongan obat tertentu, sedangkan kriteria spesifik obat memperkenalkan dosis, frekuensi pemberian, lama terapi yang disetujui, atau aspek lain yang spesifik pada penggunaan obat dari suatu obat formularium (Siregar, 2003). 6. Dosis
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

07 Per KBPOM No.HK.03.1.3.12.11.10693 thn 2011 ttg Pengawasan Pemasukan Bahan Obat

07 Per KBPOM No.HK.03.1.3.12.11.10693 thn 2011 ttg Pengawasan Pemasukan Bahan Obat

c. bahwa pengaturan pengawasan bahan obat sebagaimana telah ditetapkan dalam Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor HK.00.05.1.3460 tahun 2005 tentang Pengawasan Pemasukan Bahan Baku Obat sudah tidak sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga perlu disempurnakan;

33 Baca lebih lajut

06 Kepmenkes No.347 thn 1990 ttg Obat Wajib Apotik

06 Kepmenkes No.347 thn 1990 ttg Obat Wajib Apotik

M MMM EEEE MMMM UUUU TTTT UUU SUSSS KKKK AAAA NNNN MENETAPKAN : Pertama : Keputusan Menteri Kesehatan tentang OBAT WAJIB APOTIK yaitu obat keras yang dapat diserahkan oleh Apoteker ke[r]

6 Baca lebih lajut

SK No.56 Thn 2015 ttg Panitia pemusnahan obat 2015

SK No.56 Thn 2015 ttg Panitia pemusnahan obat 2015

Peraturan Daerah Kabupaten Barito Kuala Nomor 16 Tahun 2010 tentang Pembentukan, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Dinas­Dinas Kabupaten Barito Kuala Lembaran Daerah Kabupaten Barito Kua[r]

6 Baca lebih lajut

Permenkes No.58 thn 2014 ttg Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit

Permenkes No.58 thn 2014 ttg Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit

Rekonsiliasi Obat merupakan proses membandingkan instruksi pengobatan dengan Obat yang telah didapat pasien. Rekonsiliasi dilakukan untuk mencegah terjadinya kesalahan Obat (medication error) seperti Obat tidak diberikan, duplikasi, kesalahan dosis atau interaksi Obat. Kesalahan Obat (medication error) rentan terjadi pada pemindahan pasien dari satu Rumah Sakit ke Rumah Sakit lain, antar ruang perawatan, serta pada pasien yang keluar dari Rumah Sakit ke layanan kesehatan primer dan sebaliknya.

54 Baca lebih lajut

Permenkes no 43 Thn 2016 Ttg SPM

Permenkes no 43 Thn 2016 Ttg SPM

Hal-hal tersebut di atas membuat seluruh elemen akan bersatu padu berbenah untuk bersama-sama menuju pencapaian target-target SPM, termasuk di dalamnya adalah pemenuhan sumber daya manusia kesehatan terutama di level Puskesmas sesuai Permenkes Nomor 75 Tahun 2014 tentang Pusat Kesehatan Masyarakat. Puskesmas sebagai fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama akan menjadi unit terdepan dalam upaya pencapaian target-target SPM.

79 Baca lebih lajut

Gambaran Pengetahuan, Sikap, Dan Tindakan Pengobatan Sendiri Pada Masyarakat Di Lingkungan II Kelurahan Babura Sunggal, Kecamatan Medan Sunggal, Kota Medan

Gambaran Pengetahuan, Sikap, Dan Tindakan Pengobatan Sendiri Pada Masyarakat Di Lingkungan II Kelurahan Babura Sunggal, Kecamatan Medan Sunggal, Kota Medan

Kemenkes RI, 1983. Surat Keputusan Menteri Kesehatan No.2380/1983. Jakarta. Kemenkes RI, 1993. Surat Keputusan Menteri Kesehatan No.917/1993. Jakarta. Kemenkes RI, 1994. Surat Keputusan Menteri Kesehatan No.386/1994. Jakarta. Kristina, S., Prabandari, Y. & Sudjaswadi, R., 2008. Perilaku pengobatan sendiri

4 Baca lebih lajut

10 Permenkes No.925 thn 1993 ttg Daftar Perubahan Golongan Obat No.1

10 Permenkes No.925 thn 1993 ttg Daftar Perubahan Golongan Obat No.1

NAMA GENERIK OBAT GOLONGAN SEMULA GOLONGAN BARU PEMBATASAN Obat keras/Obat Wajib Apotik Obat Keras Obat Keras Obat Keras/Obat Wajib Apotik Obat Keras Obat Keras dalam substansi Oba[r]

4 Baca lebih lajut

Permenkes No. 922 thn 1993 ttg Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotik

Permenkes No. 922 thn 1993 ttg Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotik

(4) Dalam hal pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan ayat tidak dilaksanakan, apoteker Pemohon dapat membuat surat pernyataan siap melakukan kegiatan kepada Kepala Kantor W ilayah dengan tembusan kepada Direktur Jenderal dan Kepala Balai Pemeriksaan Obat dan Makanan, dengan menggunakan contoh Formulir Model AP-4. (5) Dalam jangka waktu 12 (dua belas) hari kerja setelah diterima laporan

13 Baca lebih lajut

08 Permenkes No.922 thn 1993 ttg Ketentuan Dan Tata Cara Pemberian Ijin Apotik

08 Permenkes No.922 thn 1993 ttg Ketentuan Dan Tata Cara Pemberian Ijin Apotik

2. Dengan menggunakan Formulir Model AP-2, Kepala Kantor Wilayah selambat- lambatnya 6 (enam) bulan hari kerja setelah menerima permohonan, wajib menugaskan Kepala Balai Pemeriksaan Obat dan Makananuntuk melakukan pemeriksaan setempat terhadap kesiapan Apotik untuk melakukan kegiatan. 3. Kepala Balai Pemeriksaan Obat dan Makanan selambat-lambatnya 6 (enam) hari

20 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...