Top PDF Permenkes No.919 thn 1993 ttg Kriteria Obat yang Dapat Diserahkan Tanpa Resep

Permenkes No.919 thn 1993 ttg Kriteria Obat yang Dapat Diserahkan Tanpa Resep

Permenkes No.919 thn 1993 ttg Kriteria Obat yang Dapat Diserahkan Tanpa Resep

bahwa peningkatan pengobatan sendiri secara tepat, aman dan rasional dapat dicapai melalui peningkatan penyediaan obat yang dibutuhkan untuk pengobatan sendiri yang sekaligus menjamin pe[r]

3 Baca lebih lajut

07 Permenkes No. 919 thn 1993 ttg  Kriteria Obat Yang Dapat Diserahkan Tanpa Resep

07 Permenkes No. 919 thn 1993 ttg Kriteria Obat Yang Dapat Diserahkan Tanpa Resep

M M MM EEEE MMMM UUUU TTTT UU SUUSSS KKKK AAAA NNNN MENETAPKAN : PERATURAN MENTERI KESEHATAN TENTANG KRITERIA OBAT YANG DAPAT DISERAHKAN TANPA RESEP Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri i[r]

3 Baca lebih lajut

09 Permenkes No.924 thn 1993 ttg Daftar Obat Wajib Apotik No.2

09 Permenkes No.924 thn 1993 ttg Daftar Obat Wajib Apotik No.2

LAMPIRAN SURAT KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN RI NOMOR : 924/MENKES/PER/1993 TENTANG : DAFTAR OBAT WAJIB Apotik NO 2 OBAT KERAS YANG DAPAT DISERAHKAN TANPA RESEP DOKTER OLEH Apoteker DI [r]

4 Baca lebih lajut

Permenkes No. 922 thn 1993 ttg Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotik

Permenkes No. 922 thn 1993 ttg Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotik

(1) Pada setiap pengalihan tanggung jawab pengelolaan kefarmasian yang disebabkan karena penggantian Apoteker Pengelola Apotik kepada Apoteker Pengganti, wajib dilakukan serah terima resep, narkotika. obat dan perbekalan farmasi lainnya serta kunci-kunci tempat penyimpanan narkotika dan psikotropika.

13 Baca lebih lajut

Laporan Praktek Kerja Profesi Farmasi Komunitas Di Apotek Kimia Farma 29 Pematang Siantar

Laporan Praktek Kerja Profesi Farmasi Komunitas Di Apotek Kimia Farma 29 Pematang Siantar

Apotek membuat laporan pemakaian narkotik dan psikotropik berdasarkan dokumen penerimaan dan pengeluarannya setiap bulan. Untuk obat- obat golongan narkotika, pelaporan dilakukan sekali dalam sebulan, selambat- lambatnya tanggal 10 setiap bulannya. Sedangkan untuk obat-obat psikotropika, pelaporannya dilakukan dua kali dalam setahun, yaitu tiap 6 bulan. Laporan- laporan ini ditandatangani oleh APA lalu diberi stempel apotek, difoto kopi rangkap 4, 1 lembar untuk pertinggal. Laporan ini ditujukan kepada:

68 Baca lebih lajut

Penerapan Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) untuk mendeteksi Prescription Error pada resep poli jantung di Instalasi Rawat jalan RSUP Fatmawati

Penerapan Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) untuk mendeteksi Prescription Error pada resep poli jantung di Instalasi Rawat jalan RSUP Fatmawati

Visite merupakan kegiatan kunjungan ke pasien rawat inap yang dilakukanApoteker secara mandiri atau bersama tim tenaga kesehatan untuk mengamat kondisi klinis pasien secara langsung, dan mengkaji masalah terkait Obat,memantau terapi Obat dan Reaksi Obat yang Tidak Dikehendaki, meningkatkan terapi Obat yang rasional, dan menyajikan informasi Obat kepada dokter, pasien serta profesional kesehatan lainnya. Visite juga dapat dilakukan pada pasien yang sudah keluar Rumah Sakit baik atas permintaan pasien maupun sesuai dengan program Rumah Sakit yang biasa disebut dengan Pelayanan Kefarmasian di rumah (Home Pharmacy Care). Sebelum melakukan kegiatan visite Apoteker harus mempersiapkan diri dengan mengumpulkan informasi mengenai kondisi pasien dan memeriksa terapi Obat dari rekam medik atau sumber lain
Baca lebih lanjut

146 Baca lebih lajut

Permenkes No. 27 thn 2014 ttg Juknis Sistem INA CBGs (1)

Permenkes No. 27 thn 2014 ttg Juknis Sistem INA CBGs (1)

Regionalisasi dalam tarif INA-CBGs dimaksudkan untuk mengakomodir perbedaan biaya distribusi obat dan alat kesehatan di Indonesia. Dasar penentuan regionalisasi digunakan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari Badan Pusat Statistik (BPS), pembagian regioalisasi dikelompokkan menjadi 5 regional. Kesepakatan mengenai pembagian regional dilaksanakan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan dengan Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) dengan hasil regionalisasi tingkat propinsi sebagai berikut :

50 Baca lebih lajut

Permenkes No.003 thn 2010 ttg Saintifikasi Jamu dalam Penelitian Berbasis Pelayanan Kesehatan

Permenkes No.003 thn 2010 ttg Saintifikasi Jamu dalam Penelitian Berbasis Pelayanan Kesehatan

3. Obat Tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik), atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan, dan dapat diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat.

15 Baca lebih lajut

UNDANGAN PEMBUKTIAN DAN NEGOSIASI

UNDANGAN PEMBUKTIAN DAN NEGOSIASI

Perpres No.4 thn 2015 ttg perubahan ke empat perpres no.54 thn 2010 ttg pedoman pelaksanaan barang /jasa pemerintah, pasal 109 ayat 7 point c apabila penawaran yg masuk kurang dari 3 tig[r]

1 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  TINJAUAN KELENGKAPAN RESEP DAN EVALUASI DOSIS PADA PASIEN ANAK RAWAT JALAN DI INSTALASI FARMASI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH SUKOHARJO PERIODE BULAN OKTOBER-DESEMBER 2010.

PENDAHULUAN TINJAUAN KELENGKAPAN RESEP DAN EVALUASI DOSIS PADA PASIEN ANAK RAWAT JALAN DI INSTALASI FARMASI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH SUKOHARJO PERIODE BULAN OKTOBER-DESEMBER 2010.

Evaluasi penggunaan obat adalah suatu proses yang terus-menerus, sah secara organisasi, terstruktur diajukan untuk memastikan bahwa obat digunakan secara tepat, aman, dan bermanfaat, kriteria dapat ditetapkan oleh PFT untuk meningkatkan penggunaan obat yang tepat. Kriteria penggunaan obat adalah pedoman yang disetujui berkaitan dengan cara atau di bawah kondisi suatu obat direkomendasikan untuk digunakan. Ada 3 jenis kriteria penggunaan obat yaitu kriteria diagnosis, kriteria penulisan resep, dan kriteria spesifik obat. Kriteria diagnosis mengidentifikasi indikasi penggunaan obat formularium yang dapat diterima di rumah sakit. Kriteria penulisan resep mengidentifikasi penulis yang disetujui menggunakan obat formularium atau golongan obat tertentu, sedangkan kriteria spesifik obat memperkenalkan dosis, frekuensi pemberian, lama terapi yang disetujui, atau aspek lain yang spesifik pada penggunaan obat dari suatu obat formularium (Siregar, 2003). 6. Dosis
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

06 Kepmenkes No.347 thn 1990 ttg Obat Wajib Apotik

06 Kepmenkes No.347 thn 1990 ttg Obat Wajib Apotik

M MMM EEEE MMMM UUUU TTTT UUU SUSSS KKKK AAAA NNNN MENETAPKAN : Pertama : Keputusan Menteri Kesehatan tentang OBAT WAJIB APOTIK yaitu obat keras yang dapat diserahkan oleh Apoteker ke[r]

6 Baca lebih lajut

SK No.56 Thn 2015 ttg Panitia pemusnahan obat 2015

SK No.56 Thn 2015 ttg Panitia pemusnahan obat 2015

Peraturan Daerah Kabupaten Barito Kuala Nomor 16 Tahun 2010 tentang Pembentukan, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Dinas­Dinas Kabupaten Barito Kuala Lembaran Daerah Kabupaten Barito Kua[r]

6 Baca lebih lajut

Tampilkan DIP: SE Mendagri 188.2-1987A - 2013

Tampilkan DIP: SE Mendagri 188.2-1987A - 2013

SEHUBUNGAN DGN PEMBERLAKUAN UU NO 14 THN 2008 TTG KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK SEJAK TGL 30 APRIL 2008 DN MENINDAKLANJUTI PP NO 61 THN 2010 TTG PELAKSANAAN UU NO 14 THN 2008 TTG KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK KMA PERMENDAGRI NO 35 THN 2010 TTG PEDOMAN PENGELOLAAN PELAYANAN INFORMASI DN DOKUMENTASI DI LINGKUNGAN KEMENDAGRI DN PEMDA KMA SERTA SE MENDAGRI NO 188.2/3435/SJ TGL 23 AGUSTUS 2010 PERIHAL PELAKSANAAN UU NO 14 THN 2008 TTG KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK KMA DGN HORMAT DIMINTA PERHATIAN SDR TERHADAP HALS SBB TTK DUA
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

Permenkes No.58 thn 2014 ttg Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit

Permenkes No.58 thn 2014 ttg Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit

Dalam pengorganisasian Rumah Sakit dibentuk Tim Farmasi dan Terapi (TFT) yang merupakan unit kerja dalam memberikan rekomendasi kepada pimpinan Rumah Sakit mengenai kebijakan penggunaan Obat di Rumah Sakit yang anggotanya terdiri dari dokter yang mewakili semua spesialisasi yang ada di Rumah Sakit, Apoteker Instalasi Farmasi, serta tenaga kesehatan lainnya apabila diperlukan. TFT harus dapat membina hubungan kerja dengan komite lain di dalam Rumah Sakit yang berhubungan/berkaitan dengan penggunaan Obat.

54 Baca lebih lajut

Gambaran Pengetahuan, Sikap, Dan Tindakan Pengobatan Sendiri Pada Masyarakat Di Lingkungan II Kelurahan Babura Sunggal, Kecamatan Medan Sunggal, Kota Medan

Gambaran Pengetahuan, Sikap, Dan Tindakan Pengobatan Sendiri Pada Masyarakat Di Lingkungan II Kelurahan Babura Sunggal, Kecamatan Medan Sunggal, Kota Medan

Kemenkes RI, 1983. Surat Keputusan Menteri Kesehatan No.2380/1983. Jakarta. Kemenkes RI, 1993. Surat Keputusan Menteri Kesehatan No.917/1993. Jakarta. Kemenkes RI, 1994. Surat Keputusan Menteri Kesehatan No.386/1994. Jakarta. Kristina, S., Prabandari, Y. & Sudjaswadi, R., 2008. Perilaku pengobatan sendiri

4 Baca lebih lajut

10 Permenkes No.925 thn 1993 ttg Daftar Perubahan Golongan Obat No.1

10 Permenkes No.925 thn 1993 ttg Daftar Perubahan Golongan Obat No.1

NAMA GENERIK OBAT GOLONGAN SEMULA GOLONGAN BARU PEMBATASAN Obat keras/Obat Wajib Apotik Obat Keras Obat Keras Obat Keras/Obat Wajib Apotik Obat Keras Obat Keras dalam substansi Oba[r]

4 Baca lebih lajut

08 Permenkes No.922 thn 1993 ttg Ketentuan Dan Tata Cara Pemberian Ijin Apotik

08 Permenkes No.922 thn 1993 ttg Ketentuan Dan Tata Cara Pemberian Ijin Apotik

2. Dengan menggunakan Formulir Model AP-2, Kepala Kantor Wilayah selambat- lambatnya 6 (enam) bulan hari kerja setelah menerima permohonan, wajib menugaskan Kepala Balai Pemeriksaan Obat dan Makananuntuk melakukan pemeriksaan setempat terhadap kesiapan Apotik untuk melakukan kegiatan. 3. Kepala Balai Pemeriksaan Obat dan Makanan selambat-lambatnya 6 (enam) hari

20 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...