Top PDF Potensi Beberapa Kultivar Puring (Codiaeum variegatum L.) sebagai Fitoremediasi pada Tanah Tercemar Logam Berat Pb (Timbal)

Potensi Beberapa Kultivar Puring (Codiaeum variegatum L.) sebagai Fitoremediasi pada Tanah Tercemar Logam Berat Pb (Timbal)

Potensi Beberapa Kultivar Puring (Codiaeum variegatum L.) sebagai Fitoremediasi pada Tanah Tercemar Logam Berat Pb (Timbal)

53 sampai November 2018. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan jumlah daun, dan tinggi tanaman tidak menunjukkan pengaruh nyata, sedangkan pada total panjang akar dan luas daun masing-masing kultivar berpengaruh nyata. Kultivar yang toleran terhadap cekaman logam berat timbal (Pb) adalah kultivar Jago ditunjukkan dengan tingginya konsentrasi Pb yang terdapat pada akar sebesar 0.48060 ppm, total panjang akar terbesar 5748.817 cm. Hasil perhitungan didapatkan nilai TF < 1 dan BCF >1, sehingga strategi fitoremediasi kultivar puring yang terpapar Pb dari tanah termasuk dalam fitostabilisasi.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Efek Pemberian Dosis ZA pada Lahan Tercemar Logam Berat Timbal terhadap Pertumbuhan dan Akumulasi Pb pada Tanaman Puring (Codiaeum variegatum L.) dan Lidah Mertua (Sansevieria trifasciata L.)

Efek Pemberian Dosis ZA pada Lahan Tercemar Logam Berat Timbal terhadap Pertumbuhan dan Akumulasi Pb pada Tanaman Puring (Codiaeum variegatum L.) dan Lidah Mertua (Sansevieria trifasciata L.)

Salah satu teknologi alternatif untuk memulihkan tanah yang tercemar logam berat adalah menggunakan tanaman (fitoremediasi). Cara ini lebih efesien dan ramah lingkungan (Mangkoediharjo, 2005). Tanaman lidah mertua (Sansevieria trifasciata L.) dan puring (Codiaeum variegatum L.) termasuk jenis tanaman hiperakumulator yang berfungsi untuk meremediasi tanah yang tercemar logam berat Pb. Lidah mertua memiliki kemampuan menyerap konsentrasi Pb dalam tanah sebesar 56,63% (Yusuf et al., 2014). Menurut Sapta dan Hapsari (2012) dalam Kurniawati, dkk (2016) bahwa kemampuan tanaman dalam menyerap logam Pb dari 2 jenis tanaman yaitu puring (22,89%) dan lidah mertua (2,91%). Upaya lainnya yang dapat dilakukan agar pelaksanaan fitoremediasi berhasil adalah dengan menambahkan pupuk untuk meningkatkan biomassa tanaman hiperakumulator. Penggunaan pupuk anorganik yang mengandung nitrogen (ZA) ditambahkan karena dapat menyediakan nutrisi bagi tanaman sehingga dalam dosis yang tepat akan menghasilkan pertumbuhan biomassa yang tinggi, juga untuk menambah kemasaman tanah untuk meningkatkan kertersediaan logam di dalam tanah (Wati et al., 2019). Ammonium sulfat (ZA) atau (NH4) + dan sulfat (SO4) -2 yang selanjutnya ion sulfat dapat berikatan dengan ion Pb +2 dan membentuk PbSO4 yang dapat diserap akar tanaman (Gurnita et al., 2017).
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

V. SIMPULAN DAN SARAN  POTENSI TANAMAN ALFALFA (Medicago sativa L.) SEBAGAI FITOREMEDIATOR TANAH TERCEMAR LOGAM BERAT TIMBAL (Pb).

V. SIMPULAN DAN SARAN POTENSI TANAMAN ALFALFA (Medicago sativa L.) SEBAGAI FITOREMEDIATOR TANAH TERCEMAR LOGAM BERAT TIMBAL (Pb).

Putri, Litany Mega. 2012. Fitoremediasi Tanah Tercemar Logam Berat Timbal (Pb) dengan Menggunakan Tumbuhan Lidah Mertua ( Sansiviera trifasciata ) di Kelurahan Tambak Wedi, Kecamatan Kenjeran, Surabaya. Skripsi-S1 . Fakultas Teknik Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Surabaya.

25 Baca lebih lajut

POTENSI TANAMAN ALFALFA (Medicago sativa L.) SEBAGAI FITOREMEDIATOR TANAH TERCEMAR LOGAM BERAT TIMBAL (Pb).

POTENSI TANAMAN ALFALFA (Medicago sativa L.) SEBAGAI FITOREMEDIATOR TANAH TERCEMAR LOGAM BERAT TIMBAL (Pb).

akumulasi logam berat Pb pada konsentrasi 750 ppm > konsentrasi 0, 250 dan 500 ppm. Dalam menyerap logam berat, tumbuhan membentuk suatu enzim reduktase di membran akarnya yang berfungsi mereduksi logam. Dari akar Pb diangkat melalui jaringan pengangkut, yaitu xilem dan floem kebagian lain tumbuhan. Untuk meningkatkan efisiensi pengangkutan, logam diikat oleh molekul khelat. Mekanisme fitoremediasi yang mungkin terjadi pada tanaman alfalfa adalah fitoakumulasi. Mekanisme fitoakumulasi meliputi penyerapan kontaminan oleh akar tanaman selanjutnya ditranslokasikan kedalam organ tanaman (Gosh dan Singh, 2005).
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

View of KEMAMPUAN PENYERAPAN TIMBAL (PB) PADA BEBERAPA KULTIVAR TANAMAN PURING (CODIAEUM VARIEGATUM)

View of KEMAMPUAN PENYERAPAN TIMBAL (PB) PADA BEBERAPA KULTIVAR TANAMAN PURING (CODIAEUM VARIEGATUM)

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan logam berat timbal (Pb) yang terakumulasi pada pucuk, daun, dan batang tanaman puring, dan kemampuan 18 kultivar tanaman puring dalam mengakumulasi Pb dari udara di lingkungan Perumahan Batan Indah, Kecamatan Serpong, Tangerang Selatan. Pengambilan sampel bersifat purposive sampling pada 2 titik lokasi/stasiun pada jalan/blok F, G, H, I, J, K, L, M, dan N (9 jalan/blok). Masing-masing blok, terdiri atas titik pertama, yaitu lokasi yang padat lalu lintas (sekitar 50 m dari jalan raya) dan titik ke-dua, yaitu lokasi yang relatif sepi lalu lintas (sekitar 250 m dari jalan raya). Sehingga terdapat 18 sampel yang masing-masing terdiri atas pucuk, daun, dan batang tanaman puring. Penetapan kadar Pb dilakukan dengan menggunakan metode spektrometri pendar Sinar-X, dan dilanjutkan penentuan kandungan Pb dengan teknik kurva kalibrasi. Hasil penelitian menunjukkan penyerapan Pb tanaman puring pada lokasi padat lalu lintas lebih tinggi (pucuk: 18.78 µg/gr; daun: 26.89 µg/gr; dan batang: 102.15 µg/gr) dibandingkan dengan lokasi yang sepi lalu lintas (pucuk: 13.93 µg/gr; daun: 21.07 µg/gr; dan batang: 68.43 µg/gr). Jumlah kultivar puring yang ditemukan berdasarkan identifikasi adalah13 kultivar. Bagian tanaman penyerap Pb paling baik adalah batang
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Respon Tanaman Hias Puring (Codiaeum variegatum L.) dan Lidah Mertua (Sansevieria trifasciata L.) Akibat Penambahan Macam Pupuk Nitrogen pada Tanah Tercemar Logam Berat Timbal (Pb)

Respon Tanaman Hias Puring (Codiaeum variegatum L.) dan Lidah Mertua (Sansevieria trifasciata L.) Akibat Penambahan Macam Pupuk Nitrogen pada Tanah Tercemar Logam Berat Timbal (Pb)

Tanaman puring dan sansevieria di aklimatisasi selama 1 bulan di rumah kaca agar tanaman dapat beradaptasi dengan kondisi lingkungan. Media yang digunakan yaitu tanah dan pasir dengan perbandingan 4:1 yang diisikan pada polybag tanpa lubang dengan kapasitas 5 kg tanah.Timbal ditambahkan pada tiap polybag dengan dosis 350 mg/kg tanah (1,75 gram/polybag) yang diaplikasikan 1 minggu sebelum tanam. Transplanting tanaman dilakukan pada sore hari agar tidak langsung dihadapkan dengan cuaca panas atau ekstrim. Perlakuan penambahan pupuk dilaksanakan pada saat 3 HST (hari setelah tanam) sesuai dengan perlakukan yang telah ditentukan.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

KAJIAN EFEKTIVITAS DAUN PURING (Codiaeum variegatum) DAN LIDAH MERTUA (Sansevieria trispasciata) DALAM MENYERAP TIMBAL DI UDARA AMBIEN

KAJIAN EFEKTIVITAS DAUN PURING (Codiaeum variegatum) DAN LIDAH MERTUA (Sansevieria trispasciata) DALAM MENYERAP TIMBAL DI UDARA AMBIEN

The most important result of air pollution from motor vehicle transport activities on the ground. One of the pollutants emitted from fuel combustion process is lead (Pb). Alternative efforts to reduce the impact of pollutants emitted by the lead vehicle is biologically, including using puring plant (Codiaeum varriegatum) or lidah mertua (Sansevieria trispasciata). This study aims to determine the effectiveness of the puring plant (Codiaeum variegatum) and lidah mertua (Sansevieria trispasciata) in absorbing lead. Method of treatment with plant exposure for 0 hours, 12 hours and 24 hours of on-site solid transportation. Analysis of data using statistical percentage. The results obtained state that puring leaves (Codiaeum variegatum) and lidah mertua (Sansevieria trispasciata) can absorb lead (Pb) in which the absorption of lead (Pb) by puring leaves better than the absorption by the leaves of lidah mertua.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Remediasi Tanah Tercemar Logam Berat Dengan Menggunakan Biochar

Remediasi Tanah Tercemar Logam Berat Dengan Menggunakan Biochar

Dalam kasus tanah tercemar yang bereaksi masam, jenis biochars dan kation tukar (Na, Mg, K, dan Ca) memegang peran untuk membebaskan beberapa ini kation selama proses penjerapan dengan logam berat, dan sehingga dapat memperkaya proses stabilisasi. Mekanisne utama yang bertanggung jawab atas proses penjerapan logam berat menurut Lu et al (2012) adalah pertukaran logam berat dengan Ca 2+ , Mg 2+, dan kation lainnya (Na + dan K+) yang ada pada lumpur biochar. Namun, sangat sedikit kontribusi kation monovalent (Na + dan K +) dalam proses pertukaran kation logam berat Oleh karena itu, dapat dibayangkan bahwa di bawah situasi lapangan yang sebenarnya, mekanisme penyerapan untuk tanah tercemar logam berat dengan pemberian biochar dapat tergantung pada jenis tanah dan keberadaan kation pada tanah dan biochar, dengan demikian implikasi untuk perbaikan di tanah yang tercemar bisa bervariasi (Lu et al. 2012)
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

FITOREMEDIASI LOGAM BERAT KADMIUM (Cd) PADA TANAH YANG TERCEMAR DENGAN TANAMAN BIDURI (Caloptropis gegantea) DAN RUMPUT GAJAH (Panicum maximum

FITOREMEDIASI LOGAM BERAT KADMIUM (Cd) PADA TANAH YANG TERCEMAR DENGAN TANAMAN BIDURI (Caloptropis gegantea) DAN RUMPUT GAJAH (Panicum maximum

Pengambilan contoh tanah dilakukan secara acak pada pada 3 plot di masing-masing lokasi yang berbeda. Pengambilan sampel tanah dilakukan secara komposit pada berbagai kedalaman. Contoh tanah kemudian dianalisis di laboratorium, dan sebagian dari tanah tersebut dijadikan sebagai media percobaan. Sedangkan analisis logam berat hanya Kadmium (Cd), karena berdasarkan analisis tanah sebelumnya menunjukan kandungan kadmium (Cd) cukup tinggi. Metode yang digunakan untuk analisis logam berat ini dengan menggunakan AAS (Atomic Absorbtion Spectrometry).
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

POTENSI AKAR WANGI (Vetivera zizanioides) DALAM MEREHABILITASI TANAH TERCEMAR LOGAM BERAT TIMBAL (Pb) DI PERKEBUNAN SAYUR DESA WAIHERU AMBON

POTENSI AKAR WANGI (Vetivera zizanioides) DALAM MEREHABILITASI TANAH TERCEMAR LOGAM BERAT TIMBAL (Pb) DI PERKEBUNAN SAYUR DESA WAIHERU AMBON

Berdasarkan tabel 1 tersebut diatas dapat dijelaskan bahwa pH tanah awal berbeda dengan pH tanah setelah pemupukan dengan tekstur tanah pasir berlempung dengan ciri-ciri terasa kasar, dapat dibentuk menjadi bola tetapi mudah hancur, sedikit melekat dan berlumut. Hasil analisis pH pada penelitian ini bersifat sangat asam, yaitu 3,2. Berdasarkan kriteria unsur hara tanah nilai pH tersebut termasuk tanah sangat asam (< 4,5). Tingkat kemasaman tanah yang tinggi dipengaruhi oleh keberadaan asam-asam organik di dalamnya. Ion H+ dalam tanah berada dalam bentuk gugus fungsional asam-asam organik terutama dalam bentuk gugus karboksilat (-COOH) dan gugus hidroksil dari fenolat (-OH). Gugus tersebut merupakan asam lemah yang dapat terdissosiasi menghasilkan ion H+, dan mampu mempertahankan reaksi tanah terhadap perubahan kemasaman tanah (Riwandi, 2001 dalam Novandi, 2014). Tanah yang memiliki pH terlalu asam seperti tanah pada penelitian ini dapat menyebabkan kemampuan akar tanaman dalam menyerap unsur-unsur hara dalam tanah menjadi berkurang. Pada umumnya unsur hara makro mudah diserap akar tanaman pada pH tanah sekitar netral, karena pada pH tersebut kebanyakan unsur hara mudah larut dalam air. Selain itu, tabel 1 tersebut diatas dapat dijelaskan bahwa pH pada saat pemberian pupuk organik sebagai penambah unsur-unsur hara yang diperlukan oleh tanaman secara tidak langsung juga dapat meningkatkan nilai pH tanah. Nilai pH pupuk organik yang bersifat netral menyebabkan naiknya tingkat kebasaan tanah.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Fitoremediasi lahan tercemar logam berat Pb dan Cd menggunakan konsorsium inokulan mikroba berbasis kompos radiasi

Fitoremediasi lahan tercemar logam berat Pb dan Cd menggunakan konsorsium inokulan mikroba berbasis kompos radiasi

u i k d a n s e d i m e n k a p u r s e b a n y a k 0 , 1 – 1 0 p p m ( K a b a t a d a n P e n d i a s , 1 9 9 2 ) . h a b m il , n a r u b e l e p n a d n a g n a b m a tr e p s a ti v it k a i r a d h a l a d a n i a l g n a y b P r e b m u S

135 Baca lebih lajut

Tanaman Puring (Codiaeum Variegatum) sebagai Pendegradasi Polutan Menuju Lingkungan Sehat - Universitas Terbuka Repository

Tanaman Puring (Codiaeum Variegatum) sebagai Pendegradasi Polutan Menuju Lingkungan Sehat - Universitas Terbuka Repository

Pepohonan termasuk dalam hal ini tanaman puring mampu menurunkan konsentrasi partikel timbal (Pb) yang melayang di udara, karena kemampuannya untuk dapat meningkatkan turbulensi dan mengurangi kecepatan angin. Celah stomata mulut daun yang berkisar antara 2 - 4 µm atau 10 µm dengan lebar 2 -7 µm, maka ukuran timbal yang demikian kecil akan masuk ke dalam daun dengan mudah, serta akan menetap dalam jaringan daun, dan menumpuk di antara sel jaringan pagar (palisade), dan atau jaringan bunga karang (spongious tissue), begitu pula cabang, batang, atau ranting tanaman. Sedang zarah yang lebih besar ukurannya akan terakumulasi pada permukaan kulit luar tanaman
Baca lebih lanjut

38 Baca lebih lajut

Bioremediasi Tanah Tercemar Logam Berat Cd, Cu, Dan Pb Dengan Menggunakan Endomikoriza

Bioremediasi Tanah Tercemar Logam Berat Cd, Cu, Dan Pb Dengan Menggunakan Endomikoriza

Bahaya yang berdampak kepada makhluk hidup akibat tanah tercemar logam berat menimbulkan permasalahan yang harus segera ditanggulangi. Terdapat beberapa alternatif yang dapat dilakukan untuk menangani toksisitas logam berat. Bioremediasi adalah satu alternatif untuk menangani toksisitas logam berat terhadap tanaman pada tanah-tanah tercemar. Pulihan lingkungan oleh mikroorganisme dianggap sebagai strategi potensial dalam mereduksi kontaminasi logam-logam berat yang terjadi di lingkungan (Gandjar et al. 2006). Keunggulan dari bioremediasi adalah: proses alami yang dapat diterapkan ditempat yang sulit dijangkau, lingkungan di bawah permukaan tanah, tidak mahal, tidak menghasilkan limbah yang baru (masalah baru), dan ramah lingkungan. Hasil dari degradasi logam berat oleh mikroorganisme adalah gas karbon dioksida, air, dan senyawa-senyawa sederhana yang ramah lingkungan (Hanafiah et al. 2009).
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

REMEDIASI TANAH TERCEMAR LOGAM BERAT DENGAN MENGGUNAKAN BIOCHAR ABSTRAK

REMEDIASI TANAH TERCEMAR LOGAM BERAT DENGAN MENGGUNAKAN BIOCHAR ABSTRAK

Pembangunan industri dan urbanisasi selain dapat meningkatkan kesejahteraan manusia, tetapi juga memberikan efek negatif kepada lingkungan yaitu menghasilkan limbah dalam jumlah yang sangat besar, dan hal ini akan menjadi masalah yang serius bila tidak tangani dengan segera. Penangangan limbah pun masih belum di lakukan dengan serius dan bertanggung jawab sehingga sering dilaporkan adanya lahan yang tercemar akan limbah khususnya limbah logam berat. Logam- logam berat merupakan unsur yang tidak biodegradable sehingga limbah- limbah yang mengandung logam berat bila tertumpah ke lingkungan sedikit demi sedikit akan terakumulasi pada tanah dan air, bila ketersediaanya meningkat akan di serap oleh tanaman dan akan memberikan efek negative kepada kehidupan manusia. Banyak usaha yang telah dilakukan dalam menangani pencemaran logam berat ini dan pemberian biochar merupakan solusi yang sangat menjanjikan, karena biochar memiliki potensi dengan luas permukaan yang besar, morfologi yang sangat porous serta gugus fungsionalnya yang berpotensi untuk mengurangi bioavailabilitas dan pelindian logam berat melalui adsorpsi dan reaksi fisikokimia lainnya dan juga dapat meningkatkan kesuburan tanah dengan perbaikan sifat sifat tanah. Biochar merupakan bahan basa yang dapat meningkatkan pH tanah dan berkontribusi terhadap stabilisasi logam berat. Aplikasi biochar untuk perbaikan dari tanah yang tercemar logam berat dapat memberikan solusi baru untuk masalah polusi tanah. Tulisan ini memberikan gambaran tentang pemanfaatan biochar dalam mengurangi mobilitas dan bioavailibiltas logam berat pada tanah tercemar
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

FITOREMEDIASI LOGAM BERAT KADMIUM (Cd) PADA TANAH YANG TERCEMAR DENGAN TANAMAN BIDURI (Caloptropis gegantea) DAN RUMPUT GAJAH (Panicum maximum)

FITOREMEDIASI LOGAM BERAT KADMIUM (Cd) PADA TANAH YANG TERCEMAR DENGAN TANAMAN BIDURI (Caloptropis gegantea) DAN RUMPUT GAJAH (Panicum maximum)

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan tanaman remediator dalam menyerap logam berat kadmium (Cd) pada tanah tercemar. Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 seri meliputi : Seri pertama, dilakukan pengambilan sampel tanah dan dianalisis kandungan hara dan logam berat. Seri kedua, percobaan pot untuk mengetahui mekanisme dan karakteristik tanaman remediator dalam menyerap logam berat. Percobaan disusun dalam RAL dengan 4 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kesuburan tanah di lokasi penelitian memiliki kandungan unsur hara makro yang rendah. Sedangkan kandungan logam berat kadmium (Cd) pada masing-masing lokasi sudah melewati ambang batas minimum, yaitu > 2.00 mg kg -1 . Sebagai tanaman remediator, biduri memiliki kemampuan menyerap logam berat pada akar 1,26 ppm dan pada bagian atas tanaman 1,01 ppm, lebih tinggi dibandingkan dengan rumput gajah. Tingkat reduksi logam berat oleh tanaman biduri sebesar 64,76% lebih tinggi dari rumput gajah.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Konsentrasi Klorofil pada Beberapa Varietas Tanaman Puring (Codiaeum varigatum L.)

Konsentrasi Klorofil pada Beberapa Varietas Tanaman Puring (Codiaeum varigatum L.)

Menurut Richardson et al. (2002) pigmen yang berperan penting dalam fotosintesis adalah pigmen yang dapat menyerap radiasi matahari dan yang dapat melepaskan elektron dalam proses fotokimia, sehingga mengubah energi cahaya menjadi energi kimia. Pigmen yang dimaksud adalah klorofil a dan klorofil b. Dengan demikian konsentrasi klorofil akan mempengaruhi berlangsungnya proses fotosintesis dalam tumbuhan. Warna hijau pada daun terjadi karena adanya pigmen pemberi warna hijau, yaitu klorofil. Warna hijau pada varietas tanaman puring sangat bervariasi dan luas area warna hijau pada masing-masing varietas juga tidak sama.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Fitoremediasi Logam Berat Kadmium (Cd)

Fitoremediasi Logam Berat Kadmium (Cd)

Berdasarkan hasil penelitian, beberapa tanaman teridentifikasi dapat dimanfaatkan pada proses fitoremediasi karena kemampuannya mengakumulasi logam berat Cd diantaranya adalah: Eichornia crassipes (Módenes, et. al., 2011), Brassica napus (Nakamura, et. al., 2013), Avicenna marina (Nowrouzi, et. al., 2012), Lycopersicon esculentum ( Sbartai, et. al., 2012), Wolffia globosa (Xie, et. al., 2013), Phytolacca americana (Gao, et al., 2013), Solanum nigrum (Wei, et al., 2013), Typha domingensis (Bonanno, 2013), Sedum plumbizincicola (Wu, et al., 2012), Thlaspi caerulescens (Koopmans, et al., 2008), Helianthus annuus (Niu, et al., 2013), Lolium perenne (Gunawardana, et al., 2011), Tagetes erecta (Sinhal, et al., 2010), Chara australis (Clabeaux, et al., 2011), Jatropha curcas (Jamil, et al., 2009), Sedum alfredii (Li, et al., 2013), Atriplex halimus (Manousaki & Kalogerakis, 2009), Phragmites cummunis (Chandra & Yadav, 2011), Nitella opaca (Sooksawat, et al., 2013), Phragmites australis (Wang & Jia, 2009), Typha angustifolia (Muhammad, et al., 2009), Cyperus esculentus (Chandra & Yadav, 2011), Chara aculeolata ((Sooksawat, et al., 2013), Ricinus communis (Ruiz, et al., 2013), Hibiscus cannabinus (Arbaoui, et al., 2013), Zea mays (Hechmi, et al., 2013), Arabidopsis halleri (Claire-Lise & Nathalie, 2012), Arundo donax (Barbafieri, et al., 2011), dan Vetiveria zizanioides (Danh, et al., 2009).
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Potensi Pohon Lokal untuk Fitostabilisasi Logam Berat pada Tanah Tercemar Limbah Sianidasi Emas di Lombok Barat

Potensi Pohon Lokal untuk Fitostabilisasi Logam Berat pada Tanah Tercemar Limbah Sianidasi Emas di Lombok Barat

The discharge of mercury amalgamation and cyanidation tailings of small-scale gold mining in West Lombok to agricultural lands caused Hg, Cd, Cu, Pb and Zn contamination. Phytostabilization may be a feasible approach for the management of contaminated sites. The objective of this study was to search for tree species that are potential for phytostabilization of soils contaminated by small-scale gold mine tailings in West Lombok, Indonesia. Results of this study showed that there were at least 28 tree species found in areas contaminated by gold cyanidatation tailing. Based on cyanide concentration, Hg concentration, and energy of above-ground parts of the identified plants, Duabanga moluccana (DM), Erythrina orientalis (DM)., and Paraserianthes falcataria (PF) were selected to study their phytostabilization potential. Results of plant growth experiment showed that the tolerance of the three species to heavy metals was in the order of Zn > Pb > Cu > Cd. The highest concentration of Cd (0.9 mg/kg) was found in the roots of DM. The highest concentration of Cu (37,7 mg/kg) was found in roots of EO. Roots of PF contained the highest concentrations of Pb (37.7 mg/kg) and Zn (546 mg/kg). The three plants species had metal shoot / metal root ratios of less than one. This indicates that Duabanga moluccana, Paraserianthes falcataria, and Erythrina orientalis are suitable for phytostabilization of Cu, Pb, Cd, and Zn in gold cyanidation tailing contaminated soils of West Lombok, Indonesia.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Fitoremediasi Tanah Tercemar Logam Zn dan Cu Dengan Menggunakan Tanaman Akar Wangi (Vetiveria Zizanioides)

Fitoremediasi Tanah Tercemar Logam Zn dan Cu Dengan Menggunakan Tanaman Akar Wangi (Vetiveria Zizanioides)

Abstrak : Perkembangan teknologi dan industri memberi dampak negatif berupa limbah yang mengandung logam berat yang berpotensi menimbulkan permasalahan lingkungan seperti pencemaran tanah. Fitoremediasi sebagai pemulihan media tanah terkontaminasi yang menggunakan tanaman merupakan teknologi yang efektif, murah dan ramah lingkungan. Efektivitas proses dipengaruhi oleh kuantitas dan kemampuan penyerapan tanaman serta jenis logam pencemar. Penelitian dilakukan dengan metode eksperimen berbasis laboratorium, bertempat di Laboratorium Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Maros – Sulawesi Selatan. Penelitian dilakukan selama 21 hari menggunakan tanaman akar wangi (Vetiveria Zizanioides) dengan media tumbuh tanah tercemar logam Zn 532 ppm dan Cu 50 ppm. Penanaman tanaman dilakukan dengan tiga variasi kepadatan tanaman (3 batang, 6 batang, dan 9 batang). Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi kepadatan rumpun 9 batang mempunyai efektivitas yang lebih besar dibandingkan dengan 6 batang dan 3 batang dengan efektivitas penyisihan berturut-turut untuk logam Zn sebesar 90,37%; 82,34% dan 71,37%, sedangkan logam Cu sebesar 92,82%, 89,24% dan 86,54%. Kemampuan penyerapan tanaman akar wangi dalam meremediasi logam Zn sekitar 1,96 - 4,62 ppm/hari/batang, sedangkan logam Cu sekitar 0,22-0,59ppm/hari/batang. Kepadatan rumpun dalam suatu media tanam berpengaruh terhadap kemampuan penyerapan tanaman akar wangi. Logam Zn dan Cu mempengaruhi pertumbuhan tanaman akar wangi terlihat dengan terjadinya penguningan dan pertumbuhan daun dengan ukuran yang lebih kecil.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Fitoremediasi Logam Berat Menggunakan Be

Fitoremediasi Logam Berat Menggunakan Be

Hasil penelitian menunjukkan adanya pencemaran Cu dengan konsentrasi yang sangat tinggi dalam sayuran kangkung, sawi dan bayam dalam penelitian ini. Konsentrasi logam berat Cu terlihat lebih tinggi pada tanaman sawi diikuti oleh tanaman kangkung dan tanaman bayam yaitu masing-masing 64,8 ppm; 44,6 ppm dan 30,7 ppm. Logam Cu berpotensi toksik terhadap tanaman dan berbahaya bagi manusia karena bersifat karsinogenik (Notodarmojo, 2005). Kandungan logam Cu dalam jaringan tanaman yang tumbuh normal sekitar 5-20 mg/kg. Pada kondisi kritis pertumbuhan tanaman mulai terhambat sebagai akibat keracunan Cu (Alloway, 1995) dan menurut Lasat (2003) konsentrasi lebih dari 10 ppm dapat menjadi racun terhadap tanaman. Menurut AFS-NFA kandungan Cu yang diperbolehkan dalam sayuran adalah 10 ppm, sedangkan menurut Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan (Ditjen POM) sebesar 5,0 ppm. Penyerapan dan akumulasi logam oleh tanaman dapat dibagi menjadi tiga proses yang bersinambungan, yaitu penyerapan logam oleh akar, translokasi logam dari akar ke bagian tanaman dan lokalisasi logam pada bagian sel tertentu agar tidak menghambat metabolisme tumbuhan/tanaman tersebut (Priyanto dan Priyatno, 2006). Proses fitoremediasi yang mungkin terjadi untuk logam berat yaitu fitoekstraksi, fitostabilisasi, rizofiltrasi dan fitovolatisasi (Henry, 2000). Mekanisme yang mungkin terjadi pada tanama sayuran kangkung, sawi dan bayam ini dalam mengakumulasikan logam Pb dan Cu ke dalam jaringannya adalah mekanisme rizofiltrasi dan fitoekstraksi. Mekanisme ini terjadi ketika akar tumbuhan mengabsorbsi larutan polutan sekitar akar ke dalam akar, selanjutnya ditranslokasi ke dalam organ tumbuhan melalui pembuluh xylem. Proses ini cocok digunakan untuk dekontaminasi zat-zat anorganik seperti logam-logam beart (Erakhrumen dan Agbontalor, 2007).
Baca lebih lanjut

45 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects