Top PDF Uji Potensi Tabir Surya dan Nilai Sun Protecting Factor (SPF) Ekstrak Kulit Buah Delima Putih (Punica granatum L) secara In Vitro

Uji Potensi Tabir Surya dan Nilai Sun Protecting Factor (SPF) 

Ekstrak Kulit Buah Delima Putih (Punica granatum L) secara

In Vitro

Uji Potensi Tabir Surya dan Nilai Sun Protecting Factor (SPF) Ekstrak Kulit Buah Delima Putih (Punica granatum L) secara In Vitro

Ayat diatas menyebut terlebih dahulu tumbuh-tumbuhan kemudian menyebut empat jenis buah, yaitu kurma, anggur, zaitun, dan delima. Menurut Ar-Razi penyebutan dengan susunan seperti itu sungguh sangat serasi dan tepat. Bahwa tumbuhan yang terlebih dahulu disebut karena ia adalah makanan. Hasil tanaman adalah buah-buahan, ini wajar disebut sesudahnya karena makanan lebih utama daripada buah-buahan. Selanjutnya dari keempat jenis buah, yang pertama disebut adalah kurma karena kurma dalam masyarakat Arab dimana al-Quran turun merupakan makanan yang dapat menggantikan makanan pokok. Sesudah kurma, anggur karena ia merupakan buah istimewa dan dapat dimanfaatkan begitu muncul serta manfaatnya berlangsung terus menerus. Zaitun adalah buah yang sangat muncul serta banyak manfaatnya, darinya diperoleh minyak yang sangat jernih, disamping buahnya yang lezat. Ia dapat dimakan tanpa dikuliti, tapi juga dapat dikuliti. Terakhir adalah delima, satu buah yang sangat mengagumkan. Hanya empat ini yang disebut oleh ayat di atas, mewakili buah-buahan yang lain (Shihab,2002).
Baca lebih lanjut

116 Baca lebih lajut

Pengaruh Konsentrasi Ekstrak Etanol Bunga Brokoli (Brassica oleracea L.) Terhadap Nilai Sun Protection Factor Krim Tabir Surya Kombinasi Avobenzone dan Oktil Metoksisinamat Secara in Vitro

Pengaruh Konsentrasi Ekstrak Etanol Bunga Brokoli (Brassica oleracea L.) Terhadap Nilai Sun Protection Factor Krim Tabir Surya Kombinasi Avobenzone dan Oktil Metoksisinamat Secara in Vitro

Hasil: Nilai sun protection factor (SPF) yang diperoleh dari krim tabir surya dengan konsentrasi ekstrak etanol bunga brokoli 5; 7,5; 10 dan 12,5% secara berurutan adalah 14,89; 18,60; 21,91; 23,97 dan 13,98 (blanko). Hasil pengujian stabilitas sediaan krim menunjukkan bahwa tidak ada terjadi perubahan bentuk, warna dan bau. Sediaan krim yang dihasilkan homogen, sediaan krim setelah dibuat mempunyai rentang pH 5,5-5,9 dan setelah penyimpanan 12 minggu mempunyai rentang pH 4,6-5,3, memiliki tipe emulsi m/a dan hasil uji iritasi menunjukkan tidak terjadi iritasi pada kulit.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Uji Aktivitas Tabir Surya Fraksi Kloroform Ekstrak Etanol 96% Daun Flamboyan (Delonix Regia Raf.) Secara In Vitro

Uji Aktivitas Tabir Surya Fraksi Kloroform Ekstrak Etanol 96% Daun Flamboyan (Delonix Regia Raf.) Secara In Vitro

Tabir surya merupakan suatu sediaan yang secara fisik atau kimia dapat menghambat penetrasi sinar UV ke dalam kulit. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas tabir surya fraksi kloroform ekstrak etanol 96% daun flamboyan dengan menghitung nilai Sun Protection Factor (SPF), persen transmisi eritema (%Te), dan persen transmisi pigmentasi (%Tp). Jenis penelitian yang dilakukan yaitu pra eksperimen. Penelitian diawali dengan pembuatan ekstrak etanol 96% daun flamboyan. Ekstrak etanol 96% yang diperoleh difraksinasi menggunakan pelarut kloroform. Selanjutnya fraksi kloroform dilakukan skrining fitokimia. Fraksi kloroform daun flamboyan kemudian dilakukan pengujian secara in vitro dengan menggunakan Spektrofotometer UV– Vis. Hasil skrining fitokimia menunjukan fraksi kloroform mengandung flavonoid, alkaloid, tanin, dan fenolik. Hasil uji aktivitas tabir surya fraksi kloroform ekstrak etanol 96% memiliki potensi sebagai tabir surya dengan nilai SPF pada konsentrasi 200 dan 250 ppm sudah masuk dalam kategori proteksi ultra serta memberikan kemampuan perlindungan terhadap sinar UV A dan UV B yang ditunjukan oleh nilai %Te dan %Tp sudah menunjukan perlindungan secara Total
Baca lebih lanjut

61 Baca lebih lajut

PENENTUAN NILAI SUN PROTECTING FACTOR (SPF) EKSTRAK ETANOL BERAS MERAH (Oryza glaberrima Steud.) SECARA IN VITRO DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS - repository perpustakaan

PENENTUAN NILAI SUN PROTECTING FACTOR (SPF) EKSTRAK ETANOL BERAS MERAH (Oryza glaberrima Steud.) SECARA IN VITRO DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS - repository perpustakaan

Sinar matahari dapat menyebabkan kerusakan pada kulit apabila pemaparannya terjadi secara berlebihan. Kemampuan menahan sinar ultraviolet dari sediaan tabir surya dinilai sebagai faktor proteksi sinar (Sun Protecting Factor). Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk memanfaatkan ekstrak beras merah (Oryza glaberrima Steud.) sebagai tabir surya dengan menentukan SPF dan kandungan total fenolik. Ekstrak yang diteliti adalah ekstrak etanol 96%. Untuk mengetahui nilai SPF ekstrak tersebut dilakukan dengan cara mengukur absorbansi dari tiap konsentrasi larutan pada rentang panjang gelombang 290-320 nm sedangkan untuk mengetahui kandungan total fenolik dengan mengukur absorbansi larutan yang telah direaksikan dengan reagen folin-ciocalteu pada panjang gelombang 734 nm. Evaluasi yang dilakukan dengan menghitung nilai SPF dan TPC (Total phenolic content). Berdasarkan hasil perhitungan pada konsentrasi 500 ppm ekstrak beras merah memiliki nilai SPF 3,3 yang dikategorikan sebagai tabir surya proteksi minimal dan memiliki nilai TPC sebesar 193,61 mgGAE/gram. Peningkatan nilai SPF disertai dengan peningkatan kadar total fenolik.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Pengaruh Konsentrasi Ekstrak Etanol Bunga Brokoli (Brassica oleracea L.) Terhadap Nilai Sun Protection Factor Krim Tabir Surya Kombinasi Avobenzone dan Oktil Metoksisinamat Secara in Vitro

Pengaruh Konsentrasi Ekstrak Etanol Bunga Brokoli (Brassica oleracea L.) Terhadap Nilai Sun Protection Factor Krim Tabir Surya Kombinasi Avobenzone dan Oktil Metoksisinamat Secara in Vitro

Hasil: Nilai sun protection factor (SPF) yang diperoleh dari krim tabir surya dengan konsentrasi ekstrak etanol bunga brokoli 5; 7,5; 10 dan 12,5% secara berurutan adalah 14,89; 18,60; 21,91; 23,97 dan 13,98 (blanko). Hasil pengujian stabilitas sediaan krim menunjukkan bahwa tidak ada terjadi perubahan bentuk, warna dan bau. Sediaan krim yang dihasilkan homogen, sediaan krim setelah dibuat mempunyai rentang pH 5,5-5,9 dan setelah penyimpanan 12 minggu mempunyai rentang pH 4,6-5,3, memiliki tipe emulsi m/a dan hasil uji iritasi menunjukkan tidak terjadi iritasi pada kulit.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Pengaruh Konsentrasi Ekstrak Etanol Bunga Brokoli (Brassica oleracea L.) Terhadap Nilai Sun Protection Factor Krim Tabir Surya Kombinasi Avobenzone dan Oktil Metoksisinamat Secara in Vitro

Pengaruh Konsentrasi Ekstrak Etanol Bunga Brokoli (Brassica oleracea L.) Terhadap Nilai Sun Protection Factor Krim Tabir Surya Kombinasi Avobenzone dan Oktil Metoksisinamat Secara in Vitro

Sinar ultraviolet matahari dapat menembus awan yang tipis dan air yang tidak terlalu dalam, seperti air di kolam renang dan di tepi pantai serta dapat diteruskan ke kulit oleh pantulan cermin, logam yang berkilau, pasir putih di pantai, bahkan oleh salju. Masyarakat tidak mungkin menghentikan kegiatan di siang hari atau tidak melakukan kegiatan olah raga di pantai, di kolam renang dan lain-lain, maka kulit perlu dilindungi dari bahaya sinar UV matahari (Tranggono dan Latifah, 2007).

5 Baca lebih lajut

Pengaruh Konsentrasi Ekstrak Etanol Bunga Brokoli (Brassica oleracea L.) Terhadap Nilai Sun Protection Factor Krim Tabir Surya Kombinasi Avobenzone dan Oktil Metoksisinamat Secara in Vitro

Pengaruh Konsentrasi Ekstrak Etanol Bunga Brokoli (Brassica oleracea L.) Terhadap Nilai Sun Protection Factor Krim Tabir Surya Kombinasi Avobenzone dan Oktil Metoksisinamat Secara in Vitro

b. Bahan yang menyerap UV-B tetapi meneruskan UV-A ke dalam kulit, misalnya Para Amino Benzoic Acid (PABA) dan derivatnya, Cinnamates, Anthranilates, Benzophenone, Digalloly trioleate dan Petrolatum veteriner merah. Tapi perlu diingat bahwa PABA dan sejumlah bahan tersebut bersifat photosensitizer, yaitu jika terkena sinar matahari terik seperti halnya di negara tropis Indonesia dapat menimbulkan berbagai reaksi negatif pada kulit, seperti photoallergy, phototoxic, disamping pencoklatan kulit (tanning) yang tidak disukai oleh orang Asia yang menyukai kulit yang berwarna putih (Tranggono dan Latifah, 2007).
Baca lebih lanjut

90 Baca lebih lajut

Pengaruh Konsentrasi Ekstrak Etanol Bunga Brokoli (Brassica oleracea L.) Terhadap Nilai Sun Protection Factor Krim Tabir Surya Kombinasi Avobenzone dan Oktil Metoksisinamat   Secara in Vitro

Pengaruh Konsentrasi Ekstrak Etanol Bunga Brokoli (Brassica oleracea L.) Terhadap Nilai Sun Protection Factor Krim Tabir Surya Kombinasi Avobenzone dan Oktil Metoksisinamat Secara in Vitro

b. Bahan yang menyerap UV-B tetapi meneruskan UV-A ke dalam kulit, misalnya Para Amino Benzoic Acid (PABA) dan derivatnya, Cinnamates, Anthranilates, Benzophenone, Digalloly trioleate dan Petrolatum veteriner merah. Tapi perlu diingat bahwa PABA dan sejumlah bahan tersebut bersifat photosensitizer , yaitu jika terkena sinar matahari terik seperti halnya di negara tropis Indonesia dapat menimbulkan berbagai reaksi negatif pada kulit, seperti photoallergy , phototoxic , disamping pencoklatan kulit ( tanning ) yang tidak disukai oleh orang Asia yang menyukai kulit yang berwarna putih (Tranggono dan Latifah, 2007).
Baca lebih lanjut

90 Baca lebih lajut

Pengaruh Konsentrasi Ekstrak Etanol Bunga Brokoli (Brassica oleracea L.) Terhadap Nilai Sun Protection Factor Krim Tabir Surya Kombinasi Avobenzone dan Oktil Metoksisinamat Secara in Vitro

Pengaruh Konsentrasi Ekstrak Etanol Bunga Brokoli (Brassica oleracea L.) Terhadap Nilai Sun Protection Factor Krim Tabir Surya Kombinasi Avobenzone dan Oktil Metoksisinamat Secara in Vitro

b. Bahan yang menyerap UV-B tetapi meneruskan UV-A ke dalam kulit, misalnya Para Amino Benzoic Acid (PABA) dan derivatnya, Cinnamates, Anthranilates, Benzophenone, Digalloly trioleate dan Petrolatum veteriner merah. Tapi perlu diingat bahwa PABA dan sejumlah bahan tersebut bersifat photosensitizer , yaitu jika terkena sinar matahari terik seperti halnya di negara tropis Indonesia dapat menimbulkan berbagai reaksi negatif pada kulit, seperti photoallergy , phototoxic , disamping pencoklatan kulit ( tanning ) yang tidak disukai oleh orang Asia yang menyukai kulit yang berwarna putih (Tranggono dan Latifah, 2007).
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

Pengaruh Konsentrasi Ekstrak Etanol Daun Jamblang (Syzygium cumini(L.) Skeels) dan Amylum Oryzae Terhadap Nilai Sun Protection Factor Krim Tabir Surya Oktil Metoksisinamat secara In Vitro

Pengaruh Konsentrasi Ekstrak Etanol Daun Jamblang (Syzygium cumini(L.) Skeels) dan Amylum Oryzae Terhadap Nilai Sun Protection Factor Krim Tabir Surya Oktil Metoksisinamat secara In Vitro

Pohon dengan tinggi 10-20 m ini berbatang tebal, tumbuhnya bengkok, dan bercabang banyak. Daun tunggal, tebal, tangkai daun 1-3,5 cm. Helaian daun lebar bulat memanjang atau bulat telur terbalik, pangkal lebar berbentuk baji, tepi rata, pertulangan menyirip, permukaan atas mengkilap, panjang 7-16 cm, lebar 5- 9 cm, warnanya hijau. Bunga majemuk dengan cabang yang berjauhan, kelopak bentuk lonceng berwarna hijau muda, mahkota bentuk bulat telur, benang sari banyak, berwarna putih, dan baunya harum. Buahnya buah buni, lonjong, panjang 2-3 cm, masih muda hijau, setelah masak warnanya putih. Berakar tunggang, berwarna coklat muda (Dalimartha, 2003).
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

BAB II TINJAUAN PUSTAKA - PENENTUAN NILAI SUN PROTECTING FACTOR (SPF) EKSTRAK ETANOL BERAS MERAH (Oryza glaberrima Steud.) SECARA IN VITRO DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS - repository perpustakaan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA - PENENTUAN NILAI SUN PROTECTING FACTOR (SPF) EKSTRAK ETANOL BERAS MERAH (Oryza glaberrima Steud.) SECARA IN VITRO DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS - repository perpustakaan

Hipodermis adalah lapisan bawah kulit (fasia superfisialis) yang terdiri atas jaringan pengikat longgar, komponennya serat longgar, elastis dan sel lemak. Sel-sel kemak membentuk jaringan lemak pada lapisan adiposa yang terdapat susunan lapisan subkutan untuk menentukan mobilitas kulit diatasnya, bila terdapat lobulus lemak yang merata, hipodermis membentuk bantal lemak yang disebut pannikulus adiposa. Pada daerah perut, lapisan ini dapat mencapai ketebalan 3 cm. Pada kelopak mata, penis dan skortum, lapisan subkutan tidak mengandung lemak. Dalam lapisan hipodermis terdapat anyaman pembuluh arteri, pembuluh vena, dan anyaman syaraf yang berjalan sejajar dengan permukaan kulit bawah dermis. Lapisan ini mempunyai ketebalan variasi dan mengikat kulit secara longgar terhadap jaringan dibawahnya (Syaifuddin, 2009).
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

PENENTUAN NILAI SUN PROTECTION FACTOR (SPF) DARI EKSTRAK KULIT BAWANG MERAH

PENENTUAN NILAI SUN PROTECTION FACTOR (SPF) DARI EKSTRAK KULIT BAWANG MERAH

Ekstrasi ialah suatu metode yang digunakan untuk mengeluarkan satu komponen campuran dari zat padat dengan bantuan zat cair sebagai pelarut [8]. Salah satu metode ekstraksi yang dapat digunakan yaitu metode maserasi [9]. Maserasi merupakan metode ekstraksi yang dilakukan dengan perendaman sampel kering yang telah dihancurkan menggunakan pelarut organik selama beberapa hari sambil dilakukan pengadukan kemudian dilakukan penyaringan sehingga diperoleh cairan. Metode ini dapat menghasilkan ekstrak dengan flavor yang baik karena dilakukan tanpa melalui proses pemanasan sehingga dapat mengurangi kerusakan komponen aromatik [10]. Beberapa faktor dalam proses ekstraksi yang mempengaruhi faktor ekstraksi diantaranya jenis pelarut, rasio berat bahan dengan volume pelarut, suhu, pengadukan, waktu ekstraksi, dan ukuran sampel [11]. Berdasarkan latar belakang di atas perlu dilakukan penelitian tentang penentuan nilai SPF pada ekstrak kulit bawang merah dengan menggunakan fraksi etanol sehingga dapat memanfaatkan kulit bawang merah yang awalnya tidak bermanfaat menjadi bahan yang memiliki nilai ekonomis yaitu sebagai bahan dasar bembuatan sediaan tabir surya. Ekstrasi dapat dilakukan dengan pelarut air maupun pelarut organik [12]. Dalam penelitian ini ekstrasi maserasi kulit bawang merah menggunakan etanol 50% dengan perbandingan konsentrasi 4 ppm, 8 ppm, 12 ppm, dan 16 ppm.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Uji efektivitas dan fotostabilitas krim ekstrak etanol 70 % teh hitam (comellia sinensis L) sebagai tabir surya secara in vitro

Uji efektivitas dan fotostabilitas krim ekstrak etanol 70 % teh hitam (comellia sinensis L) sebagai tabir surya secara in vitro

Judul : Uji Efektifitas dan Fotostabilitas Krim Ekstrak Etanol 70 % Teh Hitam (Camellia sinensis L.) Sebagai Tabir Surya Secara In Vitro Sediaan tabir surya adalah sediaan kosmetika yang formulasinya mengandung zat aktif yang dapat membaurkan, menyerap atau memantulkan secara efektif cahaya matahari terutama daerah emisi gelombang ultraviolet dan inframerah. Salah satu bahan alam yang memiliki potensi sebagai tabir surya adalah teh hitam (Camellia sinensis L.) dengan kandungan senyawa flavonoid yang diduga mampu mengabsorbsi sinar UV. Pada penelitian ini, ekstrak etanol 70 % teh hitam (Camellia sinensis L.) diformulasikan dengan variasi konsentrasi (1 %, 2 %, dan 3 %) kedalam sediaan topikal (krim). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuat krim ekstrak etanol 70 % teh hitam (Camellia sinensis L.) yang baik dan stabil serta menguji efektivitas dan fotostabilitas sediaan krim ekstrak etanol 70 % teh hitam (Camellia sinensis L.) sebagai tabir surya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak etanol 70 % teh hitam (Camellia sinensis L.) memiliki panjang gelombang 293,4 nm dan mempunyai efektivitas sebagai tabir surya yang termasuk dalam kategori proteksi ultra. Ekstrak etanol 70 % teh hitam (Camellia sinensis L.) juga dapat dibuat menjadi sediaan yang baik dan stabil. Dari ketiga variasi konsentrasi ekstrak etanol 70 % teh hitam (Camellia sinensis L.) yang dibuat dalam sediaan krim memiliki efektivitas sebagai tabir surya dengan menunjukkan kategori sebagai sunblock pada daerah eritema, dengan nilai fotostabilitas formula uji (3 %) yang aktivitasnya hampir sama dengan formula kontrol positif.
Baca lebih lanjut

319 Baca lebih lajut

Pengaruh Asam Tartrat Terhadap Peningkatan Nilai SPF (Sun Protecting Factor) Sediaan Tabir Surya Anti UV A Dan UV B Dalam Basis Gel

Pengaruh Asam Tartrat Terhadap Peningkatan Nilai SPF (Sun Protecting Factor) Sediaan Tabir Surya Anti UV A Dan UV B Dalam Basis Gel

Metil paraben merupakan serbuk kristal tidak berwarna sampai putih dan tidak berbau dan digunakan sebagai pengawet. Metil paraben larut dalam 3 bagian etanol 90 %, 5 bagian propilenglikol, 60 bagian gliserin dan 400 bagian air. Metil paraben aktif pada rentang pH yang luas dan memiliki aktivitas antimikroba spektrum luas. Konsentrasi metil paraben yang biasa digunakan pada sediaan topikal adalah 0,02-0,3 %. Aktivitas antimikroba efektif pada pH 4 - 8 dan aktivitas berkurang dengan bertambahnya pH disertai pembentukan anion fenolat. Larutan metil paraben dalam air dengan pH 3 - 6, stabil dalam penyimpanan selama 4 tahun pada suhu kamar, sedangkan pada pH lebih dari 8 akan cepat terhidrolisis. Metil paraben inkompatibel dengan surfaktan anionik, bentonit, magnesium trisilikat, talk, tragakan, dan sorbitol (Rowe, 2009).
Baca lebih lanjut

82 Baca lebih lajut

Efektivitas Ekstrak Kulit Buah Delima (Punica granatum L.) terhadap Bakteri Porphyromonas gingivalis secara in vitro

Efektivitas Ekstrak Kulit Buah Delima (Punica granatum L.) terhadap Bakteri Porphyromonas gingivalis secara in vitro

periodontal disease. The use of a synthetic antimicrobial treatment of periodontal disease has many side effects. The potential of natural ingredients from plants for oral prophylaxis should be considered. Pomegranate (Punica granatum L) has been known for hundreds of years for the benefit of human health, including antimicrobial activity. Pomegranate rich in phenolic, flavonoids, tannins, and anthocyanin. The content was higher in the peel than fruit juice. The purpose of this study was to determine the effectiveness of pomegranate peel extract against bacteria P. gingivalis in vitro by finding the Minimum Inhibitory Concentration (MIC) and Minimum
Baca lebih lanjut

69 Baca lebih lajut

Efektivitas Ekstrak Kulit Buah Delima (Punica Granatum L.) Terhadap Bakteri Aggregatibacter Actinomycetemcomitans Secara In Vitro

Efektivitas Ekstrak Kulit Buah Delima (Punica Granatum L.) Terhadap Bakteri Aggregatibacter Actinomycetemcomitans Secara In Vitro

Naz dkk mengisolasi berbagai senyawa dari buah delima dengan pelarut etanol dan menunjukkan bahwa senyawa phenolic terutama asam gallic memiliki efek antibakteri yang paling tinggi dalam melawan Corynebacterium, Staphylococcus, Streptococcus, Baciluus subtilis, Shigella, Salmonella, Escherichia dan Vibrio. Aktivitas antibakteri dari semua senyawa delima secara umum dapat dijelaskan berdasarkan struktur phenolicnya. Struktur ini dianggap bertanggung jawab dalam toksisitas terhadap mikroorganisme meliputi penghambatan enzim oleh senyawa teroksidasi, melalui reaksi dengan kelompok sulfhidril atau melalui interaksi yang lebih spesifik dengan protein yang dapat menyebabkan inaktivasi dan hilangnya fungsi protein. Kemungkinan target dalam sel mikroba adalah permukaan untuk melekat, dinding sel polipeptida, dan enzim yang berikatan pada membran. Fenol juga dapat meniadakan substrat untuk mikroorganisme. 25 Pada hasil penelitian Duman dkk menunjukkan bahwa efek dari tingkat inhibisi dari ekstrak biji delima merupakan peran dari kandungan phenolic dan anthocyanin dalam buah. Asam gallic diidentifikasi sebagai senyawa yang paling aktif dalam menghambat bakteri yang diuji. Efek inhibisi dari senyawa phenolic ini dapat dijelaskan dengan adanya adsorpsi pada membran sel, interaksi dengan enzim, substrat dan pengurangan ion metal. 26
Baca lebih lanjut

67 Baca lebih lajut

Efek Antelmintik Ekstrak Kulit Buah Delima (Punica granatum L.) Terhadap Ascaris suum Betina Secara In Vitro.

Efek Antelmintik Ekstrak Kulit Buah Delima (Punica granatum L.) Terhadap Ascaris suum Betina Secara In Vitro.

Tanaman delima mengandung ellagic acid ellagitannins (termasuk punicalagins), punicic acid, flavonoids, anthocyanidins, anthocyanins, estrogenic flavonols and flavones. Hasil penelitian terbaru menyatakan bahwa kandungan- kandungan tersebut memiliki efek terapeutik paling kuat (Jurenka, 2008). Kulit delima sendiri mengandung tannin dan alkaloid. Alkaloid bekerja menghambat asetilkolinesterase, sehingga menyebabkan kelumpuhan (paralisis) dari cacing dan juga kematian bila diberikan dosis dalam jumlah besar. Tannin dapat mendenaturasi protein kutikula, mengubah permeabilitas membran cacing sehingga zat-zat delima yang lain dapat lebih mudah masuk ke dalam tubuh cacing (Sandika, Raharjo, & Ducha, 2012; Wiryowidagdo, 2007)
Baca lebih lanjut

25 Baca lebih lajut

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA - Efektivitas Ekstrak Kulit Buah Delima (Punica Granatum L.) Terhadap Bakteri Aggregatibacter Actinomycetemcomitans Secara In Vitro

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA - Efektivitas Ekstrak Kulit Buah Delima (Punica Granatum L.) Terhadap Bakteri Aggregatibacter Actinomycetemcomitans Secara In Vitro

poket gingiva 5-8 mm. Semua bagian yang diberi perlakuan menunjukkan kecendrungan penurunan plak dan perbaikan yang signifikan terhadap kedalaman poket dan level perlekatan pada tiga bulan dibanding dengan plasebo. 32 Dalam penelitian selanjutnya, 15 pasien yang telah dilakukan standar terapi periodontal secara tuntas tetapi masih memiliki kedalaman poket 5-8 mm dimasukkan obat berupa chip. Parameter yang sama diukur lagi sebelum dan setelah 3 dan 6 bulan, tetapi peneliti juga mengukur penanda inflmasi Interleukin I 𝛽𝛽 (IL-1 𝛽𝛽 ) dan IL-6. Peningkatan yang signifikan telah tercatat dalam semua parameter pengukuran ulang dan dikonfirmasi bahwa adanya penurunan yang signifikan dalam IL-1 𝛽𝛽 dan IL-6 pada tiga dan enam bulan dibanding data awal (cited from Sastravaha 2005). 9
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

MUTU FISIK DAN NILAI SPF SEDIAAN KRIM TABIR SURYA

EKSTRAK KULIT BUAH NANAS (Ananas Comosus. L).

MUTU FISIK DAN NILAI SPF SEDIAAN KRIM TABIR SURYA EKSTRAK KULIT BUAH NANAS (Ananas Comosus. L).

Pineapple Fruit Skin (Ananas comosus. L.) contains flavonoid and tannins that can work as sunscreen. This Research aimed to find out physical quality and SPF value of sunscreen cream from pineapple fruit skin with concentration of of 12%, 16% and 20%. Pineapple fruit skin extract was made by extracting pineapple fruit skin in maceration using ethanol solvent 70% to obtain thick extract of pineapple fruit skin. Furthermore, it was made cream of pineapple fruit skin cream. Cream evaluation consisted of physical quality and SPF value. Physical quality as follow: organoleptic test, pH, homogeneity, power spread and stickiness. Cream which was made fulfilled requirement of physical quality test including organoleptic test with form of semisolid, color of yellowish-brown and typical smell of pineapple. Homogeneity test without small particles in all cream preparation, pH test with value of pH 6 which was in pH interval skin, 4, 5-8,0 and scatter test with diameter of 5,5-6,2 showed semisolid consistent that wa very comfortable in using and sticky power test for 13-20 seconds that was in interval more than 10 seconds. Effectiveness of sunscreen preparation was conducted by determining SPF using spectrophotometry of UV-Vis. All cream required requirement as sunscreen with SPF value respectively 2,567, 3,039 and 4,984.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK KULIT BUAH NAGA MERAH (Hylocereus polyrhizus) SECARA IN VITRO

AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK KULIT BUAH NAGA MERAH (Hylocereus polyrhizus) SECARA IN VITRO

Perubahan pola hidup masyarakat dapat menyebabkan timbulnya berbagai penyakit. Gangguan kesehatan yang ditimbulkan dari perubahan pola hidup tersebut, salah satunya dikarenakan timbulnya suatu senyawa radikal bebas. Radikal bebas (free radical) merupakan suatu atom atau molekul yang mempunyai satu elektron atau lebih tanpa pasangan, sehingga dalam upayanya untuk mencari pasangan biasanya molekul ini mengambil elektron dari berbagai komponen sel, sehingga dapat menyebabkan kerusakan struktur, dan fungsi sel. Kerusakan dalam tubuh oleh radikal bebas ini dapat dinetralisir oleh senyawa antioksidan. Tubuh manusia secara alami memproduksi senyawa antioksidan, namun apabila jumlah senyawa radikal bebas melebihi jumlah senyawa antioksidan maka tubuh tidak mampu menanggulangi adanya radikal bebas yang berlebih sehingga membutuhkan adanya asupan antioksidan berasal dari luar tubuh.
Baca lebih lanjut

80 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects