Top PDF PP No 101 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun

PP No 101 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun

PP No 101 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun

Pemanfaatan Limbah B3 yang mencakup kegiatan penggunaan kembali (reuse), daur ulang (recycle), dan perolehan kembali (recovery) merupakan satu mata rantai penting dalam Pengelolaan Limbah B3. Penggunaan kembali (reuse) Limbah B3 untuk fungsi yang sama ataupun berbeda dilakukan tanpa melalui proses tambahan secara kimia, fisika, biologi, dan/atau secara termal. Daur ulang (recycle) Limbah B3 merupakan kegiatan mendaur ulang yang bermanfaat melalui proses tambahan secara kimia, fisika, biologi, dan/atau secara termal yang menghasilkan produk yang sama, produk yang berbeda, dan/atau material yang bermanfaat. Sedangkan perolehan kembali (recovery) merupakan kegiatan untuk mendapatkan kembali komponen bermanfaat dengan proses kimia, fisika, biologi, dan/atau secara termal.
Baca lebih lanjut

233 Baca lebih lajut

TATA LAKSANA PERIZINAN DAN PENGAWASAN PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN SERTA PENGAWASAN PEMULIHAN AKIBAT PENCEMARAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN OLEH PEMERINTAH DAERAH

TATA LAKSANA PERIZINAN DAN PENGAWASAN PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN SERTA PENGAWASAN PEMULIHAN AKIBAT PENCEMARAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN OLEH PEMERINTAH DAERAH

b. bahwa berdasarkan ketentuan dalam Pasal 64 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun, setiap orang atau badan usaha yang menghasilkan, mengumpulkan, mengangkut, mengolah atau menimbun limbah Bahan Berbahaya dan Beracun baik masing- masing maupun bersama-sama secara proporsional wajib melakukan pembersihan dan/atau pemulihan lingkungan;

68 Baca lebih lajut

PERSYARATAN TEKNIS PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN

PERSYARATAN TEKNIS PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN

3. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1994 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (Lembaran Negara Tahun 1994 Nomor 26, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3551) yang diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 1995 tentang Perubahan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1994 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (Lembaran Negara Tahun 1995 Nomor 24, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3595);

4 Baca lebih lajut

IMPLEMENTASI PERDA PURBALINGGA NOMOR 02 TAHUN 2014 TENTANG PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN DI KABUPATEN PURBALINGGA SKRIPSI

IMPLEMENTASI PERDA PURBALINGGA NOMOR 02 TAHUN 2014 TENTANG PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN DI KABUPATEN PURBALINGGA SKRIPSI

ABSTRAK : Tujuan penelitian untuk mengetahui dan menganalisa Implementasi Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun, dan untuk mengetahui dan Menganalisa Faktor penghambat yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah dalam lmplementasi Peraturan Daerah Nomor 2 tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan yang dipakai dalam penelitian ini adalah merupakan penelitian Yuridis Normatif, yang dalam hal ini pendekatan keilmuan yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah sistem hukum, khususnya Undang-undang Republik lndonesia Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Spesifikasi penelitian yang digunakan adalah deskriptif analisis.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN NOMOR 18 TAHUN 1999

PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN NOMOR 18 TAHUN 1999

Ekspor limbah B3 hanya dapat dilaksanakan apabila ada persetujuan tertulis dari instansi atau pejabat yang berwenang dalam urusan limbah B3 di negara penerima dan negara penerima tersebut harus mempunyai fasilitas pengolahan dan/atau pemanfaatan limbah B3 yang layak sehingga pengolahan limbah B3 tersebut tidak menimbulkan risiko bahaya bagi lingkungan hidup dan kesehatan manusia. Adapun limbah B3 yang dimaksud sesuai dengan pasal 6,7,8 Peraturan Pemerintah ini dan daftar limbah B3 yang ditetapkan oleh Konvensi Basel.

56 Baca lebih lajut

PP NO. 101 TH 2014 PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN

PP NO. 101 TH 2014 PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN

Dalam hal Limbah B3 berupa serbuk bor dari hasil pemboran usaha dan/atau kegiatan eksplorasi dan/atau eksploitasi di laut menggunakan lumpur bor berbahan dasar sintetis (synthetic-based mud) memiliki kandungan hidrokarbon total lebih dari 0% (nol persen) tetapi kurang dari 10% (sepuluh persen) yang akan dilakukan Dumping (Pembuangan) Limbah B3 di lokasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 180, Setiap Orang yang melakukan Dumping (Pembuangan) Limbah B3 harus mengupayakan pengurangan kandungan hidrokarbon sampai dengan:

233 Baca lebih lajut

PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN NOMOR 85 TAHUN 1999

PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN NOMOR 85 TAHUN 1999

Dengan pengolahan limbah sebagaimana tersebut di atas, maka mata rantai siklus perjalanan limbah B3 sejak dihasilkan oleh penghasil limbah B3 sampai penimbunan akhir oleh pengolah limbah B3 dapat diawasi. Setiap mata rantai perlu diatur, sedangkan perjalanan limbah B3 dikendalikan dengan sistem manifest berupa dokuman limbah B3. Dengan sistem manifest dapat diketahui berapa jumlah B3 yang dihasilkan dan berapa yang telah dimasukan ke dalam proses pengolahan dan penimbunan tahap akhir yang telah memiliki persyaratan lingkungan.

44 Baca lebih lajut

TATA CARA PERIZINAN PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN

TATA CARA PERIZINAN PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN

(4) Permohonan uji coba pengelolaan limbah B3 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 wajib dilengkapi dengan persyaratan minimal pada ayat (3) dan menggunakan formulir permohonan uji coba pengelolaan limbah B3 sebagaimana tercantum dalam lampiran IV yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.

14 Baca lebih lajut

peraturan pemerintah nomor 101 tahun 2014 tentang pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun

peraturan pemerintah nomor 101 tahun 2014 tentang pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun

Dumping (Pembuangan) Limbah B3 merupakan alternatif paling akhir dalam Pengelolaan Limbah B3. Pembatasan jenis Limbah B3 yang dapat dilakukan Dumping (Pembuangan) ke laut dimaksudkan untuk melindungi ekosistem laut serta menghindari terjadinya Pencemaran Lingkungan Hidup dan Perusakan Lingkungan Hidup di laut karena air laut merupakan media yang mudah dan cepat menyebarkan polutan dan/atau zat pencemar. Dumping (Pembuangan) Limbah B3 ke laut hanya dapat dilakukan jika Limbah B3 yang dihasilkan dari kegiatan di laut tidak dapat dilakukan pengelolaan di darat berdasarkan pertimbangan lingkungan hidup, teknis, dan ekonomi.
Baca lebih lanjut

313 Baca lebih lajut

PP Nomor 101 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun

PP Nomor 101 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun

Penggunaan kembali (reuse) Limbah B3 untuk fungsi yang sama ataupun berbeda dilakukan tanpa melalui proses tambahan secara kimia, fisika, biologi, dan/atau secara termal. Daur ulang (recycle) Limbah B3 merupakan kegiatan mendaur ulang yang bermanfaat melalui proses tambahan secara kimia, fisika, biologi, dan/atau secara termal yang menghasilkan produk yang sama, produk yang berbeda, dan/atau material yang bermanfaat. Sedangkan perolehan kembali (recovery) merupakan kegiatan untuk mendapatkan kembali komponen bermanfaat dengan proses kimia, fisika, biologi, dan/atau secara termal. Dengan teknologi Pemanfaatan Limbah B3 di satu pihak dapat dikurangi jumlah Limbah B3 sehingga biaya Pengolahan Limbah B3 juga dapat ditekan dan di lain pihak akan dapat meningkatkan kemanfaatan bahan baku. Hal ini pada gilirannya akan mengurangi kecepatan pengurasan sumber daya alam.
Baca lebih lanjut

150 Baca lebih lajut

PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN

PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN

(2) Apabila penghasil, pemanfaat, pengumpul, pengangkut, pengolah dan penimbun limbah B3 tidak melakukan penanggulangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), atau tidak dapat menanggulangi sebagaimana mestinya, maka instansi yang bertanggung jawab dapat melakukan penanggulangan dengan biaya yang dibebankan kepada penghasil, dan/atau pemanfaat, dan/atau pengumpul, dan/atau pengangkut, dan/atau pengolah, dan/atau penimbun limbah B3 yang bersangkutan melalui Gubernur Kepala Daerah Tingkat I.

27 Baca lebih lajut

EVALUASI SISTEM PENGELOLAAN LIMBAH PADAT (MEDIS DAN NON MEDIS) RS DR. SOEDIRMAN KEBUMEN.

EVALUASI SISTEM PENGELOLAAN LIMBAH PADAT (MEDIS DAN NON MEDIS) RS DR. SOEDIRMAN KEBUMEN.

Diperoleh jugahasil pengamatan selama penelitian yaitu SOP RSUD Dr. Soedirman Kebumen hanya diketahui oleh beberapa bagian rumah sakit, belum adanya sosialisai SOP tentang proses pelaksanaan limbah padat RSUD dr. Soedirman Kebumen sehingga mengakibatkan para para petugas kebersihan tidak begitu paham tentang proses pengelolaan limbah RSUD dr. Soedirman Kebumen. Para petugas hanya patuh pada perintah tanpa tahu apa sebernarnya proses pengelolaan limbah prumah sakit yang sebenarnya. Mereka hanya diberi sosialisasi dan pelatihan terkait cara menyapu, mengepel dan membersihkan tumpahan. Oleh karena itu perlu adanya sosialisasi SOP bagi para petugas kebersihan agar mereka bisa memahami SOP tersebut. Sehingga proses pengelolaan limbah padat RSUD dr. Soedirman Kebumen dapat terlaksana dengan baik dan optimal sesuai dengan kepmenkes RI Nomor 1204 tahun 2004 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit dan PP Nomor 101 Tahun 2014 tentang Pengelolaan limbah Bahan berbahaya dan Beracun (B3).
Baca lebih lanjut

223 Baca lebih lajut

DOKUMEN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN

DOKUMEN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN

Menimbang : a. bahwa untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1994 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun yang telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 1995 tentang perubahan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1994 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun telah diatur ketentuan mengenai Dokumen Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun;

6 Baca lebih lajut

PEMANFAATAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN

PEMANFAATAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN

Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 33 ayat (2) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun sebagaimana telah diubah oleh Peraturan Pemerintah Nomor 85 Tahun 1999, perlu menetapkan Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pemanfaatan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun;

6 Baca lebih lajut

Penentuan Kadar Seng (Zn) Pada Limbah DI PT. Industri Karet Nusantara

Penentuan Kadar Seng (Zn) Pada Limbah DI PT. Industri Karet Nusantara

Semakin besar volume limbah, pada umumnya, bahan pencemarnya semakin banyak. Hubungan ini biasanya terjadi secara linier. Oleh sebab itu dalam pengendalian limbah sering juga ditipayakan pengurangan volume limbah. Kaitan antara volume limbah dengan volume badan penerima juga sering digunakan sebagai indikasi pencemaran. Perbandingan yang mencolok jumlahnya antara volume limbah dan volume penerima limbah juga menjadi ukuran tingkat pencemaran yang ditimbulkan terhadap lingkungan. Misalnya limbah sebanyak 100 m3 air per 8 jam mempunyai konsentrasi plumbum 4 mg/hari dialirkan ke suatu sungai. Yang mempunyai debit 8.000 m3 perjam.
Baca lebih lanjut

47 Baca lebih lajut

Pencemaran Air Tanah Akibat Pem

Pencemaran Air Tanah Akibat Pem

Suatu limbah digolongkan sebagai limbah B3 bila mengandung bahan berbahaya atau beracun yang sifat dan konsentrasinya, baik langsung maupun tidak langsung, dapat merusak atau mencemarkan lingkungan hidup atau membahayakan kesehatan manusia.Yang termasuk limbah B3 antara lain adalah bahan baku yang berbahaya dan beracun yang tidak digunakan lagi karena rusak, sisa kemasan, tumpahan, sisa proses, dan oli bekas kapal yang memerlukan penanganan dan pengolahan khusus. Bahan- bahan ini termasuk limbah B3 bila memiliki salah satu atau lebih karakteristik mudah meledak, mudah terbakar, bersifat reaktif, beracun, menyebabkan infeksi, bersifat korosif, dan lain-lain.
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

Bedah Hukum UU Nomor 32 Tahun 2009

Bedah Hukum UU Nomor 32 Tahun 2009

 Berdasarkan UU No.32 Tahun 2009 adalah masuk atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan/ atau komponen lain ke dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga melampaui baku mutu lingkungan hidup yang telah ditetapkan.

15 Baca lebih lajut

PERATURAN PEMERINTAH NO. 74 TAHUN  2001 TENTANG PENGELOLAAN BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN

PERATURAN PEMERINTAH NO. 74 TAHUN 2001 TENTANG PENGELOLAAN BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN

Pengawasan dalam melaksanakan pengawasan terhadap kegiatan pengelolaan B3 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (1), wajib dilengkapi tanda pengenal dan surat tugas yang dikeluarkan oleh instansi yang bertanggung jawab dan instansi yang berwenang sesuai dengan bidang tugasnya masing-masing.

13 Baca lebih lajut

SAFEGUARD SOSIAL DAN LINGKUNGAN

SAFEGUARD SOSIAL DAN LINGKUNGAN

2. Konsult asi dengan w arga yang secara pot ensial dipengaruhi dampak lingkungan at au PAP dalam forum st akeholder , baik pada saat perumusan KA-ANDAL, draft ANDAL dan RKL/ RPL. Sebelum kegiat an konsult asi dilakukan, pemrakarsa kegiat an perlu m enyediakan semua bahan yang rel evan sekurang-kurangnya 3(t iga) hari sebelum kegiat an dilakukan yang set idaknya mencakup ringkasan t ujuan kegiat an, rincian kegiat an, dan gambaran menyeluruh pot ensi dampaknya. Hasil konsult asi dalam forum st akeholder t ersebut harus dicat at sebagai bagian dari laporan ANDAL. Di samping it u, kegiat an konsult asi dengan PAP bila perlu juga dilakukan selama pelaksanaan sub proyek;
Baca lebih lanjut

24 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...