Top PDF Prevalensi Diabetes Mellitus Dan Hipertensi Pada Gagal Ginjal Kronik Stage 5 Yang Menjalani Hemodialisis Di Klinik Rasyida Medan Tahun 2011

Prevalensi Diabetes Mellitus  Dan Hipertensi Pada  Gagal Ginjal Kronik Stage 5 Yang Menjalani Hemodialisis Di Klinik Rasyida Medan  Tahun 2011

Prevalensi Diabetes Mellitus Dan Hipertensi Pada Gagal Ginjal Kronik Stage 5 Yang Menjalani Hemodialisis Di Klinik Rasyida Medan Tahun 2011

isoform dan extracellular regulated protein kinase (ERK). Ditemukannya zat yang mampu menghambat aktivitas zat zat tersebut telah terbukti mengurangi akibat yang timbul, seperti mencegah peningkatan derajat albuminuria dan derajat kerusakan struktural berupa penumpukan matriks mesangial. Kemungkinan besar perubahan ini diakibatkan penurunan ekspresi transforming growth factor-f3 (TGF-) dan penurunan extra-cellular matrix (ECM). Peran TGF- dalam perkembangan nefropati diabetik ini telah ditunjukkan pula oleh berbagai peneliti, bahwa kadar zat ini meningkat pada ginjal pasien diabetes. Berbagai proses di atas dipercaya bukan saja berperan dalam terbentuknya nefropati pada pasien DM akan tetapi juga dalam progresifitasnya menuju tahap lanjutan. (Suwitra, 2006). 2.2.4 Diagnosis dan Gejala Klinis
Baca lebih lanjut

51 Baca lebih lajut

Prevalensi Diabetes Mellitus Dan Hipertensi Pada Gagal Ginjal Kronik Stage 5 Yang Menjalani Hemodialisis Di Klinik Rasyida Medan Tahun 2011

Prevalensi Diabetes Mellitus Dan Hipertensi Pada Gagal Ginjal Kronik Stage 5 Yang Menjalani Hemodialisis Di Klinik Rasyida Medan Tahun 2011

Jenis penelitian ini adalah deskriptif. Data diperoleh dari rekam medis dengan jumlah sampel 120 orang Tujuan penelitian ini untuk mengetahui ”Prevalensi DM Dan Hipertensi Pada GGK Stage 5 Yang Menjalani Hemodialisis Di Klinik Rasyida MedanTahun 2011”. Sampel diambil dengan menggunakan teknik total sampling

12 Baca lebih lajut

Prevalensi Diabetes Mellitus Dan Hipertensi Pada Gagal Ginjal Kronik Stage 5 Yang Menjalani Hemodialisis Di Klinik Rasyida Medan Tahun 2011

Prevalensi Diabetes Mellitus Dan Hipertensi Pada Gagal Ginjal Kronik Stage 5 Yang Menjalani Hemodialisis Di Klinik Rasyida Medan Tahun 2011

Pengaturan diet terutama dalam kerangka manajemen DM tidak diterangkan dalam judul ini Dalam upaya mengurangi progresivitas nefropati maka pemberian diet rendah protein sangat penting. Dalam suatu peneliti di klinik selama 4 tahun pada pasien DM tipe 1 yang diberi diet mengandung protein 0,9 gram/kgBB/hari selama 4 tahun menurunkan risiko terjadinya penyakit ginjal tahap akhir (PGTA=ESRD) sebanyak 76%. Umumnya dewasa ini disepakati pemberian diet mengandung protein sebanyak 0,8 gram/kgBB/hari, atau sekitar 10% kebutuhan kalori, pada pasien dengan Nefropati overt, tetapi bila LFG telah mulai menurun maka pembatasan protein dalam diet menjadi 0,6 gram/kgBB/hari mungkin bermanfaat untuk memperlambat penurunan LFG selanjutnya. Begitupun harus diantisipasi terjadinya kekurangan nutrisi. (Suwitra, 2006).
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Prevalensi Diabetes Mellitus Dan Hipertensi Pada Gagal Ginjal Kronik Stage 5 Yang Menjalani Hemodialisis Di Klinik Rasyida Medan Tahun 2011

Prevalensi Diabetes Mellitus Dan Hipertensi Pada Gagal Ginjal Kronik Stage 5 Yang Menjalani Hemodialisis Di Klinik Rasyida Medan Tahun 2011

World Health Organization (WHO) telah mengumumkan bahwa prevalensi diabetes melitus (DM) akan meningkat di seluruh dunia pada milenium ketiga ini, termasuk negara di Asia Tenggara, di antaranya di Indonesia. Sebagian besar dan penyakit ini adalah DM tipe 2. Sekitar 40% dari pasien DM terdapat keterlibatan ginjal, sehingga dapat dipahami bahwa masalah penyakit ginjal diabetik (PGD) juga akan mengalami peningkatan di era awal abad 21 ini. Pada dekade ini juga, di banyak negara maju PGD tercatat sebagai komponen terbanyak dan pasien baru yang menjalani terapi pengganti ginjal. Keadaan yang sama sudah mulai juga kelihatan di Indonesia. (Suwitra, 2006)
Baca lebih lanjut

50 Baca lebih lajut

Prevalensi Diabetes Mellitus Dan Hipertensi Pada Gagal Ginjal Kronik Stage 5 Yang Menjalani Hemodialisis Di Klinik Rasyida Medan Tahun 2011

Prevalensi Diabetes Mellitus Dan Hipertensi Pada Gagal Ginjal Kronik Stage 5 Yang Menjalani Hemodialisis Di Klinik Rasyida Medan Tahun 2011

LAMPIRAN 5 DATA INDUK PENDERITA DM DAN HIPERTENSI PADA GGK STAGE 5 YANG MENJALANI HEMODIALISIS DI KLINIK RASYIDA MEDAN TAHUN 2011 Nama Jenis Kelamin... Jenis kelamin Frequency [r]

8 Baca lebih lajut

Prevalensi Diabetes Mellitus Dan Hipertensi Pada Gagal Ginjal Kronik Stage 5 Yang Menjalani Hemodialisis Di Klinik Rasyida Medan Tahun 2011

Prevalensi Diabetes Mellitus Dan Hipertensi Pada Gagal Ginjal Kronik Stage 5 Yang Menjalani Hemodialisis Di Klinik Rasyida Medan Tahun 2011

Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, Cetakan Ketiga, Penerbit : RS.. Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, Jakarta.[r]

2 Baca lebih lajut

Prevalensi Diabetes Mellitus Dan Hipertensi Pada Gagal Ginjal Kronik Stage 5 Yang Menjalani Hemodialisis Di Klinik Rasyida Medan Tahun 2011

Prevalensi Diabetes Mellitus Dan Hipertensi Pada Gagal Ginjal Kronik Stage 5 Yang Menjalani Hemodialisis Di Klinik Rasyida Medan Tahun 2011

Dari penelitian ini dapat dilihat berdasarkan data penelitian dari beberapa negara menunjukan bahwa hipertensi dan diabetes melitus menyumbang sekitar 50 persen pada penyakit ginjal kronik. Bagi masyarakat dengan adanya penelitian ini diharapkan agar masyarakat lebih dapat menjaga pola hidup sehat dan bagi Tempat Penelitian agar dapat meningkatkan mutu pelayanan di Klinik Rasyida Medan.

2 Baca lebih lajut

Prevalensi Diabetes Mellitus Dan Hipertensi Pada Gagal Ginjal Kronik Stage 5 Yang Menjalani Hemodialisis Di Klinik Rasyida Medan Tahun 2011

Prevalensi Diabetes Mellitus Dan Hipertensi Pada Gagal Ginjal Kronik Stage 5 Yang Menjalani Hemodialisis Di Klinik Rasyida Medan Tahun 2011

Penyakit ginjal kronik (PGK) adalah kerusakan ginjal atau penurunan faal ginjal lebih atau sama dengan tiga bulan sebelum diagnosis ditegakan. Gagal Ginjal kronik adalah penurunan sernua faal ginjal secara bertahap, diikuti penimbunan sisa metabolisme protein dari gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit (NKF-DOQI, 2002).

3 Baca lebih lajut

Evaluasi Regimen Dosis Pengobatan Hipertensi Terhadap Pasien Gagal Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan Periode Maret – Mei 2016

Evaluasi Regimen Dosis Pengobatan Hipertensi Terhadap Pasien Gagal Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan Periode Maret – Mei 2016

2.5.2 Penggunaan Obat Antihipertensi pada Pasien Gangguan Ginjal Kronik Terdapat banyak kelas atau golongan obat antihipertensi yang dapat digunakan, tetapi beberapa obat yang sering digunakan dan direkomendasikan sebagai terapi pilihan pertama, yaitu ARB, β -blocker, CCB dan diuretik. Penggunaan obat-obat ini harus disesuaikan dengan kondisi pasien. Pemilihan obat awal pada pasien harus mempertimbangkan banyak faktor antara lain: umur, riwayat perjalanan penyakit, faktor risiko, kerusakan target organ, diabetes, indikasi dan kontraindikasi. Indikasi spesifik dan target dalam strategi pemilihan obat antihipertensi tergantung dari profil faktor risiko, penyakit penyerta seperti diabetes, penyakit ginjal, dan pembesaran atau disfungsi ventrikel kiri (Sutter, 2007).
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Hubungan Pasien Gagal Ginjal Kronis yang Menjalani Hemodialisis Terhadap Sensitivitas Pengecapan di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan

Hubungan Pasien Gagal Ginjal Kronis yang Menjalani Hemodialisis Terhadap Sensitivitas Pengecapan di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan

Gagal ginjal kronis (GGK) merupakan suatu kondisi dimana kedua ginjal tidak dapat berfungsi secara normal, yang ditandai dengan penurunan laju filtrasi glomerulus yang bersifat irreversibel , sehingga memerlukan perawatan berupa hemodialisis atau transplantasi ginjal. 1,2 Prevalensi GGK di dunia pada tahun 2013 adalah sekitar 8-16 % dari 7 miliar penduduk di dunia, yaitu sekitar 500 juta – 1 miliar orang. 1 Di Amerika Serikat (2002), diperkirakan sekitar 5,9 juta (3,3%) orang dewasa menderita GGK tingkat 1, tingkat 2 sebesar 5,3 juta (3%), tingkat 3 sebesar 7,6 juta (4,3%), tingkat 4 sebesar 400 ribu (0,2%) dan tingkat 5 sebesar 300 ribu (0,1%), sehingga didapatkan jumlah penderita GGK sekitar 20 juta orang, 3 sedangkan di negara berkembang seperti Indonesia, didapatkan data sekitar 200 – 300 per 1 juta penduduk menderita GGK. Menurut Hasil Riset Kesehatan Dasar pada tahun 2013, GGK meningkat seiring dengan bertambahnya umur, meningkat tajam pada kelompok umur 35-44 tahun (0,3 %), 45-54 tahun (0,4%), 55-74 tahun (0,5) dan >75 tahun (0,6 %). Di Sumatera Utara, secara keseluruhan diperoleh prevalensi pasien GGK adalah sebesar 0,2 %. 4
Baca lebih lanjut

81 Baca lebih lajut

Evaluasi Regimen Dosis Pengobatan Hipertensi Terhadap Pasien Gagal Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan Periode Maret – Mei 2016

Evaluasi Regimen Dosis Pengobatan Hipertensi Terhadap Pasien Gagal Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan Periode Maret – Mei 2016

2.5.2 Penggunaan Obat Antihipertensi pada Pasien Gangguan Ginjal Kronik Terdapat banyak kelas atau golongan obat antihipertensi yang dapat digunakan, tetapi beberapa obat yang sering digunakan dan direkomendasikan sebagai terapi pilihan pertama, yaitu ARB, β -blocker, CCB dan diuretik. Penggunaan obat-obat ini harus disesuaikan dengan kondisi pasien. Pemilihan obat awal pada pasien harus mempertimbangkan banyak faktor antara lain: umur, riwayat perjalanan penyakit, faktor risiko, kerusakan target organ, diabetes, indikasi dan kontraindikasi. Indikasi spesifik dan target dalam strategi pemilihan obat antihipertensi tergantung dari profil faktor risiko, penyakit penyerta seperti diabetes, penyakit ginjal, dan pembesaran atau disfungsi ventrikel kiri (Sutter, 2007).
Baca lebih lanjut

60 Baca lebih lajut

Hubungan Pasien Gagal Ginjal Kronis yang Menjalani Hemodialisis Terhadap Sensitivitas Pengecapan di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan

Hubungan Pasien Gagal Ginjal Kronis yang Menjalani Hemodialisis Terhadap Sensitivitas Pengecapan di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan

Gagal ginjal kronis (GGK) merupakan suatu kondisi dimana kedua ginjal tidak dapat berfungsi secara normal, yang ditandai dengan penurunan laju filtrasi glomerulus yang bersifat irreversibel, sehingga memerlukan perawatan berupa hemodialisis atau transplantasi ginjal. 1,2 Prevalensi GGK di dunia pada tahun 2013 adalah sekitar 8-16 % dari 7 miliar penduduk di dunia, yaitu sekitar 500 juta – 1 miliar orang. 1 Di Amerika Serikat (2002), diperkirakan sekitar 5,9 juta (3,3%) orang dewasa menderita GGK tingkat 1, tingkat 2 sebesar 5,3 juta (3%), tingkat 3 sebesar 7,6 juta (4,3%), tingkat 4 sebesar 400 ribu (0,2%) dan tingkat 5 sebesar 300 ribu (0,1%), sehingga didapatkan jumlah penderita GGK sekitar 20 juta orang, 3 sedangkan di negara berkembang seperti Indonesia, didapatkan data sekitar 200 – 300 per 1 juta penduduk menderita GGK. Menurut Hasil Riset Kesehatan Dasar pada tahun 2013, GGK meningkat seiring dengan bertambahnya umur, meningkat tajam pada kelompok umur 35-44 tahun (0,3 %), 45-54 tahun (0,4%), 55-74 tahun (0,5) dan >75 tahun (0,6 %). Di Sumatera Utara, secara keseluruhan diperoleh prevalensi pasien GGK adalah sebesar 0,2 %. 4
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Evaluasi Regimen Dosis Pengobatan Hipertensi Terhadap Pasien Gagal Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan Periode Maret – Mei 2016

Evaluasi Regimen Dosis Pengobatan Hipertensi Terhadap Pasien Gagal Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan Periode Maret – Mei 2016

Pengobatan yang benar benar bermanfaat diperlukan oleh pasien dengan gangguan ginjal. Penyesuaian dosis yang sering dilakukan berupa penurunan dosis, perpanjangan interval pemberian obat atau gabungan keduanya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi golongan obat antihipertensi dan kesesuaian dosis obat antihipertensi menurut The Renal Drug Handbook pada pasien hipertensi yang menjalani hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan periode Maret-Mei 2016.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Evaluasi Regimen Dosis Pengobatan Hipertensi Terhadap Pasien Gagal Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan Periode Maret – Mei 2016

Evaluasi Regimen Dosis Pengobatan Hipertensi Terhadap Pasien Gagal Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan Periode Maret – Mei 2016

Regimen dosis amlodipin pada pasien gagal ginjal kronik menurut literatur*.. Regimen dosis bisoprolol pada pasien gagal ginjal kronik menurut literatur*.[r]

11 Baca lebih lajut

Efektifitas Teknik Relaksasi Otot Progresif terhadap Tingkat Fatigue pada Pasien Penyakit Ginjal Kronik yang Menjalani Hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan

Efektifitas Teknik Relaksasi Otot Progresif terhadap Tingkat Fatigue pada Pasien Penyakit Ginjal Kronik yang Menjalani Hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan

4. Infeksi.Infeksi dapat disebabkan oleh beberapa jenis bakteri terutama E.Coli yang berasal dai kontaminasi tinja pada trakus urinus bakteri. Bakteri ini mencapai ginjal melalui aliran darah atau yang lebih sering secara ascenden dari trakus urinarius bawah lewat ureter ke ginjal sehingga dapat menimbulkan kerusakan irreversible ginjal yang disebut plenlonefritis.

19 Baca lebih lajut

Efektifitas Teknik Relaksasi Otot Progresif terhadap Tingkat Fatigue pada Pasien Penyakit Ginjal Kronik yang Menjalani Hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan

Efektifitas Teknik Relaksasi Otot Progresif terhadap Tingkat Fatigue pada Pasien Penyakit Ginjal Kronik yang Menjalani Hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan

Penyakit ginjal kronik (PGK) adalah suatu penyakit klinis yang disebabkan penurunan fungsi ginjal secara irreversible yang memerlukan terapi pengganti ginjal yaitu hemodialisis.Pasien PGK yang menjalani hemodialisis dapat mengalami beberapa gejala seperti kelelahan (fatigue), pruritus, konstipasi, anoreksia, nyeri, gangguan tidur, kecemasan, dyspnea, mual dan depresi.Prevalensi fatigue berkisar antara 60% sampai 97% pada pasien hemodialisis. Salah satu penanganan yang dapat dilakukan untuk menurunkan fatigue yang dialami pasien PGK yang menjalani hemodialisis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas teknik relaksasi otot progresif terhadap tingkat fatigue pada pasien penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis. Penelitian ini merupakan penelitian quasi eksperimen.Populasinya adalah pasien yang menjalani hemodialisis yaitu sebanyak 150 dan sampelnya sebanyak 20 responden.Hasil penelitian diperoleh yaitu tingkat fatiguepretest paling dominan adalah fatigue berat dan fatigue sedang pada posttest serta terdapatnya perbedaan tingkat fatigue sebelum dan sesudah diberikan teknik relaksasi otot progresif. Penelitian ini menyarankan kepada pelayanan kesehatan untuk menjadikan teknik relaksasi otot progresif sebagai intervensi upaya penurunan tingkat fatigue saat menjalani hemodialisis.
Baca lebih lanjut

107 Baca lebih lajut

Efektifitas Teknik Relaksasi Otot Progresif terhadap Tingkat Fatigue pada Pasien Penyakit Ginjal Kronik yang Menjalani Hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan

Efektifitas Teknik Relaksasi Otot Progresif terhadap Tingkat Fatigue pada Pasien Penyakit Ginjal Kronik yang Menjalani Hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan

Fatigue yang dialami pasien PGK yang menjalani hemodialisis memiliki dampak bagi pasien itu sendiri. Hasil penelitian Horigan, Schneider, Docherty dan Barroso (2013) menyatakan bahwa fatigue dapat menyebabkan pasien PGK mengalami pusing setelah menjalani hemodialisis. Fatigue juga menyebabkan pasien tidak dapat melakukan aktivitas sederhana, tidak dapat mengingat hal yang sudah berlalu, ketidakmampuan untuk bersosialisasi dengan orang lain dan mengalami kualitas tidur yang buruk.

4 Baca lebih lajut

Efektifitas Teknik Relaksasi Otot Progresif terhadap Tingkat Fatigue pada Pasien Penyakit Ginjal Kronik yang Menjalani Hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan

Efektifitas Teknik Relaksasi Otot Progresif terhadap Tingkat Fatigue pada Pasien Penyakit Ginjal Kronik yang Menjalani Hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan

Penyakit ginjal kronik (PGK) adalah suatu penyakit klinis yang disebabkan penurunan fungsi ginjal secara irreversible yang memerlukan terapi pengganti ginjal yaitu hemodialisis.Pasien PGK yang menjalani hemodialisis dapat mengalami beberapa gejala seperti kelelahan ( fatigue ), pruritus, konstipasi, anoreksia, nyeri, gangguan tidur, kecemasan, dyspnea, mual dan depresi.Prevalensi fatigue berkisar antara 60% sampai 97% pada pasien hemodialisis. Salah satu penanganan yang dapat dilakukan untuk menurunkan fatigue yang dialami pasien PGK yang menjalani hemodialisis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas teknik relaksasi otot progresif terhadap tingkat fatigue pada pasien penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis. Penelitian ini merupakan penelitian quasi eksperimen .Populasinya adalah pasien yang menjalani hemodialisis yaitu sebanyak 150 dan sampelnya sebanyak 20 responden.Hasil penelitian diperoleh yaitu tingkat fatiguepretes t paling dominan adalah fatigue berat dan fatigue sedang pada posttest serta terdapatnya perbedaan tingkat fatigue sebelum dan sesudah diberikan teknik relaksasi otot progresif. Penelitian ini menyarankan kepada pelayanan kesehatan untuk menjadikan teknik relaksasi otot progresif sebagai intervensi upaya penurunan tingkat fatigue saat menjalani hemodialisis.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Hubungan Pasien Gagal Ginjal Kronis yang Menjalani Hemodialisis Terhadap Sensitivitas Pengecapan di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan

Hubungan Pasien Gagal Ginjal Kronis yang Menjalani Hemodialisis Terhadap Sensitivitas Pengecapan di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan

Gagal ginjal kronis (GGK) merupakan suatu kondisi dimana kedua ginjal tidak dapat berfungsi secara normal. Uremia pada pasien GGK akan menyebabkan manifestasi di tubuh, termasuk juga rongga mulut, salah satunya adanya gangguan sensitivitas pengecapan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara pasien GGK yang menjalani hemodialisis dengan sensitivitas pengecapan, prevalensi pasien hemodialisis yang mengalami gangguan sensitivitas pengecapan, hubungan antara pasien GGK yang menjalani hemodialisis dengan sensitivitas rasa manis, asin, asam, pahit, dan umami. Jenis penelitian ini adalah penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi dari penelitian ini adalah pasien GGK yang menjalani hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan. Pemilihan sampel dilakukan menggunakan metode consecutive sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Besar sampel pada penelitian ini adalah 96 sampel. Penelitian dilakukan dengan mencatat data pasien sesuai rekam medik kemudian dilakukan penelitian pada lidah subjek dengan metode uji taste strips. Hasil penelitian ini menunjukkan 80,8% subjek hemodialisis jangka pendek dan 19,2% subjek hemodialisis jangka panjang mengalami gangguan pengecapan rasa manis; 97,3% subjek hemodialisis jangka pendek dan 2,7% subjek hemodialisis jangka panjang mengalami gangguan pengecapan rasa asam; 80,3% subjek hemodialisis jangka
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...