Top PDF Prevalensi Dan Intensitas Endoparasit Pada Ikan Gabus (Channa Striata) Dari Budidaya Dan Alam

Prevalensi Dan Intensitas Endoparasit Pada Ikan Gabus (Channa Striata) Dari Budidaya Dan Alam

Prevalensi Dan Intensitas Endoparasit Pada Ikan Gabus (Channa Striata) Dari Budidaya Dan Alam

Ikan Gabus (C. striata) merupakan jenis ikan air tawar yang terdapat di Indonesia dan termasuk sebagai sumber daya pesisir di Jawa Timur yang mendominasi (Pusat Data Statistik dan Informasi Sekertariat Jendral Kementrian Kelautan dan Perikanan, 2013). Ikan Gabus (C. striata) memiliki beberapa manfaat, seperti dalam bidang kesehatan yang diketahui mengandung protein dan albumin yang sangat penting bagi kesehatan (Zakaria, 2015). Potensi tersebut menyebabkan permintaan dan nilai ekonomis ikan Gabus (C. striata) dipasar semakin tinggi serta permintaan pun semakin banyak (Zakaria, 2015). Salah satu upaya untuk memenuhi kebutuhan ikan di masyarakat dapat dilakukan melalui budidaya dan melalui tangkapan alam. Intensifnya penangkapan ikan Gabus (C. striata) berdampak terhadap menurunnya populasi ikan Gabus (C. striata) di alam. Perlunya penyediaan stok ikan dalam skala budidaya perlu dikembangkan (Muslim, 2007). Tujuan utama budidaya yaitu untuk memperoleh hasil produksi yang tinggi (Cahyono, 2000).
Baca lebih lanjut

44 Baca lebih lajut

134491 ID prevalensi dan intensitas ektoparasit pa

134491 ID prevalensi dan intensitas ektoparasit pa

Ektoparasit yang ditemukan seperti Oodinium sp., Trichodina sp., I. multifiliis dan Epistylis sp. merupakan jenis-jenis ektoparasit yang biasa ditemukan di permukaan epitel kulit dan insang [36][37][32]. Berdasarkan kelimpahan ektoparasit yang ditunjukkan pada Gambar 2 dan Gambar 3, terlihat bahwa Oodinium sp. memiliki jumlah yang paling tinggi. Hal tersebut disebabkan Oodinium sp. membentuk koloni. Oodinium sp. merupakan parasit yang hidup berkoloni dan menyebabkan velvet disease pada ikan [38]. Selain itu, jika ditunjau secara keseluruhan, ektoparasit pada ikan gabus (C. striata) lebih banyak ditemukan pada bagian organ kulit daripada insang, baik di lokasi budidaya maupun tangkapan alam.
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

Pengaruh Tingkat Intensitas Cahaya terhadap Pertumbuhan dan Sintasan Benih Ikan Gabus Channa striata

Pengaruh Tingkat Intensitas Cahaya terhadap Pertumbuhan dan Sintasan Benih Ikan Gabus Channa striata

Ikan gabus (Channa striata) merupakan ikan asli perairan umum (air tawar) Indonesia. Ikan ini menjadi komoditas budidaya ekonomis karena selain sebagai ikan konsumsi, dalam dunia medis ikan gabus dipercaya berkhasiat untuk mempercepat pengeringan luka pasca operasi, dan meningkatkan daya tahan tubuh, dan lain-lain.Harga ikan gabus pada tahun 2014 di Jawa Timur berkisar antara Rp 35.000/kg sampai dengan Rp 70.000/kg (PPHP 2012). Data Statistik Kelautan dan Perikanan 2011 menunjukkan bahwa volume hasil produksi ikan gabus pada tahun 2008 - 2011 dari 3 sentra poduksi ikan gabus (Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Jawa Timur) yaitu 11.603 ton. Namun demikian, volume produksi tersebut sebagian besar berasal dari tangkapan di alam,sedangkan volume hasil produksi ikan gabus dari kegiatan budidaya hanya berkisar 12,24% dari total produksi. Hal ini menyebabkan populasi ikan gabus di alam semakin menurun (Pusdatin KKP 2013). Selain itu,permasalahan lain yang dihadapi oleh pembudidaya yaitu rendahnya sintasan dan pertumbuhan ikan gabus(Muslim 2012). Dengan demikian perlu dilakukan langkah nyata untuk mengantisipasi masalah tersebut.
Baca lebih lanjut

28 Baca lebih lajut

Prevalensi Endoparasit pada Lambung dan Usus Ikan Gabus (Channa striata)

Prevalensi Endoparasit pada Lambung dan Usus Ikan Gabus (Channa striata)

Parasit dapat dibagi menjadi dua kelompok berdasarkan habitat parasit yaitu ektoparasit dan endoparasit. Ektoparasit adalah perasit yang habitatnya berada pada permukaan inang dan Endoparasit adalah parasit yang habitatnya berada pada tubuh inang (Amrina, 2014). Adanya endoparasit dalam saluran pencernaan karena dalam saluran pencernaan terdapat bahan organik yang merupakan sumber makanan dari parasit. Parasit yang menyerang ikan budidaya akan mempengaruhi kelangsungan hidup seperti terhambatnya pertumbuhan ikan. Pengaruh yang muncul diawali dengan terganggunya sistem metabolisme tubuh inang sampai merusak organ (seperti lambung dan usus), sehingga dapat mempengaruhi pertumbuhan ikan, bahkan dapat menyebabkan kematian (Nofyan dkk., 2014).
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

PREVALENSI DAN INTENSITAS EKTOPARASIT PADA IKAN TAWES (Puntius javanicus) YANG ADA DI DESA MEUNASAH KRUENG KECAMATAN BEUTONG KABUPATEN NAGAN RAYA

PREVALENSI DAN INTENSITAS EKTOPARASIT PADA IKAN TAWES (Puntius javanicus) YANG ADA DI DESA MEUNASAH KRUENG KECAMATAN BEUTONG KABUPATEN NAGAN RAYA

Berdasarkan gambar 1 di atas dapat dilihat bahwa Chilodonella dan Dactylogyrus yang menyerang ikan tawes. Menurut Riko et al., (2012), serangan parasit disebabkan karena parasit memiliki siklus hidup yang cepat dan merupakan ektoparasit universal dimana parasit ini terdapat pada ikan air tawar. Sedangkan Ikan tawes merupakan ikan yang habitat aslinya di air tawar. Keberhasilan parasit dalam menginfeksi ikan ditentukan oleh berbagai hal mulai dari lingkungan sampai sistem imun. Menurut Noble (1989), distribusi parasit pada organ penempelnya dipengaruhi oleh suhu, kelembaban, sifat kimia media sekelilingnya dan persediaan makanan pada tubuh inang. Perbedaan sistem budidaya masing-masing mempengaruhi jumlah parasit yang menginfeksi ikan dari daerah tersebut. Bahkan vektor berupa pakan alami juga bisa menjadi perantara bagi parasit. Infeksi ektoparasit pada Ikan tawes ini dipengaruhi oleh kondisi sistem budidaya berupa kolam secara alami. Menurut Elliot (1995), pembudidayaan ikan yang dibudidayakan akan lebih mudah terserang penyakit dibandingkan ikan yang hidup di alam bebas.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

INDEKS PREVALENSI DAN INTENSITAS EKTOPARASIT PADA IKAN  BOTIA (Chromobotia macracanthus ) DI SUMATERA SELATAN

INDEKS PREVALENSI DAN INTENSITAS EKTOPARASIT PADA IKAN BOTIA (Chromobotia macracanthus ) DI SUMATERA SELATAN

Ikan Biota yang diuji adalah ikan Botia yang ditangkap langsung dari alam di sungai sungai yang ada di Provinsi Sumatera Selatan tetapi sudah masuk kedalam lokasi penampungan budidaya ikan hias selama 2 (dua) minggu yang ada di masing-masing stasiun.Treatment yang dilakukan selama 2 (dua) minggu pada masing-masing lokasi budidaya ikan hias yang menjadi stasiun pengambilan sampel merupakan treatment persiapan untuk kepentingan ekspor dengan kualitas yang sudah ditentukan dari calon pembeli diluar negeri dan harus dilakukan pemeriksaan bebas penyakit dari unit pelaksana teknis perkarantinaan setempat. Treatment kualitas air terhadap ikan Botia pada lokasi penampungan budidaya ikan hias merupakan treatment dengan lingkungan yang ideal dan terkontrol. Dimana ketika ikan baru datang dari alam sebelum masuk kedalam bak-bak penampungan budidaya, ikan tersebut sudah di treatment terlebih dahulu dalam bak / akuraium yang terisolasi (karantina) selama 1 minggu.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Identifikasi Dan Prevalensi Endoparasit Pada Usus Ikan Bawal Air Tawar (Colossoma Macropomum) Kolam Budidaya Di Desa Nya, Kecamatan Simpang Tiga, Kabupaten Aceh Besar

Identifikasi Dan Prevalensi Endoparasit Pada Usus Ikan Bawal Air Tawar (Colossoma Macropomum) Kolam Budidaya Di Desa Nya, Kecamatan Simpang Tiga, Kabupaten Aceh Besar

Hasil penelitian endoparasit pada ikan bawal air tawar menyerang 5 ekor ikan dan hanya ditemukan satu jenis parasit yaitu dari kelas Adenophorea dari filum Nematoda, Ordo: Trichurida, Famili: Capillariidae, Genus: Capillariidae. Endoparasit ini ditemukan pada organ usus dengan ukuran ± 1 cm. Infeksi Capillaria sp. biasanya disebabkan oleh penularan dari ikan lain yang telah terinfeksi sebelumnya. Parasit ini tidak memerlukan inang tertentu, sehingga infeksi hanya bisa dilakukan oleh ikan lain yang terinfeksi. Pada penelitian sebelumnya Reiny et al.( 2011). Menyatakan bahwa telur Capillaria sp. terkandung dalam jumlah yang banyak pada kotoran ikan yang terinfeksi, sehingga akan mudah menular ke ikan lainnya. Axelrod (1989) menambahkan ikan yang terinfeksi Capillaria sp. intensitas No Tingkat serangan Keterangan
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

APA ITU VITABUMIN MADU IKAN GABUS Konsul

APA ITU VITABUMIN MADU IKAN GABUS Konsul

 Vitabumin adalah produk HERBAL, produk ini terbuat dari bahan-bahan alami dari alam TANPA TAMBAHAN ZAT KIMIA sehingga vitabumin aman digunakan setiap hari. Tanpa obat-obatan lain yang membuat kecanduan jika berhenti konsumsi. Coba saja Bunda bandingkan, sehat mana antara jamu tradisional dan obat oplosan kimiawi?

7 Baca lebih lajut

MANFAAT AJAIB IKAN GABUS UNTUK

MANFAAT AJAIB IKAN GABUS UNTUK

 Konsumsi ikan gabus / ikan kutuk sebanyak 2 kg per hari dalam waktu 8 hari bisa meningkatkan kadar albumin agar mencapai standar ideal yakni 3,5-5 g/dl. Lantas bagaimana solusinya agar lebih gampang dan disukai anak2? Untuk anak sekarang tersedia dalam bentuk Madu Albumin Anak yang membuat anak senang mengkonsumsi karena rasanya yang manis dan bermanfaat. Banyak orang tua merasa sudah cukup memberi asupan makanan yang bergizi yang seimbang kepada anaknya, sudah diberi karohidrat,protein, lemak, vitamin dan mineral.Tetapi setelah dianalisis, ternyata banyak dari orang tua yang tidak menyadari bahwa yang diberikan kuantitasnya masih kurang dari kebutuhan yang diperlukan anak.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

PREVALENSI DAN JUMLAH NODUL PADA INSANG IKAN KOI (Cyprinus carpio) YANG TERINFEKSI Myxobolus DI SENTRA BUDIDAYA IKAN KOI KABUPATEN BLITAR-JAWA TIMUR

PREVALENSI DAN JUMLAH NODUL PADA INSANG IKAN KOI (Cyprinus carpio) YANG TERINFEKSI Myxobolus DI SENTRA BUDIDAYA IKAN KOI KABUPATEN BLITAR-JAWA TIMUR

yang berisi ribuan spora . Spora ini berbentuk oval sampai pyriform dan memilki dua kapsul polar yang sama yaitu panjang 5-8mm dan lebar 1,6-2,7mm (Egusa, 1988). Spora Myxobolus memiliki karakteristik yaitu berbentuk elipsoidal dengan cangkang spora (shell valve) simetris, memiliki sutural line, kapsul polar yang tampak jelas, terdapat dua polar kapsul yang sama (equal) berbentuk pyriformis yang terletak pada bagian anterior spora (Anshary, 2008). Farmer (1980) menyatakan bahwa infeksi terjadi pada saat spora bebas di perairan termakan oleh inang dan masuk ke dalam usus. Isi spora berubah menjadi dua flagel yang mampu menembus dinding sel usus ikan. Beberapa spora yang sudah masuk ke dalam tubuh ikan sebagian spora ini masuk ke pembuluh darah dan menyebar ke seluruh organ tubuh. Kemudian spora yang larut akan keluar bergerak seperti pergerakan amoeba yang kemudian spora tersebut masuk kedalam peredaran darah seluruh tubuh dan akhirnya membentuk bintil baru.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Prevalensi dan Intensitas Infeksi Parasit Crustacea pada Ikan Sulir Kuning (Caesio cuning) dan Ikan Pisang-pisang (Pterocaesio diagramma) yang Dipasarkan Di Pasar Ikan Kedonganan, Kabupaten Badung.

Prevalensi dan Intensitas Infeksi Parasit Crustacea pada Ikan Sulir Kuning (Caesio cuning) dan Ikan Pisang-pisang (Pterocaesio diagramma) yang Dipasarkan Di Pasar Ikan Kedonganan, Kabupaten Badung.

Parasit Crustacea yang ditemukan diletakkan pada tempat penampungan parasit sementara yang berisi NaCl fisiologis, kemudian diperiksa dengan menggunakan student mikroskop untuk diidentifikasi (Rohde, 2005; Widyastuti, 2002; Ho. et al, 2011) dan difoto. Data yang didapat disajikan secara deskriptif. Untuk mengetahui hubungan antara jenis ikan dengan prevalensi infeksi parasit Crustacea dianalisis dengan uji Chi-square (Sampurna dan Nindhia, 2008). Penelitian dilakukan di Laboratorium Bersama Centre for Studies on Animal Diseases (CSAD), Bukit Jimbaran pada bulan April-Mei 2012.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

SKRIPSI KORELASI KUALITAS AIR DENGAN PREVALENSI Myxobolus PADA IKAN KOI (Cyprinus carpio) DI SENTRA BUDIDAYA IKAN KOI KABUPATEN BLITAR, JAWA TIMUR PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN

SKRIPSI KORELASI KUALITAS AIR DENGAN PREVALENSI Myxobolus PADA IKAN KOI (Cyprinus carpio) DI SENTRA BUDIDAYA IKAN KOI KABUPATEN BLITAR, JAWA TIMUR PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN

Susanto (2001) menyatakan bahwa warna tubuh ikan koi terdapat pada lapisan dermis yang mengandung pigmen atau warna seperti kuning, hitam, merah dan putih. Menurut Bachtiar (2002) ikan koi memiliki mata yang berwarna merah, hitam dan terkadang sedikit keputih-putihan. Ikan koi memiliki bentuk mulut yang tidak terlalu lebar dan tidak memiliki gigi pada bagian rahang. Gigi yang digunakan untuk menghancurkan makanan terdapat pada bagian dalam kerongkongan. Hidung ikan koi berupa lekukan dan tidak berhubungan dengan alat pernapasan. Alat pernapasan berupa insang yang terdapat di kedua sisi kepala. Pada ujung bagian kepala ikan koi dilengkapi oleh sepasang barbel. Barbel ini merupakan alat indera yang berfungsi untuk mencari makan saat berada di dalam lumpur. Gambar ikan koi dapat dilihat pada gambar 2.1
Baca lebih lanjut

107 Baca lebih lajut

PREVALENSI DAN TINGKAT SERANGAN ENDOPARASIT METACERCARIA PADA KERANG CORBICULA JAVANICA DI SUNGAI MAROS KABUPATEN MAROS

PREVALENSI DAN TINGKAT SERANGAN ENDOPARASIT METACERCARIA PADA KERANG CORBICULA JAVANICA DI SUNGAI MAROS KABUPATEN MAROS

Dari hasil pengamatan ini menunjukan bahwa angka prevalensi pada ke dua stasiun memiliki angka yang berbeda-beda. Dilihat dari nilai prevalensinya bahwa stasiun dua menunjukkan prevalensi lebih tinggi, hal tersebut disebabkan kondisi lingkungan di sekitar stasiun dua mengalami pencemaran karena di sekitar lingkungan tersebut menjadi tempat berlabuhnya kapal para nelayan dan banyak terdapat limbah minyak di sekitar perairan yang penyebap tumpahan bahan bakar dari kapal para nelayan, dan banyak buangan limbah rumah tangga ke dalam perairan sungai 0
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Induksi Perkembangan Gonad Betina Ikan Gabus (Channa Striata, Bloch) Dengan Penyuntikan Hormon Hcg Dalam Wadah Budidaya.

Induksi Perkembangan Gonad Betina Ikan Gabus (Channa Striata, Bloch) Dengan Penyuntikan Hormon Hcg Dalam Wadah Budidaya.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penyuntikan hormon HCG terhadap perkembangan gonad ikan gabus (Channa striata, Bloch) yang dipelihara dalam wadah terkontrol. Dua kelompok induk betina; I) sebagai ikan kontrol dan II) sebagai ikan yang akan diberi induksi hormon, masing-masing sebanyak tiga ekor dipelihara dalam enam buah akuarium. Induk diberi pakan benih ikan nila secara ad atiation dua kali sehari. Penyuntikan hormon HCG dengan dosis 500 IU/kg dilakukan secara intramuskular seminggu sekali selama tiga minggu pemeliharaan sedangkan penyuntikan larutan fisiologis dilakukan pada ikan kontrol. Mulai minggu kedua, ikan yang disuntik hormon HCG dengan dosis 500 IU memiliki jumlah oosit berukuran besar (0,8 -1,2mm) yang lebih banyak dibandingikan kontrol. Nilai IKG, IHS, fekunditas, dan LPH antara ikan kontrol dan perlakuan HCG menunjukkan nilai yang tidak berbeda nyata (P>0,05). Dari hasil yang didapat, dapat dibuktikan bahwa penyuntikan hormon HCG dengan dosis 500 IU/kg dengan frekuensi penyuntikan tiga kali dapat mempercepat perkembangan oosit ikan gabus betina.
Baca lebih lanjut

28 Baca lebih lajut

Keragaman dan Intensitas Infeksi Endoparasit Gastrointestinal pada Sapi Bali dengan Sistem Ekstensif di Kabupaten Kupang

Keragaman dan Intensitas Infeksi Endoparasit Gastrointestinal pada Sapi Bali dengan Sistem Ekstensif di Kabupaten Kupang

Musim kemarau berpengaruh terhadap ter- batasnya sumber pakan di padang penggembalaan terutama rumput lapang sehingga ternak sapi lebih dominan mengkonsumsi daun-daunan atau biji-bijian yang berasal dari tumbuh-tumbuhan liar (Gambar 2A). Perubahan pola pakan ini juga dapat meminimalisir intensitas infeksi endoparasit gastrointestinal pada sapi Bali di wilayah itu karena larva infektif nematoda umumnya berada pada bagian daun dari rerumputan di sekitar sumber pakan. Belum ada laporan penelitian maupun text book yang menyatakan bahwa larva infektif ditransmisikan melalui daun tumbuh- tumbuhan. Sesuai dengan pendapat Junquera, (2014); Pugh dan Baird, (2012); Wheeler, (2011) menyatakan bahwa siklus hidup ini spesifik untuk sebagian besar nematoda gastrointestinal (misalnya Teladorsagia, Trichostrongylus, Haemonchus dan Ostertagia). Larva tahap ketiga bermigrasi keluar dari feses ketika tersedia kelembaban yang cukup (hujan, banjir, embun), kemudian tertelan oleh hospes pada saat merumput.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

BUDIDAYA USAHA BUDIDAYA IKAN CUPANG

BUDIDAYA USAHA BUDIDAYA IKAN CUPANG

Berikut ini saya berikan panduan budidaya ikan cupang yang saya ambil dari blog ikan cupang. Untuk membudidayakan atau membiakkan ikan cupang hias tidaklah memerlukan lahan yang luas, cukup menyediakan areal sekitar 5 meter persegi. Di Wilayah Jakarta Pusat budidaya ikan cupang ada yang dilakukan diatas dak rumah dan dipekarangan yang relatif sempit, dengan menggunakan wadah bekas ataupun kolam bak semen atau akuarium. Ikan cupang relatif mudah dipelihara dan dibudidayakan karena tidak memerlukan pakan khusus. Pakan ikan untuk benih ikan cupang biasanya digunakan pakan alami berupa kutu air atau daphnia sp, yang dapat ditemukan di selokan yang airnya tergenang. Untuk indukan ikan cupang digunakan pakan dari jentik-jentik nyamuk (cuk). Untuk pertumbuhan anakan ikan bisa diberi kutu air dan diselingi dengan cacing rambut, akan lebih mempercepat pertumbuhan anak ikan.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

TAP.COM -   2088-3137 INTENSITAS DAN PREVALENSI EKTOPARASIT - NELITI

TAP.COM - 2088-3137 INTENSITAS DAN PREVALENSI EKTOPARASIT - NELITI

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis, intensitas dan prevalensi ektoparasit pada ikan bandeng yang dibudidayakan dalam Karamba Jaring Apung (KJA) di Waduk Cirata Kabupaten Cianjur Jawa Barat. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey. Sampel diambil berdasarkan ukuran yaitu ukuran kecil (8-13 cm) sebanyak 35 ekor dan ukuran besar (20-27 cm) sebanyak 35 ekor dengan tiga kali pengambilan setiap ukurannya. Data dianalisis secara deskriptif kuantitatif. Dari hasil penelitian ditemukan empat jenis ektoparasit pada ikan bandeng ukuran kecil yaitu Trichodina sp. (86,41 %), Trichodinella sp. (0,15 %), Chilodonella sp. (3,97 %), dan I. multifiliis (9,48 %), sedangkan pada ikan bandeng ukuran besar ditemukan enam jenis ektoparasit yaitu Trichodina sp. (94,68 %), Trichodinella sp. (0,04 %), Chilodonella sp. (1,88 %), I. multifiliis (3,36 %), Apiosoma sp. (0,01 %), dan Dactylogyrus sp. (0,03 %). Intensitas dan prevalensi tertinggi terdapat pada ikan bandeng berukuran besar yaitu 99 individu/ekor ikan dan 93,33 %. Intensitas dan prevalensi ektoparasit tertinggi ditemukan pada ikan bandeng ukuran besar yaitu Trichodina sp. sebesar 94 individu/ekor ikan dengan prevalensi 74,28 %. Semakin besar ukuran ikan, intensitas dan prevalensi ektoparasit yang menyerang ikan bandeng cenderung meningkat.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA KUALITAS AIR DENGAN PREVALENSI ENDOPARASIT PADA SALURAN PENCERNAAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus) DI KERAMBA JARING APUNG PROGRAM URBAN FARMING DI KOTA SURABAYA Repository - UNAIR REPOSITORY

HUBUNGAN ANTARA KUALITAS AIR DENGAN PREVALENSI ENDOPARASIT PADA SALURAN PENCERNAAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus) DI KERAMBA JARING APUNG PROGRAM URBAN FARMING DI KOTA SURABAYA Repository - UNAIR REPOSITORY

ALFAN PRIANGGARA, Hubungan antara Kualitas Air dengan Prevalensi Endoparasit pada Saluran Pencernaan Ikan Nila (Oreochromis niloticus) di Keramba Jaring Apung Program Urban Farming di Kota Surabaya. Dosen Pembimbing Dr. Hj. Gunanti Mahasri, Ir., M.Si. dan Abdul Manan, S.Pi., M.Si.

19 Baca lebih lajut

Intensitas dan Prevalensi Ektoparasit pada Ikan Cupang Hias (Betta Splendens) di Perairan Kabupaten Aceh Besar dan Kota Banda Aceh

Intensitas dan Prevalensi Ektoparasit pada Ikan Cupang Hias (Betta Splendens) di Perairan Kabupaten Aceh Besar dan Kota Banda Aceh

Jenis-jenis ektoparasit yang ditemukan pada Ikan cupang (Betta splendens) dari Kabupaten Aceh Besar dan Banda Aceh yaitu Dactylogyrus sp. dan Lernea sp. Dari jumlah total ikan sampel yang diperiksa ditemukan 17 ekor ikan cupang terserang ektoparasit. Tingkat prevalensi serangan Dactylogyrus sp. tertinggi terdapat pada petani BA02, BA03, AB01, dan AB05 dengan nilai prevalensi sebesar 40%. Termasuk kedalam kategori umumnya yang berarti infeksi biasa. Sedangkan tingkat intensitas Dactylogyrus sp. tertinggi terdapat pada petani BA05, AB03 dan AB05 dengan nilai intensitas 2 ind/ekor, termasuk ke dalam kategori rendah. Tingkat prevalensi serangan Lernea sp. tertinggi terdapat pada petani BA05, AB01, dan AB04 dengan nilai prevalensi sebesar 40%. Termasuk kedalam kategori umumnya yang berarti infeksi biasa. Sedangkan tingkat intensitas Lernea sp. tertinggi terdapat pada petani AB01 dengan nilai intensitas 1,5 ind/ekor, termasuk ke dalam kategori rendah.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Inovasi Burger Ikan Gabus sebagai Pengganti Daging

Inovasi Burger Ikan Gabus sebagai Pengganti Daging

“Bedanya, untuk burger ikan gabus tidak tinggi lemak dan kandungan protein terutama albuminnya tinggi, hal itu baik untuk pembentukan dan pertumbuhan otot, baik untuk penyembuhan luka, dan mudah dicerna jadi sehat untuk pencernaan,” papar Maryam.

7 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects