Top PDF Problema Pemilihan Kepala Daerah Langsung di Bawah Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah

Problema Pemilihan Kepala Daerah Langsung di Bawah Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah

Problema Pemilihan Kepala Daerah Langsung di Bawah Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah

Sejak masa pemerintahan kolonial sampai Orde Baru kedaulatan rakyat dalam pilkada dimonopoli oleh elit politik di mana rakyat tidak dapat memilih Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah secara langsung. Elit pusat dan daerah mempermainkan kedaulatan rakyat tersebut untuk jangka pendek (quick yielding agenda), yang diindikasikan maraknya praktik persekongkolan dan nepotisme (conspiracy and nepotism). Legalisasi praktik tersebut dalam ketentuan perundang-undangan memberi petunjuk bahwa moralitas politik berdemokrasi elit sangat buruk sekaligus mengindikasikan lemahnya sistem pilkada selama ini. 3 Pemilihan kepala daerah secara perwakilan hanyalah bersifat semu, di mana mekanisme atau sistem pilkada yang seolah-olah dilakukan oleh DPRD, namun penentu sesungguhnya adalah pejabat pusat, seperti Presiden, Menteri Dalam Negeri atau serendah-rendahnya Gubernur. Mekanisme itu menjadi ciri Penetapan Pemerintah No. 6 Tahun 1959 jo UU No.18 Tahun 1965, dan semakin ditegaskan dalam satu-satunya UU yang mengatur pilkada masa Orde Baru, UU No. 5 Tahun 1974. Sistem perwakilan semu dicirikan beberapa karakteristik : 4
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

Partisipasi Pemilih terhadap Pemilihan Gubernur Riau Tahun 2013 Berdasarkan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah di Kota Pekanbaru

Partisipasi Pemilih terhadap Pemilihan Gubernur Riau Tahun 2013 Berdasarkan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah di Kota Pekanbaru

Political participation of the community is a hallmark of political modernization. Executive and legislative elections directly in Indonesia today also followed the local elections and the deputy head of the region mandated by Law No. 32 of 2004. The history of the arrangement of general elections in Indonesia showed the fact of the decrease voter turnout. This is evidenced by the declining number of voters in each election activities. The phenomenon of the decline and the lack of community participation in elections also occur at the local level (Pemilukada).The issues in this thesis is how voter participation in the election of Riau governor in 2013 in Pekanbaru City? What is the obtacle that affecting voter participation in election of Riau governor in 2013 in Pekanbaru city? And whether the efforts made to overcome the tendency of voter participation in the implementation of the election for Riau governor in 2013 in Pekanbaru city?This type of research can be classified as juridical empirical research, that is reviewing the state of the existing problems in the field and then associated with the applicable legal aspects done on location of the research by using data collection tools. The research was conducted including descriptive research that illustrates clearly and in detail and explain the reality of the field of voter participation based on law No. 32 of 2004 on the election of Riau governor in 2013 in Pekanbaru city. The conclusion of this research is the election governor in Pekanbaru city 2013 ago experienced a decline against the participation of voters in the first round where the amount of the participation only 53.37%. This election do in two-round election . Its effect on voter participation. In the second round of voter participation dropped to 46.4%. Pekanbaru city people's reluctance to participate on the election of the Riau governor in 2013, the crisis of SXEOLF FRQILGHQFH RI 3HNDQEDUX FLW\¶V VRFLHW\ WRZDUGV WKH RUJDQL]HUV WKH HOHFWLRQ of Riau governor in 2013, and the lack of socialization to the people of Pekanbaru city towards governor candidate in 2013 which became the obstacle. The efforts made by election commission (KPU) pekanbaru city related these obstacles is to improve the performance and role of volunteer teams democracy, maximizing dissemination and doing evaluation.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH

akan melaksanakan pemilihan kepala daerah secara langsung dilakukan dengan terlebih dahulu Komisi Independen Pemilihan dan DPRD Kabupaten/Kota berkonsultasi dengan Penguasa Darurat Sipil Pusat melalui Penguasa Darurat Sipil Daerah dan aparat keamanan setempat. Untuk pelaksanaan pemihan kepala daerah, maka sesuai Undang-Undang Nomer 18 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Daerah Istimewa Aceh sebagai Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dibentuk Komisi Independen Pemilihan dengan 9 (sembilan) orang anggota. Anggota Komisi Independen Pemilihan dari unsur KPU diisi oleh ketua dan anggota KPUD provinsi. Hal ini dimaksudkan, karena pada saat Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2001 diundangkan belum ada ketentuan tentang KPUD yang bersifat tetap dan independen sesuai dengan konstitusi.
Baca lebih lanjut

78 Baca lebih lajut

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH

(6) Dalam hal terjadi kekosongan jabatan wakil kepala daerah yang berasal dari partai politik atau gabungan partai politik karena meninggal dunia, berhenti, diberhentikan, atau tidak dapat melakukan kewajibannya selama 6 (enam) bulan secara terus- menerus dalam masa jabatannya dan masa jabatannya masih tersisa 18 (delapan belas) bulan atau lebih, kepala daerah mengajukan 2 (dua) orang calon wakil kepala daerah berdasarkan usul partai politik atau gabungan partai politik yang pasangan calonnya terpilih dalam pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah untuk dipilih oleh Rapat Paripurna DPRD.
Baca lebih lanjut

37 Baca lebih lajut

Implementasi Kewenangan Daerah dalam Upaya Penyelesaian Sengketa Pemilihan Kepala Daerah Berdasarkan Undang-undang Nomer 32 Tahun 2004

Implementasi Kewenangan Daerah dalam Upaya Penyelesaian Sengketa Pemilihan Kepala Daerah Berdasarkan Undang-undang Nomer 32 Tahun 2004

Sulit dipungkiri bahwa kebijakan otonomi daerah merupakan langkah paling tepat untuk menghadapi persoalan bangsa yang kian kompleks dan cenderung tak jelas arahnya. Sebab otonomi daerah atau desentralisasi pemerintahan selain menjadi opsi kebijakan politik dalam rangka mempertahankan keutuhan nasional, sistem ini juga diharapkan mampu meningkatan kesejahteraan ekonomi maupun derajat sosial seluruh masyarakat di seluruh Indonesia. 7

18 Baca lebih lajut

MEKANISME EKSEKUTIF REVIEW PERATURAN DAERAH MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH.

MEKANISME EKSEKUTIF REVIEW PERATURAN DAERAH MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH.

Peraturan Daerah adalah peraturan perundang-undangan yang dibentuk oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dengan persetujuan bersama Kepala Daerah 6 . Peraturan Daerah merupakan instrumen penyelenggara pemerintahan daerah. Kewenangan membuat Peraturan Daerah, merupakan wujud nyata pelaksanaan hak otonomi yang dimiliki oleh pemerintah daerah. Sejak tahun 1945 hingga sekarang ini, telah berlaku beberapa undang-undang yang menjadi dasar hukum penyelenggaraan pemerintahan daerah dengan menetapkan Peraturan Daerah sebagai salah satu instrumen yuridisnya. Kedudukan dan fungsi Peraturan Daerah berbeda antara satu dengan yang lainnya sejalan dengan sistem ketatanegaraan yang termuat dalam UUD dan Undang-Undang pemerintahan daerahnya. Perbedaan tersebut juga terjadi pada penataan materi muatan yang disebabkan karena luas sempitnya urusan yang ada pada pemerintahan daerah. Demikian juga terhadap mekanisme pembentukan dan pengawasan terhadap pembentukan dan pelaksanaan Peraturan Daerah mengalami perubahan seiring dengan perubanhan pola hubungan antara Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah. Setiap perancang Peraturan Daerah, terlebih dahulu harus
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

KEWENANGAN SEKRETARIAT DAERAH KOTA PADANGSIDEMPUAN DALAM PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH.

KEWENANGAN SEKRETARIAT DAERAH KOTA PADANGSIDEMPUAN DALAM PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH.

Berdasarkan argumen-argumen di atas, maka di sini penulis ingin mencoba untuk mengerti dan memahami bagaimana struktur organisasi dan mekanisme kerja yang ada pada sekretariat daerah Kota Padangsidempuan. Kalau kita lihat dalam prakteknya, begitu banyak jaringan kerja atau unit kerja yang bernaung di bawah sekretariat daerah seperti adanya bagian-bagian, sub-sub bagian dan lain sebagainya, sehingga tanpa adanya suatu penelitian maka tidak akan mungkin dapat dimengerti dan dipahami tentang hubungan bagian yang satu dengan sekretariat daerah ini dan bagaimana pula pertanggungjawabannya. Hal inilah yang melatarbelakangi penulis untuk mengkaji secara sistematis dalam tulisan ini.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Pengawasan Keuangan Daerah dalam Pelaksanaan Otonomi Daerah Ditinjau dari Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah

Pengawasan Keuangan Daerah dalam Pelaksanaan Otonomi Daerah Ditinjau dari Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah

Namun dengan adanya otonomi yang seluas-luasnya bukan berarti tidak muncul suatu permasalahan diantaranya adanya kecenderungan pergeseran pusat kekuasaan didaerah dari eksekutif ke tangan legislatif, diikuti pula dengan maraknya kasus-kasus korupsi didaerah bahkan karena wewenang yang lebih besar dan luas dalam mengelola anggaran didaerah menyebabkan pula terjadi gejala penyelewengan dan penyalahgunaan anggaran didaerah, baik secara langsung atau tidak langsung dalam bentuk penyalahgunaan peruntukan, baik dilakukan masing-masing pihak eksekutif ataupun kerjasama curang diantara keduanya. Adanya laporan sejumlah media massa makin menguatkan dugaan tersebut. Kompas online yang terbit pada Minggu, 2 Februari 2014 22:41 WIB Sepanjang tahun 2013, sebanyak 35 kepala daerah terjerat kasus korupsi. Data tersebut menunjukkan peningkatan dari tahun 2012, dimana 34 kepala daerah menjadi tersangka kasus korupsi. Peneliti Divisi Investigasi Indonesia Corruption Watch (ICW) Tama S. Langkun mengatakan, korupsi berdasarkan pelaku tak banyak perubahan dan menunjukkan kecenderungan yang sama. "35 kepala daerah
Baca lebih lanjut

90 Baca lebih lajut

Tinjauan terhadap mekanisme pertanggungjawaban kepala daerah menurut Undang-Undang Republik Indonesia nomor 32 tahun 2004 tentang pemerintahan

Tinjauan terhadap mekanisme pertanggungjawaban kepala daerah menurut Undang-Undang Republik Indonesia nomor 32 tahun 2004 tentang pemerintahan

Semangat reformasi yang bergulir saat ini memang telah membawa angin segar bagi berkembangnya demokratisasi di Indonesia. Hal tersebut diwarnai dengan berbagai macam perubahan mendasar baik di bidang pranata hukum maupun politik. Perubahan yang paling mendasar di era-reformasi yaitu amandemen secara formal-konstitusional terhadap konstitusi atau Undang- Undang Dasar 1945 (constitutional amendment), yang semula Undang-Undang Dasar 1945 tersebut dianggap sebagai “benda pusaka” dan “sakral” sehingga tidak pernah dirubah 1 . Perubahan tersebut sangat berpengaruh terhadap sistem ketatanegaraan Indonesia baik sistem pemerintahan di tingkat pusat maupun daerah 2 .
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

UJI SINKRONISASI TENTANG PEMILIHAN KEPALA DAERAH LANGSUNG : Perspektif Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 dengan UUD 1945 dan Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2005.

UJI SINKRONISASI TENTANG PEMILIHAN KEPALA DAERAH LANGSUNG : Perspektif Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 dengan UUD 1945 dan Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2005.

telah dilakukan langsung. Kedua, pilkada langsung merupakan perwujudan konstitusi dan UUD 1945. Seperti diamanatkan Pasal 18 ayat (4) UUD 1945 dimana disebutkan Gubernur, Bupati dan Walikota, masing-masing sebagai kepala pemerintahan daerah propinsi, kabupaten dan kota dipilih secara demokratis. Ketiga, pilkada langsung sebagai sarana pembelajaran demokrasi (politik) bagi rakyat (civic education). Ia menjadi media pembelajaran praktik berdemokrasi bagi rakyat yang diharapkan dapat membentuk kesadaran kolektif segenap unsur bangsa tentang pentingnya memilih pemimpin yang benar sesuai hati nurani. Keempat, pilkada langsung sebagai sarana untuk memperkuat otonomi daerah. Keberhasilan otonomi daerah salah satunya juga ditentukan oleh pemimpin lokal. Semakin baik pemimpin lokal yang dihasilkan dalam pilkada langsung 2005, maka komitmen pemimpin lokal dalam mewujudkan tujuan otonomi daerah, antara lain untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan selalu memperhatikan kepentingan dan aspirasi masyarakat akan dapat diwujudkan. Kelima, Pilkada langsung merupakan sarana penting bagi proses kaderisasi pemimpin nasional. Disadari atau tidak, stock kepemimpinan nasional amat terbatas.
Baca lebih lanjut

24 Baca lebih lajut

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH

Pelaksanaan pemilihan kepala daerah dilakukan lebih awal dari ketentuan Undang- Undang ini karena terdapat beberapa kepala daerah yang dipenjabatkan lebih dari satu kali. Karenanya diperlukan penetapan kepala daerah definitif melalui pemilihan langsung. Dalam menetapkan daerah yang akan melaksanakan pemilihan kepala daerah secara langsung dilakukan dengan terlebih dahulu Komisi Independen Pemilihan dan DPRD Kabupaten/Kota berkonsultasi dengan Penguasa Darurat Sipil Pusat melalui Penguasa Darurat Sipil Daerah dan aparat keamanan setempat. Untuk pelaksanaan pemilihan kepala daerah, maka sesuai Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Daerah Istimewa Aceh sebagai Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dibentuk Komisi Independen Pemilihan dengan 9 (sembilan) orang anggota. Anggota Komisi Independen Pemilihan dari unsur KPU diisi oleh ketua dan anggota KPUD provinsi. Hal ini dimaksudkan, karena pada saat Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2001 diundangkan belum ada ketentuan tentang KPUD yang bersifat tetap dan independen sesuai dengan konstitusi.
Baca lebih lanjut

62 Baca lebih lajut

Mekanisme Pemberhentian Kepala Daerah Berdasarkan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah ( Studi Kasus Pemberhentian Bupati Garut pada Tahun 2013 )

Mekanisme Pemberhentian Kepala Daerah Berdasarkan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah ( Studi Kasus Pemberhentian Bupati Garut pada Tahun 2013 )

1. Proses substansi pemberhentian kepala Daerah di atur dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah. Dari undang-undang tersebut substansi pemberhentian kepala daerah hanya dapat di lakukan jika kepala daerah terbukti melanggar aturan hukum, hal ini tentunya berbeda dari undang-undang sebelumnya yakni Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974 Tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 Tentang Pemerintahan daerah yang masih terdapat nuansa politik dalam proses pemberhentian kepala daerah. Meskipun demikian di dalam Pasal 29 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah masih terdapat penafsiran yang bersifat multitafsir terutama aturan yang terkait berupa : Tidak dapat melaksanakan tugas secara berkelanjutan atau berhalangan tetap secara berturut-turut selama enam bulan, tidak lagi memenuhi syarat sebagai kepala daerah, dinyatakan melanggar sumpah atau janji jabatan kepala daerah. 2. Kontruksi hukum pemberhentian kepala daerah
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

KAJIAN YURIDIS UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2004 TERHADAP PROSES PEMILIHAN KEPALA DAERAH DALAM PELAKSANAAN DEMOKRASI DI KOTA SURAKARTA.

KAJIAN YURIDIS UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2004 TERHADAP PROSES PEMILIHAN KEPALA DAERAH DALAM PELAKSANAAN DEMOKRASI DI KOTA SURAKARTA.

Dengan demokrasi yang dikembangkan dari bawah maka akan tercipta mekanisme pola hubungan yang seimbang antara pemerintah pusat dengan daerah, karena masyarakat di daerah akan memiliki peluang untuk menyampaikan aspirasi yang mereka miliki, baik yang menyangkut rekrutmen (Pemilihan Kepala Daerah) ataupun perencanaan pembangunan di daerah, dan masyarakat di daerah akan mampu memberikan kontrol terhadap pemerintahan nasional. Dengan demikian akan terbentuk sebuah pemerintahan yang sehat dan seimbang, yang akan membawa pada kehidupan masyarakat yang lebih baik di masa-masa yang akan datang. Hal itu dapat terjadi karena demokrasi tidak hanya terbatas menjadi dominannya orang-orang di Jakarta. Masyarakat di daerah berhak dan harus mampu menyatakan dengan tegas dan jelas bahwa tidak semua yang ditentukan dari Jakarta itu benar dan sesuai dengan kehendak masyarakat di daerah. 2
Baca lebih lanjut

35 Baca lebih lajut

Analisis Perbandingan Terhadap Undang-undang Nomo 22 Tahun 1999 Dengan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah

Analisis Perbandingan Terhadap Undang-undang Nomo 22 Tahun 1999 Dengan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah

Pada dasarnya setiap Undang-undang memiliki kelebihan dan kelemahan sehingga Undang-undang berubah secara dinamis seiring dengan perkembangan dan kebutuhan masyarakat dalam menjawab tuntutan perubahan. Metode penulisan dalam tesis ini menggunakan analisis deskripsi studi pustaka yang mengandalkan analisa penulis sebagai instrumen penelitian dalam membandingkan Undang-undang melalui buku-buku, media elektronik dan sumber lainnya yang layak dipercaya dan dipertanggungjawabkan dalam penulisan karya ilmiah tesis ini.Otonomi dan desentralisasi yang diberlakukan pada tahun 2001 memberikan perubahan yang sangat berarti kepada setiap daerah untuk bersentuhan langsung dengan demokrasi dan secara penuh dijamin oleh Undang-undang. Otonomi dan desentralisasi memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengembangkan daerah sesuia dengan potensi masyarakat yang ada dengan tidak terlepasnya perhatian pemerintah kepada masyarakat yang ada didaerah. Perjalanan pemilihan kepala daerah dimulai dalam UU No. 5 Tahun 1974 namun besarnya intervensi pemerintah berlaku hingga reformasi. Kelahiran UU No. 22 Tahun 1999 melalui otonomi-desentralisasi meskipun pemilihan kepala daerah dipilih oleh DPRD hingga akhirnya disahkannya UU No. 32 Tahun 2004 memberlakukan pemilihan kepala daerah secara langsung dengan mengembalikan hak rakyat sepenuhnya dalam alam demokrasi yang berhak dipilih dan memilih. Keterbukaan demokrasi juga melahirkan UU No. 12 Tahun 2008 yang memberikan peluang bagi setiap calon perseorangan. UU No. 22 Tahun 1999 dengan UU No. 32 Tahun 2004 memiliki beberapa persamaan yaitu kentalnya politik uang yang diberikan kepada DPRD dalam pencapaian kekuasaan di daerah serta masih rendahnya pendidikan politik masyarakat, UU No. 32 Tahun 2004 secara tersendiri mengatur tentang pemilihan kepala daerah secara langsung untuk memberikan pemahaman dan pendidikan politik kepada masyarakat melalui partisipasi politik masyarakat namun kesalahan dalam UU No. 22 Tahun 1999 justru berpindah kepada UU No. 32 Tahun 2004 dimana praktek politik uang dalam bentuk memberikan uang kepada setiap pemilih.Pemilihan kepala daerah sudah tidak seharusnya menggunakan uang dalam pencapain kekuasaan namun lebih menekankan pada kejujuran, keadilan serta tanggungjawab akan tugas yang diemban dalam mensejahterakan masyarakat. Rakyat berhak meminta pertanggungjawaban kepala daerah sesuai dengan janji-janji yang telah diberikan namun bila tidak tercapai maka masyarakat akan menghukum kepala daerah dengan tidak lagi memilihnya. Tugas kepala daerah adalah memandirikan daerah sesuai dengan potensi daerah sesuai dengan kewenangan yang telah diberikan oleh pemerintah kepada daerah.
Baca lebih lanjut

120 Baca lebih lajut

BAB I PENDAHULUAN. Pemilihan Kepala Daerah didasarkan pada Undang-Undang Nomor 32 Tahun

BAB I PENDAHULUAN. Pemilihan Kepala Daerah didasarkan pada Undang-Undang Nomor 32 Tahun

untuk menentukan para pemimpinnya yang nantinya diharapkan akan mampu menciptakan pemerintahan daerah yang akuntabel dan kredibel. Dalam hal ini, masyarakat sebagai pemilih mendapat perhatian yang khusus dari para pasangan calon Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah, ini dilakukan karena pada pemilihan Kepala Daerah secara langsung masyarakat memiliki peranan yang sangat penting sebagai penentu kemenangan pasangan calon kepala daerah, sehingga kegiatan atau program para kandidat dalam rangka memenangkan pemilihan tersebut terfokuskan pada usaha mempengaruhi perilaku pemilih.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

KEDUDUKAN KEPALA DESA DAN KEPALA KELURAHAN BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH

KEDUDUKAN KEPALA DESA DAN KEPALA KELURAHAN BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH

TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH” adalah benar-benar karya sendiri, kecuali jika dalam pengutipan substansi disebutkan sumbernya, dan belum pernah diajukan pada institusi manapun, serta bukan karya jiplakan. Saya bertanggung jawab atas keabsahan dan kebenaran isinya sesuai dengan sikap ilmiah yang harus dijunjung tinggi.

17 Baca lebih lajut

HUBUNGAN KEPALA DAERAH DAN WAKIL KEPALA DAERAH PASCA PEMILIHAN UMUM KEPALA DAERAH MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2004 - Repositori Universitas Andalas

HUBUNGAN KEPALA DAERAH DAN WAKIL KEPALA DAERAH PASCA PEMILIHAN UMUM KEPALA DAERAH MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2004 - Repositori Universitas Andalas

HUBUNGAN KEPALA DAERAH DAN WAKIL KEPALA DAERAH PASCA PEMILIHAN UMUM KEPALA DAERAH MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2004 SKRIPSI Diajukan Guna Memenuhi Persyaratan Untuk Memp[r]

1 Baca lebih lajut

PENGATURAN DAN PELAKSANAAN CALON PERSEORANGAN PADA PEMILIHAN KEPALA DAERAH MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 12 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH (STUDI PADA PEMILIHAN UMUM KEPALA DAERAH KOTA P

PENGATURAN DAN PELAKSANAAN CALON PERSEORANGAN PADA PEMILIHAN KEPALA DAERAH MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 12 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH (STUDI PADA PEMILIHAN UMUM KEPALA DAERAH KOTA P

Proses demokratisasi yang dicanangkan sejak Tahun 1999 telah mengubah banyak prosedur berpolitik dan berpemerintahan di Indonesia. Proses elektoral telah berubah dari ruang kompetisi yang sempit dan dikontrol oleh Negara menjadi kompetisi terbuka dengan kebebasan politik yang tinggi. Pemilihan anggota legislatif yang selama orde baru hanya diikuti oleh tiga partai politik yang hanya diperbolehkan oleh negara, telah menjadi Pemilu dengan sistem multi partai yang dimulai pada Pemilu 1999. Pada periode selanjutnya, perbaikan mekanisme elektoral juga terjadi dalam proses Pemilihan Pemimpin Lembaga Eksekutif. Apabila tradisi selama orde baru Presiden dipilih oleh para anggota Majelis Pemusyawaratan Rakyat ( MPR ),
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects