Top PDF Program Pengelolaan Bahan Berbahaya Dan Beracun

Program Pengelolaan Bahan Berbahaya Dan Beracun

Program Pengelolaan Bahan Berbahaya Dan Beracun

Program pengelolaan bahan berbahaya dan beracun adalah program untuk mengelola bahan berbahaya seperti : bahan kimia dan bahan biologi yang dapat membahayakan kesehatan dan lingkungan hidup secara langsung atau tidak langsung.

6 Baca lebih lajut

TATA LAKSANA PENGAWASAN PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN DI DAERAH

TATA LAKSANA PENGAWASAN PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN DI DAERAH

5. Badan pengendalian Dampak Lingkungan daerah Tingkat II, disingkat Bapedal Tingkat II adalah perangkat Daerah yang bertugas membantu Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah dalam melaksanakan pengendalian dampak lingkungan di Wilayah Daerah Tingkat II yang Bersangkutan. 6. Limbah Bahan Berbahaya Beracun, disingkat Limbah B3 adalah setiap limbah yang mengandung bahan berbahaya dan/atau beracun yang karena sifat dan/atau konsentrasinya dan/atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung dapat merusak dan/atau mencemarkan lingkungan hidup dan/atau dapat membahayakan kesehatan manusia.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN (B3) LABORATORIUM DI KAMPUS ITS

PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN (B3) LABORATORIUM DI KAMPUS ITS

Dalam penelitian ini dilakukan analisis kualitas influen, unit aerasi dan effluen IPAL ini karena menurut hasil wawancara dengan stake holder Departemen Kimia belum pernah dilakukan analisis kualitas air limbah laboratorium. Sedangkan sludge tidak dianalisis karena kesulitan untuk mendapatkan sampelnya. Sampel berada dalam bak dengan penutup yang terbuat dari besi. Penutup tersebut telah berkarat dan sulit untuk dibuka. Sehingga tidak diketahui kondisi dari sludge IPAL. Hal itu disebabkan karena sludge tersebut tidak pernah dikuras sejak IPAL pertama kali beroperasi. Sebaiknya, sludge secara rutin dikuras sehingga keadaan bak penampung sludge dapat terkelola dengan baik. Dari hasil analisis terdapat kadar logam berat Hg, Cr, dan Pb sebesar 0,048 mg/L; <0,0201 mg/L; <0,07 mg/L. Sehingga sludge yang dihasilkan dari proses biologis juga mengandung logam berat karena tidak dapat dihancurkan oleh organisme. Logam-logam tersebut terakumulasi ke lingkungan dan mengendap di dasar perairan membentuk senyawa kompleks bersama bahan organik dan anorganik (Widowati dkk, 2008). Hasil analisis kualitas air IPAL dapat dilihat pada Tabel 4.48 dan selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 8-Lampiran 10.
Baca lebih lanjut

147 Baca lebih lajut

PP Nomor 74 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun

PP Nomor 74 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun

Registrasi bertujuan untuk mengetahui jumlah B3 yang beredar di Indonesia agar dapat dilakukan pengawasan dari awal sehingga dapat mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan hidup, kesehatan manusia dan makhluk hidup lainnya. Registrasi merupakan langkah awal dalam pengelolaan B3. Angka 4

60 Baca lebih lajut

Urgensi dan Efektifitas Sanksi Administrasi dalam Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun

Urgensi dan Efektifitas Sanksi Administrasi dalam Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun

Pada tataran implementasi, sering kali sanksi administrasi lebih ampuh menyelesaikan suatu tindakan pelanggaran ketentuan administrasi yang oleh UUPPLH diancam dengan sanksi pidana melalui perumusan delik pidana formal, tidak terkecuali dalam bidang pengelolaan limbah B3, khususnya yang terkait dengan ketentuan Pasal 59 ayat (1) dan Pasal 59 ayat (4) UUPPLH. Sanksi pidana memang dapat menjerakan pencemar yang merusak lingkungan dengan sanksi pidana penjara, kurungan, atau denda. Namun, sanksi pidana sebenarnya mempunyai batas-batas kemampuan, diantaranya: (1). apabila dilihat dari sifat dan fungsi pemidanaan selama ini, yaitu pemidanaan individual atau personal dan bukan pemidanaan yang bersifat struktural atau fungsional. Pemidanaan yang bersifat individual atau personal kurang menyentuh pada sisi lain yang berhubungan erat secara struktural atau fungsional dengan perbuatan (dan akibat perbuatan) dari si pelaku; (2). Sanksi pidana sangat kaku dan terbatasnya jenis pidana (sebagai obat/remedium) yang dapat dipilih untuk memidana terdakwa. Tidak sedikit dalam perundang-undangan selama ini digunakan sistem perumusan sanksi pidana yang sangat kaku dan bersifat imperatif seperti perumusan sanksi pidana secara tunggal dan komulatif. 23
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN NOMOR 85 TAHUN 1999

PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN NOMOR 85 TAHUN 1999

6) Limbah yang menyebabkan kebakaran karena melepas atau menerima oksigen atau limbah organik peroksida yang tidak stabil dalam suhu tinggi. d. Limbah beracun adalah limbah yang mengandung pencemar yang bersifat racun bagi manusia atau lingkungan yang dapat menyebabkan kematian atau sakit yang serius apabila masuk ke dalam tubuh melalui pernafasan, kulit atau mulut.

44 Baca lebih lajut

PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN NOMOR 18 TAHUN 1999

PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN NOMOR 18 TAHUN 1999

Limbah bahan berbahaya dan beracun ini antara lain adalah bahan baku yang bersifat berbahaya dan beracun yang tidak digunakan karena rusak/kadaluarsa, sisa bahan/kemasan, tumpahan, sisa proses, oli bekas, oli kotor, limbah dari kegiatan pembersihan kapal dan tangki yang memerlukan penanganan dan pengolahan khusus. Tidak termasuk bagi limbah cair yang bersifat B3 tetapi dapat diawasi oleh peraturan pemerintah tentang pengendalian pencemaran air serta limbah debu dan gas yang bersifat limbah B3 tetapi dapat diawasi oleh peraturan pemerintah tentang pengendalian pencemaran udara.
Baca lebih lanjut

56 Baca lebih lajut

Bahan Berbahaya dan Beracun docx

Bahan Berbahaya dan Beracun docx

Sedangkan menurut Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun, B3 didefinisikan sebagai bahan yang karena sifat dan atau konsentrasinya dan atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan atau merusak lingkungan hidup, dan atau dapat membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lainnya. Mengingat penting dan dampaknya Bahan Berbahaya dan Beracun bagi manusia, lingkungan, kesehatan, dan kelangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya, pemerintah melakukan pengaturan ketat. Pengaturan pengelolaan B3 ini meliputi pembuatan, pendistribusian, penyimpanan, penggunaan, hingga pembuangan limbah B3.
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

Panduan-Pengelolaan-Limbah-Bahan-Berbahaya-Dan-Beracun-b3.rtf

Panduan-Pengelolaan-Limbah-Bahan-Berbahaya-Dan-Beracun-b3.rtf

Dalam pengembangan strategi pengelolaan limbah, alur limbah harus diidentifikasi dan dipilah@pilah. *eduksi keseluruhan Aolume limbah, hendaknya merupakan proses yang kontinue. Pilah@pilah dan reduksi Aolum limbah klinis dan yang sejenis merupakan  persyaratan keamanan yang penting untuk petugas pembuang sampah, petugas emergency

11 Baca lebih lajut

DOKUMEN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN

DOKUMEN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN

3. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1994 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (Lembaran Negara Tahun 1994 Nomor 26, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3551) yang telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 1995 tentang Perubahan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1994 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (Lembaran Negara Tahun 1995 Nomor 24, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3595); 4. Keputusan Presiden Nomor 77 Tahun 1994 tentang Badan Pengendalian Dampak

6 Baca lebih lajut

Penaatan Dan Penegakan Hukum Lingkungan Dalam Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya Beracun (B3).

Penaatan Dan Penegakan Hukum Lingkungan Dalam Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya Beracun (B3).

Berdasarkan pada pertimbangan keberadaan industri yang terkait pengelolaan limbah B3 maka lokasi peneltian dipilih antara lain Kabupaten Garut, Kabupaten Sumedang, Kabupaten Bandung, dan Kota Bandung. Adapun informasi dalam penelitian ini diambil berdasarkan hasil wawancara dengan para pihak dan instansi yang terkait dengan pengelolaan limbah B3 dan Instansi Penegak Hukum, seperti Dinas Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten/Kota, Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Hidup, Dinas Perindustrian, Sekretariat Daerah Kabupaten Kota, Penyidik Pegawai Negeri Sipil Lingkungan, dan Penyidik Polri. Namun demikian dalam inventarisasi permasalahan, peneliti telah menyelenggarakan workshop yang diikuti oleh peserta yang mewakili hampir seluruh daerah di wilayah Provinsi Jawa Barat. Dengan demikian peneliti meyakini bahwa data-data yang telah diperoleh merupakan data yang dapat menggambarkan kondisi nyata di wilayah Provinsi Jawa Barat.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

PP No 101 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun

PP No 101 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun

Setiap Orang yang menghasilkan Limbah B3, Pengumpul Limbah B3, Pengangkut Limbah B3, Pemanfaat Limbah B3, Pengolah Limbah B3, dan/atau Penimbun Limbah B3 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 224 wajib menyelenggarakan pelatihan dan geladi kedaruratan untuk kegiatan yang dilakukannya paling sedikit 1 (satu) kali dalam 1 (satu) tahun untuk memastikan Sistem Tanggap Darurat Pengelolaan Limbah B3 dapat dilaksanakan.

233 Baca lebih lajut

PEMANFAATAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN

PEMANFAATAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN

2. Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 31, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3815) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 85 Tahun 1999 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 190, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3910);

6 Baca lebih lajut

Keputusan Kepala Bapedal No. 03 Tahun 1998 Tentang : Program Kemitraan Dalam Pengelolaan Bahan Berbahaya Dan Beracun

Keputusan Kepala Bapedal No. 03 Tahun 1998 Tentang : Program Kemitraan Dalam Pengelolaan Bahan Berbahaya Dan Beracun

4. Program kemitraan dalam pengeloaan limbah B3 yang selanjutnya disingkat KENDALI B3 adalah program secara kebersamaan antara Bapedal, Pemerintah daerah dan badan usaha dalam pengendalian limbah B3 dengan tujuan untuk mengelola limbah B3 yang dihasikan secara baik dan benar;

40 Baca lebih lajut

TATA LAKSANA PERIZINAN DAN PENGAWASAN PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN SERTA PENGAWASAN PEMULIHAN AKIBAT PENCEMARAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN OLEH PEMERINTAH DAERAH

TATA LAKSANA PERIZINAN DAN PENGAWASAN PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN SERTA PENGAWASAN PEMULIHAN AKIBAT PENCEMARAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN OLEH PEMERINTAH DAERAH

PPLHD Provinsi atau PPLHD Kabupaten/Kota dalam melaksanakan pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (1) berpedoman pada tata laksana pengawasan pengelolaan limbah B3 sebagaimana tercantum dalam Lampiran VII dan tata laksana pengawasan pelaksanaan pemulihan akibat pencemaran limbah B3 sebagaimana tercantum dalam Lampiran VIII yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.

68 Baca lebih lajut

Urgensi dan Efektifitas Sanksi Administrasi dalam Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun

Urgensi dan Efektifitas Sanksi Administrasi dalam Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (UU PPLH) merupakan bukti dari kemajuan Indonesia dalam memandang pentingnya kelestarian lingkungan hidup. Jika ditelusuri, perubahan undang-undang pokok lingkungan hidup mulai dari UU Nomor 4 Tahun 1982 yang kemudian digantikan oleh UU Nomor 23 Tahun 1997 (UU PLH) yang pada akhirnya juga digantikan oleh UU Nomor 32 Tahun 2009 (UU PPLH), terdapat beberapa perubahan yang bersifat fundamental. Salah satu perubahan yang cukup mendasar dari perubahan UU PLH menjadi UU PPLH adalah mengenai penerapan sanksi. Undang-Undang PLH lebih mengedepankan sanksi yang bersifat administratif tidak lain dikarenakan UU tersebut menekankan pada aspek pengelolaan lingkungan, sedangkan pengelolaan selalu dikaitkan dengan wewenang dan wewenang itu sendiri merupakan fokus utama dari hukum administratif. Sehingga dalam banyak kasus lingkungan, ketentuan dalam UU PLH cenderung menerapkan sanksi administrasi terlebih dahulu sedangkan sanksi pidana dijatuhkan apabila sanksi administrasi dianggap tidak efektif atau tidak menjerakan. Maka dari itu, sanksi pidana dalam UU PLH bersifat ultimum
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN (B3)

BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN (B3)

Pelaksanaan verifikasi atau penelusuran teknis dilakukan oleh Surveyor yang telah memenuhi persyaratan teknis, dan ditetapkan oleh Menteri. Suveyor yang telah memenuhi persyaratan teknis adalah telah: a. memiliki Surat Izin Usaha Jasa Survey (SIUJS), berpengalaman sebagai surveyor minimal 5 (lima) tahun; c. memiliki cabang atau perwakilan dan/atau afiliasi di luar negeri dan memiliki jaringan sistem informasi untuk mendukung efektifitas pelayanan verifikasi; dan d. mempunyai rekam-jejak (track records) di bidang pengelolaan kegiatan verifikasi impor. Ruang lingkup pelaksanaan verifikasi atau penelusuran teknis mencakup: a. identitas (nama dan alamat) importir dan eksportir dengan benar dan jelas; b. nomor dan tanggal Pengakuan sebagai IP Limbah Non B3; c. jumlah/volume atau berat, jenis dan spesifikasi, serta nomor pos tarif/HS Limbah Non B3 yang diimpor; d. keterangan waktu dan negara pengekspor/pelabuhan muat Limbah Non B3 yang diimpor; e. keterangan tempat atau pelabuhan tujuan bongkar Limbah Non B3 yang diimpor; f. keterangan dari eksportir berupa Surat Pernyataan Surat Pernyataan bahwa: limbah yang diekspor bukan merupakan Limbah B3 dan bersedia bertanggung-jawab dan menerima kembali Limbah Non B3 yang telah diekspornya apabila Limbah Non B3 tersebut terbukti sebagai Limbah B3.; dan g. keterangan lain apabila diperlukan. Dalam melaksanakan kegiatan verifikasi atau penelusuran teknis, surveyor dapat melakukan kerjasama dengan surveyor yang berada di luar negeri.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

PENGELOLAAN BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN NOMOR 74 TAHUN 2001

PENGELOLAAN BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN NOMOR 74 TAHUN 2001

Selama tiga dekade terakhir, penggunaan dan jumlah B3 di Indonesia semakin meningkat. Penggunaan B3 yang terus meningkat dan tersebar luas di semua sektor apabila pengelolaannya tidak dilakukan dengan baik, maka akan dapat menimbulkan kerugian terhadap kesehatan manusia, mahluk hidup lainnya dan lingkungan hidup, seperti pencemaran udara, pencemaran tanah, pencemaran air, dan pencemaran laut. Agar pengelolaan B3 tidak mencemari lingkungan hidup dan untuk mencapai derajat keamanan yang tinggi, dengan berpijak pada prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan dan peningkatan kualitas hidup manusia, maka diperlukan peningkatan upaya pengelolaannya dengan lebih baik dan terpadu.
Baca lebih lanjut

38 Baca lebih lajut

Implementasi Izin Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya Dan Beracun Sebagai Instrumen Pengendalian

Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya Dan Beracun Provinsi Jawa Timur

Implementasi Izin Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya Dan Beracun Sebagai Instrumen Pengendalian Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya Dan Beracun Provinsi Jawa Timur

Pengelolaan Limbah B3 perlu dilakukan pengelolaan yang terpadu karena dapat menimbulkan kerugian terhadap kesehatan manusia, mahluk hidup lainnya, dan lingkungan hidup jika tidak dilakukan pengelolaan dengan benar. Diperlukan Peraturan Pemerintah tentang Pengelolaan Limbah B3 yang secara terpadu mengatur keterkaitan setiap simpul Pengelolaan Limbah B3 yaitu kegiatan penyimpanan, pengumpulan, pengangkutan, pengolahan, pemanfaatan, dan penimbunan Limbah B3. Pentingnya penyusunan Peraturan Pemerintah ini secara tegas juga disebutkan dalam Agenda 21 Indonesia, Strategi Nasional Untuk Pembangunan Berkelanjutan dan sebagai pelaksanaan dari Pasal 59 ayat (7) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Baca lebih lanjut

40 Baca lebih lajut

TATA CARA PERIZINAN PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN

TATA CARA PERIZINAN PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN

c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Tata Cara Perizinan Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup

14 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...