Top PDF PROPAGANDA HAK ANGKET DPR TERHADAP KPK (Analisis Propaganda dan Komunikasi Politik)

PROPAGANDA HAK ANGKET DPR TERHADAP KPK  (Analisis Propaganda dan Komunikasi Politik)

PROPAGANDA HAK ANGKET DPR TERHADAP KPK (Analisis Propaganda dan Komunikasi Politik)

The investigation of the E-KTP case that dragged some members of DPR led to the formation of Pansus Hak Angket KPK. Instead of exploring information about the function of eradicating corruption, the formation of Pansus Hak Angket KPK is tend to be political propaganda in improving the image of DPR. This can be seen from how the using of vertical communication channel (especially through the mass media) rather than the horizontal communication channel. Moreover, the initial goal of Pansus Hak Angket KPK is to urge KPK to open a recording of the examination of Miryam Haryani who became a suspect in the case of E- KTP. This research uses qualitative methods to disquss the propaganda of DPR against KPK. With descriptive method, this research is to describe what and how propaganda DPR against KPK. From the various issues raised by Pansus Hak Angket KPK, it is seen how the formation of Pansus is irrelevant, because the existing problems can be solved through working meetings between DPR and KPK. Meanwhile, the communication channels tend to be more done vertically (especially through the mass media) rather than horizontally. In addition, DPR as a political communicator does not have adequate credibility in conducting propaganda against KPK. The public is also more confident of KPK rather than DPR. This research concludes that the formation of Pansus Hak Angket is full of political interests, became a political propaganda to improve the image of DPR and to strike down KPK rather than seeking truth or strengthening KPK.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Penguatan Fungsi Pengawasan DPR melalui Perubahan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1954 Tentang Hak Angket

Penguatan Fungsi Pengawasan DPR melalui Perubahan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1954 Tentang Hak Angket

Selain landasan filosofis yang berbeda dengan negara saat ini, UU Angket kita maupun UU MD3 tidak memiliki kejelasan tentang daya ikat hasil penyelidikan panitia angket, terutama yang memiliki implikasi hukum. Dalam konteks angket kasus century adalah lembaga penegak hukum, yaitu KPK, kepolisian dan kejaksaan. Hasil rekomendasi hak angket berungkali disebut sebagai produk politik, bukan produk hukum. Sehingga lembaga-lembaga penegak hukum tersebut tidak memiliki kewajiban untuk menindaklanjuti temuan Pansus. Ketentuan UU Angket menyebut keterangan yang diberikan didepan Pansus tidak dikategorikan sebagai sebagai bukti di depan pengadilan. Hal inilah yang menjadi dasar argumen lembaga penegak hukum menolak untuk berkewajiban menindaklanjuti temuan angket melalui rekomendasi DPR itu.Reaksi penegak hukum ini, memunculkan beberapa pertanyaan penting yang harus dijawab, supaya hasil angket dapat dikategorikan “berwibawa” sehingga dipatuhi.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Menimbang Kewenangan DPR dalam Penggunaan Hak Angket Pada Kasus Korupsi KTP Elektornik

Menimbang Kewenangan DPR dalam Penggunaan Hak Angket Pada Kasus Korupsi KTP Elektornik

In Indonesia, the control function of the House of Representatives (DPR) includes interpellation rights, inquiry rights and the right to express opinions. In 2017, the DPR's inquiry rights to the Corruption Eradication Commission (KPK) were considered unconstitutional because the law did not include the KPK as the object of the inquiry mechanism. However, the Constitutional Court (MK) in Decision Number 36 / PUU-XV / 2017 defined KPK as an executive so that this institution can be monitored through the inquiry mechanism. This court's decision, however, contradicts to the four previous decisions which classified KPK as an independent institution. This article examines the validity of the DPR's inquiry rights to the KPK by considering the DPR's inquiry rights as a form of a mechanism for mutual checks and balances to the other state institutions. In practice, there are both formal and material rules that must be fulfilled so that their implementation is legally valid and the DPR's inquiry rights to the KPK in cases of the electronic KTP corruption ignore these conditions. This article recommends that the DPR be careful when using inquiry rights as a monitoring mechanism.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

PENGUATAN FUNGSI PENGAWASAN DPR MELALUI PERUBAHAN UNDANG-UNDANG NO. 10 TAHUN 1954 TENTANG HAK ANGKET

PENGUATAN FUNGSI PENGAWASAN DPR MELALUI PERUBAHAN UNDANG-UNDANG NO. 10 TAHUN 1954 TENTANG HAK ANGKET

Selain landasan filosofis yang berbeda dengan negara saat ini, UU Angket kita maupun UU MD3 tidak memiliki kejelasan tentang daya ikat hasil penyelidikan panitia angket, terutama yang memiliki implikasi hukum. Dalam konteks angket kasus century adalah lembaga penegak hukum, yaitu KPK, kepolisian dan kejaksaan. Hasil rekomendasi hak angket berungkali disebut sebagai produk politik, bukan produk hukum. Sehingga lembaga-lembaga penegak hukum tersebut tidak memiliki kewajiban untuk menindaklanjuti temuan Pansus. Ketentuan UU Angket menyebut keterangan yang diberikan didepan Pansus tidak dikategorikan sebagai sebagai bukti di depan pengadilan. Hal inilah yang menjadi dasar argumen lembaga penegak hukum menolak untuk berkewajiban menindaklanjuti temuan angket melalui rekomendasi DPR itu.Reaksi penegak hukum ini, memunculkan beberapa pertanyaan penting yang harus dijawab, supaya hasil angket dapat dikategorikan “berwibawa” sehingga dipatuhi.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Analisis Wacana Kritis Cuitan Fahri Hamzah (FH) Terkait Hak Angket Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)

Analisis Wacana Kritis Cuitan Fahri Hamzah (FH) Terkait Hak Angket Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)

Fahri Hamzah (FH) merupakan salah satu pimpinan di DPR yang sering mengkritisi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melalui akun Twitter-nya. Salah satunya adalah masalah pengajuan hak angket KPK. Penelitian ini akan mengungkapkan persepsi FH melalui cuitan di Twitter pada tanggal 2—26 Juli 2017. Pengungkapan persepsi tersebut dianalisis menggunakan model Fairclough. Hasil penelitian berdasarkan analisis tekstual (analisis mikro) menunjukkan bahwa struktur teks pendek dan langsung menyampaikan isi tuturan. Adapun secara substansi teks mengungkapkan beragam persepsi FH, seperti masyarakat disuguhi drama tentang KPK, KPK selalu dianggap benar, dan media berlaku tidak objektif. Aspek ketransitifan menunjukkan FH menguatkan hal-hal negatif dan meniadakan hal positif. Terdapat penekanan tentang kebobrokan KPK. Fungsi modalitas berupa tuturan yang menguatkan perlunya Pansus Angket KPK. Penggunaan kosakata secara keseluruhan menggambarkan pandangan negatif dan pesimisme terkait kinerja KPK. Penggunaan gaya bahasa sinisme, sarkasme, dan satire mewarnai keseluruhan cuitan FH. Analisis berdasarkan dimensi praktik wacana (level menengah) menunjukkan bahwa pandangan FH berseberangan dengan opini publik. Pansus KPK dianggap sebagai upaya melindungi anggota DPR yang terlibat kasus e-KTP. Adapun analisis berdasarkan dimensi praktik sosial budaya (level makro) menunjukkan bahwa FH termasuk politisi yang sering mengkritik kinerja KPK, termasuk penanganan kasus e-KTP.
Baca lebih lanjut

23 Baca lebih lajut

PENGGUNAAN HAK ANGKET DEWAN PERWAKILAN RAKYATTERHADAP KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI - Repository UNRAM

PENGGUNAAN HAK ANGKET DEWAN PERWAKILAN RAKYATTERHADAP KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI - Repository UNRAM

Judul: “Penggunaan Hak Angket Dewan Perwakilan Rakyat Terhadap Komisi Pemberantasan Korupsi.” Penelitian ini dilatarbelakangi oleh permasalahan terkait independensi KPK ketika dihadapkan dengan hak angket DPR. Dalam penelitian ini digunakan metode hukum normatif yakni dengan mencari sumber literatur dari buku-buku bacaan dan lainnya. Pada kesimpulannya, KPK sebagai lembaga independen dapat dijadikan objek hak angket, dengan catatan bahwa angket tidak boleh digunakan dalam kaitannya dengan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan oleh lembaga KPK. Hal tersebut tersebut berimbas juga pada prosedur penggunaan hak angket tersebut.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Batas Konstitusional Penggunaan Hak Angket terhadap Komisi Pemberantasan Korupsi

Batas Konstitusional Penggunaan Hak Angket terhadap Komisi Pemberantasan Korupsi

itu berkenaan dengan sumber daya manusia, maka penggunaan angket dapat ditujukan sepanjang terdapat indikasi pelanggaran ketentuan peraturan perundang-undangan dalam tata kelola SDM. Bisa saja itu menyangkut aparatur sipil negara yang dipekerjakan di KPK, penyidik yang diperbantukan dari kepolisian dan kejaksaan, maupun penyidik yang direkrut secara independen melalui kelembagaan KPK. Jika itu dilakukan terhadap penyidik KPK, maka objek penyelidikan angket tidak boleh mengurangi independensi penyidik KPK yang sedang dan akan dilakukan dalam memeriksa dan menangani perkara. Dengan merujuk pada kriteria konseptual di atas, maka terdapat batas konstitusional yang akan menjadi rambu-rambu penggunaan hak angket DPR terhadap KPK. Batas konstitusional ini menjadi sangat relevan guna menderivasikan implikasi Putusan MK yang telah memperluas subjek dan objek angket sebagaimana diatur dalam UUDN RI Tahun 1945.
Baca lebih lanjut

25 Baca lebih lajut

View of Hak Angket DPR, KPK dan Pemberantasan Korupsi

View of Hak Angket DPR, KPK dan Pemberantasan Korupsi

Berdasarkan hasil pembahasan yang telah diuraikan, maka dapat disimpulkan, pertama, pertimbangan Hakim Konstitusi khususnya pertimbangan 5 Hakim Konstitusi yang menjadi dasar Putusan MK Nomor 36/PUU-XV/2017 tidak tepat menempatkan KPK sebagai objek hak angket DPR. Hal tersebut dikarenakan pertimbangan 5 Hakim Konstitusi tidak memiliki konsistensi, khususnya terhadap makna independen yang dimiliki KPK. Lima Hakim Konstitusi menyebut “KPK merupakan lembaga negara yang dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya bersifat independen dan bebas dari pengaruh kekuasaan manapun. Posisinya yang berada di ranah eksekutif, tidak berarti membuat KPK tidak independen dan terbebas dari pengaruh manapun”. Frasa “tidak berarti membuat KPK tidak independen dan terbebas dari pengaruh manapun” membuat 5 Hakim Konstitusi tersebut berkesimpulan bahwa KPK dapat menjadi objek hak angket DPR, dengan mengecualikan pada tugas dan kewenangan KPK di bidang yudisial (penyelidikan, penyidikan dan penuntutan). Pertimbangan tersebut selain tidak konsisten juga dibarengi tidak dibedahnya makna “hal penting, strategis, dan berdampak luas” sebagai kriteria dipergunakannya hak angket. Kedua, implikasi Putusan MK Nomor 36/PUU-XV/2017 terhadap penggunaan hak angket DPR terhadap KPK adalah dapat terganggunya status independensi KPK dalam rangka pemberantasan korupsi. Penggunaan hak angket DPR terhadap KPK secara eksesif tanpa batas-batas tertentu dapat merintangi bahkan mempolitisasi kasus pemberantasan korupsi yang ditangani oleh KPK.
Baca lebih lanjut

29 Baca lebih lajut

Legalitas Hak Angket KPK dalam Perspekti

Legalitas Hak Angket KPK dalam Perspekti

Berangkat dari hal tersebut, penggunaan hak angket oleh DPR terhadap KPK menuai pro dan kontra mengenai keabsahan legalitasnya di kalangan masyarakat. Disatu sisi, ada pihak yang menilai bahwa legalitas penggunaan hak angket oleh DPR sudah tepat dengan alasan KPK yang secara kelembagaan dibentuk dengan UU sehingga KPK merupakan pelaksanaan dari suatu undang-undang, maka DPR dapat melakukan angket terhadap KPK. Hal ini berkaitan dengan definisi hak angket yakni hak DPR untuk melakukan penyelidikan terhadap pelaksanaan suatu undang-undang dan/atau kebijakan Pemerintah yang berkaitan dengan hal penting, strategis, dan berdampak luas pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang diduga bertentangan dengan peraturan perundang-undangan. 1
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Pelaksanaan Hak Angket Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (Dprd) Kota Jambi

Pelaksanaan Hak Angket Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (Dprd) Kota Jambi

cucuk cabut pejabat struktural eselon II, III, dan IV dalam lingkup Pemerintah Kota Jambi tidak berdasarkan peraturan yang berlaku, Kasus pembatalan SK pengangkatan 27 Kepala Sekolah SMP dan SMA se Kota Jambi yang secara resmi ini dapat dikategorikan sebagai pelanggaran Hak Azazi Manusia (HAM).Kasus pengangkatan dan pelantikan pejabat struktural eselon II (Kepala Dinas Pendapatan Kota Jambi dan Staf Ahli Walikota Jambi Bidang Pembangunan) cacat hukum dan tidak prosedural, karena tanpa melalui penilaian Gubernur Pelaksanaan APBD Kota Jambi tahun anggaran 2009 tidak berjalan sebagaimana mestinya. Tidak berperannya fungsi baperjangkat dalam pengangkatan pejabat struktural Pemerintah Kota Jambi yang pada akhirnya berdampak kepada cucuk/cabut pejabat, pembatalan SK pengangkatan dan pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku. Mengenai pencabutan dukungan 5 partai koalisi pengusung H.R. Bambang Priyanto pada Pemilihan Umum Walikota Jambi tentunya kedepan secara tidak langsung berpengaruh terhadap kinerja Pemerintahan Kota Jambi. Permasalahan dengan KPUD Kota Jambi dalam hal tidak dialokasikannya bantuan untuk kegiatan kebutuahan pelaksanaan pemilu pilpres sebagaimana yang diamanatkan Pasal 2 huruf b dan d Peraturan Presiden Nomor 4 Tahun 2009, tentang Dukungan Penyelenggaraan Pemilihan Umum 2009.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Propaganda dan Ilmu Komunikasi

Propaganda dan Ilmu Komunikasi

Mungkin juga karena itu, Lasswell, sepuluh tahun kemudian, tahun 1937 mendefi - nisikan “ propaganda dalam arti yang paling luas adalah teknik memengaruhi tindakan ma - nusia dengan memanipulasi representasi (pe - nyajian). Representasi bisa berbentuk lisan, tulisan, gambar atau musik ” (Severin; Tankard Jr, 2007:128). Dalam pengertian seperti ini, penggunaan propaganda terlihat lebih umum, tidak terikat pada waktu, kondisi, situasi ter - tentu.Artinya, setiap saat bisa dilakukan, baik perang maupun damai, baik dalam keadaan genting atau keadaan biasa-biasa saja, propa - ganda dapat dilakukan. Kata memanipulasi menunjukkan bahwa dalam kegiatan propa- ganda diperlukan dan diperkenankan berbagai cara (jujur atau tidak jujur, halus atau kasar, benar atau tidak benar, baik atau tidak baik) dalam menyajikan sesuatu kepada sasaran. Yang penting adalah supaya dapat diterima, dipercaya, diyakini, akhirnya didukung oleh sasaran/penerima. Pengungkapan sesuatu yang diharapkan diterima itu pun bisa diwujudkan melalui berbagai bentuk lambang komunikasi
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Keberadaan Hak Angket Dalam Melaksanakan Fungsi Pengawasan Dewan Perwakilan Rakyat Terhadap Pemerintah

Keberadaan Hak Angket Dalam Melaksanakan Fungsi Pengawasan Dewan Perwakilan Rakyat Terhadap Pemerintah

mempunyai kewenangan untuk memanggil dan melakukan penyelidikan terhadap pemerintah, dan saksi, pakar, organisasi profesi dan lain-lain. Ketika Panitia Angket sudah menyelesaikan tugasnya, semuanya akan tergantung pada fakta-fakta dan bukti- bukti yang terungkap selama penyelidikan dan tergantung pula pada analisis Panitia Angket terhadap fakta-fakta dan bukti-bukti yang berhasil diungkapkan. Jika penyelidikan yang dilakukan Panitia Angket menyimpulkan telah terjadi kebijakan yang merugikan negara, merugikan rakyat serta bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, apalagi melanggar ketentuan UUD NRI Tahun 1945, laporan Panitia Angket harus disampaikan ke rapat paripurna DPR untuk mendengarkan pendapat fraksi-fraksi sebelum laporan itu diputuskan untuk diterima atau ditolak, baik secara aklamasi maupun melalui pemungutan suara. Keputusan DPR tersebut disampaikan kepada Presiden.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

ANGKET Soal angket dengan menyilang sala

ANGKET Soal angket dengan menyilang sala

ANGKET Soal angket, dengan menyilang salah satu jawaban yang dianggap benar.. Ilmu tajwid adalah ilmu yang mempelajari tentang cara membaca al-qur’an dengan benar tartil.[r]

3 Baca lebih lajut

Problematika dalam Pengisian Jabatan Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (Kajian Kritis Terhadap Kewenangan DPR dalam Memilih Pimpinan KPK)

Problematika dalam Pengisian Jabatan Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (Kajian Kritis Terhadap Kewenangan DPR dalam Memilih Pimpinan KPK)

Mekanisme pemilihan pimpinan KPK melalui DPR, sebagai bentuk berjalannnya check and balances antara kekuasaan Presiden dan DPR. Namun jika DPR dalam pemilihan pimpinan KPK tidak mereprsentasikan suara rakyat melainkan memilih pimpinan KPK guna melindungi proyek-proyek illegal untuk menambah pundi-pundi uang mereka, pada posisi inilah akan menimbulkan masalah. KPK sulit berjalan secara objektif karena adanya konflik interest antara pimpinan KPK dan DPR yaitu ketika mengusut anggota Dewan yang telah memilih mereka sebagai Pimpinan KPK. Rumusan masalah Bagaimana mekanisme dalam pengisian jabatan pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi? Metode Penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif dengan menggunakan data sekunder. Hasil penelitian menunjukkan evaluasi terhadap mekanisme dalam pengisian Jabatan Pimpinan KPK yaitu (1) memperkuat Peran Panitia seleksi (Pansel). Dalam menjamin keobjektifan dan jalannya mekanisme check and balances dalam pemilihan pimpinan KPK, maka Pansel dapat berjumlah 7 orang yang terdiri dari unsur pemerintah, unsur DPR, unsur Yudikatif, unsur praktisi, dan unsur akademisi. Kewenangan DPR direduksi yaitu hanya mengajukan salah satu anggotanya untuk menjadi anggota Pansel KPK dari unsur DPR. (2) membentuk badan khusus yang independen dalam pemilihan pimpinan KPK dimana Presiden dan DPR tidak dapat mengintervensi Badan tersebut. Presiden hanya berwenang menetapkan calon pimpinan KPK yang dipilih oleh Badan tersebut dengan Keputusan Presiden.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Aspek Hukum Hak Angket Yang Dimiliki Oleh Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia

Aspek Hukum Hak Angket Yang Dimiliki Oleh Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia

Hasil audit dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menyangkut Bank Century dapat digunakan (atau tidak digunakan) oleh panitia angket Dewan Perwakilan Rakyat. Nantinya, Dewan Perwakilan Rakyat dapat saja berpendapat lain dengan BPK. Dengan kata lain, bila hasil audit BPK berkesimpulan aliran dana pemerintah ke Bank Century sudah sesuai dengan prosedur, kesimpulan itu dapat dikesampingkan oleh DPR. Apalagi Wapres Boediono memiliki peran terkait pencairan dana Rp 6,7 triliun saat dirinya menjadi Gubernur BI. Pada titik inilah kehadiran Panitia Hak Angket DPR untuk menguak persoalan seputar penyelamatan Bank Century menjadi amat penting dilakukan.
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

POLITIK HUKUM PENGATURAN HAK ANGKET DALAM SISTEM PEMERINTAHAN DI INDONESIA  Ubaya Repository

POLITIK HUKUM PENGATURAN HAK ANGKET DALAM SISTEM PEMERINTAHAN DI INDONESIA Ubaya Repository

Dalam hukum positif Indonesia, perihal hak angket diatur dalam UU Nomor 17 Tahun 2014 mengenai Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (UU MD3). Ketentuan pada Pasal 79 ayat (3) Undang-Undang MD3 memberikan penekanan bahwa hak penyelidikan dilakukan terhadap pelaksanaan suatu undang-undang dan/atau kebijakan Pemerintah yang berkaitan dengan hal penting, strategis, dan berdampak luas pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang diduga bertentangan dengan peraturan perundang-undangan. Senada dengan hal tersebut, Yusril menjelaskan pengertian hak angket sebagai berikut:
Baca lebih lanjut

27 Baca lebih lajut

Implementasi konsep ahlul halli wa al-‘aqdi Al-Mawardi dalam proses pemilihan pimpinan KPK oleh DPR

Implementasi konsep ahlul halli wa al-‘aqdi Al-Mawardi dalam proses pemilihan pimpinan KPK oleh DPR

Dalam hal ini Al- Mawardi tidak memberikan pendapatnya sendiri berapa jumlah anggauta Ahlul Halli Wal ‘Aqdi yang ideal untuk menjalankan tugasnya. Al- Mawardi juga tidak menjelaskan bagaimana Ahlul Halli Wal ‘Aqdi ini terbentuk, bagaimana proses rekrutmennya. Namun apabila kita melihat pada tim formatur yang dibentuk oleh Umar bin Khattab maka Ahlul Halli Wa Al-‘Aqdi anggautanya dipilih atau ditentukan oleh seorang Khalifah atau penguasa tertinggi dengan jumlah anggauta enam orang serta dalam keanggautaannya terdapat anggauta yang bertindak sebagai pihak yang independen, hanya sebagai penasihat, dan tidak memiliki hak untuk memilih ataupun dipilih.
Baca lebih lanjut

87 Baca lebih lajut

Konstruksi Harian Media Indonesia Terhadap Partai Golkar Dalam Berita Hak Angket Kasus Mafia Pajak

Konstruksi Harian Media Indonesia Terhadap Partai Golkar Dalam Berita Hak Angket Kasus Mafia Pajak

Media menata sebuah agenda terhadap peristiwa ataupun isu tertentu sehingga dianggap penting oleh publik. Caranya, media dapat menampilkan isu-isu itu secara terus menerus dengan memberikan ruang dan waktu bagi publik untuk mengkonsumsinya, sehingga publik sadar atau tahu akan isu-isu tersebut, kemudian publik menganggapnya penting dan meyakininya. Dengan kata lain, isu yang dianggap publik penting pada dasarnya adalah karena media menganggapnya penting. Dalam penelitian ini, teori agenda setting digunakan untuk melihat bagaimana harian Media Indonesia memberikan penekanan terhadap Partai Golkar melalui peristiwa hak angket mafia perpajakan ini sebagai sesuatu yang penting untuk dikonsumsi publik.
Baca lebih lanjut

110 Baca lebih lajut

Propaganda dan Ilmu Komunikasi

Propaganda dan Ilmu Komunikasi

'DODP KXEXQJDQ DQWDUQHJDUD SXQ NH - JLDWDQSURSDJDQGDVDQJDWOD]LPGLSUDNWHNNDQ meskipun kadang-kadang dilakukan secara tersamar atau tidak diakui sebagai kegiatan SURSDJDQGD +DO LWX GLDNXL/ -RKQ 0DUWLQ yang dalam tulisannya berjudul Keefektifan SURSDJDQGD,QWHUQDVLRQDOPHQGH¿QLVLNDQSUR - paganda sebagai kegiatan komunikasi persuasif sebuah pemerintahan yang ditujukan kepada NKDOD\DN DVLQJ 0HQXUXWQ\D KDQ\D VHEDJLDQ pemerintahan yang mengakui menjalankan SURSDJDQGD VHFDUD WHUEXND NDUHQD LVWLODK LQL PHPLOLNLPDNQDEXUXN%LDVDQ\DGLSLOLKDWDX dilakukan cara penghalusan ( HXIHPLVPH ) se- perti program informasi atau kegiatan kebu- GD\DDQGDODP0DOLN5DNKPDWGDQ6KRHOKL .DUHQDQ\D ZDMDU (GZDUG Bernays menyatakan bahwa propaganda bu- kanlah usaha beberapa orang yang patut dicela untuk meracuni pikiran kita dengan kebohon- JDQ/HELK GDUL LWX SURSDJDQGD PHUXSDNDQ suatu usaha terorganisasi untuk menyebarluas- NDQVXDWXNHSHUFD\DDQDWDXRSLQL3URSDJDQGD baru ( QHZ SURSDJDQGD ) merupakan sesuatu \DQJWHUVHEDUOHELKMDXKODJLOHELKNXDWGDQ lebih penting daripada sekadar perkemban- JDQ LQIRUPDVL 6HFDUD OHELK WDQGDV %HUQD\-
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...