Top PDF Redistribusi Kekuasaan Negara dan Hubungan Antar Lembaga Negara di Indonesia

Redistribusi Kekuasaan Negara dan Hubungan Antar Lembaga Negara di Indonesia

Redistribusi Kekuasaan Negara dan Hubungan Antar Lembaga Negara di Indonesia

7LGDN DGD OHPEDJD WHUWLQJJL QHJDUD GDQ NHGDXODWDQ EHUDGD GL WDQJDQ UDN\DW $GDQ\D SHUJHVHUDQ NHZHQDQJDQ NHNXDVDDQ OHJLVODWLI \DQJ GLDOLKNDQ GDUL NHNXDVDDQ SUHVLGHQ NHSDGD '35 <DQJ ,ELG[r]

27 Baca lebih lajut

HUBUNGAN PRESIDEN DAN LEMBAGA-LEMBAGA NEGARA (Analisis Peran dan Partisipasi Lembaga-Lembaga Negara Menurut Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945)

HUBUNGAN PRESIDEN DAN LEMBAGA-LEMBAGA NEGARA (Analisis Peran dan Partisipasi Lembaga-Lembaga Negara Menurut Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945)

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang mengatur mengenai hubungan antar lembaga negara mengacu pada sistem checks and balances sehingga tidak ada satu lembagapun yang lebih berkuasa dan lebih tinggi kedudukannya dibanding lembaga negara lain. Demikian pula tidak ada satu lembaga negarapun yang melaksanakan kewenangannya tanpa peranan dan partisipasi lembaga negara lain. Permasalahan adalah bagaimanakah Hubungan Presiden Dan Lembaga- Lembaga Negara, analisis Peran Dan Partisipasi Lembaga-Lembaga Negara Menurut Undang-Undang Dasar NegaraRepublik Indonesia Tahun 1945? Kesimpulan, Hubungan antara Presiden dan Lembag-lembaga Negara mempertegas sistem kabinet Presidensial yang dianut oleh Indonesia. Pelaksanaan dan kewenangan lembaga-lembaga negara tersebut, merupakan upaya untuk menjadikan UUD NRI Tahun 1945 menjadi konstitusi yang hidup (living constitution), dinamis dan berkembang dalam praktik kenegaraan yang lebih demokratis guna mewujudkan percepatan negara Indonesia yang sejahtera.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

LEMBAGA NEGARA INDEPENDEN negara-negara budaya negara-negara budaya

LEMBAGA NEGARA INDEPENDEN negara-negara budaya negara-negara budaya

terpenting dalam pembenahan tata pemerintahan di Indonesia. Walaupun bersifat independen dan bebas dari kekuasaan manapun, KPK tetap bergantung kepada kekuasaan eksekutif dalam kaitannya pada masalah keorganisasian, lalu memiliki hubungan khusus dengan kekuasaan yudikatif dalam hal penuntutan dan persidangan perkara tindak pidana korupsi, namun dalam perkembangannya keberadaan dan kedudukan KPK dalam struktur ketatanegaraan Indonesia mulai dipertanyakan oleh berbagai pihak. Tugas, wewenang, dan kewajiban yang dilegitimasi oleh Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi memang membuat komisi ini terkesan menyerupai sebuah lembaga “superbody” dan berpotensi “abuse of power”. Sebagai lembaga negara yang nama nya tidak tercantum dalam UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945, KPK dianggap oleh sebagian pihak sebagai lembaga ekstrakonstitusional. Akibat beberapa anggapan tersebut beberapa orang sebagai pemohon mengajukan judicial review kepada Mahkamah Konstitusi, mempersoalkan eksistensi KPK dengan menghadapkan Pasal 2, Pasal 3, dan Pasal 20 Undang-Undang KPK dengan pasal 1 ayat (3) UUD 1945 tentang Indonesia adalah Negara hukum. Mereka berpendapat bahwa ketiga pasal Undang-undang KPK tersebut bertentangan dengan konsep negara di dalam UUD 1945 yang telah menetapkan delapan organ negara yang mempunyai kedudukan yang sama atau sederajat yang secara langsung mendapat fungsi konstitusional dari UUD 1945 yaitu MPR, Presiden, DPR, DPD, BPK, MA, MK dan KY.
Baca lebih lanjut

34 Baca lebih lajut

Implementasi Sistem Administrasi Negara Indonesia Dan Peranan Lembaga Negara Dalam Membangun NKRI.

Implementasi Sistem Administrasi Negara Indonesia Dan Peranan Lembaga Negara Dalam Membangun NKRI.

D a l a m " g o o d g o v e r n a n c e " , m i s a l n y a terkandung makna sharing/ partnership pengelolaan negara a n t a r s e k t o r p u b l i k , y a i t u N e g a r a / P e m e r i n t a h , swasta/dunia usaha dan masyarakat. Governance yang baik ditandai dengan hubungan yang sinergis dan konstruktif di antara ketiga pihak tersebut, yang oleh kalangan pakar disebut sebagai pilar-pilar good governance. Dengan demikian, dalam governance, terlibat segenap pelaku, yaitu keseluruhan pihak yang berkepentingan (stakeholders), yang pada dasarnya terdiri atas Negara/Pemerintah, swasta/dunia usaha dan masyarakat. Berdasarkan permasalahan dan tingkat pemerintahannya, stakeholders masyarakat meliputi kalangan yang sangat luas dan beraneka ragam, seperti organisasi politik, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), koperasi, individu dan b a h k a n l e m b a g a - l e m b a g a internasional.
Baca lebih lanjut

30 Baca lebih lajut

Bab 3 Kewenangan Lembaga lembaga Negara Menurut UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945

Bab 3 Kewenangan Lembaga lembaga Negara Menurut UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945

Dengan demikian, sistem politik yang berjalan tidak akan terlepas dari keseluruhan unsur-unsur suprastruktur dari suatu negara. Dalam menjalankan sistem politik dalam suatu negara diperlukan struktur lembaga negara yang dapat menunjang jalannya pemerintahan. Struktur politik merupakan cara untuk melembagakan hubungan antara komponen- komponen yang membentuk bangunan politik suatu negara supaya terjadi hubungan yang fungsional. Struktur politik suatu negara terdiri atas kekuatan suprastruktur dan infrastruktur. Struktur politik negara Indonesia pun terdiri dari dua kekuatan tersebut.
Baca lebih lanjut

24 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTAR LEMBAGA NEGARA BERDASARKAN UUD 1945

HUBUNGAN ANTAR LEMBAGA NEGARA BERDASARKAN UUD 1945

yang bersifat nasional, tetap, dan mandiri. Nama "Komisi Pemilihan Umum" bukanlah nama yang ditentukan oleh UUD 1945, melainkan oleh Undang-Undang;24) Bank sentral yang disebut eksplisit oleh Pasal 230, yaitu "Negara memiliki suatu bank sentral yang susunan, kedudukan, kewenangan, tanggungjawab, dan independensinya diatur dengan undang-undang". Seperti halnya dengan Komisi Pemilihan Umum, UUD 1945 belum menentukan nama bank sentral yang dimaksud. Memang benar, nama bank sentral sekarang adalah Bank Indonesia. Tetapi, nama Bank Indonesia bukan nama yang ditentukan oleh UUD 1945, melainkan oleh undang-undang berdasarkan kenyataan yang diwarisi dari sejarah di masa lalu.25) Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang diatur tersendiri dalam Bab VIIIA dengan judul "Badan Pemeriksa Keuangan", dan terdiri atas 3 pasal, yaitu Pasal 23E (3 ayat), Pasal 23F (2 ayat), dan Pasal 23G (2 ayat);26) Mahkamah Agung (MA) yang keberadaannya diatur dalam Bab IX, Pasal 24 dan Pasal 24A UUD 1945;27) Mahkamah Konstitusi (MK) yang juga diatur keberadaannya dalam Bab IX, Pasal 24 dan Pasal 24C UUD 1945;28) Komisi Yudisial yang juga diatur dalam Bab IX, Pasal 24B UUD 1945 sebagai auxiliary organ terhadap Mahkamah Agung yang diatur dalam Pasal 24 dan Pasal 24A UUD 1945;29) Tentara Nasional Indonesia (TNI) diatur tersendiri dalam UUD 1945, yaitu dalam Bab XII tentang Pertahanan dan Keamanan Negara, pada Pasal 30 UUD 1945;30) Angkatan Darat (TNI AD) diatur dalam Pasal 10 UUD 1945;31) Angkatan Laut (TNI AL) diatur dalam Pasal 10 UUD 1945;32) Angkatan Udara (TNI AU) diatur dalam Pasal 10 UUD 1945;33) Kepolisian Negara Republik Indonesia (POLRI) yang juga diatur dalam Bab XII Pasal 30 UUD 1945;34) Badan-badan lain yang fungsinya terkait dengan kehakiman seperti kejaksaan diatur dalam undang-undang sebagaimana dimaksud oleh Pasal 24 ayat (3) UUD 1945 yang berbunyi, "Badan-badan lain yang fungsinya berkaitan dengan kekuasaan kehakiman
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

FUNGSI KEKUASAAN LEMBAGA NEGARA LEGISLAT

FUNGSI KEKUASAAN LEMBAGA NEGARA LEGISLAT

Namun pada bulan Mei tahun 1998 terjadilah reformasi yang telah membawa berbagai perubahan mendasar dalam kehidupan bangsa Indonesia.Majelis kekuasaan rakyat di bagi secara vertikal dari lembaga tinggi negara ke lembaga yang berada di bawahnya. Keadaan seperti ini disebut dengan prinsip pembagian kekuasaan ( distribution of power ). Setelah itu di lakukan perubahan terhadap wewenang MPR . MPR tidak lagi menetapkan garis – garis besar dari haluan negara maupun peraturan perundang – undangan dan memilih presiden dan wakil presiden. Dengan perubahan yang sangat mendasar ini maka terbentuklah prinsip horizontal dengan saling mengimbangi dan saling mengawasi antar lembaga ( checks and balances ).
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

BAB II KONSEP LEMBAGA NEGARA DI INDONESIA, TRIAS POLITICA DAN LEMBAGA NEGARA, PERKEMBANGAN LEMBAGA NEGARA, LEMBAGA

BAB II KONSEP LEMBAGA NEGARA DI INDONESIA, TRIAS POLITICA DAN LEMBAGA NEGARA, PERKEMBANGAN LEMBAGA NEGARA, LEMBAGA

Jimly Ashiddiqie menjelaskan bahwa lembaga apa saja yang dibentuk bukan sebagai lembaga masyarakat dapat disebut sebagai lembaga Negara. Lembaga Negara dapat beradudikatifa dalam ranah legislative, eksekutif maupun yudikatif, ataupun yang bersifat campuran. Lebih lanjut, menurut jimlly, baik pada tingkat pusat maupun daerah, bentuk organisasi Negara dan pemerintahan dalam perkembangan dewasa ini berkembang sangat pesat. Karena itu doktrin trias politica yang biasadinisbatkan dengan tokoh Montesqieu yang mengendalikan bahwa tiga fungsi kekuasaan Negara selalu harus tercermin di dalam tiga jenis organ Negara, seiring terlihat tidak relevan lagi utnuk dijadikan acuan Negara. 12
Baca lebih lanjut

36 Baca lebih lajut

Pergeseran Kekuasaan Lembaga Negara Pasca Amandemen UUD 1945

Pergeseran Kekuasaan Lembaga Negara Pasca Amandemen UUD 1945

masing lembaga negara. DPR memegang kekuasaan membentuk undang-undang (Pasal 20 ayat 1), kemudian ditegaskan lagi dalam Pasal 20A yang tidak hanya mempunyai fungsi legislasi, tetapi juga fungsi anggaran dan fungsi pengawasan. Presiden memegang kekuasaan pemerintahan (Pasal 4) dan MA dan MK menjalankan kekuasaan kehakiman (Pasal 24). Sementara lembaga negara lainnya juga d i t e t a p k a n k e w e n a n g a n n y a , b a i k kewenangannya berkaitan dengan eksekutif, legislatif dan yudikatif (pengawasan penggunaan keuanganan negara oleh BPK, sebagaimana diatur dalam Pasal 23E), maupun salah satu diantaranya (misalnya KY yang berhubungan dengan MA dalam pengisian hakim agung sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 24B). Ketiga, diaturnya hubungan antara lembaga-lembaga negara, sehingga kerjasama antara lembaga negara dalam menjalankan amanat rakyat dapat dilakukan dengan baik dan mencegah terjadinya penyalahgunaan kekuasaan oleh lembaga negara yang bersangkutan. Dalam UUD 1945 amandemen cukup banyak diatur hubungan ini, yaitu: (i) dalam bidang legislasi Presiden berhak mengajukan RUU kepada DPR (Pasal 5 ayat 1), dan setiap RUU dibahas oleh DPR dan Presiden untuk mendapatkan persetujuan bersama (Pasal 20 ayat 2); (ii) hubungan DPR, MK dan MPR dalam proses C. Simpulan.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Lembaga lembaga Negara Alat Negara State

Lembaga lembaga Negara Alat Negara State

ƒ Presiden mengangkat dan memberhentikan Panglima TNI dengan persetujuan DPR (Pasal 17 ayat (1) UU No. 3 Tahun 2002 jo. Pasal 13 ayat (2) UU No. 34 Tahun 2004). Ini merupakan reduksi kekuasaan presiden sebagai kepala negara yang dilakukan melalui UU. Di satu sisi ada pembenaran terhadap ketentuan semacam ini. Pembenarannya adalah adanya supremasi sipil terhadap militer dan presiden setuju untuk direduksi kekuasaannya karena UU merupakan produk hukum yang dihasilkan melalui persetujuan bersama antara DPR dan Presiden. Di sisi lain, ketentuan ini menyalahi ketentuan yang ditetapkan dalam UUD 1945. Suatu UU seharusnya tidak mempersempit ataupun memperluas ketentuan yang ditentukan dalam UUD karena UUD adalah bentuk perjanjian yang tertinggi yang disetujui bersama oleh Bangsa Indonesia.
Baca lebih lanjut

35 Baca lebih lajut

BAB I PENDAHULUAN. Negara Indonesia adalah negara hukum, 1 tidak berdasarkan kekuasaan

BAB I PENDAHULUAN. Negara Indonesia adalah negara hukum, 1 tidak berdasarkan kekuasaan

merupakan salah satu syarat dalam rangka pembangunan hukum nasional yang hanya dapat terwujud apabila didukung oleh cara dan metode yang pasti, baku, dan standar yang mengikat semua lembaga yang berwenang membuat peraturan perundang-undangan. Sebagai negara yang mendasarkan pada Pancasila dan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945, segala aspek kehidupan dalam bidang kemasyarakatan, kebangsaan, dan kenegaraan termasuk pemerintahan harus senantiasa berdasarkan atas hukum serta harus diperhatikan dengan sebaik-baiknya.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Pengawasan Kekuasaan Kehakiman dalam Negara Hukum Indonesia

Pengawasan Kekuasaan Kehakiman dalam Negara Hukum Indonesia

Per.Ma. No.1 tahun 1993 tentang Hak Uji Materiil, yang isinya gugatan terhadap tidak syahnya peraturan perundang-undangan di bawah Undang-Undang dapat langsung diajukan kepada MA atau kepada pengadilan tingkat pertama tanpa menunggu pemeriksaan tingkat kasasi seperti disyaratkan oleh Pasal 26 (2) UU No. 14 tahun 1970 (pada masa itu) yang dengan demikian MA lebih jauh berarti telah secara sengaja mengambil alih fungsi legislatif karena sebuah UU hanya bisa dirubah oleh UU juga. Meski dari segi tujuan (doelmatigheid) Per.Ma. itu bernilai positif tetapi dari segi kepastian hukum (rechtzekerheid) pengeluaran Per.Ma. semacam itu tidak dapat dibenarkan karena mengandung implikasi penyerobotan wewenang yang menjadi titik kelemahan dari pengawasan yang harusnya dilakukan terhadap lembaga tersebut.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

Kekuasaan DPR dalam Pengisian Pejabat Negara dalam Sistem Ketatanegaraan Indonesia

Kekuasaan DPR dalam Pengisian Pejabat Negara dalam Sistem Ketatanegaraan Indonesia

Indrayana menyebutkan desain yang ada dalam UUD NRI Tahun 1945 sebelum perubahan menempatkan posisi eksekutif (Presiden), pada posisi yang sangat kuat (executive heavy), tanpa menyertakan kontrol konstitusional yang memadai (Indrayana, 2007: 152). Presiden ditempatkan selaku kepala negara sekaligus kepala pemerintahan. Sebagai kepala pemerintahan atau kepala eksekutif, Presiden memiliki kewenangan eksklusif atas menteri-menteri dan pembentukan kabinet (Pasal 17aAyat (1) dan (2)). Sebagai kepala negara, Presiden memegang kekuasaan untuk: (i) menjadi Panglima Tertinggi Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara; (ii) menyatakan perang, membuat perdamaian, dan menandatangani perjanjian dengan negara lain (Pasal 11); (iii) menyatakan keadaan darurat (Pasal 12); (iv) mengangkat duta besar dan konsul, dan menerima surat-surat kepercayaan duta besar sahabat (Pasal 13); dan (v) memberi gelar, tanda jasa, dan tanda-tanda kehormatan lainnya (Pasal 15). Kecuali untuk kekuasaan menyatakan perang, membuat perdamaian dan menandatangani perjanjian internasional - yang kesemuanya dengan persetujuan DPR (Pasal 11)- tak satu pun diantara kekuasaan Presiden tersebut harus mendapat persetujuan atau konfirmasi dari lembaga-lembaga negara lainnya. Bahkan Batang Tubuh UUD NRI Tahun 1945 sebelum perubahan tidak memberi kewenangan kepada DPR untuk melakukan pengawasan, sekalipun menurut Penjelasan UUD NRI Tahun 1945 Sebelum
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

Indonesia negara hukum demokratis bukan negara kekuasaan otoriter

Indonesia negara hukum demokratis bukan negara kekuasaan otoriter

Selain itu, dalam amandemen ketiga tahun 2001 lahir pula sebuah lembaga negara baru dibidang kekuasaan kehakiman, yaitu Mahkamah Konstitusi. Hal ini juga pertanda sebuah penegasan dianutnya paham negara hukum dan konstitusionalisme. Dalam konteks ini, maka dapat dipahami bahwa tidak hanya warga negara yang terlibat dalam persoalan hukum dapat diadili sesuai hukum yang berlaku, akan tetapi juga terhadap pemerintah, dan atau peraturan perundang-undangan yang dinilai saling bertentangan. Artinya, tugas utama MK adalah menjaga agar tidak ada undang-undang yang bertentangan dengan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Jadi setiap peraturan perundang-undangan yang dibuat oleh pihak yang berwenang untuk memberikan pengaturan hukum bagi masyarakat tidak boleh bertentangan dengan konstitusi sebagai norma hukum tertinggi. 26 Dari sinipulalah sehingga Mahkamah
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Hubungan Hukum Dengan Bangsa, Negara, Dan Kekuasaan.

Hubungan Hukum Dengan Bangsa, Negara, Dan Kekuasaan.

Menurut Prof. Sanusi, persamaan mengenai isi hukum itu oleh karena di dunia ini ada bangsa-bangsa yang “dominerend” terhadap bangsa-bangsa lain didalam pergaulan internasional. Menurut beliau, hamper telah menjadi tradisi universitas, juga di Indonesia, bahwa perkuliahan ilmu hukum itu dimulai dengan peninjauan tentang lembaga-lembaga hukum dari Romawi untuk hukum perdata dan dari Yunani untuk hukum Negara, oleh karena hmpir diseluruh dunia ini pernah terjumpai unsure- unsur Romawi dan yunani, yang sebenarnya bukan saja mempengaruhi segi-segi hukum, tetapi juga segi-segi kebudayaan lainnya. Walaupun hendaknya dicatat bahwa dalam kelangsungan pengaruh itu tidaklah hukum Romawai dan Yunani tadi mengambil alih tempat kedudukan dan hukum bangsa-bangsa lainnya. Sebab dalam proses tadi selalu ada percam[pran pandangan-pandangan hukum yang datang dengan pandangan-pandangan yang menerimnya. Ini berlaku sekalipun tak jelas nampaknya, karena bangsa ini kemudian telah mengkodifikasikan peraturan-peraturan hukum didalam kitab undang-undang nasionalnya.
Baca lebih lanjut

32 Baca lebih lajut

Agama Dan Kekuasaan Politik Negara

Agama Dan Kekuasaan Politik Negara

Fenomena tersebut, memunculkan reaksi beragam, yakni reaksi pro dan kontra. Faksi yang pro beranggapan bahwa sudah waktunya untuk dipikirkan kembali bentuk sintesis relasi agama dan negara yang selama ini hanya terrepresentasikan dalam konsep khilafah, dimana institusi ini –dalam pandangan mereka–dirasa sudah tidak mampu lagi beradaptasi dan berinteraksi dengan aspirasi politik modern –yang sudah terpengaruhi konsep politik modern Barat—yakni ide nation state. Konsep ini (nation state) dalam Islam awalnya tidak dikenal. Islam hanya mengenal konsep Ummah yang melahirkan orde masyarakat yang hanya diikat oleh kesamaan agama.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA REPUBLIK INDONESIA

a. Kompetensi Dasar : Setelah mengikuti pembelajaran ini para peserta diharapkan akan dapat memahami tentang prinsip-prinsip, teori, jenis-jenis dan bentuk-bentuk inovasi, makna dan tujuan inovasi, model- model inovasi yang dikembangkan di berbagai negara dan institusi (pemerintahan, dunia usaha, dan masyarakat), pentingnya inovasi dikembangkan sebagai sebuah gerakan (tidak hanya sebagai program pemerintah dan tergantung dari dana pemerintah), mengapa kita harus inovatif, bagaimana merancang dan melakukan inovasi untuk menentukan strategi kebijakan organisasi, dan sikap mental pemimpin seperti apa yang dibutuhkan untuk mampu menginovasi arah kebijakan organisasi di sektor public.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Bab 3 Perkembangan Pengelolaan Kekuasaan Negara di Pusat danDaerah dalam Mewujudkan Tujuan Negara Indonesia

Bab 3 Perkembangan Pengelolaan Kekuasaan Negara di Pusat danDaerah dalam Mewujudkan Tujuan Negara Indonesia

Kekuasaan membentuk undang-undang disebut juga kekuasaan legislatif. Kekuasaan tersebut secara teoretis dipegang oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Akan tetapi, sebelum perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 kekuasaan tersebut dipegang oleh Presiden, DPR hanya memberikan persetujuan saja. Hal tersebut ditegaskan oleh ketentuan Pasal 5 Ayat (1) yang menyatakan Presiden memegang kekuasaan membentuk undang-undang dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat. Kemudian dalam Pasal 20 Ayat (1) ditegaskan bahwa Tiap-tiap undang-undang menghendaki persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat. Berdasarkan ketentuan tersebut, DPR mempunyai kekuasaan yang kecil dalam proses pembentukan undang-undang.
Baca lebih lanjut

42 Baca lebih lajut

Kekuasaan Pengelolaan Keuangan Negara

Kekuasaan Pengelolaan Keuangan Negara

PEMERINTAH DALAM KEPEMILIKAN KEKAYAAN NEGARA YANG DIPISAHKAN SELAKU PENGGUNA ANGGARAN/ PENGGUNA BARANG KEMENTRIAN NEGARA/ LEMBAGA YANG DIPIMPINNYA.. SELAKU KEPALA PEMDA UNTUK MENG[r]

38 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...