Top PDF Rehabilitasi Hutan dan Lahan dalam Era Otonomi Daerah

Rehabilitasi Hutan dan Lahan dalam Era Otonomi Daerah

Rehabilitasi Hutan dan Lahan dalam Era Otonomi Daerah

dengan pendekatan yang rehabilitasi harus meraih sasaran yaitu kemakmuran kelompok masyarakat yang bersangkutan dan Karena itu kelompok masyarakat yang berhasil sesuai standar dengan ijin pengelolaan, agar dan diperhatikan masyarakat sendiri. pula

23 Baca lebih lajut

5343 KST Teknik Rehabilitasi dan Reksi Hutan

5343 KST Teknik Rehabilitasi dan Reksi Hutan

Kompetensi Kemampuan yang Diuji 14 Menentukan teknik penataan lahan Rehabilitasi Menentukan tahapan penataan lahan Rehabilitasi Hutan dan Lahan berdasarkan pelaturan yang berlaku Mene[r]

3 Baca lebih lajut

Penataan Ruang Perdesaan Dalam Era Otonomi Daerah

Penataan Ruang Perdesaan Dalam Era Otonomi Daerah

Wilayah perdesaan sebagian besar tempat tinggal penduduk miskin. Menurut hasil penelitian, International Fund for Agricultural Development (2001) melaporkan karakteristik penduduk miskin di pedesaan antara lain: buruh tani, tidak memiliki lahan/faktor produksi, petani gurem, petani tadah hujan, nelayan, peternak penggembala, masyarakat disekitar hutan dan lahan kritis, masyarakat di daerah terpencil, masyarakat yang direlokasikan karena suatu keadaan bencana alam,dan sebagainya. Sedangkan penduduk miskin di perkotaan, menurut Supriatna (2000) yaitu pedagang kecil, pedagang kaki lima, pedagang asongan, pemulung, gelandangan, pengemis, pengangguran, dan buruh angkutan.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Index of /ProdukHukum/kehutanan

Index of /ProdukHukum/kehutanan

1. DAK Bidang Kehutanan digunakan untuk kegiatan-kegiatan di Bidang Kehutanan yang telah menjadi urusan/ kewenangan pemerintah kabupaten/ kota dan Provinsi khususnya dalam rangka Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) dan Konservasi Tanah dan Air (KTA) serta pengelolaan TAHURA, dimana dalam pelaksanaan kegiatan-kegiatan tersebut tidak/ belum mendapat pembiayaan dari dana APBN lainnya (dana tugas pembantuan, block grant, dll).

17 Baca lebih lajut

Penguatan Partisipasi Perempuan Dalam Rehabilitasi Lahan di Daerah Lereng Gunung Lawu Untuk Mendukung Revitalisasi Daerah Aliran Sungai Bengawan Solo.

Penguatan Partisipasi Perempuan Dalam Rehabilitasi Lahan di Daerah Lereng Gunung Lawu Untuk Mendukung Revitalisasi Daerah Aliran Sungai Bengawan Solo.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) terdapat tiga pola rehabilitasi lahan yakni: (a) pola rehabilitasi lahan hutan lindung, (b) pola rehabilitasi lahan hutan produksi, dan (c) pola rehabilitasi lahan hutan rakyat di luar kawasan; (2) Partisipasi perempuan dalam rehabilitasi lahan masih relatif terbatas sehingga perlu ditingkatkan; (3) Faktor yang mendukung peran masyarakat dalam rehabilitasi lahan berupa karakter ramah lingkungan yang berupa upaya memelihara dan memperbaiki. Di lain pihak terdapat faktor yang menghambat berupa karakter merusak dan mengabaikan.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

ANALISIS BELANJA DAERAH KABUPATEN NGAWI DI ERA OTONOMI DAERAH

ANALISIS BELANJA DAERAH KABUPATEN NGAWI DI ERA OTONOMI DAERAH

Sesuai dengan ketetapan Peraturan Pemerintah No 6 Tahun 1974 maka azas penganggaran yang dianut adalah anggaran berimbang dan dinamis dimana harus ada perimbangan antara pendapatan dan belanja serta tidak dimungkinkan adanya hutang dan pembiayaan yang mungkin dapat menjadi penyeimbang surplus atau defisit anggaran. Dengan demikian, struktur APBD pada masa itu hanya terdiri dari Pendapatan dan Belanja. Pendapatan terdiri dari Sisa lebih tahun lalu, Pendapatan Asli Daerah, Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak, Sumbangan dan Bantuan serta Penerimaan Pembangunan. Belanja terdiri dari belanja rutin dan belanja pembangunan.
Baca lebih lanjut

116 Baca lebih lajut

MENYOAL PENGELOLAAN HUTAN RAKYAT POTENSI DI ERA OTONOMI

MENYOAL PENGELOLAAN HUTAN RAKYAT POTENSI DI ERA OTONOMI

Maraknya bencana alam berupa banjir dan tanah longsor di beberapa daerah di Indonesia akhir-akhir ini sedikit banyak menyadarkan bahwa telah terjadi kerusakan sumber daya alam di daerah-daerah tertentu yang pada akhirnya menimbulkan ketidakseimbangan ekosistem lingkungan, banjir dan tanah longsor di daerah lain. Eksploritasi sumber daya alam yang berlebihan dapat membawa bencana bagi kehidupan manusia. Barangkali tak terpikirkan bahwa perusakan hutan akan mendatangkan bencana. Baru setelah datang bencana alam, kesadaran masyarakat akan pentinganya pemeliharaan hutan muncul.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

REFORMASI BIROKRASI PELAYANAN PUBLIK DI ERA OTONOMI DAERAH.

REFORMASI BIROKRASI PELAYANAN PUBLIK DI ERA OTONOMI DAERAH.

Desentralisasi melalui otonomi daerah merupakan suatu kewenangan dari pemerintah agar keberadaaan pemerintah di daerah dapat secara langsung memberikan pelayanan kepada masyarakat. Pemerintah daerah dalam hal ini diharapkan dapat mampu menterjemahkan keinginan masyarakat secara lebih tepat bila dibandingkan pemerintah pusat. Oleh karena itu, pemerintah daerah diharapkan harus mampu melaksanakan good governance dalam semua aspek kepemerintahan, terutama dalam rangka memenuhi pelayanan publik di daerah. Namun kenyataannya, selama ini birokrasi administrasi di pemerintahan daerah belum sesuai dengan harapan publik. Birokrasi di pemerintah daerah sangat kental dipengaruhi oleh politik. Sehingga menimbulkan birokrasi pelayanan publik terorientasi dan terfokus kepada yang memiliki otoritas, kepada pimpinan, bahkan sering kepada golongan atau kelompok tertentu. Fasilitas, keuntungan dan kepentingan tidak sampai kepada rakyat, bahkan sering terakumulasi hanya pada tingkat-tingkat atau golongan/kelompok tertentu saja. Sehingga kepentingan dan kebutuhan masyarakat menjadi terabaikan. Hal ini dapat dilihat dari masih tingginya indeks korupsi di daerah serta rendahnya kepuasan masyarakat terhadap pelayanan publik di daerah. Untuk memperbaiki keadaan tersebut diperlukan pembaharuan-pembaharuan diantaranya: pengembangan budaya pelayanan dimana dapat mengenalkan nilai, simbol, dan perilaku yang menggambarkan pentingnya kedudukan warga dalam birokrasi pemerintahan daerah, serta dapat menjadikan indeks kepuasan warga pengguna sebagai ukuran kinerja yang penting melalui mekanisme survei pengguna (pengaduan, keluhan) secara periodik.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Abstrak : Pada era otonomi daerah bagi pemerintahan daerah untuk membangun

Abstrak : Pada era otonomi daerah bagi pemerintahan daerah untuk membangun

Abstract : In the era of regional autonomy for regional governments to build the island province region based on: (a) There are as many as 60% of the population or as many as 140 million Indonesians live in coastal areas. Where 22% of them live in coastal and remote islands that have been less touched by development, (b), the development policy approach in Indonesia has been carried out with a land-oriented regional development approach whereas Indonesia is an archipelago therefore a different approach is needed for development in the island province, (c), Difficulties in Regional Control Patterns. In the Province, land-based communication is much easier to do, while communication is far more difficult to do in the island province, (d), the difficulty of the local government in empowering small islands in the island province especially those in the border region, (e), still Isolation of the archipelago community that has not been touched by development. In this paper the author uses a normative juridical approach with legal issues in this paper is the formation of law and special treatment of the island province in the system of regional government. Special arrangements and treatment of the Islands Province, because in Law No. 23 of 2014 concerning Regional Governments has not specifically regulated the island Province.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

INOVASI TERINTEGRASI DALAM PELAYANAN PUBLIK DI ERA OTONOMI DAERAH

INOVASI TERINTEGRASI DALAM PELAYANAN PUBLIK DI ERA OTONOMI DAERAH

Tulisan ini menganalisis terhadap problematika dalam pelayanan public dalam kerangka otonomi daerah. Sebagaimana kita ketahui bahwa otonomi daerah memiliki disain yang berbeda- beda dalam dekade kepemimpinan pemerintahan, mulai dari orde lama, orde baru dan reformasi. Perbedaan paradigma dan pemahaman terhadap model implementasi otonomi daerah, maka tidak terlepas dari berbedanya system pelayanan public yang terjadi. Tulisan ini lebih memfokuskan perkembangan otonomi daerah dan oreantasinya pelayanan public pada masuknya masa reformasi, dimana banyak berubahnya perangkat hukum tentang penyelenngaraan pemerintahan daerah, terutama berkaitan dengan peraturan perundang-undangan berkaitan dengan pemerintahan daerah. Perkembangan pola otonomi daerah yang mendasarkan kepada model pelayanan publik di daerah dan pengembangannya melalui one get service, sebagai dorongan untuk menciptakan standar pelayanan publik. Kajian ini bertujuan untuk memetakan model pelayanan publik oleh pemerintah daerah dan dengan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kepustakaan (liberary reaserch).
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Kemandirian Pengelolaan Mutasi Pns Antar Daerah Dalam Era Otonomi Daerah

Kemandirian Pengelolaan Mutasi Pns Antar Daerah Dalam Era Otonomi Daerah

Berjalannya otonomi daerah di Indonesia pada beberapa tahun terakhir telah membawa perubahan yang signifikan terhadap penyelenggaraan pemerintahan di Indonesia. Nuansa ini tidak saja dirasakan oleh pemerintah pusat, namun juga pada level pemerintah daerah baik propinsi maupun kabupaten/kota. Beralihnya sistem sentralisasi menjadi sistem desentralisasi dan otonomi daerah yang ditandai dengan perubahan UU Nomor 5 tahun 1974 ke UU Nomor 22 tahun 1999 dan UU Nomor 32 tahun 2004 mengubah sistem pemerintahan dari monolitik sentalistik di pemerintah pusat menjadi lokal demokrasi di pemerintah daerah (Utomo, 2001: 5). Bertambahnya wewenang pemerintahan yang diterima pemerintah daerah pada satu sisi merupakan suatu bentuk pemberdayaan pemerintah daerah, disisi lain juga menuntut kesiapan dari pemerintah daerah dalam menerima wewenang tersebut. Konsekuensi inipun harus diterima secara bersama-sama sebagai bentuk kemandirian daerah, bukan saja kewenangan tapi juga tanggung jawab pengelolaannya.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

28. Model Birokrasi Pemerintah Era Otonomi Daerah

28. Model Birokrasi Pemerintah Era Otonomi Daerah

Visi Kabupaten Badung adalah ”Melangkah bersama membangun Badung berdasarkan "Trihita Karana" menuju masyarakat adil sejahtera dan ajeg.” Adapun misi Kabupaten Badung adalah dijabarkan dalam tiga bidang. Pertama, bidang Parahyangan, yaitu peningkatan srada dan bhakti masyarakat terhadap ajaran agama, serta peningkatan eksistensi adat budaya dalam rangka mengajegkan Bali di era kekinian. Kedua, bidang Pawongan, yaitu: 1) Meningkatkan kualitas dan daya saing sumber daya manusia di Badung; 2) Menata sistem kependudukan dan meningkatkan kesejahteraan sosial masyarakat; 3) Meningkatkan perekonomian yang berbasis kerakyatan dan ditunjang oleh iklim kemitraan; 4) Mewujudkan kepastian hukum serta menciptakan ketentraman & ketertiban masyarakat; dan 5) Mewujudkan pemerintahan yang baik, bersih dan berwibawa (Good Governance & Clean Government). Ketiga, bidang Pelemahan, yaitu 1) Memantapkan pelaksanaan Otonomi Daerah; 2) Mewujudkan pembangunan yang selaras dan seimbang sesuai fungsi wilayahnya; dan 3) Melestarikan sumber daya alam dan lingkungan hidup.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Tantangan internal maupun eksternal dalam pembangunan daerah di era otonomi

Tantangan internal maupun eksternal dalam pembangunan daerah di era otonomi

Tantangan internal maupun eksternal dalam pembangunan ekonomi daerah di era otonomi menuntut tiap daerah untuk mampu bersaing di dalam dan luar negeri. Kondisi tersebut mengharuskan Pemerintah Daerah Kabupaten Lampung Tengah untuk melaksanakan percepatan pembangunan ekonomi daerah secara terfokus melalui pengembangan kawasan dan produk andalannya agar tidak tertinggal dalam persaingan pasar bebas, minimal di wilayah sendiri. Implikasi dari konsep Strategic Development Regions yang merupakan salah satu konsep dari Bappenas, yaitu Direktorat Pengembangan Wilayah dan Transmigrasi Deputi Bidang
Baca lebih lanjut

3 Baca lebih lajut

2.PARADIGMA PERENCANAAN PEMBANGUNAN DI ERA OTONOMI DAERAH

2.PARADIGMA PERENCANAAN PEMBANGUNAN DI ERA OTONOMI DAERAH

Paradigma Pembangunan Manusia People Centered Development Paradigm • Ditandai dengan pelaksanaan pembangunan yang berorientasi pada pelayanan sosial • Diarahkan pada upaya mewuj[r]

10 Baca lebih lajut

PENTINGNYA PENULISAN SEJARAH LOKAL DI PACITAN TAHUN 1999-2014

PENTINGNYA PENULISAN SEJARAH LOKAL DI PACITAN TAHUN 1999-2014

Secara ideal, pemberian otonomi yang luas harus dilaksanakan dengan menerapkan prinsip-prinsip demokrasi, melibatkan partisipasi masyarakat, pemerataan, berkeadilan, memperhatikan potensi lokal dengan titik sentral ekonomi pada tingkat wilayah yang paling dekat dengan rakyat yaitu tingkat kabupaten dan kotamadia. Apa yang sangat esensial dalam pelaksanaan otonomi daerah ini adalah pemberian wewenang (authority) yang sangat besar kepada daerah untuk mengelola pengembangan potensi daerahnya sendiri. Potensi daerah Kabupaten Pacitan yang bisa dikembangkan untuk kesejahteraan bersama antara lain mencakup potensi-potensi ekonomi, sosial, politik, dan keamanan, serta potensi sejarah dan peninggalan budaya. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: apa perlunya penulisan sejarah daerah Pacitan dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah? Setidaknya ada dua manfaat sejarah daerah dalam rangka pembangunan di era otonomi daerah khususnya di wilayah Pacitan yaitu: 1) sejarah daerah sebagai sarana untuk menggali dan menemukan serta membangun jati diri dan kepribadian daerah Pacitan, 2) sejarah daerah sebagai sarana untuk membangun solidaritas sosial yang sangat diperlukan dalam pembagunan wilayah Kabupaten Pacitan. Seperti diketahui bahwa di era Otonomi Daerah semua wewenang dan tanggung jawab pembangunan daerah dilimpahkan kepada segenap unsur masyarakat di daerah baik pemerintah daerah (Bupati/ walikota dan segenap birokrasi di bawahnya, DPRD dengan segala perangkatnya, dan unsur-unsur pimpinan lain di daerah.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

ANALISIS KEUANGAN DAERAH PADA ERA OTONOMI DAERAH DI KABUPATEN JEMBER

ANALISIS KEUANGAN DAERAH PADA ERA OTONOMI DAERAH DI KABUPATEN JEMBER

Indeks Kemampuan Rutin Kabupaten Jember relatif rendah. Sejak tahun 2001 hingga tahun 2009 Kabupaten Jember rata-rata hanya mampu membiayai 12,46 persen dari pengeluaran rutin daerahnya tiap tahun. Rasio Ketergantungan Kabupaten Jember juga relatif tinggi yaitu rata-rata dari tahun 2001-2009 sebesar 80,78 persen. Ini dikarenakan pendapatan Asli Daerah Kabupaten Jember sangat rendah sehingga tingkat ketergantungan kabupaten jember sangat tinggi.

17 Baca lebih lajut

The Influence Of The Internal And External Factors Of The Agricultural Extension Agents To Their Competencies In East Nusa Tenggara Province

The Influence Of The Internal And External Factors Of The Agricultural Extension Agents To Their Competencies In East Nusa Tenggara Province

Di era tonomi daerah struktur organisasi penyuluhan menjadi semakin tidak teratur penataannya. Pada era sekarang seperti yang dikatakan oleh Slamet (2003), kelembagaan penyuluhan menjadi tidak jelas dan hal ini terbukti di lapangan penelitian. Di tingkat provinsi Nusa Tenggara Timur kelembagaan penyuluhan hanya berbentuk salah satu Sub Dinas dari Badan Ketahanan Pangan. Di Kabupaten Kupang dan Timor Tengah Selatan kelembagaan penyuluhan hanyalah salah satu Sub Dinas dari Dinas Pertanian. Di Kabupaten Manggarai berbentuk Kantor dengan nama Kantor Informasi Penyuluhan Pertanian (KIPP). Di tingkat kecamatan hampir semua Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) tidak berfungsi.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

DINAMIKA POLITIK PILKADES DI ERA OTONOMI DAERAH

DINAMIKA POLITIK PILKADES DI ERA OTONOMI DAERAH

Dalam hal sistem kepartaian, Indonesia menerapkan sistem multi-partai diiringi dengan pencabutan politik massa mengambang (floating mass). Konsekuensinya, penduduk desa bebas untuk menjadi pengurus, anggota, dan/atau simpatisan partai politik manapun. Terkait dengan sistem pemilihan umum, reformasi menghendaki para pejabat politik, terutama eksekutif pada level pemerintahan pusat dan daerah (provinsi dan kabupaten/kota) dipilih langsung oleh rakyat. Konsekuensinya, frekuensi penduduk desa mengikuti pemilihan umum semakin tinggi. Dalam kurun waktu lima tahun, paling tidak, mereka akan mengikuti empat pemilu yakni: pemilu presiden/wakil presiden, pemilu anggota DPR/DPD/DPRD, pemilu gubernur/wakil gubernur, pemilu bupati/wakil bupati dan/atau walikota/wakil walikota, serta pemilihan kepala desa (pilkades).
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...