Top PDF REMEDIASI MISKONSEPSI PESERTA DIDIK SMP MENGGUNAKAN LEAFLET PADA HUKUM ARCHIMEDES

REMEDIASI MISKONSEPSI PESERTA DIDIK SMP MENGGUNAKAN LEAFLET PADA HUKUM ARCHIMEDES

REMEDIASI MISKONSEPSI PESERTA DIDIK SMP MENGGUNAKAN LEAFLET PADA HUKUM ARCHIMEDES

Berdasarkan hasil penelitian dan perhitungan, leaflet memiliki effect size sebesar 1,40 dan masuk ke kategori tinggi (Hattie, 2009). Tujuan menghitung effect size ini untuk menganalisis ukuran (efek) dari leaflet dalam meremediasi miskonsepsi peserta didik pada materi hukum Archimedes. Temuan ini menunjukkan bahwa penggunaan leaflet untuk meremediasi miskonsepsi peserta didik dapat menurunkan persentase jumlah peserta didik yang mengalami miskonsepsi. Temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan Razali (2017) menemukan bahwa efektivitas remediasi menggunakan feedback berbantuan leaflet dalam meremediasi miskonsepsi peserta didik SMP Negeri 23 Pontianak dengan efektivitas kegiatan remediasi tiap peserta didik sebesar 1,87 (tergolong tinggi). Selain itu penelitian Tigo (2017) juga menunjukkan bahwa penggunaan model picture & picture berbantuan leaflet untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik SMA Kristen Abdi Wacana Pontianak dengan hasil efektivitas leaflet sebesar 0,78 (tergolong sedang). Maka remediasi menggunakan leaflet efektif untuk memperbaiki miskonsepsi peserta didik pada materi hukum Archimedes kelas VIII SMP Negeri 1 Siantan.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

REMEDIASI MISKONSEPSI PESERTA DIDIK DENGAN FEEDBACK MENGGUNAKAN BROSUR PADA MATERI GERAK JATUH BEBAS DI SMA ARTIKEL PENELITIAN

REMEDIASI MISKONSEPSI PESERTA DIDIK DENGAN FEEDBACK MENGGUNAKAN BROSUR PADA MATERI GERAK JATUH BEBAS DI SMA ARTIKEL PENELITIAN

Berdasarkan panduan pengembangan bahan ajar depdiknas (2008), bahan ajar dapat dikelompokkan menjadi empat kategori, yaitu bahan cetak (printed) seperti handout, buku, modul, lembar kerja peserta didik, brosur, leaflet, wallchart, foto/gambar, model/maket. Bahan ajar dengar (audio) seperti kaset, radio, piringan hitam, dan compact disk audio. Bahan ajar pandang dengar (audio visual) seperti video compact disk, film dan bahan ajar multimedia interaktif (interactive teaching material) seperti CAI (Computer Assisted Instruction), compact disk (CD) multimedia pembelajarn interaktif, dan bahan ajar berbasis web (web based learning materials).
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

REMEDIASI MISKONSEPSI PESERTA DIDIK MATERI GAYA MENGGUNAKAN ASSURE BERBANTUAN SIMULASI PhET DI SMK

REMEDIASI MISKONSEPSI PESERTA DIDIK MATERI GAYA MENGGUNAKAN ASSURE BERBANTUAN SIMULASI PhET DI SMK

2 tidaklah mengherankan kalau nilai rata-rata bidang studi fisika selalu lebih rendah daripada mata pelajaran lain. Faktor lain yang menggunakan model pemberlajaran dengan suatu pendekatan yang menjadikan semua peserta didik aktif dan ikut terlibat secara langsung dalam proses belajar-mengajar. Gaya adalah salah satu materi fisika yang dipelajari di Sekolah Menengah Pertama (SMP). Materi gaya sangat penting dipelajari karena berkaitan erat dengan kehidupan sehari-hari. Selain itu, materi ini akan dipelajari kembali di tingkat lanjut baik Sekolah Menengah Atas (SMA) maupun Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) ataupun tingkat Perguruan Tinggi (PT). Pada hasil wawancara dengan guru fisika SMK Negeri 2 Pontianak peserta didik banyak mengalami kesulitan memahami konsep dalam pembelajaran fisika terutama pada materi gaya. Jika materi ini tidak dipelajari dengan benar maka kemungkinan besar akan menimbulkan kesulitan ke jenjang yang lebih tinggi. Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu guru fisika SMK Negeri 2 Pontianak, diperoleh informasi bahwa peserta didik sering mengalami kesulitan dalam memvisualisasikan konsep fisika yang abstrak. Salah satunya adalah konsep gaya, dimana peserta didik mengalamai kesulitan dalam mendeskripsikan konsep gaya.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

REMEDIASI MISKONSEPSI MENGGUNAKAN MODEL TSTS BERBANTUAN ALAT PERAGA TENTANG TEKANAN DI SMP ISLAM BAWARI ARTIKEL PENELITIAN

REMEDIASI MISKONSEPSI MENGGUNAKAN MODEL TSTS BERBANTUAN ALAT PERAGA TENTANG TEKANAN DI SMP ISLAM BAWARI ARTIKEL PENELITIAN

miskonsepsi tentang tekanan yang dialami siswa antara lain: (1) siswa menganggap semakin besar permukaan bidang sentuh benda, maka tekanan yang diberikan juga semakin besar, (2) siswa menganggap semakin besar massa jenis zat cair maka tekanan yang diberikan akan semakin kecil, (3) siswa menganggap benda dengan massa yang sama akan berada pada posisi yang sama dalam zat cair (Listiana, 2014). Hasil penelitian Wulandari (2009) siswa yang mengalami miskonsepsi pada konsep tekanan antara lain: (1) tentang pengertian tekanan (25.64%), (2) sulit dalam menerapkan konsep tekanan (12.82%), (3) miskonsepsi pada Hukum Archimedes (56.41%), (4) mengalami kesulitan memahami konsep Archimedes dalam bentuk gambar (38.46%), (5) miskonsepsi dalam penerapan gaya apung di kehidupan sehari-hari (100%), (6) miskonsepsi tentang Hukum Pascal (30.77%). Data kesulitan dan konsepsi belajar siswa ini yang menyebabkan siswa mengalami miskonsepsi.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

PENERAPAN QUICK FEEDBACK DENGAN RAINBOW CARD UNTUK MEREMEDIASI MISKONSEPSI PESERTA DIDIK MTs MATERI HUKUM ARCHIMEDES

PENERAPAN QUICK FEEDBACK DENGAN RAINBOW CARD UNTUK MEREMEDIASI MISKONSEPSI PESERTA DIDIK MTs MATERI HUKUM ARCHIMEDES

jawaban baik dalam bentuk sketsa, gambar, grafik, atau isian singkat. Soal diberikan satu persatu kemudian guru berkeliling dalam kelas untuk melihat dan menanyai pekerjaan beberapa peserta didik. Metode quick feedback dianggap dapat memperbaiki miskonsepsi peserta didik karena peserta didik bisa mengetahui letak kesalahan atau kekeliruannya dalam memahami suatu konsep pada saat proses pembelajaran berlangsung. Sehingga guru bisa langsung memberikan umpan balik yang tepat untuk memperbaiki kesalahan atau kekeliruan peserta didik tersebut (Purnamasari, Sudjito, dan Sudarmi, 2015). Penerapan remediasi dengan metode quick feedback membutuhkan cara cepat untuk menghitung respon atau jawaban peserta didik setelah mengerjakan soal. Setelah respon atau jawaban peserta didik dihitung, kemudian guru memberikan umpan balik cepat (quick feedback) yang sesuai. Respon atau jawaban dapat dihitung dengan cepat melalui penggunaan kartu atau sistem tekan tombol (Berg, 2008). Dengan menggunakan rainbow card ini guru bisa langsung menghitung berapa banyak peserta didik yang menjawab salah atau benar (Purnamasari, Sudjito, dan Sudarmi, 2015).
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

PENGGUNAAN LKPD CONCEPT CARTOONS UNTUK MEREMEDIASI MISKONSEPSI PESERTA DIDIK SMP PADA MATERI HUKUM ARCIMEDES

PENGGUNAAN LKPD CONCEPT CARTOONS UNTUK MEREMEDIASI MISKONSEPSI PESERTA DIDIK SMP PADA MATERI HUKUM ARCIMEDES

Berdasarkan hasil penelitian dan perhitungan, remediasi menggunakan dengan LKPD concept cartoons dapat dikatakan efektif, besar tingkat efektivitas remediasi dengan LKPD concept cartoons dengan effect size sebessar 1,86 dimana nilai ini jauh di atas standar kategori tinggi bila diukur dengan barometer Hattie. Hal ini dapat terjadi karena tidak adanya standar yang dapat digunakan untuk menilai besar-kecilnya effect size ini. Namun demikian, acuan ini tidak dapat diunakan untuk segala situasi karena effect size dianggap besar di suatu bidang tapi dianggap kecil di bidang lain. Acuan paling tepat untuk menentukan besarโ€“kecilnya effect size ini adalah hasil penelitian-penelitian sebelumnya mengenai variabel yang sama. seperti penelitian Aditya (2016) menemukan bahwa model CLIS berbantuan LKS concept cartoons efektif untuk menurunkan miskonspsi peserta didik dengan harga efektifitas sebesar 1,63.Dengan demikian, dapat ditarik kesimpulan remediasi menggunakan LKPD concept cartoons efektif mengubah pemahaman konsep peserta didik pada materi hukum Archimedes yang telah ditetapkan oleh para ahli.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

1 REMEDIASI MISKONSEPSI MENGGUNAKAN LKPD BERBASIS CROSSWORD PUZZLE MATERI TEKANAN ZAT CAIR DI SMP

1 REMEDIASI MISKONSEPSI MENGGUNAKAN LKPD BERBASIS CROSSWORD PUZZLE MATERI TEKANAN ZAT CAIR DI SMP

Hasil perbincangan (20 Desember 2017) dengan guru IPA di SMP Negeri 6 Pontianak diperoleh data bahwa rata-rata peserta didik kelas VIII memperoleh nilai ulangan harian yang kurang memuaskan. Sebanyak 67,41% peserta didik pada tahun pelajaran 2016/2017 mendapatkan nilai di bawah Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) yaitu sebesar 75. Hal ini mengindikasikan bahwa peserta didik mengalami miskonsepsi pada konsep yang diajarkan (Dwidianti & Sahala, 2017: 3). Apabila dibiaran terus menerus, maka miskonsepsi akan menghalangi pembentukan konsepsi ilmiah pada peserta didik.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

REMEDIASI MISKONSEPSI PESERTA DIDIK SMP TENTANG CERMIN DATAR MENGGUNAKAN STRATEGI PREDICTION,OBSERVATION, AND EXPLANATION

REMEDIASI MISKONSEPSI PESERTA DIDIK SMP TENTANG CERMIN DATAR MENGGUNAKAN STRATEGI PREDICTION,OBSERVATION, AND EXPLANATION

Sedangkan miskonsepsi terendah pada saat post-test yaitu Peserta didik beranggapan bahwa semakin kecil sudut yang dibentuk antara dua buah cermin bayangan yang dihasilkan semakin sedikit (6,9%). Peserta didik menganggap semakin kecil sudut yang dibentuk oleh dua buah cermin datar maka bayangan yang dihasilkan semakin sedikit dan semakin besar sudut yang dibentuk oleh dua buah cermin datar maka bayangan yang dihasilkan semakin besar. Terdapat 93,1% peserta didik yang tidak miskonsepsi. Hal ini karena pada konsep menentukan banyaknya jumlah bayangan pada dua buah cermin datar yang membentuk sudut, percobaan mudah dilakukan dan pada saat tahap explanation peserta didik lebih yakin karena pembuktian ditunjukkan menggunakan angka. Sehingga peserta didik telah mengubah konsepsi awal yang mereka miliki dengan konsepsi baru yang mereka dapat dari hasil observasi yang mereka lakukan dalam Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) yang diberikan.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

REMEDIASI MISKONSEPSI SISWA MATERI TEKANAN MENGGUNAKAN STRATEGI QUANTUM TEACHING DI SMP NEGERI 20 PONTIANAK

REMEDIASI MISKONSEPSI SISWA MATERI TEKANAN MENGGUNAKAN STRATEGI QUANTUM TEACHING DI SMP NEGERI 20 PONTIANAK

Dari hasil analisis data terjadi penurunan jumlah siswa yang mengalami miskonsepsi untuk 4 indikator soal. Hal ini dapat terjadi karena untuk konsep tekanan pada zat padat dan Hukum Archimedes siswa melihat, merasakan, mempraktikan, dan mengalami secara langsung proses dalam remediasi ini. Sehingga kekeliruan yang diperoleh dari pengetahuan awal yang dimiliki siswa dikonstruksi sendiri berdasarkan pengalaman hidup mereka berubah menjadi konsep yang sesuai dengan konsepsi ilmuwan. Namun, terjadi kenaikan miskonsepsi siswa pada konsep tekanan hidrostatis pada indikator membandingkan tekanan yang paling besar pada wadah yang sama dan diisi dengan zat cair yang berbeda pada titik ukur yang sama. Hal ini diduga karena pada pelaksanaan tahapan alami kegiatan memberi pengalam langsung kepada siswa dilakukan dengan cara virtual yaitu melalui media pembelajaran PheT dan hanya beberapa siswa saja sebagai perwakilan kelompok yang maju ke depan untuk mencoba dan mengalami langsung bagaimana semakin besar massa jenis suatu zat cair maka semakin besar tekanan yang diperoleh. Dan untuk tahapan demonstrasikan pada indikator ini hanya siswa yang maju mengalami langsung yang bisa memahami dan menjelaskan kepada temannya.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN NOVICK UNTUK MEREMEDIASI MISKONSEPSI SISWA PADA HUKUM ARCHIMEDES DI SMP

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN NOVICK UNTUK MEREMEDIASI MISKONSEPSI SISWA PADA HUKUM ARCHIMEDES DI SMP

Berdasarkan hasil dan pembahasan serta kelemahan yang ada pada penelitian ini, peneliti memberikan beberapa saran sebagai berikut: 1) Penerapan model pembelajaran Novick dapat dijadikan alternatif untuk meremediasi miskonsepsi siswa pada materi Hukum Archimedes karena mampu menurunkan miskonsepsi dan mengubah konseptual secara signifikan 2) Sebaiknya guru menggunakan media visual seperti gambar, animasi, atau video agar siswa lebih tertarik mengikuti kegiatan remediasi dan lebih mudah membayangkan kejadian yang ditampilkan dalam mengungkap konsepsi awalnya; 3) Jika pada kegiatan eksperimen siswa malah bermain-main dengan alat dan bahan eksperimen, maka sebaiknya guru mendemonstrasikan eksperimen tersebut untuk memudahkan terjadinya konflik konseptual pada siswa; 4) Pembagian kelompok siswa sebaiknya dilakukan oleh guru dengan menganalisis terlebih dahulu kemampuan masing-masing siswa berdasarkan hasil belajar ataupun keaktifan; dan 5) Jika kegiatan remediasi menggunakan metode eksperimen, sebaiknya semua siswa memahami cara penggunaan alat eksperimen yang akan digunakan.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

REMEDIASI KESALAHAN PESERTA DIDIK MENYELESAIKAN SOAL HUKUM NEWTON MENGGUNAKAN MULTIREPRESENTASI DI SMA N 8 PONTIANAK ARTIKEL PENELITIAN

REMEDIASI KESALAHAN PESERTA DIDIK MENYELESAIKAN SOAL HUKUM NEWTON MENGGUNAKAN MULTIREPRESENTASI DI SMA N 8 PONTIANAK ARTIKEL PENELITIAN

Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Arifiyanti (2013) dan Astuti (2014). Penelitian Arifiyanti (2013) menggunakan model PBL dengan pendekatan multirepresentasi menemukan adanya terjadi penurunan rata-rata presentase kesulitan peserta didik sebesar 41,59% dengan harga effect size 2,18 yang tergolong tinggi. Demikian juga oleh Astuti (2014) menemukan adanya perubahan jumlah peserta didik yang tidak dapat menyelesaikan soal hukum Archimedes, dengan rata-rata penurunan jumlah peserta didik yang tidak dapat menyelesaikan soal sebesar 34,025%. Selain itu, penelitiannya menunjukkan bahwa terdapat perubahan kemampuan peserta didik yang signifikan dalam menyelesaikan soal pada materi hukum Archimedes di kelas XI IPA 3 SMA Negeri 7 Pontianak tahun ajaran 2013/2014 setelah diremediasi dengan menggunakan multirepresentasi.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

PENERAPAN MODEL CLIS BERBANTUAN LKS CONCEPT CARTOON UNTUK MEREMEDIASI MISKONSEPSI MATERI HUKUM ARCHIMEDES SMP

PENERAPAN MODEL CLIS BERBANTUAN LKS CONCEPT CARTOON UNTUK MEREMEDIASI MISKONSEPSI MATERI HUKUM ARCHIMEDES SMP

Kegiatan remediasi dengan model pembelajaran CLIS menggunakan concept cartoon ini efektif dalam meremediasi miskonsepsi siswa dengan kategori tin ggi berdasarkan barometer Cohenโ€™s dengan harga d=1,63. Hal ini dimungkinkan karena penggunaan concept cartoon yang membantu kemaksimalan penggunaan model pembelajaran CLIS untuk kegiatan remediasi pada penelitian ini. Hal ini dikarenakan sifat pembelajaran dengan concept cartoon yang menurut Liston (2011) mampu menantang dan mengembangkan pendapat-pendapat siswa serta dapat menstimulasi keaktifan jalannya diskusi sehinga sangat cocok jika digunakan dengan sintaks model pembelajaran CLIS terutama pada tahap penyusunan ulang gagasan. Pada tahap ini siswa mendiskusikan jawaban pertanyaan yang telah dijawab dalam kelompok masing- masing. Selain itu pembelajaran dengan model pembelajaran CLIS juga dapat menciptakan kreativitas siswa dalam kelompoknya pada saat melakukan kegiatan, mampu menjalin kerjasama antar siswa dalam kelompoknya pada saat melakukan kegiatan, suasana belajar lebih bermakna karena siswa menemukan sendiri hasil pengamatan dan percobaan. Dan guru sebagai fasilitator pun akan memberikan penguatan terhadap konsep yang dipelajari, sehingga miskonsepsi yang terdapat pada siswa dapat diatasi.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

REMEDIASI MISKONSEPSI PESERTA DIDIK MODEL GENERATIF BERBANTUAN LKPD PADA TEKANAN UNTUK SMP

REMEDIASI MISKONSEPSI PESERTA DIDIK MODEL GENERATIF BERBANTUAN LKPD PADA TEKANAN UNTUK SMP

didik, hasil perhitungan dengan rumus KR- 20 memberikan hasil koefisien reliabilitas instrument sebesar 0,594 sehingga masuk dalam kategori sedang; 5) Memberikan tes awal (pre-test); 6) Mengoreksi hasil pekerjaan peserta didik pada tes awal; 7) Memberikan kegiatan remediasi menggunakan model pembelajaran generatif berbantuan LKPD kepada peserta didik yang menjadi sampel penelitian yaitu kelas VIII E; 8) Memberikan tes akhir (post-test); 9) Mengoreksi jumlah peserta didik yang mengalami penurunan miskonsepsi dalam menyelesaikan soal sebelum dan sesudah dilaksanakan remediasi; 10) Menganalisis jumlah penurunan miskonsepsi dalam menyelesaikan soal setelah dilalukan remediasi; 11) Mendeskripsikan hasil pengolahan data dan menyimpulkan sebagai jawaban dari masalah dalam penelitian; 12) menyusun laporan penelitian.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

REMEDIASI MISKONSEPSI PESERTA DIDIK MENGGUNAKAN MODEL PBL PADA MATERI GETARAN DI SMP ARTIKEL PENELITIAN

REMEDIASI MISKONSEPSI PESERTA DIDIK MENGGUNAKAN MODEL PBL PADA MATERI GETARAN DI SMP ARTIKEL PENELITIAN

Pada kelas eksperimen, peserta didik mula-mula diberikan permasalahan berupa perbandingan dua anak dengan massa berbeda (anak A dan anak B) bermain ayunan, dengan panjang dan ukuran ayunan sama, digerakkan secara bersamaan. Tahap selanjutnya peserta didik diminta untuk mengidentifikasi konsep-konsep dasar terkait materi getaran, agar dapat membuat hipotesis mengenai ayunan anak yang mana yang akan berhenti lebih dulu. Selanjutnya peserta didik diberikan kesempatan untuk menguji hipotesisnya dengan cara melakukan percobaan sederhana. Hasil percobaan tersebut dipresentasikan didepan kelas, sehingga perbedaan pendapat antar kelompok dapat memicu diskusi. Sedangkan pada kelas dengan model konvensional, peserta didik hanya diberikan soal latihan yang kemudian dibahas dengan menggunakan model pembelajaran yang sama dengan sebelumnya. Pada kelas eksperimen, peserta didik melakukan percobaan dengan 4 kali pengujian sehingga peserta didik dapat berinteraksi sendiri dengan fenomena terkait dan mengkontruksi pengetahuannya. Sedangkan pada kelas kontrol, peserta didik hanya diberikan bayangan dari teori yang disampaikan dengan cara ceramah. Sehingga kemungkinan besar peserta didik dapat lebih memahami konsep dengan melakukan percobaan. Hal ini sejalan dengan pendapat Yuyun (2010), bahwa melakukan percobaan sederhana akan membuat peserta didik lebih mengingat apa yang telah dipelajarinya karena peserta didik sendiri yang melakukan percobaan tersebut.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

EFEKTIVITAS REMEDIASI MISKONSEPSI SISWA MENGGUNAKAN STRATEGI KONFLIK KOGNITIF PADA MATERI HUKUM ARCHIMEDES DI SMP

EFEKTIVITAS REMEDIASI MISKONSEPSI SISWA MENGGUNAKAN STRATEGI KONFLIK KOGNITIF PADA MATERI HUKUM ARCHIMEDES DI SMP

Penurunan rata-rata persentase miskonsepsi siswa tersebut disebabkan siswa memahami konsep melalui proses remediasi. Terjadinya penurunan rata-rata persentase miskonsepsi dikarenakan adanya konflik yang diciptakan oleh peneliti pada saat proses remediasi menggunakan strategi konflik kognitif. Pada tahap ini siswa diminta memperhatikan demonstrasi yang disajikan oleh peneliti di depan kelas yang bertentangan dengan konsepsi awal yang dimiliki oleh siswa yang telah disampaikan pada tahap pendahuluan, sehingga siswa dituntut untuk menghubungkkan pengalaman (situasi) yang baru saja mereka lihat dengan konsepsi awal mereka. Pada tahap ini juga terjadi proses asimilasi dan akomodasi. Setelah siswa meyakini bahwa konsepsi awal mereka bertentangan dengan situasi yang baru, mereka akan membangun konsepsi baru yang sesuai dengan situasi yang disajikan oleh peneliti dengan sendirinya.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

PENGGUNAAN READING INFUSION SQ3R MEREMEDIASI MISKONSEPSI PESERTA DIDIK PADA MATERI HUKUM ARCHIMEDES DI SMP

PENGGUNAAN READING INFUSION SQ3R MEREMEDIASI MISKONSEPSI PESERTA DIDIK PADA MATERI HUKUM ARCHIMEDES DI SMP

Pada penelitian ini, bahan bacaan reading infusion memiliki kelebihan mengubah konsep peserta didik. Bahan bacaan reading infusion berisi fenomena nyata yang berkaitan dengan konsep yang akan dipelajari yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, bahan bacaan reading infusion dipadukan dengan teknik membaca SQ3R yang dapat membantu meningkatkan minat baca peserta didik dalam proses pembelajarannya serta membantu peserta didik dalam memahami konsep yang benar. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh Anisa (2015) bahwa penggunaan metode SQ3R dengan melalui kegiatan sebelum membaca dengan survey dan question akan membangkitkan rasa ingin tahu siswa terhadap materi yang akan dipelajari, sehingga dapat meningkatkan motivasi si pembaca. Hal ini akan membuat peserta didik lebih fokus serta peserta didik merasa tertarik terhadap materi yang ingin dibaca. Kenyataan lain menunjukkan, kegiatan survey dan question pada awal membaca akan mempengaruhi tahap recite dan review. Siswa lebih terlatih dalam mengungkapkan kembali materi menggunakan kata-kata sendiri, serta daya ingat peserta didik setelah membaca materi terlihat lebih lama dibandingkan membaca secara langsung ataupun membaca secara sekilas.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

PENGGUNAAN EXPERIENTIAL LEARNING UNTUK MEREMEDIASI MISKONSEPSI PESERTA DIDIK PADA SUB MATERI HUKUM ARCHIMEDES SMP

PENGGUNAAN EXPERIENTIAL LEARNING UNTUK MEREMEDIASI MISKONSEPSI PESERTA DIDIK PADA SUB MATERI HUKUM ARCHIMEDES SMP

Namun, pada konsep perbedaan berat benda ketika di air dan di udara pada analisis data untuk kelas kontrol, pretest dan postest tetap sama, tidak ada satu pun yang miskonsepsi. Hal ini dikarenakan rentang waktu antara ulangan harian dan remediasi untuk kelas kontrol hanya satu pekan saja, sehingga masih ada yang dipahami untuk dasar materi ini dan beberapa masuk ke dalam kombinasi jawaban menebak (tidak miskonsepsi), walaupun saat ulangan harian sebelumnya masih banyak yang belum tuntas. Disamping itu, peneliti memperlihatkan secara nyata perbedaan berat benda di air dan di udara dengan demonstrasi. Sedangkan pada kelas eksperimen, terdapat 3 orang yang mengalami miskonsepsi. Setelah diberi perlakuan ternyata 3 orang tersebut masuk dalam kombinasi jawaban tidak menebak (tidak miskonsepsi). Tetapi, 2 orang peserta didik saat pretest termasuk dalam kombinasi jawaban menebak (tidak miskonsepsi) setelah diberi perlakuan justru mengalami miskonsepsi saat postest. Hal ini dimungkinkan karena kurang fokus dan terlihat ragu dalam menjawab soal dengan dibuktikan konsep lain yang masih terlihat sama mengalami miskonsepsi saat tes akhir.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

PENERAPAN TEKNIK MEMBACA SQ3R PADA TATA SURYA DI SMP DALAM MEREMEDIASI MISKONSEPSI SISWA ARTIKEL PENELITIAN

PENERAPAN TEKNIK MEMBACA SQ3R PADA TATA SURYA DI SMP DALAM MEREMEDIASI MISKONSEPSI SISWA ARTIKEL PENELITIAN

8 karena metode SQ3R yang sistematis dapat membuat siswa menggunakan kemampuan berpikirnya dalam memahami ide-ide pokok atau konsep-konsep yang ada dalam bacaan tersebut. Sementara itu, pada saat pretest jumlah miskonsepsi terkecil yang dialami oleh siswa pada indikator VI yaitu pada konsep gerhana bulan sebanyak 8, tetapi setelah dilaksanakan remediasi terjadi perubahan jumlah miskonsepsi menjadi 7. Hal ini dikarenakan gerhana bulan merupakan fenomena yang mudah diamati dan sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari sehingga tidak terjadi banyak penafsiran oleh siswa dalam mempelajarinya. 2. Signifikansi Perubahan Konsepsi Siswa Meskipun masih ditemukan miskonsepsi pada sebagian kecil siswa, penerapan teknik membaca SQ3R dapat dikatakan mampu menimbulkan perubahan konseptual. Analisis secara statistik menggunakan uji McNemar menunjukkan bahwa secara keseluruhan terdapat perbedaan jumlah miskonsepsi yang signifikan antara pretest dan posttest ( ๐œ’ โ„Ž๐‘–๐‘ก๐‘ข๐‘›๐‘” 2 = 51,17; ๐‘‘๐‘“ = 1; ๐›ผ = 0,05). Ini berarti telah terjadi perubahan konsepsi siswa yang signifikan pada materi tata surya sesudah diberikan kegiatan remediasi menggunakan penerapan teknik membaca SQ3R di SMP Negeri 4 Pontianak.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

REMEDIASI MISKONSEPSI MENGGUNAKAN MODEL REASONING AND PROBLEM SOLVING PADA MATERI SUHU DAN KALOR DI SMP

REMEDIASI MISKONSEPSI MENGGUNAKAN MODEL REASONING AND PROBLEM SOLVING PADA MATERI SUHU DAN KALOR DI SMP

yaitu 18,78 (67,06%) atau sekitar 18-19 dari 28 siswa dan pada post-test yaitu 8,11 (28,97%) atau sekitar 8-9 dari 28 siswa. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat penurunan jumlah siswa yang mengalami miskonsepsi per soal sekitar 38,09%. Hasil ini dapat dilihat dari jawaban siswa tiap soal. Pada konsep hubungan jumlah kalor yang diterima oleh suatu zat/benda, siswa menjawab larutan garam yang lebih cepat menguap, namun konsep yang dijawab benar yaitu larutan garam memiliki titik didih lebih tinggi dibandingkan dengan larutan murni, kemudian siswa masih beranggapan bahwa untuk menghemat energi saat memasak air kondisi apinya harus dikecilkan supaya kalor/panas yang diserap tidak akan hilang.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

ANALISIS DAN REMEDIASI MISKONSEPSI SISWA

ANALISIS DAN REMEDIASI MISKONSEPSI SISWA

Meskipun siswa memahami bahwa sinar dengan panjang gelombang 680nm ditangkap oleh pigmen P680 di fotosistem II (tingkat kognitif 2), namun siswa memiliki miskonsepsi bahwa reaksi pada fotosistem II terjadi setelah reaksi pada fotosistem I selesai (tingkat kognitif 3). Siswa memiliki pemahaman yang salah tentang penomoran pada fotosistem. Menurut siswa, fotosistem I diberi nomor I karena bereaksi lebih dulu pada proses fotosintesis, kemudian dilanjutkan oleh fotosistem yang diberi nomor II. Konsep sebenarnya adalah fotosistem I ditemukan terlebih dahulu daripada fotosistem IIdan dalam reaksi terang, fotosistem II bereaksi lebih dahulu daripada fotosistem I.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...