Top PDF Rendahnya Komitmen dalam Perkawinan sebagai Sebab Perceraian

Rendahnya Komitmen dalam Perkawinan sebagai Sebab Perceraian

Rendahnya Komitmen dalam Perkawinan sebagai Sebab Perceraian

Masalah tanggungjawab terhadap masa depan anak, dan bagaimana nasib pa- sangan pasca perceraian adalah merupakan sebagian dari sejumlah aspek dari komitmen moral perkawinan. Hasil penelitian menun- jukkan, bahwa bagi informan yang dalam pernikahannya tidak memiliki anak, justru hal ini yang dijadikan alasan oleh suami untuk mengambil keputusan dilakukannya perceraian. Sedangkan bagi semua infor- man penelitian yang memiliki anak dalam perkawinannya, baik pihak istri maupun suami, selalu mempertimbangkan masa depan anak. Bagi perempuan (istri) yang secara ekonomi bergantung kepada suami, masa depan anak menjadi pertimbangan yang sangat berat ketika akan memutuskan untuk bercerai. Sebagaimana dikatakan Ade Sulistyorini, misalnya, sebagai ibu rumah tangga biasa yang tidak memiliki pengha- silan sendiri. Pada saat bercerai, perkawi- nan mereka sebenarnya sudah dikaruniai 3 anak, anak pertama sudah meninggal dan anak keduanya adalah anak berkebutuhan khusus. Terutama bagi anak mereka yang berkebutuhan khusus itu tentu membutuh- kan biaya yang tidak sedikit untuk kepen- tingan sekolah dan terapinya. Hal ini men- jadi bahan pertimbangan yang utama, dan bercerai merupakan keputusan yang sangat berat. Namun, bagi istri dan suami yang se- cara ekonomi mandiri, masalah masa depan anak dianggap bukan merupakan masalah
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Pembagian Harta Bersama Yang Diakibatkan Perceraian dari Perkawinan Berbeda Agama Menurut Undang-undang No.1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan.

Pembagian Harta Bersama Yang Diakibatkan Perceraian dari Perkawinan Berbeda Agama Menurut Undang-undang No.1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan.

Pembagian harta bersama perkawinan akibat perceraian dari perkawinan berbeda agama dilakukan berdasarkan menurut ketentuan Pasal 35 sampai dengan Pasal 37 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Selain Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, di Indonesia juga berlaku Kompilasi Hukum Islam, yang berkaitan dengan pembagian harta bersama sebagaimana diatur dalam Pasal 96 dan 97 Kompilasi Hukum Islam. Sedangkan perlindungan pembagian harta bersama akibat perceraian berbeda agama bagi suami dan isteri berdasarkan pada Pasal 31 ayat 1 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

UPAYA MENEKAN TINGKAT PERCERAIAN PASANGAN SUAMI ISTERI PADA PERKAWINAN USIA DINI

UPAYA MENEKAN TINGKAT PERCERAIAN PASANGAN SUAMI ISTERI PADA PERKAWINAN USIA DINI

Selain penelataran ekonomi yang menyebabkan terjadinya perceraian, masih ada beberapa faktor yang layak menjadi perhatian bersama, yaitu adanya krisis pergaulan bebas yang dilakukan anak- anak remaja/ muda usia, sehingga terjadi hubungan seksual di luar nikah yang berbuntut kehamilan, yang menuntut harus segera dinikahkan. Padahal secara psikis/ kematangan kejiwaan untuk hidup berumah tangga belum terpenuhi, sehingga tidak siap untuk hidup berumah tangga. Perlu dipahami bahwa bahwa dalam Undang-undang Perkawinan mengatur kewajiban dan hak suami isteri, yaitu suami isteri memikul kewajiban yang luhur untuk menegakkan rumah tangga yang menjadi sendi dasar susunan masyarakat (Pasal 30).
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Akibat Hukum Perceraian terhadap Kedudukan Perempuan dari Perkawinan Asu Pundung

Akibat Hukum Perceraian terhadap Kedudukan Perempuan dari Perkawinan Asu Pundung

Selain mengenai hak dan kewajiban suami istri, harta bersama juga merupakan akibat dari perkawinan. Harta bersama ini sendiri merupakan harta benda yang diperoleh selama perkawinan sedangkan harta bawaan dari suami istri masing- masing baik sebagai hadiah atau warisan berada di bawah pengusaan masing-masing sepanjang para pihak menentukan lain. Mengenai harta bersama, suami atau istri dapat bertindak atas persetujuan kedua belah pihak, sedangkan harta bawaan masing-masing suami dan istri mempunyai hak sepenuhnya untuk melakukan perbuatan hukum mengenai harta bendanya. Bila perkawinan putus karena perceraian, maka harta bersama diatur menurut hukumnya masing- masing. Yang dimaksud dengan hukum masing- masing ini adalah hukum agama, hukum adat dan hukum-hukum lainnya. Dalam hukum adat pembagian harta bersama apabila terjadi perceraian dipengaruhi oleh sistem kekerabatannya, sehingga masing-masing sistem kekerabatan memiliki karakteristik yang berbeda- beda, begitu juga dalam hal hukum agama.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Perceraian Atas Perkawinan Yang Tidak Didaftarkan Di Kantor Catatan Sipil Dan Akibat Hukumnya...

Perceraian Atas Perkawinan Yang Tidak Didaftarkan Di Kantor Catatan Sipil Dan Akibat Hukumnya...

Perceraian akan menimbulkan akibat hukum baik terhadap bekas suami isteri, harta kekayaan maupun terhadap anak. Kewajiban untuk memelihara, mendidik anak, memenuhi kebutuhan hidup anak terus berlangsung walaupun perkawinan antara kedua orang tua telah putus (Pasal 45 undang-undang No.1 Tahun 1974). Dala m kenyataannya sering terjadi perkawinan orang tua hanya dilakukan menurut ketentuan agama dan adat tanpa dicatatkan di Kantor Catatan Sipil. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjawab permasalahan rnengenai keabsahan suatu perkawinan y ang tidak didaftarkan di Kantor Catatan Sipil, tanggung jawab orang tua setelah perceraian terhadap pemeliharaan dan nafkah hidup anak, serta hubungan antara anak dengan kedua orang tua dan kerabat kedua orang tua setelah perceraian apabila perkawinan tidak didaftarkan di Kantor Catatan Sipil.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Putusnya Perkawinan Karena Perceraian (Kajian Berdasarkan Hukum Gereja Bagi Perkawinan Kristen Di Indonesia)

Putusnya Perkawinan Karena Perceraian (Kajian Berdasarkan Hukum Gereja Bagi Perkawinan Kristen Di Indonesia)

5 perkawinan warganya, yang sudah terlebih dahulu disahkan oleh negara. Hal inilah yang membuat gereja-gereja Protestan di Indonesia mengalami kesulitan yang mendasar, sehubungan dengan Undang-undang Perkawinan yang berlaku di Indonesia, yang memang sudah kontroversial sejak awal kelahirannya. Sebab, di satu pihak Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan mengatur perkawinan harus sah terlebih dahulu menurut agama yang dianut, setelah itu dicatat oleh negara di kantor catatan sipil setempat, namun ajaran Kristen Protestan mengatur yang sebaliknya, perkawinan harus sah lebih dahulu di depan negara, baru gereja dapat memberikan pemberkatan dan memberikan peneguhan, karena tidak mungkin bagi gereja memberikan pemberkatan pada perkawinan yang belum sah atau memberikan peneguhan pada perkawinan yang belum ada secara resmi. Apalagi untuk memberikan pengesahan lebih tidak mungkin, karena gereja bukan merupakan lembaga hukum juga bukan merupakan lembaga negara, tetapi gereja adalah lembaga keagamaan, jika gereja memberikan pengesahan pada perkawinan, berarti gereja telah merampas hak dan otoritas negara, dan akan menjadi lebih pelik, bila konsekuensi dari memberikan pengesahan tersebut, gereja juga memberikan pengesahan pada perceraian”. 4
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

Pelaksanaan Pembagian Harta Bersama dalam Perkawinan Poligami Setelah Perceraian

Pelaksanaan Pembagian Harta Bersama dalam Perkawinan Poligami Setelah Perceraian

Putusnya perkawinan karena perceraian dan ini akan menimbulkan akibat hukum yang akan mempengaruhi hak dan kewajiban antara mantan suami dan mantan isteri serta anak yang lahir dari perkawinan yang sah tersebut. Demikian juga mengenai harta bersama yang diperoleh sepanjang perkawinan maupun harta bawaan dari masing-masing suami isteri. Menurut fenomena hukum bahwa dalam perkawinan poligami, yaitu suatu sistem perkawinan antara satu orang pria dengan lebih dari seorang isteri. Dalam perkawinan poligami ini tidak menutup kemungkinan terjadi penyeludupan hak isteri terdahulu oleh suami. Biasa terjadi ketika si isteri telah memberi izin kepada suaminya untuk menikah lagi, pada akhirnya isteri terdahulu sering tidak diperhatikan, sehingga hak-hak dari harta bersama tereduksi oleh kepentingan isteri kedua.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

Akibat Hukum Perceraian terhadap Kedudukan Perempuan dari Perkawinan Asu Pundung

Akibat Hukum Perceraian terhadap Kedudukan Perempuan dari Perkawinan Asu Pundung

Selain mengenai hak dan kewajiban suami istri, harta bersama juga merupakan akibat dari perkawinan. Harta bersama ini sendiri merupakan harta benda yang diperoleh selama perkawinan sedangkan harta bawaan dari suami istri masing- masing baik sebagai hadiah atau warisan berada di bawah pengusaan masing-masing sepanjang para pihak menentukan lain. Mengenai harta bersama, suami atau istri dapat bertindak atas persetujuan kedua belah pihak, sedangkan harta bawaan masing-masing suami dan istri mempunyai hak sepenuhnya untuk melakukan perbuatan hukum mengenai harta bendanya. Bila perkawinan putus karena perceraian, maka harta bersama diatur menurut hukumnya masing- masing. Yang dimaksud dengan hukum masing- masing ini adalah hukum agama, hukum adat dan hukum-hukum lainnya. Dalam hukum adat pembagian harta bersama apabila terjadi perceraian dipengaruhi oleh sistem kekerabatannya, sehingga masing-masing sistem kekerabatan memiliki karakteristik yang berbeda- beda, begitu juga dalam hal hukum agama.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Perceraian, Perkawinan Kembali, dan Komunitas yang Kurang Piknik

Perceraian, Perkawinan Kembali, dan Komunitas yang Kurang Piknik

Kita tidak ingin sekedar mencari siapa yang salah atau apa yang salah dalam kegagalan suatu perkawinan. Kita ingin mencari solusi dan meminimalisasi efek kerusakan yang ditimbulkan oleh kegagalan sebuah perkawinan. Itulah sebabnya kita perlu melihat faktor-faktor etis dan teologis dalam memandang masalah perceraian yang hari-hari ini sudah menjadi suatu fenomena yang tidak terbantahkan keragamannya.

10 Baca lebih lajut

PERKAWINAN USIA MUDA DAN DAMPAKNYA TERHADAP TINGKAT PERCERAIAN DI KECAMATAN KALIDAWIR TULUNGAGUNG.

PERKAWINAN USIA MUDA DAN DAMPAKNYA TERHADAP TINGKAT PERCERAIAN DI KECAMATAN KALIDAWIR TULUNGAGUNG.

Namun perkawinan pada usia muda sering menimbulkan kegoncangan dalam kehidupan berumah tangga. Ini lebih disebabkan karena kurangnya kesiapan mental dan masih belum matangnya jiwa raga untuk membina rumah tangga, sehingga tidak jarang terjadi pertengkaran, kesalah pahaman atau selisih pendapat antara keduanya yang berakhir pada perceraian. Masalah lain yang sering timbul misalnya kecemburuan yang berlebihan, tidak adanya komunikasi yang baik serta masalah ekonomi (selama menikah masih dalam pengangguran) atau tidak bekerja, hal itu merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam hidup berumah tangga karena semua ini disebabkan pada waktu menikah usianya masih relatif muda. Tetapi sebagian besar dari mereka yang melakukan perkawinan usia muda khususnya di Kecamatan Kalidawir, hubungan rumahtangga mereka langgeng. Hal ini dikarenakan mereka yang melakukan perkawinan usia muda tersebut taat pada kedua orangtua, taat pada agamanya, dan taat terhadap adat, sehingga mereka dapat dengan mudah menyatukan suatu perbedaan diantara mereka.
Baca lebih lanjut

61 Baca lebih lajut

BADAN PENASIHAT PERKAWINAN PERSELISIHAN DAN PERCERAIAN DALAM USAHANYA MENCEGAH PERCERAIAN DI DAERAH TINGKAT II KOTAMADYA SURABAYA

BADAN PENASIHAT PERKAWINAN PERSELISIHAN DAN PERCERAIAN DALAM USAHANYA MENCEGAH PERCERAIAN DI DAERAH TINGKAT II KOTAMADYA SURABAYA

Sebagaimana diketahui, BP -4 adalah iiadan Penasihat Perkawinan Perselisihan dan Perceraian. oP-4 sebagai ditun- jukkan namanya memuasatkan kogiatannya pada macaluh perk a­ winan, perselisihan dan peroGraian. Oleh karena jika terjadi kehidupan rumah-tangga yang mengalawi k e g c n c a n g a n , perbeii- sihan-perseiisihan tidak mungkin dilakukan secara iorn.il oleh badan resmi ueperti K.UA atau Pengadilan ngamu yan,$ sudah te- tap fungsinya di bidang pencatatan dan pcnegakan liuitum. Untuk pelayanan dan konsultasi pentawinan tex-sebut tidak bisa lain yang paling tepat adalah BP- 4 . Ual iui berdasarkan Surat i\e- putusan Menteri Agama Homor ti5 Tanun iybi yang wengakui bah- wa Br-4 adalah satu-satunya badan yang berusana di bidang
Baca lebih lanjut

96 Baca lebih lajut

Fenomena Perkawinan dan Perceraian Beda Agama menurut UU No. 1 Tahun 1974 tentang perkawinan

Fenomena Perkawinan dan Perceraian Beda Agama menurut UU No. 1 Tahun 1974 tentang perkawinan

Abstrak: Pada umumnya manusia akan mengalami tiga peristiwa penting, yaitu berupa kelahiran, perkawinan dan kematian. Dari tiga peristiwa tersebut, jika dikaitkan dengan kedudukan manusia sebagai warga negara, maka persitiwa yang terpenting adalah perkawinan, karena perkawinan adalah suatu perilaku makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa agar kehidupan di dunia dapat berkembang. Perkawinan sebagai perjanjian yang sangat kuat “miitsaaqhan ghalidhan” yakni sebagai suatu perjanjian untuk menaati perintah Allah dan melaksanakan merupakan ibadah. Perkawinan merupakan perjanjian dimana Allah sebagai saksinya. Hal ini menunjukkan betapa sakralnya sebuah peristiwa perkawinan, maka menurut dogma suci ini perkawinan beda agama dan perceraian tidak dibenarkan. Perkawinan beda agama termasuk masalah rumah tangga yang banyak mengandung persoalan- persoalan sosial dan yuridis. Fenomena yang ada dalam masyarakat, banyak terjadinya perkawinan dan perceraian beda agama. Perceraian sebagai sebuah peristiwa walaupun dibolehkan tetapi sebagai suatu hal yang sangat dibenci Allah. Hal ini menunjukkan bahwa sedapat mungkin ikatan perkawinan yang telah terjadi jangan sampai putus karena perceraian.
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

AKIBAT HUKUM PERCERAIAN DALAM PERKAWINAN CAMPURAN ANTAR WARGA NEGARA.

AKIBAT HUKUM PERCERAIAN DALAM PERKAWINAN CAMPURAN ANTAR WARGA NEGARA.

Ada kalanya perceraian dari perkawinan campuran tidak menimbulkan masalah pada akibat hukum yang ditimbulkannya. Hal ini karena adanya kesepakatan yang dibuat antara pihak suami dan istri baik mengenai harta bersama setelah perkawinan dan hak perwalian anak maupun status kewarganegaraan anak dan masing-masing pihak. Sehingga proses peradilan menjadi cepat dan tidak berlarut- larut. Hal ini seperti yang terjadi pada kasus perceraian Titi Dwijayanti dengan Andrew Hollis Dogharty. Dalam sidang kedua yang menjadi sidang terakhir proses perceraian mereka, memutuskan bahwa kedua belah pihak sepakat untuk mengakhiri pernikahan mereka dengan damai dan tanpa perselisihan. Keputusan berpisah secara damai yang dibuat oleh Titi DJ dengan Pria yang berkewarganegaraan Amerika ini bisa menjadi contoh kedewasaan dalam mengakhiri sebuah ikatan pernikahan.Perselisihan mengenai harta gono gini dan hak atas perwalian anak yang sering menjadi sebuah konflik pasca perceraian sama sekali tidak nampak pada proses persidangan. Mereka sepakat harta gono gini tidak dibicarakan di persidangan, perkembangan dan sebagainya tanpa ada batasan.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Kedudukan Hak atas Merek terjadi perceraian dalam suatu perkawinan - Ubaya Repository

Kedudukan Hak atas Merek terjadi perceraian dalam suatu perkawinan - Ubaya Repository

Abstrak - Untuk membedakan satu barang dengan barang lainnya, maka barang tersebut memuat tanda pada barang buatannya itu dengan kata, angka, gambar, simbol ataupun warna untuk memberikan identifikasi pembuatnya. Tujuan tanda pertama -tama adalah sebagai informasi untuk mengetahui siapa pembuatnya, kemudian untuk menghindari sengketa tentang siapa pembuatnya dan akhirnya untuk menunjukan kepada konsumen kualitas dari barang tersebut. Tanda tersebut inilah yang dikenal sebagai merek dagang. Dalam era globalisasi, merek dagang sebagai komunikasi penyampaian berita menjadi suatu aset bisnis berharga dan sebagai alat perlindungan terhadap persaingan curang dan penipuan, termasuk pemalsuan produksi dan penyebarluasaannya. Perlindungan terhadap Hak atas Merek di Indonesia yaitu adanya Undang – Undang tentang Merek No 15 Tahun 2001 dan diubah dengan Undang – Undang Nomor 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis. Hak merek (merken recht), dapat dikategorikan sebagai benda bergerak tak berwujud berupa hak-hak, dalam hal ini termasuk sebagai hak kebendaan sempurna yang hanya dapat dimiliki oleh orang yang terdaftar dan namanya tercantum dalam Daftar Umum Merek serta Hak atas Merek timbul karena perdaftaran merek tersebut maka lahirlah hak atas merek, sebagaimana ketentuan Pasal 1 angka 5 UU Merek Dengan adanya hak eksklusif ini, maka orang yang namanya terdaftar dalam daftar umum merek adalah pemilik merek, tidak ada pihak lain yang boleh memanfaatkan hak tersebut tanpa izin pemegang hak merek. Sehingga bila dalam suatu perkawinan, suami atau istri mendaftarkan merek atas suatu produk, maka berdasarkan hak eksklusif, maka yang berhak atas merek tersebut adalah suami atau istri yang namanya tercantum dalam daftar umum merek, Dengan adanya hak eksklusif ini, maka orang yang namanya terdaftar dalam daftar umum merek adalah pemilik merek, tidak ada pihak lain yang boleh memanfaatkan hak tersebut tanpa izin pemegang hak merek. Sehingga bila dalam suatu perkawinan, suami atau istri mendaftarkan merek atas suatu produk, maka berdasarkan hak eksklusif, maka yang berhak atas merek tersebut adalah suami atau istri yang namanya tercantum dalam daftar umum merek. Dengan demikian suatu Hak atas Merek jika terjadi perceraian dikategorikan sebagai harta bawaan bukan sebagai harta bersama.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

KEDUDUKAN UTANG PIUTANG DALAM PERKAWINAN TERHADAP PIHAK KETIGA ATAS HARTA BERSAMA DALAM HAL PUTUSNYA PERKAWINAN KARENA PERCERAIAN

KEDUDUKAN UTANG PIUTANG DALAM PERKAWINAN TERHADAP PIHAK KETIGA ATAS HARTA BERSAMA DALAM HAL PUTUSNYA PERKAWINAN KARENA PERCERAIAN

Kesimpulan dalam skripsi ini adalah Pertama, Mengenai hak dan kewajiban suami-istri atas utang-piutang terhadap pihak ketiga, menurut Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 yaitu hokum yang digunakan adalah hokum saat mereka mengikatkan diri dalam perkawinan; menurut Kitab Undang- undang Hukum Perdata yaitu terhadap piutang yang ada akan digabung dengan harta persatuan dan dibagi dua antara suami dan istri, sedangkan terhadap kewajiban dalam pelunasan utang dapat dibuat suatu rumusan antara lain sebelum harta persatuan dipecah, setelah harta persatuan dipecah dan hak pelepasan harta persatuan oleh istri; sedangkan menurut Kompilasi Hukum Islam yaitu dengan tidak adanya syirkah antara suami dan istri, keuntungan dari piutang maupun beban dari utang yang keluar dari harta masing-masing akan menjadi milik masing-masing suami atau istri tersebut. Kedua, Mengenai kedudukan utang- piutang suami-istri terhadap pihak ketiga dalam hal putusnya perkawinan karena perceraian. Perceraian antara suami dan istri dalam suatu perkawinan tidaklah serta merta menghapus perikatan utang piutang antara suami-istri dengan pihak ketiga. Hal-hal yang berkaitan dengan perjanjian dan perikatan tunduk kepada hukum yang terdapat dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata khususnya buku ketiga tentang perikatan. Mengenai hapusnya perikatan diatur dalam Pasal 1381 Kitab Undang-undang Hukum Perdata.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

BAB I PENDAHULUAN. perceraian/pemutusan perkawinan.

BAB I PENDAHULUAN. perceraian/pemutusan perkawinan.

Dalam hal terjadinya suatu perceraian, tentu saja menimbulkan akibat hukum bagi anak yang menyangkut masalah biaya hidup dan pemeliharaan anak sebagai korban perceraian tersebut. Ketika suatu ikatan perkawinan telah putus, maka hubungan hukum yang ada diantara kedua orang tua dan anak tidak begitu saja berakhir, karena tetap memiliki kewajiban-kewajiban yang masih harus dilaksanakan dan menurut ketentuan Pasal 300 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata menjelaskan bahwa yang melaksanakan kekuasaan orang tua adalah bapak. Mengenai hal ini pula telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

Konsep Pembagian Harta Bersama Akibat Perceraian dalam Perkawinan Siri

Konsep Pembagian Harta Bersama Akibat Perceraian dalam Perkawinan Siri

ditentukan lain dalam perjanjian perkawinan. Pembagian tersebut sesuai dengan yurisprudensi Mahkamah Agung RI No. 424.K/sip.1959 tertanggal 9 Desember 1959, jika terjadi perceraian, maka masing-masing suami isteri bercerai mendapatkan setengah dari harta bersama. Akan tetapi peraturan tersebut tidak secara rigid diberlakukan. Pembagian harta bersama bisa dilakukan dengan musyawarah antara kedua belah pihak sehingga mendapatkan kesepakatan tanpa adanya unsur keterpaksaan. Hakim dalam memutuskan pembagian harta bersama terkadang juga melihat kondisi perkawinan pasangan. Contohnya putusan MA No. 266K/AG/2010, memutuskan memberikan tiga perempat (3/4) bagian kepada isteri dan sisanya seperempat (1/4) bagian kepada suami karena berdasarkan fakta dan bukti di persidangan suami tidak memberikan nafkah dan seluruh harta bersama diperoleh dari hasil kerja isterinya sendiri.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Pembagian Harta Bersama Perkawinan Dalam Perceraian Perkawinan Beda Agama Yang Dicatatkan

Pembagian Harta Bersama Perkawinan Dalam Perceraian Perkawinan Beda Agama Yang Dicatatkan

Dalam hal pembagian harta bersama perkawinan beda agama apabila terjadi perceraian memang belum terdapat ketentuan jelas yang mengaturnya. Apakah dibagi menurut hukum agama suami atau hukum agama istri, atau mungkin apabila terdapat perbedaan adat diantara keduanya hal tersebut dapat memberikan tambahan persoalan lagi. Hal tersebut akan menimbulkan hukum antar golongan yang meliputi hukum antar agama (interreligious) dan hukum antar adat (interlookal). 3 Misalnya jika terjadi perkawinan campuran antara seorang perempuan Jawa beragama Islam dengan seorang Laki-laki Batak atau Minangkabau beragama Kristen. Kalau ini terjadi, kedudukan suami
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects