Top PDF Seleksi Bakteri Penghasil Indole-3-Acetic Acid (Iaa) Dan Pengujian Pada Bibit Kelapa Sawit (Elaeis Guineensis Jacq.).

Seleksi Bakteri Penghasil Indole-3-Acetic Acid (Iaa) Dan Pengujian Pada Bibit Kelapa Sawit (Elaeis Guineensis Jacq.).

Seleksi Bakteri Penghasil Indole-3-Acetic Acid (Iaa) Dan Pengujian Pada Bibit Kelapa Sawit (Elaeis Guineensis Jacq.).

Metode penelitian ini meliputi peremajaan bakteri, uji hipersensitivitas, penapisan isolat penghasil IAA, pengujian bakteri pelarut P dan K, penentuan kurva pertumbuhan dan produksi IAA, pengukuran IAA dengan metode High Performance Liquid Chromatography (HPLC), identifikasi molekuler gen 16S rRNA, dan aplikasi bakteri pada bibit kelapa sawit. Hasil seleksi bakteri penghasil IAA terdiri atas 9 bakteri kitinolitik dan 16 selulolitik. Uji hipersensitivitas pada daun tembakau diperoleh 4 dari 9 isolat bakteri kitinolitik dan 9 dari 16 isolat bakteri selulolitik tidak menyebabkan nekrotik (negatif hipersensitivitas) pada daun tembakau. Sebanyak 13 Isolat yang tidak menyebabkan gejala nekrotik pada daun selanjutnya diseleksi berdasarkan kemampuannya dalam menghasilkan IAA pada media yang ditambah dengan triptofan dan tanpa triptofan. Hasil penapisan menggunakan metode kolorimetri menunjukkan isolat SAHA 12.08 dan KAHN 15.12 menghasilkan IAA sebesar 3.99 dan 3.75 ppm. Pengukuran secara kuantitatif menggunakan (HPLC) untuk kedua isolat menghasilkan IAA pada puncak kromatogram yang sama dengan IAA standar pada waktu retensi 21 sampai 22 menit. KAHN 15.12 memiliki tingkat kemiripan 99% dengan Serratia marcescens setelah diidentifikasi gen penyandi 16S rRNA. Aplikasi pada bibit kelapa sawit dengan pemberian kultur S. marcescens KAHN 15.12 dan Bacillus thuringiensis SAHA 12.08 berpengaruh secara nyata pada jumlah akar lateral yaitu sebesar 60.7-65% dibandingkan kontrol negatif untuk 90 (HST) hari setelah tanam. Isolat SAHA 12.08 dan KAHN 15.12 dengan setengah dosis pupuk Rock Phosphate berpengaruh lebih baik pada jumlah akar lateral, diameter batang, dan jumlah daun pada bibit sawit.
Baca lebih lanjut

50 Baca lebih lajut

Isolasi dan seleksi bakteri penambat nitrogen dan penghasil indole-3-acetic acid asal sampel tanah dari Jambi Indonesia

Isolasi dan seleksi bakteri penambat nitrogen dan penghasil indole-3-acetic acid asal sampel tanah dari Jambi Indonesia

Hasil identifikasi secara fisiologi menggunakan alat KIT API 20 NE bioMérieux®sa menunjukkan bahwa isolat A13.1 memilliki 99% kesamaan dengan spesies Pseudomonas luteola. Isolat P. luteola memiliki karakteristik sebagai PGPR (Planth Growth Promoting Bacteria), yaitu meningkatkan pertumbuhan tanaman karena memproduksi fitohormon seperti auksin (Deshwal et al. 2013). Ali dan Sabri (2010) menyatakan bahwa anggota dari genus Pseudomonas sp. merupakan salah satu contoh dari bakteri tanah (rhizobakteria) yang mampu menghasilkan IAA. Selain itu, Stieglmeier et al. (2009) melaporkan bahwa P. luteola berhasil diisolasi dalam medium tanpa N sehingga diketahui bahwa P. luteola merupakan bakteri penambat nitrogen bebas. Isolat ini termasuk ke dalam kelompok Proteobacteria, yaitu kelompok dari Bacteria yang anggotanya terdiri atas bakteri Gram negatif. Berdasarkan identifikasi 16S rRNA, secara filogenetik filum Proteobacteria dibagi ke dalam 5 kelas, yaitu Alphaproteobacteria, Betaproteobacteria, Gammaproteobacteria, Deltaproteobacteria, dan Epsilonproteobacteria. Isolat A13.1 termasuk ke dalam kelas Gammaproteobacteria. Isolat ini termasuk ke dalam kelas yang sama dengan bakteri penambat nitrogen dari genus Azotobacter (Madigan et al. 2006). Kurva tumbuh isolat A13.1 (Gambar 3) menunjukkan bahwa isolat A13.1 tersebut digolongkan sebagai bakteri yang tumbuh lambat karena pencapaian fase log dari bakteri tersebut baru terjadi pada hari ke-3. Hal ini sesuai dengan pernyataan bahwa bakteri yang hidup di rhizosfer umumnya merupakan bakteri yang tumbuh lambat karena ketersediaan nutrisi yang terbatas (Rao 1994). Kurva pertumbuhan bakteri juga berhubungan dengan kurva konsentrasi IAA yang dihasilkan oleh isolat A13.1 (Gambar 3). IAA disintesis optimum sejak akhir fase log dan mencapai konsentrasi tertinggi di akhir fase stasioner.
Baca lebih lanjut

26 Baca lebih lajut

Seleksi Bakteri Penambat Nitrogen Dan Penghasil Hormon IAA (Indole Acetic Acid) dan Uji Potensinya Terhadap Pertumbuhan Dan Produksi Tanaman Kedelai (Glycine max L.)

Seleksi Bakteri Penambat Nitrogen Dan Penghasil Hormon IAA (Indole Acetic Acid) dan Uji Potensinya Terhadap Pertumbuhan Dan Produksi Tanaman Kedelai (Glycine max L.)

Rizosphere bacteria which is fix nitrogen and produce IAA (Indol Acetic Acid) is used as an effort to increase both growth and production of soybean plants. The research had been done in the Microbiology laboratory and in the home screen, Department of Biology, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, University of North Sumatera from February until September 2012. The aim of this study is to select the most potential nitrogen fixing and IAA producing bacteria then examine their effect on growth of soybean plants which had been grown in soil containing less nutrients. The in vivo test has been done on seven days old of soybean plants. Bacteria were introduced by pouring them on the rhizosphere of plants. The results showed that the highest IAA concentration was produced by I 3 isolate which was 33.3 ppm and the
Baca lebih lanjut

60 Baca lebih lajut

View of UJI POTENSI Bacillus sp. DAN Escherichia coli DALAM MENGHASILKAN INDOLE ACETIC ACID (IAA) TANPA MENGGUNAKAN TRIPTOFAN PADA MEDIA PERTUMBUHAN

View of UJI POTENSI Bacillus sp. DAN Escherichia coli DALAM MENGHASILKAN INDOLE ACETIC ACID (IAA) TANPA MENGGUNAKAN TRIPTOFAN PADA MEDIA PERTUMBUHAN

Hormon tanaman merupakan senyawa organik yang disintesis pada salah satu bagian tanaman kemudian ditransfer ke beberapa bagian yang lain. Hormon ini berperan dalam pertumbuhan tanaman, salah satunya auksin. Auksin atau nama lainnya IAA (Indole Acetic Acid) merupakan hormon tumbuh yang memegang peranan penting untuk memacu pertumbuhan dan perkembangan tanaman [1]. IAA disintesis dalam berbagai bagian tubuh tanaman dan pada umumnya akan berasosiasi dengan bagian-bagian tubuh tanaman yang sedang aktif dan berkembang seperti pada semua jenis meristem ujung tunas. Sumber hormon IAA yang alami tidak hanya dihasilkan oleh tumbuhan saja tetapi juga dihasilkan oleh bakteri [2]. Salah satu keuntungan menggunakan bakteri sebagai sumber IAA karena pertumbuhan mikrob sangat cepat dibandingkan dengan pertumbuhan tanaman dalam menghasilkan hormon IAA. Selain itu, produksi biomassa dari mikrob lebih efisien daripada memproduksi IAA dari biomassa tanaman. Mikroba yang mampu menghasilkan IAA dapat meningkatkan perpanjangan dan pembelahan sel, perkembangan jaringan, respon terhadap cahaya dan gravitasi sehingga permukaan akar menjadi lebih luas [3] dan akhirnya tanaman mampu menyerap nutrisi dari tanah lebih banyak. L-triptofan merupakan asam amino yang berfungsi sebagai prekursor dalam biosintesis IAA pada tanaman dan mikroba [4].
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

KARAKTERISASI BAKTERI ENDOFIT PENGHASIL FITOHORMON IAA (INDOLE ACETIC ACID) DARI KULIT BATANG TUMBUHAN RARU (COTYLELOBIUM MELANOXYLON).

KARAKTERISASI BAKTERI ENDOFIT PENGHASIL FITOHORMON IAA (INDOLE ACETIC ACID) DARI KULIT BATANG TUMBUHAN RARU (COTYLELOBIUM MELANOXYLON).

Mikroorganisme di alam memiliki keanekaragaman yang berlimpah dan juga memilki peranan yang luar biasa bagi manusia khususnya dibidang pertanian (Lay, dkk., 1994). Mikroorganisme di alam dapat berupa mikroorganisme simbiotik dan nonsimbiotik (Danafriatna, 2010). Mikroorganisme nonsimbiotik adalah mikroorganisme yang hidup bebas dan mandiri di dalam tanah sedangkan mikroorganisme simbiotik yaitu mikroorganisme yang beinteraksi dengan tanaman seperti mikroorganisme endofit (Annonim, 2013). Mikroorganisme endofit dapat berupa bakteri atau fungi yang merupakan contoh mikroorganisme berpotensial dibidang pertanian (Silitonga, dkk., 2012).
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

Seleksi Bakteri Penambat Nitrogen Dan Penghasil Hormon IAA (Indole Acetic Acid) dan Uji Potensinya Terhadap Pertumbuhan Dan Produksi Tanaman Kedelai (Glycine max L.)

Seleksi Bakteri Penambat Nitrogen Dan Penghasil Hormon IAA (Indole Acetic Acid) dan Uji Potensinya Terhadap Pertumbuhan Dan Produksi Tanaman Kedelai (Glycine max L.)

a b Gambar 11: a IAA murni, b Supernatan bakteri IAA yang diberi reagen Salkowsky, terlihat isolat I3 memiliki warna yang lebih pekat a b Gambar 12: a Uji biokimia TSIA, peru[r]

12 Baca lebih lajut

Isolasi Dan Uji Kemampuan Bakteri Endofit Penghasil Hormon Iaa (Indole Acetic Acid) Dari Akar Tanaman Padi (Oryza sativa L.)

Isolasi Dan Uji Kemampuan Bakteri Endofit Penghasil Hormon Iaa (Indole Acetic Acid) Dari Akar Tanaman Padi (Oryza sativa L.)

Untuk mengetahui kemampuan bakteri endofit dalam menghasilkan IAA, dilakukan dengan mengkulturkan isolat yang diperoleh ke dalam media Luria Bertani cair + L- tryptophan. Biakan isolat diambil sebanyak 3 ml dengan kekeruhan setara Mc Farland (Bresson dan Borges, 2004), kemudian dimasukkan ke dalam 30 ml media Luria Bertani cair + L-tryptophan. Kultur dishaker selama enam hari pada suhu 28 0 C dan dengan kecepatan 150 rpm. Setiap dua hari sekali cairan kultur yang telah dishaker diambil sebanyak 0,1 ml untuk menghitung jumlah koloni dengan metode SPC (standart plate count) (Lay, 1994) dan dihitung jumlah CFU (colony forming units) dan diambil sebanyak 3 ml untuk menghitung kadar IAA yang dihasilkan oleh bakteri endofit. Cairan kultur tersebut disentrifugasi dengan kecepatan 5000 rpm selama 25 menit. Supernatan yang diperoleh, kemudian dipindahkan ke dalam tabung reaksi steril dan diuji kemampuannya dalam menghasilkan IAA dengan metode kolorimetri dengan pemberian reagen Salkowski (Patten dan Glick, 2002) dengan perbandingan 2:1 (supernatan:salkowski) (Zahir et al, 1997). Campuran tersebut diinkubasi selama 60 menit dan absorbannya diukur dengan spektrofotometer dengan panjang gelombang 530 nm. Konsentrasi IAA dari setiap isolat dapat diketahui dengan cara memasukkan nilai absorban supernatan ke persamaan garis kurva standart IAA yang telah diperoleh.
Baca lebih lanjut

43 Baca lebih lajut

Khamir Penghasil Indole-3-Acetic Acid dari Rhizosfer Anggrek Tanah Pecteilis susannae (L.) Rafin

Khamir Penghasil Indole-3-Acetic Acid dari Rhizosfer Anggrek Tanah Pecteilis susannae (L.) Rafin

0,25 mm) berukuran 5 x 10 cm. Larutan IAA sintetik (200 μg/ml) ditotolkan pada lempeng silika gel sebagai pembanding. Totolan antar sampel pada lempeng silika gel dibuat dengan jarak ±1 cm. Lempeng tersebut dimasukkan ke dalam chamber yang tertutup rapat berisi eluen etil asetat: kloroform: formic acid dengan perbandingan 55:35:10 (v/v/v). Spot yang terbentuk kemudian diamati dibawah sinar UV λ254 dan λ365 (Ahmad et al., 2005).

7 Baca lebih lajut

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kedelai - Seleksi Bakteri Penambat Nitrogen Dan Penghasil Hormon IAA (Indole Acetic Acid) dan Uji Potensinya Terhadap Pertumbuhan Dan Produksi Tanaman Kedelai (Glycine max L.)

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kedelai - Seleksi Bakteri Penambat Nitrogen Dan Penghasil Hormon IAA (Indole Acetic Acid) dan Uji Potensinya Terhadap Pertumbuhan Dan Produksi Tanaman Kedelai (Glycine max L.)

Rizosfer merupakan daerah yang ideal bagi tumbuh dan berkembangnya mikroorganisme tanah. Keadaan ini didukung oleh fungsinya, yaitu sebagai penyedia nutrisi dan juga sebagai tempat tumbuh dan berkembangnya mikroorganisme. Beberapa macam nutrisi disekresikan di dalam rizosfer, yang sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan di dalam tanah. Beberapa bakteri penyedia hara yang terdapat pada rizosfer akar disebut sebagai rhizobakteri pemacu tanaman atau dikenal sebagai PGPR (Basan & Holguin, 1998).

6 Baca lebih lajut

Konstruksi Mutan Pseudomonas sp. untuk Meningkatkan Produksi Indole Acetic Acid (IAA) melalui Mutagenesis dengan Transposon

Konstruksi Mutan Pseudomonas sp. untuk Meningkatkan Produksi Indole Acetic Acid (IAA) melalui Mutagenesis dengan Transposon

Melalui mutagenesis dengan transposon ini tidak didapatkan mutan yang tidak menghasilkan IAA. Hal ini diduga karena banyaknya jalur sintesis yang digunakan dalam produksi IAA yang mungkin dimiliki oleh genus Pseudomonas. Jika salah satu jalur saja terhambat karena salah satu gen yang berperan dalam jalur tersebut tidak dapat diekspresikan akibat penyisipan transposon, maka bakteri penghasil IAA dapat mengambil jalur sintesis alternatif. Hal serupa juga ditemui dalam penelitian Pratiwi et al. (2001), yang mendapatkan mutan-mutan Azospirillum braziliense dengan produksi IAA lebih tinggi dan lebih rendah melalui mutagenesis dengan transposon.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

UJI AKTIVITAS BAKTERI RIZOSFER DAN ENDOFIT ASAL TANAMAN PADI (Oryza sativa L.) DARI SAWAH ORGANIK KECAMATAN SAMBI DAN MOJOSONGO KABUPATEN BOYOLALI DALAM MENGHASILKAN HORMON INDOLE ACETIC ACID (IAA).

UJI AKTIVITAS BAKTERI RIZOSFER DAN ENDOFIT ASAL TANAMAN PADI (Oryza sativa L.) DARI SAWAH ORGANIK KECAMATAN SAMBI DAN MOJOSONGO KABUPATEN BOYOLALI DALAM MENGHASILKAN HORMON INDOLE ACETIC ACID (IAA).

Kebutuhan beras di Indonesia sangat tinggi sedangkan beras yang dihasilkan masih kurang. Produksi beras yang dihasilkan dipengaruhi oleh pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Pertumbuhan tanaman dapat dipacu oleh mikroorganisme tanah di daerah perakaran. Bakteri rizosfer dan endofit dapat menghasilkan hormon indole acetic acid (IAA). Bakteri penghasil IAA dapat digunakan sebagai agen pupuk hayati dalam pertanian organik. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan isolat bakteri rizosfer dan endofit yang memiliki kemampuan menghasilkan IAA dari sawah organik di Kecamatan Sambi dan Mojosongo Kabupaten Boyolali, dan mengetahui berapa IAA paling banyak yang dapat dihasilkan isolat yang didapat. Bakteri endofit diperoleh dari akar tanaman padi yang disterilisasi permukaan menggunakan alkohol 70%, larutan HgCl 2 0,1%,
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

MULTIPLIKASI TUNAS PISANG AMBON KUNING SEBAGAI RESPONS TERHADAP KONSENTRASI BENZYLADENINE DAN INDOLE-3-ACETIC ACID

MULTIPLIKASI TUNAS PISANG AMBON KUNING SEBAGAI RESPONS TERHADAP KONSENTRASI BENZYLADENINE DAN INDOLE-3-ACETIC ACID

Penulis dilahirkan di Bandar Lampung pada tanggal 11 Januari 1990. Penulis merupakan anak pertama dari empat bersaudara dari pasangan Bapak Suryantoro dan Ibu Samsurah. Penulis menyelesaikan pendidikan prasekolah di Taman Kanak-Kanak (TK) Dharma Wanita Bumi Dipasena Mulia Lampung Utara (1995). Penulis kemudian melanjutkan pendidikan di Sekolah Dasar (SD) Negeri 2 Air Kubang Kabupaten Tanggamus (2001), Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 19 Bandar Lampung (2004), dan Sekolah Menengah Atas (SMA) Al- Azhar 3 Bandar Lampung (2007). Pada tahun 2007, penulis diterima sebagai mahasiswa Program Studi Agroteknologi Konsentrasi Hortikultura Fakultas Pertanian Universitas Lampung melalui jalur Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) dan pada tahun 2008 di integrasikan pada program studi Agroteknologi.
Baca lebih lanjut

49 Baca lebih lajut

SELEKSI BAKTERI PENAMBAT NITROGEN DAN PENGHASIL HORMON IAA (Indole Acetic Acid) DAN UJI POTENSINYA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN KEDELAI (Glycine max L.) SKRIPSI RATNA SARI TARIGAN

SELEKSI BAKTERI PENAMBAT NITROGEN DAN PENGHASIL HORMON IAA (Indole Acetic Acid) DAN UJI POTENSINYA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN KEDELAI (Glycine max L.) SKRIPSI RATNA SARI TARIGAN

Pertumbuhan Secara In-vitro 17 4.3 Isolasi dan Karakterisasi Bakteri Penambat Nitrogen 20 4.4 Uji Kemampuan Bakteri dalam Menambat Nitrogen 22 4.5 Uji Sinergis Bakteri IAA dengan Bakteri Penambat Nitrogen 24 4.6 Pengaruh Bakteri IAA dan Penambat Nitrogen dalam Mendukung

13 Baca lebih lajut

Pengujian Potensi Bakteri Penghasil Indole-3-Acetic Acid (Iaa) Asal Tanah Batuan Kapur Pada Penanaman Lamtoro (Leucaena Leucocephala)

Pengujian Potensi Bakteri Penghasil Indole-3-Acetic Acid (Iaa) Asal Tanah Batuan Kapur Pada Penanaman Lamtoro (Leucaena Leucocephala)

Selain panjang akar primer, IAA juga mempengaruhi jumlah akar lateral. Respon tanaman lamtoro terhadap pemberian inokulum bakteri cenderung positif. Hal tersebut ditunjukkan oleh semua perlakuan dengan yang disiram bakteri relatif berbeda dengan kontrol. IAA membantu proses perpanjangan akar dengan memperbanyak rambut akar dan akar lateral (Datta dan Basu 2000). Parameter diameter akar primer yang diukur saat panen menunjukkan hasil yang sama besar sekitar 0,3 cm. hal tersebut menunjukkan bahwa IAA yang dihasilkan bakteri relatif tidak berpengaruh pada pembesaran diameter akar primer, hal tersebut dikarenakan pertambahan besar dipengaruhi oleh ZPT utama yaitu giberelin (Wattimena 1998).
Baca lebih lanjut

28 Baca lebih lajut

Isolasi Dan Uji Kemampuan Bakteri Endofit Penghasil Hormon IAA (Indole Acetic Acid) Dari Akar Tanaman Jagung (Zea mays L.)

Isolasi Dan Uji Kemampuan Bakteri Endofit Penghasil Hormon IAA (Indole Acetic Acid) Dari Akar Tanaman Jagung (Zea mays L.)

Siklus konversi Tryptofan ke IAA melibatkan deaminasi, dekarboksilasi, dan atau reaksi hidrolisis. Pada tanaman tingkat tinggi dan beberapa mikroorganisme, siklus indo le-3-pyruvic acid (IpyA) merupakan salah satu sintesis IAA utama, sedangkan siklus lain juga berjalan pada setiap spesies seperti siklus indole-3- acetamide, siklus Tryptamin dan siklus indole-3-acetonitrile. Tryptamin sebagai salah satu zat organik, merupakan salah satu zat yang terbentuk dalam biosintesis IAA. Menurut Thimann & Mahadevan 1958 dalam Aslamyah (2002)., zat tersebut atas bantuan enzim nitrilase dapat membentuk auksin. Formasi IpyA ke Trp dikatalis oleh multispesifik aminotransferase, diikuti oleh proses dekarboksilasi secara enzimatis ke indole-3-acetaldehyde (IAAld), kemudian dioksidasi oleh IAAld oxidase ke IAA. Sebagai reaksi sampingan, IpyA direduksi menjadi indole-3-lactic acid (ILA) oleh lactate dehydrogenase, yang menghendaki NADH. Dan Indole-3-ethanol (TOL) merupakan produk dari reaksi samping IAAld (Lee et al, 2004). Ahli lainnya (Cmelin & Virtanen, 1961 dalam Aslamyah, 2002) menerangkan bahwa Indoleacetonitrile yang terdapat pada tanaman, terbentuk dari Glucobrassicin dengan aktivitas enzim Myrosinase. Dan zat organik lain (Indole ethanol) yang terbentuk dari Trypthopan dalam biosintesis IAA adalah atas bantuan bakteri (Rayle & Purves, 1976 dalam Aslamyah, 2002).
Baca lebih lanjut

50 Baca lebih lajut

Karakterisasi Bakteri Penambat Nitrogen Dan Penghasil Indole-3-Acetic Acid Serta Aplikasinya Pada Bibit Kelapa Sawit (Elaeis Guineensis Jacq.)

Karakterisasi Bakteri Penambat Nitrogen Dan Penghasil Indole-3-Acetic Acid Serta Aplikasinya Pada Bibit Kelapa Sawit (Elaeis Guineensis Jacq.)

Aplikasi pupuk hayati pada pembibitan tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) merupakan salah satu upaya untuk membentuk interaksi antara mikroorganisme dan tanaman. Tanaman kelapa sawit merupakan jenis tanaman perkebunan yang memiliki banyak keunggulan. Upaya peningkatan produktivitas tanaman kelapa sawit perlu dilakukan mengingat besarnya prospek kelapa sawit di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengkarakterisasi bakteri penambat nitrogen dan penghasil IAA serta melihat pengaruhnya dalam memacu pertumbuhan bibit kelapa sawit. Metode yang dilakukan meliputi amplifikasi gen 16S rRNA, uji hipersensitivitas pada daun tembakau, analisis IAA meliputi optimasi produksi IAA optimum pada pengukuran pertumbuhan bakteri uji serta pengukuran IAA secara kualitatif dan kuantitatif menggunakan metode kolorimetri dan HPLC, serta aplikasi bakteri penambat nitrogen dan penghasil IAA pada kecambah sawit yang telah pecah masa dormansinya hingga 90 HST.
Baca lebih lanjut

49 Baca lebih lajut

Uji Pelarutan Fosfat, Produksi Siderofor dan Identifikasi Bakteri Penghasil IAA (Indole Acetic Acid) yang Diisolasi dari Rizosfer Padi.

Uji Pelarutan Fosfat, Produksi Siderofor dan Identifikasi Bakteri Penghasil IAA (Indole Acetic Acid) yang Diisolasi dari Rizosfer Padi.

Pelarutan fosfat anorganik ditentukan dengan media Pikovskaya. Produksi siderofor diuji dengan pemberian reagen Hathway. Parameter yang diukur adalah kemampuan bakteri rizosfer dalam melarutkan fosfat anorganik dan menghasilkan siderofor. Analisis data dilakukan dengan uji statistik analisis varian (ANOVA), kemudian dilanjutkan dengan uji DMRT.

5 Baca lebih lajut

AKTIVITAS FITOHORMON INDOLE-3-ACETIC ACID (IAA) DARI BEBERAPA ISOLAT BAKTERI RIZOSFER DAN ENDOFIT

AKTIVITAS FITOHORMON INDOLE-3-ACETIC ACID (IAA) DARI BEBERAPA ISOLAT BAKTERI RIZOSFER DAN ENDOFIT

Mikroba endofit merupakan mikroba yang seluruh siklus hidupnya berada dalam jaringan tanaman. Jenisnya dapat berupa bakteri, jamur, yeast dan actinomycetes. Mikroba masuk ke dalam jaringan tanaman dengan bermacam-macam cara, seperti melalui luka pada jaringan tanaman, stomata daun, maupun melalui pori-pori akar. Menurut Kutschera (2007) bakteri dapat masuk ke dalam jaringan daun tanaman bunga matahari melalui stomatum dan akhirnya hidup sebagai bakteri endofit. Sejumlah mikroba endofit diketahui secara nyata dapat memproduksi fitohormon terutama auksin jenis IAA. Tanaman inang yang ditumbuhi mikroba endofit mempunyai banyak keuntungan, seperti mempercepat pertumbuhan, meningkatkan daya tahan terhadap kekeringan dan serangan hama. Tugas tanaman inang hanyalah menyediakan kebutuhan nutrisi bagi mikroba endofitnya. Kondisi tanaman inang, keadaan tanah, suhu dan kelembaban sangat berpengaruh terhadap jumlah dan jenis mikroba endofit. Keberadaan mikroba endofit pada tanaman membantu tanaman berkompetisi di alam.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Isolasi dan Karakterisasi Bakteri Penghasil Indole-3-Acetic Acid (IAA) yang Berasal dari Area Penambangan Batu Kapur.

Isolasi dan Karakterisasi Bakteri Penghasil Indole-3-Acetic Acid (IAA) yang Berasal dari Area Penambangan Batu Kapur.

Tanaman reklamasi membutuhkan suatu zat pemacu pertumbuhan agar dapat hidup dengan baik pada tanah bekas tambang. Rizobakter sebagai agensia pemacu pertumbuhan tanaman (Plant Growth-Promoting Rhizobacteria/ PGPR) dapat digunakan untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman reklamasi batu kapur. PGPR indigenus tanah tambang batu kapur lebih mudah beradaptasi bila diaplikasikan ke lingkungan aslinya, seperti aplikasi bakteri pelarut fosfat asal tambang batuan kapur Cirebon pada bibit tanaman akasia (Mubarik et al. 2014). Mekanisme PGPR dalam memacu pertumbuhan tanaman salah satunya dengan mensekresikan zat pemacu tumbuh tanaman seperti Indole-3-acetic acid (IAA).
Baca lebih lanjut

32 Baca lebih lajut

Isolasi Dan Identifikasi Bakteri Penambat Nitrogen Dan Penghasil Indole Acetic Acid Dari Tanah Perkebunan Kelapa Sawit, Jambi.

Isolasi Dan Identifikasi Bakteri Penambat Nitrogen Dan Penghasil Indole Acetic Acid Dari Tanah Perkebunan Kelapa Sawit, Jambi.

DNA genom hasil ekstraksi yang diperoleh digunakan untuk mengamplifikasi gen 16S rRNA. Amplifikasi gen 16S rRNA menggunakan mesin Polymerase Chain Reaction (PCR) dengan primer 63F (5’ -CAG GCC TAA CAC ATG CAA GTC-3 ’ ) dan 1γ87R (5’ -GGG CGG WGT GTA CAA GGC- γ’) (Marchesi et al. 1998). Volume reaksi PCR yang digunakan sebanyak 25 µL yang terdiri atas 12,5µL of GoTag Green Master Mix 2X (Promega, Madison, W1, USA); 2,5 µL primer 63F dan 1387R (kosentrasi 10 pmol); 6,5 µL Nuclease Free Water dan 1 µL DNA genom sebagai template. Kondisi mesin PCR yang digunakan yaitu pre-denaturation (95 o C selama 5 menit), annealing (55 o C selama 1 menit), elongation (72 o C selama 1.5 menit), dan extension (72 o C selama 10 menit) sebanyak 30 siklus. Produk hasil PCR divisualisasi dengan menggunakan mesin elektroforesis pada 1 % (w/v) gel agarosa (Lampiran 2) dengan tegangan 80 Volt selama 45 menit. Visualisasi DNA dilakukan di atas UV transiluminator menggunakan pewarna Ethidium Bromida (EtBr).
Baca lebih lanjut

49 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...