Top PDF Sintesis dan karakterisasi zeolit Y dari lumpur lapindo dengan variasi suhu hidrotermal menggunakan metode sol-gel

Sintesis dan karakterisasi zeolit Y dari lumpur lapindo dengan variasi suhu hidrotermal menggunakan metode sol-gel

Sintesis dan karakterisasi zeolit Y dari lumpur lapindo dengan variasi suhu hidrotermal menggunakan metode sol-gel

Alhamdulillahirabbil’alamin, segala puji bagi Allah SWT pencipta seluruh alam semesta yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi berjudul “Sintesis dan Karakterisasi Zeolit Y dari Lumpur Lapindo dengan Variasi Suhu Hidrotermal Menggunakan Metode Sol- Gel” sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sains (S.Si). Penulis menyadari bahwa dalam penyelesaian skripsi ini masih terdapat banyak kesalahan dan kekurangan, akan tetapi semoga segala usaha yang telah dilakukan dapat bermanfaat bagi semua, sebagai ilmu yang bermanfaat dan barokah.
Baca lebih lanjut

116 Baca lebih lajut

SINTESIS DAN KARAKTERISASI ZEOLIT Y DARI ABU AMPAS TEBU VARIASI RASIO MOLAR SiO2 Al2O3 DENGAN METODE SOL GEL HIDROTERMAL Alifatuz Zahro, Suci Amalia, Tri Kustono Adi, Nur Aini

SINTESIS DAN KARAKTERISASI ZEOLIT Y DARI ABU AMPAS TEBU VARIASI RASIO MOLAR SiO2 Al2O3 DENGAN METODE SOL GEL HIDROTERMAL Alifatuz Zahro, Suci Amalia, Tri Kustono Adi, Nur Aini

cuplikan dihaluskan hingga menjadi serbuk yang halus, kemudian ditempatkan pada preparat dan dipress dengan alat pengepres. Selanjutnya, ditempatkan pada sampel holder dan disinari dengan sinar-X pada sudut 2θ sebesar 10 -50º (Rahman, 2009). Karakterisasi padatan sampel dengan difraksi sinar-X (XDR JEOL JDX-3530 X- ray Diffractometer) menggunakan radiasi Cu- Kα pada panjang gelombang λ = 1,541 Å, voltase 40 kV, dan arus 30 mA dengan rentang sudut 2θ = 5– 50º.

10 Baca lebih lajut

Sintesis dan karakterisasi nanozeolit X dari abu sekam padi menggunakan variasi suhu hidrotermal

Sintesis dan karakterisasi nanozeolit X dari abu sekam padi menggunakan variasi suhu hidrotermal

NaAl(OH) 4(aq) + Na 2 SiO 3(aq) [Na x (AlO 2 ) y (SiO 2 ) z •bH 2 O] (gel) ................ (4.8) Selanjutnya hasil dari pemeraman dilakukan proses hidrotermal pada variasi suhu 70, 85 dan 100 °C selama 48 jam. Proses hidrotermal ini bertujuan untuk menyeragamkan kristal yang terbentuk dan menyempurnakan pertumbuhan kristal zeolit. Tahap pembentukan kristal ini, gel amorf akan mengalami penataan ulang struktur membentuk susunan yang lebih teratur, hal ini dikarenakan adanya suatu proses pemanasan sehingga dapat terbentuk embrio inti kristal. Pada keadaan ini terjadi kesetimbangan antara embrio inti kristal, gel amorf sisa, dan larutan lewat jenuh pada keadaan metastabil. Jika gel amorf sisa larut kembali, maka akan terjadi pertumbuhan kristal dari embrio inti tersebut sampai gel amorf sisa habis dan terbentuk kristal dalam keadaan stabil (Warsito, dkk., 2008). Berikut merupakan reaksi yang terjadi pada proses hidrotermal (Zhely dan Widiastuti, 2012):
Baca lebih lanjut

124 Baca lebih lajut

Sintesis dan karakterisasi nanozeolit Y dari abu sekam padi dengan variasi suhu hidrotermal

Sintesis dan karakterisasi nanozeolit Y dari abu sekam padi dengan variasi suhu hidrotermal

Zeolit Y juga berhasil disintesis oleh Fathizadeh dan Ordou (2011). Sintesis dilakukan dengan menggunakan metode sol-gel dan proses hidrotermal dengan variasi pH. Waktu pemeraman yang digunakan yaitu selama 24 jam pada suhu ruang. Berdasarkan hasil yang diperoleh, gel dapat terbentuk ketika pH diatas 12,6. Gel yang terbentuk dikristalisasi pada suhu 100°C selama 7 jam. Hasil yang diperoleh yaitu zeolit Y dengan kristalinitas yang tinggi. Pada kondisi basa yang cukup tinggi, kelarutan prekursor akan meningkat sehingga reaksi hidrolisis dan proses nukleasi menjadi penentu laju serta reaksi kondensasi menjadi lebih dominan. Dengan demikian, molekul prekursor akan mengalami penggumpalan membentuk gel. Sebaliknya, pada kondisi asam reaksi kondensasi tidak berjalan sempurna sehingga gel tidak dapat terbentuk (Sinko, 2010).
Baca lebih lanjut

108 Baca lebih lajut

SINTESIS DAN KARAKTERISASI ZEOLIT Y DARI ABU AMPAS TEBU VARIASI RASIO MOLAR SiO 2 /Al 2 O 3 DENGAN METODE SOL GEL HIDROTERMAL

SINTESIS DAN KARAKTERISASI ZEOLIT Y DARI ABU AMPAS TEBU VARIASI RASIO MOLAR SiO 2 /Al 2 O 3 DENGAN METODE SOL GEL HIDROTERMAL

Pada struktur zeolit diketahui karakter aluminosilikat terdapat jaringan internal dan eksternal, yang merupakan jaringan internal zeolit ditunjukkan pada daerah serapan sekitar 500-420 cm -1 , 820- 650 cm -1 , dan 1250-950 cm -1 . Daerah serapan sekitar 820-650 cm -1 mewakili vibrasi ulur simetri O-Si-O dan O-Al-O, sedangkan daerah serapan sekitar 1250-950 cm -1 mewakili vibrasi ulur asimetri, serta vibrasi tekuk dari Si-O dan Al-O pada kerangka aluminosilikat pada zeolit muncul pada daerah serapan 500-420 cm -1 . Spektra pada daerah-daerah tersebut ditunjukkan oleh semua sampel zeolit yang dianalisis. Cincin ganda merupakan karakter kerangka zeolit pada jaringan eksternal antara lapisan zeolit satu dengan yang lainnya. Karakter spesifik cincin ganda tersebut ditunjukkan pada daerah serapan 650-500 cm -1 . Serapan pada daerah 650-500 cm -1 juga ditunjukkan pada semua sampel. Adanya vibrasi ulur dan tekuk tersebut menunjukkan telah terbentuknya kerangka aluminosilikat
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

SINTESIS DAN KARAKTERISASI Au-SiO2 MENGGUNAKAN SILICA GEL DENGAN VARIASI pH

SINTESIS DAN KARAKTERISASI Au-SiO2 MENGGUNAKAN SILICA GEL DENGAN VARIASI pH

dicampurkan dengan 30 mL larutan Au kemudian ditambahkan dengan larutan silica gel, pH akhir pencampuran ini adalah 10. Larutan tersebut kemudian dititrasi menggunakan HCl [2M] hingga pH 2, pH 4, pH 6, dan pH 7 dan dihasilkan endapan putih. Kemudian larutan didiamkan selama 24 jam dan disaring, serta dicuci beberapa kali dengan aquadest untuk menghilangkan kandungan asam, alkali dan garam. Selanjutnya didkeringkan selama 24 jam pada suhu 80 °C.

5 Baca lebih lajut

SINTESIS DAN KARAKTERISASI BAHAN PIEZOELEKTRIK RAMAH LINGKUNGAN Bi0,5Na0,5TiO3-BaTiO3 DENGAN MENGGUNAKAN METODE SOL GEL DAN SOLID STATE REACTION.

SINTESIS DAN KARAKTERISASI BAHAN PIEZOELEKTRIK RAMAH LINGKUNGAN Bi0,5Na0,5TiO3-BaTiO3 DENGAN MENGGUNAKAN METODE SOL GEL DAN SOLID STATE REACTION.

metode solid state reaction dengan bahan dasar BNT dan BT yang disintesis dengan metoda sol-gel. Produk hasil sintesis selanjutnya dikarakterisasi dengan menggunakan XRD untuk mengidentifikasi fasa dan struktur kristal. Sedangkan morfologi permukaan dan komposisi dianalisis dengan SEM – EDX. Pada sintesis BNT, dilakukan pengaturan kondisi proses diantaranya memvariasikan temperatur sintering yaitu 400, 500, 600, 700 dan 800 o C. Dari hasil pola XRD, menunjukkan temperatur optimum sintesis BNT adalah pada temperatur sintering suhu 800 o C selama 4 jam. Untuk sintesis BT dengan metode sol-gel dilakukan variasi temperatur sintering 600, 800 dan 1000 o C serta temperatur sintering 1000 o C yang disertai pemberian tekanan 3500 Psi. Dari hasil pola XRD, menunjukkan temperatur optimum sintesis BT adalah pada temperatur sintering suhu 1000 o C selama 4 jam. Selanjutnya, pada sintesis BNT-BT dengan metode solid state reaction juga dilakukan variasi perbandingan komposisi BNT:BT yaitu 93:7 dan 75:25. Dari analisa pola difraksi XRD, kedua perbandingan komposisi tersebut memperlihatkan struktur yang berbeda. Komposisi 93:7 memperlihatkan struktur rombohedral sedangkan komposisi 75:25 memperlihatkan struktur tetragonal.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Sintesis dan Karakterisasi Nanopartikel Zno Doped Cu2+ melalui Metoda Sol-gel

Sintesis dan Karakterisasi Nanopartikel Zno Doped Cu2+ melalui Metoda Sol-gel

Penelitian mengenai sintesis nanopartikel ZnO undoped dan doped Cu 2+ telah dilakukan melalui metoda sol-gel, dengan menggunakan zink (II) asetat dihidrat sebagai prekursor, isopropanol sebagai pelarut, dan monoethanolamin sebagai zat aditif. Tujuan penelitian ini adalah menentukan struktur, ukuran partikel, spektra FTIR dan band gap, serta menjelaskan morfologi permukaan ZnO doped Cu 2+ . Pada penelitian ini dilakukan penambahan dopan Cu 2+ dengan variasi konsentrasi 3%.. Nanopartikel ZnO undoped dan doped Cu 2+ diperoleh dari hasil pengeringan sol Zn(OH) 2 pada suhu 110 ℃ selama 1 jam dan dikalsinasi pada suhu 500 ℃ selama 2 jam. Nanopartikel ZnO undoped dan doped Cu 2+ dikarakterisasi menggunakan FTIR, UV-DRS, XRD, dan SEM. Analisa spektra FTIR menunjukkan serapan pada bilangan gelombang 475-575 cm -1 untuk ZnO undoped, regangan Zn-O dalam ZnO doped Cu 2+ pada daerah bilangan gelombang 470 cm -1 , dan regangan Zn-O-Cu pada daerah bilangan gelombang 564 cm -1 . Nilai band gap ZnO undoped dan doped Cu 2+ yaitu ZnO undoped (3,1 eV), dan ZnO doped Cu 2+ 3% (3,00 eV). Analisa menggunakan XRD menunjukkan beberapa puncak spesifik ZnO undoped dan doped Cu 2+ dengan struktur kristal heksagonal wurzite dan ukuran kristal ZnO undoped berkisar antara 38-74 nm, ZnO doped Cu 2+ 3% dan berkisar antara 45-101 nm. Mikrostruktur ZnO doped Cu 2+ memberikan bentuk morfologi bulat (spheric) dengan ukuran diameternya sekitar 1-2 .
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

SINTESIS DAN KARAKTERISASI TiO 2 TERDADAH NITROGEN MELALUI METODE HIDROTERMAL DENGAN VARIASI TEMPERATUR DAN KALSINASI

SINTESIS DAN KARAKTERISASI TiO 2 TERDADAH NITROGEN MELALUI METODE HIDROTERMAL DENGAN VARIASI TEMPERATUR DAN KALSINASI

rasio fase anatase dan rutile. Rasio fase rutile mengalami penurunan pada sintesis dengan temperatur hidrotermal 120°C namun mengalami kenaikan pada sistesis dengan temperatur hidrotermal 150°C, sedangkan rasio fase anatase menurun seriring dengan naiknya temperature hidrotermal. Kenaikan temperatur hidrotemal yang diikuti dengan proses kalsinasi pada temperatur 450°C juga menyebabkan parameter kisi cenderung naik.

12 Baca lebih lajut

SINTESIS NANOPARTIKEL CdS MENGGUNAKAN AMILUM SEBAGAI CAPPING AGENT DENGAN METODE SOL-GEL.

SINTESIS NANOPARTIKEL CdS MENGGUNAKAN AMILUM SEBAGAI CAPPING AGENT DENGAN METODE SOL-GEL.

Penelitian ini bertujuan untuk mensintesis CdS dengan metode sol-gel menggunakan amilum sebagai capping agent untuk mempelajari pengaruh amilum terhadap ukuran partikel, energi celah pita dan mempelajari pengaruh variasi konsentrasi amilum terhadap struktur dan karakter elektronik CdS.

1 Baca lebih lajut

MENGGUNAKAN METODE SOL GEL DENGAN VARIASI pH DAN TEMPERATUR PENGERINGAN

MENGGUNAKAN METODE SOL GEL DENGAN VARIASI pH DAN TEMPERATUR PENGERINGAN

Kemudian percobaan dilakukan dengan mencampurkan ketiga prekursor tersebut berdasarkan stoikiometri. Selain mendapatkan ukuran yang optimum dan homogen, metode ini mempersingkat sekaligus mempermudah proses sintesis serbuk LFP. Dengan melarutkan batu besi ke dalam HCl kemudian menyaringnya. Karena material yang tidak bisa larut tidak memiliki sifat seperti besi yang larut pada asam kuat, otomatis material pengotor akan terseparasi melalui saringan. Proses pelarutan batu, menghilangkan proses pemurnian batu yang dilakukan oleh tim riset sebelumnya dengan penghancuran batu menjadi pasir, sieving, dan pencucian menggunakan ultrasonic cleaner. Selain itu proses pencampuran bahan memerlukan waktu yang lebih singkat yaitu 1,5 jam untuk mendapatkan ukuran yang optimum dan homogen.
Baca lebih lanjut

49 Baca lebih lajut

PENGARUH PELARUT DAN SUHU DALAM SINTESIS NANOPARTIKEL SENG OKSIDA (ZnO) DENGAN METODE SOL GEL.

PENGARUH PELARUT DAN SUHU DALAM SINTESIS NANOPARTIKEL SENG OKSIDA (ZnO) DENGAN METODE SOL GEL.

ZnO merupakan material yang saat ini banyak menarik perhatian karena dapat digunakan pada berbagai aplikasi, antara lain sebagai devais mikroelektronik, katalis, plastik, biosensor, mereduksi polusi, baterai, semen, keramik, kaca, pulpdent (semen untuk menambal lubang gigi), pelumas, karet (misalnya untuk karet ban), pigmen maupun aditif pada kosmetik. Sintesis partikel ZnO dengan proses pelarutan dapat dilakukan menggunakan prekursor metal organik antara lain seng asetil asetonat, seng asetat, seng naftenat, seng nitrat dan seng klorida. Permasalahan yang banyak terjadi dalam sintesis partikel ZnO menggunakan proses pelarutan adalah rendahnya produk yang dihasilkan, ukuran partikel yang tidak homogen baik distribusi maupun bentuknya. Oleh karena itu salah satu faktor yang sangat menentukan dalam pembuatan partikel ZnO adalah pengendalian reaksi [1].
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

SINTESIS DAN KARAKTERISASI FOTOKATALIS Ni N TiO2 MENGGUNAKAN METODE SOL GEL UNTUK DEGRADASI METILEN BIRU

SINTESIS DAN KARAKTERISASI FOTOKATALIS Ni N TiO2 MENGGUNAKAN METODE SOL GEL UNTUK DEGRADASI METILEN BIRU

menembakkan permukaan benda dengan berkas elektron berenergi tinggi. SEM memiliki kemampuan yang unik untuk menganalasis permukaan suatu bahan dengan perbesaran yang sangat tinggi. Dengan SEM maka tekstur, morfologi, komposisi dan informasi kristalografi permukaan partikel dari bahan dapat diamati dengan baik. Hasil karakterisasi SEM berupa pencintraan material dengan menggunakan prinsip mikroskopi, namun menggunakan elektron sebagai sumber pencitraan dan medan elektromagnetik. Syarat agar SEM dapat menghasilkan citra permukaan yang tajam adalah permukaan benda harus bersifat sebagai pemantul elektron atau dapat melepaskan elektron sekunder ketika ditembak dengan berkas elektron.
Baca lebih lanjut

88 Baca lebih lajut

Sintesis Nanosilika dari Sekam Padi Menggunakan Metode Sol Gel dengan Pelarut Etanol

Sintesis Nanosilika dari Sekam Padi Menggunakan Metode Sol Gel dengan Pelarut Etanol

Rice husk is a byproduct of the milling process of paddy into rice. Silica can be obtained from rice husk to be utilized in various fields in the industry into high value products, one of them is nanosilica. Nanosilica can be obtained from rice husk using sol gel method with ethanol solvent. Before using sol gel method, performed insulating silica from rice husk using leaching method with citric acid solvent and combustion method. The purpose of this research is to study the effects of feed ratio (sodium silica): solvent (ethanol) and aging time on sol-gel method on the physical characteristics and morphology of nanosilica. Variations were made in the sol-gel method consists of variations in the volume of sodium silica: ethanol is 1: 9, 1:16, and 1:23. Moreover, variations of aging time is 1, 3, and 7 days. Characteristics of nanosilica were analyzed using SEM (Scanning Electron Microscope) + EDX (Energy Dispersive X-Ray) and XRD (X-Ray Diffraction). At variations of ethanol solvent, the best variety is 1:16 for providing the highest purity silica (56.85%). While at the time variation of aging, aging time for 7 days giving highest silica purity results and the smallest size diameter.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

SINTESIS KERAMIK SILIKA DARI DAUN BAMBU DENGAN TEKNIK SOL-GEL DAN KARAKTERISASI PADA SUHU KALSINASI 500 OC - 700 OC

SINTESIS KERAMIK SILIKA DARI DAUN BAMBU DENGAN TEKNIK SOL-GEL DAN KARAKTERISASI PADA SUHU KALSINASI 500 OC - 700 OC

Spectroscopy FTIR menggunakan sistem optik dengan laser yang berfungsi sebagai sumber radiasi yang kemudian diinterferensikan oleh radiasi inframerah agar sinyal radiasi yang diterima oleh detektor memiliki kualitas yang baik dan bersifat utuh (Giwangkara,2006). Prinsip kerja FTIR berupa infrared yang melewati celah kesampel, dimana celah tersebut berfungsi mengontrol jumlah energi ysng disampaikan kepada sampel. Kemudian beberapa infrared diserap oleh sampel dan yang lainnya ditransmisikan melalui permukaan sampel sehingga sinar infrared lolos ke detektor dan sinyal yang terukur kemudian dikirim kekomputer seperti yang ditunjukkan pada Gambar 3 dibawah ini (Thermo, 2001)
Baca lebih lanjut

66 Baca lebih lajut

Karakterisasi Sifat Optik Nanopartikel ZnO didoping Mn Menggunakan Metode Sol-Gel

Karakterisasi Sifat Optik Nanopartikel ZnO didoping Mn Menggunakan Metode Sol-Gel

Sintesis nanopartikel ZnO dilakukan dengan metode sol-gel. Material Zn(CH 3 COOH) 2 .H 2 O yang belum didoping seberat 2,21 g dan material Na 2 CO 3 seberat 0,53 g secara terpisah dicampurkan dengan air deionisasi sebanyak 50 ml. Larutan Na 2 CO 3 setelah itu dicampurkan dengan larutan Zn(CH 3 COOH) 2 .H 2 O untuk membentuk presipitasi berwarna putih. Larutan ini akan terbentuk sol. Presipitasi selanjutnya dipisahkan dari supernatan dengan menggunakan sentrifugasi dan kemudian dicuci dengan air deionisasi untuk menghilangkan reaksi yang tidak diinginkan, sampai kadar garam dari supernatan menjadi kurang dari 100 ppm. Presipitasi yang sudah dipisahkan dikeringkan dengan suhu ruangan dan kemudian diberi perlakuan panas pada temperatur 350°C selama 1 jam untuk memperoleh nanopartikel ZnO dengan wujud serbuk (powder).
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Aplikasi Shrinking Core Model pada Sintesis Hidroksiapatit Menggunakan Metode Hidrotermal Suhu Rendah

Aplikasi Shrinking Core Model pada Sintesis Hidroksiapatit Menggunakan Metode Hidrotermal Suhu Rendah

Pada Gambar 4, sintesis yang dilakukan pada kecepatan pengadukan100 rpm dengan suhu sintesis 90 o C dan dikalsinasi pada suhu 900°C disetiap waktu reaksi menunjukkan hampir seluruh produk yang dihasilkan adalah HA. Puncak HA dari analisa XRD memiliki nilai hkl yang mirip dengan pola karakterisasi hasil analisa XRD hidroksiapatit standar dari data JCPDS (Joint Committeeon Powder Diffraction

8 Baca lebih lajut

PENGARUH PENAMBAHAN Na2O PADA FEEDSTOCK GEL DAN VARIASI WAKTU HIDROTERMAL TERHADAP SINTESIS ZEOLIT X DARI KAOLIN BANGKA BELITUNG SECARA LANGSUNG - ITS Repository

PENGARUH PENAMBAHAN Na2O PADA FEEDSTOCK GEL DAN VARIASI WAKTU HIDROTERMAL TERHADAP SINTESIS ZEOLIT X DARI KAOLIN BANGKA BELITUNG SECARA LANGSUNG - ITS Repository

Kondisi sintesis zeolit akan mempengaruhi pori yang terbentuk dalam kerangka zeolit. Pada saat tahap pembentukan gel, perbandingan molar Si/Al harus diperhatikan karena akan menentukan struktur dan komposisi zeolit. Penelitian sebelumnya untuk sintesis zeolit X menggunakan perbandingan Si/Al yaitu Si/Al ≤ 2 (Payra dan Dutta, 2003). Bosch dkk (1983) telah berhasil melakukan sintesis zeolit X dari kaolin yang dikalsinasi. Hasil sintesis zeolit X yang optimum didapatkan pada rasio Si/Al = 2,93 dengan waktu hidrotermal 24 jam. Chandrasekhar dkk (1999) juga melakukan sintesis zeolit X dari kaolin, hasil sintesis yang optimum didapatkan saat rasio mol Si/Al = 5, dengan waktu hidrotermal selama 15 jam Selain perbandingan molar Si/Al, ada beberapa faktor lain yang mempengaruhi sintesis zeolit seperti saat pembentukan gel diusahakan pH > 10 atau berada dalam kondisi basa medium. Selain itu, suhu saat proses hidrotermal serta waktu yang dibutuhkan untuk kristalisasi zeolit juga akan mempengaruhi sintesis. Kristalisasi zeolit X dapat dilakukan pada suhu 90-110 °C (Zhang dkk., 2013).
Baca lebih lanjut

109 Baca lebih lajut

View of SINTESIS DAN KARAKTERISASI NANOPARTIKEL ZnO DOPED Cu2+ MELALUI METODA SOL-GEL

View of SINTESIS DAN KARAKTERISASI NANOPARTIKEL ZnO DOPED Cu2+ MELALUI METODA SOL-GEL

Teknik sol gel lebih umum digunakan dalam sintesis nanopartikel dan memiliki beberapa kelebihan sebagai berikut : berdasarkan produk yang dihasilkan dengan proses sol-gel diperoleh homogenitas yang lebih baik, kemurnian tinggi dan proses pembentukan kristalinitas cepat. Berdasarkan energi yang digunakan, teknik sol-gel dapat berlangsung pada suhu rendah. Oleh karena reaksi berlangsung pada suhu rendah, fasa pemisahan dan proses pembentukan kristal lebih cepat maka dari segi biaya operasional pada proses sol-gel cukup ekonomis. Dari segi lingungan proses sol- gel termasuk ramah lingkungan karena limbah yang dihasilkan cukup rendah. [14]
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects