Top PDF Standar Nasional Pendidikan Sebagai Indikator Mutu Layanan Manajemen Sekolah

Standar Nasional Pendidikan Sebagai Indikator Mutu Layanan Manajemen Sekolah

Standar Nasional Pendidikan Sebagai Indikator Mutu Layanan Manajemen Sekolah

,ULDQWR GDQ 6D¶XG PHQ\DWDNDQ EDKZD pada praktiknya tidak semua layanan manajemen sa- rana dan pasarana merupakan produk inovasi yang dapat digunakan dalam proses pendidikan. Karena itu, pengembangan dan inovasi layanan manajemen sarana dan prasarana perlu berasaskan prinsip-prinsip berikut. Relevance, artinya bahwa pengembangan dan inovasi sarana dan prasarana pendidikan harus berkesuaian dengan kebutuhan dalam penyelenggaraan pendidikan, terutama dalam penyesuaian-penyesuaian dengan kebutuhan pengembangan pengetahuan dan keterampilan ketenagaan. Manageble, artinya pengem- bangan dan inovasi sarana dan prasarana pendidikan merupakan bagian dalam pengembangan fungsi-fungsi manajemen kelembagaan. Sustainable, artinya bahwa pengembangan dan inovasi sarana dan prasarana pen- didikan harus dapat dilihat dari keberlanjutan program. Efficiency , artinya pengembangan dan inovasi sarana dan prasarana pendidikan harus memperhatikan unsur efisiensi dalam kelembagaan, tidak menyebabkan penghambur-hamburan dalam pembiayaan dan waktu. Productivity , artinya pengembangan dan inovasi sarana dan prasarana pendidikan mengacu kepada pening- katan output dan produktivitas kelembagaan pendi- dikan yang bersangkutan. Up to date, artinya pengem- bangan dan inovasi sarana dan prasarana pendidikan yang dikembangkan merupakan hal yang terbaru dalam penyelenggaraan pendidikan. Sejalan dengan prinsip- prinsip tersebut, Bafadal (2008) juga menyampaikan prinsip-prinsip dalam mengelola sarana dan prasarana pendidikan agar tujuan manajemen sarana dan pra- sarana dapat tercapai. Prinsip-prinsip tersebut yaitu prinsip pencapaian tujuan, prinsip efisiensi, prinsip administratif, prinsip kejelasan tanggung jawab, dan prinsip kekohesifan.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Pencapaian 8 (Delapan) Standar Nasional Pendidikan oleh Kepala Sekolah untuk Meningkatkan Mutu Lulusan

Pencapaian 8 (Delapan) Standar Nasional Pendidikan oleh Kepala Sekolah untuk Meningkatkan Mutu Lulusan

kematangan sikap kepribadian dan sosial, penguasaan pengetahuan, serta keterampilan yang dimiliki menjadi bahan life skill bagi siswa untuk mampu memperjuangkan kelangsungan hidupnya pada masa yang akan dihadapinya nanti, realita ini yang menjadi tolak ukur sesungguhnya. Sekolah swasta dan sekolah negeri pada prinsipnya sama-sama memiliki kelebihan dan kekurangan, akan tetapi tetap saja perbedaan mutu lulusan menjadi ukuran keberhasilan suatu manajemen sekolah yang dipandang oleh masyarakat pada umumnya. Sekolah swasta dengan leluasa untuk menyeleksi siswa yang benar-benar berkompeten untuk memperoleh mentalitas yang siap untuk berkompetisi baik dalam lingkungan sekolahnya maupun di luar sekolahnya, karena mereka pada umumnya sudah dibiasakan berkompetisi secara jujur dan mengutamakan kualitas. Kondisi ini akan memberikan dampak yang jauh lebih baik, ketimbang dampak lulus 100% dengan nilai tertinggi tapi berkompetisi secara curang dan tidak jujur.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Deskripsi Sma/smk di Kabupaten Minahasa Tenggara Berdasarkan Indikator Standar Nasional Pendidikan Berbasis Evaluasi Diri Sekolah (Standar Sarana dan Prasarana, Standar Pengelolaan, Standar Pembiayaan Pendidikan dan Standar Penilaian Pendidikan)

Deskripsi Sma/smk di Kabupaten Minahasa Tenggara Berdasarkan Indikator Standar Nasional Pendidikan Berbasis Evaluasi Diri Sekolah (Standar Sarana dan Prasarana, Standar Pengelolaan, Standar Pembiayaan Pendidikan dan Standar Penilaian Pendidikan)

Purwanto, Hatidja, dan Paendong (2015); Sepang, Hatidja dan Langi (2015), menyatakan bahwa terdapat 2 SMA dan 2 SMK di Kabupaten MITRA mempunyai mutu yang tidak memenuhi Standar Nasional Pendidikan (SNP). Peubah yang digunakan adalah 8 SNP (Standar Kompetensi Lulusan, Standar Isi, Standar Proses, Standar Tenaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Standar Sarana dan Prasarana, Standar Pengelolaan, Standar Pembiayaan Pendidikan dan Standar Penilaian Pendidikan). Namun peubah yang diukur hanya terbatas pada input (nilai siswa yang diterima), output (nilai siswa dari kelas 9 sampai dengan kelas 12), jumlah siswa,
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

MANAJEMEN SEKOLAH BERMUTU (Kontribusi Kepemimpinan Kepala Sekolah, Budaya Organisasi, Komitmen Guru dan Peranserta Masyarakat terhadap Mutu SMP Berkategori Rintisan Sekolah Standar Nasional di Kabupaten Indramayu.

MANAJEMEN SEKOLAH BERMUTU (Kontribusi Kepemimpinan Kepala Sekolah, Budaya Organisasi, Komitmen Guru dan Peranserta Masyarakat terhadap Mutu SMP Berkategori Rintisan Sekolah Standar Nasional di Kabupaten Indramayu.

Kedua, mendeskripsikan dan menganalisis data lapangan. Setelah kategori masalah penelitian mendapat eksplanasi teoretik yang memadai, selanjutnya penulis memasuki wilayah empirik guna merekam data dan informasi yang mencerminkan gambaran senyatanya mengenai masalah penelitian ini. Kemudian, dilakukan pengujian hipotesis penelitian dan pemaknaan. Pada tingkat empirik, penelitian ini ingin mengungkapkan dan memaknai hasil pengujian hipotesis mengenai hubungan determinatif antarvariabel penelitian yang dihipotesiskan. Berdasarkan pengungkapan dan pemaknaan tersebut lebih lanjut akan dikedepankan sebuah existing model hubungan kepemimpinan kepala sekolah, budaya organisasi sekolah, dan fungsi komite sekolah dengan mutu pendidikan di sekolah-sekolah yang diteliti.
Baca lebih lanjut

67 Baca lebih lajut

Penentuan Indikator Standar Pelayanan Minimal Mutu Sekolah dengan CART dan Regresi Logistik

Penentuan Indikator Standar Pelayanan Minimal Mutu Sekolah dengan CART dan Regresi Logistik

dan Regresi Logistik. Dibimbing oleh ITASIA DINA SULVIANTI dan AJI HAMIM WIGENA. Standar Pelayanan Minimal (SPM) Pendidikan Dasar merupakan tolok ukur kinerja pelayanan pendidikan dasar, baik untuk tingkat satuan pendidikan maupun untuk tingkat kabupaten/kota. Walaupun sudah ditetapkan SPM, perlu adanya evaluasi atas pencapaian mutu sekolah yang baik. Oleh karena itu, dilakukan penelitian untuk melihat hubungan antara indikator pencapaian SPM terhadap mutu sekolah (diukur melalui hasil nilai Ujian Nasional (UN) dan status akreditasi sekolah). Dalam penelitian ini peneliti menggunakan salah satu metode pohon keputusan, yaitu CART (Classification and Regression Trees), serta regresi logistik. CART digunakan untuk melihat klasifikasi peubah penjelas yang berpengaruh saja tanpa diketahui besar pengaruh pada masing-masing peubah, sedangkan regresi logistik digunakan untuk melihat besar pengaruh dari masing-masing peubah penjelas yang berpengaruh tersebut. Besar pengaruh masing-masing peubah penjelas dilihat melalui nilai dugaan rasio Odds yang dihasilkan. Berdasarkan hasil analisis, diperoleh tiga indikator SPM yang mempengaruhi nilai UN, dengan urutan indikator yang paling berpengaruh adalah ketersediaan minimal 200 buku pengayaan dan 20 buku referensi, penyampaian laporan ulangan akhir sekolah oleh Kepala SMP/MTs, dan penyampaian hasil evaluasi mata pelajaran oleh guru. Sedangkan indikator SPM yang mempengaruhi status akreditasi sekolah ada delapan indikator, dengan urutan indikator yang paling berpengaruh adalah ketersediaan minimal 200 buku pengayaan dan 20 buku referensi, menerapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, supervisi Kepala SMP/MTs, lama guru tetap bekerja per minggu ≥ 37.5 jam, adanya laporan tahunan, penyampaian laporan ulangan kenaikan kelas oleh Kepala SMP/MTs, lama jam belajar minimal 34 minggu per tahun dan 27 jam per minggu, serta komite sekolah berfungsi dengan baik.
Baca lebih lanjut

41 Baca lebih lajut

Manajemen Berbasis Sekolah (Alternatif Peningkatan Mutu Pendidikan Madrasah)

Manajemen Berbasis Sekolah (Alternatif Peningkatan Mutu Pendidikan Madrasah)

Berdasarkan paparan di atas, inti dari diberlakukannya desentralisasi dalam pendidikan adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan di setiap lembaga pendidikan. Berkaitan dengan peningkatan mutu pendidikan dalam era otonomi daerah maka beberapa hal yang perlu direkontruksi dalam pendidikan nasional adalah: pertama, upaya peningkatan mutu pendidikan dilakukan dengan menetapkan tujuan dan standar kompetensi pendidikan, yaitu melalui konsensus nasional antara pemerintah dengan seluruh lapisan masyarakat. Standar kompetensi yang mungkin akanberbeda antar sekolah atau antar daerah akan menghasilkan standar kompetensi nasional dalam tingkatan standar minimal, normal, dan unggulan. Kedua, peningkatan efesiensi pengelolaan pendidikan mengarah pada pengelolaan pendidikan berbasis sekolah, dengan memberi kepercayaan yang lebih luas kepada sekolah untuk mengoptimalkan sumber daya yang tersedia bagi tercapainya tujuan pendidikan yang diharapkan. Ketiga, peningkatan relevansi pendidikan mengarah pada pengelolaan pendidikan berbasis masyarakat. Penigkatan peran serta orang tua dan masyarakat pada level kebijakan (pengambil keputusan) dan level operasional melalui komite sekolah. Peran komite meliputi perencanaan, implementasi, monitoring, serta evaluasi program kerja sekolah.Keempat pemerataan pelayanan pendidikan mengarah pada pendidikan yang berkeadilan. Hal ini berkenaan dengan penerapan formula pembiayaan pendidikan yang adil dan transparan (Mulyasa, 2014: 7).
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Manajemen Berbasis Sekolah: Alternatif Peningkatan Mutu Pendidikan Madrasah

Manajemen Berbasis Sekolah: Alternatif Peningkatan Mutu Pendidikan Madrasah

dalam era otonomi daerah maka beberapa hal yang perlu direkontruksi dalam pendidikan nasional adalah: pertama, upaya peningkatan mutu pendidikan dilakukan dengan menetapkan tujuan dan standar kompetensi pendidikan, yaitu melalui konsensus nasional antara pemerintah dengan seluruh lapisan masyarakat. Standar kompetensi yang mungkin akan berbeda antar sekolah atau antar daerah akan menghasilkan standar kompetensi nasional dalam tingkatan standar minimal, normal, dan unggulan. Kedua, peningkatan efesiensi pengelolaan pendidikan mengarah pada pengelolaan pendidikan berbasis sekolah, dengan memberi kepercayaan yang lebih luas kepada sekolah untuk mengoptimalkan sumber daya yang tersedia bagi tercapainya tujuan pendidikan yang diharapkan. Ketiga, peningkatan relevansi pendidikan mengarah pada pengelolaan pendidikan berbasis masyarakat. Penigkatan peran serta orang tua dan masyarakat pada level kebijakan (pengambil keputusan) dan level operasional melalui komite sekolah. Peran komite meliputi perencanaan, implementasi, monitoring, serta evaluasi program kerja sekolah.Keempat pemerataan pelayanan pendidikan mengarah pada pendidikan yang berkeadilan. Hal ini berkenaan dengan penerapan formula pembiayaan pendidikan yang adil dan transparan (Mulyasa, 2014: 7).
Baca lebih lanjut

24 Baca lebih lajut

IMPLEMENTASI PELAKSANAAN 8 STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN DALAM RANGKA PENINGKATAN MUTU SEKOLAH DI SMPN 2 GEGER KAB. MADIUN

IMPLEMENTASI PELAKSANAAN 8 STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN DALAM RANGKA PENINGKATAN MUTU SEKOLAH DI SMPN 2 GEGER KAB. MADIUN

Undang-Undang (UU) Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 35 ayat 2 menyebutkan bahwa Standar Nasional Pendidikan digunakan sebagai acuan pengembangan kurikulum, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, dan pembiayaan. Standar nasional pendidikan bertujuan untuk menjamin mutu pendidikan nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat. Sedangkan fungsinya sebagai dasar dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pendidikan dalam rangka mewujudkan pendidikan nasional yang bermutu. Standar nasional pendidikan dimaksudkan untuk memacu pengelola, penyelenggara, dan satuan pendidikan agar meningkatkan kinerjanya dalam memberikan layanan pendidikan yang bermutu.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM (Studi Kasus di Sekolah Dasar Standar Nasional Muhammadiyah Parakan Temanggung Tahun 2008/2009).

MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM (Studi Kasus di Sekolah Dasar Standar Nasional Muhammadiyah Parakan Temanggung Tahun 2008/2009).

Penelitian ini menyimpulkan bahwa, pelaksanaan manajemen pendidikan Islam di SD Muhammadiyah Parakan Temanggung tahun 2008/2009 telah menerapkan kurikulum yang menyatu dengan keislaman, tenaga kependidikan yang professional, pengelolaan kesiswaan yang sesuai dengan kebutuhan anak, pengelolaan keuangan yang rapi dan transparan, sarana dan prasarana yang memadai, pengelolaan hubungan dengan masyarakat yang solid, serta layanan khusus yang memadai. SD Muhammadiyah Parakan Temanggung telah menerapkan prinsip-prinsip manajemen dalam pendidikan Islam yaitu prinsip amar ma’ruuf nahi munkar, prinsip menegakkan kebenaran, prinsip menegakkan keadilan, dan prinsip menyampaikan amanah kepada yang ahli. Adapun faktor pendukung SD Muhammadiyah Parakan di dorong oleh visi dan misi mutu menjadi sekolah unggulan di segala bidang dan faktor penghambatnya belum optimalnya dalam pelaksanaan manajerialnya.
Baca lebih lanjut

112 Baca lebih lajut

Layanan Bimbingan Konseling Di Sekolah (ditinjau dari organisasi dan manajemen pendidikan)

Layanan Bimbingan Konseling Di Sekolah (ditinjau dari organisasi dan manajemen pendidikan)

Departemen Pendidikan Nasional (Dirjen Dikdasmen) telah mengambil kebijakan guna implementasi MBS sebagai landasan dari Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). MBS adalah suatu model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah dan mendorong pengambilan keputusan partisipatif yang melibatkan secara langsung semua warga sekolah (guru, siswa, kepala sekolah, karyawan, orangtua siswa dan masyarakat) untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional (Depdiknas, 2001:3). Selanjutnya Zamroni menyatakan MBS merupakan Model suatu konsep yang menempatkan kekuasaan pengambilan keputusan yang berkaitan dengan pendidikan diletakan pada tempat yang paling dekat dengan proses belajar mengajar (sekolah), karena keputusan sekolah lebih mendekati kebenaran dan paling baik dalam arti sesuai dengan kebutuhan dan realitas sekolah yang ada. Secara umum ada tiga aspek yang sebaiknya dalam memutuskannya dilakukan oleh sekolah yakni : pengelolaan kurikulum, rekruitmen dan pengelolaan guru dan pegawai administrasi, pengelolaan keuangan sekolah (Nursisto, 2001:xii- xiii).
Baca lebih lanjut

298 Baca lebih lajut

IMPLEMENTASI PERANAN KOMITE SEKOLAH DALAM PELAKSANAAN MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH DI SEKOLAH DASAR STANDAR NASIONAL KECAMATAN LUMAJANG

IMPLEMENTASI PERANAN KOMITE SEKOLAH DALAM PELAKSANAAN MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH DI SEKOLAH DASAR STANDAR NASIONAL KECAMATAN LUMAJANG

kependidikan lainnya. Tapi kenyataan belum cukup dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Salah satu wujud aktualisasinya dibentuklah suatu badan yang mengganti keberadaan Badan Pembantu Penyelenggara Pendidikan (BP3) yakni Komite Sekolah melalui Keputusan Menteri Pendidikan Nasional nomor : 044/U/2002 tanggal 2 April 2002. Penggantian nama BP3 menjadi Komite Sekolah didasarkan atas perlunya keterlibatan masyarakat secara penuh dalam meningkatkan mutu pendidikan.

22 Baca lebih lajut

Analisis Standar Proses Sebagai Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan Nasional

Analisis Standar Proses Sebagai Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan Nasional

pembelajaran, (6) Guru melakukan pengelolaan kelas dengan baik, (7) Guru memulai pembelajaran dengan lima langkah pendahuluan; Menyiapkan siswa secara psikis dan fisik untuk mengikuti pembelajaran, memberi motivasi belajar kepada siswa, mengajukan pertanyaan yang mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari, menjelaskan tujuan pembelajaran, menyampaikan cakupan materi dan penjelasanuraian kegiatan sesuai silabus, (8) Guru menggunakan strategi pembelajaran yang sesuai karakteristik siswa dan mata pelajaran, (9) Guru menggunakan metode pembelajaran yang sesuai karakteristik siswa dan mata pelajaran (10) Guru menggunakan media pembelajaran yang sesuai karakteristik siswa dan mata pelajaran, (11) Guru menggunakan sumber belajar yang sesuai karakteristik siswa dan mata pelajaran (12) Guru menggunakan pendekatan pembelajaran yang sesuai karakteristik siswa dan mata pelajaran (13) Guru bersama siswa mengakhiri pembelajaran dengan langkah penutup meliputi; Mengevaluasi seluruh rangkaian aktivitas pembelajaran, memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran, melakukan kegiatan tindak lanjut, dan menginformasikan rencana kegiatan pembelajaran berikutnya, (14) Guru menggunakan pendekatan penilaian otentik dalam penilaian proses pembelajaran, (15) Guru memanfaatkan hasil penilaian otentik untuk merencanakan, remedial, pengayaan, pelayanan konseling, perbaikan proses pembelajaran, (16) Kepala sekolah melakukan pengawasan proses pembelajaran dengan objektiv dan transparan guna peningkatan mutu secara berkelanjutan, (17) Kepala sekolah melakukan supervisi proses pembelajaran terhadap seluruh guru setiap tahun, (18) Kepala sekolah memantau proses pembelajaran melalui; diskusi kelompok terfokus, pengamatan, pencatatan, perekaman, wawancara, pendokumentasian, (19) Kepala sekolah menindaklanjuti hasil supervisi proses pembelajaran dengan cara; pemberian contoh, diskusi, konsultasi, pelatihan, (20) Kepala sekolah menyusun; Laporan pemantauan, laporan supervisi, laporan evaluasi proses pembelajaran, program tindak lanjut, (21) Kepala sekolah melakukan tindak lanjut terhadap hasil pengawasan pembelajaran minimal satu tahun terakhir. Data yang diperoleh berupa skor ketercapaian tiap indikator dengan ketentuan tiap indikator sebagai berikut :
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

IMPLEMENTASI PERANAN KOMITE SEKOLAH DALAM PELAKSANAAN MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH DI SEKOLAH DASAR STANDAR NASIONAL KECAMATAN LUMAJANG

IMPLEMENTASI PERANAN KOMITE SEKOLAH DALAM PELAKSANAAN MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH DI SEKOLAH DASAR STANDAR NASIONAL KECAMATAN LUMAJANG

kependidikan lainnya. Tapi kenyataan belum cukup dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Salah satu wujud aktualisasinya dibentuklah suatu badan yang mengganti keberadaan Badan Pembantu Penyelenggara Pendidikan (BP3) yakni Komite Sekolah melalui Keputusan Menteri Pendidikan Nasional nomor : 044/U/2002 tanggal 2 April 2002. Penggantian nama BP3 menjadi Komite Sekolah didasarkan atas perlunya keterlibatan masyarakat secara penuh dalam meningkatkan mutu pendidikan.

22 Baca lebih lajut

Deskripsi SMA dan Smk di Kabupaten Minahasa Tenggara Berdasarkan Indikator Standar Nasional Pendidikan Berbasis Evaluasi Diri Sekolah (Standar Kompetensi Lulusan, Standar Isi, Standar Proses, Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan)

Deskripsi SMA dan Smk di Kabupaten Minahasa Tenggara Berdasarkan Indikator Standar Nasional Pendidikan Berbasis Evaluasi Diri Sekolah (Standar Kompetensi Lulusan, Standar Isi, Standar Proses, Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan)

Tujuan penelitian ini adalah: Mendeskripsikan Sekolah Menengah Atas/Sekolah Menengah Kejuruan (SMA/SMK) di Kabupaten Minahasa Tenggara berdasarkan 4 Standar Nasional Pendidikan (Standar Kompetensi Lulusan, Standar Isi, Standar Proses, Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan) yang berbasis Evaluasi Diri Sekolah (EDS). Gambaran umum SMA dan SMK berdasrkan peubah-peubah standar pendidikan diharapkan dapat memberikan informasi tentang mutu masing-masing SMA dan SMK dikabupaten Minahasa Tenggara. Penelitian ini akan dilaksanakan dengan mengambil data primer di 11 SMA/SMK yang berada di Kabupaten MITRA. Masing-masing sekolah dilakukan wawancara terhadap 5 guru dan Kepala Sekolah dengan kuisioner berbasis Evaluasi Diri Sekolah. Peubah-peubah yang diamati adalah Standar Kompetensi Lulusan, Standar Isi, Standar Proses, Standar Pendidikan dan Tenaga Kependidikan. Data akan dianlisis dengan menggunakan perangkat lunak Komputer. Hasilnya, menunjukan bahwa SMA Negeri 1 Ratahan (S2), SMA Negeri 2 Ratahan (S3), SMK Negeri 1 Ratahan (S4), SMA Negeri 1 Touluaan (S5), SMK Negeri 1 Touluaan (S6), SMA Negeri 1 Belang (S9), SMA Negeri 1 Posumaen (S10), SMK Nasional Malompar (S12) memiliki karateristik penilaian yang hampir sama pada Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Manajemen Berbasis Sekolah (Alternatif Peningkatan Mutu Pendidikan Madrasah)

Manajemen Berbasis Sekolah (Alternatif Peningkatan Mutu Pendidikan Madrasah)

Berdasarkan paparan di atas, inti dari diberlakukannya desentralisasi dalam pendidikan adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan di setiap lembaga pendidikan. Berkaitan dengan peningkatan mutu pendidikan dalam era otonomi daerah maka beberapa hal yang perlu direkontruksi dalam pendidikan nasional adalah: pertama, upaya peningkatan mutu pendidikan dilakukan dengan menetapkan tujuan dan standar kompetensi pendidikan, yaitu melalui konsensus nasional antara pemerintah dengan seluruh lapisan masyarakat. Standar kompetensi yang mungkin akanberbeda antar sekolah atau antar daerah akan menghasilkan standar kompetensi nasional dalam tingkatan standar minimal, normal, dan unggulan. Kedua, peningkatan efesiensi pengelolaan pendidikan mengarah pada pengelolaan pendidikan berbasis sekolah, dengan memberi kepercayaan yang lebih luas kepada sekolah untuk mengoptimalkan sumber daya yang tersedia bagi tercapainya tujuan pendidikan yang diharapkan. Ketiga, peningkatan relevansi pendidikan mengarah pada pengelolaan pendidikan berbasis masyarakat. Penigkatan peran serta orang tua dan masyarakat pada level kebijakan (pengambil keputusan) dan level operasional melalui komite sekolah. Peran komite meliputi perencanaan, implementasi, monitoring, serta evaluasi program kerja sekolah.Keempat pemerataan pelayanan pendidikan mengarah pada pendidikan yang berkeadilan. Hal ini berkenaan dengan penerapan formula pembiayaan pendidikan yang adil dan transparan (Mulyasa, 2014: 7).
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Implementasi manajemen berbsis sekolah sebagai upaya peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah standar nasional WARTOYO42182009

Implementasi manajemen berbsis sekolah sebagai upaya peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah standar nasional WARTOYO42182009

Peningkatan mutu pendidikan di sekolah perlu didukung kemampuan manajerial yang baik, untuk itu hubungan baik antar guru perlu diciptakan agar terjalin iklim dan suasana kerja yang kondusif dan menyenangkan. Demikian halnya penampilan fisik dan manajemen sekolah perlu dibina agar sekolah menjadi lingkungan pendidikan yang dapat menumbuhkan kreatifitas, disiplin, dan semangat belajar peserta didik. Di tambah lagi dengan adanya bantuan BOS ( Bantuan Operasional Sekolah ), Block Grant, dan sumbangan dari orang tua siswa/wali murid yang dikoordinir oleh komite sekolah berupa dana IPP ( Infak Peduli Siswa ), maka hal ini sangat membantu sekali dalam pelaksanaan MBS untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah.
Baca lebih lanjut

210 Baca lebih lajut

Capaian Standar Nasional Pendidikan Sebagai Prediktor Mutu Sekolah

Capaian Standar Nasional Pendidikan Sebagai Prediktor Mutu Sekolah

Akreditasi sekolah dapat dijadikan sebagai ukuran ketercapaian mutu suatu sekolah karena akreditasi adalah salah satu instrumen dari pemerintah untuk mengetahui kondisi mutu pendidikan baik pada tingkat kabupaten/kota, tingkat provinsi, maupun tingkat nasional. Lembaga yang mendapat mandat secara independen untuk melakukan akreditasi terhadap delapan Standar Nasional Pendidikan (SNP) pada satuan pendidikan yaitu Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (BAN S/M). Pada era sekarang ini, terhadap semua lembaga layanan masyarakat diperlukan standardisasi agar masyarakat mengetahui secara transparan mutu layanan yang dilakukan oleh suatu lembaga yang dibiayai dari anggaran negara dapat tercapai. Masyarakat harus terlindungi hak- haknya untuk mendapatkan layanan yang bermutu. Hal tersebut juga berlaku pada bidang pendidikan bahwa masyarakat mempunyai hak untuk mendapat layanan pendidikan yang bermutu. Pasal 5 Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mengamanatkan bahwa setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu (Republik Indonesia, 2003).
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

LAYANAN KONSELING DAN MUTU PENDIDIKAN

LAYANAN KONSELING DAN MUTU PENDIDIKAN

Pihak-pihak yang terkait dengan ujian nasional tersebut, misalnya siswa, guru, kepala sekolah, dan orang tua merasa cemas setiap tahunnya ketika siswa/anak menghadapi ujian nasional. Mereka cemas, khawatir, dan takut jika siswa/anaknya tidak lulus ujian nantinya. Kecemasan dan ketakutan tersebut sebagai indikator bahwa mereka (termasuk siswa) belum siap menghadapi ujian. Singkatnya, mereka (terutama guru) belum yakin bahwa proses belajar mengajar yang mereka lakukan selama ini belum cukup efektif untuk menyiapkan siswanya siap menghadapi ujian.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Kajian Prasarana Pendidikan Sekolah Dasar sebagai Salah Satu Indikator Pencapaian Standar Nasional Pendidikan

Kajian Prasarana Pendidikan Sekolah Dasar sebagai Salah Satu Indikator Pencapaian Standar Nasional Pendidikan

Pelaksanaan pendidikan nasional harus menjamin pemerataan dan peningkatan mutu pendidikan di tengah perubahan global agar warga Indonesia menjadi manusia yang ber- takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, cerdas, produktif, dan berdaya saing tinggi dalam pergaulan nasional maupun internasional. Untuk menjamin tercapainya tujuan pendidikan tersebut, pemerintah telah mengamanatkan penyusunan delapan standar nasional pendidikan sebagaimana diatur dalam PP No. 19 Tahun 2005. Standar nasional pendidikan adalah kriteria minimum tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum NKRI. Pelaksanaan pembelajaran dalam pendidikan nasional berpusat pada peserta didik agar dapat a) belajar untuk beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa; b) belajar untuk memahami dan menghayati; c) belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif; d) belajar untuk hidup bersama dan berguna bagi orang lain; dan e) belajar untuk membangun dan menemukan jati diri melalui proses belajar yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Hal ini selaras dengan hasil penelitian (Basuki, 2010) yang menyatakan bahwa terdapat: 1) pengaruh positif dan signifikan antara pemanfaatan alat pelajaran terhadap motivasi belajar siswa; 2) pengaruh yang positif dan signifikan antara pemanfaatan alat peraga terhadap motivasi belajar siswa; 3) pengaruh yang positif dan signifikan antara pemanfaatan media pengajaran terhadap motivasi belajar siswa; dan 4) pengaruh yang positif dan signifikan antara bangunan sekolah terhadap motivasi belajar siswa.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Implementasi Manajemen Sekolah Standar Nasional

Implementasi Manajemen Sekolah Standar Nasional

Pendidikan di Indonesia banyak mengalami persoalan, antara lain yang menonjol saat ini adalah mengenai mutu pendidikan yang dirasa masih kurang, pemerataan pendidikan. Dengan dana pendidikan yang terasa sangat kurang karena mengingat negeri ini sangat luas dan banyak penduduk angkatan mudah yang masih banyak membutuhkan pendidikan. Apabila dibandingkan dengan negara-negara tetangga lainnya seperti Malaysia dan Singapura maka mutu pendidikan Indonesia masih jauh dari memadai. Banyak faktor yang menyebabkan mutu pendidikan kita masih kurang tinggi, antara lain yaitu kualitas guru dan dosen yang semuanya belum professional dalam bidangnya, sarana dan prasarana sekolah, terutama laboratorium sekolah yang belum lengkap, minat siswa atau mahasiswa dalam belajar, proses pembelajaran yang belum bermutu, dan dana pendidikan yang belum mecukupi (Suparno,2008:1).
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects