Top PDF Strategi Konservatif dalam Pengelolaan Wisata Bahari di Pulau Mapur, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau

Strategi Konservatif dalam Pengelolaan Wisata Bahari di Pulau Mapur, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau

Strategi Konservatif dalam Pengelolaan Wisata Bahari di Pulau Mapur, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau

Persepsi masyarakat yang digali pada pe- nelitian ini lebih menitikberatkan pada penge- tahuan dan sikap masyarakat tentang terumbu karang, manfaat terumbu karang, pengambilan karang, pengetahuan dan sikap tentang alat tangkap dan bahan yang merusak terumbu ka- rang serta potensi pengembangan wisata bahari di Pulau Mapur. Masyarakat secara umum su- dah mengetahui dengan baik mengenai fungsi terumbu karang baik fungsi ekologis maupun fungsi ekonomisnya. Beberapa jenis alat tang- kap yang bersifat merusak terumbu karang juga telah diketahui oleh masyarakat namun belum dipahami secara mendalam oleh masyarakat khususnya nelayan. Penggunaan bom dianggap sebagai alat tangkap yang paling merusak te- rumbu karang, sedangkan alat tangkap lain se- perti bius, trawl akan memberikan dampak ke- rusakan jika digunakan secara jangka panjang. Persepsi masyarakat di Pulau Mapur tentang adanya pengembangan wisata di daerah ini sangat positif (100% responden). Dengan ada- nya pengembangan pariwisata di Pulau Mapur ini, mereka berharap dapat ikut berpartisipasi dalam kegiatan pariwisata ini, terutama dari segi tenaga kerja.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Analisis Perubahan Garis Pantai Di Pantai Timur Pulau Bintan Provinsi Kepulauan Riau

Analisis Perubahan Garis Pantai Di Pantai Timur Pulau Bintan Provinsi Kepulauan Riau

Beberapa kegiatan riset ilmiah yang pernah dilaksanakan penulis antara lain Inventarisasi Potensi Ekosistem Terumbu Karang untuk Pengembangan Ekowisata Bahari Snorkeling dan Diving di Pulau Beralas Pasir Kabupaten Bintan Provinsi Kepulauan Riau (2013), Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau- Pulau Kecil Kabupaten Lingga Provinsi Kepulauan Riau (2014), Perencanaan Pengelolaan Taman Wisata Perairan Kepulauan Padaido Kabupaten Biak Numfor Provinsi Papua (2014), Rencana Zonasi Kawasan Perbatasan Laut Provinsi Nangroe Aceh Darussalam-Provinsi Sumatera Utara (2015), Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kabupaten Palu Provinsi Sulawesi Tengah (2015) dan Analisis Perubahan Garis Pantai Timur Pulau Bintan Provinsi Kepulauan Riau (2015) yang merupakan riset ilmiah dari tesis ini.
Baca lebih lanjut

99 Baca lebih lajut

Pengelolaan Ekowisata Mangrove Di Desa Sebong Lagoi, Bintan, Kepulauan Riau

Pengelolaan Ekowisata Mangrove Di Desa Sebong Lagoi, Bintan, Kepulauan Riau

Berdasarkan peraturan daerah kabupaten Bintan No: 2 tahun 2012 tentang rencana tata ruang wilayah kabupaten Bintan tahun 2011-2031 kawasan Lagoi ditetapkan sebagai kawasan wisata bahari dan Kecamatan Teluk Sebong sebagai kawasan ekowisata, kawasan ini diarahkan untuk pengembangan wisata budaya, wisata alam, cagar alam dan wisata bahari. Saat ini kunjungan wisatawan mancanegara yang datang ke Kepulauan Riau sebagian besar masuk melalui kawasan Lagoi, Kawasan ini dengan letaknya yang strategis yaitu berdekatan dengan negara Singapura dan Malaysia merupakan potensi yang sangat dominan bagi pengembangan pariwisata di kawasan ini. Keunggulan lokasi ini dimanfaatkan oleh singapura sebagai bagian global infrastructure, melalui kerjasama Indonesia, Malaysia, Singapore-Growth Triangle (IMS-GT) pada tahun 1990 pemerintah Indonesia telah menandatangani kerjasama pengembangan Pulau Bintan dengan pemerintah Singapura, diantaranya adalah mempersiapkan lahan sebesar 23.000 ha di sepanjang pesisir Bintan Utara untuk dikembangkan oleh berbagai investor sebagai kawasan pariwisata terpadu.
Baca lebih lanjut

62 Baca lebih lajut

Potensi Wisata Bahari Pulau-pulau Kecil Di Kawasan Kapoposang Kabupaten Pangkep

Potensi Wisata Bahari Pulau-pulau Kecil Di Kawasan Kapoposang Kabupaten Pangkep

Berdasarkan kondisi di atas, dapat dika- takan bahwa kegiatan wisata bahari berbasis konservasi di Kawasan Kapoposang akan memberikan banyak manfaat. Menurut DKP (2005), secara umum pemanfaatan jasa kelaut- an wisata bahari di pulau-pulau kecil melalui penetapan kawasan konservasi laut memberi- kan manfaat antara lain: (1) Ekonomi. Kawa- san konservasi laut memiliki nilai ekonomis tinggi berupa kekayaan terumbu karang dengan segala bentuk asosiasi kehidupan bawah laut yang memiliki produktivitas dan keragaman jenis hayati yang tinggi, merupakan potensi wisata bahari yang dapat membantu mening- katkan pendapatan masyarakat lokal, penda- patan asli daerah dan devisa negara; (2) Ekologi. Kegiatan wisata bahari yang ramah lingkungan (berbasis konservasi) dapat menja- ga keseimbangan kehidupan biota laut, menja- ga hubungan timbal balik antara biota laut dan faktor abiotik, serta menjaga kepedulian manu- sia terhadap lingkungannya; (3) Estetika. Kawasan konservasi laut yang memiliki nilai keindahan sebagai daya tarik obyek wisata bahari merupakan kawasan yang potensial bagi pengembangan berbagai obyek yang menarik seperti Scuba Diving, Snorkelling, Sport Fish-
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Strategi Keberlanjutan Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Dan Wisata Bahari Pada Kawasan Pesisir Dan Pulau Pulau Kecil Kabupaten Biak Numfor

Strategi Keberlanjutan Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Dan Wisata Bahari Pada Kawasan Pesisir Dan Pulau Pulau Kecil Kabupaten Biak Numfor

Keberlanjutan ekologi merupakan penggambaran tingkat keberlanjutan pengelolaan terkait aspek ekologi/lingkungan pada Kawasan Pesisir dan Pulau- Pulau Kecil (KP3K) Kabupaten Biak Numfor. Berdasarkan hasil analisis Rapfish untuk keberlanjutan ekologi diperoleh nilai ordinasi 59,90% atau tergolong cukup berkelanjutan. Sedangkan hasil analisis leverage untuk dimensi ekologi, diperoleh 3 (tiga) atribut yang merupakan faktor pengungkit keberlanjutan, yaitui; stock ikan pelagis, kualitas perairan dan kelimpahan ikan karang yang menjadi indikator keberlanjutan yang paling utama dari berbagai atribut lainnya. Kavanagh dan Pitcher (2004) menyatakan bahwa nilai RMS menunjukkan besarnya peranan setiap atribut terhadap sensitivitas status keberlanjutan. Ketiga hal tersebut merupakan indikator paling utama dalam keberlanjutan pengelolaan KP3K Kabupaten Biak Numfor. Hal ini karena dengan kualitas perairan yang optimal serta kelimpahan ikan karang yang melimpah bisa menjadi indikasi kesehatan lingkungan secara ekologis, khususnya sumberdaya terumbu karang. Keberlanjutan ekologis ini juga ditunjang dengan stock ikan pelagis yang masih melimpah di kawasan konservasi perairan, khususnya di zona perikanan berkelanjutan, sehingga bisa menjadi tumpuan nelayan dalam menangkap ikan di luar zona inti (no take zone). Keppel et al. (2012) menyatakan bahwa keanekaragaman hayati di Pasifik tropis sangat terancam sebagai akibat dari dekade perusakan habitat dan degradasi. Penurunan stok ikan dan degradasi karang sebagai akibat metode panangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan, merupakan contoh kasus terjadinya penipisan sumberdaya pesisir. Sementara itu penurunan kualitas perairan laut atau kualitas sedimen pesisir (sebagai akibat kegiatan pertanian dan pertambangan) merupakan contoh dari terjadinya degradasi sumberdaya pesisir. Penggunaan trawler (alat tangkap ikan dasar) sebagai contoh konflik penggunaan sumberdaya pesisir dari berbagai sektor pengguna, dan menimbulkan dampak nyata terhadap stok perikanan dan terumbu karang, wisata laut dan industri perikanan (Zagonari 2008). Sebaliknya, kegiatan perikanan dan daerah rekreasi memiliki potensi terjadinya konflik antar sektor pengguna.
Baca lebih lanjut

187 Baca lebih lajut

Pemanfaatan Perikanan Tangkap untuk Pengembangan Wisata Bahari di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu

Pemanfaatan Perikanan Tangkap untuk Pengembangan Wisata Bahari di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu

Operasional bubu yang dilakukan pada pagi hari dapat dimanfaatkan untuk kegiatan tour penangkapan ikan. Wisatawan dapat melihat bagaimana urutan aktivitas nelayan mulai dari pencarian terumbu karang yang ideal untuk peletakkan bubu, pemasangan bubu, perendaman bubu (soaking), pengangkatan bubu, serta penyortiran ikan hasil tangkapan. Wisatawan yang tertarik dapat mencoba bersama nelayan untuk melakukan aktivitas tersebut, selain itu selama menunggu waktu perendaman (soaking) bubu wisatawan dapat menikmati pemandangan gugus kepulauan di Kelurahan Pulau Panggang, sehingga menjadi daya tarik tersendiri dalam melakukan tour penangkapan ikan. Wisatawan yang ingin menikmati keunikan dari operasional unit penangkapan bubu dapat menyewa dengan tarif per paket Rp400.000,00 dengan kapasitas 6 orang wisatawan. Tour bubu dalam satu hari dapat dilakukan sebanyak 2 – 3 kali, sehingga dapat menambah penghasilan nelayan sebesar Rp800.000,00 – Rp1.200.000,00 per hari setiap hari Sabtu, Minggu dan hari libur nasional.
Baca lebih lanjut

127 Baca lebih lajut

OBJEK WISATA PULAU PENYENGAT DI KOTA TANJUNGPINANG PROVINSI KEPULAUAN RIAU.

OBJEK WISATA PULAU PENYENGAT DI KOTA TANJUNGPINANG PROVINSI KEPULAUAN RIAU.

The purpose of this research is to describe and analyze about tourism objects at Penyengat Island in Tanjungpinang City Riau Islands by analyze some aspects are 1) attractiveness 2) government efforts 3) tourists. Type of this research is qualitative. This research held at Penyengat Island. The informen in this research are the head of department of tourism and culture Tanjungpinang, the head of department tourism object and attractions development, tourism object management, society, head of the youth and the tourists which were chosen by purposive sampling technique. In collecting the data, the researcher did depth interview and got some documents. The informen were determined by using analysis data techniques involve data reduction, display data, verified and trustworthiness data technique. The results, it found that 1) The attractiveness of Penyengat Island as tourism object is its role as the central of historical of Riau-Lingga kingdom that make it becomes cultural heritage. Then, as religious tourism, Penyengat Island has a mosque which was built by egg whites as the material. 2) The government have made some efforts in promoting Penyengat Island such as promote using social media, brochures and tried to make Penyengat Island become a national heritage even as a world heritage. 3) The guest aspect, it’s shown there is significant reduction of foreign tourists who come to Penyengat Island in 2014-2015 but not soon for local tourist in 2013-2014.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

BUPATI BINTAN PROVINSI KEPULAUAN RIAU PERATURAN DAERAH KABUPATEN BINTAN NOMOR 3 TAHUN 2017 TENTANG PENGELOLAAN AIR LIMBAH DOMESTIK

BUPATI BINTAN PROVINSI KEPULAUAN RIAU PERATURAN DAERAH KABUPATEN BINTAN NOMOR 3 TAHUN 2017 TENTANG PENGELOLAAN AIR LIMBAH DOMESTIK

10. SPALD Setempat yang selanjutnya disebut SPALD-S adalah sistem pengelolaan yang dilakukan dengan mengolah Air Limbah Domestik di lokasi sumber, yang selanjutnya lumpur hasil olahan diangkut dengan sarana pengangkut ke sub-sistem Pengolahan Lumpur Tinja. 11. SPALD Terpusat yang selanjutnya disebut SPALD-T adalah

44 Baca lebih lajut

Karakteristik Usaha Kambing Lokal di Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau

Karakteristik Usaha Kambing Lokal di Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau

Bioindustry agricultural development will be directed and quickly executed starting from observation and development of conditions, potential of target area of bioindustry and development of ongoing of existing technology. The purpose of this research to be able to provide important information about goat of ongoing development in Harapan Jaya Group that can be used as the starting point of the development of existing technology towards agriculture bioindustry. This research was conducted in the area bioindustry Bintan Regency, Riau Islands Province from March 2015 to June 2015. The method used in this study is descriptive analysis method. Location observations on the Harapan Jaya goat farmer group in Pokok Baru, Village Toapaya Asri, District Toapaya, Bintan Regency. Result showed that among 16 farmers, 50% maintain 11 and 20 heads, 25% maintain 21-30 heads and 19% had 31-40 heads. With this composition of ownership, it can be expected that goat technology adoption can increase to be goats bioindustry. Goat farming technology now using the system stalls stage, with goats are placed individually in a battery system. Used 5 kg fresh grass/head/day was used. Reproduction system of 83% farmers used natural mating. Income from the sale of livestock within a year is very varied, but all farmers already been sold goats with an average monthly income of Rp. 800.000.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

BUPATI BINTAN PROVINSI KEPULAUAN RIAU

BUPATI BINTAN PROVINSI KEPULAUAN RIAU

(1) Pelaksanaan pembayaran transaksi secara non tunai dimaksud untuk meningkatkan integritas, akuntabilitas dan transparansi pengelolaan keuangan daerah dalam rangka mendorong pencegahan tindak pidana korupsi dan tindak pidana pencucian uang.

10 Baca lebih lajut

BUPATI BINTAN PROVINSI KEPULAUAN RIAU

BUPATI BINTAN PROVINSI KEPULAUAN RIAU

10. Wajib Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan yang selanjutnya disebut dengan Wajib Pajak adalah orang pribadi atau badan yang secara nyata mempunyai suatu hak atas bumi dan/atau memperoleh manfaat atas Bumi, dan/atau memiliki, menguasai, dan/atau memperoleh manfaat atas Bangunan dan dikenakan kewajiban membayar pajak. 11. Pendataan Aktif adalah kegiatan pemeliharaan basis data yang dilakukan oleh DPPKD Kabupaten Bintan dengan cara mencocokkan dan menyesuaikan data objek pajak dan subjek pajak yang ada dengan keadaan sebenarnya dilapangan atau mencocokkan dan menyesuaikan nilai jual objek pajak dengan rata- rata nilai pasar yang terjadi di lapangan, pelaksanaannya sesuai dengan prosedur pembentukan basis data.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

STRATEGI PENGEMBANGAN PRASARANA DAN SARANA OBYEK WISATA BAHARI PULAU SEMBILAN DI KABUPATEN SINJAI

STRATEGI PENGEMBANGAN PRASARANA DAN SARANA OBYEK WISATA BAHARI PULAU SEMBILAN DI KABUPATEN SINJAI

Pariwisata merupakan suatu proses kepergian sementara dari seseorang atau lebih menuju tempat lain di luar tempat tinggalnya. Wisata adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan rekreasi, pengembangan pribadi, atau mempelajari keunikan daya tarik wisata yang dikunjungi dalam jangka waktu sementara. Pengembangan prasarana dan sarana merupakan suatu proses yang dinamis untuk memajukan atau meningkatkan prasarana dan sarana dengan menggunakan segala sumber daya yang ada guna mencapai kesejahteraan yang lebih baik. Perkembangan ini dapat dalam bentuk wujud fisik maupun dalam wujud mutu dalam artian kualitas atau kuantitas. Penelitian ini mengkaji jenis prasarana dan sarana wisata bahari dan strategi dalam menyediakan prasarana dan sarana kepariwisataan di Pulau Sembilan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan jenis prasarana dan sarana kepariwisataan yang dibutuhkan di Pulau Sembilan serta strategi yang dapat dilakukan dalam menyediakan prasarana dan sarana kepariwisataan di Pulau Sembilan. Alat analisis yang digunakan yaitu analisis deskriptif dan analisis SWOT. Hasil penelitian yaitu kebutuhan prasarana dan sarana kepariwisataan di Pulau Sembilan meliputi Utilitas, aksesibilitas, akomodasi, jasa pangan, dan fasilitas penunjang. Strategi pengembangan prasarana dan sarana kepariwisataan di Pulau Sembilan yaitu peningkatan kualitas dan kuantitas prasarana dan sarana penunjang kepariwisataan dengan memanfaatkan investasi.
Baca lebih lanjut

106 Baca lebih lajut

KEWENANGAN PENGELOLAAN WISATA BAHARI OLEH PEMERINTAH DESA DI KABUPATEN BADUNG (SUATU STUDI PENGELOLAAN WISATA BAHARI DI DESA PECATU)

KEWENANGAN PENGELOLAAN WISATA BAHARI OLEH PEMERINTAH DESA DI KABUPATEN BADUNG (SUATU STUDI PENGELOLAAN WISATA BAHARI DI DESA PECATU)

Salah satu kewenangan daerah kabupaten/kota yang diserahkan kepada desa adalah pariwisata. Desa Pecatu memiliki sejumlah daerah tujuan wisata bahari. Daerah Desa Pecatu, menjadi daerah wisata bahari karena didukung oleh potensi alam lautnya. Oleh karenya Pemerintah Desa dapat mencari upaya strategis agar masyarakat dapat memperoleh manfaat dari perkembangan dari sector pariwisata di daerah desa Pecatu, Tulisan ini bertujuan untuk memahami dan mengerti tentang kewenangan pengelolaan wisata bahari oleh pemerintah desa di Desa Pecatu dan juga memahami dan mengerti Faktor-faktor pendukung dan penghambat pengelolaan wisata bahari di Desa Pecatu. Tulisan ini mempergunakan metode penulisan yuridis empiris. Kewenangan desa dalam pengelolaan wisata bahari meliputi : Pengelolaan Obyek wisata dalam desa diluar rencana induk pariwisata, pengelolaan tempat rekreasi dan hiburan umum dalam desa, rekomendasi pemberian ijin pendirian pondok wisata pada kawasan wisata di desa. Pelaksanaan pengelolaan wisata bahari di desa Pecatu terdapat factor pendukung baik dari dalam mau pun luar, serta terdapat juga faktor-faktor penghambat pelaksanaannya. Kata Kunci : Kewenangan, wisata bahari, desa.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Efektivitas Pemanfaatan Layanan Desa Berdering di Desa Bintan Buyu Kabupaten Bintan Provinsi Kepulauan Riau

Efektivitas Pemanfaatan Layanan Desa Berdering di Desa Bintan Buyu Kabupaten Bintan Provinsi Kepulauan Riau

fungsi Program Desa Berdering di Desa Bintan Buyu Kabupaten Bintan, bukan hanya penyediaan telepon desa tetapi menambah fungsi penyediaan Jaringan Internet yaitu Desa Punya Internet (Desa PINTER), sehingga masyarakat dapat memanfaatkan kemudahan akses informasi dan komunikasi untuk berinteraksi dengan daerah luar. Diharapkan juga pihak pengelola memberi kesempatan yang seluas-luasnya kepada masyarakat Bintan Buyu untuk berpartisipasi dalam pemanfaatan program Telepon Desa Berdering. Dukungan Pemerintah daerah Kabupaten Bintan juga diburtuhkan terhadap keberhasilan program Desa Berdering, terutama mengintensifkan sosialisasi Program Kementerian Komunikasi dan Informatika tersebut kepada masyarakat wilayah Bintan Buyu. Kabupaten Bintan merupakan daerah penyangga perbatasan dengan negara tetangga, oleh karenanya kemudahan akses informasi dan komunikasi perlu mendapat perhatian serius oleh pemerintah Kabupaten, pemerintah Provinsi Kepulauan Riau dan perhatian Pemerintah Pusat melalui peningkatan Program Universal Service Obligation/Kewajiban Pelayanan Umum (USO/KPU) Kementerian Komunikasi dan Informatika, sehingga masyarakat memiliki daya saing terhadap pengaruh kemajuan negara tetangga.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Kajian Pengembangan dan Pengelolaan Ekowisata Bahari di Pulau Pramuka Taman Nasional Kepulauan Seribu

Kajian Pengembangan dan Pengelolaan Ekowisata Bahari di Pulau Pramuka Taman Nasional Kepulauan Seribu

Berdasarkan hasil penelitian, kegiatan- kegiatan wisata bahari yang dapat dilakukan di Pulau Pramuka Taman Nasional antara lain menyelam (scuba diving), snorkeling, memancing dan wisata pendidikan (mengunjungi tempat penangkaran penyu sisik dan mengunjungi makam habib ali serta makam habib hasan). Panorama laut di wilayah ini menjadi daya tarik alamiah bagi wisatawan.Panorama seperti pada saat matahari terbit dan matahari terbenam menjadi daya tarik tersendiri.Pulau Pramuka memiliki fasilitas terbilang lengkap sebagai pusat pemerintahan di Kepulauan Seribu.Di sini tersedia penginapan, rumah makan, rumah sakit, masjid, lapangan olahraga, dan lainnya.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Analisis dampak ekonomi wisata bahari terhadap masyarakat di pulau pramuka taman nasional kepulauan seribu

Analisis dampak ekonomi wisata bahari terhadap masyarakat di pulau pramuka taman nasional kepulauan seribu

Kondisi ekonomi masyarakat Pulau Pramuka sebelum adanya pengembangan kegiatan wisata bahari memiliki profesi sebagai nelayan sebesar 40%, setelah adanya pengembangan kegiatan wisata bahari mata pencaharian masyarakat bertambah keragamannya yakni di bidang perdagangan, jasa dan akomodasi, budidaya perikanan, home industry, perbengkelan, industry kerajinan, warung, rumah makan, instansi swasta, pemerintahan dan lain-lain. Dampak yang terjadi akibat adanya pengembangan kegiatan wisata bahari bahwa nilai pengganda Keynesian Multiplier di. Pulau Pramuka sebesar 1,44 artinya peningkatan pengeluaran wisatawan sebesar 1 rupiah akan berdampak pada peningkatan pendapatan masyarakat lokal sebesar 1,44 rupiah atau setara dengan Rp.4.896.525. Ratio Income Multiplier Tipe I sebesar 1,45 artinya peningkatan 1 rupiah pendapatan pemilik unit usaha dari pengeluaran wisatawan akan mengakibatkan peningkatan pada dampak langsung dan tidak langsung (berupa pendapatan pemilik unit usaha dan tenaga kerja lokal) sebesar 1,45 rupiah atau setara dengan Rp.2.141.049. Nilai Ratio Income Multiplier Tipe II sebesar 1,8 artinya peningkatan 1 rupiah pengeluaran wisatawan akan mengakibatkan peningkatan sebesar 1,8 rupiah atau setara dengan Rp.2.723.247 pada total pendapatan masyarakat pada dampak langsung, tak langsung dan induced (berupa pendapatan pemilik usaha, tenaga kerja dan pengeluaran konsumsi di tingkat lokal). Hasil perhitungan nilai t atas pendapatan masyarakat yang terlibat sebesar - 4.752 sedangkan –t hitung (-4.752) <-t tabel (t 0.025;29 ), maka kegatan wisata bahari
Baca lebih lanjut

106 Baca lebih lajut

Kajian Potensi Dampak Wisata Bahari terhadap Terumbu Karang di Kelurahan Pulau Panggang, Kepulauan Seribu

Kajian Potensi Dampak Wisata Bahari terhadap Terumbu Karang di Kelurahan Pulau Panggang, Kepulauan Seribu

Sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya, Balai Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu mempunyai peran yang cukup tinggi dalam menjaga ekosistem pesisir yang ada di Taman Nasional Kepulauan Seribu termasuk ekosistem terumbu karang yang terdapat di pulau-pulau di Kelurahan Panggang. Sebagai UPT (Unit Pelaksana Teknis) dibidang konservasi Sumber Daya Alam (SDA) dan ekosistemnya, Balai TNKpS mempunyai tugas melaksanakan pengelolaan ekosistem kawasan taman nasional dalam rangka konservasi SDA dan ekosistemnya. Beberapa kegiatan yang telah dilakukan antara lain: penguatan kelembagaan masyarakat menuju pengembangan desa konservasi, program riset aksi sea farming dan rehabilitasi sumber daya alam dan lingkungan, pengelolaan terumbu karang, konservasi keanekaragaman hayati, pelestarian penyu sisik, pendidikan lingkungan di beberapa sekolah, pemberdayaan masyarakat serta pengelolaan terumbu karang (Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu, 2011). Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu juga melakukan kerjasama dengan berbagai pihak seperti Institut Pertanian Bogor, Yayasan Terangi, dan pihak swasta lainnya dalam rangka menjaga kelestarian ekosistem pesisir. Beberapa kegiatan yang dilakukan Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu untuk kelestarian terumbu karang, diantaranya adalah pelatihan transplantasi karang hias, bantuan alat wisata selam dan snorkeling penyuluhan kepada masyarakat. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan instansi terkait seperti Balai Taman Nasional Kepulaun Seribu, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Provinsi DKI Jakarta, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, serta Pemerintah Kab. Kepulauan Seribu sangatlah mendukung pengembangan wisata bahari di Kep. Seribu dengan tetap menjaga kelestarian sumberdaya alam.
Baca lebih lanjut

82 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects