Top PDF STRATEGI PENGEBANGAN LEMBAGA KEUANGAN MIKRO AGRIBISNIS (LKM-A) PADA GAPOKTAN MULYAJAYA

STRATEGI PENGEBANGAN LEMBAGA KEUANGAN MIKRO AGRIBISNIS (LKM-A) PADA GAPOKTAN MULYAJAYA

STRATEGI PENGEBANGAN LEMBAGA KEUANGAN MIKRO AGRIBISNIS (LKM-A) PADA GAPOKTAN MULYAJAYA

produksi semata, melainkan seluruh kegiatan subsistem dalam sistem agribisnis. Dengan demikian partisipasi aktif setiap pemangku kepentingan, khususnya petani sebagai pelaku utama dalam pembangunan pertanian sangat penting. Dalam rangka mempercepat laju pembangunan perekonomian, Indonesia perlu menempatkan pembangunan pertanian yang berdaya saing, berkerakyatan, berkelanjutan dan terdesentralisasi sebagai motor penggerak utama pembangunan ekonomi nasional.

37 Baca lebih lajut

KATA PENGANTAR. Pedoman Pengembangan Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKM-A) Gapoktan PUAP

KATA PENGANTAR. Pedoman Pengembangan Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKM-A) Gapoktan PUAP

Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) dilaksanakan melalui penyediaan dana penguatan modal usaha petani sebagai stimulasi melalui koordinasi Gapoktan. Sesuai dengan mekanisme pelaksanaan program PUAP, maka pada Tahun ke-I, dana PUAP dimanfaatkan oleh Gapoktan untuk membiayai usaha produktif sesuai dengan usulan anggota secara berjenjang melalui Rencana Usaha Anggota (RUA), Rencana Usaha Kelompok (RUK) dan Rencana Usaha Bersama (RUB). Dana penguatan modal usaha PUAP digulirkan Gapoktan kepada para anggota kelompok tani sebagai pinjaman sehingga pada Tahun ke-2 Gapoktan sudah dapat mengembangkan Usaha Simpan Pinjam (U-S/P). Gapoktan penerima dana BLM-PUAP diharapkan dapat menjaga perguliran/ perputaran dana sampai pada fase pembentukan Lembaga Keuangan Mikro Agribinis (LKM-A) pada Tahun ke-3. LKMA yang berhasil ditumbuh kembangkan oleh Gapoktan diharapkan dapat meningkatkan akumulasi modal melalui dana keswadayaan yang dikumpulkan oleh anggota melalui tabungan maupun melalui saham anggota.
Baca lebih lanjut

38 Baca lebih lajut

EVALUASI KINERJA GAPOKTAN DAN PERSEPSI PETANI TERHADAP LEMBAGA KEUANGAN MIKRO AGRIBISNIS (LKM-A) PADA GAPOKTAN PENERIMA DANA BLM-PUAP DI KOTA BENGKULU

EVALUASI KINERJA GAPOKTAN DAN PERSEPSI PETANI TERHADAP LEMBAGA KEUANGAN MIKRO AGRIBISNIS (LKM-A) PADA GAPOKTAN PENERIMA DANA BLM-PUAP DI KOTA BENGKULU

Jl. Irian km. 6,5 Kota Bengkulu – 38119 Email: erhr94@yahoo.co.id ABSTRAK Dalam upaya pemberdayaan petani di perdesaan, Pemerintah Pusat melalui Kementerian Pertanian melaksanakan berbagai program di bidang inovasi teknologi, pengembangan agribisnis, permodalan, dan sebagainya. Salah satu program yang diinisiasi oleh Kementerian Pertanian untuk pemberdayaan petani dalam melaksanakan agribisnis di perdesaan adalah Program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP). Salah satu hasil yang diharapkan dari kegiatan PUAP adalah terbentuknya Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKM-A) yang berkelanjutan dan dapat merespon kebutuhan petani dalam penyediaan modal usaha. Untuk mengevaluasi kinerja LKM-A pada gapoktan penerima dana BLM-PUAP dan persepsi petani terhadapnya maka telah dilaksanakan survei pada 5 gabungan kelompok tani (gapoktan) penerima dana Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) PUAP di Kota Bengkulu pada bulan September sampai Desember 2010. Tujuan penelitian adalah: (1) mengevaluasi kinerja gapoktan dalam pengelolaan dana BLM-PUAP dan (2) mengetahui persepsi petani terhadap pengelolaan LKM-A. Evaluasi kinerja gapoktan yang diamati meliputi 3 aspek yaitu aspek organisasi, aspek pengelolaan LKM-A, dan aspek kinerja pengelolaan LKM-A. Data karakteristik persepsi terdiri atas umur (X 1 ), tingkat pendidikan (X 2 ), penerimaan rumah tangga (X 3 ), jumlah tanggungan keluarga (X 4 ), lama
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Strategi Percepatan Transformasi Kelembagaan Gapoktan dan Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis dalam Memperkuat Ekonomi di Perdesaan

Strategi Percepatan Transformasi Kelembagaan Gapoktan dan Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis dalam Memperkuat Ekonomi di Perdesaan

Tujuan makalah ini adalah merumuskan strategi transformasi kelembagaan gapoktan dan Lembaga Keuangan Mikro-Agribisnis (LKM-A) mendukung pengembangan agribsinis di perdesaan. Metode penelitian dilakukan dengan pendekatan studi kasus melalui kajian kelembagaan gapoktan dan LKMA di Kabupaten Bojonegoro dan Lumajang. Kelembagaan gapoktan dan unit usaha simpan pinjam/LKM-A di Kabupaten Bojonegoro dan Lumajang menunjukkan kinerja pada level moderat dan berpeluang untuk berkembang jika ditranformasikan ke arah kelembagaan yang lebih maju. Kinerja Gapoktan dan LKM-A dalam menciptakan dan membantu usaha-usaha di Kabupaten Bojonegoro dan Kabupaten Lumajang terindikasi pada level menengah namun ada kesempatan untuk membaik bila ada usaha untuk transformasi dan memperbaiki institusi tersebut. Kinerja kelembagaan gapoktan dan LKM-A yang baik ditunjukkan oleh terbangunnya struktur organisasi gapoktan dan LKM-A secara cukup lengkap, peran masing-masing bagian telah dimainkan dengan baik, sistem koordinasi berjalan cukup efektif, berkembangnya dana BLM PUAP, dan makin beragamnya kegiatan usaha ekonomi produktif. Strategi transformasi kelembagaan gapoktan dan LKM-A dapat dilakukan dengan: 1) penambahan struktur baru, mengikuti sistem dan usaha agribisnis terpadu yang didukung oleh kelembagaan LKM-A yang handal; 2) perluasan dan atau pendalaman tujuan yang ingin dicapai kelembagan gapoktan dan LKM-A; 3) pembentukan ikatan-ikatan horisontal secara lebih kuat; 4) penambahan dan pendalaman aktivitas ekonomi baru pada aktivitas yang telah ada. Perlu dilakukan transformasi kelembagaan gapoktan menjadi kelembagaan yang berbadan hukum dengan akta notaris seperti badan usaha milik petani. Sementara itu, LKM-A dapat ditransformasikan menjadi koperasi simpan pinjam atau koperasi serba usaha.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

KEBERADAAN LEMBAGA KEUANGAN MIKRO AGRIBISNIS (LKM-A) MENDUKUNG KEMANDIRIAN PANGAN DI SUMATERA BARAT

KEBERADAAN LEMBAGA KEUANGAN MIKRO AGRIBISNIS (LKM-A) MENDUKUNG KEMANDIRIAN PANGAN DI SUMATERA BARAT

Pembiayaan dari LKM-A bagi petani digunakan untuk perbaikan teknik produksi komoditas pangan dengan menerapkan sejumlah komponen teknologi. Sebagai contoh pinjaman modal usaha untuk pengembangan usaha tani padi sawah dan jagung pada beberapa wilayah gapoktan, digunakan untuk perbaikan teknologi produksi yaitu penerapan teknologi utama diantaranya benih bermutu, verietas unggul dan pemupukan spesifik lokasi. Pada usaha tani jagung adopsi pemupukan spesifik lokasi dan varietas unggul cukup signifikan baik di Kabupaten Limapuluh Kota maupun di Tanah Datar, berturut-turut pertambahan adopsi 53,3 persen dan 40,0 persen. Hal yang menarik adalah sebelum ada LKM-A sebagian petani masih mengggunakan jagung komposit dan setelah ada LKM-A karena ada pinjaman modal petani beralih ke hibrida. Alasannya adalah sebelum ada LKM-A karena harga benih jagung hibrida mahal mereka tidak mampu membeli dan mereka menggunakan benih jagung komposit dengan harga murah atau hasil pertanaman sebelumnya. Hal yang sama juga terjadi pada perbikan teknik produksi padi sawah seperti di Kabupaten Padang Pariaman dan hortikultura di Kabupaten Solok (Hosen et al., 2012). Di beberapa provinsi seperti Jawa Timur dengan adanya pinjaman modal dari gapoktan PUAP meningkatkan adopsi teknologi padi sawah dan sekaligus meningkatkan hasil 2,7 persen dan pendapatan 4,1 persen (Bustaman et al., 2012). Hal yang sama terjadi di Kalimantan Timur, dimana dengan adanya pinjaman modal dari gapoktan cenderung mempercepat penyebaran VUB yang berdampak pada peningkatan produksi padi (Rahayu dan Nurbaini, 2013). Alasan diadopsinya teknologi oleh petani sesuai hasil kajian Bustaman et al. (2009) antara lain; (i) produktivitas menjadi meningkat dari sebelumnya, (ii) lebih menguntungkan dari usaha tani sebelumnya, (iii) teknologinya mudah diterapkan, (iv) ada kesepakatan kelompok untuk mengadopsi.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

. Analisis Keberlanjutan Dan Pengembangan Co-Operative Entrepreneurship Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (Lkm-A) Kabupaten Lamongan.

. Analisis Keberlanjutan Dan Pengembangan Co-Operative Entrepreneurship Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (Lkm-A) Kabupaten Lamongan.

Dana PUAP dilaksanakan melalui penyediaan dana penguatan modal usaha petani sebagai stimulasi melalui koordinasi Gapoktan. Komponen utama dari pola dasar pengembangan PUAP adalah; (1) Keberadaan Gapoktan; (2) Keberadaan Penyuluh Pendamping dan Penyelia Mitra Tani sebagai pendamping; (3) Pelatihan bagi petani, pengurus Gapoktan, dan lain-lain; dan (4) Penyaluran dana PUAP kepada petani (pemilik dan atau penggarap), buruh tani, dan rumah tangga tani. Sesuai dengan mekanisme pelaksanaan program PUAP, maka pada Tahun ke-I, dana PUAP dimanfaatkan oleh Gapoktan untuk membiayai usaha produktif sesuai dengan usulan anggota secara berjenjang melalui Rencana Usaha Anggota (RUA), Rencana Usaha Kelompok (RUK) dan Rencana Usaha Bersama (RUB). Dana penguatan modal usaha PUAP digulirkan Gapoktan kepada para anggota kelompok tani sebagai pinjaman sehingga pada Tahun ke-2 Gapoktan sudah dapat mengembangkan Usaha Simpan Pinjam (U-S/P). Gapoktan penerima dana BLM PUAP diharapkan dapat menjaga perguliran/ perputaran dana sampai pada fase pembentukan Lembaga Keuangan Mikro Agribinis (LKM-A) pada Tahun ke-3. LKMA yang berhasil ditumbuh kembangkan oleh Gapoktan diharapkan dapat meningkatkan akumulasi modal melalui dana keswadayaan yang dikumpulkan oleh anggota melalui tabungan maupun melalui saham anggota. Pengembangan unit simpan pinjam, dalam struktur organisasi Gapoktan sejalan dengan format penumbuhan kelembagaan tani di perdesaan yang tertuang pada Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 82/Permentan/OT.140/8/2013 yang mengamanatkan Gapoktan merupakan format final dari organisasi di tingkat petani diperdesaan yang di dalamnya terkandung fungsi-fungsi pengelolaan antara lain unit pengolahan dan pemasaran hasil, unit penyediaan saprodi dan unit usaha jasa permodalan dan lain sebagainya (Kementerian Pertanian 2014).
Baca lebih lanjut

112 Baca lebih lajut

ANALISIS PERANAN PEMBIAYAAN MURABAHAH PADA LEMBAGA KEUANGAN MIKRO AGRIBISNIS (LKM-A) BERBASIS SYARIAH TERHADAP TINGKAT PENDAPATAN ANGGOTA (Studi Kasus : Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis Prima Tani Kecamatan Baso).

ANALISIS PERANAN PEMBIAYAAN MURABAHAH PADA LEMBAGA KEUANGAN MIKRO AGRIBISNIS (LKM-A) BERBASIS SYARIAH TERHADAP TINGKAT PENDAPATAN ANGGOTA (Studi Kasus : Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis Prima Tani Kecamatan Baso).

Permasalahan ini tentunya sangat disadari oleh pemerintah sehingga sejak tahun 2007 pemerintah melalui Dinas Pertanian berusaha menyalurkan dana kepada petani melalui gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) yang ada dimasing- masing wilayah. Dana ini berasal dari dana APBN yang selanjutnya diberikan langsung kepada pelaku agribisnis dalam bentuk Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) melalui Gapoktan yang ada di setiap wilayah. “ Pola BLM ini berlanjut pada program Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan (PUAP) yang dilaksanakan oleh Departemen Pertanian pada tahun 2007 dan dilakukan secara terintegrasi dengan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM-M). Untuk pelaksanaan PUAP di Departemen Pertanian, Menteri Pertanian membentuk tim Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan melalui Keputusan Menteri Pertanian (KEPMENTAN) Nomor 545/Kpts/OT.160/9/2007”
Baca lebih lanjut

27 Baca lebih lajut

Adverse selection dan moral hazard pada skim kredit Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKM A) PUAP di Kota Padang

Adverse selection dan moral hazard pada skim kredit Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKM A) PUAP di Kota Padang

Kenyataannya kredit di LKM-A di kota Padang banyak yang mengalami gagal bayar dengan rata-rata nilai NPL sebesar 48.21 persen (Lampiran 7), hal ini salah satunya disebabkan karena persepsi petani yang menganggap dana PUAP adalah dana hibah yang tidak perlu untuk dikembalikan yang dalam hal ini merupakan suatu bentuk ç ã ÝÙ ß èÙé Ù ÝÚ . Alasan lain adalah karena pendapatan petani yang tidak selalu perbulan, karena bergantung pada musim panen, sehingga pembayaran pun kadang bergantung pada musim panen. Jika, sudah terjadi kegagalan pembayaran maka sudah seharusnya LKM-A yang professional memberikan sanksi yang tegas pada anggotanya. Menurut laporan PSEKP, 2009, dinyatakan bahwa gapoktan yang telah menetapkan sanksi sebanyak 68.18 persen sedangkan yang belum sebanyak 31.82 persen. Adapun sanksi yang ditetapkan juga berbeda-beda, Gapoktan yang menetapkan sanksi dalam bentuk uang sebesar 31.82 persen, dalam bentuk barang maupun sanksi sosial masing-masing 9.09 persen sementara yang lainnya dalam bentuk tanggung renteng , kesepakatan dan bahkan ada gapoktan yang memberikan perpanjangan jangka waktu pengembalian yaitu di Desa, Kajangkoso Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah.
Baca lebih lanjut

128 Baca lebih lajut

SISTEM APLIKASI KEUANGAN  LEMBAGA KEUANGAN MIKRO AGRIBISNIS  Sistem Aplikasi Keuangan Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis.

SISTEM APLIKASI KEUANGAN LEMBAGA KEUANGAN MIKRO AGRIBISNIS Sistem Aplikasi Keuangan Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis.

Adapun pokok masalah yang dibahas pada penelitian ini adalah bagaimana membuat sistem pengelolaan keuangan yang sederhana untuk LKM-A Gapoktan Maju Lancar sehingga mampu menyajikan laporan keuangan secara berkala. Pengembangan sistem menggunakan metode SDLC (System Development Life Cycle), yaitu metode pengembangan sistem dari mulai tahapan perencanaan sampai tahapan penerapan dan kemudian sistem dipelihara. Aplikasi ini dibuat dengan menggunakan bahasa pemrograman Visual Basic 6.0 dan menggunakan basis data Microsoft Access 2007. Hasil penilaian kuisioner dari beberapa responden mengenai sistem aplikasi yang dibuat secara keseluruhan dapat disimpulkan cukup baik dan dapat diterima untuk diterapkan di LKM-A Gapoktan Maju Lancar.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

SISTEM APLIKASI KEUANGAN  LEMBAGA KEUANGAN MIKRO AGRIBISNIS  Sistem Aplikasi Keuangan Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis.

SISTEM APLIKASI KEUANGAN LEMBAGA KEUANGAN MIKRO AGRIBISNIS Sistem Aplikasi Keuangan Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis.

Adapun pokok masalah yang dibahas pada penelitian ini adalah bagaimana membuat sistem pengelolaan keuangan yang sederhana untuk LKM-A Gapoktan Maju Lancar sehingga mampu menyajikan laporan keuangan secara berkala. Pengembangan sistem menggunakan metode SDLC (System Development Life Cycle), yaitu metode pengembangan sistem dari mulai tahapan perencanaan sampai tahapan penerapan dan kemudian sistem dipelihara. Aplikasi ini dibuat dengan menggunakan bahasa pemrograman Visual Basic 6.0 dan menggunakan basis data Microsoft Access 2007. Hasil penilaian kuisioner dari beberapa responden mengenai sistem aplikasi yang dibuat secara keseluruhan dapat disimpulkan cukup baik dan dapat diterima untuk diterapkan di LKM-A Gapoktan Maju Lancar.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

ANALISIS PERANAN PEMBIAYAAN MURABAHAH PADA LEMBAGA KEUANGAN MIKRO AGRIBISNIS (LKM-A) BERBASIS SYARIAH TERHADAP TINGKAT PENDAPATAN ANGGOTA (Studi Kasus : Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis Prima Tani Kecamatan Baso) - Repositori Universitas Andalas

ANALISIS PERANAN PEMBIAYAAN MURABAHAH PADA LEMBAGA KEUANGAN MIKRO AGRIBISNIS (LKM-A) BERBASIS SYARIAH TERHADAP TINGKAT PENDAPATAN ANGGOTA (Studi Kasus : Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis Prima Tani Kecamatan Baso) - Repositori Universitas Andalas

Permasalahan ini tentunya sangat disadari oleh pemerintah sehingga sejak tahun 2007 pemerintah melalui Dinas Pertanian berusaha menyalurkan dana kepada petani melalui gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) yang ada dimasing- masing wilayah. Dana ini berasal dari dana APBN yang selanjutnya diberikan langsung kepada pelaku agribisnis dalam bentuk Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) melalui Gapoktan yang ada di setiap wilayah. “ Pola BLM ini berlanjut pada program Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan (PUAP) yang dilaksanakan oleh Departemen Pertanian pada tahun 2007 dan dilakukan secara terintegrasi dengan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM-M). Untuk pelaksanaan PUAP di Departemen Pertanian, Menteri Pertanian membentuk tim Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan melalui Keputusan Menteri Pertanian (KEPMENTAN) Nomor 545/Kpts/OT.160/9/2007”
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Strategi Pengembangan Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKMA) di Kabupaten Pandeglang

Strategi Pengembangan Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKMA) di Kabupaten Pandeglang

Dengan jumlah penduduk lebih dari 250 juta jiwa, Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki berbagai sistem dan modus keuangan mikro. Menurut data Bank Indonesia, pada tahun 2011 terdapat sekitar 55 ribu LKM dengan jumlah simpanan mencapai Rp30 triliun dan pinjaman sekitar Rp 22 triliun. Dari jumlah tersebut belum termasuk berbagai jenis Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) yang jumlahnya lebih banyak lagi. Kehadiran LKM sebagai lembaga keuangan yang lebih menyatu dengan kehidupan masyarakat setempat, merupakan keunggulan tersendiri, sehingga lebih mudah diakses oleh calon nasabah. Selain itu pola pelayanannya yang fleksibel sesuai dengan karakter masyarakat setempat, antara lain dengan sistem jemput bola, menjadikan LKM lebih akrab dengan nasabahnya. Lebih lagi dengan berbagai aktivitas LKM yang tidak hanya terbatas pada layanan keuangan, tetapi juga layanan sosial. Bahkan di beberapa LKM seperti Kelompok Simpan Pinjam (KSP), KSM, dan Baitul Maal wat Tamwil (BMT), watak sosial tersebut sangat menonjol, baik pada waktu melakukan pembiayaan maupun dalam berbagai aktivitas lainnya. Demikian pula dalam pemanfaatan keuntungan, selalu saja ada penyisihan untuk kegiatan sosial (Al Jufri, 2011).
Baca lebih lanjut

150 Baca lebih lajut

Analisis Kinerja Keuangan dan Kepuasan Nasabah Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKM-A) Rukun Tani, Desa Citapen, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor.

Analisis Kinerja Keuangan dan Kepuasan Nasabah Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKM-A) Rukun Tani, Desa Citapen, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor.

Permasalahan pertanian yang terjadi di Indonesia antara lain adalah kondisi petani yang memiliki tingkat pendidikan rendah, lemahnya organisasi petani, dan masalah permodalan. Permodalan menjadi permasalahan bagi petani karena adanya jaminan yang memberatkan petani, biaya transaksi yang mahal, dan bunga yang tinggi. Pemerintah berusaha mengatasi permasalahan tersebut salah satunya dengan mengadakan program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP). Tujuan dari program ini antara lain meningkatkan fungsi kelembagaan ekonomi petani menjadi jejaring atau mitra lembaga keuangan dalam rangka akses ke permodalan. Sehingga dari program ini diharapkan dapat terbentuk lembaga keuangan mikro yang dapat memberikan akses permodalan pada petani kecil. Seperti yang telah dilakukan oleh Gapoktan Rukun Tani, Desa Citapen, Kecamatan Ciawi yakni membentuk Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKM-A) Rukun Tani. Lembaga keuangan mikro ini merupakan pengembangan dari program pemerintah yang dilakukan secara swadaya oleh gapoktan penerima PUAP. Sehingga kegiatan evaluasi perlu dilakukan mengingat lembaga ini menunjang kegiatan penduduk sekitar, dan merupakan pengembangan program pemerintah di mana sering mengalami kegagalan dalam kelanjutannya. Evaluasi kinerja LKM-A Rukun Tani dilakukan dengan pendekatan kinerja keuangan serta dari segi tingkat kepuasan nasabah. Kinerja keuangan dilakukan untuk mengetahui kondisi internal khususnya kondisi keuangan LKM-A Rukun Tani. Sedangkan untuk tingkat kepuasan nasabah dilakukan untuk mengetahui tingkat kinerja pelayanan LKM-A Rukun Tani.
Baca lebih lanjut

229 Baca lebih lajut

Tingkat Partisipasi Anggota Dan Kinerja Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (Kasus Lkm-A Lestari Mulya Desa Blubuk Kecamatan Dukuhwaru Tegal

Tingkat Partisipasi Anggota Dan Kinerja Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (Kasus Lkm-A Lestari Mulya Desa Blubuk Kecamatan Dukuhwaru Tegal

Dana PUAP telah diberikan pada 287 desa/gapoktan yang berada di 18 Kecamatan di Kabupaten Tegal pada tahun 2012. Sebagai program pemberdayaan masyarakat, gapoktan penerima dana PUAP harus dapat mengelola dana melalui perguliran atau penambahan dana keswadayaan sehingga dapat berfungsi sebagai Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKM-A) pada tahun ketiga 4 . LKM-A merupakan salah satu unit usaha gapoktan yang berhasil ditumbuhkan oleh gapoktan sehingga kepengurusan dan pengelolaannya terpisah dari gapoktan induknya. LKM-A dijadikan salah satu unit permodalan Gapoktan yang ditumbuhkembangkan atas inisiatif petani anggota kelompok tani dalam Gapoktan tersebut (Pusat Pembiayaan Pertanian 2007). Menurut data Badan Penyuluhan Pertanian, Peternakan, Perikanan dan Kehutanan (BP4K) Kabupaten Tegal tahun 2014, dari 287 desa/gapoktan yang menerima dana PUAP telah terbentuk 45 unit Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKM-A) yang berada di 12 Kecamatan atau hanya sekitar 15.7 persen dari seluruh gapoktan penerima dana PUAP (untuk lebih jelasnya dapat dilihat di Lampiran II). Gapoktan penerima dana PUAP yang berhasil membentuk LKM-A terbilang masih rendah karena hanya sekitar 15.7 persen. Ketidakberhasilan membentuk LKM-A, menunjukan bahwa gapotan penerima dana PUAP tersebut tidak mampu meningkatkan kinerja dalam menjaga dan mengelola perguliran dana PUAP untuk anggotanya. Pengembangan LKM-A diarahkan untuk memenuhi kebutuhan warga desa dengan peningkatan pelayanan terhadap anggotanya sehingga semakin tingginya partisipasi anggota. Pengembangan LKM-A diarahkan agar LKM-A dapat memegang peranan utama dalam kegiatan perekonomian diperdesaan, khususnya di sektor pertanian. LKM- A yang terbentuk di Kabupaten Tegal berjumlah 45 unit. LKM-A yang telah terbentuk di Kabupaten Tegal berada di 12 Kecamatan dapat dilihat pada Gambar 2.
Baca lebih lanjut

116 Baca lebih lajut

SISTEM KEUANGAN PEDESAAN DAN PERTANIAN MELALUI PERAN LEMBAGA KEUANGAN MIKRO (LKM) SYARI’AH (BMT: alternatif model LKM Sya’riah) | Najmudin | Mimbar Agribisnis 38 224 2 PB

SISTEM KEUANGAN PEDESAAN DAN PERTANIAN MELALUI PERAN LEMBAGA KEUANGAN MIKRO (LKM) SYARI’AH (BMT: alternatif model LKM Sya’riah) | Najmudin | Mimbar Agribisnis 38 224 2 PB

Mungkin ada sebagian pihak yang mengatakan bahwa tujuan dan fungsi dari sistem keuangan dan perbankan Islam seperti yang diungkapkan di atas adalah sama dengan yang ada dalam kapitalisme. Walaupun nampak ada kesamaan, dalam kenyataannya terdapat perbedaan yang penting dalam hal penekanan, yang muncul dari perbedaan dua sistem tersebut dalam komitmennya terhadap nilai-nilai spiritual, keadilan sosial-ekonomi serta dalam persaudaraan sesama manusia. Tujuan-tujuan dalam Islam adalah suatu bagian tak terpisahkan dari ideologi dan kepercayaan Islam. Hal tersebut merupakan suatu input penting sebagai bagian dari suatu output tertentu. Tujuan-tujuan tersebut membawa kesucian dan, dalam hal yang didasarkan pada Al-Qur’an dan As-Sunnah, tujuan-tujuan tersebut bukanlah semata-mata sebagai alat tawar politik dan kebijaksanaan, akan tetapi, strategi yang sangat penting bagi terwujudnya suatu tujuan yang merupakan suatu keunikan yang dapat disumbangkan oleh Islam.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Lembaga Keuangan Mikro Syariah Berbasis Agribisnis

Lembaga Keuangan Mikro Syariah Berbasis Agribisnis

ini Gapoktan diharapkan sudah mampu memben- tuk Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKM- A). Gapoktan sebagai kelembagaan tani pelaksana PUAP menjadi salah satu penentu sekaligus indikator bagi keberhasilan PUAP ini. Namun pada kenyataannya, pembentukan LKM-A ini tidak semudah yang dibayangkan. Melalui PUAP diharapkan dapat: Pertama, meningkatkan pro- gram-program sektor pertanian yang telah ada sebelumnya, utamanya dalam memberikan akses permodalan. Kedua, memberdayakan kelemba- gaan petani dan ekonomi pedesaan dalam pengembangan kegiatan usaha agribisnis. Ketiga, meningkatkan fungsi kelembagaan ekonomi petani menjadi jejaring atau mitra lembaga keuangan bank dalam rangka akses permodalan. 5 Sehingga dari permasalahan di atas kegiatan evaluasi ini perlu dilakukan karena merupakan salah satu usaha menuju pembangunan sektor pertanian. Selanjutnya setelah dilakukan evaluasi maka akan bisa diketahui kelemahan dalam pelaksanaan selama ini sehingga akan terdapat kesimpulan tentang perencanaan strategsi pem- bentukan Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis sebagai output dari pelaksanaan PUAP ini. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul “STRATEGI PEMBEN- TUKAN LEMBAGA KEUANGAN MIKRO AGRIBISNIS (LKM-A) PASCA PROGRAM PENGEMBANGAN USAHA AGRIBISNIS PERDESAAN (PUAP)”
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

ANALISIS MANFAAT PELAKSANAAN BLM-PUAP OLEH LEMBAGA KEUANGAN MIKRO AGRIBISNIS TERHADAP USAHATANI PADI SAWAH ANGGOTA (STUDI KASUS : LKM-A AGRO FLORIS PRIMA GAPOKTAN AGRO FLORIS KEC. KOTO TANGAH KOTA PADANG).

ANALISIS MANFAAT PELAKSANAAN BLM-PUAP OLEH LEMBAGA KEUANGAN MIKRO AGRIBISNIS TERHADAP USAHATANI PADI SAWAH ANGGOTA (STUDI KASUS : LKM-A AGRO FLORIS PRIMA GAPOKTAN AGRO FLORIS KEC. KOTO TANGAH KOTA PADANG).

Hasil penelitian memperlihatkan bahwa secara keseluruhan proses pelaksanaan kegiatan simpan-pinjam BLM-PUAP di LKM-A Agro Floris Prima telah dilaksanakan dengan baik sesuai dengan Pedoman Umum PUAP. Hal ini dibuktikan dengan proses penetapan prosedur dan persyaratan yang mudah, bunga pinjaman cukup ringan dan berdasarkan ketetapan bersama, proses pelaksanaan simpan-pinjam yang berjalan lancar, tidak terjadinya kemacetan dalam pengembalian pinjaman. Selanjutnya terdapat perubahan sumber modal usahatani petani responden setelah adanya penyaluran dana PUAP di LKM-A Agro Floris Prima, dimana sebelum adanya dana PUAP, petani responden selain menggunakan modal sendiri juga menggunakan pinjaman modal dari rentenir. Namun setelah adanya penyaluran dana PUAP, penggunaan pinjaman modal mampu memutus ketergantungan petani terhadap rentenir yang bersifat eksploitatif. Selain itu jika dibandingkan dengan rekomendasi pemakaian input-input produksi, setelaha danya BLM-PUAP masih belum ada perbaikan berarti terkait penggunaan dari rentenir menjadi berkurang karena pinjaman dari LKM-A input- input produksi sesuai dengan rekomendasi yang ada. Hal ini berdampak pada produksi padi sawah petani yang belum sesuai dengan standar produksi potensial produksi padi sawah disana.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

PEDOMAN PENGEMBANGAN LKM-A GAPOKTAN PUAP

PEDOMAN PENGEMBANGAN LKM-A GAPOKTAN PUAP

Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) dilaksanakan melalui penyediaan dana penguatan modal usaha petani sebagai stimulasi melalui koordinasi Gapoktan. Sesuai dengan mekanisme pelaksanaan program PUAP, maka pada Tahun ke-I, dana PUAP dimanfaatkan oleh Gapoktan untuk membiayai usaha produktif sesuai dengan usulan anggota secara berjenjang melalui Rencana Usaha Anggota (RUA), Rencana Usaha Kelompok (RUK) dan Rencana Usaha Bersama (RUB). Dana penguatan modal usaha PUAP digulirkan Gapoktan kepada para anggota kelompok tani sebagai pinjaman sehingga pada Tahun ke-2 Gapoktan sudah dapat mengembangkan Usaha Simpan Pinjam (U-S/P). Gapoktan penerima dana BLM-PUAP diharapkan dapat menjaga perguliran/perputaran dana sampai pada fase pembentukan Lembaga Keuangan Mikro Agribinis (LKM-A) pada Tahun ke-3. LKMA yang berhasil ditumbuh kembangkan oleh Gapoktan diharapkan dapat meningkatkan akumulasi modal melalui dana keswadayaan yang dikumpulkan oleh anggota melalui tabungan maupun melalui saham anggota.
Baca lebih lanjut

29 Baca lebih lajut

Analisis Kinerja Keuangan dan Kepuasan Nasabah Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis Berbasis Syariah (Studi Kasus: LKM-A Berkah Desa Laladon Kecamatan Ciomas Kabupaten Bogor)

Analisis Kinerja Keuangan dan Kepuasan Nasabah Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis Berbasis Syariah (Studi Kasus: LKM-A Berkah Desa Laladon Kecamatan Ciomas Kabupaten Bogor)

Sejak awal mula berdiri, lembaga keuangan ini memiliki tujuan untuk membantu memenuhi kebutuhan permodalan bagi masyarakat pedesaan, khususnya yang bekerja di bidang pertanian. Sumber permodalan dari kegiatan simpan pinjam ini berasal dari dana bergulir pemerintah dalam bentuk dana PUAP. Pada saat dana pinjaman dari pemerintah turun, Gapoktan dan LKM-A menyalurkannya kepada para petani yang tergabung dalam Gapoktan Tani Berkah. Seiring berjalannya waktu, banyak petani yang tidak sanggup ataupun tidak merasa perlu mengembalikan pinjaman tersebut sehingga mengganggu kegiatan sinpan pinjam di LKMA Berkah. Sebagai alternatif penyelesaian masalah, maka Manajer LKM-A membuat strategi baru yaitu dengan memperpanjang jangka waktu peminjaman dari pengembalian yang dilakukan setiap bulan diubah menjadi cicilan yang dilakukan selama 100 hari sesuai masa tanam padi (karena mayoritas nasabah merupakan petani padi). Cakupan peminjam pun tidak hanya anggota Gapoktan tetapi diperluas hingga masyarakat yang berprofesi sebagai pedagang produk-produk agribisnis untuk mempercepat perputaran dana.
Baca lebih lanjut

88 Baca lebih lajut

EKSISTENSI LEMBAGA KEUANGAN MIKRO-AGRIBISNIS PADA UMKM BERBASIS PETANI

EKSISTENSI LEMBAGA KEUANGAN MIKRO-AGRIBISNIS PADA UMKM BERBASIS PETANI

Pemberdayaan dan pengembangan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) merupakan upaya yang ditempuh pemerintah untuk mengatasi masalah pengangguran dan kemiskinan. Sejalan dengan upaya tersebut pemerintah meluncurkan salah satu Program bantuan daritahun 2008 sampai saat ini yaitu Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) sebesar 100 juta per Gapoktan/Desa yang diharapkan mampu mengatasi kemiskinan di perdesaan.Pada tahun ketiga diharapkan terbentuk Lembaga Keuangan Mikro -Agribisnis (LKM-A) yang merupakan unit otonom Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), mencakup pelayanan jasa pinjaman/kredit dan yang terkait dengan persyaratan pinjaman atau bentuk pembiayaan lainnya, diharapkan mampu mengatasi persoalan akses modal petani ke lembaga keuangan formal. Tujuan penulisan adalah untuk mengungkapkan sejauh mana permasalahan dalam penumbuhan LKM-A dalam usaha untuk naik kelas. Pengumpulan data dilakukan melalui e-mail menggunakan kuesioner dengan responden yaitu pendamping Penyelia Mitra Tani (PMT), penanggungjawab PUAP dan pengurus Gapoktan di 33 Provinsi. Dan survey lapangan ke Provinsi Maluku dan Maluku Utara.Data kemudian ditabulasi dan dianalisis berdasarkan indikator yang ditetapkan. Data sekunder diperoleh dari berbagai sumber yang relevan. Hasil evaluasi dari 31.527 sampel Gapoktan 2008-2013, ternyata baru 3898 Gapoktan (12,36%) yang baru membentuk LKM-A, Sementara Gapoktan PUAP 2008- 2013 ada 37.123 Gapoktan, pengembangan asset sangat lambat dengan persentase terbesar berada grade E (sangat buruk) yaitu 79,51%. Permasalahan yang perlu menjadi perhatian sebagai pengungkit LKM-A naik kelas adalah kompetensi pendamping, pengurus, modal dan peran Pemda. ( Pemerintah Daerah )
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...