Top PDF Struktur Vegetasi Dan Kerapatan Jenis Lamun Di Perairan Kepulauan Karimunjawa Kabupaten Jepara

Struktur Vegetasi Dan Kerapatan Jenis Lamun Di Perairan Kepulauan Karimunjawa Kabupaten Jepara

Struktur Vegetasi Dan Kerapatan Jenis Lamun Di Perairan Kepulauan Karimunjawa Kabupaten Jepara

Lamun merupakan satu-satunya tumbuhan berbunga (Angiospermae) yang memilki rhizome, daun dan akar sejati yang hidup terendam di dalam laut. Padang lamun juga memiliki peran penting sebagai nursery ground dan spawning ground dalam siklus kehidupan di perairan laut. Padang lamun di perairan Kepulauan Karimunjawa memiliki kategori luas penutupan sedang (33,03 %, BTN Karimunjawa 2005). Meningkatnya aktivitas masyarakat dan perubahan iklim yang ekstrim dikhawatirkan dapat merusak tatanan padang lamun Karimunjawa sehingga kelestariannya perlu dijaga, maka perlu dilakukan suatu penelitian dan pengecekan kembali terhadap kondisi padang lamun Karimunjawa. Pengambilan data dilakukan pada bulan Oktober tahun 2010 di 10 lokasi antara lain Kampung Ragas, Alang Alang, Merican, Telaga, Legon Bajak, Kapuran, Pulau Menjangan Besar bagian Utara dan Selatan, Pulau Bengkoang, dan Pulau Menjangan Kecil. Metode yang digunakan adalah transek kuadran berukuran (1 x 1 m). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perairan Karimunjawa memiliki 8 (delapan) jenis lamun. Jenis lamun yang sering ditemukan di Kepulauan Karimunjawa adalah jenis Cymodocea rotundata dan
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

STRUKTUR VEGETASI DAN KERAPATAN JENIS LAMUN DI PERAIRAN KEPULAUAN KARIMUNJAWA KABUPATEN JEPARA

STRUKTUR VEGETASI DAN KERAPATAN JENIS LAMUN DI PERAIRAN KEPULAUAN KARIMUNJAWA KABUPATEN JEPARA

Lamun merupakan satu-satunya tumbuhan berbunga (Angiospermae) yang memilki rhizome, daun dan akar sejati yang hidup terendam di dalam laut. Padang lamun juga memiliki peran penting sebagai nursery ground dan spawning ground dalam siklus kehidupan di perairan laut. Padang lamun di perairan Kepulauan Karimunjawa memiliki kategori luas penutupan sedang (33,03 %, BTN Karimunjawa 2005). Meningkatnya aktivitas masyarakat dan perubahan iklim yang ekstrim dikhawatirkan dapat merusak tatanan padang lamun Karimunjawa sehingga kelestariannya perlu dijaga, maka perlu dilakukan suatu penelitian dan pengecekan kembali terhadap kondisi padang lamun Karimunjawa. Pengambilan data dilakukan pada bulan Oktober tahun 2010 di 10 lokasi antara lain Kampung Ragas, Alang Alang, Merican, Telaga, Legon Bajak, Kapuran, Pulau Menjangan Besar bagian Utara dan Selatan, Pulau Bengkoang, dan Pulau Menjangan Kecil. Metode yang digunakan adalah transek kuadran berukuran (1 x 1 m). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perairan Karimunjawa memiliki 8 (delapan) jenis lamun. Jenis lamun yang sering ditemukan di Kepulauan Karimunjawa adalah jenis Cymodocea rotundata dan Thalassia hemprichii. Prosentase (%) penutupan lamun tertinggi ditemukan di lokasi Telaga mencapai 75,9 % oleh jenis Enhalus acoroides. Padang lamun di perairan Kepulauan Karimunjawa tergolong baik dengan nilai prosentase penutupan Lamun sebesar 59,94 %.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Biodiversitas Lamun di Perairan Kepulauan Tonyaman,  Kabupaten Polewali Mandar

Biodiversitas Lamun di Perairan Kepulauan Tonyaman, Kabupaten Polewali Mandar

Perairan Kepulauan Tonyaman (Kep. Tonyaman), Kabupaten Polewali Mandar (Kab. Polman), Provinsi Sulawesi Barat, juga memiliki hamparan padang lamun. Berdasarkan hasil survei lapangan, terdapat lima pulau di antara tujuh pulau yang memiliki ekosistem padang lamun. Kelima pulau tersebut yaitu P. Battoa, P. Panampeang, P. Tangnga (P. Tosalama), P. Gusung Toraja (P. Pasir Putih), dan P. Karamasang. Namun, seiring dengan peningkatan pembangunan, terutama pembangunan fisik pusat pemerintahan Kep. Tonyaman, dan tekanan perkembangan pertumbuhan manusia yang terus meningkat, secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap kondisi lamun di perairan tersebut. Informasi tentang kondisi lamun di perairan Kep. Tonyaman sampai saat ini belum pernah dipublikasi. Untuk mengetahui kondisi lamun di perairan tersebut maka dilakukan penelitian dengan tujuan untuk menganalisis struktur komunitas yang meliputi komposisi jenis, kelimpahan, kerapatan, indeks keseragaman, indeks keanekaragaman, dan indeks dominansi.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Struktur Komunitas Padang Lamun di Perairan Kepulauan Waisai Kabupaten Raja Ampat Papua Barat

Struktur Komunitas Padang Lamun di Perairan Kepulauan Waisai Kabupaten Raja Ampat Papua Barat

Kerapatan relatif adalah perbandingan antara jumlah individu spesies dan jumlah total individu seluruh spesies, bertujuan untuk mengetahui persentase per spesies dalam total jumlah seluruh spesies (Odum, 1998). Berdasarkan hasil perhitungan, lamun yang memiliki nilai kerapatan relatif tertinggi yaitu pada stasiun I jenis C. rotundata dengan nilai persentase kerapatan relatif 25,57 % dan nilai kerapatan relatif yang paling rendah yaitu S. isoetifolium, H. Decipiens. S. isoetifolium dengan nilai presentase kerapatan relatif yaitu 0,00 % karena pada stasiun ini tidak ditemukan jenis lamun tersebut. Berdasarkan hasil pengamatan diketahui bahwa lamun yang tumbuh pada daerah yang berada jauh dari garis pantai memiliki kerapatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan lamun yang tumbuh di perairan yang dekat dengan garis pantai di perairan Waisai.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Struktur Komunitas Padang Lamun di Perairan Kepulauan Waisai  Kabupaten Raja Ampat Papua Barat

Struktur Komunitas Padang Lamun di Perairan Kepulauan Waisai Kabupaten Raja Ampat Papua Barat

Kerapatan relatif adalah perbandingan antara jumlah individu spesies dan jumlah total individu seluruh spesies, bertujuan untuk mengetahui persentase per spesies dalam total jumlah seluruh spesies (Odum, 1998). Berdasarkan hasil perhitungan, lamun yang memiliki nilai kerapatan relatif tertinggi yaitu pada stasiun I jenis C. rotundata dengan nilai persentase kerapatan relatif 25,57 % dan nilai kerapatan relatif yang paling rendah yaitu S. isoetifolium, H. Decipiens. S. isoetifolium dengan nilai presentase kerapatan relatif yaitu 0,00 % karena pada stasiun ini tidak ditemukan jenis lamun tersebut. Berdasarkan hasil pengamatan diketahui bahwa lamun yang tumbuh pada daerah yang berada jauh dari garis pantai memiliki kerapatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan lamun yang tumbuh di perairan yang dekat dengan garis pantai di perairan Waisai.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

STRUKTUR DAN KOMPOSISI VEGETASI MANGROVE DI TRACKING MANGROVE KEMUJAN KEPULAUAN KARIMUNJAWA

STRUKTUR DAN KOMPOSISI VEGETASI MANGROVE DI TRACKING MANGROVE KEMUJAN KEPULAUAN KARIMUNJAWA

Berdasarkan hasil penelitian di Tracking Mangrove Kemujan, Kepulauan Karimunjawa, Kabupaten Jepara maka dapat disimpulkan bahwa pada Tracking Mangrove Kemujan, ditemukan 12 jenis mangrove yang terdiri dari 8 jenis kategori mangrove mayor, 3 jenis kategori mangrove minor dan 1 jenis kategori mangrove asosiasi. Secara umum vegetasi pohon mangrove di Tracking Mangrove Kemujan, Kepulauan Karimunjawa didominasi oleh Ceriops tagal dengan Indeks Nilai Penting (INP) kisaran (66% - 149%). Nilai Indeks Keanekaragaman (H’) dan Keseragaman (J’) kategori pohon di Tracking Mangrove Kemujan, Kepulauan Karimunjawa, termasuk dalam kategori rendah.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

ANALISIS VEGETASI LAMUN DI PERAIRAN PANTAI MARA BOMBANG KABUPATEN PINRANG

ANALISIS VEGETASI LAMUN DI PERAIRAN PANTAI MARA BOMBANG KABUPATEN PINRANG

Penelitian tentang struktur vegetasi lamun telah dilakukan di perairan pantai Mara’bombang, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui struktur dari kondisi komunitas lamun (seagrass) di perairan pantai Mara’bombang, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan. Penelitian eksploratif ini menggunakan metode transek kuadrat. Lokasi penelitian dibagi menjadi 3 stasiun, yaitu : stasiun I terletak di sekitar pemukiman penduduk, stasiun II di sekitar dermaga dan stasiun III berlokasi jauh dari permukiman penduduk dan dermaga. Hasil penelitian ditemukan 6 spesies lamun, yaitu : Cymodocea rotundata, Enhalus acoroides, Halophila ovalis, Halodule uninervis, Syringodium isoetifolium, dan Thalassia hemprichii. Kerapatan, frekuensi, penutupan dan indeks nilai penting (INP) tertinggi ditemukan pada Enhalus acoroides dengan nilai berturut-turut sebesar 3,41 individu/m 2 , 0,21, 100%, dan 300%. Pola penyebaran jenis lamun cenderung acak dan mengelompok. Substrat memiliki tipe lempung berliat dan lempung lempung liat berpasir. Kisaran suhu 32˚C - 33˚C, pH 6,5 – 7 dan salinitas antara 25-26‰. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Enhalus acoroides adalah spesies lamun yang paling dominan dan berpengaruh dalam komunitas. Parameter lingkungan yang terukur saat penelitian masih layak untuk pertumbuhan lamun.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Hubungan Kelimpahan Epifauna Pada Kerapatan Lamun Yang Berbeda Di Pantai Pancuran Belakang Pulau Karimunjawa, Jepara

Hubungan Kelimpahan Epifauna Pada Kerapatan Lamun Yang Berbeda Di Pantai Pancuran Belakang Pulau Karimunjawa, Jepara

Kelimpahan epifauna pada kerapatan lamun yang berbeda menunjukan adanya perbedaan, hal ini bisa dilihat dari nilai jumlah individu yang ditemukan di setiap stasiun QLODL LQGHNV NHDQHNDUDJDPDQ +¶ GDQ LQGHNV keseragaman (e). Pada stasiun kerapatan lamun padat, nilai LQGHNV NHDQHNDUDJDPDQ +¶ HSLIDXQD VHEHVDU 73 dengan indeks keseragamannya sebesar 0,96 dengan jumlah 181 individu/9m², pada kerapatan sedang sebesar 2,76 dengan indeks keseragaman (e) sebesar 0,98 dengan jumlah 124 individu/9m², dan pada kerapatan jarang nilai indeks keanekaragaman sebesar 2,39 dengan indeks keseragamannya sebesar 0,93 dengan jumlah 36 individu/9m² 1LODL WHUVHEXW PHQXQMXNDQ EDKZD NHDQHNDUDJDPDQ WLQJJL GLOLKDW GDUL QLODL +¶ ! VHGDQJNDQ nilai keseragaman tersebut menunjukan bahwa pada stasiun kerapatan lamun padat, sedang, dan jarang tidak ada dominasi dari spesies tertentu. Perbedaan kelimpahan dan keseragaman epifauna pada setiap stasiun diduga karena adanya perbedaan tingkat kerapatan lamun, kualitas air, jenis substrat serta kandungan bahan organik. Hal tersebut diperkuat oleh Nybakken (1992) yang menyatakan bahwa substrat dasar merupakan salah satu faktor ekologis utama yang mempengaruhi struktur komunitas hewan makrobentos, selain itu parameter perairan seperti salinitas mempengaruhi penyebaran hewan makrobentos karena setiap organisme laut dapat bertoleransi terhadap perubahan salinitas yang relatif kecil dan perlahan.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Struktur Vegetasi Lamun di Perairan Pulau Saronde, Kecamatan Ponelo Kepulauan, Kabupaten Gorontalo Utara

Struktur Vegetasi Lamun di Perairan Pulau Saronde, Kecamatan Ponelo Kepulauan, Kabupaten Gorontalo Utara

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur vegetasi lamun dan kondisi padang lamun di perairan Pulau Saronde, Kecamatan Ponelo Kepulauan, Kabupaten Gorontalo Utara. Kegiatan penelitian dilaksanakan dari tanggal 10 November - 10 Desember 2012. Penelitian ini merupakan penelitian eksplanasi dengan menggunakan metode survei. Pengamatan dibuat pada tiga stasiun, meliputi lima petak transek dengan jarak antar transek 10 meter. Untuk memperoleh data pendukung dilakukan pengukuran parameter fisik perairan, seperti arus, kecerahan, kedalaman, suhu, salinitas, dan tipe substrat. Analisis vegetasi yang dilakukan meliputi komposisi jenis, frekuensi jenis, frekuensi relatif, kerapatan jenis, kerapatan relatif, penutupan jenis, penutupan relatif, dominansi jenis, dominansi relatif, indeks keanekaragaman jenis, dan Indeks Nilai Penting. Ditemukan lima jenis lamun, yakni jenis Cymodocea serrulata, Enhalus acoroides, Halophila minor, Halophila ovalis, Thalassia hemprichii. Stasiun I yang terletak di sebelah utara pulau memiliki nilai analisis vegetasi paling tinggi dari seluruh stasiun penelitian.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Variasi Komposisi Dan Kerapatan Jenis Lamun  Di Perairan Ujung Piring, Kabupaten Jepara

Variasi Komposisi Dan Kerapatan Jenis Lamun Di Perairan Ujung Piring, Kabupaten Jepara

110°58’37,40” Bujur Timur. Kabupaten Jepara berada di bagian utara Pulau Jawa dan berbatasan langsung dengan Laut Jawa. Kabupaten Jepara terdiri dari wilayah daratan utama dan wilayah kepulauan. Pantai Ujung Piring terletak di Kecamatan Mlonggo, Kabupaten Jepara, tepatnya di Desa Sekuro. Pantai Ujung Piring merupakan salah satu pesisir yang masih sangat jarang dikunjungi oleh wisatawan. Pantai ini terletak di antara tiga desa yaitu Jambu, Blebak dan Sekuro. Pantai Ujung Piring berbentuk seperti teluk. Kawasan ini sebenarnya lebih banyak rawa dan tambak, serta banyaknya vegetasi
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

KOMPOSISI DAN KERAPATAN JENIS SERTA POLA PENYEBARAN LAMUN DI PERAIRAN TELUK TOMINI DESA WONGGARASI TIMUR KECAMATAN WANGGARASI KABUPATEN POHUWATO

KOMPOSISI DAN KERAPATAN JENIS SERTA POLA PENYEBARAN LAMUN DI PERAIRAN TELUK TOMINI DESA WONGGARASI TIMUR KECAMATAN WANGGARASI KABUPATEN POHUWATO

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi, kerapatan jenis, dan pola penyebaran lamun di perairan Teluk Tomini Desa Wonggarasi Timur Kecamatan Wonggarasi Kabupaten Pohuwato. Penelitian ini dilaksanakan pada akhir Bulan September sampai Bulan Maret 2015. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode line transek. Stasiun penelitian terdiri atas 3 stasiun yaitu stasiun I berdekatan dengan TPI dan pangkalan perahu, stasiun II berdekatan dengan ekosistem mangrove dan kegiatan budidaya keramba, dan stasiun III berdekatan dengan ekosistem mangrove. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di lokasi penelitian hanya ditemukan satu jenis lamun yaitu jenis Enhalus Acoroides yang tergolong dalam famili Hydrocharitaceae dengan nilai kerapatan tertinggi terdapat pada stasiun II dengan nilai 24.22 individu/m 2 , dan kerapatan terendah terdapat pada stasiun III dengan nilai 16 individu/m 2 serta memiliki pola penyebaran yang mengelompok.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Kerapatan Dan Distribusi Lamun (Seagrass) Berdasarkan Zona Kegiatan Yang Berbeda Di Perairan Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu

Kerapatan Dan Distribusi Lamun (Seagrass) Berdasarkan Zona Kegiatan Yang Berbeda Di Perairan Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu

Lamun merupakan tumbuhan yang beradaptasi penuh untuk dapat hidup di lingkungan laut. Ekosistem lamun berperan penting di wilayah pesisir karena menjadi habitat penting untuk berbagai jenis hewan laut seperti ikan, moluska, crustacea, echinodermata. Penelitian yang dilakukan pada bulan April 2012 di Perairan Pantai Pulau Pramuka bertujuan untuk mengetahui komunitas lamun (jenis, kelimpahan, penutupan) dan distribusinya di berbagai zona di Perairan Pantai Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu. Sampling dilakukan di tiga stasiun, yakni stasiun 1 (zona alami), stasiun 2 (zona pemukiman) dan stasiun 3 (zona resort wisatawan) menggunakan kuadran transek. Hasil yang didapatkan 7 jenis lamun yaitu Cymodocea rotundata, Cymodocea serrulata, Enhalus acoroides, Halodule uninervis, Halophila ovalis, Thalassia hemprichii dan Syringodium isoetifolium. Kerapatan lamun yang tertinggi diperoleh di stasiun 1 yaitu 1.620 individu/15m 2 . Berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 20 Tahun 2004 bahwa stasiun 1 (zona alami) dengan persentase penutupan 68% masuk kedalam kondisi sehat (penutupan > 60%), sedangkan untuk stasiun 2 (zona pemukiman) dan 3 (zona resort) dengan persentase masing-masing 59% dan 48% masuk dalam kategori kondisi kurang sehat (penutupan 30-59,9%). Pola sebaran (distribusi) lamun pada stasiun 1 mengelompok (cluster) dan seragam (uniform) untuk stasiun 2 dan 3, dengan demikian ada pengaruh dari kegiatan manusia terhadap komunitas lamun.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Analisis Spektrum Gelombang Berarah Di Perairan Karimunjawa, Kabupaten Jepara

Analisis Spektrum Gelombang Berarah Di Perairan Karimunjawa, Kabupaten Jepara

Salah satu permasalahan yang biasanya terdapat di suatu pantai adalah adanya erosi yang diakibatkan oleh gelombang yang menjalar ke pantai akhirnya akan pecah yang disertai kekuatan untuk mengikis sedimen di pantai (Hutabarat dan Evans, 1985). Erosi dapat mengakibatkan mundurnya garis pantai yang kemudian akan berpengaruh pada kehidupan masyarakat pesisir dan potensi wisata pantai. Apabila tidak dilakukan penanganan, dikhawatirkan bahwa pantai akan semakin mundur dan kehilangan lahan sehingga potensi wisata pantai akan turut berkurang. Selain itu gambaran tentang kondisi gelombang juga dapat menambah informasi serta kewaspadaan untuk wisatawan maupun masyarakat yang sedang atau ingin melakukan kegiatan di perairan tersebut. Untuk menangani masalah tersebut, dibutuhkan analisis terhadap karakteristik gelombang di pantai. Karakteristik gelombang yang dianalisis pada penelitian ini adalah spektrum dari gelombang laut. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui karakteristik gelombang dengan parameter tinggi gelombang signifikan (Hs), periode gelombang (Ts), dan arah gelombang, serta mengetahui spektrum gelombang berarah yang berupa distribusi energi gelombang laut pada Perairan Karimunjawa.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Jenis-Jenis Bintang Laut Dan Bulu Babi (Asteroidea, Echinoidea: Echinodermata) Di Perairan Pulau Cilik, Kepulauan Karimunjawa

Jenis-Jenis Bintang Laut Dan Bulu Babi (Asteroidea, Echinoidea: Echinodermata) Di Perairan Pulau Cilik, Kepulauan Karimunjawa

Pulau Cilik merupakan pulau yang relatif kecil, dengan luas ± 2 Ha. Transek dilakukan di empat lokasi untuk masing- masing di sebelah barat, utara, timur, dan selatan pulau. Pemilihan empat lokasi tersebut bertujuan untuk mendapatkan hasil sampling yang bisa mewakili kondisi populasi Asteroidea dan Echinoidea pada Pulau Cilik. Pengambilan sampel dilakukan pada pagi hari saat pasang agar didapatkan kecerahan yang maksimal. Pada masing- masing lokasi ditarik garis utama tegak lurus dengan garis pantal sepanjang l00 m menuju ke arah laut. Pengamatan dilakukan dengan interval 5 meter, selain itu juga dilakukan pengamatan dengan interval 2,5 m di sebelah kanan dan kiri garis transek sehingga didapatkan luas petak pengamatan 25 m dalam setiap intervalnya, dimana radius jangkau mata pengamat dalam observasi bawah air (English, 1994). Morfologi, tipe habitat (substrat & kedalaman) dan jumlah total bintang laut dan bulu babi dicatat. Biota yang tidak dapat diidentifikasi di bawah air, dibawa ke laboratorium lebih lanjut diamati morfologinya (lengan, cakram pusat, madreporite, duri, mulut, kaki tabung dan alur ambulacralnya. Identifikasi jenis dilakukan dengan pedoman buku identifikasi
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Struktur Komunitas Zooplankton Di Ekosistem Lamun Alami Dan Berbagai Lamun Buatan Perairan Teluk Awur, Jepara

Struktur Komunitas Zooplankton Di Ekosistem Lamun Alami Dan Berbagai Lamun Buatan Perairan Teluk Awur, Jepara

Kelimpahan rata-rata zooplankton pada ekosistem lamun alami dan berbagai lamun buatan di perairan Teluk Awur, Jepara berdasarkan stasiun pengamatan menunjukkan kisaran tertinggi terdapat pada stasiun 1 yang merupakan ekosistem lamun alami dan terendah pada stasiun 2 yang merupakan ekosisteam lamun buatan yang terbuat dari semak plastik. Stasiun 1 merupakan ekosistem lamun alami yang meiliki kerapatan cukup tinggi. Azkab (2000) menjelaskan bahwa salah satu sifat dari ekosistem lamun yaitu sebagai pendaur zat hara. Zat hara tersebut dimanfaatkan oleh fitoplankton yang mengakibatkan tingginya nilai kelimpahan zooplankton, karena zooplankton memanfaatkan fitoplankton sebagai makanannya.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Komposisi Jenis, Kerapatan Dan Tingkat Kemerataan Lamun Di Desa Otiola Kecamatan Ponelo Kepulauan Kabupaten Gorontalo Utara

Komposisi Jenis, Kerapatan Dan Tingkat Kemerataan Lamun Di Desa Otiola Kecamatan Ponelo Kepulauan Kabupaten Gorontalo Utara

Jenis yang ditemukan pada lokasi pengamatan lebih sedikit ini dikarenakan kurangnya kemampuan untuk berkompetisi dengan jenis lamun yang mempunyai bentuk morfologi daun besar seperti Enhalus acoroides, hal ini terlihat jenis Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata dan Halophila ovalis yang ditemukan pada lokasi pengamatan mempunyai ukuran morfologi daun yang kecil tidak seperti pada umumnya. Pertumbuhan lamun diduga dapat dipengaruhi oleh faktor internal seperti kondisi fisiologi dan metabolisme, serta faktor eksternal seperti zat hara (nutrien), dan tingkat kesuburan perairan (Hemminga dan Duarte, 2000 dalam Hartati, dkk, 2012).
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects