Top PDF TAFSIR TENTANG LAFAZ Al-UMMAH DALAM AL-QUR’AN

TAFSIR TENTANG LAFAZ Al-UMMAH DALAM AL-QUR’AN

TAFSIR TENTANG LAFAZ Al-UMMAH DALAM AL-QUR’AN

Dalam ayat tersebut keimanan kepada Allah berada pada urutan ketiga dari syarat-syarat umat ideal. Iman yang dimaksud adalah keimanan yang diajarkan al-Qur’an. Dalam al-Qur’an dikatakan bahwa objek keimanan yang harus di imani oleh seorang muslim adalah Allah SWT, para Malaikat, kitab-kitab Allah, para rasul Nya, hari akhir, qadha dan qadar Nya. Kata Iman adalah bentuk masdar dari amana- yu’minu, para pakar bahasa dan ulama sepakat bahwa makna al-iman adalah at-tashdiq ‘membenarkan’. Ayat ini mengandung suatu dorongan kepada kaum mukminin supaya tetap memelihara sifat-sifat utama itu dan supaya mereka tetap mempunyai semangat yang tinggi. Umat yang paling baik di dunia adalah umat yang mempunyai dua macam sifat, yaitu mengajak kebaikan serta mencegah kemunkaran, dan senantiasa beriman kepada Allah. Semua sifat itu telah dimiliki oleh kaum muslimin di masa nabi dan telah menjadi darah daging dalam diri mereka karena itu mereka menjadi kuat dan jaya. Dalam waktu yang singkat mereka telah dapat menjadikan seluruh tanah Arab tunduk dan patuh di bawah naungan Islam, hidup aman dan tenteram di bawah panji- panji keadilan, padahal mereka sebelumnya adalah umat yang berpecah belah selalu berada dalam suasana kacau dan saling berperang antara sesama mereka. Ini adalah berkat keteguhan iman. dan kepatuhan mereka menjalankan ajaran agama dan berkat ketabahan dan keuletan mereka
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

View of Manajemen Kinerja dalam Tafsir Al-Qur’an dan Hadist Pendekatan Filsafat Tematik

View of Manajemen Kinerja dalam Tafsir Al-Qur’an dan Hadist Pendekatan Filsafat Tematik

Taqwa dalam melakukan pekerjaan. Al- Qur’an banyak sekali mengajarkan kita agar taqwa dalam setiap perkara dan pekerjaan. Jika Allah SWT ingin menyeru kepada orang-orang mukmin dengan nada panggilan seperti "Wahai orang-orang yang beriman", biasanya diikuti oleh ayat yang berorientasi pada kerja dengan muatan ketaqwaan. Di antaranya, "Keluarkanlah sebahagian dari apa yang telah Kami anugerahkan kepadamu." "Janganlah kamu ikuti/rusak sedekah-sedekah (yang telah kamu keluarkan) dengan olokan- olokan dan kata-kata yang menyakitkan."
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM DALAM AL QUR’AN [Kajian Surah Al-Hujurat Ayat 11-13 Tafsir Al- Munir Karya Wahbah Al-Zuhaili]

TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM DALAM AL QUR’AN [Kajian Surah Al-Hujurat Ayat 11-13 Tafsir Al- Munir Karya Wahbah Al-Zuhaili]

Ciri khas dari Tafsir al-Munir jika dibandingkan dengan kitab- kitab tafsir lainnya adalah dalam penyampaian dan kajiannya yang menggunakan langsung pokok tema bahasan. Selain itu, yang menciri khaskan dari Tafsir al-Munir ini adalah ditulis secara sistematis mulai dari qirā’ātnya kemudian i’rāb, balāghah, mufradāt lughawiyyahnya, yang selanjutnya adalah asbāb al-Nuzūl dan Munāsabah ayat, kemudian mengenai tafsir dan penjelasannya dan yang terakhir adalah mengenai fiqh kehidupan atau hukum-hukum yang terkandung pada tiap-tiap tema pembahasan. Serta memberikan jalan tengah terhadap perdebatan antar ulama madzhab yang berkaitan dengan ayat-ayat ahkam, dan mencantumkan footnote ketika pengambilan sumber dan kutipan.
Baca lebih lanjut

23 Baca lebih lajut

View of Prinsip Pengembangan Organisasi Dalam Tafsir Al-Qur’an Dan Hadits Pendekatan Tematik

View of Prinsip Pengembangan Organisasi Dalam Tafsir Al-Qur’an Dan Hadits Pendekatan Tematik

Artikel ini akan mendeskripsikan prinsip pengembangan organisasi dalam penafsiran Al-Qur’an sembari menyertakan Hadits-hadits yang menguatkan hal itu. Dalam konteks pembahasan organisasi ini penelusuran terhadap konsep al- jam'iyyah atau aljama'ah dalam Al-Qur’an rupanya menemukan jalan buntu karena ternyata Al-Qur’an memiliki kata kunci tersendiri untuk menjelaskan masalah itu. Dan menurut pendapat Syukri Ilyas dalam makalahnya “Organisasi Dalam Al- Qur’an”, konsep organisasi dalam Al-Qur’an justru terungkap dalam kata al-shaf (barisan) yang terdapat pada surat al-Shaf ayat 4 dan kata al-ummah (umat) yang tersebar dalam beberapa ayat di Al-Qur’an, bukan terungkap dalam kata al- jam'iyyah atau al-jama'ah. Diantara prinsip-prinsip tersebut adalah prinsip perjuangan di jalan Allah, prinsip istiqamah, prinsip ketaatan, prinsip kesabaran, prinsip keselarasan antara ucapan dan perbuatan, prinsip keteraturan, prinsip pencatatan, dan prinsip pertanggungjawaban.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

A. Pendahuluan - Memahami Al-Qur’an Dengan Metode Tafsir Maudhuâ

A. Pendahuluan - Memahami Al-Qur’an Dengan Metode Tafsir Maudhuâ

Menurut hemat penulis, salah satu kekurangan dari metode tafsir ini adalah, tafsiran ayat menjadi parsial; tidak holistic yang hal ini menyebabkan pemahaman terhadap sebuah kata atau kalimat yang ditafsiri menjadi bias (tidak fokus), bahkan maknanya akan berbeda bila tidak mengetahui kaitan ayat sebelum dan sesudahnya. Contohnya dalam menafsirkan kata Khoir. Padahal realitanya, tidak semua kata Khoir dalam al-Qur’an ditafsiri dengan “kebaikan” sebagaimana dalam ayat Walal Akhiratu Khoirun Laka Minal Ula, namun dalam al-Adhiyat; Wainnahu Lihubbil Khoiri Lasyadid, pada ayat ini Khoir ditafsiri sebagai “harta” (duniawiyah).
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

KONSEP FITNAH MENURUT AL-QUR’AN

KONSEP FITNAH MENURUT AL-QUR’AN

Bagi kalangan ahli tafsir, termasuk al-Razi bahwa ayat-ayat yang berhubungan dengan fitnah tampak begitu implisit terkait dengan cobaan atau hukuman. Adapun maksud dari kata implisit di sini, bahwa cobaan [fitnah] boleh jadi ditujukan kepada orang yang menjadi objek fitnah atau bisa saja secara sepihak ditujukan kepada pelaku fitnah sebagai pihak otoritas yang mengendalikan tindakan tersebut. Namun demikian, pihak pelaku fitnah dalam konteks al-Qu’an lebih dimintai tanggungjawab dan pelaku tersebut dipandang sebagai pihak yang mnegendalikan tindakan mem-fitnah. Dan bagaimanapun, implikasi akhir dari tindakan fitnah bertujuan untuk, boleh saja menyiksa, mendatangkan bencana, membunuh dan atau untuk mengorbankan sisi kemanusiaan itu sendiri. Bahkan bagi al-Razi, kata cobaan (‘azab) seperti yang diperlihatkan oleh orang-orang munafik yang enggan berusaha memikirkan atau tadabbur dengan masyarakat muslim dan bahkan menentangnya; karena itu al-Qur’an memberi penegasan secara keras berupa azab dunia (‘azab al-dunya: lihat dalam surat al-Tawbah ayat 126.) Atas dasar yang demikian, maka persoalan fitnah dengan dampak dan pengaruh yang begitu besar terhadap masyarakat, oleh kalangan tafsir menggambarkan ikut melahirkan sejumlah petaka baik dari segi materi maupun dalam kontek non-materi sebagai berikut:
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

ETIKA KOMUNIKASI ANAK TERHADAP ORANG TUA DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN( Studi Komparasi Tafsir al-Azhar dan Tafsir al-Mişbāh tentang Lafaz Uff dan Qawlan Kar ȋman dalam Surah al-Isrâ’ [17] ayat 23)

ETIKA KOMUNIKASI ANAK TERHADAP ORANG TUA DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN( Studi Komparasi Tafsir al-Azhar dan Tafsir al-Mişbāh tentang Lafaz Uff dan Qawlan Kar ȋman dalam Surah al-Isrâ’ [17] ayat 23)

From these results, according to the commentary of tafsir al-Azhar, the ethics of communication according to the Qur'an sura al-Isrȃ ‟ verse 23 is the prohibition to use a word that contains a feeling of respect, communication is a form of ethical practice to practice of monotheism, instead of words that show no respect feeling is, children are encouraged to use words that have a meaning of love. While the interpretation of tafsir al-Misbah, communication ethics shown by giving the highest respect to the parents, which is using the best communication in interacting with parents. The results of comparative analysis interpretation of tafsir al-Azhar and tafsir al- Mişbāh show some similarities in explaining sura al- Isrȃ ‟ verse 23, which is devoted to the similarities that parents have a relationship with the Oneness of God. While the differences are found in communication explaining the positive and negative communication that is found in the explanation of the purpose clause.
Baca lebih lanjut

33 Baca lebih lajut

PERAN MU’TAZILAH DALAM MENAFSIRKAN AL QURâ€

PERAN MU’TAZILAH DALAM MENAFSIRKAN AL QURâ€

Selain abu al-Hasan al-Asy c ari, Ibnu Taimiyah pun melakukan krtirik terhadap penafsiran Mu c tazilah. Menurut Ibu Taymiyah, kaum Mu c tazilah adalah kaum yang sangat mempercayai akal, dan berusaha untuk membawa lafaz-lafaz al- Qur’an kepadanya. Apa yang mereka lakukan tidak pernah dilakukan oleh ulama salaf al-sālih sama ada dari kalangan sahabat Nabi, para Tabi c in dan para ulama lainnya. Kebathilan tafsir Mu c tazilah ini dapat dilihat dari dua hal. Pertama, dari kerosakan pendapat mereka dan kedua dari kerosakan penafsiran yang mereka lakukan terhadap ayat-ayat al-Qur’an.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

Implikasi Qira’at Shadhdhah terhadap tafsir: studi kitab Tafsir al Kashshaf ‘an Haqaiq Ghawamid al Tanzil wa ‘Uyun al Aqawil fi Wujuh al Ta’wil karya al Zamakhshari

Implikasi Qira’at Shadhdhah terhadap tafsir: studi kitab Tafsir al Kashshaf ‘an Haqaiq Ghawamid al Tanzil wa ‘Uyun al Aqawil fi Wujuh al Ta’wil karya al Zamakhshari

Ketiga, lafaz} مكب menjelaskan h}a>l (keadaan) Bani Isra’il atau terbelahnya laut merah adalah مكب اسبتلم sebagai pelindung bagi Bani Isra’il (dari kejaran Fir’un dan para pengikutnya). Sebab ketika laut merah terbelah, Bani Isra’il menginjakkan kaki mereka di atas tanah lautan yang sudah mengering dengan tenang. 201 Ada sebagian pendapat yang mengatakan bahwa menyeberangnya Bani Isra’il di laut merah kala itu pada saat laut berada dalam keadaan surut. Maka sudah menjadi kebiasaan bahwa laut merah saat sedang surut menjadi sangat dangkal sekali sehingga orang-orang bisa menyeberanginya karena dangkalnya. 202 Al-Zamakhshari> melanjutkan ayat ini dengan mencantumkan riwayat bahwa Bani Isra’il bertanya kepada Nabi Musa ‘Dimanakah mereka para pasukan Fir’aun (yang mengejar kami)?’ Nabi Musa menjawab ‘mereka berada di belakang kalian dan akan mengikuti jalan yang kalian lalui ini Bani Isra’il berkata lagi ‘Kami tidak akan ridha
Baca lebih lanjut

118 Baca lebih lajut

PENGGUNAAN KATA TANYA/ ISTIFHANIAH DALAM ALQUR’AN (SUATU KAJIAN TAFSIR TEMATIK DALAM TAFSIR AL MISHBAH PADA SURAT AL BAQARAH, ALI IMRAN, AN NISAâ

PENGGUNAAN KATA TANYA/ ISTIFHANIAH DALAM ALQUR’AN (SUATU KAJIAN TAFSIR TEMATIK DALAM TAFSIR AL MISHBAH PADA SURAT AL BAQARAH, ALI IMRAN, AN NISAâ

Al-Qur’an sebagai mukjizat terbesar bagi nabi Muhammad SAW dalam bentuk mu’jizat ma’nawiyah yaitu suatu mukjizat yang dapat disaksikan oleh seluruh umat sepanjang zaman baik dari segi lafaz, makna dan isi kitab ini merupakan tantangan bagi orang-orang yang mengingkari kebenarannya baik orang-orang arab sendiri maupun bangsa lain, tidak terkecuali para orentalis yang mendustakan kemukjizatan itu seperti yang digambarkan oleh Muhamad Amin dkk. Pada mulanya Alqur’an

6 Baca lebih lajut

PENCITRAAN ULAMA DALAM AL-QUR’AN  (Refleksi Peran Ulama Dalam Kehidupan Sosial)

PENCITRAAN ULAMA DALAM AL-QUR’AN (Refleksi Peran Ulama Dalam Kehidupan Sosial)

Penjatuhan nama dan martabat kaum ulama dimata masyarakat dunia telah berdampak pada munculnya ketidakmampuan masyarakat Islam menunjukkan identitas dirinya sebagai khaira ummah (masyarakat terbaik) kepada dunia luar. Ironisnya, dalam kondisi seperti ini kaum ulamawan pun agaknya tak berdaya memperbaiki citranya di mata rakyat, bahkan merekapun ikut terjerembab ke dalam permainan catur politik elite penguasa. Bahkan tidak jarang terprovokasi dengan persoalan-persoalan kecil – seumpama masalah khilafiyah – tapi berdampak besar dan sistematis terhadap pembangunan umat. Di Aceh sendiri terdapat beberapa kasus terkait masalah furu‟iyah, baik dalam prosesi shalat jum‟at, shalat tarawih, dan lain- lain, yang semakin memperlebar ruang pertentangan di antara kaum ulamawan. Fenomena ini hampir boleh disebut sebagai langkah mundur kaum ulamawan dalam mengayomi masyarakatnya.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

2. Tinjauan Interpretasi Beberapa Ahli Tafsir - Etika Komunikasi Anak Terhadap Orang Tua Dalam Perspektif Al-Qur'an (Studi Komparasi Tafsir al-Azhar dan al-Mişbāh tentang Lafaz Uff dan Qawlan Karȋman dalam Surah al-Isrâ’ [17] Ayat 23) - Digital Library IA

2. Tinjauan Interpretasi Beberapa Ahli Tafsir - Etika Komunikasi Anak Terhadap Orang Tua Dalam Perspektif Al-Qur'an (Studi Komparasi Tafsir al-Azhar dan al-Mişbāh tentang Lafaz Uff dan Qawlan Karȋman dalam Surah al-Isrâ’ [17] Ayat 23) - Digital Library IA

Ketika menafsirkan QS. an-Nis ȃ‟ [4]: 36, penulis telah memerinci kandungan makna ( ا نسح إ ) i ḥ s ȃ n ȃ . di san a, antara lain penulis kemukakan bahwa al-Qur'an menggunakan kata ( ا نسح إ ) iḥsȃnȃ untuk dua hal. Pertama, memberi nikmat kepada pihak lain, dan kedua perbuatan baik. Karena itu, kata “ i ḥ s ȃ n ” lebih luas dari sekedar memberi nikmat atau nafkah. Maknanya bahkan lebih tinggi dan dalam daripada kandungan makna adil karena adil adalah memperlakukan orang lain sama dengan perlakuannya kepada Anda, sedang “ i ḥ s ȃ n ” adalah memperlakukannya lebih baik dari perlakuannya terhadap Anda. Adil adalah mengambil semua hak Anda dan atau memberi semua hak orang lain, sedang i ḥ s ȃ n adalah memberi lebih banyak daripada yang harus Anda beri dan mengambil lebih sedikit dari yang seharusnya Anda ambil. Karena itu pula, Rasul saw. berpesan kepada seseorang: “Engkau dan hartamu adalah untuk/milik ayahmu” (HR. Ab ȗ D ȃȗ d). 19
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

View of OPOSISI PERSPEKTIF AL-QUR’AN

View of OPOSISI PERSPEKTIF AL-QUR’AN

demokrasi adalah keterbukaan yang tercermin pada kritik, saran, atau nasehat. Hal tersebut harus terwujud demi mencapai tujuan dan cita-cita bersama. Untuk mewujudkan hal tersebut, oposisi menjalankan suatu fungsi yang sangat vital dan penting, sebagai check and balances, mengontrol pemerintah yang didukung mayoritas. Oposisi tidak hanya diartikan sebagai penantang kebijakan pemerintah saja, tapi sebagai bagian dalam sistem berdemokrasi untuk memberikan kitik, saran, dan nasehat kepada pemerintah. Demokrasi dan oposisi yang bermakna tersebut tidak dapat dipertantangkan dengan Islam. Teks-teks Al- Qur’an ataupun Hadis Nabi saw. banyak mengisyaratkan dan menuntun kearah tersebut walaupun secara teks/literal tidak dijumpai dalam Al- Qur’an lafad demokrasi dan oposisi, namun subtansi dalam demokrasi dan oposisi yang tercermin pada kewajiban melaksanakan amar makruf dan nahi munkar atau saling menasehati dan berpesan-pesan dalam kebenaran demi terwujudnya khair ummah.
Baca lebih lanjut

25 Baca lebih lajut

Makna Lafaz Al-Zan dalam Surah Al-Hujurat Ayat 12 Perspektif Ulama Tafsir

Makna Lafaz Al-Zan dalam Surah Al-Hujurat Ayat 12 Perspektif Ulama Tafsir

Hasil dari penelitian ini menyimpulkan bahwa makna lafaz }Al-z}an ini mempunyai arti prasangka. Prasangka yang dimana lebih condong ke sifat tercela. Tetapi ada juga mufassir yang mengartikan sebagai prasangka yang sifatnya baik. Selain itu mufassir menafsirkannya menggunakan teori muna>sabah dan fungsi sunnah. Muna>sabah ialah kedekatan atau kemiripan yang terjadi pada dua hal atau lebih dan terjadi pada seluruh unsur atau hanya sabagian saja. Selain itu mufassir juga menggunakan teori fungsi sunnah dimana hadis tersebut sebagai penguat isi kandungan dalam Alquran. Selain itu prasangka bisa juga diartikan atau mengarah pada yang sifatnya terbuka, maksudnya mengajak orang lain untuk mempercayai apa yang kita sangka, dan belum tentu itu benar kejelasannya sehingga mengakibatkan akan terjadinya ghibah.
Baca lebih lanjut

84 Baca lebih lajut

Klasifikasi dan Derivasi Lafaz Sa’ala dalam Al-Quran

Klasifikasi dan Derivasi Lafaz Sa’ala dalam Al-Quran

Yakni bila kalian bertanya tentang rinciannya setelah ia turun maka akan dijelaskan kepada kalian. Jangan kalian bertanya tentang sesuatu sebelum ia terjadi, sebab bisa jadi ia akan menjadi diharamkan karena pertanyaan tersebut. Oleh karena itu dalam kitab ash-shahihain disebutkan, “sesungguhnya orang muslim yang paling besar dosanya ialah orang yang bertanya tentang sesuatu yang tidak diharamkan lalu diharamkan karena pertanyaannya.” Saat Rasulullah ditanya tentang seorang suami yang melihat istrinya bersama laki-laki lain. Bila beliau jawab berarti beliau membicarakan suatu perkara yang sangat besar. Namun bila beliau diam berarti beliau juga mendiamkan satu perkara yang sama besarnya. Rasulullah pun tidak menyukai dan mencela pertanyaan itu sebelum benar-benar terjadi, kemudian Allah menurunkan hukum li’an. Oleh karena tu diriwayatkan secara shahih dalam ash- shahihain dari Al-Mughirah bin Syu,bah bahwa Rasulullah melarang katanya dan dikatakan, menyia-nyiakan harta dan banyak bertanya. 6
Baca lebih lanjut

76 Baca lebih lajut

Tafsir Sosial Kisah Para Nabi dalam Al-Qur`an

Tafsir Sosial Kisah Para Nabi dalam Al-Qur`an

di negeri Syâm, setelah beberapa puluh tahun dari tenggelamnya Fir'aun, setelah wafatnya Nabi Mûsâ dan setelah peristiwa padang Tîh selama 40 tahun sebagaimana dijelaskan dalam surat yang lain. Jadi, ayat 136-137 surat al-A’râf di atas sesungguhnya menyingkat cerita dengan tujuan menampilkan dua peristiwa yang saling berlawanan: kehancuran Fir'aun dan para pengikutnya di satu sisi, dan istikhlâf atau kemenangan bagi Banî Isrâ`îl pada sisi lain. Namun harus dipahami bahwa keduanya—meski dari segi rentang waktu agak berjauhan— berhubungan secara dialektis, atau mempunyai hubungan sebab-akibat pada beberapa aspeknya. 29
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

TABAYYUN TERHADAP BERITA DITINJAU DARI AL-QURAN DAN KODE ETIK JURNALISTIK

(Studi atas Surat Al Hujurat ayat 6 dalam Tafsir Al-Misbah, Tafsir Al-Azhar dan Tafsir An-Nur)

TABAYYUN TERHADAP BERITA DITINJAU DARI AL-QURAN DAN KODE ETIK JURNALISTIK (Studi atas Surat Al Hujurat ayat 6 dalam Tafsir Al-Misbah, Tafsir Al-Azhar dan Tafsir An-Nur)

Pada saat bersamaan, Rasulullah SAW. mengirim al-Walid ibn Uqbah untuk mengambil harta zakat pada Al-Haris. Hanya saja ketika al-Walid sampa di tengah jalan, ia kembali menghadap Rasulullah SAW dan melapor: “Sesungguhnya Al-Haris menolak untuk membayar zakatnya kepadaku bahkan dia hampir saja membunuhku.” Maka Rasulullah SAW kembali membentuk utusannya yang baru untuk dikirim kepada Al-Haris. Ketika para utusan itu keluar, datanglah Al-Haris bersama teman-temannya dan mereka berpapasan. Lalu Al-Haris bertanya: “Hendak kemanakah kalian diutus?”, kemudian mereka menjawab: “Kami dutus untuk menemuimu”. Al-Haris bertanya kembali: “Mengapa?”, mereka berkata “Sesungguhnya Rasulullah SAW. telah mengutus kepadamu al-Walid ibn Uqbah, lalu ia melaporkan bahwa kamu tidak mau membayar zakat kepadanya bahkan mengancam hendak membunuhnya”.
Baca lebih lanjut

99 Baca lebih lajut

MAJLIS TAFSIR AL-QUR AN (MTA) PUSAT

MAJLIS TAFSIR AL-QUR AN (MTA) PUSAT

Berdasarkan hadits-hadits di atas mereka memahami bahwa ma’mum masbuq yang mendapatkan ruku’ bersama imam, belum dihitung satu rekaat, karena tidak mendapatkan Al-Fatihah, sedangkan Al-Fatihah adalah salah satu rukun shalat, artinya : kalau rukun tidak dikerjakan maka shalatnya tidak sah. Apabila ma’mum masbuq mengalami yang demikian itu, maka ketika imam salam, ia tidak ikut salam, tetapi menyempurnakan rekaat yang kurang tadi.

6 Baca lebih lajut

Nabi dalam Al Qur an Kajian Tafsir Ayat

Nabi dalam Al Qur an Kajian Tafsir Ayat

Kata anbiya yang merupakan bentuk jama’ dari nabi disebutkan dalam: QS. Al- Baqarah [2]: 91 tentang Sikap orang Yahudi terhadap para rasul dan kitab-kitab yang diturunkan Allah; QS. Ali Imran [3]: 112 tentang kemurkaan Allah kepada orang-orang ahli kitab karena telah mendustakan para nabi dan membunuh mereka; QS. Ali Imran [3]: 181 tentang azab Allah bagi orang-orang yang mencelaNya dan membunuh nabiNya; QS. Al-Nisa’ [4]: 155 tentang kutukan Allah kepada orang-orang kafir yang telah membunuh para nabi dan tidak mengimani keterangan Allah; QS. Al-Maidah [5]: 20 tentang nabi Musa yang mengingatkan kaumnya bahwa Allah telah memberi mereka nikmat dan menurunkan para nabi kepada mereka.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

PEMAKNAAN TOLERANSI DAN KEBEBASAN BERAGAMA PERSPEKTIF TAFSIR BI AL-MA’TSUR (Studi terhadap Tafsir Jami’ al-Bayan fi Tafsir al-Quran, Tafsir al-Quran al-Adzim dan al-Durru Al-Mantsur fi Tafsir bi al-Ma’tsur)

PEMAKNAAN TOLERANSI DAN KEBEBASAN BERAGAMA PERSPEKTIF TAFSIR BI AL-MA’TSUR (Studi terhadap Tafsir Jami’ al-Bayan fi Tafsir al-Quran, Tafsir al-Quran al-Adzim dan al-Durru Al-Mantsur fi Tafsir bi al-Ma’tsur)

Dalam makna yang demikian ini pula, kiranya tindakan Abu Bakar dalam memerangi orang-orang yang murtad serta orang yang enggan untuk berzakat 49 tidaklah dinilai sebagai pelanggaran terhadap kebebasan memilih keyakinan namun harus dilihat sebagai ancaman terhadap pelanggarannya terhadap tuntunan akidah yang telah dipilihnya, karena Islam – sebagaimana ungkap Fazlur Rahman–tidaklah sebagaimana propaganda Kristen barat yang telah mengaburkan keseluruhan masalah jihad dengan mempopulerkan slogan “Islam agama pedang,” 50 atau seperti kesimpulan Bernard Lewis yang dengan sangat diplomatis menyatakan: “Sebagian besar muslim bukanlah kelompok fundametalis dan kebanyakan kelompok fundamentalis bukanlah teroris namun para teroris saat ini adalah muslim”. 51 Bagi Rahman, yang dikembangkan dengan pedang bukanlah agama Islam tetapi domain politik Islam sehingga Islam dapat menciptakan tata dunia yang dicita-citakan al-Quran. 52
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...