Top PDF Tanggung Jawab Pemegang Saham Perseroan Terbatas Menurut Hukum Positif

Tanggung Jawab Pemegang Saham Perseroan Terbatas Menurut Hukum Positif

Tanggung Jawab Pemegang Saham Perseroan Terbatas Menurut Hukum Positif

megang saham, tidak secara serius menghendaki status pertanggung- jawaban terbatas, yang hanya dapat diperoleh segera setelah perseroan ter- batas didirikan tersebut memperoleh pengesahan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia. Dengan meng- abaikan proses dan formalitas yang selayaknya dan seharusnya ditempuh, pendiri perseroan terbatas daoat dika- takan tidak bermaksud untuk secara sungguh-sungguh mendirikan suatu peerseroan terbatas. Bahkan dalam ketentaun Pasal 10 ayat (9) UU PT No. 40 Tahun 2007 yang menyatakan bahwa jika dalam jangka waktu 60 (enam puluh) hari terhitung sejak tanggal akta pendirian ditandatangani permohonan untuk pengesahan dan memperoleh status badan hukum tidak dimajukan kepada Menteri Hukum dan HAM, maka pendirian menjadi batal sejak lewatnya jangka waktu tersebut dan Perseroan yang belum memper- oleh status badan hukum bubar karena hukum dan pemberesannya dilakukan oleh pendiri. Tidak diperolehnya sta- tus badan hukum tersebut, bukan han- ya semata-mata terjadi karena tidak diajukannya permohonan pengesahan sebagai badan hukum, melainkan da- pat terjadi karena berbagai hal. Hal- hal tersebut dapat terjadi misalnya, karena pendiri tidak mau melakukan penyetoran modal sebagaimana telah ditentukan sebelumnya,pendiri tidak memberikan kuasa kepada pengurus perseroan untuk melakukan kegiatan yang diperlukan sedangkan pendiri itu sendiri tidak mau bertindak atas nama
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

TANGGUNG JAWAB PEMEGANG SAHAM PERSEROAN TERBATAS MENURUT HUKUM POSITIF | Kurniawan | Mimbar Hukum 16055 30599 1 PB

TANGGUNG JAWAB PEMEGANG SAHAM PERSEROAN TERBATAS MENURUT HUKUM POSITIF | Kurniawan | Mimbar Hukum 16055 30599 1 PB

1) Dalam hal yang pertama, jelas pe- megang saham, tidak secara serius menghendaki status pertanggung- jawaban terbatas, yang hanya dapat diperoleh segera setelah perseroan ter- batas didirikan tersebut memperoleh pengesahan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia. Dengan meng- abaikan proses dan formalitas yang selayaknya dan seharusnya ditempuh, pendiri perseroan terbatas daoat dika- takan tidak bermaksud untuk secara sungguh-sungguh mendirikan suatu peerseroan terbatas. Bahkan dalam ketentaun Pasal 10 ayat (9) UU PT No. 40 Tahun 2007 yang menyatakan bahwa jika dalam jangka waktu 60 (enam puluh) hari terhitung sejak tanggal akta pendirian ditandatangani permohonan untuk pengesahan dan memperoleh status badan hukum tidak dimajukan kepada Menteri Hukum dan HAM, maka pendirian menjadi batal sejak lewatnya jangka waktu tersebut dan Perseroan yang belum memper- oleh status badan hukum bubar karena hukum dan pemberesannya dilakukan oleh pendiri. Tidak diperolehnya sta- tus badan hukum tersebut, bukan han- ya semata-mata terjadi karena tidak diajukannya permohonan pengesahan sebagai badan hukum, melainkan da- pat terjadi karena berbagai hal. Hal- hal tersebut dapat terjadi misalnya, karena pendiri tidak mau melakukan penyetoran modal sebagaimana telah ditentukan sebelumnya,pendiri tidak memberikan kuasa kepada pengurus perseroan untuk melakukan kegiatan yang diperlukan sedangkan pendiri itu sendiri tidak mau bertindak atas nama
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Tanggung Jawab Direksi dalam Kepailitan Perseroan Terbatas

Tanggung Jawab Direksi dalam Kepailitan Perseroan Terbatas

Disamping itu, Pasal 97 ayat (1) UUPT tersebut di atas memberikan pedoman kepada Direksi agar di dalam mengurus perseroan selalu berorientasi pada kepentingan dan tujuan perseroan. Hal ini menurut Emmy Pangaribuan bahwa dapat diduga latar belakang adanya ketentuan itu adalah karena kepentingan perseroan serta tujuan perseroan disatu pihak suatu saat dapat tidak sejalan dengan kepentingan dan keinginan pemegang saham. Ketentuan mengenai direksi yang dalam melaksa- nakan tugasnya hanyalah untuk kepentingan serta tujuan daripada perseroan rupa-rupanya didasarkan pada paham yang oleh sementara orang disebut sebagai paham institusi atau pandangan bahwa perseroan merupakan subyek hukum yang mempu- nyai fungsi didalam masyarakat dan menjadi titik perhatian utama dari kepengurusan direksi. Demi- kian pula Pasal 97 ayat (2) yang menegaskan Pengurusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), wajib dilak-sanakan setiap anggota Direksi dengan itikad baik dan penuh tanggung jawab. juga ter- masuk pada pandangan paham institusi yang disebut diatas. Itikad baik direksi untuk menjalankan/ mengurus perseroan secara profesional dengan Skill dan tindakan pemeliharaan semuanya dimaksudkan untuk kepentingan usaha perseroan termasuk pula kepentingan para pemegang saham.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Analisis Yuridis Mengenai Ruang Lingkup Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Perseroan Terbatas dalam Hukum Positif di Indonesia

Analisis Yuridis Mengenai Ruang Lingkup Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Perseroan Terbatas dalam Hukum Positif di Indonesia

Namun demikian dalam kenyataannya, perusahaan masih menunjukkan sikap yang “meremehkan” peranan masyarakat dalam perusahaan, dengan dalih bahwa perusahaan hanya mencari keuntungan dan atau laba. 2 Menyikapi kondisi tersebut, dalam dunia usaha muncul berbagai diskursus yang berkaitan dengan pengelolaan dunia usaha itu sendiri, terutama berkaitan dengan tanggung jawab yang harus diemban oleh suatu perusahaan. Salah satu wacana yang muncul adalah lahirnya terminologi tanggung jawab sosial perusahaan

20 Baca lebih lajut

Tanggung Jawab Sosial & Lingkungan Perseroan Terbatas

Tanggung Jawab Sosial & Lingkungan Perseroan Terbatas

1. Perseroan Terbatas yang selanjutnya disebut Perseroan adalah badan hukum yang merupakan persekutuan modal, didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas serta peraturan pelaksanaannya.

8 Baca lebih lajut

PERKEMBANGAN TANGGUNG JAWAB PEMEGANG SAHAM PERSEOAN TERBATAS DALAM UNDANG-UNDANG NASIONAL MENGGANTIKAN HUKUM WARISAN KOLONIAL

PERKEMBANGAN TANGGUNG JAWAB PEMEGANG SAHAM PERSEOAN TERBATAS DALAM UNDANG-UNDANG NASIONAL MENGGANTIKAN HUKUM WARISAN KOLONIAL

a. Persyaratan perseroan sebagai badan hukum belum atau tidak terpenuhi. Dalam hal ini, pihak pemegang saham sebagai pendiri perseroan yang bertanggung jawab secara mutlak sampai dengan disahkannya badan hukum perseroan oleh Menteri Hukum dan HAM. Setelah pengesahan, tanggung jawab tersebut beralih pada pihak direksi sampai dengan pendaftaran dan pengumuman. Setelah pendaftaran dan pengumuman, maka yang bertanggung jawab hanyalah perseroan yang bersangkutan kecuali terdapat alasan untuk diterapkannya prinsip Piercing The Corporate Veil karena alasan-alasan lain.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

KAJIAN YURIDIS KEDUDUKAN HUKUM DAN TANGGUNG JAWAB DIREKSI PERSEROAN TERBATAS MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS

KAJIAN YURIDIS KEDUDUKAN HUKUM DAN TANGGUNG JAWAB DIREKSI PERSEROAN TERBATAS MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS

10. Bapak/Ibu Dosen serta seluruh Staf Karyawan Fakultas Hukum Universitas Jember yang tidak tercantum namanya, saya ucapkan banyak terima kasih atas kesabaran dan pelayanan yang diberikan, semoga Allah mencatatnya dengan amal baik;

16 Baca lebih lajut

Kedudukan Hukum dan Tanggung Jawab Pendiri Perseroan Terbatas Menurut Undang-undang Nomor 40 Tahun 2007

Kedudukan Hukum dan Tanggung Jawab Pendiri Perseroan Terbatas Menurut Undang-undang Nomor 40 Tahun 2007

Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana kedudukan hukum dan tanggung jawab pendiri perseroan terbatas dan bagaimana tanggung jawab perseroan terbatas. Dengan menggunakan metode penelitian yuridis normative disimpulkan: 1. Kedudukan perseroan terbatas sebagai badan hukum semata-mata ditentukan oleh pengesahan sebagai badan hukum yang diberikan oleh Menteri Kehakiman dan sejak itu perseroan terbatas menjadi subjek hukum yang mampu mendukung hak dan kewajiban dan bertanggung jawab secara mandiri terhadap segala akibat yang timbul atas perbuatan hukum yang dilakukan. Dengan demikian perbuatan hukum perseroan dan kedudukan pendiri beralih menjadi pemegang saham dan tidak bertanggung jawab terhadap segala perbuatan hukum yang dilakukan oleh perseroan sebab pemegang saham bukanlah pihak yang mewakili bertanggung jawab terhadap perbuatan perseroan yang dianggap mewalan hukum dan merugikan pihak ketiga. 2. Tanggung Jawab Perseroan Terbatas ada dua yaitu tanggung jawab korporasi dan tanggung jawab sosial dan lingkungan. korporasi yang berbentuk perseroan terbatas yang merupakan subjek hukum berbadan hukum yang sering digunakan dalam dunia bisnis, pada prinsipnya pemegang saham (pemodal/owners) pada perseroan terbatas tidak dapat dimintai pertanggungjawaban secara pribadi melebihi nilai saham yang ia masukkan dalam perseroan. Tanggung jawab sosial dan lingkungan adalah komitmen perseroan untuk berperan serta dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan guna meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan yang bermanfaat baik bagi perseroan terbatas sendiri, komunitas setempat, dan masyarakat.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

KAJIAN YURIDIS KEDUDUKAN HUKUM DAN TANGGUNG JAWAB DIREKSI PERSEROAN TERBATAS MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS

KAJIAN YURIDIS KEDUDUKAN HUKUM DAN TANGGUNG JAWAB DIREKSI PERSEROAN TERBATAS MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS

Metode pendekatan masalah yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah: Pendekatan Perundang-Undangan (statute approach), dan pendekatan Konseptual (conceptual approach). Pendekatan Perundang-Undangan (statute approach) yang dilakukan dengan cara menelaah semua Undang-Undang dan regulasi yang bersangkutan dengan permasalahan yang sedang dibahas. Pendekatan Konseptual (conceptual approach) merupakan suatu pendekatan yang beranjak dari pandangan-pandangan dan doktrin-doktrin yang berkembang dalam ilmu hukum, konsep-konsep hukum, dan asas-asas hukum yang relevan dengan permasalahan yang dihadapi.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Tanggung jawab yayasan sebagai pemegang saham  Melalui penyertaan modal dalam perseroan terbatas  Dikaitkan dengan prinsip piercing the corporate veil

Tanggung jawab yayasan sebagai pemegang saham Melalui penyertaan modal dalam perseroan terbatas Dikaitkan dengan prinsip piercing the corporate veil

Adapun kegiatan beberapa yayasan di negara Indonesia antara lain memberikan santunan kepada anak yatim piatu, memberikan kesejahteraan kepada penderita cacat badan, memberikan beasiswa kepada anak yang kurang/tidak mampu, memberikan bantuan kepada keluarga yang sedang berduka, membantu memberikan pelayanan kesehatan kepada penderita suatu penyakit. 7 Tujuan yayasan dapat diarahkan kepada pencapaian sesuatu di lapangan kesejahteraan umum atau sesuatu di lapangan kepentingan umum. Pada sisi lain, tujuan itu dapat terbatas, hanya untuk golongan tertentu tanpa menyebut nama per individu, melainkan hanya disebut menurut golongannya ataupun nama jenisnya, misalnya untuk kepentingan para tuna netra, para karyawan, pembangunan sekolah di suatu tempat tertentu ataupun untuk kepentingan anak-cucu keturunan dari pendirinya. 8
Baca lebih lanjut

102 Baca lebih lajut

ANALISIS TANGGUNG JAWAB PERSEROAN DALAM PELAKSANAAN BACKDOOR LISTING DI INDONESIA KAITANNYA DENGAN PERLINDUNGAN HUKUM PEMEGANG SAHAM MINORITAS.

ANALISIS TANGGUNG JAWAB PERSEROAN DALAM PELAKSANAAN BACKDOOR LISTING DI INDONESIA KAITANNYA DENGAN PERLINDUNGAN HUKUM PEMEGANG SAHAM MINORITAS.

Hasil kajian hukum ini menunjukan 2 (dua) simpulan yaitu: Pertama, prosedur backdoor listing yang didasarkan pada peraturan yang berlaku terbagi dalam 2 (dua) tahapan yaitu: (1) Pelaksanaan pengambilalihan pengendalian perseroan terbuka oleh perseroan tertutup melalui Penawaran Umum Terbatas (2) Aksi akuisisi perseroan terbuka terhadap perseroan tertutup yang memiliki hubungan afiliasi dengan perseroan tertutup yang menjadi pembeli siaga/pengendali baru; Kedua Tanggung jawab perseroan dalam melakukan pemenuhan perlindungan hukum terhadap pemegang saham minoritas masih belum sepenuhnya terpenuhi dalam prosedur backdoor listing karena tidak memenuhi prinsip GCG dan prinsip Mayority Rule, Minority Protection .
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

TANGGUNG JAWAB DIREKSI PERSEROAN TERBATAS YANG DINYATAKAN PAILIT

TANGGUNG JAWAB DIREKSI PERSEROAN TERBATAS YANG DINYATAKAN PAILIT

2. Kedudukan Perseroan yang telah dinyatakan Pailit tidak secara otomatis bubar; melainkan masih eksis sebagai Badan Hukum. Masih eksisnya Badan Hukum dari Perseroan tersebut dalam arti bahwa masih ada proses dan tahapan-tahapan tertentu dari sejak dinyatakan pailit sampai dengan selesainya pemberesan harta pailit perseroan tersebut. Terhadap organ- organ Perseroan, kepailitan mengakibatkan organ-organ Perseroan tidak lagi secara sah dapat melakukan perbuatan hukum yang mengikat harta pailit Perseroan, karena kewenangan secara eksklusif ada pada Kurator. Pada dasarnya organ-organ Perseroan tetap berfungsi sesuai dengan UUPT dan Anggaran Dasarnya. Seperti apabila dalam Anggaran Dasar Perseroan pailit terdapat ketentuan yang mensyaratkan persetujuan RUPS untuk pengalihan saham dalam Perseroan, maka RUPS tetap berwenang dalam memberikan Persetujuan tersebut.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

TANGGUNG JAWAB DIREKSI TERHADAP KEPAILITAN PERSEROAN TERBATAS AKIBAT KELALAIANNYA

TANGGUNG JAWAB DIREKSI TERHADAP KEPAILITAN PERSEROAN TERBATAS AKIBAT KELALAIANNYA

menimbulkan kerugian pada perseroan dapat digugat oleh pemegang saham Perseroan ke lembaga peradilan. Hal ini ditegaskan dalam Pasal 97 ayat (6) UUPT Nomer 40 tahun 2007. Berdasarkan ketentuan pasal tersebut, atas nama Perseroan, pemegang saham yang mewakili paling sedikit 1/10 (satu persepuluh) bagian dari jumlah seluruh saham dengan hak suara dapat mengajukan gugatan melalui pengadilan negeri terhadap anggota Direksi yang karena kesalahan atau kelalaiannya menimbulkan kerugian pada Perseroan.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

99 TANGGUNG JAWAB ORGAN PERSEROAN TERBATAS (PT) DALAM KEPAILITAN

99 TANGGUNG JAWAB ORGAN PERSEROAN TERBATAS (PT) DALAM KEPAILITAN

Maksud dari ketentuan Pasal 3 ayat (2) ini bahwa menurut asasnya Perseroan Terbatas merupakan asosiasi modal, namun dalam praktek sebagian besar pemilihan bentuk badan usaha Perseroan Terbatas sekedar untuk mengambil manfaat atas karakterisistik yang terkandung dalam Perseroan Terbatas. Tidak jarang pemilihan bentuk Perseroan Terbatas sebenarnya hanya untuk penyalahgunaan sehingga pada akhirnya dapat mendatangkan kerugian pihak lain. Dalam hubungan dengan itulah ketentuan Pasal 3 ayat (2) (b), (c), (d), yaitu jika ternyata pemegang saham menyalah gunakan bentuk Perseroan Terbatas tersebut maka menjadikannya harus bertanggung jawab secara pribadi, maksudnya jika kekayaan Perseroan Terbatas tidak mencukupi, maka dapat dimintakan pertanggung jawaban dari harta kekayaan pribadi pemegang saham (Rudhi Prasetya, 2001:197).
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Tanggung Jawab dan Wewenang Penjamin Dalam Kepailitan Perseroan Terbatas (PT)

Tanggung Jawab dan Wewenang Penjamin Dalam Kepailitan Perseroan Terbatas (PT)

Para kreditur separatis yang memegang hak jaminan atas kebendaan seperti pemegang hak tanggungan, hak gadai, atau jaminan lainnya, dapat menjalankan hak eksekusinya seakan-akan tidak terjadi kepailitan. Ketentuan ini adalah merupakan implementasi lebih lanjut dari prinsip structured prorata, dimana kreditur dari debitur pailit diklasifikasikan sesuai dengan kondisi masing-masing. Maksud diadakannya lembaga hukum jaminan adalah untuk memberikan preferensi bagi pemegang jaminan dalam pembayaran utang- utang debitur. Pemberian preferensi bagi pemegang jaminan dalam pembayaran utang-utang debitur. Pemberian preferensi ini mutatis mutandis juga berlaku dalam kepailitan, karena kepailitan adalah operasionalisasi lebih lanjut dari Pasal 1131 dan 1132 KUH Perdata. Namun pelaksanaan hak preferensi dari kreditur separatis ada pengaturan yang berbeda dengan pelaksanaan hak preferensi kreditur pemegang jaminan ketika tidak dalam kepailitan. Ketentuan khusus tersebut adalah ketentuan mengenai masa tangguh (stay) dan eksekusi jaminan oleh kurator setelah kreditur pemegang jaminan diberi waktu dua bulan untuk menjual sendiri.
Baca lebih lanjut

140 Baca lebih lajut

Analisa Terhadap Batasan Tanggung Jawab Direktur Nominee Dalam Perseroan Terbatas

Analisa Terhadap Batasan Tanggung Jawab Direktur Nominee Dalam Perseroan Terbatas

nominator. The director may owe duties to his nominator if he is an employee or officer of the nominator, or by reason of a formal or informal agreement with his nominator, but such duties do not arise out of his nomination, but out of a separate agreement or office. Such duties cannot however, detract from his duty to the company of which he is a director when he is acting as such ... an appointed director, without being in breach of his duties to the company, may take the interests of his nominator into account, provided that his decisions as a director are in what he genuinely considers to be the best interests of the company; but that is a very different thing from his being under a duty to his nominator by reason of his appointment by it.” 319 (… dalam kenyataan bahwa seorang Direktur perusahaan telah ditunjuk untuk menduduki jabatannya oleh salah seorang pemegang saham tidak, dengan serta merta, membebankan adanya tugas yang mesti dilakukan sesuai kehendak pihak yang menunjuknya tersebut. Direktur boleh mempertimbangkan pelaksanaan wewenang terhadap penunjuknya apabila dia adalah seorang pegawai atau karyawan dari si penunjuk, atau dikarenakan alasan adanya perjanjian tertulis dengan penunjuknya, namun tugas yang dibebankan tidak berada di luar penunjukannya, akan tetapi dituangkan dalam perjanjian terpisah. Tugas tersebut tidak kemudian menjadi hambatan di dalam pemenuhan kewajibannya terhadap perusahaan di mana dia menjabat sebagai … seorang yang ditunjuk sebagai Direktur, tanpa melanggar tugasnya terhadap perseroan, dan boleh saja memperlakukan kepentingan dari si penunjuk dalam pertimbangan, menentukan kebijakan sebagai seorang direktur sesuai dengan pertimbangan terhadap hal umum terkait dengan kepentingan perseroan; akan tetapi hal tersebut akan menjadi sesuatu yang cukup berbeda apabila ia akan melaksanakan tugas terhadap si penunjuk dengan alasan penujukannya itu.)
Baca lebih lanjut

180 Baca lebih lajut

Tanggung Jawab Organ Perseroan Terbatas (PT) dalam Kepailitan

Tanggung Jawab Organ Perseroan Terbatas (PT) dalam Kepailitan

Maksud dari ketentuan Pasal 3 ayat (2) ini bahwa menurut asasnya Perseroan Terbatas merupakan asosiasi modal, namun dalam praktek sebagian besar pemilihan bentuk badan usaha Perseroan Terbatas sekedar untuk mengambil manfaat atas karakterisistik yang terkandung dalam Perseroan Terbatas. Tidak jarang pemilihan bentuk Perseroan Terbatas sebenarnya hanya untuk penyalahgunaan sehingga pada akhirnya dapat mendatangkan kerugian pihak lain. Dalam hubungan dengan itulah ketentuan Pasal 3 ayat (2) (b), (c), (d), yaitu jika ternyata pemegang saham menyalah gunakan bentuk Perseroan Terbatas tersebut maka menjadikannya harus bertanggung jawab secara pribadi, maksudnya jika kekayaan Perseroan Terbatas tidak mencukupi, maka dapat dimintakan pertanggung jawaban dari harta kekayaan pribadi pemegang saham (Rudhi Prasetya, 2001:197).
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Tanggung Jawab Direksi dalam Kepailitan Perseroan Terbatas Berdasarkan Undang-undang Perseroan Terbatas

Tanggung Jawab Direksi dalam Kepailitan Perseroan Terbatas Berdasarkan Undang-undang Perseroan Terbatas

Kemudian dalam Pasal 97 ayat (6) dijelaskan bahwa, atas nama Perseroan, pemegang saham yang mewakili paling sedikit 1/10 (satu per sepuluh) bagian dari jumlah seluruh saham dengan hak suara dapat mengajukan gugatan melalui Pengadilan Negeri terhadap anggota Direksi yang karena kesalahan dan kelalaiannya menimbulkan kerugian pada perseroan. Mengenai kepailitan pada Perseroan Terbatas yang diakibatkan oleh kesalahan atau kelalaian Direksi ditegaskan dalam Pasal 104 ayat (2) UUPT yang menyatakan bahwa: “Dalam hal kepailitan terjadi karena kesalahan atau kelalaian Direksi dan harta pailit tidak cukup untuk membayar seluruh kewajiban Perseroan dalam kepailitan tersebut, setiap anggota Direksi secara tanggung renteng bertanggung jawab atas seluruh kewajiban yang tidak terlunasi dari harta pailit tersebut”. Pasal 104 ayat (3) disebutkan bahwa, tanggung jawab sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berlaku juga bagi anggota Direksi yang salah atau lalai yang pernah menjabat sebagai anggota Direksi dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sebelum putusan pernyataan pailit diucapkan.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Tinjauan Hukum Kedudukan Koperasi Sebagai Pemegang Saham Perseroan Terbatas

Tinjauan Hukum Kedudukan Koperasi Sebagai Pemegang Saham Perseroan Terbatas

Menurut Soerjono Soekanto, penelitian dimulai ketika seseorang berusaha untuk memecahkan masalah yang dihadapi secara sistematis dengan metode dan teknik tertentu yang bersifat ilmiah, artinya bahwa metode atau teknik yang digunakan tersebut bertujuan satu atau beberapa gejala dengan jalan menganalisanya dan dengan mengadakan pemeriksaan yang mendalam terhadap fakta tersebut untuk kemudian mengusahakan suatu pemecahan atas masalah-masalah yang ditimbulkan faktor tersebut . 47 Metode merupakan suatu unsur yang mutlak harus ada dalam suatu penelitian yang berfungsi untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. 48 Jenis penelitian yang digunakan dalam skripsi ini adalah penelitian hukum normatif. Pemilihan metode ini, sebagaimana yang ditulis Peter Mahmud Marzuki, penelitian hukum adalah suatu proses untuk menemukan aturan hukum, prinsip-prinsip hukum, maupun doktrin-doktrin hukum guna menjawab isu hukum yang akan dihadapi. Alasan penggunaan penelitian hukum normatif ialah penelitian ini mengacu pada norma hukum yang terdapat pada peraturan. Metode penelitian yang dipakai dapat dipakai dapat diuraikan sebagai berikut:
Baca lebih lanjut

124 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects