Top PDF Tingkat Kemandirian Pasien Mengontrol Halusinasi Setelah Terapi Aktivitas Kelompok

Tingkat Kemandirian Pasien Mengontrol Halusinasi Setelah Terapi Aktivitas Kelompok

Tingkat Kemandirian Pasien Mengontrol Halusinasi Setelah Terapi Aktivitas Kelompok

Penelitian ini memperoleh hasil bahwa kemadirian pasien dalam mengontrol halusinasi adalah partially dengan jumlah responden 26 orang (61,9%). Partially merupakan suatu keadaan dimana antara perawat dan klien melakukan perawatan atau tindakan lain secara bersama, perawat dan pasien memiliki peran yang besar untuk mengukur kemampuan melakukan self care. Ketika diobservasi pasien yang sedang mengalami halusinasi sebagian besar tidak mampu secara mandiri melakukan cara-cara mengontrol halusinasi yang telah diajarkan sebelumnya, setelah diingatkan kembali pasien baru dapat mempraktikkan cara-cara mengontrol halusinasi. Hal tersebut disebabkan karena pada pasien dengan gangguan jiwa terjadi abnormalitas dalam perkembangan sistem saraf yang berhubungan dengan respons neuron dan biologis yang maladaptive (Videbeck. 2008). Menurut konsep neurobiological ciri utama pada pasien yang mengalami skizofrenia memiliki lobus frontalis yang lebih kecil dari rata-rata orang normal.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

174 Pengaruh terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi halusinasi terhadap kemampuan mengontrol halusinasi pada pasien skizofrenia di ruang rawat inap arjuna rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Jambi Vevi Suryenti S.Kep, M.Kep1 , Eka Vita Sari

174 Pengaruh terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi halusinasi terhadap kemampuan mengontrol halusinasi pada pasien skizofrenia di ruang rawat inap arjuna rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Jambi Vevi Suryenti S.Kep, M.Kep1 , Eka Vita Sari

Menurut Damaiyanti (2014), perilaku yang terkait dengan halusinasi adalah bicara sendiri, senyum sendiri, menggerakkan bibir tanpa suara, pergerakan mata yang cepat, respon verbal yang lambat, menarik diri dari orang lain dan berusaha untuk menghindari orang lain. Selain itu k,ien tidak dapat membedakan antara kenyataan dan keadaan yang tidak nyata, terjadinya peningkatan denyut jantung, pernafasan dan tekanan darah. Perhatian dengan lingkungan yang kurang atau hanya beberapa detik dan berkonsentrasi dengan sensorinya. Curiga bermusuhan, merusak (diri sendiri, orang lain dan lingkungannya) dan takut, sulit berhubungan dengan orang lain, ekspresi muka tegang, mudah tersinggung, jengkel dan marah. Tidak mampu mengikuti perintah dari perawat, tampak tremor dan berkeringat, perilaku panik, agitasi dan kataton.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

PENGARUH TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK (TAK) HALUSINASI TERHADAP  KEMAJUAN PERAWATAN PADA PASIEN HALUSINASI DI RUANGAN MANGGIS  RUMAH SAKIT DAERAH MADANI PALU

PENGARUH TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK (TAK) HALUSINASI TERHADAP KEMAJUAN PERAWATAN PADA PASIEN HALUSINASI DI RUANGAN MANGGIS RUMAH SAKIT DAERAH MADANI PALU

Terapi aktivitas kelompok merupakan salah satu tindakan keperawatan untuk klien gangguan jiwa. Terapi ini adalah terapi yang pelaksanaannya merupakan tanggung jawab penuh dari seorang perawat. Oleh karena itu seorang perawat khususnya perawaat jiwa haruslah mampu melakukan terapi aktivitas kelompok secara tepat dan benar (Fauzan, 2011). Terapi diberikan secara berkelompok dan berkesinambungan, dalam hal ini khususnya Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) stimulasi persepsi halusinasi (Keliat, dkk, 2012 ). Data di Rumah Sakit Daerah Madani Palu tahun 2015 menunjukkan bahwa pasien rawat inap yang menderita gangguan jiwa yang paling banyak ditemukan adalah Halusinasi dan Perilaku Kekerasan. Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) Halusinasi meliputi 5 sesi yaitu mengenal halusinasi, mengontrol halusinasi dengan menghardik, mengontrol halusinasi dengan melakukan kegiatan, mencegah halusinasi dengan bercakap-cakap, dan mengontrol halusinasi dengan patuh minum obat. Dimana Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) Halusinasi dilakukan setiap dua kali seminggu yang dilakukan oleh perawat terlatih. Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan kasus
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

PENGARUH TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK STIMULASI PERSEPSI TERHADAP KEMAMPUAN MENGONTROL HALUSINASI PADA KLIEN HALUSINASI DI RUANG CENDRAWASIH DAN RUANG GELATIK RS JIWA PROF HB SAANIN PADANG TAHUN 2012.

PENGARUH TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK STIMULASI PERSEPSI TERHADAP KEMAMPUAN MENGONTROL HALUSINASI PADA KLIEN HALUSINASI DI RUANG CENDRAWASIH DAN RUANG GELATIK RS JIWA PROF HB SAANIN PADANG TAHUN 2012.

Menurut Stuart and Laraia (2005) halusinasi terdiri dari empat tahap yaitu tahap satu sampai tahap empat. Pada masing masing tahap mempunyai karakteristik yang berbeda. Pada tahap tiga biasanya pasien halusinasi menyerah untuk melawan pengalaman halusinasi dan membiarkan halusinasi menguasai dirinya. Pasien menunjukkan perilaku lebih cendrung mengikuti petunjuk yang diberikan halusinasi dari pada menolaknya. Jika terus berlanjut, halusinasi menjadi menakutkan dan pasien harus mengikuti perintah halusinasi yang dirasakannya. Hal ini akan berakibat buruk dan pasien menunjukkan perilaku maladaptif seperti bunuh diri, perilaku kekerasan serta mencedrai diri sendiri dan orang lain.
Baca lebih lanjut

0 Baca lebih lajut

PELAKSANAAN TEKNIK MENGONTROL HALUSINASI: KEMAMPUAN KLIEN SKIZOFRENIA MENGONTROL HALUSINASI

PELAKSANAAN TEKNIK MENGONTROL HALUSINASI: KEMAMPUAN KLIEN SKIZOFRENIA MENGONTROL HALUSINASI

mengontrol Halusinasi tingkat kemampuan mengontrol halusinasi sebagian besar responden berada dalam klasifikasi kurang. Sedangkan setelah diberi intervensi kemampuan mengontrol halusinasi responden sebagian besar mengalami peningkatan dan berada pada klasifikasi cukup dan baik. Tingkat kemandirian responden dalam kurun waktu 3 minggu meningkat setelah diberi intervensi pelaksanaan teknik mengontrol Halusinasi yang dapat menstimulasi mekanisme koping responden tersebut. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kemampuan klien dalam mengontrol halusinasi adalah sikap respon klien terhadap halusinasi. kejujuran memberikan informasi. kepribadian klien. pengalaman dan kemampuan mengingat (Noviandi, 2008), Menurut Kosegeren (2006), didapatkan hasil penelitian pada penerapan asuhan keperawatan klien halusinasi. Bahwa, terjadi peningkatan skor kemampuan klien mengontrol halusinasi pada kelompok eksperimen, sedangkan pada kelompok kontrol tidak terjadi peningkatan skor kemampuan mengontrol halusinasi. Sedangkan menurut (Notoatmojo, 2003) Pendidikan Kesehatan adalah suatu bentuk intervensi atau upaya yang ditunjukan kepada perilaku agar perilaku tersebut kondusif untuk kesehatan. Hal ini menggambarkan bahwa masih rendahnya pendidikan pasien. Rendahnya tingkat pendidikan seseorang akan menyulitkan seseorang untuk memahami masalah yang terjadi dan sulit menerima ilmu yang didapat. Ada Beberapa pasien dan keluarga yang sering berusaha melepaskan obatnya sendiri tanpa saran dari psikiaternya. Alasan itu
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Pengatuh Terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi Persepsi Terhadap Kemampuan Mengontrol halusinasi Klien Dengan Skizofrenia Di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Bali.

Pengatuh Terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi Persepsi Terhadap Kemampuan Mengontrol halusinasi Klien Dengan Skizofrenia Di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Bali.

Akibat dari halusinasi adalah risiko mencederai diri, orang lain, dan lingkungan. Ini diakibatkan karena klien berada di bawah halusinasinya yang meminta dia untuk melakukan sesuatu hal diluar kesadarannya (Prabowo, 2014). Berdasarkan hal tesebut, maka perlu upaya untuk mengendalikan halusinasi. Salah satu upaya tersebut adalah TAK Stimulasi persepsi. TAK stimulasi persepsi merupakan salah satu terapi modalitas yang dilakukan perawat kepada sekelompok klien yang mempunyai masalah keperawatan yang sama. Aktivitas digunakan sebagai terapi dan kelompok digunakan sebagai target asuhan. TAK stimulasi persepsi ini dapat mengontrol halusinasi yang dilami pada pasien skizoprenia (Isnaeni, 2008).
Baca lebih lanjut

75 Baca lebih lajut

Pengaruh terapi aktivitas kelompok stimu

Pengaruh terapi aktivitas kelompok stimu

Pasien dengan halusinasi pada awalnya menunjukkan sikap apatis, menarik diri, mengisolasi diri dan tidak mau berkomunikasi (Keliat & Akemat, 2005). Kemudian setelah diberikan TAK stimulasi persepsi pasien sudah mau berinteraksi dengan lingkungan. Ini sesuai dengan hasil penelitian dimana pasien mampu mengontrol halusinasi dengan cara menghardik halusinasi, bercakap – cakap, melakukan kegiatan terjadwal dan patuh minum obat. Kondisi fisik pasien dapat berpengaruh dalam pelaksanaan TAK, dimana kondisi pasien yang tidak sehat tidak dapat mengikuti terapi aktivitas kelompok dengan optimal. Dalam melaksanakan TAK peneliti menggunakan data pendukung yaitu data rekam medis untuk melihat perkembangan pasien.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

PENGARUH TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK STIMULASI PERSEPSI TERHADAP TINGKAT KEMANDIRIAN PADA PASIEN PERILAKU KEKERASAN DI RUMAH SAKIT JIWA MENUR SURABAYA Siti Sholikhah

PENGARUH TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK STIMULASI PERSEPSI TERHADAP TINGKAT KEMANDIRIAN PADA PASIEN PERILAKU KEKERASAN DI RUMAH SAKIT JIWA MENUR SURABAYA Siti Sholikhah

Krisis multi dimensi yang melanda masyarakat saat ini telah mengakibatkan tekanan yang berat pada sebagian besar masyarakat dunia pada umumnya dan Indonesia pada khususnya. Masyarakat yang mengalami krisis ekonomi tidak saja akan mengalami gangguan kesehatan fisik berupa gangguan gizi, terserang berbagai penyakit infeksi, tetapi juga dapat mengalami gangguan kesehatan mental psikiatri yang pada akhirnya dapat menurunkan produktivitas kerja dan kualitas hidup secara nasional menurun yang akan mengakibatkan hilangnya satu generasi sehat yang akan meneruskan perjuangan dan cita – cita bangsa. Gangguan mental psikiatri yang dapat terjadi mulai dari tingkat yang ringan bahkan berat yang memerlukan penanganan khusus di rumah sakit, baik dirumah sakit jiwa atau di unit perawatan jiwa di rumah sakit umum (Rusman, 2001)
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Pengaruh Terapi Aktivitas Kelompok dengan Stimulasi Persepsi terhadap Kemampuan Mengontrol Halusinasi pada Pasien Skizofrenia

Pengaruh Terapi Aktivitas Kelompok dengan Stimulasi Persepsi terhadap Kemampuan Mengontrol Halusinasi pada Pasien Skizofrenia

Keberhasilan terapi aktivitas kelompok terletak dari peran penting perawat dalam Prosedur terapi Aktivitas Kelompok . Peran perawat tersebut terutama adalah bertindak sebagai leader, fasilitator, evaluasi dan motivator. Secara umum terapi Aktifitas kelompok bertujuan sebagai berikut: Meningkatkan kemampuan pemecahan masalah, meningkatkan kemampuan dalam menguji kenyataan, Meningkatkan keterampilan mengekspresi diri, Meningkatkan keterampilan sosial untuk diterapkan sehari-hari, Meningkatkan empati, Meningkatkan pembentukan sosialisasi, Meningkatkan kesadaran tentang hubungan antara reaksi emosional diri sendiri, Membangkitkan motivasi dari segi kognitif dan afektif, Meningkatkan identitas diri, Meningkatkan stimulasi kognitif, Meningkatkan stimulasi sensori, Meningkatkan realitas, Meningkatkan proses menerima umpan balik, Mengupayakan seseorang saling bertukar pengalaman, Memberikan pengalaman pada anggota lain.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Efektifitas Murotal Terapi Terhadap Kemandirian Mengontrol Halusinasi Pendengaran

Efektifitas Murotal Terapi Terhadap Kemandirian Mengontrol Halusinasi Pendengaran

Murotal terapi dilakukan dengan menggunakan file MP3, headset atau speaker selama 15 – 30 menit, Surah yang digunakan adalah Ar-Rahman 78 ayat terapi dilakukan dua kali sehari. Terapi bisa juga diberikan pada saat ; ketika pasien mendengar suara – suara palsu, ketika waklu luang, ketika pasien selesai melaksanakan sholat wajib, latihsan bisa diberikan pagi dan siang hari, (Wuryaningsih et al., 2015). Audio surah Ar-Rahman telah diteliti sebelumnya dan terbukti efektif menurunkan tingkat perilaku kekerasan dan membantu pasien mengungkapkan emosinya dengan cara yang lebih adaptif (Widhowati, 2010). Terapi audio ini juga merupakan terapi yang murah dan tidak menimbulkan efek samping,(Soedirman & Journal, 2007)
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

GAMBARAN TINGKAT KEMANDIRIAN PASIEN DALAM MENGONTROL HALUSINASI SETELAH MENGIKUTI TAK STIMULASI PERSEPSI.

GAMBARAN TINGKAT KEMANDIRIAN PASIEN DALAM MENGONTROL HALUSINASI SETELAH MENGIKUTI TAK STIMULASI PERSEPSI.

Halusinasi merupakan gejala positif yang paling sering dialami oleh pasien dengan gangguan jiwa. Terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi merupakan bagian dari terapi modalitas yang diberikan pada pasien skizofrenia yang mengalami halusinasi dengan tujuan tercapainya kemandirian pasien.

2 Baca lebih lajut

PENGARUH TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK STIMULASI PERSEPSI TERHADAP KEMAMPUAN PASIEN MENGONTROL HALUSINASI DI RUMAH SAKIT JIWA TAMPAN PROVINSI RIAU

PENGARUH TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK STIMULASI PERSEPSI TERHADAP KEMAMPUAN PASIEN MENGONTROL HALUSINASI DI RUMAH SAKIT JIWA TAMPAN PROVINSI RIAU

melakukan asuhan kepada pasien. Berbagai terapi keperawatan yang dikembangkan salah satu terapi keperawatan jiwa yang terbukti efektif untuk mengatasi gejala gangguan jiwa adalah terapi aktivitas kelompok (TAK), difokuskan kepada pasien, secara individu, kelompok, keluarga maupun komunitas. Terapi Aktivitas Kelompok terdiri dari empat yaitu terapi aktivitas kelompok stimulasi kognitif /persepsi, terapi aktivitas kelompok stimulasi sensori, terapi aktivitas kelompok orientasi realita, dan terapi aktivitas kelompok sosialisasi. Aktivitas digunakan sebagai terapi, dan kelompok digunakan sebagai target asuhan, di dalam kelompok terjadi dinamika interaksi yang saling bergantung, saling membutuhkan dan menjadi laboratorium tempat pasien berlatih perilaku baru yang adaptif untuk memperbaiki perilaku lama yang maladaptif (Keliat & Akemat, 2005). Terapi Aktivitas kelompok (TAK) adalah terapi non farmakologi yang diberikan oleh perawat terlatih terhadap pasien dengan masalah keperawatan yang sama. Terapi diberikan secara berkelompok dan berkesinambungan, dalam hal ini khususnya Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) stimulasi persepsi halusinasi.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

LAPORAN TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK TAK ME

LAPORAN TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK TAK ME

1. Situasional, yaitu terjadi trauma yang tiba-tiba, misal harus operasi, kecelakaan, dicerai suami, putus sekolah, putus hubugan kerja dll. Pada pasien yang dirawat dapat terjadi harga diri rendah karena privacy yang kurang diperhatikan : pemeriksaan fisik yang sembarangan, pemasangan alat yang tidak sopani (pemasangan kateter, pemeriksaan pemeriksaan perianal dll.), harapan akan struktur, bentuk dan fungsi tubuh yang tidak tercapai karena di rawat/sakit/penyakit, perlakuan petugas yang tidak menghargai.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK SOSIALISASI PA

TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK SOSIALISASI PA

Terapi aktivitas kelompok adalah terapi modalitas yang dilakukan perawat kepada sekelompok klien yang mempunyai masalah keperawatan yang sama. Aktivitas yang digunakan sebagai terapi, dan kelompok digunakan sebagai target asuhan. Di dalam kelompok terjadi dinamika interaksi yang saling bergantung, saling membutuhkan dan menjadi laboratorium tempat klien berlatih perilaku baru yang adaptif untuk memperbaiki perilaku lama yang maladaptive.

13 Baca lebih lajut

TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK SOSIALISASI

TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK SOSIALISASI

Hampir diseluruh dunia terdapat sekitar 450juta ( 11% ) orang yang mengalami skizofrenia ( ringan sampai berat ) hasil survei kesehatan mental rumah tangga di indonesia menyatakan bahwa 185orang per 1000 penduduk di indonesia mengalami skizofrenia ( ringan sampai berat ) berdasarkan survei dirumah sakit jiwa, masalah keperawatan yang paling banyak ditemukan adalah menarik diri ( 17,91% ), halusinasi ( 26,37% ), perilaku kekerasan ( 17,41% ), dan HDR ( 16,92% ).

33 Baca lebih lajut

Pengaruh Pelaksanaan Standar Asuhan Keperawatan Halusinasi Terhadap Kemampuan Kognitif dan Psikomotor Pasien Halusinasi Dalam Mengontrol Halusinasi di Ruang Pusuk Buhit Rumah Sakit Jiwa Daerah Sumatera Utara Medan.

Pengaruh Pelaksanaan Standar Asuhan Keperawatan Halusinasi Terhadap Kemampuan Kognitif dan Psikomotor Pasien Halusinasi Dalam Mengontrol Halusinasi di Ruang Pusuk Buhit Rumah Sakit Jiwa Daerah Sumatera Utara Medan.

Halusinasi dapat didefenisikan sebagai terganggunya persepsi sensori seseorang, dimana tidak terdapat stimulus (Varcarolis dalam Yosep, 2009). Halusinasi dibedakan dari distorsi atau ilusi yang merupakan tanggapan salah dari rangsang yang nyata ada. Menurut Stuart dan Sundeen (1995), 70% pasien mengalami jenis halusinasi audiotorik, 20% halusinasi visual, 10% halusinai pengecapan, taktil dan penciuman. Pasien merasakan halusinasi sebagai sesuatu yang amat nyata, paling tidak untuk suatu saat tertentu (Kaplan, 1998).

80 Baca lebih lajut

TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK STIMULASI PERS

TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK STIMULASI PERS

Kelompok adalah kumpulan individu yang memiliki hubungan satu sama dengan yang lain, saling bergantung dan mempunyai norma yang sama(Stuart dan Laraia, 2001). Anggota kelompok mungkin datang dari berbagai latar belakang yang harus ditangani sesuai keadaannya, ketidaksamaan, kesukaan, dan menarik(Yalom, 1995 dalam Stuart dan Laraia, 2001)Semua Kondisi Ini akan mempengaruhi dinamika kelompok, ketika kondisi ini akan memberikan umpan balik yang berarti dalam berbagai interaksi yang terjadi dalam kelompok.

12 Baca lebih lajut

TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK ISOLASI SOSIAL

TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK ISOLASI SOSIAL

Sosialisasi adalah kemampuan untuk berhubungan dan berinteraksi dengan orang lain (Gail W. Stuart, 2007). Penurunan sosialisasi dapat terjadi pada individu yang menarik diri, yaitu percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang lain (Rowlins). Dimana individu yang mempunyai mekanism e koping adaptif, maka peningkatan sosialisasi lebih mudah dilakukan. Sedangkan individu yang mempunyai mekanisme koping maladaptif bila tidak segera mendapatkan terapi atau penanganan yang baik akan menimbulkan masalah-masalah yang lebih banyak dan lebih buruk. (Keliat dan Akemat, 2005)
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

PENGARUH PENERAPAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN HALUSINASI TERHADAP KEMAMPUAN KLIEN MENGONTROL HALUSINASI DI RSKD DADI MAKASSAR

PENGARUH PENERAPAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN HALUSINASI TERHADAP KEMAMPUAN KLIEN MENGONTROL HALUSINASI DI RSKD DADI MAKASSAR

penyerapan (persepsi) panca indera tanpa adanya rangsangan dari luar yang dapat meliputi semua sistem penginderaan dimana terjadi pada saat kesadaran individu itu penuh/baik. Menurut May Durant Thomas (1991) dalam Andre (2009) halusinasi secara umum dapat ditemukan pada pasien gangguan jiwa seperti: skhizofrenia, depresi, delirium dan kondisi yang berhubungan dengan penggunaan alkohol dan substansi lingkungan. Dan berdasarkan hasil pengkajian pada pasien di beberapa rumah sakit jiwa di pulau Jawa ditemukan 85% pasien dengan kasus halusinasi.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

PENERAPAN TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK STIMULASI PERSEPSI SENSORI: LIMA BENAR MINUM OBAT PADA PASIEN HALUSINASI PENDENGARAN DI WISMA HARJUNA RSJ PROF. DR. SOEROJO MAGELANG - Elib Repository

PENERAPAN TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK STIMULASI PERSEPSI SENSORI: LIMA BENAR MINUM OBAT PADA PASIEN HALUSINASI PENDENGARAN DI WISMA HARJUNA RSJ PROF. DR. SOEROJO MAGELANG - Elib Repository

sekelompok klien secara teratur. Tujuannya adalah meningkatkan kesadaran diri klien, meningkatkan hubungan interpersonal, dan mengubah perilaku maladaptif. Terapi Aktivitas kelompok pada pasien halusinasi dapat dilakukan dengan Terapi Aktifitas Kelompok Stimulasi Persepsi. Terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi Persepsi adalah terapi yang menggunakan aktivitas sebagai stimulus dan terkait dengan pengalaman dan/atau kehidupan untuk didiskusikan dalam kelompok. Hasil diskusi kelompok dapat berupa kesepakatan persepsi atau alternatif pemecahan masalah (Keliat dan Akemat, 2014).
Baca lebih lanjut

58 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects