Top PDF MAKNA TRADISI LABUHAN GUNUNG KOMBANG BAGI MASYARAKAT (Studi di Desa Kedungsalam Kecamatan Donomulyo Kabupaten)

MAKNA TRADISI LABUHAN GUNUNG KOMBANG BAGI MASYARAKAT (Studi di Desa Kedungsalam Kecamatan Donomulyo Kabupaten)

MAKNA TRADISI LABUHAN GUNUNG KOMBANG BAGI MASYARAKAT (Studi di Desa Kedungsalam Kecamatan Donomulyo Kabupaten)

Tradisi labuhan ini merupakan tradisi wajib yang harus dilakukan setiap tahunnya oleh masyarakat sebagai bentuk rasa hormat dan terimakasih kepada alam semesta, yang dimana didalam setiap kehidupan alam merupakan hal yang berdampak didalam kehidupan masyakat individu ataupun seluruh lingkungan masyarakat. Tradisi labuhan ini dilakukan setiap tahunnya pada setiap bulan maulud, dari awal cikal bakalnya tradisi ini ada hingga sekarang tidak ada perubahan disetiap mengadakan tradisi labuhan ini, dengan diadakannya tradisi labuhan gunungkombang ini diharapkan melalui pelaksanaan upacara labuhan ini masyarakat Desa Kedungsalam yang merupakan pedukung utama upacara ini mendapat rakhmat, keselamatan, kesejahteraan, ketentraman dan kedamaian baik lahir maupun batin dari Tuhan Yang Maha Kuasa, sehingga apa yang mereka citakan dapat terlaksana dengan baik. Upacara tradisional Labuhan Gunung Kombang di Pantai Ngliyep diselenggarakan setiap tahun sekali berdasarkan berhitungan kalender Jawa, yaitu setiap tanggal 14 Maulud.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

MAKNA TARI INAI PADA MASYARAKAT MELAYU DESA PEKAN LABUHAN KOTA MEDAN.

MAKNA TARI INAI PADA MASYARAKAT MELAYU DESA PEKAN LABUHAN KOTA MEDAN.

Perkembangan pemikiran dan kehidupan manusia serta berubahnya selera masyarakat dalam berkesenian, melahirkan jenis-jenis tari yang tidak hanya untuk tujuan upacara keagamaan saja, tetapi juga tari-tarian yang bersifat hiburan, pergaulan, bahkan yang bersuasana pertunjukan seni, dari yang bersumber tradisi sampai yang modern sekalipun. Sumandiyo Hadi (2005:13) mengatakan Penjelasan yang bagaimanapun adanya “seni tari” dalam wacana ini, baik tari yang berasal dari budaya primitif, tari tradisional yang berkembang di istana (biasa disebut klasik), tari yang hidup dikalangan masyarakat pedesaan dengan ciri “kerakyatan”, maupun tari yang berkembang di ma syarakat perkotaan (sering mendapat lebel “pop”), dan tari “modern” atau “kreasi baru”, kehadirannya
Baca lebih lanjut

25 Baca lebih lajut

Makna Simbolik di Bali Tradisi Pecah Telur Dalam Pernikahan Adat Jawa (Studi Kualitatif Pada Masyarakat Kecamatan Labuhan Deli)

Makna Simbolik di Bali Tradisi Pecah Telur Dalam Pernikahan Adat Jawa (Studi Kualitatif Pada Masyarakat Kecamatan Labuhan Deli)

Berdasarkan pertanyaan tersebut, Ibu Nining mengatakan bagi orang jawa kebanyakan mempunyai adat tersendiri dan agak berlainan barangkali dapat dikatakan takhayul, tetapi tradisi injak telur ini dilakukan karena mempunyai arti, nilai dan tujuan juga memiliki ketentuan-ketentuan yang harus dilakukan, dalam tradisi ini, sang pria diharuskan menginjak telur yang telah dipecahkan hingga pecah tanpa menggunakkan alas kaki, hal ini wajib disaksikan keluarga kedua belah pihak, kemudian setelah telurnya pecah, sang wanita harus mebersihkan sisa-sisa pecahan telur baik di wadah telur itu dan kaki sang pria, bahkan di lantai yang terkena cipratan pecahan telur.
Baca lebih lanjut

87 Baca lebih lajut

Tradisi Perkawinan Kerubuhan Gunung dalam Pandangan Tokoh Masyarakat

Tradisi Perkawinan Kerubuhan Gunung dalam Pandangan Tokoh Masyarakat

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tradisi perkawinan kerubuhan gunung adalah tradisi yang hidup dalam kehidupan masyarakat Jawa di Kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang dan telah diturunkan oleh para leluhur sejak dahulu. Tradisi ini tidak memperbolehkan seseorang untuk melangsungkan perkawinannya ketika terdapat keluarga dekat yang meninggal dunia. Penundaan dilakukan hingga tahun berikutnya. Bagi mereka yang melanggar tradisi ini diberikan sanksi sanksi moral dengan daya pengikat sedang. Misalnya cemoohan, gunjingan atau bahan pembicaraan. Para informan berbeda pendapat seputar keberlakuan tradisi ini. Kelompok berlatar belakang adat menilai bahwa warisan nenek moyang harus tetap dipegang teguh dan dilestarikan dari generasi ke generasi. Tradisi ini tidak boleh digantikan dengan tradisi yang lain. Sementara itu, kelompok berlatar belakang agama menilai bahwa masyarakat seyogyanya tidak melakukan tradisi ini sepenuhnya. Penghormatan terhadap tradisi bukan berarti membawa masyarakat pada hal-hal yang bersifat musyrik. Tokoh pemerintahan mengikuti apa yang menjadi pilihan dari pelaku dan tetap mengadakan perlindungan kepada mereka yang melakukan atau tidak melakukan tradisi kerubuhan gunung. Pelaksanaan tradisi berkaitan erat dengan kearifan lokal masyarakat setempat. Dalam tradisi kerubuhan gunung, meskipun ajaran Islam tidak mengatur pelaksanaan tradisi ini, ada makna tersirat yang dapat ditemukan yaitu mengekang menekan ego pribadi, saling menghormati, menghargai, dan menumbuhkan sikap toleransi antar sesama dengan ikut berduka atas kematian saudara dekatnya.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Tradisi Perkawinan Kerubuhan Gunung Dalam Pandangan Tokoh Masyarakat

Tradisi Perkawinan Kerubuhan Gunung Dalam Pandangan Tokoh Masyarakat

Artikel ini bertujuan mendeskripsikan pandangan tokoh masyarakat Kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang tentang tradisi kerubuhan gunung dan relevansinya dengan hukum perkawinan Islam. Tradisi perkawinan kerubuhan gunung tidak memperbolehkan seseorang untuk melangsungkan pernikahan ketika terdapat keluarga dekat yang meninggal dunia. Bagi mereka yang melanggar tradisi ini diberikan sanksi moral seperti mendapat gunjingan. Pelaksanaan tradisi berkaitan erat dengan kearifan lokal masyarakat setempat. Dalam tradisi kerubuhan gunung, meskipun ajaran Islam tidak mengatur pelaksanaan tradisi ini, ada makna tersirat yang dapat ditemukan yaitu mengekang menekan ego pribadi, saling menghormati, menghargai, dan menumbuhkan sikap toleransi antar sesama dengan ikut berduka atas kematian saudara dekatnya.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

MAKNA SIMBOLIS TRADISI “LEMPAR AYAM” DI GUNUNG PEGAT LAMONGAN DALAM PERSPEKTIF HERMENEUTIKA PAUL RICOEUR.

MAKNA SIMBOLIS TRADISI “LEMPAR AYAM” DI GUNUNG PEGAT LAMONGAN DALAM PERSPEKTIF HERMENEUTIKA PAUL RICOEUR.

Pada tahun 2015, Izrin Mauidhotul Hasanah, Jurusan Filsafat Agama, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Sunan Ampel Surabaya, menulis skripsinya tentang “Makna Simbol dalam Tradisi Upacara Adat Labuhan Tulak Bilahi: Studi Hermeneutika pada Masyarakat Desa Krebet Kecamatan Pilang Kenceng Kabupaten Madiun”. Dalam skripsi tersebut dijelaskan bahwa di desa tersebut ada suatu tradisi yang diyakini, sehingga semua masyarakat Desa Krebet harus melaksanakannya. Tradisi upacara adat “Labuhan Tulak Bilahi” merupakan suatu kebudayaan yang masih dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat Desa Krebet hingga saat ini. Upacara adat tersebut diadakan setiap tahun untuk memperingati budaya leluhur dan memperingati musim tanam. Penelitian ini dilakukan oleh peneliti dengan menggunakan konsep Hermeneutika. Yang mana hermeneutika ini merupakan proses mengubah sesuatu, dari ketidaktahuan menjadi mengerti.
Baca lebih lanjut

92 Baca lebih lajut

Masyarakat Geopark Gunung Sewu Pacitan Dalam Perspektif Ekonomi, Tradisi Dan Budaya

Masyarakat Geopark Gunung Sewu Pacitan Dalam Perspektif Ekonomi, Tradisi Dan Budaya

Laut dan dengan kekayaan alam didalamnya menyimpan begitu banyak nilai ekonomis, mulai dari terumbu karang sampai airnya yang bisa dimanfaatkan sebagai garam. Pantai di Pacitan tidak semuanya untuk sandaran kapal pencari ikan. Dari sekian pantai di Pacitan hanya beberapa saja yang menjadi labuhan perikanan. Selebihnya hanya dijadikan tempat wisata yang dikelola pemerintah. Pada masyarakat dengan pencaharian sebagai nelayan perekonomian disekitarnya menjadi lebih maju, karena ada percepatan pertumbuhan ekonomi pada sektor penjualan ikan.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Deskripsi dan Makna Upacara Tradisi Cue Lak pada Perayaan Imlek bagi Masyarakat Tionghoa di Selatpanjang, Riau

Deskripsi dan Makna Upacara Tradisi Cue Lak pada Perayaan Imlek bagi Masyarakat Tionghoa di Selatpanjang, Riau

Perayaan Cue Lak merupakan hari ulang tahun salah satu dewa warga Tionghoa, yakni Dewa Qing Shui Zu Shi atau biasa disebut oleh warga setempat yakni, Dewa Co Su Kong yang merupakan dewa dari cadas air jernih. Co Su Kong adalah seorang Rahib Buddha yang berasal dari Provinsi Hokkian, Kabupaten Yong Chun. Beliau lahir pada tanggal 6 bulan 11 Imlek, tahun 1044 M, pada zaman Dinasti Song [960-1279 M], masa pemerintahan Kaisar Ren Zhong tahun keempat. Co Su Kong pada usia kanak-kanak telah mencukur rambut untuk menjadi Bhikkhu. Beliau pergi ke Gunung Da Jing Shan untuk berguru kepada Guru Zen Ming Song Chan Shi. Setelah membina diri dengan tekun selama 3 tahun, beliau mencapai kesempurnaan, lalu berpamitan kepada gurunya. Sebelum berangkat gurunya mewariskan jubah dan patra kepada Co Su Kong, dan berpesan kepadanya agar berpegang teguh pada semangat cinta kasih Buddhisme, serta memberikan manfaat kepada makhluk hidup dan dunia sebagai misi luhur seumur hidup (Setiawan, 1990:281).
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Makna Filosofis Tradisi Syawalan (Penelitian Pada Tradisi Syawalan di Makam Gunung Jati Cirebon)

Makna Filosofis Tradisi Syawalan (Penelitian Pada Tradisi Syawalan di Makam Gunung Jati Cirebon)

Tradisi ini diisi dengan ziarah dan do’a bersama yang dipimpin oleh Sultan. Selain itu, ada acara tambahan yang seringkali dilakukan oleh masyarakat setelah syawalan bersama Sultan berlangsung, yaitu tradisi mandi tujuh sumur yang berada di komplek Makam Sunan Gunung Jati. Sebelum upacara tradisi Syawal dilaksanakan, para keluarga Keraton Kanoman sudah melaksanakan puasa sunnah bulan Syawal selama enam hari. Tanggal 8 bulan Syawal dimana acara ini dilaksanakan, para pengunjung yang datang dari berbagai tempat bisa memasuki bangunan utama. Mereka akan membawa oleh-oleh berupa hasil bumi atau uang kepada pengurus yang akan diterima di bagian Pakemitan. Sebagai gantinya, peziarah akan mendapatkan gabah, padi atau minyak yang sudah dibungkus dalam plastik serta air.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Keselarasan Kearifan Lokal Dengan Nilai Keislaman Pada Tradisi Labuhan Gunung Kombang di Kabupaten Malang

Keselarasan Kearifan Lokal Dengan Nilai Keislaman Pada Tradisi Labuhan Gunung Kombang di Kabupaten Malang

Berbicara tentang keberadaan kearifan lokal merupakan proses yang sangat lama, kemudian menjadi sebuah acuan filosofis dan sebagai pegangan hidup masyarakat. Namun bukan berarti itu adalah sebuah dogma yang tidak bisa diubah, karena tidak ada yang kekal di dunia ini kecuali perubahan itu sendiri. Kearifan lokal perlu dilihat sebagai nilai luhur (lofty value), tidak hanya memandang sebagai masalah benar atau salah, namun jauh lebih penting adalah melihat kebaikan. Kearifan lokal merupakan nilai-nilai yang berlaku dalam suatu masyarakat. Nilai-nilai tersebut diyakini kebenarannya dan menjadi acuan dalam bertingkah laku sehari- hari masyarakat setempat. Nilai-nilai kearifan lokal ini dipandang sebagai entitas yang sangat menentukan harkat dan martabat manusia dalam komunitasnya karena di dalamnya berisi unsur kecerdasan kreativitas dan pengetahuan lokal dari para elit (tokoh) dan masyarakatnya (A. Riyadi, 2017: 140). Menurut Sahlan kearifan lokal merupakan suatu pengetahuan lokal yang digunakan oleh suatu komunitas masyarakat lokal sehingga mereka dapat bertahan hidup dalam suatu lingkungan kolektif. Pada konteks ini, kearifan lokal dapat menyatu dengan sistem, kepercayaan, pandangan hidup, norma, nilai sosial (etika), pengetahuan, dan budaya yang diekspresikan dalam penerapan tradisi yang dianut oleh masyarakat secara turun-temurun (Sahlan, 2013: 315).
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Makna Filosofis Tradisi Syawalan (Penelitian Pada Tradisi Syawalan Di Makam Gunung Jati Cirebon)

Makna Filosofis Tradisi Syawalan (Penelitian Pada Tradisi Syawalan Di Makam Gunung Jati Cirebon)

Ziarah kubur, di masyarakat Cirebon biasanya diisi dengan acara tahlilan.Tradisi ini juga merupakan apresiasi keimanan yang bertujuan, mendekatkan diri kepada Tuhan, karena iman sulit ditangkap dengan perilaku, maka salah satu jalan untuk mengungkapkan keimanan tersebut adalah dengan jalan tahlilan. Tahlilan merupakan suatu jalan untuk menengahi iman yang abstrak dan tingkah laku atau perbuatan yang konkret. Menurut Prof. Dr. Hamka upacara kumpul-kumpul pada hari-hari tertenu adalah bagian dari kebudayaan pada masa Hindu. Ritual tersebut pada masa itu diisi dengan berjudi, minuman keras dan sesajen kepada leluhur mayit. Berkumpul pada saat keluarga meninggal ini dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu. Yaitu, pada malam ke 1-7 hari, 40 hari, 100 hari dan 1000 hari. Sampai sekarang, bagi sebagian masyarakat tradisi tahlilan masih tetap dilakukan dengan perubahan yang dilakukan oleh para wali. Tradisi tahlil muncul sebagai bentuk solutif untuk merubah kebiasaan masyarakat. Hal ini juga dianggap sebagai kedewasaan intelektual Walisongo dalam berdakwah. Hal ini juga pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad saat menghadapi masyarakat Arab. Dimana pewahyuan al-Qur’an ditransformasi ke dalam pola- pola sosial.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Tradisi Sandor: Konstruksi Makna Keberagamaan Masyarakat Gresik Putih Gapura Sumenep Madura

Tradisi Sandor: Konstruksi Makna Keberagamaan Masyarakat Gresik Putih Gapura Sumenep Madura

Kedua , aspek budaya dimana kepatuhan masyarkat terhadap leluhur atau para sesepuh seakan ada beban sosial yang akan ditanggung jika tradisi tersebut tidak dilestarikan. Sehingga meraka merasa mempunyai kewajiban untuk menjaga dan melestarikan tradisi tersebut. selanjutnya pelestarian tradisi ini secara tidak langsung adalah pertarungan pengaruh yang terjadi di tengah masyarakat, sehingga antara matan kalebhun atau kepala desa dengan kepala desa yang baru, di sini akan diuji seberapa besarnya pengaruh mereka di tengah masyarakat dan ini akan menjadi momentum penting jika salah satu diantara mereka atau keturunan mereka akan mencalonkan kembali sebagai kepala desa. Di sini kalebhun berperan sebagai penjaga tradisi mempunyai peran atau tanggungjawab melaksanakan tradisi sandor atau haul bhuju’ . Ini sebagai bentuk perannya dalam menjaga tradisi dan budaya, disamping kepentingan menjaga keamanan dan kenyamanan warga desa dari ancaman bahaya.
Baca lebih lanjut

29 Baca lebih lajut

Persepsi dan Makna Tradisi Perkawinan Bajapuik pada Masyarakat Sungai Garingging Kabupaten Padang Pariaman

Persepsi dan Makna Tradisi Perkawinan Bajapuik pada Masyarakat Sungai Garingging Kabupaten Padang Pariaman

Komunikasi merupakan suatu hal yang sangat mendasar dalam kehidupan manusia. Dan bahkan komunikasi telah menjadi suatu fenomena bagi terbentuknya suatu masyarakat atau komunitas yang terintegrasi oleh informasi, di mana masing-masing individu dalam masyarakat itu sendiri saling berbagi informasi untuk mencapai tujuan bersama. Secara sederhana komunikasi dapat terjadi apabila ada kesamaan antara penyampai pesan dan orang yang menerima pesan. Senada dengan hal ini bahwa komunikasi atau communication berasal dari bahasa Latin “Communisatau dalam bahasa Inggrisnya “commun” yang artinya sama. Apabila kita berkomunikasi (to communicate), ini berarti bahwa kita berada dalam keadaan berusaha untuk menimbulkan kesamaan (Suwardi dalam Azib 2018). Komunikasi dan budaya merupakan komunikasi yang memiliki hubungan timbal balik. Budaya dapat mempengaruhi komunikasi dan sebaliknya komunikasi mempengaruhi budaya. dan budaya yang berlaku di suatu daerah akan berbeda dengan daerah yang lainnya. Pada dasarnya setiap masyarakat dalam kehidupannya akan mengalami perubahan-perubahan. Namun perubahan itu tidak dilakukan semua masyarakat. Ketika perbandingan dilakukan, dengan menelaah keadaan suatu masyarakat pada waktu dan tempat yang berbeda, ternyata tradisi bajapuik di Sungai Garingging masih dilaksanakan. Fenomena ini penting diteliti dan dikaji lebih mendalam.
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

Makna Simbolis Tradisi Mappaoli Banua pada Masyarakat Banua Kaiyang Mosso Provinsi Sulawesi Barat

Makna Simbolis Tradisi Mappaoli Banua pada Masyarakat Banua Kaiyang Mosso Provinsi Sulawesi Barat

Tradisi ritual mappaoli banua merupakan peninggalan leluhur Masyarakat Banua Kaiyang Mosso yaitu I Laso Mosso. I Laso Mosso adalah nenek moyang To Dilaling, raja pertama Kerajaan Balanipa. Masyarakat Mosso juga percaya bahwa I Laso Mosso sebagai manusia pertama yang tinggal di Banua Kaiyang Mosso, jauh sebelum Islam masuk dan adanya istilah arayang (raja) di Mandar. I Laso Mosso dimakamkan di atas bukit Buttu Tondoq, bukit yang paling tinggi letaknya dari segi geografi sekitar 500 meter dari permukaan laut. Dari sekian makam raja-raja atau tosalamaq di Kerajaan Pitu Baqbana Binanga semuanya terletak di atas bukit, akan tetapi makam I Laso Mossolah yang paling tinggi letaknya. Begitu tingginya, di atas puncak Buttu Tondoq kita bisa melihat makam raja-raja Balanipa yaitu I Manyambungi To Dilaling dan To Mepayung (raja kedua Balanipa), dan Maradiqdia Pallis (Maradia yang pertama masuk agama Islam) yang ketinggiannya sekitar 400 meter dari permukaan laut. Konon ketika akan wafat I Laso Mosso minta dimakamkan di atas bukit yang paling tinggi agar senantiasa dapat melihat keturunan-keturunannya yang bermukim di bawah bukit.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Kajian Fungsi Dan Makna Tradisi Penghormatan Leluhur Dalam Sistem Kepercayaan  Masyarakat Tionghoa Di Medan

Kajian Fungsi Dan Makna Tradisi Penghormatan Leluhur Dalam Sistem Kepercayaan Masyarakat Tionghoa Di Medan

Dalam kehidupan tradisional masyarakat Tionghoa, masyarakat percaya bahwa roh-roh leluhur, baik di kuburan-kuburan ataupun di akhirat tetap bersama dan selalu menjaga serta mengawasi mereka. Keberuntungan serta kemalangan sebuah keluarga diawasi oleh arwah leluhur mereka. Ketika roh-roh sedang senang, keluarga akan menerima berkatnya, tetapi pada saat mereka diabaikan, kesulitan akan dialami. Roh-roh ini harus diundang dan diikut sertakan dalam setiap acara-acara khusus seperti perayaan-perayaan tradisional, upacara perkawinan dan kelahiran. Pada kesempatan-kesempatan tersebut juga harus dilakukan upacara sembahyang bagi mereka di kuburan, rumah abu, atau pun pada meja abu leluhur. Hubungan kekeluargaan ini sangat nyata dilakukan pada saat tahun baru, dimana keluarga yang masih hidup merasakan bahwa leluhur mereka benar benar tengah bersama mereka.
Baca lebih lanjut

119 Baca lebih lajut

MAKNA DAN FUNGSI SIMBOLIS DALAM TRADISI MANGURE LAWIK PADA MASYARAKAT PESISIR SIBOLGA: KAJIAN SEMIOTIK

MAKNA DAN FUNGSI SIMBOLIS DALAM TRADISI MANGURE LAWIK PADA MASYARAKAT PESISIR SIBOLGA: KAJIAN SEMIOTIK

Segala puji bagi Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir dengan judul “Makna Dan Fungsi Simbolis Dalam Tradisi Mangure Lawik Pada Masyarakat Pesisir Sibolga, Kajian Semiotik ”. Skripsi ini disusun Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

15 Baca lebih lajut

MAKNA UPACARA BATIMBANG DALAM TRADISI MASYARAKAT SUKU BANJAR KUALA TUNGKAL, PROVINSI JAMBI

MAKNA UPACARA BATIMBANG DALAM TRADISI MASYARAKAT SUKU BANJAR KUALA TUNGKAL, PROVINSI JAMBI

Upacara batimbang merupakan siklus kehidupan bagi masyarakat Banjar penganut agama Islam yang memberikan makna, ketika mereka melewati berbagai tahap kehidupan. Siklus kehidupan adalah pertemuan Islam dan budaya lokal sebagai sistem simbol dan tindakan yang memainkan peranan penting dalam meneguhkan kembali pandangan Islam, baik pada pengalaman hidup, pemikiran, dan budaya. Urang Banjar meyakini bahwa, kehidupan manusia selalu diiringi dengan masa-masa kritis, yaitu suatu masa yang penuh dengan ancaman dan bahaya. Masa- masa itu adalah masa peralihan dari tingkat kehidupan yang satu ke tingkat kehidupan lainnya (dari manusia masih berupa janin sampai meninggal dunia). Karena masa-masa tersebut dianggap sebagai masa yang penuh dengan ancaman dan bahaya, maka diperlukan adanya suatu usaha untuk menetralkannya, sehingga masa-masa tersebut dapat dilalui dengan selamat. Usaha tersebut diwujudkan dalam bentuk upacara yang kemudian dikenal sebagai upacara lingkaran hidup individu yang meliputi: kehamilan, kelahiran, khitanan, perkawinan, dan kematian.
Baca lebih lanjut

28 Baca lebih lajut

Makna dan Fungsi Simbolik Dalam Tradisi Mangure Lawik Pada Masyarakat Pesisir  Sibolga: Kajian Semiotik

Makna dan Fungsi Simbolik Dalam Tradisi Mangure Lawik Pada Masyarakat Pesisir Sibolga: Kajian Semiotik

Kebudayaan yang dimiliki oleh sekelompok masyarakat akan diwariskan ke generasi-kegenerasi yang lebih muda melalui serangkaian tindakan. Bentuk transmisi pewarisan budaya tersebut dapat dilakukan melalui sosialisasi yaitu proses belajar seorang anggota masyarakat untuk mengenal dan menghayati kebudayaan masyarakat dilingkungannya, internalisasi (proses) maupun inkulturasi atau usaha suatu agama untuk menyesuaikan diri dengan kebudayaan setempat. Proses pewarisan atau transmisi nilai-nilai kebudayaan yang berlangsung itu, biasanya dilakukan melalui pranata sosial yang dimiliki oleh masyarakat yang juga selalu dimanfaatkan sebagai sarana pewarisan kebudayaan adalah tradisi yang bersarat tradisional seperti tradisi mangure lawik. Saat ini, utamanya di kota-kota besar, eksitensi tradisi mengalami persoalan dimana para masyarakat dari beragam suku yang ada di perkotaan tidak lagi mengenal apalagi mempraktekkan tradisi yang pernah hidup pada masyarakat itu. Kondisi demikian tentunya melahirkan sebuah kekhawatiran bahwa beberapa tahun kedepan akan semakin banyak bahagian-bahagian dari identitas atau ciri khas milik bangsa Indonesia yang hilang.
Baca lebih lanjut

81 Baca lebih lajut

MAKNA SASTRA DALAM TRADISI PALANG PINTU

MAKNA SASTRA DALAM TRADISI PALANG PINTU

Fungsi pantun Betawi dalam tradisi Palang Pintu pun dibagi menjadi dua, yaitu estetika komunikasi dan fungsi hiburan. Menurut Bang Yahya, seorang aktivis kebudayaan Betawi yang tertulis di dalam skripsi berjudul Tradisi Buka Palang Pintu : Transformasi Tradisi Upacara Menuju Komoditas (2013) karangan Devi Rosvita mengatakan bahwa pantun sebagai estetika komunikasi dapat dilihat dari bentuk penyampaian pesan yang diawali dengan kalimat kiasan sebelum mengutarakan maksud yang sebenarnya. Sedangkan pada fungsi humor, isi pantun yang ada di dalam Palang Pintu biasanya sering menghibur karena diselipkan sedikit lawakan pada celetukan-celetukan jawara pengantin. Tak jarang pantun yang digunakan oleh para jawara biasanya berupa jenis pantun humor dan pantun nasihat, atau campuran dari keduanya. Namun, mereka juga sering menyelipkan pantun religi untuk menandakan cirri-ciri keislamannya yang kental. Dengan kata lain, pantun Betawi pada Palang Pintu bermakna untuk melakukan komunikasi antar para jawara yang berisikan tentang nasihat, yang diselipkan lawakan-lawakan dan agama (Islam) untuk menguji keseriusan pihak laki-laki.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Tradisi Reba  mitos genealogis, proses ritual, makna dan fungsi bagi masyarakat Ngadha di Flores, NTT

Tradisi Reba mitos genealogis, proses ritual, makna dan fungsi bagi masyarakat Ngadha di Flores, NTT

Selain menyiapakan barang-barang kebutuhan, warga juga membersihkan tempat-tempat khusus yang akan digunakan sebagai tempat upacara ritual selama masa Reba seperti Watu Lanu, Meri, Ngedu, dan Keka Lela Ela, (nama tempat untuk pelaksanaan upacara pemotongan ubi). Upacara pembersihan mengandung makna penyucian semua simbol yaitu tempat upacara, simbol pertanian, simbol rohani, termaksud penyucian secara utuh seluruh keluarga, para leluhur, agar pelaksanaan upacara Reba selanjutnya tidak mengalami hambatan. Menurut kepercayaan adat, orang bisa tertimpa sakit, bila tidak memperhatikan atau mempersiapkan tempat-tempat ini (Wawancara Bapak Fransiskus Dhosa, 27 Desember 2012).
Baca lebih lanjut

101 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects