Top PDF Tugas Dan Fungsi Kerapatan Adat Nagari (KAN) Dalam Menyelesaikan Sengketa Tanah Adat Di Kabupaten...

Tugas Dan Fungsi Kerapatan Adat Nagari (KAN) Dalam Menyelesaikan Sengketa Tanah Adat Di Kabupaten...

Tugas Dan Fungsi Kerapatan Adat Nagari (KAN) Dalam Menyelesaikan Sengketa Tanah Adat Di Kabupaten...

Dala m rangka me mb erikan jawaban terhadap masal ah maka penelitian bertujuan untuk : Memaparkan bagaimana peranan KAN m e n u r u t k e n y a t a a n d a l a m m e n y e l e s a i k a n s e n g k e t a t a n a h a d a t , Mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan masih kurang optimalnya peranan KAN dalam menyelesaikan sengketa tanah adat, Usaha-usaha y a n g t e l a h d i t e m p u h b a i k o l e h K A N m a u p u n p e m e r i n t a h d a l a m meningkatkan peranan KAN.

5 Baca lebih lajut

BAB IV PENYEBAB TERJADINYA SENGKETA HARTA PUSAKO TINGGI DI KABUPATEN PESISIR SELATAN SUMATERA BARAT A. Pengertian Harta Pusako Tinggi - PENYELESAIAN SENGKETA HARTA PUSAKO TINGGI STUDI KASUS MENURUT HUKUM ADAT MINANGKABAU DI KABUPATEN PESISIR SELATAN SUMAT

BAB IV PENYEBAB TERJADINYA SENGKETA HARTA PUSAKO TINGGI DI KABUPATEN PESISIR SELATAN SUMATERA BARAT A. Pengertian Harta Pusako Tinggi - PENYELESAIAN SENGKETA HARTA PUSAKO TINGGI STUDI KASUS MENURUT HUKUM ADAT MINANGKABAU DI KABUPATEN PESISIR SELATAN SUMAT

Tugas dan peranan Kerapatan Adat Nagari tertuang dalam Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Barat Nomor 2 tahun 2007 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Nagari yang berbunyi bahwa Kerapatan Adat Nagari yang selanjutnya disebut KAN adalah Lembaga Kerapatan dari Ninik Mamak yang telah ada dan diwarisi secara turun temurun sepanjang adat dan berfungsi memelihara kelestarian adat serta menyelesaian perselisihan sako dan pusako. Dalam penyelesaian sengketa sako jo pusako Kerapatan Adat Nagari Tapan mengenal istilah bajanjang naiak batanggo turun (berjenjang naik bertangga turun) yaitu menyelesaikan suatu sengketa mulai dari tingkat paling bawah.
Baca lebih lanjut

26 Baca lebih lajut

PENYELESAIAN SENGKETA TANAH PUSAKO TINGGI DI NAGARI TIKU KECAMATAN TANJUNG MUTIARA KABUPATEN AGAM.

PENYELESAIAN SENGKETA TANAH PUSAKO TINGGI DI NAGARI TIKU KECAMATAN TANJUNG MUTIARA KABUPATEN AGAM.

Harta pusaka dalam kekerabatan dalam matrilineal tidak dapat dibagi- bagikan kepada orang-perorangan karena harta tersebut akan tetap berada dalam suatu kaum. Namun dalam pelaksanaannya, masalah harta pusaka ini khususnya harta pusaka tinggi seringkali membawa sengketa dalam suatu kaum atau suku yang dikarenakan beberapa hal, sehingga sengketa tersebut diselesaikan melalui kerapatan adat nagari (KAN) ataupun mungkin berlanjut ke Pengadilan Negeri.

14 Baca lebih lajut

PELATIHAN PERANGKAT KERAPATAN ADAT NAGARI (KAN) DALAM MENYELESAIKAN KONFLIK HUKUM (PIDANA) DI KENAGARIAN BATAGAK , KECAMATAN SUNGAI PUAR, KABUPATEN AGAM.

PELATIHAN PERANGKAT KERAPATAN ADAT NAGARI (KAN) DALAM MENYELESAIKAN KONFLIK HUKUM (PIDANA) DI KENAGARIAN BATAGAK , KECAMATAN SUNGAI PUAR, KABUPATEN AGAM.

Dalam kehidupan bermasyarakat sering terjadi konflik di antara individu angggota masyarakat, maupun antara individu dengan kelompoknya. Konflik tersebut diselesaikan melalui mekanisme yang telah disepakati sebelumnya, di antaranya melalui mekanisme penegakan hukum. Konflik hukum pidana diselesaikan dengan mekanisme sistem peradilan pidana, tetapi mekanisme ini, karena berbagai faktor, kurang mengakomodasi kepentingan pihak korban. Oleh karena itu perlu dipikirkan cara penyelesaian konflik hukum pidana, yang lebih berorientasi kepada pemulihan keseimbangan yang terdapat dalam masyarakat, dengan mengakomodir kepentingan semua pihak yang terkait. Pengadilan adat yang merupakan salah satu fungsi dari Kerapatan Adat Nagari, dapat berperan untuk menyelesaikan konflik hukum pidana, dengan tujuan pemulihan keseimbangan tersebut.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

J U R N A L H U K U M A C A R A P E R D ATA

J U R N A L H U K U M A C A R A P E R D ATA

Penyelesaian perkara tanah ulayat di Minangkabau nampaknya lebih efektif diselesaikan melalui lembaga adat nagari karena hubungan kekerabatan dalam kaum dan suku sangat erat dan apa yang ditetapkan oleh mamak kepala waris atau Penghulu suku jarang ditolak oleh anak kemenakan sehingga putusan yang ditetapkan oleh mamak atau penghulu diterima oleh anak kemenakan sampai sat ini. Hal ini terbukti jarangnya sengketa tanah ulayat diselesaikan oleh penegadilan negeri di Sumatera Barat bahkan ada perkara taanah ulayat yang telah diputuskan oleh Pengadilan negeri yang telah mempunyai kekuatan tetap diselesaikan oleh Kerapatan Adat Nagari (KAN), misalanya sengketa tanah ulayat antara kaum Dt. Simirajo suku Melayu dengan Darmawan dan Angku Rajo Tuo yang juga sama-sama suku Melayu (Sengkera antara Suku yang sama) berupa sebidang tanah ulayat yaitu tanah kering dan sawah di Nagari Magek Kecamatan Kamang Magek Kabupaten Agam. Semula perkara ini diselesaikan melalui rapat anggota suku Melayu atau ninik mamak nan Bahindu. Ninik Mamak Yang Bahindu in setara dengan penhulu yang paling tinggi dalam suku di nagari Magek Kecamatan Kamang Magek Kabupaten Agam. Dalam perkaria ini belum menemukan kata sepakat, tetapi pihak yang bersengketa langsung membawa sengketa ini ke Pengadilan Negeri Lubuk Basung untuk di selesaikan sampai ke Mahkamah Agung.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

Peran Kerapatan Adat Nagari ( Kan ) Dalam Pembangunan Nagari  ( Studi  Pada Nagari Baringin Kecamatan Lima Kaum, Kabupaten   Tanah Datar )

Peran Kerapatan Adat Nagari ( Kan ) Dalam Pembangunan Nagari ( Studi Pada Nagari Baringin Kecamatan Lima Kaum, Kabupaten Tanah Datar )

“..hubungan KAN dengan Pemerintah Nagari dapat di lihat dari penyelesaian perkara yang terjadi di dalam masyarakat. Misalnya ada masalah sengketa tanah adat, KAN selaku lembaga adat akan melakukan analisis terhadap masalah tersebut dan mencarikan solusi. Setelah mendapatkan solusi yang tepat terhadap masalah sengketa tanah tersebut, barulah KAN menyampaikan kepada Pemerintahan Nagari untuk di tindaklanjuti. Setelah perkara sengketa tanah itu sampai pada Pemerintah Nagari, nantinya akan di buat legalitas untuk kejelasan tanah tersebut. Jadi hubungan antara KAN dengan Pemerintah Nagari yaitu bagaimana kedua unsur ini membuat keputusan bersama terkait adanya perkara yang terjadi di dalam masyarakat. Hubungan yang terjadi adalah hubungan legalisasi..” Adanya hubungan yang penting di antara Pemerintah Nagari dengan Kerapatan Adat Nagari (KAN) seharusnya berdampak pada kontribusi yang diberikan oleh lembaga adat tersebut untuk pembangunan Nagari. Dengan alasan itupula peneliti menanyakan kepada informan kunci mengenai, Apakah Kerapatan Adat Nagari ( KAN ) pernah memberikan kontribusi dalam Pembangunan Nagari? Jika pernah, apa saja kontribusinya ?
Baca lebih lanjut

115 Baca lebih lajut

PERAN KERAPATAN ADAT NAGARI (KAN) DALAM PENYELESAIAN SENGKETA TANAH ULAYAT DI PROVINSI SUMATRA BARAT DITINJAU DARI PERATURAN DAERAH PROVINSI SUMATRA BARAT NOMOR 16 TAHUN 2008 TENTANG TANAH ULAYAT.

PERAN KERAPATAN ADAT NAGARI (KAN) DALAM PENYELESAIAN SENGKETA TANAH ULAYAT DI PROVINSI SUMATRA BARAT DITINJAU DARI PERATURAN DAERAH PROVINSI SUMATRA BARAT NOMOR 16 TAHUN 2008 TENTANG TANAH ULAYAT.

Provinsi Sumatera Barat merupakan salah satu provinsi yang masyarakatnya tidak jarang menghadapi permasalahan hukum dalam bidang pertanahan. Hal ini dilatarbelakangi oleh perkembangan kabupaten/kota yang semakin maju yang mengakibatkan kebutuhan akan tanah mengalami peningkatan luar biasa. Penyelesaian sengketa tanah ulayat di Minangkabau di selesaikan melalui lembaga Kerapatan Adat Nagari (KAN). Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui dan menganalisis Peran Kerapatan Adat Nagari dalam proses penyelesaian sengketa tanah ulayat dan Kekuatan hukum putusan Kerapatan Adat Nagari provinsi Sumatra Barat.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

PERANAN KERAPATAN ADAT NAGARI (KAN) DALAM MENYELESAIKAN SENGKETA TANAH PUSAKO DI KENAGARIAN AMPANG GADANG DITINJAU DARI PERATURAN MENTERI NEGARA AGRARIA/KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL NOMOR 5 TAHUN.

PERANAN KERAPATAN ADAT NAGARI (KAN) DALAM MENYELESAIKAN SENGKETA TANAH PUSAKO DI KENAGARIAN AMPANG GADANG DITINJAU DARI PERATURAN MENTERI NEGARA AGRARIA/KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL NOMOR 5 TAHUN.

Land is an immovable having a value of the function to support human life. Land problems occurring in Indonesian society, especially the Minangkabau society caused by the land as an important factor in the matrilineal descent system adopted by the Minangkabau. Customs disputes that often occur in Minangkabau was over land especially customary land or pusako land. Indigenous customary dispute settled through Kerapatan Adat Nagari (KAN) institutions. This study aimed to identify and analyze the role of Kerapatan Adat Nagari (KAN) in solving pusako land disputes in Kenagarian Ampang Gadang and legal protection for the parties that have legal dispute against the decision of KAN Ampang Gadang.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

PDF ini THE ROLE OF LOCAL CUSTOMARY ASSOCIATION (KAN) IN THE RESOLUTION OF CUSTOMARY LAND DISPUTE (Case Study at Kinali Vilage and Lingkuang Aua, West Pasaman Regency) | . | 1 PB

PDF ini THE ROLE OF LOCAL CUSTOMARY ASSOCIATION (KAN) IN THE RESOLUTION OF CUSTOMARY LAND DISPUTE (Case Study at Kinali Vilage and Lingkuang Aua, West Pasaman Regency) | . | 1 PB

Penelitian bertujuan menganalisis peranan KAN dalam menyelesaikan sengketa tanah adat dan sekaligus mengetahui hambatan yang menyebabkan tidak optimalnya peranan KAN dalam menyelesaikan sengketa dan mengetahui usaha-usaha yang ditempuh KAN dan Pemerintah dalam meningkatkan peranan KAN. Penelitian ini adalah penelitian yuridis sosiologis (Social-Legal Research) berupa penelitian membuktikan hasil penelitian di lapangan dengan teori yang ada. Pendekatan ini dilakukan guna memperoleh data sekunder di bidang Kerapatan Adat Nagari (KAN) dan untuk melengkapi literature hokum adat. Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh pengurus KAN di Kenagarian Kinali dan Lingkuang Aua Kabupaten Pasaman Barat. Dari penelitian yang dilakukan diperoleh bahwa pembentukan Kerapatan Adat Nagari sejak 1983 sampai 2011 di KInali mulai berperan menyelesaikan sengketa tanah adat Masyarakat mulai percaya dengan eksistensi Kerapatan Adat Nagari, karena sebelumnya KAN masih bermasalah karena terlibat dalam menjual tanah adat dan mendapatkan keuntungan. Keberadaan perusahaan di Kinali sebagai investor ditentukan oleh KAN seperti di Nagari Lingkung Aua. Hambatan yang ditemui oleh Kerapatan Adat Nagari Kinali dalam menjalankan perannya selain dari luar, juga dari dalam organisasi KAN itu sendiri. Peranan pemerintah terhadap eksistensi KAN mulai diatur dalam kebijakan undang-undang yang lebih menfungsikan lembaga–lembaga adat yang ada di nagari termasuk meningkatkan kinerja pengurus KAN kedepannya. Dalam rangka meningkatkan kemampuan KAN disarankan Pemerintahan dan Pengurus KAN membangun program pendidikan hukum adat dan penyelesaian sengketa tanah adat.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

TUGAS DAN FUNGSI LEMBAGA PERSEKUTUAN ADAT (LPA) LAPE DALAM PENYELESAIAN SENGKETA TANAH ULAYAT MASYARAKAT ADAT LAPE UNTUK MEWUJUDKAN KEPASTIAN HUKUM DI KABUPATEN NAGEKEO-FLORES- PROVINSI NTT (Studi Kasus Sengketa Tanah Kantor DPRD Nagekeo).

TUGAS DAN FUNGSI LEMBAGA PERSEKUTUAN ADAT (LPA) LAPE DALAM PENYELESAIAN SENGKETA TANAH ULAYAT MASYARAKAT ADAT LAPE UNTUK MEWUJUDKAN KEPASTIAN HUKUM DI KABUPATEN NAGEKEO-FLORES- PROVINSI NTT (Studi Kasus Sengketa Tanah Kantor DPRD Nagekeo).

Mekanisme penyelesaian sengketa dilakukan untuk memenuhi dan menciptakan kepastian hukum. Kepastian hukum sebagai salah satu tujuan hukum merupakan bagian dari upaya mewujudkan keadilan. Bentuk nyata dari kepastian hukum adalah pelaksanaan atau penegakan hukum terhadap suatu tindakan tanpa memandang siapa yang telah melakukannya. Setiap orang, dengan adanya kepastian hukum dapat memperkirakan apa yang akan dialami jika melakukan tindakan hukum tertentu. Kepastian hukum diperlukan untuk mewujudkan prinsip persamaan dihadapan hukum tanpa adanya diskriminasi 16 . Kepastian hukum dalam suatu sengketa pertanahan adalah kepastian hukum atas data fisik dan data yuridis dari obyek atau tanah yang dipersengketakan oleh para pihak. Data fisik adalah keterangan mengenai letak, batas dan luas dari bidang tanah sengketa sedangkan data yuridis adalah keterangan mengenai status hukum bidang tanah, pemegang haknya dan hak dari pihak lain. Kepastian hukum itu berlaku juga dalam mekanisme penyelesaian sengketa tanah ulayat masyarakat adat.
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

SKRIPSI  TUGAS DAN FUNGSI LEMBAGA PERSEKUTUAN ADAT (LPA) LAPE DALAM PENYELESAIAN SENGKETA TANAH ULAYAT MASYARAKAT ADAT LAPE UNTUK MEWUJUDKAN KEPASTIAN HUKUM DI KABUPATEN NAGEKEO-FLORES- PROVINSI NTT (Studi Kasus Sengketa Tanah Kantor DPRD Nagekeo).

SKRIPSI TUGAS DAN FUNGSI LEMBAGA PERSEKUTUAN ADAT (LPA) LAPE DALAM PENYELESAIAN SENGKETA TANAH ULAYAT MASYARAKAT ADAT LAPE UNTUK MEWUJUDKAN KEPASTIAN HUKUM DI KABUPATEN NAGEKEO-FLORES- PROVINSI NTT (Studi Kasus Sengketa Tanah Kantor DPRD Nagekeo).

12. Sahabat-sahabat seperjuanganku sekaligus saudaraku, Petrus Jhon Fernandez, SH., Antonji Sofyan Ernest Makatita SH., Rumpun M. S. Simorangkir SH., Natsir Atapukan SH, Alfin Tunggal SH, Igen Sega, SH., Dondy Dahoklorry SH, Aldo Kotan SH., Wily SH., Atno SH., Iron SH., Gorby Gorbachev SH, Riki Roges, Ito Tokan, Schertian Ndolu, Una Balsala, Glorry Coreia, Edwin Dae Pani, Mario Bifel, Dever, Martin Ledo (ML), Ardy Makatita, Rere, Ever Jabar, Ryan Nau, Yodi Parera, Tino Da Cunha, Ancis Dosi, Memi Jedo, Yovin Pati, Manyus, Glen, Stefen Padeng, serta seluruh sahabat di Jogja yang tidak sempat dituliskan namanya satu persatu. Terima kasih banyak atas dukungan maupun bantuan serta kebersamaan dan persaudaraan sehingga memotivasi Penulis sehingga dapat menyelesaikan Penulisan Hukum ini.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

PENUTUP  TUGAS DAN FUNGSI LEMBAGA PERSEKUTUAN ADAT (LPA) LAPE DALAM PENYELESAIAN SENGKETA TANAH ULAYAT MASYARAKAT ADAT LAPE UNTUK MEWUJUDKAN KEPASTIAN HUKUM DI KABUPATEN NAGEKEO-FLORES- PROVINSI NTT (Studi Kasus Sengketa Tanah Kantor DPRD Nagekeo).

PENUTUP TUGAS DAN FUNGSI LEMBAGA PERSEKUTUAN ADAT (LPA) LAPE DALAM PENYELESAIAN SENGKETA TANAH ULAYAT MASYARAKAT ADAT LAPE UNTUK MEWUJUDKAN KEPASTIAN HUKUM DI KABUPATEN NAGEKEO-FLORES- PROVINSI NTT (Studi Kasus Sengketa Tanah Kantor DPRD Nagekeo).

dari Lembaga Persekutuan Adat (LPA) Lape. Peranan itu berkaitan dengan tugas serta fungsi utama LPA Lape selaku lembaga adat dari masyarakat adat Lape. LPA Lape mempunyai tugas utama untuk mengayomi masyarakat adat Lape, adat istiadat, tradisi serta hukum adatnya. Fungsi utama dari LPA Lape sebagai alat kontrol ketertiban, keamanan, ketentraman serta kerukunan dalam masyarakat adat Lape. Tugas dan fungsi utama itu didukung dengan berbagai tugas dan fungsi lainnya dari LPA Lape. Berbagai tugas dan fungsi tersebut dilaksanakan dan disesuaikan dengan mekanisme atau metode penyelesaian sengketa. Penyelesaian terhadap sengketa tersebut dilaksanakan melalui 2 (dua) metode antara lain:
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

 BAB I  TUGAS DAN FUNGSI LEMBAGA PERSEKUTUAN ADAT (LPA) LAPE DALAM PENYELESAIAN SENGKETA TANAH ULAYAT MASYARAKAT ADAT LAPE UNTUK MEWUJUDKAN KEPASTIAN HUKUM DI KABUPATEN NAGEKEO-FLORES- PROVINSI NTT (Studi Kasus Sengketa Tanah Kantor DPRD Nagekeo).

BAB I TUGAS DAN FUNGSI LEMBAGA PERSEKUTUAN ADAT (LPA) LAPE DALAM PENYELESAIAN SENGKETA TANAH ULAYAT MASYARAKAT ADAT LAPE UNTUK MEWUJUDKAN KEPASTIAN HUKUM DI KABUPATEN NAGEKEO-FLORES- PROVINSI NTT (Studi Kasus Sengketa Tanah Kantor DPRD Nagekeo).

Sengketa tanah itu terjadi antara Masyarakat Adat Lape dengan Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Nagekeo. Tanah yang menjadi obyek dari sengketa itu terletak atau berada di Poma Mela, Penginanga, Kelurahan Lape, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo 7 . Penyebab dari sengketa tanah tersebut karena pembangunan kantor tersebut berada di luar wilayah yang telah diserahkan oleh Masyarakat Adat Lape. Lembaga Persekutuan Adat (LPA) Lape sebagai representasi atau perwakilan dari Masyarakat Adat Lape telah menyerahkan sebagian dari tanah ulayatnya kepada Pemda Kabupaten Nagekeo 8 . Tanah yang diserahkan tersebut tidak termasuk lokasi yang digunakan oleh Pemda untuk membangun kantor DPRD Nagekeo. Tanah yang digunakan tersebut merupakan tanah ulayat Masyarakat Adat Lape yang telah digarap oleh anggotanya yang bernama Konrardus Remi dan keluarganya tetapi Pemda Nagekeo menyatakan
Baca lebih lanjut

25 Baca lebih lajut

SUMPAH POCONG DALAM SENGKETA TANAH WARIS ADAT MENURUT HUKUM ADAT MINANGKABAU DAN HUKUM ISLAM.

SUMPAH POCONG DALAM SENGKETA TANAH WARIS ADAT MENURUT HUKUM ADAT MINANGKABAU DAN HUKUM ISLAM.

Hukum perdata adat di beberapa daerah tertentu masih sangat kuat pengaruhnya, bahkan lebih dipatuhi daripada hukum yang berlaku. Akibatnya, lembaga pengadilan yang secara konkret mengemban tugas untuk menegakkan hukum dan keadilan ketika menerima, memeriksa, mengadili, serta menyelesaikan setiap sengketa yang diajukan, dianggap sebagai tempat menyelesaikan sengketa yang tidak efektif dan efisien oleh masyarakat hukum adat. Pengucapan sumpah dalam hukum adat di daerah Minangkabau telah berubah seiring berkembangnya keyakinan masyarakat setempat, terutama setelah diterimanya hukum Islam oleh masyarakat hukum adat. Hukum Islam sejak kedatangannya di nusantara sampai saat ini diakui sebagai hukum yang hidup (living law). Keberadaan sumpah pocong seperti yang dipraktikkan oleh masyarakat hukum adat munangkabau, Kabupaten Agam, Sumatera Barat tersebut dalam masyarakat Indonesia masih dipertanyakan keabsahannya dan kedudukannya dalam hukum Indonesia maupun dalam hukum Islam. Penelitian ini akan membahas mengenai kedudukan hukum sumpah pocong menurut hukum positif di Indonesia dan akibat hukum sumpah pocong menurut hukum adat Minangkabau dan hukum Islam.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

Tugas Makalah hukum adat tanah

Tugas Makalah hukum adat tanah

Konsep tanah dalam hukum adat juga dianggap merupakan benda berjiwa yang tidak boleh dipisahkan persekutuannya dengan manusia. Tanah dan manusia, meskipun berbeda wujud dan jati diri, namun merupakan suatu kesatuan yang saling mempengaruhi dalam jalinan susunan keabadian tata alam (cosmos), besar (macro cosmos), dankecil (micro cosmos).Tanah dipahami secara luas meliputi semua unsur bumi, air, udara, kekayaan alam, serta manusia sebagai pusat, maupun roh-roh di alam supranatural yang terjalin secara menyeluruh dan utuh. 1

16 Baca lebih lajut

Pembuatan Surat Keterangan Tanah Adat SK

Pembuatan Surat Keterangan Tanah Adat SK

Kebijakan Pemerintah Provinsi dengan menetapkan Perda Provinsi Kalimantan Tengah No. 16/2008 tentang Kelembagaan Adat Dayak di Kalimantan Tengah dan Pergub Kalimantan Tengah No. 13/2009 Jo Pergub Provinsi Kalimantan Tengah No. 4/2012 tentang Tanah Adat dan Hak-hak Adat di Atas Tanah di Provinsi Kalimantan Tengah sangatlah tepat untuk kondisi Kalimantan Tengah saat ini. Tanah adat yang diolah dan dikuasai masyarakat adat selama ini, secara yuridis, menjadi memiliki sandaran hukum tertulis. Dalam Perda tersebut sangat jelas peranan para Damang Kepala Adat dan para Mantir, sebagai ujung tombak pelaksanaan berbagai perundangan tentang tanah adat tersebut. Untuk memberikan kemudahan dalam melaksanakan tugas tersebut, tentunya memerlukan petunjuk praktis tentang tata cara pengurusan tanah adat berdasarkan berbagai perundangan tersebut di atas. Terbitnya Panduan Pembuatan Surat Keterangan Tanah Adat (SKT-A) dan Hak-hak di Atas Tanah akan sangat membantu para Damang Kepala Adat dan para Mantir serta perangkat pemerintah daerah lainnya untuk mengurus registrasi tanah adat berdasarkan perundangan tentang tanah adat di atas.
Baca lebih lanjut

32 Baca lebih lajut

Arus Balik Baliak Ka Nagari Antara Fakta

Arus Balik Baliak Ka Nagari Antara Fakta

Menemukan kembali nagari dalam formatnya sebagai desa adat menghadapi tiga tantangan, yaitu; Pertama, hibridasi nagari dualistik memungkinkan terjadi dengan adanya pengaturan lembaga adat dalam UU Desa. Dalam format ini, nagari tidak perlu menjadi desa adat penuh, namun cukup adat sebagai penanda atas pengaruhnya terhadap pemerintah desa (Vel dan Bedner 2016). Akibatnya, dualisme kelembagaan adat - pemerintah nagari dan pemisahaan wilayah nagari adat - wilayah nagari administratif potensial diadopsi kembali. Kedua, sistem pendanaan alokasi dana desa berbasis unit-unit desa memancing kembali nagari dalam format dualistik. Kecenderungan tersebut terlihat dalam wacana- wacana dari pengambil-pengambil kebijakan dari level provinsi sampai dengan kabupaten/kota dan mandeknya pembahasan raperda baru nagari di level Provinsi. Ketiga, Penataan nagari dan wilayah adat dalam rangka desa adat yang memotong wilayah administrasi kabupaten/kota. Pasal 101 UU Desa menyebutkan bahwa Pemerintah Pusat dan Pemerintah provinsi dapat terlibat dalam penataan desa adat. Pasal ini bisa menjadi dasar hukum untuk mendorong penataan wilayah adat dalam rangka desa adat oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi untuk mengkaji ulang batas wilayah administrasi kabupaten/ kota yang tumpang tindih dengan wilayah adat. Secara formil hal ini memungkinkan, namun secara implementatif akan dibenturkan pada sektoralisme urusan pemerintahan dan dinamika politik daerah dan nasional untuk perubahan batas-batas administrasi kabupaten/kota.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...