Top PDF Calon Tunggal dan Kemenangan Kotak Kosong sebagai Sebuah Realita Demokrasi Di Tingkat Lokal

Calon Tunggal dan Kemenangan Kotak Kosong sebagai Sebuah Realita Demokrasi Di Tingkat Lokal

Calon Tunggal dan Kemenangan Kotak Kosong sebagai Sebuah Realita Demokrasi Di Tingkat Lokal

Ketentuan pasal 54C ayat 2 diatas memberikan pemahaman bahwa secara yuridis, kotak kosong merupakan alternatif pilihan yang diberikan kepada masyarakat pemilih sebagai upaya agar pemilihan Kepala Daerah dengan calon tunggal tetap mendapatkan nuansa demokratis. Hanya saja pilihan akhir tentu diberikan kepada masyarakat pemilih apakah akan ikut memilih atau tidak. Disadari atau tidak, keberadaan calon tunggal dan kotak kosong telah membuat animo masyarakat untuk ikut serta dalam pesta demokrasi ini menurun. Oleh karena itu diperlukan kesadaran politik masyarakat dalam menyikapi fenomena kotak kosong ini. Kesadaran politik dapat diatikan sebagai kesadaran masyarakat akan hak dan kewajibannya sebagai warga negara. 12 Kesadaran politik juga mengandung makna bahwa masyarakat menaruh perhatian besar terhadap masalah kenegaraan dan atau pembangunan. 13
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

kemenangan kotak kosong dalam pemilihan walikota dan wakil walikota makassar 2018

kemenangan kotak kosong dalam pemilihan walikota dan wakil walikota makassar 2018

Pemilihan Walikota Makassar yang berlangsung pada 27 juni 2018 merupakan suatu topik yang menarik untuk bahas. Penelitian ini mendiskusikan tentang fenomena prosesi Pemilihan Umum Kepala Daerah(Pemilukada) di Kota Makassar tahun 2018 yang sangat menarik di kaji karena kemunculan kotak kosong. Fenomena kemunculan kotak kosong di kota Makassar merupakan hal baru sebab dalam beberapa periodic pelaksanaan pilkada di kota Makassar sebelumnya selalu berlangsung lebih dari 1 paslon. Menarik dari proses demokrasi kali ini Paslon tunggal tersebut merupakan pendatang baru dalam kanca politik lokal di kota Makassar beda halnya daerah lain paslon tunggal rata rata adalah incumbent yang memang memiliki kekuatan politik yang memumpuni. Kemunculan kotak kosong di Makassar diawali dengan gugurnya paslon petahana. Dimana mahkamah konstitusi menerima gugatan paslon penantangan yaitu Munafri Arifuddin dan Andi Rachmatika Dewi. Dalam hal ini KPU Kota Makassar menetapkan pertarungan antara Munafri Arifuddin dan Andi Rachmatika Dewi melawan kotak kosong.
Baca lebih lanjut

41 Baca lebih lajut

Fenomena Pasangan Tunggal dan “Kotak/kolom Kosong” pada Pilkada Kota Tangerang

Fenomena Pasangan Tunggal dan “Kotak/kolom Kosong” pada Pilkada Kota Tangerang

Penyelenggaraan Pemilihan Kepala Daerah (pilkada) secara langsung oleh rakyat tidak bisa dipisahkan dari upaya bangsa Indonesia meningkatkan kualitas demokrasi lokal dan pemerintahan daerah menyusul bergulirnya agenda demokratisasi pasca-Orde Baru. Sesuai amanat konstitusi hasil amandemen, pemilihan presiden dan wakil presiden dilakukan secara langsung oleh rakyat (Syamsuddin Haris. 2017). Lebih lanjut Haris mengatakan, bahwa terdapat sejumlah argumen mengapa pilkada harus dilakukan secara langsung oleh rakyat. Pertama, pilkada secara langsung diperlukan untuk memutus mata-rantai oligarki pimpinan partai dalam menentukan pasangan kepala dan wakil kepala daerah yang dipilih oleh DPRD. Selain itu, pemilihan oleh segelintir anggota DPRD pun cenderung oligarkis karena berpotensi sekadar memperjuangkan kepentingan para elite politik belaka. Kedua, pilkada langsung diharapkan dapat meningkatkan kualitas kedaulatan dan partisipasi rakyat karena secara langsung rakyat dapat menentukan dan memilih pasangan calon yang dianggap terbaik dalam memperjuangan kepentingan mereka. Ketiga, pilkada langsung bagaimana pun mewadahi proses seleksi kepemimpinan secara bottom-up, dan sebaliknya meminimalkan lahirnya kepemimpinan yang didrop dari atas atau bersifat top-down. Keempat, pilkada langsung diharapkan dapat meminimalkan politik uang yang umumnya terjadi secara transaksional ketika pemilihan dilakukan oleh DPRD. Karena diasumsikan relatif bebas dari politik uang, pimpinan daerah produk pilkada langsung diharapkan dapat melembagakan tata kelola pemerintahan yang baik, dan menegakkan pemerintah daerah yang bersih. Kelima, pilkada langsung diharapkan meningkatkan kualitas legitimasi politik eksekutif daerah, sehingga dapat mendorong stabilisasi politik dan efektifitas pemerintahan lokal.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Dinamika Demokrasi Dan Perpolitikan Lokal Di Indonesia.

Dinamika Demokrasi Dan Perpolitikan Lokal Di Indonesia.

Transformasi kepemerintahan, khususnya di level daerah perlu diarahkan pada sinergitas antar-stakeholders terwujud good governance. Dalam konteks ini, perlu diantisipasi sejumlah kecenderungan di masa sekarang yang dapat “menyesatkan” arah perjalanan desentralisasi. Alih-alih mengarah pada good governance, justru terjebak pada praktik neoliberalisme akibat ketidakmampuan pemerintah berperan sebagai penjamin bagi terwujudnya keadilan dan pemerataan kesejahteraan masyarakat. Pemerintahan yang baik adalah yang partisipatif, berorientasi ke konsensus, transaparan, akuntabel, bersih, efektif dan efisien, responsif, dan mengembangkan kepastian hukum. Untuk mencapai kapasitas ini, karakter-karakter ini harus dipahami dalam konteks nilai untuk menjamin pemerintahan yang menjamin pemerataan dan akses masyarakat terhadap pelayanan yang baik. Selain itu, karakter proses pemerintahan yang baik ini perlu mengalami kontekstualisasi dengan kondisi sosio-kultural pada masyarakat setempat. Adaptasi dengan nilai-nilai lokal menjadi relevan karena konteks pemerintahan di tingkat lokal seringkali tidak menunjukkan ketegasan perbedaan antar pilar governance (state, civil society, dan business), sehingga bisa jadi hubungan yang baik antar pilar dalam perspektif lokal yang satu berbeda dengan yang dibayangkan dalam masyarakat yang lain.
Baca lebih lanjut

206 Baca lebih lajut

Demokrasi Lokal Modal Sosial dan Kesejah

Demokrasi Lokal Modal Sosial dan Kesejah

Arus pemikiran yang menghendaki penguatan dan percepatan demokratisasi di aras lokal dewasa ini terus menguat. Sejak dekade 1970an dunia internasional telah menjadikan desentralisasi dan demokratisasi di tingkat lokal menjadi sebuah komitmen global. Wacana demokratisasi dan pengarusutamaan lokalitas menjadi diskursus utama intelektual di dunia internasional. Hal ini dipicu oleh runtuhnya Uni Soviet diikuti oleh bankrutnya ideologi fasisme-komunisme, sehingga demokratisasi diyakini sebagai suatu jalan universal menuju kesejahteraan dan kemajuan bagi negara negara di seluruh dunia. Di Indonesia ide ide tentang demokrasi lokal sesungguhnya telah dikenal sejak lama. Sejak awal kemerdekaan para pendiri bangsa kita (the founding fathers) telah berkomitmen menerapkan demokrasi lokal untuk mengelola keragaman masyarakat Indonesia. Selama kurang lebih satu dekade di awal kemerdekaan republik ini belajar dengan sungguh sungguh untuk menerapkan demokrasi dan desentralisasi, namun bangkitnya dua rezim otoriter-represif di negeri ini meluluhlantakan fondasi itu. Rezim ‘demokrasi terpimpin’ Sukarno dan developmentalisme Suharto telah menutup segala ruang ruang politik di aras lokal sekaligus mempraktikkan dengan sempurna gaya sentralisasi kekuasaan yang represif. Sejarah membuktikkan bahwa ketika kekuasaan mempraktikkan gaya sentralistiknya maka bencana kemanusiaanlah yang terjadi, ketimpangan pusat-daerah, penghisapan sumber daya lokal, pelanggaran HAM berat, hingga kehancuran kearifan lokal menjadi ‘catatan kelam’ rezim otoriter-sentralistik. Perubahan ke arah demokratisasi baru benar benar berlangsung ssat reformasi pecah di tahun 1998.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  DIALEKTIKA PARADIGMATIK BUDAYA POLITIK LOKAL DAN DEMOKRASI DAN PENGARUHNYA TERHADAP STRUKTUR ANATOMI TEORITIK DEMOKRASI DI DAERAH (Studi Kasus Demokrasi Lokal Di Jawa Timur).

PENDAHULUAN DIALEKTIKA PARADIGMATIK BUDAYA POLITIK LOKAL DAN DEMOKRASI DAN PENGARUHNYA TERHADAP STRUKTUR ANATOMI TEORITIK DEMOKRASI DI DAERAH (Studi Kasus Demokrasi Lokal Di Jawa Timur).

Ketika Indonesia memasuki era reformasi, dilakukan ijtihad bersama untuk melakukan pengkonsepsian ulang demokrasi. Kali ini demokrasi dikonsepsikan dalam bingkai gagasan konstitusionalisme, dimana kekuasaan harus dijalankan dalam koridor-koridor pembatasan konstitusional untuk mencegah munculnya absolutisme baru atas nama demokrasi. Ijtihad itu dilakukan dengan pintu masuk utamanya adalah amandeman UUD 1945. Amandemen oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) pada Tahun 2002 itu kemudian merubah struktur kenegaraan Indonesia secara mendasar. Mulai dari perubahan peran dan fungsi lembaga-lembaga negara, hingga pada perubahan pola pemilihan pejabat negara, baik yang ada pada lembaga legislatif, eksekutif, maupun yudikatif. Sistem pemilihan pejabat negara di lembaga eksekutif mengalami perubahan mendasar pada sistem pemilihan presiden dan wakil presiden secara langsung. Adapun pemilihan anggota legislative dari pusat sampai daerah berubah dari memilih partai menjadi memilih nama calon legislative. Reformasi kelembagaan dan mekanisme pemilihan pejabat Negara itu pada dasarnya adalah agenda demokratisasi kehidupan politik bangsa menuju praktek demokrasi yang konstitusional. Ketika agenda itu dianggap berhasil di tingkat pusat, maka timbul dorongan untuk memperluas dan memperdalam praktek demokrasi yang konstitusional tersebut di tingkat daerah. Dorongan itu kemudian diwujudkan melalui perubahan mekanisme pemilihan kepala daerah dan wakilnya dari semula dipilih oleh DPRD menjadi dipilih secara langsung oleh masyarakat di daerah. Secara prinsip perubahan itu ditujukan untuk mengembalikan hak-hak konstitusional rakyat melalui penyelenggaraan pemerintahan yang demokratis di daerah. 8
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Membangun Masa Depan Demokrasi Lokal Den

Membangun Masa Depan Demokrasi Lokal Den

Kekhawatiran terbesar mengenai Pilkada oleh DPRD ini adalah akan maraknya kasus korupsi, kolusi, dan nepotisme antara calon Kepala Daerah dengan para Anggota DPRD yang akan memilihnya sebagai Kepala Daerah. Tentu hal ini sangat tidak kita inginkan, untuk itu maka diperlukan adanya mekanisme untuk membatasi ruang gerak orang untuk berbuat korupsi, yaitu dengan upaya sebagai berikut:

4 Baca lebih lajut

Fenomena Kotak Kosong dalam Pemilihan Walikota Makassar Tahun 2018 

(Perspektif Siyasah Syariah)

Fenomena Kotak Kosong dalam Pemilihan Walikota Makassar Tahun 2018 (Perspektif Siyasah Syariah)

Indonesia pula sebagai bangsa termasuk yang beruntung karena sejak awal mayoritas rakyatnya telah memilih sistem demokrasi, dengan rakyat yang mayoritas muslim hampir tidak ada yang alergi terhadap demokrasi, berkat didikan yang diberikan oleh para pemimpinnya. Kenyataan ini merupakan modal penting untuk dikembangkan lebih jauh secara bertanggung jawab, adapun buahnya masih belum seperti yang diharapkan karena kesalahan dan kelemahan pemimpin itu sendiri dalam praktik politik, dalam sebuah fakta yang tidak boleh diabaikan. Upaya perbaikan sistem ini harus dilakukan secara terus-menerus tanpa merasa bosan, sekalipun hasilnya sering menyakitkandan melelahkan, secara ringkas dapat digambarkan bahwa pasang-surutnya pelaksanaan demokrasi di Indonesia berkaitan erat dengan prilaku para elitnya, apakah mereka berhati lapang, atau malah berhati sempit dan tidak bertanggung jawab. 6
Baca lebih lanjut

89 Baca lebih lajut

Kemenangan Partai Lokal  (Studi kasus kemenangan Partai Aceh (PA) pada pemilihan Legeslatif di Kabupaten Aceh Tamiang 2009)

Kemenangan Partai Lokal (Studi kasus kemenangan Partai Aceh (PA) pada pemilihan Legeslatif di Kabupaten Aceh Tamiang 2009)

Sejarah pendirian partai ini sangat panjang, jauh sebelum MOU Helsinki dan tsunami beberapa aktivis di Aceh telah ada diskursus awal sebagai strategi perjuangan untuk membebaskan Aceh dari kondisi yang ambiguitas. Keterlibatan rakyat secara langsung dalam politik sangat penting dalam rangka memutuskan mata dan eksploitasi pada pemilu. Partai politik lokal saat ini bukan lagi sekedar wacana umum dalam perpolitikan kita, sebenarnya sudah muncul beberapa tahun silam. Munculnya partai politik lokal ini merupakan hasil kesepakatan perdamain di Aceh yang merupakan rangkaian penyelesaian konflik Aceh dengan pemerintah Indonesia. Adanya partai politik lokal merupakan upaya unutuk mengembangkan insentif bagi Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan masyrakat Aceh berpartisipasi dalam proses politik di Aceh. Eksistensi partai poltitik lokal di harapkan menjadi jalan bagi perubahan Aceh dan tranformasi bagi tujuan politik GAM serta terbukanya ruang demokrasi dalam proses politik sehinnga tetap dalam lingkaran Negara kesatuan Republik Indonesia.
Baca lebih lanjut

87 Baca lebih lajut

Calon Tunggal dan Komunikasi Politik Par

Calon Tunggal dan Komunikasi Politik Par

Dalam pemberitaan itu juga dikutip bagaimana Agung mengatakan, jika putusan MK tidak dibatasi atau diatur lebih rinci, maka akan ada kecenderungan pasangan calon yang kuat akan menutup kemungkinan orang lain bisa menjadi calon. Caranya, dengan memborong dukungan parpol. Belum lagi kata Agung, praktek mahar politik dari calon membuat parpol bisa dengan mudah memberikan rekomendasi pencalonan. Detik.com juga mengutip pernyataan Agung yang mengkhawatirkan Pilkada 2017 yang akan makin banyak calon tunggal. Dari kutipan-kutipan tersebut tampak bahwa posisi Agung Leksono yang menjadi bagian dari partai politik, seolah berada di luar sistem dan UU yang sudah di susun anggota DPR yang juga diwakili oleh partainya, partai Golkar. Juga seolah-olah tidak e afika ke u gki a partai politik e ai ka pera dala kasus ahar politik, alias sangat memungkinkan terjadinya transaksi uang antara calon dan partai politik. Sehingga tampak membutuhkan lebih banyak aturan dan regulasi yang lebih detil dan rinci. Sementara secara jelas Detik.com menuliskan fokus berita ini dengan sub judul: Putusan MK Selamatkan Pilkada.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Calon Tunggal Pemilihan Kepala Daerah

Calon Tunggal Pemilihan Kepala Daerah

Pemilihan kepala daerah serentak telah memasuki tahapan pendaftaran calon. Setelah menghadapi persoalan pencalonan oleh partai politik yang sedang konflik, persoalan baru pun muncul, yaitu keberadaan calon tunggal. Persoalan ini tampaknya tidak diperkirakan sejak awal karena asumsi yang diyakini adalah sangat kecil kemungkinan hanya ada satu pasang calon. Dengan melihat konstelasi politik nasional, bayangan awal setidaknya setiap daerah ada dua pasang calon, yaitu dari KIH dan KMP. Namun asumsi tersebut ternyata tidak menjadi kenyataan. Sebaliknya, koalisi tingkat nasional ternyata masih sangat cair dan tidak dapat menjadi penentu konstelasi politik di daerah.
Baca lebih lanjut

3 Baca lebih lajut

Politik Hukum Calon Tunggal dalam Putusa

Politik Hukum Calon Tunggal dalam Putusa

Fokus penelitian ini adalah menganalisis arah politik hukum Mahkamah Konstitusi Nomor 100/PUU-XIII/2015 tentang calon tunggal dan implikasinya terhadap pilkada serentak. Adapun rumusan masalahnya adalah pertama, bagaimana arah politik hukum calon tunggal dalam putusan Mahkamah Konstitusi? Kedua, apa implikasi dari putusan Mahkamah Konstitusi terhadap sistem pilkada serentak?. Tujuan yang diingin dicapai adalah untuk mengetahui arah politik hukum calon tunggal dalam putusan Mahkamah Konstitusi dan implikasi dari putusan Mahkamah Konstitusi terhadap sistem pilkada serentak. Penelitian ini adalah penelitian normatif dengan menggunakan pendekatan kasus dan perundang-undangan. Karena penelitian normatif maka yang dipakai adalah data sekunder berupa bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tersier. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa arah politik hukum putusan MK ini adalah untuk menjamin hak konstitusional warga negara dan menggunakan mekanisme . Sedangkan implikasinya adalah implikasi langsung berupa adanya mekanisme baru dalam pelaksanaan pilkada serentak mendatang dan KPU harus membuat PKPU untuk memberikan pengaturan mengenai model surat suara, mekanisme kampanye dan mekanisme pembagian logistik. Sedangkan dampak tidak langsung berupa terjadinya kekosongan hukum bagi calon tunggal dalam tata laksanan Pilkada dalam UU a quo dan Kekosongan hukum pengaturan sengketa pilkada untuk calon tunggal.
Baca lebih lanjut

32 Baca lebih lajut

Politik Hukum Calon Tunggal Dalam Putusa (1)

Politik Hukum Calon Tunggal Dalam Putusa (1)

Fokus penelitian ini adalah menganalisis arah politik hukum Mahkamah Konstitusi Nomor 100/PUU-XIII/2015 tentang calon tunggal dan implikasinya terhadap pilkada serentak. Adapun rumusan masalahnya adalah pertama, bagaimana arah politik hukum calon tunggal dalam putusan Mahkamah Konstitusi? Kedua, apa implikasi dari putusan Mahkamah Konstitusi terhadap sistem pilkada serentak?. Tujuan yang diingin dicapai adalah untuk mengetahui arah politik hukum calon tunggal dalam putusan Mahkamah Konstitusi dan implikasi dari putusan Mahkamah Konstitusi terhadap sistem pilkada serentak. Penelitian ini adalah penelitian normatif dengan menggunakan pendekatan kasus dan perundang-undangan. Karena penelitian normatif maka yang dipakai adalah data sekunder berupa bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tersier. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa arah politik hukum putusan MK ini adalah untuk menjamin hak konstitusional warga negara dan menggunakan mekanisme “setuju” dan “tidak setuju” . Sedangkan implikasinya adalah implikasi langsung berupa adanya mekanisme baru dalam pelaksanaan pilkada serentak mendatang dan KPU harus membuat PKPU untuk memberikan pengaturan mengenai model surat suara, mekanisme kampanye dan mekanisme pembagian logistik. Sedangkan dampak tidak langsung berupa terjadinya kekosongan hukum bagi calon tunggal dalam tata laksanan Pilkada dalam UU a quo dan Kekosongan hukum pengaturan sengketa pilkada untuk calon tunggal.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG BERPERAN DALAM

KEMENANGAN CALON ANGGOTA LEGISLATIF TAHUN 2009 (STUDI

KASUS KEMENANGAN Drs. DARMIZAR DI KENEGERIAN KOPAH

KABUPATEN KUANTAN SINGINGI)

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG BERPERAN DALAM KEMENANGAN CALON ANGGOTA LEGISLATIF TAHUN 2009 (STUDI KASUS KEMENANGAN Drs. DARMIZAR DI KENEGERIAN KOPAH KABUPATEN KUANTAN SINGINGI)

Meskipun demikian, keberhasilan pelaksanaan Pemilu ini tidak serat merta berarti proses demokrasi di Indonesia juga berhasil atau terkonsolidasi. Hal ini diungkap oleh William Liddle yang mengatakan bahwa demokrasi di Indonesia belum terkonsolidasi dengan baik. Keharusan demokrasi tambah Liddle (Dalam Priyono, dkk., 2007: 43-44) adalah menjadi sistem politik yang normal dalam kancah perpolitikan Indonesia sekarang ini. Salah satu pilar demokrasi menurut Jhon Locke (1632-1704) adalah prinsip trias politica yang membagi ketiga kekuasaan politik negara (eksekutif, yudikatif dan legislatif) untuk diwujudkan dalam tiga jenis lembaga negara yang saling lepas (independen) dan berada dalam peringkat yang sejajar satu sama lain (Budiardjo, 2004: 151).
Baca lebih lanjut

87 Baca lebih lajut

ANTARA NILAI DEMOKRASI MODERN DAN DEMOKRASI LOKAL: DILEMA PENYELENGGARAAN OTONOMI DAERAH DI SUMATERA BARAT.

ANTARA NILAI DEMOKRASI MODERN DAN DEMOKRASI LOKAL: DILEMA PENYELENGGARAAN OTONOMI DAERAH DI SUMATERA BARAT.

Sesuai dengan prinsip demokrasi (lokal) dalam pelaksanaan otonomi daerah, maka partisipasi masyarakat adalah syarat yang tidak dapat ditawar lagi. Artinya, partisipasi masyarakat akan menentukan keberhasilan pelaksanaan otonomi daerah ini. Keadaan ini sudah menjadi condition sine qua non bagi autonomi daerah yang dilaksanakan. Namun, partisipasi masyarakat ini bukanlah peran serta yang dapat dilaksanakan secara bebas dan tidak terkawal oleh pemerintah pusat. Faktanya, pemerintah pusat harus mengendalikan keterlibatan masyarakat, terutama dalam proses pemerintahan dan politik di tingkat lokal. Pertanyaannya Bagaimana seharusnya pemerintah pusat mengawal dan mengendalikan masyarakatnya sehingga tidak bertentangan dengan prinsip demokrasi? Dalam UU No. 32/2004 sudah dinyatakan peran pemerintah pusat yang strategis dalam melaksanakan otonomi daerah yang bertujuan untuk mengawasi pelaksanaan demokrasi lokal. Peran strategis ini dapat dilihat dari pelaksanaan fungsi pengaturan (regulasi) yang dituangkan dalam pasal-pasal UU tersebut. Menurut Sabarno (2007:41), “[p]artisipasi masyarakat dalam rangka kemandirian daerah merupakan aspek penting mendukung pelaksanaan otonomi daerah. Hal itu tentu saja harus dimulai dari kewenangan yang telah dimiliki masyarakat itu sendiri, yaitu kewenangan yang diatur oleh peraturan perundang- undangan yang berlaku.” Dari pengaturan inilah partisipasi masyarakat tersebut disesuaikan dengan sistem yang dibentuk oleh pemerintah. Ini berarti, sistem sosiobudaya masyarakat lokal harus disesuaikan dengan peraturan perundang- undangan yang berlaku.
Baca lebih lanjut

37 Baca lebih lajut

PERAN ELIT LOKAL TERHADAP KEMENANGAN GOLKAR DI KABUPATEN SRAGEN PADA PEMILU 1992 DAN 1997

PERAN ELIT LOKAL TERHADAP KEMENANGAN GOLKAR DI KABUPATEN SRAGEN PADA PEMILU 1992 DAN 1997

Sektor Industri, Kabupaten Sragen antara lain industri batik tulis yang merupakan suatu usaha industri kecil yang tersebar di wilayah Kabupaten Sragen utamanya di sentra industri kecil kecamatan Masaran, Plupuh dan Kalijambe. Produksi batik Sragen telah dipasarkan secara lokal, nasional maupun internasional. Dalam rangka memperkokoh sistem pertahanan pangan regional maupun nasional tanaman garut merupakan tanaman jenis ubi-ubian yang mengandung banyak karbohidrat sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan alternatif. Ubi garut yang diolah dan diproduksi menjadi makanan ringan berupa emping garut yang diproduksi oleh para pengrajin yang berada disekitar Kecamatan Gesi. Industri lainya adalah kerajinan Wayang Beber yang merupakan peninggalan zaman Majapahit yang menceritakan tentang kisah Panji Asmara Bangun dengan Sekar Taji. Wayang Beber merupakan suatu kerajinan tangan yang bernilai seni tinggi, karena dalam memproduksi membutuhkan waktu yang relatif lama dan penuh ketelitian, oleh karena itu produk wayang beber senantiasa dikembangkan untuk melestarikan warisan leluhur budaya bangsa Indonesia. Produksi Wayang Beber dibuat oleh pengrajin yang berada di sekitar Kecamatan Tanon. Selain kerajinan Wayang Beber juga ada kerajinan batu-batuan dengan nilai seni ukir yang banyak menggambarkan patung manusia purba, dan berbagai bentuk lainnya.Sentra kerajinan batu-batuan terletak di Sangiran, Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe yang berjarak sekitar 45 km dari kota Sragen. Produksi batu-batuan Sangiran banyak diminati oleh para wisatawan domestik maupun mancanegara sebagai barang souvenir dengan harga bervariasi menurut besar kecilnya barang kerajinan dan nilai seni ukirnya.
Baca lebih lanjut

90 Baca lebih lajut

ringkasan - ANTARA NILAI DEMOKRASI MODERN DAN DEMOKRASI LOKAL: DILEMA PENYELENGGARAAN OTONOMI DAERAH DI SUMATERA BARAT.

ringkasan - ANTARA NILAI DEMOKRASI MODERN DAN DEMOKRASI LOKAL: DILEMA PENYELENGGARAAN OTONOMI DAERAH DI SUMATERA BARAT.

Penelitian ini dirancang untuk dilaksanakan selama dua tahun dengan sasaran akhir untuk mendapatkan dua hal berikut: (i) rumusan strategi dan model untuk mengakomodasi sistem sosiobudaya masyarakat di nagari dalam pelaksanaan otonomi daerah; (ii) penjelasan komprehensif berkaitan dengan hubungan antara demokrasi modern dan sistem sosiobudaya lokal (demokrasi lokal) dalam pelaksanaan otonomi daerah melalui publikasi tulisan di jurnal akreditasi nasional dan atau jurnal internasional. Sehubungan dengan itu, sebagai tahapan permulaan untuk mencapai sasaran akhir penelitian di atas, maka penelitian tahun pertama ini bertujuan untuk: (i) mengidentifikasi kebijakan negara [pemerintah pusat] dalam melaksanakan demokrasi lokal melalui pelaksanaan otonomi daerah di Sumatera Barat. Identifikasi kebijakan ini terkait dengan pelaksanaan fungsi negara, terutamanya regulasi yang dilakukan oleh pemerintah pusat dalam pelaksanaan tugas dan fungsi pemerintahan; (ii) mengidentifikasi dan memetakan sistem sosiobudaya masyarakat di nagari yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah dan kesesuaiannya dengan praktik demokrasi modern [liberal]. Kesesuaian kedua sistem nilai ini menjadi dasar dalam menguatkan peran negara untuk menciptakan integrasi nasional dan kestabilan politik, dan; (iii) menganalisis pelaksanaan demokrasi lokal berdasarkan sistem sosiobudaya masyarakat di nagari dan implikasinya terhadap model demokrasi yang dapat memperkuat fungsi negara di daerah.
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

Calon Independen dan Penguatan Demokrasi Elektoral di Kota Yogyakarta

Calon Independen dan Penguatan Demokrasi Elektoral di Kota Yogyakarta

2 Dalam kondisi seperti itu, kemunculan calon independen memberi nuansa baru dalam demokrasi elektoral yang saat ini cenderung jumud. Semangat independensinya terhadap partai diharapkan membuka peluang baru bagi perbaikan demokrasi elektoral dan juga konsekuensi yang ditimbulkannya. Ketidakterikatannya dengan partai diharapkan mampu memberikan keleluasaan bagi kepala daerah independen untuk berinovasi menjalankan program-program kerjanya tanpa harus tersandera kepentingan partai. Kemunculannya juga membuka peluang bagi kandidat-kandidat potensial yang tidak tertarik melalui mekanisme partai atau tidak memiliki akses ke partai.
Baca lebih lanjut

3 Baca lebih lajut

Calon Tunggal dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Konsep Demokrasi (Analisis terhadap Pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Blitar Tahun 2015)

Calon Tunggal dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Konsep Demokrasi (Analisis terhadap Pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Blitar Tahun 2015)

mendaftar sama sekali sampai pada jadwal pendaftaran KPU ditutup. Hal ini menjadi polemik sekaligus menjadi sorotan masyarakat dan media massa. Bagaimana tidak, proses pemilihan yang disiapkan sebegitu rapi dengan proses penuh lika-liku dalam aspek yuridisnya, ternyata masih belum lepas dari jerat masalah. Banyak yang mendukung untuk tetap dilaksanakan pemungutan suara sekalipun hanya terdapat satu pasang calon, namun juga tidak sedikit yang menolak untuk ditunda pelaksanaannya dengan alasan bahwa pemilu dengan satu pasang calon dinilai tidak demokratis. KPU kemudian melakukan langkah taktis dengan membuka lagi jadwal pendaftaran selama tiga hari melalui Peraturan KPU Nomor 12 Tahun 2015. Peraturan tersebut juga menjelaskan jika setelah waktu tambahan yang ditetapkan tidak juga ada pasangan calon lain yang mendaftar, maka pelaksanaan pilkada di daerah tersebut akan ditunda sampai pada periode berikutnya. Dikarenakan gencarnya permasalahan terkait calon tunggal dalam Pilkada periode pertama tersebut, banyak pihak yang mengusulkan untuk Presiden Joko Widodo mengeluarkan Perppu karena situasi pada saat itu dirasa genting dengan dasar adanya kekosongan hukum.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...