Top PDF Upaya Mempertahankan Bersihan Jalan Napas Pada Anak dengan ISPA.

Upaya Mempertahankan Bersihan Jalan Napas Pada Anak dengan ISPA.

Upaya Mempertahankan Bersihan Jalan Napas Pada Anak dengan ISPA.

Toddlers estimated 0.29 episodes per child / year in developing countries and 0.05 episodes per child / year in developed countries. Episode cold in Toddlers in Indonesia is estimated to 2-3 times/year. The problem that usually occurs is ineffective airway clearance. Airway clearance is important because the airway is the main road to the air circulation in the body so that the cell metabolism is necessary to sustain adequate respiratory function. If the airway clearance is not maintained then the patient will experience air way obstruction resulting in ineffective airway clearance Objective : provide a real experience to the author in the management efforts should be made to provide nursing care to maintain airway clearance in pediatric patients with respiratory tract infections I. Methods : The method used is a case study approach in ARD patients in health centers and home Polokarto patient. , The manner in which the author is through the collection of primary data and secondary data. The prima ry data obtained from direct observation of patients, interviews with patients and families, physical examination while the secondary data obtained by looking at medical records, and is supported by journals and books related to the theme of ISPA. Results : The patients showed patency / looseness airway, had not felt clogged nose, coughing is reduced after a given action. The influence of inhaled user to maintain airway clearance. Conclusion : airway clearance issue is resolved. nursing actions semifowler positioned to maximize ventilation, steam inhalation, the manufacture of traditional medicine for ISPA in the form of lime and soy sauce awarded after the intervention affect the cleanliness of the airway. Recommended for patients and their families to perform actions such as steam inhalation of nursing independently and producing traditional medicines ISPA in the form of lime and soy sauce.
Baca lebih lanjut

26 Baca lebih lajut

Upaya Peningkatan Bersihan Jalan Napas Pada Anak Dengan Ispa.

Upaya Peningkatan Bersihan Jalan Napas Pada Anak Dengan Ispa.

Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) merupakan infeksi akut yang melibatkan organ saluran pernapasan bagian atas dan saluran pernapasan bagian bawah. Infeksi ini disebabkan oleh virus, jamur, dan bakteri. ISPA (Infeksi saluran pernapasan akut) mempunyai gejala yang ringan biasanya diawali dengan demam, batuk, hidung tersumbat, dan sakit tenggorokan.Anak bayi dan balita tidak dapat mengatur bersihan jalan napas secara memadai sehingga anak bayi dan balita dengan ISPA bila tidak segera ditangani akan tidak efektif bersihan jalan napasnya. anak bayi dan balita yang mengalami ketidakefektifan bersihan jalan napas beresiko tinggi untuk sesak napas dan meninggal. Metode yang dapat dilakukan untuk menangani bersihan jalan napas ini sesuai dengan asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan kebersihan jalan napas, salah satu tindakan keperawatan yang dapat dilakukan dengan mandiri adalah dengan inhalasi uap, fisioterapi dadadan batuk efektif. Setelah melakukan tindakan mandiri inhalasi uap, fisioterapi dada dan batuk efektif sputum dapat keluar maka dapat disimpulkan bahwa bersihan jalan napas dapat teratasi. Intervensi dilanjutkan ibu pasien secara mandiri di rumah untuk memberika inhalasi uap,fisioterapi dada dan batuk efektif jika anaknya kambuh lagi.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

Upaya Meningkatkan Bersihan Jalan Napas Pada Anak Dengan ISPA.

Upaya Meningkatkan Bersihan Jalan Napas Pada Anak Dengan ISPA.

Masalah keperawatan yang munscul pada anak dengan ISPA meliputi: ketidakefektifan bersihan jalan napas, ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh, dan resiko infeksi. Obstruksi jalan napas atas (hidung, faring, laring) merupakan suatu kondisi individu mengalami ancaman pada kondisi pernapasannya terkait dengan ketidakmampuan batuk secara efektif, yang dapat disebabkan oleh benda asing seperti makanan, akumulasi sekret, atau oleh lidah yang menyumbat. Dampak dari penumpukan sekret dapat mengganggu pertukaran gas. Yang merupakan suatu individu mengalami mengalami penurunan gas baik oksigen maupun karbon dioksida. Tanda klinisnya antara lain dispnea pada usaha napas, napas dengan biaibir pada fase ekspirasi yang panjang, agitasi, lelah, letargi, meningkatnya tahanan vascular paru, menurunnya saturasi oksigen, meningkatnya PaCO 2 dan sianosis (Wong, 2015). Masalah yang dialami An. H
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

KARYA TULIS ILMIAH : STUDI KASUS ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK YANG MENGALAMI ISPA DENGAN KETIDAKEFEKTIFAN BERSIHAN JALAN NAFAS DI RUANG ANAK RSUD BANGIL PASURUAN

KARYA TULIS ILMIAH : STUDI KASUS ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK YANG MENGALAMI ISPA DENGAN KETIDAKEFEKTIFAN BERSIHAN JALAN NAFAS DI RUANG ANAK RSUD BANGIL PASURUAN

ISPA merupakan salah satu penyakit infeksi yang menyerang salah satu atau lebih dari saluran pernapasan mulai dari hidung (saluran atas) hingga alveoli (saluran bawah) termasuk jaringan adneksinya seperti sinus, rongga telinga tengah dan pleura (Kemenkes, 2010). ISPA di sebabkan oleh virus, bakteri dan reketsia (Widoyono,2011:204), dan infeksi ini paling sering terjadi pada anak karena beberapa faktor seperti terpapar asap rokok, pencemaran lingkungan, makanan yang kurang bersih dan lain-lain, anak akan mengalami masalah pernafasan berupa sesak nafas, kesulitan bernafas, batuk dan bentuk-bentuk masalah lainnya sebagai akibat infeksi saluran pernafasan. Karena itu masalah yang berhubungan dengan pernafasan pada ISPA yang paling utama adalah ketidakefektifan bersihan jalan nafas, yang pada akhirnya akan mengganggu sistem pernafasan klien (Saputri,2013).
Baca lebih lanjut

101 Baca lebih lajut

Upaya Memperbaiki Bersihan Jalan Nafas Pada Anak Dengan Ispa.

Upaya Memperbaiki Bersihan Jalan Nafas Pada Anak Dengan Ispa.

Latar belakang: Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) terjadi pada tenggorokan, sinus, salura udara, ataupun paru-paru. Penyebab ISPA karena virus atau bakteri. Virus atau bakteri ini dikeluarkan oleh penderita infeksi saluran pernapasan melalui bersin atau ketika batuk. Masalah utama yang perlu ditangai pada anak dengan ISPA dengan inhalasi manual, karena dapat melancarkan kebutuhan sekresi yang meningkat. Berdasarkan catatan rekam medis menunjukan bahwa dalam satu tahun anak-anak yang menderita ISPA pada tahun 2016 mencapai angka 900 orang. Tujuan: Tujuan umum penulisan karya ilmiah ini adalah untuk memberikan asuhan keperawatan guna meningkatkan bersihan jalan napas. Tujuan khusus penulisan karya ilmiah ini adalah untuk menganalisi pengkajian, diagnosa, rencana, implementasi dan evaluasi pada anak dengan ISPA Metode: Deskriptif dengan pendekatan studi kasus serta melakukan asuhan keperawatan pada pasien ISPA dengan meningkatkan bersihan jalan napas yang meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Hasil: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x kunjungan dengan tindakan berupa, menganjurkan keluarga untuk memberikan makanan inhalasi manual dan mengedukasi keluarga tentang ISPA dapat terpenuhi.Kesimpulan: Asuhan keperawatan pada pasien ISPA dengan bersihan jalan napas, evaluasi pada hari ke 3 hasil masalah teratasi sebagian dibuktikan dengan sekresi berkurang
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Upaya Mempertahankan Bersihan Jalan Napas Pada Anak Dengan Tuberkulosis Paru.

Upaya Mempertahankan Bersihan Jalan Napas Pada Anak Dengan Tuberkulosis Paru.

Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap yaitu tahap intensif dan lanjutan. Pada tahap intensif pasien mendapat obat setiap hari dan perlu diawasi secara langsung untuk mencegah terjadinya resistensi obat, bila pengobatan intensif tersebut diberikan secara tepat biasanya pasien menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu dan sebagian besar pasien TB BTA positif menjadi negatif dalam 2 bulan. Pada tahap lanjutan pasien akan mendapat jenis obat lebih sedikit, namun dalam jangka waktu yang lebih lama, tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persisten sehingga mencegah terjadinya kekambuhan. Untuk kategori anak, prinsip pengobatan TB minimal 3 macam obat dan diberikan dalam waktu 6 bulan. Jenis obat yang diberikan yaitu Rifampisin, Isoniazid dan Pirasinamid yang diberikan selama 2 bulan, kemudian jenis Rifampisin dan Isoniazid selama 4 bulan. OAT pada anak diberikan setiap hari, baik pada tahap intensif maupun tahap lanjutan serta dosis obat harus disesuaikan dengan berat badan anak. (Depkes, 2011).
Baca lebih lanjut

26 Baca lebih lajut

Upaya Mempertahankan Kebersihan Jalan Napas Dengan Fisioterapi Dada Pada Anak Pneumonia.

Upaya Mempertahankan Kebersihan Jalan Napas Dengan Fisioterapi Dada Pada Anak Pneumonia.

anaknya aktif bermain. Selama sakit: ibu pasien mengatakan pasien hanya diam diatas bed. 5) Pola istirahat dan tidur. Sebelum sakit: ibu pasien mengatakan pasien biasa tidur siang 1-2 jam. Pada malam hari pasien biasanya tidur pukul 21.00 WIB lalu bangun pukul 06.00 WIB. Pasien tidur dengan pulas hanya terbangun untuk minum atau BAK. Selama sakit: ibu pasien mengatakan pasien pasien sulit tidur di siang hari, terkadang pasien tidur terkadang tidak karena terganggu dengan batuknya dan suasana yang kurang nyaman. Pada saat malam pasien tidur pukul 21.00 WIB dan bangun pukul 05.30 WIB, namun pasien sering terbangun, tidur pasien kurang pulas dan sering terganggu oleh batuk serta suasana kamar rumah sakit yang kurang nyaman. 6) Pola koognitif. Sebelum sakit: ibu pasien mengatakan pasien biasanya mudah diajari hal baru. Selama sakit: ibu klien mengatakan pasien lebih sering diam dan jika diajari hal baru pasien tetap diam. 7) Pola persepsi dan konsep diri: pasien mengatakan dirinya ingin segera sembuh dan pulang. 8) Pola peran dan hubungan: pasien merupakan anak perempuan, anak kedua dari dua bersaudara, pasien berinteraksi dengan ibu, bapak dan kakaknya, bila meminta sesuatu dan tidak diberikan, pasien menangis. 9) Pola koping dan stress: bila pasien merasa sakit, pasien menunjuk bagian yang sakit lalu berbicara kurang jelas, berteriak dan menangis. 10) Pola seksual: pasien merupakan anak perempuan. 11) Pola nilai dan keyakinan: pasien beragama islam, terlahir dari kedua orang tua yang beragama islam.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

UPAYA MEMPERTAHANKAN BERSIHAN JALAN NAPA

UPAYA MEMPERTAHANKAN BERSIHAN JALAN NAPA

Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap yaitu tahap intensif dan lanjutan. Pada tahap intensif pasien mendapat obat setiap hari dan perlu diawasi secara langsung untuk mencegah terjadinya resistensi obat, bila pengobatan intensif tersebut diberikan secara tepat biasanya pasien menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu dan sebagian besar pasien TB BTA positif menjadi negatif dalam 2 bulan. Pada tahap lanjutan pasien akan mendapat jenis obat lebih sedikit, namun dalam jangka waktu yang lebih lama, tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persisten sehingga mencegah terjadinya kekambuhan. Untuk kategori anak, prinsip pengobatan TB minimal 3 macam obat dan diberikan dalam waktu 6 bulan. Jenis obat yang diberikan yaitu Rifampisin, Isoniazid dan Pirasinamid yang diberikan selama 2 bulan, kemudian jenis Rifampisin dan Isoniazid selama 4 bulan. OAT pada anak diberikan setiap hari, baik pada tahap intensif maupun tahap lanjutan serta dosis obat harus disesuaikan dengan berat badan anak. (Depkes, 2011).
Baca lebih lanjut

26 Baca lebih lajut

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN AS (1)

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN AS (1)

Oleh karena itu penyakit asma memerlukan penanganan khusus terlebih lagi pada anak- anak yang selalu diliputi keceriaan dalam hari-hari dalam bermain dan beraktivitas dalam kehidupan sehari-hari dengan melibatkan tenaga kesehatan dari berbagai bidang multidisipliner. Dalam pelayanan keperawatan, perawat mempunyai peranan sebagai tenaga profesional yaitu bertindak memberikan asuhan keperawatan, penyuluhan kesehatan kepada orang tua, memberikan informasi tentang pengertian, tanda dan gejala, serta pencegahan secara mandiri maupun secara kolaboratif dengan berbagai pihak.
Baca lebih lanjut

30 Baca lebih lajut

Contoh Makalah Askep TB Paru   Gangguan Sistem Pernafasan

Contoh Makalah Askep TB Paru Gangguan Sistem Pernafasan

teratasi sebagian dalam waktu 3 x 24 jam. Terbukti dengan data subjektif pasien mengatakan masih batuk dan sesak napas berkurang, dan objektif pasien bernapas menggunakan otot bantu pernapasan leher, napas dangkal cepat, suara napas creakles pada percabangan bronkus, RR : 28 x/menit. Dibandingkan dengan kriteria hasil mempertahankan jalan napas pasien, pasien dapat mengeluarkan sekret dengan batuk efektif, pasien menunjukkan perilaku untuk memperbaiki/mempertahankan bersihan jalan napas, sesak napas berkurang, batuk berkurang.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

ASUHAN  KEPERAWATAN  PADA Tn. J DENGAN GANGGUAN SISTEM PERNAPASAN :TB PARU DI RUANG CEMPAKA III   “Asuhan Keperawatan Pada Tn.J dengan Gangguan Sistem Pernapasan : TB Paru di Ruang Cempaka III RSUD Pandan Arang Boyolali”.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn. J DENGAN GANGGUAN SISTEM PERNAPASAN :TB PARU DI RUANG CEMPAKA III “Asuhan Keperawatan Pada Tn.J dengan Gangguan Sistem Pernapasan : TB Paru di Ruang Cempaka III RSUD Pandan Arang Boyolali”.

2. Setelah dilakukan pengkajian dan analisa kasus muncul lima diagnosa pada pasien yaitu bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan sekret dan sekret kental, nyeri akut berhubungan dengan inflamasi paru dan batuk menetap, risiko tinggi penyebaran infeksi berhubungan dengan adanya infeksi kuman tuberkulosis, gangguan pola tidur berhubungan dengan sesak napas dan batuk, intoleransi aktivitas berhubungan dengan keletihan dan inadekuat oksigen untuk beraktivitas Semua diagnosa yang muncul dalam kasus sesuai dengan teori.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Contoh Makalah Askep (Asuhan Keperawatan) TB Paru   Gangguan Sistem Pernafasan

Contoh Makalah Askep (Asuhan Keperawatan) TB Paru Gangguan Sistem Pernafasan

teratasi sebagian dalam waktu 3 x 24 jam. Terbukti dengan data subjektif pasien mengatakan masih batuk dan sesak napas berkurang, dan objektif pasien bernapas menggunakan otot bantu pernapasan leher, napas dangkal cepat, suara napas creakles pada percabangan bronkus, RR : 28 x/menit. Dibandingkan dengan kriteria hasil mempertahankan jalan napas pasien, pasien dapat mengeluarkan sekret dengan batuk efektif, pasien menunjukkan perilaku untuk memperbaiki/mempertahankan bersihan jalan napas, sesak napas berkurang, batuk berkurang.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

KARYA TULIS ILMIAH ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN BRONKOPNEUMONIA DENGAN MASALAH KETIDAKEFEKTIFAN BERSIHAN JALAN NAPAS (Studi Kasus di Ruang Seruni Rumah Sakit Umum Daerah, Jombang)

KARYA TULIS ILMIAH ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN BRONKOPNEUMONIA DENGAN MASALAH KETIDAKEFEKTIFAN BERSIHAN JALAN NAPAS (Studi Kasus di Ruang Seruni Rumah Sakit Umum Daerah, Jombang)

Studi kasus merupakan rancangan penelitian yang mencakup satu unit. Satu unit disini dapat berarti satu klien, keluarga, kelompok, komunitas, atau institusi. Unit yang menjadi kasus tersebut secara mendalam dianalisis baik dari segi yang berhubungan dengan keadaan kasus itu sendiri, faktor-faktor yang mempengaruhi, kejadian-kejadian khusus yang muncul sehubungan dengan kasus, maupun tindakan dan reaksi kasus terhadap suatu perlakuan atau pemaparan tertentu. Meskipun di dalam studi kasus ini yang di teliti hanya berbentuk unit tunggal, namun dianalisis secara mendalam, meliputi berbagai aspek yang cukup luas (Soekidjo, 2012). Dalam penelitian studi kasus ini peneliti akan melakukan penelitian studi kasus pada klien Bronkopneumonia dengan masalah Ketidakefektifan Bersihan Jalan Napas. 3.2 Batasan Istilah
Baca lebih lanjut

103 Baca lebih lajut

Contusio Pulmonum Trauma Abdomen

Contusio Pulmonum Trauma Abdomen

Tanda : takipnea, peningkatan kerja pernapasan, penggunaan otot asesori, penurunan bunyi napas, penurunan fremitus vokal, perkusi : hiperesonan di atas area berisi udara (pneumotorak), dullnes di area berisi cairan (hemotorak); perkusi : pergerakan dada tidak seimbang, reduksi ekskursi thorak. Kulit : cyanosis, pucat, krepitasi sub kutan; mental: cemas, gelisah, bingung, stupor

25 Baca lebih lajut

Asuhan Keperawatan dengan Prioritas Masalah Gangguaan Istirahat dan Tidur di RSUD dr. Pirngadi Medan

Asuhan Keperawatan dengan Prioritas Masalah Gangguaan Istirahat dan Tidur di RSUD dr. Pirngadi Medan

Diagnosa keperawata ketiga bersihan jalan napas tidak efektif dengan data subjektif klien mengatakan sesak bila beraktivitas, batuk berdarah disertai darah dan data objek batuk berdahak bercampur darah, terdengar ronchi basah pada dada kiri dan kanan, frekuensi napas 30x/mnt, dan ritme tidak teratur. Maka dilakukan tindakan keperawatan yaitu mengkaji bersihan jalana napas klien, menyediakan alat suction dalam kondisi baik, melatih pernapasan dalam dan batuk efektif, memberikan pendidikan kesehatan (efek merokok, alkohol, menghindari alergi, latihan bernapas), memposisikan pasien dengan posisi fowler. Masalah bersihan jalan napas klien sudah teratasi.
Baca lebih lanjut

54 Baca lebih lajut

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny. S DENGAN GANGGUAN SISTEM PERNAPASAN: ASMA BRONCHIALE DI BANGSAL  Asuhan Keperawatan Pada Ny. S Dengan Gangguan Sistem Pernapasan: Asma Bronchiale Di Bangsal Bougenville III RSUD Pandan Arang Boyolali.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny. S DENGAN GANGGUAN SISTEM PERNAPASAN: ASMA BRONCHIALE DI BANGSAL Asuhan Keperawatan Pada Ny. S Dengan Gangguan Sistem Pernapasan: Asma Bronchiale Di Bangsal Bougenville III RSUD Pandan Arang Boyolali.

Kemudian penulis menyusun intervensi berdasarkan data-data di atas. Menurut Doengoes (2005) intervensi yang tepat untuk pola napas adalah kaji frekuensi ke dalaman pernapasan dan ekspansi dada, auskultasi bunyi nafas dan catat adanya bunyi nafas seperti crackels, mengi, ronkhi, atur posisi semi fowler, observasi pola batuk dan karakter sekret, bantu pasien nafas dalam, ajarkan cara batuk efektif, kolaborasi (berikan oksigen tambahan, berikan humidifikasi tambahan misalnya nebulizer).

16 Baca lebih lajut

Modalitas Penatalaksanaan Gangguan Pernapasan

Modalitas Penatalaksanaan Gangguan Pernapasan

Tujuan batuk efektif adalah meningkatkan mobilisasi sekresi dan mencegah risiko tinggi retensi sekresi (pneumonia, atelektasi, dan demam). Pemberian latihan batuk efektif dilaksanakan terutama pada klien dengan masalah keperawatan ketidakefektifan bersihan jalan napas dan masalah risiko tinggi infeksi saluran pernapasan bawah yang berhubungan dengan akumulasi sekret pada jalan napas yang sering disebabkan oleh kemampuan batuk yang menurun atau adanya nyeri setelah pembedahan thoraks atau pembedahan abdomen bagian atas sehingga klien merasa malas atau takut melakukan batuk.
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN GAGAL NAFAS (BANTUAN VENTILASI MEKANIK) | Karya Tulis Ilmiah LP LK Gagal Napas

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN GAGAL NAFAS (BANTUAN VENTILASI MEKANIK) | Karya Tulis Ilmiah LP LK Gagal Napas

Tanda : takipnea, peningkatan kerja pernapasan, penggunaan otot asesori, penurunan bunyi napas, penurunan fremitus vokal, perkusi : hiperesonan di atas area berisi udara (pneumotorak), dullnes di area berisi cairan (hemotorak); perkusi : pergerakan dada tidak seimbang, reduksi ekskursi thorak. Kulit : cyanosis, pucat, krepitasi sub kutan; mental: cemas, gelisah, bingung, stupor

23 Baca lebih lajut

LAPORAN PENDAHULUAN CA PARU (1)

LAPORAN PENDAHULUAN CA PARU (1)

Bersihan jalan nafas tidak efektif b/d adanya eksudat di alveolus Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24 jam diharapkan mampu mempertahankan kebersihan jalan nafas dengan kriteri[r]

20 Baca lebih lajut

KONSEP TEORI KEBUTUHAN dasar manusia

KONSEP TEORI KEBUTUHAN dasar manusia

e) Hipoventilasi, merupakan upaya tubuh mengeluarkan karbondioksida dengan cukup yang dilakukan pada saat ventilasi alveolar serta tidak cukupnya penggunaan oksigen yang ditandai dengan adanya nyeri kepala, penurunan kesadaran, disorientasi, atau ketidakseimvangan elektrolit yang dapat terjad akibat atelektasis, lumpuhnya otot- otot pernapasan, depresi pusat pernapasan, peningkatan tahanan jalan udara, penurunan tahanan jaringan paru-paru dan toraks, serta penurunan compliance paru- paru dan toraks. Keadaan demikian dapat menyebabkan hiperkapnea, yaitu retensi karbondioksida dalam tubuh sehingga pCO 2 meningkat (akibat hipoventilasi) dan
Baca lebih lanjut

39 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...