Top PDF Efek Waktu Milling Menggunakan Hem (High Energy Milling) Pada Pembuatan Magnet Bonded Pr-Fe-B

Efek Waktu Milling Menggunakan Hem (High Energy Milling) Pada Pembuatan Magnet Bonded Pr-Fe-B

Efek Waktu Milling Menggunakan Hem (High Energy Milling) Pada Pembuatan Magnet Bonded Pr-Fe-B

Magnet permanen dapat diberi indeks berdasarkan medan koersif yang di perlukan untuk menghilangkan induksi.Patokan ukuran yang lebih baik adalah hasil kali BH.Hasil kali sesaat BH maksimum lebih sering di gunakan karena merupakan barrier energy krisis yang harus di lampaui.Magnet lunak merupakan pilihan tepat untuk penggunaan pada arus bolak-balik atau frekuensi tinggi,karena harus mengalami magnetisasi dan demagnetisasi berulang kali selama selang satu detik.Spesifikasi yang agak kritis untuk magnet lunak adalah induksi jenuh (tinggi),medan koersif (rendah),dan permeabilitas maksimum (tinggi).
Baca lebih lanjut

78 Baca lebih lajut

Efek Waktu Milling Menggunakan Hem (High Energy Milling) Pada Pembuatan Magnet Bonded Pr-Fe-B

Efek Waktu Milling Menggunakan Hem (High Energy Milling) Pada Pembuatan Magnet Bonded Pr-Fe-B

Perhitungan densitas sampel bonded magnet PrFeB setelah di Curing/dikeringkan untuk dry miling High Energy Milling HEM adalah sebagai berikut.[r]

14 Baca lebih lajut

EFEK WAKTU MILLING MENGGUNAKAN HEM (HIGH ENERGY MILLING) PADA PEMBUATAN MAGNET BONDED Pr-Fe-B

EFEK WAKTU MILLING MENGGUNAKAN HEM (HIGH ENERGY MILLING) PADA PEMBUATAN MAGNET BONDED Pr-Fe-B

Powder Praseodymium Iron Boron (PrFeB) Bonded magnetheve been made with the effect of milling time on the microstructure and magnetic properties of powder PrFeB. The raw material used is powder Pr-Fe-B with type-MQEP 16-7 that uses high- energy milling with a variation of milling time and milling different conditions .Variation milling times are 0.5 minute, 1 minute, 5 minute,research results obtained average diameter of the smallest powder dry milling treatment of 10 minutes is 14,63µm, the highest density values also 10 minute powder dry milling is 7.84 g / cm ³, and of the highest bulk density testing can dry milling of treatment at 10 min milling time is 5.810 g / cm ³ and most powerful magnetic fields as high as 2136.5 G.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

BAB 2 LANDASAN TEORI - Efek Waktu Milling Menggunakan Hem (High Energy Milling) Pada Pembuatan Magnet Bonded Pr-Fe-B

BAB 2 LANDASAN TEORI - Efek Waktu Milling Menggunakan Hem (High Energy Milling) Pada Pembuatan Magnet Bonded Pr-Fe-B

Dalam proses penggilingan,HEM-E3D bekerja dengan cara menghancurkan campuran serbuk melalui mekanisme pembenturan bola-bola giling yang bergerak mengikuti pola gerakan wadahnya yang berbentuk elips tiga dimensi inilah yang memungkinkan pembentukan partikel-pertikel serbuk berskala nanometer akibat tingginya frekuensi tumbukan.Tingginya frekuensi tumbukan yang terjadi antara campuran serbuk dengan bola-bola giling di sebabkan karena wadah yang berputar dengan kecepatan tinggi,yaitu mencapai 500rpm,dan bentuk bola gerakan yang berbentuk elipstiga dimensi tersebut.Prinsip kerja HEM-E3D tampak pada gembar berikut ini.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Pengaruh Waktu Wet Milling Flakes Ndfeb Untuk Pembuatan Bonded Magnet Terhadap Sifat Fisis, Mikrostruktur, Sifat Magnet

Pengaruh Waktu Wet Milling Flakes Ndfeb Untuk Pembuatan Bonded Magnet Terhadap Sifat Fisis, Mikrostruktur, Sifat Magnet

Telah dilakukan penelitian pembuatan bonded magnet flakes NdFeB dari proses wet milling HEM (High Energy Milling) dengan ditambahkan toulene pada saat penggilingan terhadap sifat fisis, mikrostruktur dan sifat magnetnya dengan variasi waktu milling yaitu 15 menit, 30 menit, 45 menit, dan 60 menit. Serbuk hasil wet milling kemudian dianalisa ukuran diamer partikel menggunakan PSA, dan struktur fasa kristalin dengan menggunakan XRD. Kemudian dilakukan pembuatan sampel uji berupa pelet dengan proses kompaksi dengan tekanan 80 kgf/cm 2 . Setelah didapatkan sampel pelet dilakukan pengeringan pada suhu 100 0 C selama 1 jam. Kemudian dilakukan karakterisasi sampel pelet dengan Optik Mikroskop untuk mengetahui grain size, bulk density, dam sifat magnet dengan meggunakan Gaussmeter dan VSM. Dari hasil penelitian diameter rata-rata partikel optimum pada waktu milling 60 menit, yaitu 40,30 µm. Hasil analisa XRD menunjukkan 2 fasa yang muncul, yaitu Nd 2 Fe 14 B sebagai fasa dominan dan Fe sebagai fasa minor.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Pengaruh Waktu Wet Milling Flakes Ndfeb Untuk Pembuatan Bonded Magnet Terhadap Sifat Fisis, Mikrostruktur, Sifat Magnet

Pengaruh Waktu Wet Milling Flakes Ndfeb Untuk Pembuatan Bonded Magnet Terhadap Sifat Fisis, Mikrostruktur, Sifat Magnet

Telah dilakukan penelitian pembuatan bonded magnet flakes NdFeB dari proses wet milling HEM (High Energy Milling) dengan ditambahkan toulene pada saat penggilingan terhadap sifat fisis, mikrostruktur dan sifat magnetnya dengan variasi waktu milling yaitu 15 menit, 30 menit, 45 menit, dan 60 menit. Serbuk hasil wet milling kemudian dianalisa ukuran diamer partikel menggunakan PSA, dan struktur fasa kristalin dengan menggunakan XRD. Kemudian dilakukan pembuatan sampel uji berupa pelet dengan proses kompaksi dengan tekanan 80 kgf/cm 2 . Setelah didapatkan sampel pelet dilakukan pengeringan pada suhu 100 0 C selama 1 jam. Kemudian dilakukan karakterisasi sampel pelet dengan Optik Mikroskop untuk mengetahui grain size, bulk density, dam sifat magnet dengan meggunakan Gaussmeter dan VSM. Dari hasil penelitian diameter rata-rata partikel optimum pada waktu milling 60 menit, yaitu 40,30 µm. Hasil analisa XRD menunjukkan 2 fasa yang muncul, yaitu Nd 2 Fe 14 B sebagai fasa dominan dan Fe sebagai fasa minor.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Efek Waktu Wet Milling dan Suhu Annealing Terhadap Sifat Fisis, Mikrostruktur dan Magnet dari Flakes NdFeB

Efek Waktu Wet Milling dan Suhu Annealing Terhadap Sifat Fisis, Mikrostruktur dan Magnet dari Flakes NdFeB

Telah dilakukan penelitian pembuatan magnet dari flakes NdFeB dari proses wet milling menggunakan ball mill terhadap sifat fisis, mikrostruktur,dan sifat magnetnya dengan variasi waktu milling yaitu 16 jam,24 jam, 48 jam,72 jam. Serbuk hasil mechanical milling menggunakan ball mill kemudian dianalisa ukuran partikel yang dihasilkan dengan menggunakan PSA dan XRD. Kemudian dilakukan pembuatan sampel uji berupa pelet dengan proses kompaksi melalui cetak isotropi. Setelah didapatkan sampel pelet, diberikan suhu annealing dengan variasi 150,170 ˚C, kemudian dilakukan karakterisasi mikrostruktur dengan SEM - EDX dan sifat magnet dengan Gaussmeter, Permaegraph dan VSM. Dari hasil penelitian diperoleh ukuran partikel optimum dengan waktu milling 48 jam yaitu 1,49 µm. Hasil XRD menunjukkan bahwa fasa yang muncul hanya fasa Nd 2 Fe 14 B,
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Efek Holding Time Heat Treatment Terhadap Sifat Fisis, Mikrostruktur, Dan Sifat Magnet Pada Pembuatan Bonded Magnet Pr-Fe-B

Efek Holding Time Heat Treatment Terhadap Sifat Fisis, Mikrostruktur, Dan Sifat Magnet Pada Pembuatan Bonded Magnet Pr-Fe-B

Telah dilakukan pembuatan magnet bonded PrFeB dengan variasi temperatur curing vakum dan udara sebesar 100,150, 180, 200 0 C , t konstan = 1 jam dan selanjutnya dilakukan variasi waktu penahanan sebesar 30 menit,1jam, 2jam, dan 4jam, T konstan = 100 0 C. Serbuk hasil heat treatment dicetak berbentuk pellet (d=0,9 cm) dengan cara dry press menggunakan hand press bertekanan 30.000 kPa. Karakterisasi : Sifat fisis yaitu densitas (Prinsip Archimedes) dan Sifat magnet( diukur dengan gaussmeter) untuk mendapatkan suhu curing optimum. Berdasarkan data ,didapat suhu optimum yaitu pada suhu 100 0 C. Kemudian dilakukan pengeringan (curing) dalam keadaan vakum dan udara dengan variasi waktu penahanan curing yaitu 30 menit,1 jam, 2 jam, dan 4 jam dengan suhu konstan 100 0 C. Dari hasil penelitian bahwa bonded magnet PrFeB yang memiliki kerapatan fluks magnetik tertinggi adalah bonded magnet yang dicuring udara pada suhu 100 0 C dan waktu penahanan 30 menit, yaitu 2527.0 gauss dengan nilai Densitas = 5.9 g/cm 3
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

SINTESIS HIGH-CHROMIUM ODS STEEL DENGAN CAMPURAN PASIR BESI LOKAL INDONESIA MENGGUNAKAN HEM (HIGH ENERGY BALL MILLING).

SINTESIS HIGH-CHROMIUM ODS STEEL DENGAN CAMPURAN PASIR BESI LOKAL INDONESIA MENGGUNAKAN HEM (HIGH ENERGY BALL MILLING).

menunjukkan bahwa waktu milling mempengaruhi ukuran kristal yang ditandai dengan adanya perubahan lebar puncak pada grafik hasil XRD, semakin lama waktu milling ukuran kristal semakin kecil. Hasil SEM-EDS (SEM-energy disversive spectroscopy) menunjukkan bahwa sebaran serbuk yang telah dimilling belum tercampur secara homogen. Pada serbuk ODS-PB maupun ODS PM2000 pada 40 jam milling terdapat aglomerasi, hal ini diduga terjadi karena proses mechanical alloying. Pada bentuk pelet ODS PM2000 menunjukkan bahwa fasa yang terbentuk adalah fasa Fe-Cr, sedangkan pada bentuk pelet ODS PB fasa yang terbentukadalah Fe dan MnCr 2 O 4 . Hal ini terjadi karena kandungan pasir
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Efek Waktu Milling Terhadap Sifat Fisis Dan Mikrostruktur Bahan Magnetik NdFeB

Efek Waktu Milling Terhadap Sifat Fisis Dan Mikrostruktur Bahan Magnetik NdFeB

Telah dilakukan pembuatan magnet NdFeB dengan variasi waktu milling (0, 15, 30, 60 dan 180 menit). Bahan yang digunakan yaitu NdFeB Flakes, MQP-B + dan MQA dengan variasi waktu milling (0, 15, 30, 60 dan 180 menit). Tiga bahan yang digunakan di preparasi secara terpisah. Preparasi sampel dimulai dari penggerusan bahan secara terpisah dengan ayakan 325 mesh lalu di wet milling dengan variasi waktu (0, 15, 30, 60 dan 180 menit) menggunakan toluen dan jenis milling yang digunakan adalah HEM. Serbuk yang telah di wet milling dikeringkan dan dikarakterisasi. Karakterisasi sampel meliputi true density, PSA,
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Efek Holding Time Heat Treatment Terhadap    Sifat Fisis, Mikrostruktur, Dan Sifat Magnet Pada Pembuatan Bonded Magnet Pr-Fe-B

Efek Holding Time Heat Treatment Terhadap Sifat Fisis, Mikrostruktur, Dan Sifat Magnet Pada Pembuatan Bonded Magnet Pr-Fe-B

Telah dilakukan pembuatan magnet bonded PrFeB dengan variasi temperatur curing vakum dan udara sebesar 100,150, 180, 200 0 C , t konstan = 1 jam dan selanjutnya dilakukan variasi waktu penahanan sebesar 30 menit,1jam, 2jam, dan 4jam, T konstan = 100 0 C. Serbuk hasil heat treatment dicetak berbentuk pellet (d=0,9 cm) dengan cara dry press menggunakan hand press bertekanan 30.000 kPa. Karakterisasi : Sifat fisis yaitu densitas (Prinsip Archimedes) dan Sifat magnet( diukur dengan gaussmeter) untuk mendapatkan suhu curing optimum. Berdasarkan data ,didapat suhu optimum yaitu pada suhu 100 0 C. Kemudian dilakukan pengeringan (curing) dalam keadaan vakum dan udara dengan variasi waktu penahanan curing yaitu 30 menit,1 jam, 2 jam, dan 4 jam dengan suhu konstan 100 0 C. Dari hasil penelitian bahwa bonded magnet PrFeB yang memiliki kerapatan fluks magnetik tertinggi adalah bonded magnet yang dicuring udara pada suhu 100 0 C dan waktu penahanan 30 menit, yaitu 2527.0 gauss dengan nilai Densitas = 5.9 g/cm 3
Baca lebih lanjut

68 Baca lebih lajut

Pengaruh Waktu Wet Milling Flakes Ndfeb Untuk Pembuatan Bonded Magnet Terhadap Sifat Fisis, Mikrostruktur, Sifat Magnet Chapter III V

Pengaruh Waktu Wet Milling Flakes Ndfeb Untuk Pembuatan Bonded Magnet Terhadap Sifat Fisis, Mikrostruktur, Sifat Magnet Chapter III V

Vibrating Sample Magnetometer (VSM) merupakan salah satu jenis peralatan yang digunakan untuk mempelajari sifat magnetik bahan. Pengukuran sifat magnetik bahan dengan VSM ini dilakukan di laborattorium Pusat Penelitian Fisika (P2F) dengan tipe VSM Oxford VSM 1.2T. Dengan alat ini dapat diperoleh informasi mengenai besaran-besaran sifat magnetik sebagai akibat perubahan medan magnet luar yang digambarkan dalam kurva histerisis. Besarnya sifat magnet suatu bahan dapat diketahui melalui kurva histerisis dibawah ini, dari kurva tersebut dapat diketahui besarnya induksi remanen (Br), koersivitas (Hc), dan energy produk
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

Pengaruh Komposisi Bakelit Dan Resin Epoksi Pada Pembuatan Bonded Magnet Permanen Pr-Fe-B

Pengaruh Komposisi Bakelit Dan Resin Epoksi Pada Pembuatan Bonded Magnet Permanen Pr-Fe-B

Bonded magnet is composite magnet material made by mixing magnetic powder with non-magnetic binder. Bonded permanent magnet Pr-Fe-B with bakelite and epoxy resin matrix made manually by mixing powder of Praseodymium Iron Boron (Pr-Fe- B) commercial MQP type 16-7 with each binder by using mortar. The composition of Pr-Fe-B powder was varied at 92, 94, 96 and 98 weight% respectively from each 8 gram total mass. Then this mixture pressed with dry compression moulding method with sampel pressure 5 ton and dried at 150ºC for 2 hours for bakelite and room temperature for 24 hours for epoxy resin. Magnetic properties were characterized by measuring flux density using Gaussmeter and hysteresis kurva using Permagraph. While compressive strength was characterized using Universal Testing Machine and hardness was characterized using Brinell hardness method. The results show that increasing portion of binder, Bakelite and epoxy resin, increase hardness and compressive strength qualitatively but decrease density and magnetic properties. The best magnetic properties value obtained for the 98 weight% composition of Pr-Fe-B and the value of flux density = 1186 gauss, Br = 6.63 kG, HcJ = 6.962 kOe, BHmax = 7.98 MGOe, hardness = 42.2 BHN and compressive strength = 101.4 MPa for Bakelite binder. While for eposy resin binder obtained the value of flux denisty = 1110 gauss, Br = 5,50 kG, HcJ = 5,868 kOe, BHmax = 4,92 MGOe, hardness = 24,4 BHN and compressive strength = 63,3 MPa.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Efek Variasi Waktu Rotary Ball Mill Pada Serbuk NdFeB terhadap Mikrostruktur, Densitas, dan Sifat Magnetnya

Efek Variasi Waktu Rotary Ball Mill Pada Serbuk NdFeB terhadap Mikrostruktur, Densitas, dan Sifat Magnetnya

Bahan diamagnetik adalah bahan yang resultan medan magnet atomis masing- masing atom/ molekulya adalah nol, tetapi medan magnet akibat orbit dan spin elektronnya tidak nol. Bahan diamagnetik tidak mempunyai momen dipol magnet permanen. Jika bahan diamagnetik diberi medan magnet luar, maka elektron- elektron dalam atom akan mengubah gerakannya sedemikian rupa sehingga menghasilkan resultan medan magnet atomis yang arahnya berlawanan dengan medan magnet luar tersebut. Sifat diamagnetik bahan ditimbulkan oleh gerak orbital elektron. Karena atom mempunyai elektron orbital, maka semua bahan bersifat diamagnetik. Suatu bahan dapat bersifat magnet apabila susunan atom dalam bahan tersebut mempunyai spin elektron yang tidak berpasangan. Dalam bahan diamagnetik hampir semua spin elektron berpasangan, akibatnya bahan ini tidak menarik garis gaya. Permeabilitas bahan ini: µ< , dengan suseptibilitas magnetik bahan < 0. Nilai bahan diamagnetik mempunyai orde -10 -5 m 3 /kg. Contoh bahan diamagnetik yaitu: bismut, perak, emas, tembaga dan seng. (Halliday & Resnick, 1978).
Baca lebih lanjut

120 Baca lebih lajut

EFFECT OF MULTI PASS HIGH ENERGY MILLING ON MORPHOLOGY AND RHEOLOGICAL PROPERTIES OF CARBON NANOTUBES

EFFECT OF MULTI PASS HIGH ENERGY MILLING ON MORPHOLOGY AND RHEOLOGICAL PROPERTIES OF CARBON NANOTUBES

For electronic application, high crystallinity of CNT is required to get a good electrical property. In our previous research, CNTs was utilized as an electron emitter in field emission display (FED). We tried to cut and disperse CNTs using high energy milling on the MWNT after adding a commercial dispersant. The experimental result shows that high energy milling can be applied for many practical applications including paste preparation for FED. In the same time, the degree of crystallinity was also decreasing due to collision and impact forces between CNT and milling media. Therefore the present study investigated the rules of modified high energy milling in order to increase the effectiveness of high energy milling. At previous experimentation, continuous system with a very high rotor rotation per minutes (RPM) was utilized for milling process [15,17] . But in this paper
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Efek Penambahan Na2O Terhadap Proses Sintering, Sifat Fisis, dan Sifat Magnet BaFe12O19

Efek Penambahan Na2O Terhadap Proses Sintering, Sifat Fisis, dan Sifat Magnet BaFe12O19

Hubungan Antara Ukuran Partikel Pada Pembuatan Bonded Permanen Magnet Nd-Fe-B Terhadap Struktur Mikro Dan Sifat Magnet.. Universitas sumatera utara.[r]

2 Baca lebih lajut

Efek Waktu Wet Milling dan Suhu Annealing Terhadap Sifat Fisis, Mikrostruktur dan Magnet dari Flakes NdFeB

Efek Waktu Wet Milling dan Suhu Annealing Terhadap Sifat Fisis, Mikrostruktur dan Magnet dari Flakes NdFeB

Untuk mengembangkan perkembangan teknologi yang semakin pesat dan canggih tersebut, maka pada penelitian ini akan dipelajari mekanisme Pengaruh Variasi Waktu Milling Ball Mill Terhadap Mikrostruktur dan Sifat Fisis Magnet Nd 2 Fe 14 B Hasil Proses Wet Milling. Pada penelitian ini akan ditambahkan toluene

4 Baca lebih lajut

Pengaruh Waktu Milling Terhadap Sifat Fisis, Sifat Magnet Dan Struktur Kristal Pada Magnet Barium Heksaferit

Pengaruh Waktu Milling Terhadap Sifat Fisis, Sifat Magnet Dan Struktur Kristal Pada Magnet Barium Heksaferit

material. Barium hexaferrite powder in milling with variations of time 3 hours, 6 hours, 12 hours and 24 hours using HEM (High Energy Milling). Then the sample was dried at 100 ℃ for 24 hours. Then the sample was crushed using hand mortar. After a fine sample measured particle size using PSA (Particle Size Analysis). From the results of testing PSA obtained values of particles that tend to rise, but at 24 hours milling value of the particles tends to decrease due to the occurrrence of aglomeration. Then measured powder density using pycnometer. Of powder density measurements obtained values tend to rise, but when the milling 24 hours density value tends to decrease due to aglomeration. Then the powder is characterized using X-Ray Diffraction. From the XRD pattern, the dominant phase of BaFe 12 O 19 and Fe
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Pengaruh Waktu Milling Terhadap Sifat Fisis, Sifat Magnet Dan Struktur Kristal Pada Magnet Barium Heksaferit

Pengaruh Waktu Milling Terhadap Sifat Fisis, Sifat Magnet Dan Struktur Kristal Pada Magnet Barium Heksaferit

24 hours, This is due the loss of iron ball during milling process. Then powder in characterization using VSM (Vibrating Sample Magnetizer) and obtained remanent magnetic properties, saturation magnetic properties, remanence, coercivity and product energy that tend. From VSM results can be seen that the result of 3 hours milling has the best magnetic properties, then compacted and sintered with variations of temperature 900 ℃ , 1000 ℃ , 1100 ℃ , dan 1200 ℃ on the millingresult 3 hours. From result with temperature variation obtained by bulk density which tends to rise and best magnetic flux value obtained at 1100 temperature.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Efek Waktu Wet Milling dan Suhu Annealing      Terhadap Sifat Fisis, Mikrostruktur dan Magnet      dari Flakes NdFeB

Efek Waktu Wet Milling dan Suhu Annealing Terhadap Sifat Fisis, Mikrostruktur dan Magnet dari Flakes NdFeB

Dari tabel diatas diketahui bahwa nilai densitas dari bulk magnet NdFeB tersebut semakin besar dengan bertambahnya waktu milling. Hal ini disebabkan jika ukuran dimaeter partikel semakin kecil maka nilai bulk density akan semakin membesar. Selain itu korelasi antara bulk density dengan ukuran partikel juga berbanding terbalik. Semakin kecil ukuran serbuk magnet maka nilai bulk density cenderung naik. Hal ini disebabkan karena semakin kecil ukuran serbuk maka kepadatan pelet juga semakin tinggi (Ayu Yuswita,2012). Namun nilai densitas pada waktu milling 72 jam menurun dikarenakan ukuran serbuk yang lebih besar dari serbuk magnet pada waktu milling 48 jam. Selain ukuran serbuk, nilai densitas bulk magnet permanen ada kemungkinan dipengaruhi kehomogenan dalam matriks, sifat mekanik dan sifat kemagnetan bahan.sehingga perlu dikaji lebih lanjut untuk mendapatkan ukuran dan bentuk serbuk yang optimal (Suharpiyu, 2000). Hasil Densitas dapat ditunjukkan dengan grafik dibawah ini:
Baca lebih lanjut

77 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...