Top PDF WEWENANG KURATOR DALAM PELAKSANAAN PUTUSAN PAILIT OLEH PENGADILAN.

WEWENANG KURATOR DALAM PELAKSANAAN PUTUSAN PAILIT OLEH PENGADILAN.

WEWENANG KURATOR DALAM PELAKSANAAN PUTUSAN PAILIT OLEH PENGADILAN.

Dengan demikian, kurator dituntut untuk memiliki integritas yang berpedoman pada kebenaran dan keadilan serta keharusan untuk menaati standar profesi dan etika. Hal ini untuk menghindari adanya benturan kepentingan dengan debitur maupun kreditur. Namun pada prakteknya kinerja kurator menjadi terhambat oleh permasalahan seperti debitur pailit tidak mengacuhkan putusan pengadilan atau bahkan menolak untuk dieksekusi

13 Baca lebih lajut

Pelaksanaan Putusan Pailit Pengadilan Asing Berdasarkan Perjanjan Internasional

Pelaksanaan Putusan Pailit Pengadilan Asing Berdasarkan Perjanjan Internasional

Menurut Martin Wolft, sistem teritorialitas dianut di Amerika Serikat, sistem universalitas dianut di Jerman, Swis. Untuk Negara Inggris prinsip yang dianut adalah prinsip universalitas, kecuali hal berlakunya putusan hakim asing terhadap barang-batang tak bergerak yang terletak di Negara Inggris, maka berlaku prinsip teritorialitas. Menurut sistem hukum perdata internasional Belanda, keputusan kepailitan memakai prinsip teritorialitas. Pada pokoknya suatu keputusan pailit yang diucapkan di luar negeri tidak mempunyai akibat hukum di dalam negeri (Adrian Sutedi. 2009).
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

AKIBAT HUKUM  PT thd Putusan Pailit Pengadilan Niaga

AKIBAT HUKUM PT thd Putusan Pailit Pengadilan Niaga

Pembubaran perseroan terbatas yang dimaksud dalam Pasal 142 butir 1 huruf d dan e UUPT, proses dan pemberesannya haruslah sesuai dengan UU Kepailitan dan PKPU. Pada Pembubaran yang demikian ini, bahwa Pembubaran yang dimaksud adalah penghentian operasional Perseroan Terbatas yang dilakukan oleh organ-organ Perseroan yang meliputi RUPS, Anggota Direksi, dan Dewan Komisaris, bukanlah berupa Pembubaran Badan Hukum perseroan terbatas Peran organ-organ perseroan tersebut berdasarkan pasal 16 dan pasal 21 UU Kepailitan dan PKPU, diambil alih oleh Kurator dan Hakim Pengawas untuk melakukan Pemberesan harta pailit dan atau melanjutkan operasional perseroan terbatas dengan pertimbangkan lebih mengutungkan daripada menghentikan operasional perseroan terbatas, kecuali apabila terjadi pencabutan kepailitan akibat tidak ada kemampuan membayar Debitor untuk membayar biaya kepailitan maka bersamaan dengan itu dilakukan penghentian tugas dan wewenang Kurator dalam kegiatannnya, pemberesan dan penyelesaian kewajiban perseroan dilakukan oleh likuidator seperti halnya diatur dalam pasal 143 butir 4 UUPT.
Baca lebih lanjut

23 Baca lebih lajut

PEMBAGIAN IMBALAN JASA BAGI KURATOR DI PENGADILAN NIAGA JAKARTA.

PEMBAGIAN IMBALAN JASA BAGI KURATOR DI PENGADILAN NIAGA JAKARTA.

12 ini dapat dilihat dari tugas dan wewenangnya tersebut. Disamping memiliki tugas dan wewenang, Kurator juga memiliki hak, yang diatur dalam hukum kepailitan ini. Undang-Undang pun mengakomodir hal ini, salah satu hak Kurator yang diakomodir oleh Undang-Undang ini adalah adanya hak untuk memperoleh imbalan jasa atas tugas dan wewenangnya. Khusus mengenai imbalan jasa bagi Kurator yang telah mengurusi harta pailit (boedel Pailit) dari debitor pailit ini, membuat penulis tertarik untuk menulisnya, dalam artian melakukan penelitian untuk mengetahui bagaimana pengaturan tentang pembagian imbalan jasa bagi Kurator, lebih lengkapnya telah penulis tulis di rumusan masalah, hal ini dikarenakan adanya pertanyaan besar di dalam diri penulis sendiri, mengenai darimana imbalan jasa tersebut diperoleh, berapa besar imbalan jasa tersebut dan bagaimana tata cara pembagian imbalan jasa tersebut dalam perkara kepailitan yang berakhir dengan pemberesan.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  PERLINDUNGAN HUKUM BAGI KURATOR TERHADAP PELAKSANAAN PENGURUSAN DAN PEMBERESAN HARTA PAILIT.

PENDAHULUAN PERLINDUNGAN HUKUM BAGI KURATOR TERHADAP PELAKSANAAN PENGURUSAN DAN PEMBERESAN HARTA PAILIT.

sita dengan surat kilat tercatat kepada debitor, pihak yang mengajukan permohonan pernyataan pailit, kurator, dan hakim pengawas paling lambat 3 (tiga) hari setelah tanggal putusan atas permohonan pernyataan pailit diucapkan. Seperti yang disampaikan oleh Ricardo Simanjuntak undang- undang telah menentukan bahwa salinan putusan tersebut paling lambat 3 hari telah dikirimkan oleh juru sita kepada kurator, tetapi praktiknya tidak sesuai dengan yang di tentukan pada Pasal 9 diatas. Sehingga hal ini dapat mengacam profesi curator dalam melaksankan pengurusan dan pemberesan harta pailit.
Baca lebih lanjut

31 Baca lebih lajut

PELAKSANAAN PENGURUSAN DAN PEMBERESAN HARTA PAILIT OLEH KURATOR DALAM MENYELESAIKAN PERKARA KEPAILITAN.

PELAKSANAAN PENGURUSAN DAN PEMBERESAN HARTA PAILIT OLEH KURATOR DALAM MENYELESAIKAN PERKARA KEPAILITAN.

1. Pengertian dan Pengaturan Kurator ……………………………….41 2. Pengangkatan, Penggantian dan Pemberhentian Kurator ………....42 3. Syarat – Syarat Menjadi Kurator ………………………………….43 4. Tugas dan Wewenang Kurator …………………………………….44 5. Tanggung Jawab Kurator ………………………………………….46

10 Baca lebih lajut

Kepja No. Kep-117J.A121995 tentang Jabatan Struktural yang Tidak Mengelola Fungsi Jaksa

Kepja No. Kep-117J.A121995 tentang Jabatan Struktural yang Tidak Mengelola Fungsi Jaksa

Jaksa Agung Muda Pidana Khusus. Tugas dan wewenang melakukan penyelidikan, penyidikan, pemeriksaan tambahan, penuntutan, melaksanakan penetapan hakim dan putusan pengadilan, pengawasan terhadap pelaksanaan keputusan lepas bersyarat dan tindakan hukum lain mengenai tindak pidana ekonomi, tindak pidana Korupsi, tindak pidana Subversi dan Tindak Pidana Khusus lainnya berdasarkan peraturan perundang-undangan dan kebijaksanaan yang ditetapkan oleh Jaksa Agung.

41 Baca lebih lajut

ANALISIS KEWENANGAN KURATOR DALAM MELAKUKAN PEMBERESAN HARTA/BOEDEL PAILIT (STUDI PUTUSAN MAHKAMAH AGUNG NOMOR 769 K/Pdt.Sus-Pailit/2016).

ANALISIS KEWENANGAN KURATOR DALAM MELAKUKAN PEMBERESAN HARTA/BOEDEL PAILIT (STUDI PUTUSAN MAHKAMAH AGUNG NOMOR 769 K/Pdt.Sus-Pailit/2016).

Setiap perbuatan Kurator yang merugikan terhadap Harta Pailit ataupun dalam arti merugikan kepentingan kreditor, baik secara disengaja maupun tidak disengaja oleh kurator maka Kurator harus dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya tersebut. Hal ini tegas dinyatakan dalam Pasal 72 UU Kepailitan dan PKPU antara lain Kurator bertanggung jawab terhadap kesalahan/kelalaiannya dalam melaksanakan tugas pengurusan dan pemberesan yang menyebabkan kerugian terhadap Harta Pailit ini berarti Kurator dalam melakukan pengurusan dan pemberesan tidak dapat bertindak sewenang-wenang, karena apabila ada perbuatan Kurator yang merugikan Harta Pailit, maka harta pribadi Kurator turut bertanggung jawab atas perbuatan tersebut. Sebagai bentuk pertanggung jawabannya, setiap 3 bulan, Kurator harus menyampaikan laporan kepada hakim pengawas mengenai keadaan harta pailit dan pelaksanaan tugasnya (Pasal 74 ayat (1) UU Kepailitan dan PKPU). Laporan ini bersifat untuk umum dan dapat dilihat oleh setiap orang secara cuma-cuma (Pasal 74 ayat (2) UU Kepailitan dan PKPU).
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Analisis Yuridis Terhadap Eksekusi Benda Jaminan yang Dibebani Hak Tanggungan Pada Debitur Pailit

Analisis Yuridis Terhadap Eksekusi Benda Jaminan yang Dibebani Hak Tanggungan Pada Debitur Pailit

Didalam perjanjian kredit pada bank umumnya dilaksanakan dengan menggunakan perjanjian ikutan yaitu perjanjian jaminan hak tanggungan sebagai jaminan pelunasan atas utang debitur kepada kreditur apabila debitur tidak mampu melunasi kewajiban pembayaran utangnya kepada kreditur. Namun didalam praktek pelaksanaan perjanjian kredit dengan jaminan hak tanggungan, debitur ada yang dinyatakan pailit oleh keputusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap. Apabila debitur telah dinyatakan pailit oleh putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap, maka hak kreditur pemegang sertipikat hak tanggungan tetap dilindungi secara hukum baik oleh Undang-Undang No. 4 Tahun 1996 tentang hak tanggungan, maupun oleh Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang kepailitan dan penundaan kewajiban pembayaran utang.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

CARA PEMERIKSAAN PERSIDANGAN DAN PERTIMBANGAN HAKIM PENGADILAN MILITER SURABAYA III-12 DI MALANG MEMUTUS TINDAK PIDANA DESERSI DALAM WAKTU DAMAI (STUDI PUTUSAN NOMOR 147-K/PM.III-12/AD/X/2014).

CARA PEMERIKSAAN PERSIDANGAN DAN PERTIMBANGAN HAKIM PENGADILAN MILITER SURABAYA III-12 DI MALANG MEMUTUS TINDAK PIDANA DESERSI DALAM WAKTU DAMAI (STUDI PUTUSAN NOMOR 147-K/PM.III-12/AD/X/2014).

Berkaitan dengan pelaksanaan putusan pengadilan yang memperoleh kekuatan hukum tetap (Inkracht Van Gewijsde) di lingkungan Pengadilan Militer adalah wewenang dari Oditur Militer, hal ini sesuai dengan tugas dan wewenang dalam Pasal 64 ayat (1) ke-b Undang-Undang RI Nomor 31 Tahun 1997 tentang Peradilan Militer yaitu melaksanakan penetapan Hakim atau putusan Pengadilan dalam lingkungan peradilan Militer atau pengadilan dalam lingkungan peradilan umum dalam hal perkara desersi yang diperiksa secara hadirnya Terdakwa telah diputus maka putusan Pengadilan Militer tersebut akan diumumkan kepada seluruh prajurit TNI, Kepala Dinas/Jawatan di wilayah hukum Pengadilan Militer bahwa nama terdakwa sebagaimana ada dalam surat lampiran pengumuman tersebut perkaranya telah diperiksa, diadili dan diputus oleh Pengadilan. Kemudian Pasal 220 ayat (4) Undang-Undang RI Nomor 31 Tahun 1997 tentang Peradilan Militer dalam tenggang waktu 7 (tujuh) hari sesudah putusan tersebut diumumkan tidak datang menghadap ke Kepaniteraan Pengadilan Militer tanpa diajukan permohonan banding, maka terdakwa tersebut dianggap menerima putusan Pengadilan Militer. Kemudian setelah itu Panitera membuat pengumuman atas putusan tersebut dengan cara ditempelkan pada papan pengumuman pengadilan dengan mencantumkan hak-hak terdakwa. Hak terdakwa atau Penasihat Hukumnya dapat mengajukan upaya hukum berupa banding.Kemudian pada saat pengumuman putusan Panitera membuat Berita Acara Penempelan pengumuman.
Baca lebih lanjut

81 Baca lebih lajut

ANALISIS PUTUSAN PAILIT PT DIRGANTARA INDONESIA (PERSERO) (STUDI KASUS PUTUSAN PENGADILAN NIAGA NOMOR 41/PAILIT/2007/PN.NIAGA/JKT.PST)

ANALISIS PUTUSAN PAILIT PT DIRGANTARA INDONESIA (PERSERO) (STUDI KASUS PUTUSAN PENGADILAN NIAGA NOMOR 41/PAILIT/2007/PN.NIAGA/JKT.PST)

Akibat hukum dari Putusan Pengadilan Niaga Nomor 41/Pailit/2007/PN.Niaga/ Jkt.Pst, yaitu PT Dirgantara Indonesia (Persero) dinyatakan Pailit dan tidak berwenang mengurus harta pailit. Harta pailit tersebut kemudian diurus dan dibereskan oleh Kurator perorangan dan diawasi oleh Hakim Pengawas yang telah ditunjuk dalam putusan pailit. Atas putusan pailit tersebut maka seluruh harta perusahaan PT Dirgantara Indonesia (Persero) berada dalam sita umum dan terhadap putusan tersebut telah pula dilakukan upaya hukum hukum kasasi ke Mahkamah Agung.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Analisis Permohonan Pailit Terhadap Perseroan Terbatas oleh Tenaga Kerja ( Studi Putusan Pengadilan Niaga Nomor. 01/Pailit/2012/PN.Niaga.Mdn Jo Putusan Kasasi Mahkamah Agung Nomor.401 K/Pdt.Sus/2012 Jo Putusan Peninjauan Kembali Mahkamah Agung Nomor.195 P

Analisis Permohonan Pailit Terhadap Perseroan Terbatas oleh Tenaga Kerja ( Studi Putusan Pengadilan Niaga Nomor. 01/Pailit/2012/PN.Niaga.Mdn Jo Putusan Kasasi Mahkamah Agung Nomor.401 K/Pdt.Sus/2012 Jo Putusan Peninjauan Kembali Mahkamah Agung Nomor.195 P

Putusan perkara Perselisihan Hubungan Industrial yang sudah inkrach van gewijsde dan eksekusinya diharapkan dapat menjamin kepastian hukum dan keadilan bagi para pihak khususnya tenaga kerja/buruh. Namun dalam prakteknya karena tidak adanya kepastian hukum berupa pelaksanaan putusan yang sudah inkrach van gewijsde tenaga kerja/buruh kemudian mengunakan lembaga kepailitan sebagai upaya untuk memperoleh pembayaran atas hak-hak normatifnya yang dikualifikasikan sebagai utang dalam arti luas. Permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini adalah 1. Apakah putusan pengadilan hubungan industrial yang telah berkekuatan hukum tetap yang menghukum pengusaha untuk membayar uang pesangon, penghargaan masa kerja, penggantian hak dan upah selama proses dapat dikategorikan sebagai utang?. 2. Apakah putusan pengadilan hubungan industrial yang telah berkekuatan hukum tetap namun tidak dapat dilaksanakan dapat diajukan sebagai dasar permohonan pailit?.3.Bagaimana pertimbangan Mahkamah Agung atas permohonan pailit oleh tenaga kerja terhadap perseroan terbatas yang diputus hubungan kerja (permohonan pailit PT. Indah Pontjant) dalam perkara nomor: 01/Pailit/2012/PN Niaga Mdn Jo Nomor: 401K/Pdt.Sus/2012 Jo Putusan Mahkamah Agung No. 03/PK/Pdt.Sus/2010 Jo Putusan Mahkamah Agung Pk No. 195 PK/Pdt.Sus/ 2012?.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

PELAKSANAAN PENGURUSAN DAN PEMBERESAN HARTA PAILIT OLEH KURATOR DALAM MENYELESAIKAN PERKARA KEPAILITAN. - Repositori Universitas Andalas

PELAKSANAAN PENGURUSAN DAN PEMBERESAN HARTA PAILIT OLEH KURATOR DALAM MENYELESAIKAN PERKARA KEPAILITAN. - Repositori Universitas Andalas

1. Pengertian dan Pengaturan Kurator ……………………………….41 2. Pengangkatan, Penggantian dan Pemberhentian Kurator ………....42 3. Syarat – Syarat Menjadi Kurator ………………………………….43 4. Tugas dan Wewenang Kurator …………………………………….44 5. Tanggung Jawab Kurator ………………………………………….46

6 Baca lebih lajut

PELAKSANAAN PENGURUSAN DAN PEMBERESAN HARTA PAILIT OLEH KURATOR DALAM MENYELESAIKAN PERKARA KEPAILITAN. - Repositori Universitas Andalas

PELAKSANAAN PENGURUSAN DAN PEMBERESAN HARTA PAILIT OLEH KURATOR DALAM MENYELESAIKAN PERKARA KEPAILITAN. - Repositori Universitas Andalas

1. Pengertian dan Pengaturan Kurator ……………………………….41 2. Pengangkatan, Penggantian dan Pemberhentian Kurator ………....42 3. Syarat – Syarat Menjadi Kurator ………………………………….43 4. Tugas dan Wewenang Kurator …………………………………….44 5. Tanggung Jawab Kurator ………………………………………….46

3 Baca lebih lajut

J U R N A L H U K U M A C A R A P E R D ATA

J U R N A L H U K U M A C A R A P E R D ATA

terlihat dari banyaknya kasus-kasus perburuhan pada perusahaan yang sedang mengalami pailit. Sebagai contoh Manufer beberapa karyawan (buruh/tenaga/pekerja) Perusahaan Great River ke Pengadilan Niaga merupakan salah satu usaha kesekian para karyawan setelah produksi pabrik perusahaan berhenti. Selain menunggak upah karyawan juga utang perusahaan kepada kreditor perusahaan meliputi Bank Mandiri, dan Bank Mega. Dalam hal ini, Perusahaan Great River bukan merupakan perusahaan pertama yang dimohonkan pailit oleh karyawannya, tetapi sebelumnya ada permohonan pailit yang diajukan oleh karyawan PT. Roxindo Mangun Apparel Industry dengan Putusan Nomor 49/PAILIT/2004/PN.NIAGA. JKT.PST). Pada sejumlah kasus dimana mayoritas karyawannya sering maju ke Pengadilan Niaga sebagai kesatuan menuntut hak mereka setelah perusahaan dinyatakan pailit. Nah, hal ini berbeda dengan kasus Perusahaan Great River tampaknya agak lain. Dalam hal ini, tidak semua karyawan menyetujui langkah yang diambil oleh beberapa karyawan saja. Sedangkan sebagian karyawan yang mengatasnamakan diri Solidaritas Karyawan perusahaan Great River justru mengscam langkah pailit yang diajukan oleh beberapa karyawan. Ketidaktahuan semua karyawan Perusahaan Great River bahwa salah satu aset Perusahaan Great River telah dilelangkan oleh salah satu Kreditor Perusahaan yakni Bank Mega berupa Pabrik di Cibinong dengan harga sekitar Rp. 47.000.000.000,- (empat puluh tujuh miliar rupiah). Aset Perusahaan Great River sudah lelang dan pemenangnya adalah PT. Samudera Biru tertanggal 31 Mei 2017 yang lalu. Bagitu juga pada kasus yang dialami oleh pekerja pada perusahaan Batavia Air yang telah dinyatakan pailit berdasarkan putusan pengadilan, namun hak pekerja berupa upah dan pesangon bukanlah merupakan prioritas utama. Hal ini terbukti dari intensitas unjuk rasa yang dilakukan oleh bekas pekerja terhadap pihak kurator atas tuntutan pembayaran sisa upah dan pesangon pekerja. Seringkali ketika perusahaan tersebut dinyatakan pailit mengalami masalah pembayaran upah dan pesangn dari pekerja yang tidak jelas dan bahkan pekerja/ buruh sangat sulit mendapatkan hak-hak sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku. Dalam pasal 95 ayat (4) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan akan memberikan angin segar bagi upah karyawan yang akan didahulukan pembayarannya apabila perusahaan mengalami pailit. Kompetensi Pengadilan Niaga dan kompetensi Pengadilan Hubungan Industrial berpotensi akan menimbulkan ketidakpastian hukum dan melanggar hak rasa adil bagi para karyawan yang membingungkan. Jika terjadi kepailitan suatu perusahaan akibat permohonan karyawan yang belum dibayar upahnya, maka dapat memunculkan pertanyaan.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

PELAKSANAAN PENGURUSAN DAN PEMBERESAN HARTA PAILIT OLEH KURATOR DALAM MENYELESAIKAN PERKARA KEPAILITAN.

PELAKSANAAN PENGURUSAN DAN PEMBERESAN HARTA PAILIT OLEH KURATOR DALAM MENYELESAIKAN PERKARA KEPAILITAN.

1. Pengertian dan Pengaturan Kurator ……………………………….41 2. Pengangkatan, Penggantian dan Pemberhentian Kurator ………....42 3. Syarat – Syarat Menjadi Kurator ………………………………….43 4. Tugas dan Wewenang Kurator …………………………………….44 5. Tanggung Jawab Kurator ………………………………………….46

8 Baca lebih lajut

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang - Kewenangan Debitur Pailit Untuk Mengajukan Gugatan Perbuatan Melawan Hukum Terhadap Krediturnya

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang - Kewenangan Debitur Pailit Untuk Mengajukan Gugatan Perbuatan Melawan Hukum Terhadap Krediturnya

Akibat hukum lain adalah bila sudah ada putusan pernyataan pailit, maka akan berakibat bahwa segala pelaksanaan pengadilan terhadap setiap bagian dari kekayaan debitur yang telah dimulai sebelum kepailitan, harus dihentikan seketika dan sejak itu tidak ada suatu putusan yang dapat dilaksanakan termasuk atau juga dengan menyandera debitur. Bahkan penyitaan yang telah dilakukan menjadi hapus dan jika diperlukan hakim pengawas harus memerintahkan pencoretannya dan debitur yang sedang dalam penahanan harus dilepaskan seketika setelah putusan pernyataan pailit diucapkan (Pasal 31 UUK dan PKPU). Adanya hak retensi yang diatur dalam Pasal 61 UUK dan PKPU yaitu hak kreditur untuk menahan barang-barang kepunyaan debitur hingga bayarnya suatu utang tidak kehilangan hak untuk menahan barang dengan diucapkannya pernyataan pailit. 1
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

PERLINDUNGAN HUKUM BAGI KURATOR TERHADAP PELAKSANAAN PENGURUSAN DAN PEMBERESAN HARTA PAILIT.

PERLINDUNGAN HUKUM BAGI KURATOR TERHADAP PELAKSANAAN PENGURUSAN DAN PEMBERESAN HARTA PAILIT.

Kurator menurut Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang pada Pasal 1 ayat (5) adalah: Balai harta peninggalan atau orang perseorangan yang diangkat oleh pengadilan untuk mengurus dan pemberesan harta debitor pailit dibawah perusahaan pengawasan hakim pengawas sesuai dengan undang-undang ini.

10 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Tinjauan Yuridis Tentang Penyelesaian Perkara Hutang Piutang Antara Bank Cimb Niaga Dengan PT. Exelindo Celullar Utama Studi Kasus di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

PENDAHULUAN Tinjauan Yuridis Tentang Penyelesaian Perkara Hutang Piutang Antara Bank Cimb Niaga Dengan PT. Exelindo Celullar Utama Studi Kasus di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Ketentuan pasal tersebut adalah bermaksud agar semua harta kekayaan tersebut dapat menjadi jaminan pelunasan hutang-hutang peseroan selaku debitur pailit. 7 Kepailitan adalah persoalan hukum lanjutan dari ketentuan hukum tentang jaminan utang- utang debitur sebagaimana diatur di dalam Pasal 1131 KUH Perdata dan Pasal 1132 KUH Perdata yang menetapkan bahwa semua harta kekayaan debitur menjadi jaminan secara bersama- sama atas utang- utangnya dan dari hasil penjualan harta kekayaan itu dibayarkan kepada kreditur menurut pertimbangan kecuali ada alasan untuk didahulukan. 8
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Makalah Tugas Akhir Semester 6 Penyelesa

Makalah Tugas Akhir Semester 6 Penyelesa

Dalam bentuk Pemutusan Hubungan Kerja di Indonesia maka termasuk dalam lingkup dari hukum acara perdata yang bersifat khusus dengan prosedur beracara terbagi atas penyelesaian melalui alternatif penyelesaian sengketa (APS) atau melalui jalur litigasi ke Pengadilan Negeri (PN), dimana ketentuannya tercantum dalam Undang-Undnag Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial. PHK yang dilakukan oleh perusahaan terhadap pekerjanya karena alasan-alasan tertentu diatur dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Sehingga dalam prkatek jika PHK yang dilakukan oleh perusahaan bertentangan dengan Undang-Undang Ketenagakerjaan, maka hal tersebut dapat dijadikan dasar bagi pekerja bersangkutan mengajukan gugatan ke lembaga penyelesaian perselisihan hubungan industrial. 6
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...