• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.3 Analisis Usaha Produksi Pala .1 Pendapatan Produksi Pala .1 Pendapatan Produksi Pala

5.3.2 Analisis Biaya Produksi

Pala Kulit (Rp/kg) Bunga (Rp/kg)

Min Max Rata-rata Min Max Rata-rata

Kinam 40.000 75.000 59.688 100.000 219.000 157.533

Kriawaswas 49.000 60.000 54.857 127.500 192.000 158.567

c. Pendapatan

Melihat produksi pada Tabel 16 serta harga pala rata-rata pada Tabel 18, maka dapat diperkirakan pendapatan yang diperoleh masyarakat pada kedua musim dengan penggunaan rata-rata harga jual dan produksi dari kedua musim dan asumsi penjualan adalah penjualan biji pada pala kulit. Pendapatan biji dan bunga pala masyarakat di Desa Kinam adalah Rp 26.830.000/ha dan Rp 4.165.000/ha, sedangkan pendapatan biji dan bunga pala masyarakat di Desa Kriawaswas adalah Rp 25.335.000/ha dan Rp 4.308.000/ha. Total pendapatan di Desa Kinam dan Kriawaswas adalah Rp 30.995.000/ha dan Rp 29.643.000/ha.

5.3.2 Analisis Biaya Produksi

a. Persiapan Lahan

Adat pembukaan lahan diperlukan sebelum dilakukan persiapan lahan. Adat pembukaan yang disebut dengan nama nahahara ini mengeluarkan biaya

sekitar Rp 100.000. Biaya ini meliputi untuk membeli kopi, sirih, dan pinang sebagai syarat sebelum dilakukan pembukaan lahan.

Biaya persiapan lahan dapat diliihat pada Tabel 23 yaitu di Desa Kinam mengeluarkan biaya sekitar Rp 2.046.000/ha sedangkan di Desa Kriawaswas mengeluarkan biaya sekitar Rp 6.333.000/ha. Biaya persiapan di Desa Kriawaswas lebih besar karena masyarakat harus mengeluarkan kas gereja dan untuk upah tenaga kerja mereka biasanya menggunakan upah borongan sedangkan masyarakat Desa Kinam menggunakan upah harian saja dan jumlah tenaga kerjanya pun bergantung dari luas lahan mereka.

b. Pembibitan

Sekitar 97,14% masyarakat dari Desa Kinam dan Desa Kriawaswas mendapatkan bibit dari kebun mereka sendiri atau dari saudara mereka, sehingga tidak memerlukan biaya dalam pembibitan tapi perawatan saja. Sedangkan sisanya yaitu 2,86% mendapatkan bibit pala dengan cara membeli seharga Rp 250.000 atau sekitar 500 biji dari masyarakat yang memperjualbelikan biji pala.

c. Penanaman

Biaya penanaman dapat dilihat pada Tabel 23 yaitu di Desa Kinam mengeluarkan biaya rata-rata Rp 871.000/ha sedangkan di Desa Kriawaswas adalah Rp 2.000.000/ha. Biaya penanaman di Desa Kriawaswas lebih tinggi dikarenakan upah yang dikeluarkan adalah upah borongan dihitung per hektar. Berbeda dengan Desa Kinam yang hanya meliputi biaya makan untuk pekerjanya.

d. Pemeliharaan

Biaya pemeliharaan dapat dilihat pada Tabel 23 yaitu di Desa Kinam mengeluarkan biaya sekitar Rp 2.509.000/ha sedangkan di Desa Kriawaswas adalah Rp 511.000/ha. Biaya dalam pemeliharaan di Desa Kriawaswas lebih kecil dikarenakan jarak dari kebun ke rumah mereka cukup dekat sehingga dalam melakukan pemeliharaan mereka dapat mengerjakan sendiri. Sedangkan untuk Desa Kinam, mereka lebih banyak membutuhkan bantuan orang dikarenakan jarak yang jauh dari kebun mereka dan membuat biaya pemeliharaan lebih besar.

e. Pemanenan

Biaya pengusahaan pala paling besar adalah biaya pemanenan yang meliputi upah tenaga kerja dan transportasi angkut untuk panen. Biaya pemanenan dapat dilihat pada Tabel 23 yaitu di Desa Kinam adalah sebesar Rp 8.199.000/ha sedangkan di Desa Kriawaswas adalah sebesar Rp 6.989.000/ha. Biaya panen di Desa Kriawaswas lebih kecil dibanding Desa Kinam disebabkan masyarakat Desa Kriawaswas tidak mengeluarkan transportasi angkut dalam kegiatan panen. Sebagian masyarakat di Desa Kinam memerlukan transportasi angkut dalam kegiatan panen karena jarak dari rumah ke kebun yang jauh.

f. Pemasaran

Biaya pemasaran dapat yang dikeluarkan adalah biaya transportasi. Biaya pemasaran dapat dilihat pada Tabel 23 yaitu di Desa Kinam adalah Rp 576.000 sedangkan biaya pemasaran di Desa Kriawaswas adalah Rp 1.200.000. Biaya pemasaran di Desa Kriawaswas lebih besar disebabkan masyarakat desa tersebut menjual pala dengan jalur darat yaitu menyewa mobil. Sedangkan hampir semua masyarakat Desa Kinam menjual pala menggunakan jalur laut yaitu dengan perahu motor dan ketinting. Penggunaan perahu ini cenderung lebih murah disebabkan pengeluaran biaya hanya pada bahan bakar bensin.

Cara pemasaran pala yang dilakukan oleh masyarakat adalah dengan mendatangi langsung pengumpul pala. Masyarakat di Desa Kinam biasanya menjual pala mereka di dua tempat yaitu di Desa Kokas dan di Kota Fakfak sedangkan masyarakat di Desa Kriawaswas menjual pala di Kota Fakfak saja karena areal tempat tinggal mereka yang tidak melewati laut, sehingga lebih memudahkan mereka untuk ke kota dibanding ke Desa Kokas.

g. Investasi Bangunan, Peralatan, dan Kendaraan

Bangunan rumah kebun yang terlihat pada Gambar 6, dibangun masyarakat sebagai tempat peristirahatan. Padahal tidak semua masyarakat membangun rumah kebun. Hal ini dilihat dari data yang diperoleh bahwa 20% masyarakat Desa Kinam dan 26,67% masyarakat Desa Kriawaswas yang membangun rumah kebun. Besarnya biaya bangunan rumah kebun diketahui

dari hasil wawancara responden, Biaya dalam pembangunan rumah kebun ini meliputi upah tenaga kerja dan bahan bakar untuk pembuatan rumah kebun bagi masyarakat yang menggunakan chainsaw.

Biaya maksimal dalam pembangunan rumah kebun adalah senilai Rp 2.100.000/ha dan biaya minimal dalam pembuatan rumah kebun adalah sebesar Rp 505.000/ha. Besarnya rata-rata biaya dalam pembangunan rumah kebun untuk Desa Kinam adalah Rp 1.500.000/ha sedangkan untuk Desa Kriawaswas adalah Rp 584.000/ha yang dapat dilihat pada Tabel 21 dan Tabel 22. Biaya pembuatan rumah kebun untuk Desa Kriawaswas lebih rendah karena masyarakat Desa Kriawaswas dalam membuat rumah kebun menggunakan chainsaw untuk memotong kayu dan membuat rumah kebun sehingga biaya pembuatan rumah kebun meliputi bahan bakar chainsaw dan sedikit tenaga kerja. Sedangkan untuk Desa Kinam membutuhkan lebih banyak tenaga kerja atau lebih banyak hari kerja yang dibutuhkan sehingga membuat biaya semakin tinggi.

Peralatan merupakan biaya investasi karena biaya ini dikeluarkan satu kali selama umur proyek. Biaya peralatan dalam pengembangan usaha pala meliputi parang, kampak, linggis, pacul, cangkul, dan chainsaw yang terlihat pada Gambar 7.

Tabel 19 Peralatan pengembangan usaha pala di Desa Kinam

No Komponen Jumlah (buah) Harga (Rp/buah) Biaya Investasi Alat (Rp)

1 Parang 2 82.750 165.500 2 Kampak 1 93.684 93.684 3 Pacul 1 78.333 78.333 4 Linggis 2 117.778 235.556 5 Cangkul 1 59.000 59.000 6 Chainsaw 1 13.000.000 13.000.000 7 Batu Asah 1 25.000 25.000 Total 9 13.456.545 13.657.073

Tabel 20 Peralatan pengembangan usaha pala di Desa Kriawaswas

No Komponen Jumlah (buah) Harga (Rp/buah) Biaya Investasi Alat (Rp)

1 Parang 4 93.667 374.667 2 Kampak 2 114.667 229.333 3 Pacul 2 37.500 75.000 4 Linggis 1 80.000 80.000 5 Chainsaw 1 13.000.000 13.000.000 6 Batu Asah 2 25.000 50.000 Total 12 13.350.833 13.809.000

Biaya investasi alat di Desa Kinam adalah Rp 13.657.000 dan di Desa Kriawaswas adalah 13.809.000. Biaya terbesar adalah chainsaw karena biaya

chainsaw meliputi 94-95% dari biaya total investasi alat. Padahal hanya

26,67% masyarakat Desa Kriawaswas yang memiliki chainsaw dalam mengolah kebun mereka, dan di Desa Kinam hanya 5% yang menggunakan

chainsaw. Penggunaan chainsaw ini pada dasarnya memudahkan bagi si

pemilik dan untuk beberapa kegiatan produksi dapat meminimalkan biaya, seperti pada kegiatan persiapan lahan, pemeliharaan, dan pembuatan rumah kebun.

Biaya kendaraan dalam pengusahaan pala tidak begitu besar karena hanya 17,14% saja masyarakat yang memiliki kendaraan. Besarnya pengaruh kendaraan dalam pengusahaan pala hanya sekitar 2-45%. Biaya perawatan kendaraan di Desa Kinam sekitar Rp 840.000/th dan di Desa Kriawaswas sekitar Rp 1.000.000/th. Besarnya biaya kendaraan ini juga dipengaruhi penggunaan motor itu sendiri. Besarnya biaya investasi bangunan, kendaraan, dan juga peralatan ini digunakan untuk menghitung analisis kelayakan finansial.

Gambar 6 Bangunan rumah kebun di Desa Kinam.

Gambar 7 Peralatan dalam berkebun.

h. Biaya penyusutan investasi peralatan dan kendaraan

Penyusutan adalah penurunan nilai aset yang digunakan dalam proses produksi. Penurunan nilai tersebut dapat berupa penurunan terhadap nilai pasarnya maupun penurunan nilai bagi pemiliknya. Penyebab turunnya nilai asset tersebut dapat bermacam-macam, seperti keausan aset atau aset tersebut telah ketinggalan jaman (Nugroho 2010). Penyusutan alat ini dihitung tiap tahun dan besarnya biaya penyusutan dapat dilihat pada Tabel 21 dan Tabel 22. Biaya penyusutan rata-rata dapat dilihat pada Tabel 23 yaitu di Desa Kinam adalah sebesar Rp 395.000/tahun sedangkan di Desa Kriawaswas adalah sebesar Rp 927.000/tahun. Tingginya biaya penyusutan alat di Desa Kriawaswas salah satunya dipengaruhi dari banyaknya penggunaan chainsaw oleh masyarakat Desa Kriawaswas khususnya.

Tabel 21 dan Tabel 22 adalah penyusutan dari rata-rata jumlah investasi peralatan yang lengkap sedangkan uraian penyusutan pada Tabel 23 adalah penyusutan rata-rata investasi alat responden dari peralatan yang dimiliki masing-masing responden. Berdasarkan hasil wawancara responden, tidak semua responden memiliki barang investasi seperti pada Tabel 21 dan Tabel 22 sehingga nilai pada kedua tabel ini jauh lebih kecil dibanding nilai penyusutan pada uraian Tabel 23.

Tabel 21 Penyusutan pengembangan usaha pala di Desa Kinam

No Komponen Jumlah (buah) Harga (Rp/buah) Total Biaya (Rp) Umur pakai (tahun) Penyusutan (Rp/tahun) 1 Bangunan 1 1.500,000 1.500.000 5 300.000 2 Parang 2 82.750 165.500 4 41.375 3 Kampak 1 93.684 93.684 5 18.737 4 Pacul 1 78.333 78.333 3 26.111 5 Linggis 2 117.778 235.556 6 39.259 6 Cangkul 1 59.000 59.000 3 19.667 7 Chainsaw 1 13.000.000 13.000.000 5 2.600.000 8 Batu Asah 1 25.000 25.000 1 25.000 9 Kendaraan 1 840.000 840.000 10 84.000 Total 11 15.796.545 15.997.073 3.154.149

Tabel 22 Penyusutan pengembangan usaha pala di Desa Kriawaswas No Komponen Jumlah (buah) Harga (Rp/buah) Total Biaya (Rp) Umur pakai (tahun) Penyusutan (Rp/tahun) 1 Bangunan 1 583.750 583.750 5 116.750 2 Parang 4 93.667 374.667 4 93.667 3 Kampak 2 114.667 229.333 5 45.867 4 Pacul 2 37.500 75.000 3 25.000 5 Linggis 1 80.000 80.000 6 13.333 6 Chainsaw 1 13.000.000 13.000.000 5 2.600.000 7 Batu Asah 2 25.000 50.000 1 50.000 8 Kendaraan 1 1.000.000 1.000.000 1 1.000.000 Total 14 14.934.583 15.392.750 3.944.617

Tabel 23 Analisis laba rugi pengusahaan pala

No Uraian komponen

Desa Rata-rata

(Rp/ha/th)

Kinam Kriawaswas

I Pendapatan

Produksi biji (kg/ha) 450 462 456

Produksi bunga (kg/ha) 26 27 27

Harga pala kulit (Rp/kg) 59.688 54.857 57.272

Harga bunga (Rp/kg) 157.533 158.567 158.050

Pendapatan biji (Rp/ha) 26.829.576 25.334.857 26.082.216

Pendapatan bunga (Rp/ha) 4.165.374 4.307.728 4.236.551

Total Pendapatan 30.994.949 29.642.585 30.318.767 II Biaya Produksi A. Persiapan Lahan 2.146.061 6.433.333 4.289.697 B. Pembibitan 250.000 0 250.000 C. Penanaman 871.111 2.000.000 1.435.556 D. Pemeliharaan 2.509.328 511.333 1.510.331 E. Pemanenan 8.198.983 6.989.333 7.594.158 F. Pemasaran 576.000 1.200.000 888.000 G. Penyusutan 395.383 927.044 661.214 Total Pengeluaran 14.946.866 18.061.044 16.628.955 III Keuntungan 13.689.812 5.4 Analisis Finansial

Dokumen terkait