• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Analisis Deskriptif .1 Deskriptif Responden

5.1.2 Analisis Deskriptif Variabel

Analisis deskriptif variabel bertujuan untuk mengetahui bagaimana tingkat modal sosial, kepercayaan dan OCB yang dipresentasikan oleh pegawai dari PDAM Tirta Kahuripan Kabupaten Bogor yang diperoleh dengan cara mencari Nilai Skor Rataan atau rata-rata tertimbang dari ketiga variabel tersebut.

Nilai Skor Rataan bisa didapatkan dengan mengalikan antara bobot nilai jawaban berdasarkan skala dengan jumlah responden, kemudian dibagi dengan jumlah respondennya. Dengan menggunakan cara di atas, Nilai Skor Rataan dari modal sosial, kepercayaan dan OCB bisa dilihat pada Tabel 10.

Tabel 10 Nilai Skor Rataan dari Modal Sosial, Kepercayaan dan OCB.

VARIABEL JUMLAH

RESPONDEN (N) NILAI SKOR RATAAN

MODAL SOSIAL a. STRUKTURAL b. RELASIONAL c. KOGNITIF 214 214 214 3.62 3.37 3.75 KEPERCAYAAN a. HARMONY b. RELIABILITY c. CONCERN 214 214 214 3.32 3.18 3.37 OCB a. ALTRUISM b. CONSCIENTIOUSNESS c. SPORTSMANSHIP d. CIVIC VIRTUE e. COURTESY 214 214 214 214 214 3.40 3.64 3.56 3.33 3.54

Setelah Nilai Skor Rataan dari ketiga variabel diperoleh, langkah selanjutnya adalah menentukan rentang skala. Karena dalam penelitian ini menggunakan skala likert 1 – 5 maka rentang skala dihitung dengan cara:

RS = (5 – 1) = 0.8 5

Nilai Rentang Skala yang diperoleh akan digunakan untuk membuat selang tingkatan dari modal sosial, kepercayaan dan OCB dengan selang 0.8 pada

setiap selang tingkatannya. Kemudian selanjutnya bisa ditentukan posisi keputusan penilaian pegawai terhadap tingkat modal sosial, kepercayaan dan OCB yang ada di PDAM Tirta Kahuripan Kabupaten Bogor yang disajikan pada Tabel 11.

Tabel 11 Posisi Keputusan Penilaian Pegawai Terhadap Tingkat Modal Sosial, Kepercayaandan OCB.

SKOR RATAAN Keterangan untuk MODAL SOSIAL Keterangan untuk KEPERCAYAA N Keterangan untuk OCB 1.00 – 1.80 1.81 – 2.60 2.61 – 3.40 3.41 – 4.20 4.21 – 5.00 Sangat Lemah Lemah Netral Kuat Sangat Kuat Sangat Rendah Rendah Netral Tinggi Sangat Tinggi Sangat Rendah Rendah Netral Tinggi Sangat Tinggi Selanjutnya dalam menentukan penilaian pegawai mengenai pernyataan-pernyataan yang berhubungan dengan modal sosial, kepercayaan dan OCB dilakukan dengan menggunakan Skor Rataan dari Tabel 11 sebagai tolak ukur. Nilai skor rataan yang telah didapatkan dari ketiga variabel akan dibandingkan dengan nilai skor rataan dengan selang 0.8 tersebut. Dari hasil pembandingan tersebut akan didapatkan bagaimana kesimpulan penilaian pegawai terhadap tingkat modal sosial, kepercayaan dan OCB di PDAM Tirta Kahuripan Kabupaten Bogor yang disajikan pada Tabel 12.

Tabel 12 Penilaian Pegawai Terhadap Modal Sosial

INDIKATOR MODAL SOSIAL NILAI SKOR RATAAN KETERANGAN

a. STRUKTURAL b. RELASIONAL c. KOGNITIF 3.62 3.37 3.75 Kuat Netral Kuat Dari Tabel 12 diketahui bahwa dua dari ketiga indikator modal sosial yaitu struktural, dan kognitif mendapatkan hasil penilaian yang „Kuat‟ dari para pegawai yaitu dengan nilai skor rataan secara berurutan adalah : 3.62 dan 3.75. Hal ini menunjukkan bahwa para pegawai di PDAM Tirta Kahuripan Kabupaten

Bogor merasakan adanya hubungan yang baik terjalin di antara sesama pegawai secara formal maupun informal. Jabatan struktural bukan merupakan faktor penghalang untuk mereka saling berinteraksi satu sama lain. Hal tersebut terlihat dimana setiap harinya semua pegawai akan sering berkumpul di lobby maupun di kantin terutama pada jam-jam istirahat untuk saling ngobrol dan membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan secara santai. Tidak jarang orang-orang yang berada di jabatan struktural ada di antara mereka. Hubungan yang harmonis tersebut akan mampu membuat para pegawai memiliki keterikatan yang kuat dengan perusahaan, sehingga mereka akan dengan suka rela mematuhi peraturan yang berlaku dan berkinerja lebih baik. Sedangkan untuk indikator relasional menunjukkan nilai skor rataan sebesar 3.37 yang artinya bahwa penilaian dari para pegawai secara keseluruhan terhadap modal sosial relasional yang berkaitan dengan jenis hubungan personal yang dikembangkan satu dengan yang lain seperti hubungan pertemanan (friendship), saling menghormati (respect), rasa percaya-mempercayai, norma dan sanksi, dan juga identitas bersama yang masih dalam tingkat netral. Hal ini sangat dimungkinkan terjadi karena walaupun para pegawai memiliki kedekatan hubungan dalam bekerja, tetapi tidak secara personal di luar masalah pekerjaan.

Sedangkan untuk konstruk kepercayaan, penilaian dari para pegawai PDAM Tirta Kahuripan Kabupaten Bogor terhadap ketiga indikatornya yaitu harmony, reliability dan concern masih berada pada tingkatan netral bisa dilihat pada Tabel 13. Dimana masing-masing nilainya secara berurutan adalah 3.32, 3.18 dan 3.37. Adanya rasa kepercayaan dari para pegawai terhadap perusahaan tempat mereka bekerja salah satunya dilatar belakangi adanya rasa puas dengan apa yang telah mereka alami dan meraka terima selama bekerja di perusahaan tersebut. Jenis pekerjaan yang ada di PDAM Tirta Kahuripan Kabupaten Bogor yang sebagian besar adalah jenis pekerjaan teknis yang memaksa pegawainya lebih sering berada di luar kantor, menyebabkan para pegawai memiliki waktu yang sedikit untuk saling berinteraksi dengan rekan kerjanya di luar divisi dan merasakan fasilitas-fasilitas kerja yang tersedia di kantor, membuat kurang tersebarnya informasi perusahaan kepada seluruh lapisan pegawai diindikasikan menjadi salah satu faktor yang membuat penilaian subyektif pegawai terhadap

kebijakan-kebijakan perusahaan yang berbeda bahkan cenderung kurang sesuai dengan harapan sehingga menumbuhkan rasa percaya pegawai yang netral. Tabel 13 Penilaian Pegawai Terhadap Kepercayaan

INDIKATOR KEPERCAYAAN NILAI SKOR RATAAN KETERANGAN

a. HARMONY b. RELIABILITY c. CONCERN 3.32 3.18 3.37 Netral Netral Netral Penilaian pegawai terhadap pelaksanaan OCB di PDAM Tirta Kahuripan Kabupaten Bogor dengan kelima indikatornya menunjukkan tiga indikator berada pada tingkatan kuat yaitu conscientiousness, spaortmanship, dan courtesy yang masing-masing nilai secara berurutan 3.64, 3.56, dan 3.54 bisa dilihat pada Tabel 14. Sedangkan dua indikator lainnya yaitu altruism dan civic virtue berada pada tingkat penilaian netral dengan masing-masing nilainya 3.40 dan 3.33. Hal tersebut menunjukkan bahwa para pegawai memiliki rasa empati dan tanggung jawab yang baik terhadap perusahaan sehingga mereka tidak akan segan-segan memberikan kinerja yang melebihi apa yang menjadi tanggung jawab formal dari pekerjaannya. Terbukti dengan kesediaan dari para pegawai untuk datang tepat waktu dan tidak menghabiskan waktu untuk melakukan hal-hal yang tidak berkaitan dengan pekerjaan sangat membantu dalam penyelesaian pekerjaan-pekerjaan yang selalu menumpuk pada setiap divisi. Kondisi tersebut pun ternyata tidak membuat para pegawai mengeluhkan beban pekerjaannya yang menumpuk dan berusaha tetap menyelesaikannya sesuai dengan ketentuan. Akan tetapi, dengan kondisi sekarang, dimana banyak dari para pegawai yang sedang melanjutkan pendidikan ataupun mengikuti pelatihan-pelatihan sehingga tidak bisa hadir secara penuh di kantor, membuat beban pekerjaan semakin menumpuk dan bertambah untuk setiap pegawai yang berada di kantor. Kondisi tersebut membuat para pegawai yang berada di kantor terkadang tidak mampu untuk harus mengambil alih semua pekerjaan yang ada, selain itu kesibukan yang bertambah membuat para pegawai hanya berkutat dengan pekerjaan dan tidak jarang mereka kurang memperhatikan informasi-informasi yang sedang berkembang tentang perusahaan mereka. Disinilah kemuadian peran dari Kepala Divisi sebagi penghubung antara para pegawai dengan perusahaan berperan penting untuk tetap

menjaga agar informasi apapun diharapkan tetap tersampaikan kepada pegawai, agar pegawai tidak merasa hanya sebagai “bawahan” tetapi juga sebagai bagian dari perusahaan tempat mereka bekerja.

Tabel 14 Penilaian Pegawai Terhadap OCB

INDIKATOR OCB NILAI SKOR

RATAAN KETERANGAN a. ALTRUISM b. CONSCIENTIOUSNESS c. SPORTSMANSHIP d. CIVIC VIRTUE a. COURTESY 3.40 3.64 3.56 3.33 3.54 Netral Kuat Kuat Netral Kuat 5.1.3. Analisis ANOVA

Untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan berdasarkan faktor demografi terhadap tingkat palaksanaan modal sosial, kepercayaan dan OCB di PDAM Tirta Kahurupan Kabupaten Bogor dalam penelitian ini digunakan Uji F (One Way Anova). Data demografi populasi yang digunakan dalam pengujian ini dikelompokkan berdasarkan lama bekerja, usia, jenis kelamin, divisi dan tingkat pendidikan. Masing-masing dari kelima faktor demografi tersebut akan dilihat bagaimana pengaruhnya terhadap tingkat pelaksanaan modal sosial, kepercayaan dan OCB. Hasil uji ANOVA dari kelima faktor demografi terhadap ketiga konstruk yang diteliti ditampilkan pada Tabel 15.

Berdasarkan uji Anova, di PDAM Tirta Kahuripan Kabupaten Bogor variabel lama bekerja tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap ketiga konstruk yang diteliti yaitu modal sosial, kepercayaan dan OCB. Hal ini dapat dilihat dari nilai probabilitas (signifikan) dari ketiga variabel > 0.05. Maka dapat disimpulkan bahwa lama bekerja tidak memberikan perbedaan rata-rata yang signifikan terhadap pelaksanaan modal sosial, kepercayaan dan OCB di perusahaan.

Tabel 15 Hasil Uji ANOVA dari Faktor Demografi.

FAKTOR DEMOGRAFI

KELOMPOK UJI ANOVA

MODSOS KEPERCAYAAN OCB

LAMA BEKERJA 0 – 1 >1 – 5 >5 – 10 >10 – 15 >15 – 20 >20 – 25 >25 – 30 >30 – 35 1.077 0.714 1.151 Signifikan ( < 0,05) 0.379 0.660 0.333 USIA 20 – 25 26 – 30 31 – 35 36 – 40 41 – 45 46 – 50 51 – 55 56 – 60 0.257 1.698 1.717 Signifikan ( < 0,05) 0.969 0.111 0.107 JENIS KELAMIN WANITA LAKI-LAKI 0.002 2.906 2.436 Signifikan ( < 0,05) 0.969 0.090 0.120 DIVISI KERJA PERAWATAN PRC.TEHNIK HUMAS ADM. UMUM KEPEGAWAIAN KEUANGAN SPI SATPAM SEKRETARIAT LITBANG & EDP PRODUKSI TRANS & DISTR

1.706 2.094 2.308 Signifikan ( < 0,05) 0.074 0,022* 0.011* TINGKAT PENDIDIKAN SMU DIPLOMA SARJANA MAGISTER 2.059 1.748 3.027 Signifikan ( < 0,05) 0.107 0.158 0.030*

Ket: * = nilai Signifikan dibawah 0.05 yang berarti terdapat perbedaan yang signifikan.

Variabel modal sosial tidak dipengaruhi oleh lama bekerja karena modal sosial yang melekat pada masing-masing individu pegawai bukanlah tergantung dari lama atau tidaknya seseorang telah bekerja di suatu perusahaan. Melainkan bagaimana seseorang tersebut mampu beradapatasi dan berinteraksi dengan lingkungan kerjanya sehingga mampu menciptakan hubungan yang harmonis

dengan sekitarnya. Dari hal tersebut bisa dikatakan bahwa belum tentu orang yang sudah lama bekerja di perusahaan pasti memiliki modal sosial yang kuat dan demikian juga sebaliknya apabila orang yang baru saja masuk dalam suatu perusahaan akan mustahil memiliki modal sosial yang kuat. Begitu juga dengan kepercayaan yang tidak dipengaruhi oleh lama bekerja. Hal ini dikarenakan lamanya seseorang telah bekerja di suatu perusahaan bukanlah sesuatu yang bisa menjamin orang tersebut memiliki kepercayaan terhadap perusahaan tempat dia bekerja ataupun terhadap sesama rekan kerjanya. Atau bisa dikatakan orang yang lebih lama bekerja di suatu perusahaan belum tentu memiliki rasa percaya yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang baru saja bekerja di perusahaan tersebut. Dan lama bekerja ternyata juga tidak memberikan pengaruh terhadap OCB. Belum tentu orang yang telah lama bekerja di perusahaan akan bersedia berkinerja melebihi apa yang menjadi tugas formalnya dibandingkan orang baru. Mungkin saja orang-orang baru akan memiliki semangat kerja yang melebihi pegawai yang telah lama bekerja di perusahaan dan mulai jenuh dengan segala rutinitasnya, sehingga orang-orang baru tersebut memiliki OCB yang lebih kuat daripada pegawai lama.

Pada uji ANOVA yang telah dilakukan, di PDAM Tirta Khuripan Kabupaten Bogor usia juga memberikan nilai yang tidak signifikan pada ketiga variabel yang diteliti yaitu modal sosial, kepercayaan dan OCB, dimana ketiganya menunjukkan nilai signifikansi > 0.05. Pada variabel modal sosial menunjukkan nilai signifikansi 0.969 > 0.05 yang berarti bahwa usia tidak berpengaruh terhadap modal sosial. Seseorang dengan usia lebih tua belum tentu memiliki modal sosial yang lebih kuat dibandingkan dengan pegawai yang muda. Kemungkinan untuk seseorang memiliki modal sosial yang kuat adalah sama di setiap tingkatan umur. Demikian halnya yang terjadi dengan variabel kepercayaan yang memiliki nilai signifikansi 0.111 > 0.05. Hal tersebut berarti bahwa usia tidak memberikan perbedaan yang signifikan terhadap kepercayaan. Tinggi-rendahnya kepercayaan yang dimiliki seorang pegawai bukanlah ditentukan oleh usia dari pegawai tersebut, atau bisa dikatakan semakin muda atau semakin tua usia seseorang tidak mempengaruhi tingkatan kepercayaan yang dimilikinya. Variabel OCB juga menunjukkan nilai signifikansi 0.107 > 0.05 yang tentu saja juga memiliki arti

yang sama yaitu usia tidak berpengaruh terhadap OCB seseorang. Seseorang dengan tingkatan umur yang lebih muda belum tentu menunjukkan OCB yang kuat bila dibandingkan dengan pegawai yang lebih tua dan demikian juga sebaliknya. Jadi berapapun tingkatan umur yang dari seorang pegawai tidak akan menjamin bagaimana tingkatan OCB yang dimilikinya.

Jenis kelamin pada uji ANOVA untuk ketiga konstruk baik modal sosial, kepercayaan dan OCB yang ada di PDAM Tirta Kahuripan Kabupaten Bogor menunjukkan hasil yang tidak signifikan. Terhadap konstruk modal sosial, jenis kelamin menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0.969 > 0.05 yang berarti bahwa jenis kelamin tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap modal sosial. Walaupun memiliki perbedaan fisik yang mencolok, tetapi ternyata pegawai laki-laki dan pegawai wanita di perusahaan tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan terhadap modal sosial. Demikian halnya dengan konstruk kepercayaan, dimana jenis kelamin menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0.090 > 0.05, yang berarti bahwa jenis kelamin tidak memberikan pengaruh yang berbeda terhadap tingkat kepercayaan yang dimiliki pegawai. Sedangkan untuk konstruk OCB, jenis kelamin juga tidak menunjukkan pengaruh yang berbeda terhadap pelaksanaan OCB oleh setiap individu pegawai. Hal tersebut ditunjukkan dengan nilai signifikansi 0.120 > 0.05. Jadi kesediaan individu pegawai untuk melakukan OCB tidak berhubungan dengan jenis kelamin baik laki-laki maupun perempuan.

Dari hasil pengujian ANOVA menunjukkan bahwa di PDAM Tirta kahuripan kabupaten Bogor, divisi kerja memberikan pengaruh yang signifikan pada dua konstruk yang diteliti yaitu pada konstruk kepercayaan dan OCB. Hal tersebut ditunjukkan dengan nilai signifikansi sebesar 0.022 < 0.05 untuk kepercayaan, dan 0.011 < 0.05 untuk OCB. Adanya perbedaan iklim kerja pada masing-masing divisi kerja sangat memungkinkan tumbuhnya tingkat kepercayaan yang berbeda-beda pada setiap divisi. Apabila suatu divisi memiliki iklim kerja yang kondusif dimana rasa kebersamaan terasa sangat kental akan mencerminkan kondisi perusahaan yang dinamis sehingga pegawai akan lebih memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap perusahaan dan sesama rekan kerjanya dibandingkan dengan divisi dengan iklim kerja yang tidak kondusif. Pada akhirnya hal tersebut juga akan mempengaruhi kecenderungan pegawai

untuk melakukan OCB. Berbeda halnya dengan yang terjadi pada variabel modal sosial, yang memberikan nilai signifikansi 0.074 > 0.05. Jadi dikatakan bahwa divisi kerja tidak memberikan pengaruh terhadap konstruk modal sosial. Dimanapun dan bagaimanapun kondisi dari divisi seorang pegawai bekerja tidak mempengaruhi tingkat modal sosial yang melekat padanya. Bisa saja pegawai dari divisi yang sama tetapi memiliki tingkat modal sosial yang berbeda.

Tingkat pendidikan pegawai yang ada di PDAM Tirta Kahuripan Kabupaten Bogor berdasarkan Uji ANOVA memberikan pengaruh yang signifikan hanya terhadap konstruk OCB yang ditunjukkan dengan nilai signifikansi 0.030 < 0.05. Hal tersebut berarti, dengan tingkat pendidikan yang berbeda sangat mungkin mempengaruhi kesediaan individu pegawai untuk menunjukkan OCB dalam bekerja. Sedangkan untuk dua kontruk lainnya, yaitu modal sosial dan kepercayaan memberikan hasil yang tidak jauh berbeda. Keduanya memiliki nilai signifikansi > 0.05, yaitu secara beurutan 0.107 dan 0.158. Yang artinya bahwa tingkat pendidikan dari seorang pegawai tidak memberikan pengaruh terhadap modal sosial dan tingkat kepercayaan yang dimilikinya. Semakin tinggi tingkat pendidikan seorang pegawai bukanlah jaminan pegawai tersebut memiliki modal sosial dan tingkat kepercayaan yang tinggi di perusahaan.

5.2 Analisis Model Pengukuran Menggunakan 2nd CFA