• Tidak ada hasil yang ditemukan

5. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.2. Analisis Keberlanjutan Perikanan

5.2.2. Analisis Ecological Footprint Perikanan

Kehidupan manusia dan semua kegiatan manusia bergantung pada alam. Implikasi dari hal ini pepatah ekologis menjelaskan bahwa menjadi manusia yang berkelanjutan harus hidup dalam kapasitas daya dukung alam (Wackernagel et al.

1999). Daya dukung akan sangat ditentukan oleh batasan-batasan kawasan yang akan dianalisa misalnya dengan melihat luasan wilayah, kondisi biogeofisik wilayah, serta kebutuhan manusia terhadap sumberdaya untuk memenuhi

0.000 0.001 0.001 0.002 0.002 2007 2008 2009 2010 E F (km 2 /ka p it a Tahun

kebutuhannya. Untuk analisis daya dukung perikanan suatu kawasan dapat diketahui dengan melihat seberapa besar konsumsi perikanan dengan luasan lahan atau kawasan tersedia sehingga keberlanjutan ekosistem perikanan itu tetap lestari. Swartz (2010) mengemukakan bahwa dampak global penangkapan ikan pada suatu sistem ekosistem yang meliputi spesies di seluruh rantai makanan dari herbivora sampai ke pemangsa atas tidak dapat sepenuhnya dinilai oleh studi satu jenis spesies ikan saja.

Gambar 11. Ecological footprint perikanan Desa Olele

Selanjutnya Swartz (2010) menjelaskan bahwa cara yang lebih tepat dalam mengukur ekspansi dan batasan perikanan adalah dengan melihat kebutuhan produktifitas primer (PPR) dari berbagai jenis ikan untuk melihat daya dukung (ecological footprint analysis/EFA) perikanan. Seperti yang didefinisikan oleh Pauly dan Cristensen (1995) bahwa PPR memungkinkan untuk melihat perbandingan langsung dari produktifitas primer yang dibutuhkan berdasarakan

trophic level (TL) dalam menghasilkan tangkapan kelompok spesies tertentu dan dalam satu periode waktu tertentu minimal satu tahun. Wackernegel (1996) menjelaskan bahwa indokator ecological footprint disebut juga indikator ecospace

didefinisikan untuk menjawab seberapa besar area produktif dari daratan perairan sebagai sumberdaya bagi keberlanjutan hidup manusia secara langsung untuk standar kehidupan dan dengan teknologi. Dong-dong (2010) berpendapat bahwa

57

luas lahan yang dibutuhkan untuk dimanfaatkan oleh suatu populasi sangat bergantung pada sistem produksi ekologis dan pola konsumsi sumberdaya.

Berdasarkan hasil perhitungan untuk ecological footprint (EF) di Desa Olele yang ditampilkan pada Gambar 11, menunjukkan bahwa EF di Desa Olele dalam empat tahun terakhir setalah pembentukan KKLD Olele memiliki nilai EF yang tidak terlalu jauh berubah. Pada Tahun 2007, estimasi EF sebesar 0.0017 km2/kapita dengan luasan area yang dibutuhkan adalah 1 342 km2 atau sekitar 53 kali luas daratan Desa Olele. Setelah itu, mengalami peningkatan pada tahun 2008 sebesar 0.002 dengan luasan area yang dibutuhkan 1 624 km2. Pada tahun 2009 dengan estimasi kebutuhan area menjadi 1 476 km2. Terakhir pada tahun 2010 terjadi lagi kenaikan kebutuhan luasan sebesar 1 506 km2 (lebih lengkapnya pada Lampiran 2).

Tabel 15. Kebutuhan ruang ekologis sistem akuatik lokal dan regional.

Karakteristik 2007 2008 2009 2010

Desa Olele

PPR Trophic Shelves (Kg) 413 735.20 502 343.34 455 426.61 464 968.04 PPR Coastal n and Coral System

(Kg) 6 432.26 3 163.69 5 811.47 5 344.63

Jumlah Penduduk 810 835 864 983

EF (km2/Kapita) 0.0017 0.0019 0.0017 0.0015

Kebutuhan Ruang (km2) 1 342 1 624 1 475 1 506

Cakupan (kali) 53 64 58 59

Kecamatan Kabila Bone

PPR Trophic Shelves (Kg) 467 129.36 429 828.33 374 985.91 358 002.21 PPR Coastal n and Coral System

(Kg) 24 333.92 19 951.85 21 574.75 22 627.88

Jumlah Penduduk 1 534 9 150 9 176 10 346

EF (Km2/Kapita) 0.0002 0.0002 0.0001 0.0001

Kebutuhan Ruang (km2) 1 534 1 409 1 234 1 180

Cakupan (kali) 11 10 9 8

Ket : Luas Desa Olele 25.40 km2, Kecamatan Kabila Bone 143.51 km2 (BPS Kabupaten Bone Bolango, 2011)

Tabel 15 merupakan ringkasan perhitungan EF sistem perikanan di Desa Olele dan Kecamatan Kabila Bone untuk periode tahun 2007-2010. Untuk perhitungan yang lebih lengkap dapat dilihat pada Lampiran 2. Dari Tabel 13 dapat dilihat nilai EF lokal rata-rata adalah 0.002 km2/kapita dan membutuhkan

rata-rata luasan area 1 487 km2 atau sekitar 58.5 kali luas daratan Desa Olele. Sementara untuk EF regional rata-rata sebesar 0.0002 ha/kapita dan membutuhkan area seluas 1 339 km2 atau sekitar 9 kali luas daratan Kecamatan Kabila Bone. Semakin kecilnya kebutuhan ruang regional disebabkan besarnya jumlah produksi perikanan, lebih beragamnya alat tangkap yang digunakan serta jumlah nelayan yang lebih banyak, sebaliknya dengan luasan pada Desa Olele karena dengan kondisi alat tangkap, produksi yang kecil dan jumlah nelayan yang sedikit berdampak terhadap kebutuhan ruang ekologis yang besar.

Tabel 16. Perbandingan kebutuhan ruang ekologis untuk perikanan antara Desa Olele dengan daerah lain.

Negara/Daerah/Pulau EF Untuk Perikanan Kebutuhan Area

Sumberdaya Global (*) 0.30 23 x 106

Hongkong (*) 0.20 14 220 km2

Guersney UK (*) 1.41 84 000 km2

Japan (*) 1.90 -

Yoron Islands Japan (*) 0.014 8 7168 km2

Brazil (**)

Gugus Pulau Batudaka (***)

0.25 0.0004

- 5 339 km2

Kabupaten Tojo Una-Una (***) 0.003 446 402 km2

KKLD Olele 0.002 1 487 km2

Kecamatan Kabila Bone 0.0002 13 394 km2

Sumber : (*) Dikutip dari Adrianto (2004); (**) Pereira dan Ortega (2012); (***) Sulistiawati (2011)

Presentase perbandingan EF untuk perikanan lokal dan regional dengan beberapa daerah lain di dunia ditampilkan pada Tabel 16. Desa Olele dan Kecamatan Kabila Bone dengan daerah lain nilai EF Perikanan cukup kecil bila dibandingkan dengan Hongkong (0.2 km2/kapita), Guernsey UK (1.41 km2/kapita), Japan (1.90 km2/kapita), Yoron Island Japan (0.014 km2/kapita) maupun Brazil (0.25). Sementara untuk daerah di Gugus Pulau Batudaka dan Kabupaten Tojo Una-Una memiliki nilai estimasi EF Perikanan sedikit lebih besar dibandingkan dengan Desa Olele dan Kecamatan Kabila Bone yaitu (0.0004 dan 0.003 km2/kapita).

Besarnya kebutuhan ruang ekologis bagi kegiatan perikanan sangat dipengaruhi oleh produksi perikanan/jumlah tangkapan dan populasi penduduk. Adrianto dan Matsuda (2004) menjelaskan bahwa analisis ruang ekologis,

59

merupakan suatu konsep daya dukung yang menjelaskan hubungan didasarkan pada tingkat pemanfaatan terhadap suatu sumberdaya dan luas lahan yang tersedia/biocapacity (BC). Schaefer et al. (2006) menambahkan bahwa jika nilai EF > BC maka disebut overshoot dan jika nilai EF < BC maka disebut

undershoot.

Hasil analisis pada Tabel 15 menunjukkan bahwa nilai EF perikanan rata- rata lokal sebesar 0.002 km2/kapita. Jika jumlah penduduk Desa Olele pada tahun 2011 sebanyak 983 jiwa maka luasan EF sebesar 1.96 km2/kapita. Bila dibandingkan dengan luasan perairan KKLD Olele dan perairan sekitarnya yakni sebesar 3.21 km2/kapita, maka kondisi ini disebut dengan undershoot artinya pemanfaatan EF perikanan lebih kecil dari luasan kategori sesuai untuk penangkapan ikan sehingga ada ruang dan waktu dimana sumberdaya memiliki kesempatan untuk memperbaiki dan mempertahankan fungsi ekologisnya.

Pemanfaatan ruang/wilayah yang multiuse menimbulkan kompetisi, konflik, dan perbedaan kepentingan, sehingga dengan penzonasian khususnya di kawasan konservasi dianggap perlu yang berfungsi untuk mengelompokkan kegiatan yang sesuai dan memisahkan yang tidak sesuai. Pengalokasian ruang laut di KKLD Olele belum menjadi kebijakan dalam perencanaan pembangunan, dan penzonaan yang ada didasarkan atas aktivitas dan fungsi-fungsinya. Pada zona pemanfaatan perairan pantai di kawasan ini dimanfaatkan sebagai daerah penangkapan ikan karena memiliki kelimpahan makanan untuk ikan. Tetapi terkadang pada perairan tersebut susah untuk dilakukan pengoperasian alat tangkap, khususnya peralatan jaring karena keberadaan kerumunan bebatuan dan karang. Terkadang tempat tersebut memiliki arus yang menghanyutkan dan perbedaan pasang surut yang besar, sehingga nelayan setempat menggunakan alat tangkap yang sesuai dengan kondisi daerah penangkapan yang lebih sederhana seperti pancing tegak dan pancing ulur.

5.2.3. Analisis Human Appropriation of Net Primary Production (HANPP)

Dokumen terkait