V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1. ANALISIS KEBUTUHAN AIR IRIGASI
Air irigasi dibutuhkan apabila curah hujan tidak tersedia bagi tanaman. Air irigasi yang diperlukan tanaman diketahui melalui program CROPWAT 8.0. Data yang dibutuhkan adalah data curah hujan dan iklim seperti, penyinaran matahari, kelembapan, temperatur maksimum dan minimum, serta kecepatan angin yang mewakili daerah penelitian. Data curah hujan berasal dari Stasiun Dayeuh Kecamatan Jonggol dari tahun 2000-2009. Data curah hujan yang digunakan dalam program CROPWAT 8.0 adalah rata-rata curah hujan bulanan selama sepuluh tahun. Sedangkan data iklim lainnya berasal dari Stasiun Darmaga Bogor pada tahun 2009.
Data iklim pada program CROPWAT 8.0 digunakan untuk mengetahui evapotranspirasi tanaman acuan (ETo) yang dihitung dengan menggunakan metode Penman-Monteith (Lampiran 4). Sedangkan data curah hujan digunakan untuk mengetahui curah hujan efektif. Pada program CROPWAT 8.0 curah hujan efektif dihitung dengan menggunakan metode Emperical Formula (Lampiran 5). Berdasarkan hasil perhitungan CROPWAT 8.0, wilayah Jonggol memiliki rata-rata ETo sebesar 3.55 mm/hari dan jumlah hujan per tahun sebesar 3,156 mm dengan hujan efektif per tahun sebesar 2,240.8 mm.
Kebutuhan air irigasi berbeda disetiap tanaman, tergantung pada nilai koefisien tanaman yang terlihat dalam program CROPWAT 8.0. Koefisien tanaman digunakan untuk menganalisis evapotranspirasi tanaman. Jika evapotranspirasi tanaman dan curah hujan efektif telah diketahui maka kebutuhan air irigasi pun dapat diketahui.
Penelitian ini menganalisis kebutuhan air pada tanaman padi dengan menggunakan program CROPWAT 8.0. Hasil dari program CROPWAT 8.0 dapat dilihat pada lampiran 6a sampai 6d untuk tanaman padi dan lampiran 6e untuk tanaman kacang hijau. Hasil program CROPWAT 8.0 menunjukkan bahwa pada MT 1 dimana penanaman dilakukan pada tanggal 01 Januari, tanaman padi membutuhkan air irigasi sebesar 143.8 mm. Air irigasi hanya diberikan pada awal persiapan tanam atau digunakan untuk pengolahan lahan (Gambar 3). Pemberian air irigasi hanya dilakukan pada Bulan Desember 2 sebanyak 49.5 mm/dekade atau 4.95 mm/hari dan Desember 3 sebanyak 94.3 mm/dekade. Pada Bulan tersebut dilakukan proses penyiapan lahan sebelum ditanami padi. Pengolahan lahan tanaman padi membutuhkan lebih banyak air dibandingkan perawatan. Kebutuhan air pada proses penyiapan lahan tanaman padi berkisar 200-300 mm. Jika Penanaman dilakukan pada tanggal 01 Januari, maka pemanenan dilakukan pada tanggal 30 April, sedangkan pengolahan lahan dilakukan pada tanggal 01 Desember.
Penanaman MT 2 dilakukan Bulan Mei. Kebutuhan air irigasi padi pada MT 2 lebih besar dibandingkan MT 1. Air irigasi yang dibutuhkan tanaman padi pada MT 2 berjumlah 448.3 mm dengan pemberian terbesar pada April 3 sebesar 48.9 mm/dekade dan Mei 1 sebesar 76 mm/dekade. Air irigasi diberikan dari pengolahan lahan sampai tanaman padi dapat dipanen (Gambar 4). Periode tersebut merupakan musim kering, dimana evapotraspirasi lebih besar dibandingkan curah hujan. Jika tanaman padi ditanam pada tanggal 16 Mei maka pemanenan dapat dilakukan pada tanggal 12 September, sedangkan pengolahan tanah dimulai pada tanggal 16 April.
Gambar 4. Grafik pemberian air irigasi pada MT 2
Musim tanam 3 kelompok Tani Mekartani II menanam kacang hijau. Palawija jenis ini termasuk pada palawija berumur pendek serta lebih tahan terhadap kekeringan. Kacang hijau tidak membutuhkan pengolahan lahan seperti tanaman padi. Petani dapat langsung menanam kacang hijau setelah proses panen padi selesai dilakukan. Berdasarkan program CROPWAT 8.0, kebutuhan air irigasi untuk tanaman palawija jenis kacang-kacangan adalah 10 mm (Gambar 5). Kebutuhan air irigasi tersebut diperoleh jika petani menanam pada tanggal 13 September dan panen pada tanggal 31 Desember. Hasil program CROPWAT 8.0 menunjukkan bahwa pemberian air irigasi dilakukan pada Bulan Oktober 2 sebanyak 7.3 mm/dekade atau 0.73 mm/hari dan Oktober 3 berjumlah 0.27 mm/hari.
Program CROPWAT 8.0 dapat menghitung efisiensi Pemanfaatan curah hujan oleh tanaman. Pemanfaatan curah hujan pada MT 1 berbeda dengan MT 2. Pada MT 1 efisiensi pemanfaatan curah hujan sebesar 49.8%, sedangkan pada MT 2 mencapai 100%. Pada MT 1 terjadi kelebihan air hujan sebesar 44% yang tidak digunakan oleh tanaman. Oleh karena itu, lahan para petani harus memiliki drainase yang baik untuk dapat membuang kelebihan air yang tidak dibutuhkan oleh tanaman. Sehingga pertumbuhan tanaman menjadi lebih optimal yang dapat meningkatkan produktifitas hasil pertanian. Sedangkan Pemanfaatan curah hujan pada MT 3 sangat kecil, yaitu sebesar 12.6%.
Kebutuhan air irigasi berdasarkan perhitungan CROPWAT 8.0 dengan aktual di lapangan terjadi perbedaan. Perbedaan tersebut dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Perbandingan kebutuhan air irigasi aktual tahun 2010 dengan CROPWAT 8.0 pada data curah hujan 2000-2009
Musim
Tanam Tanaman
Air Irigasi Aktual
(m3)
Air Irigasi Berdasarkan CROPWAT 8.0 (m3/ha) (m 3 ) MT 1 Padi 2,592 1,438 17,256 MT 2 Padi 2,160 4,483 53,796 MT 3 Kacang Hijau 0 100 1,200 Jumlah 4,752 5,621 67,452
Sumber : data hasil wawancara dan program CROPWAT 8.0
Berdasarkan jam kerja pompa aktual menunjukkan hasil bahwa kebutuhan air irigasi pada MT 1 lebih besar dibandingkan MT 2. Sedangkan pada program CROPWAT 8.0 dengan data curah hujan tahun 2000-2009 terjadi sebaliknya, yaitu kebutuhan air pada MT 2 lebih besar daripada MT 1. Perbedaan tersebut dikarenakan data curah hujan yang digunakan pada program CROPWAT 8.0 adalah data rata-rata tahun 2000-2009. Berdasarkan data tersebut, MT 2 merupakan bulan kering sehingga kebutuhan air irigasi lebih besar. Sedangkan secara aktual menggunakan data jam kerja pompa tahun 2010 menunjukkan kebutuhan air irigasi pada MT 2 lebih kecil dibandingkan MT 1, dikarenakan curah hujan pada MT 2 yang tinggi (Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Bogor, 2010). Perbedaan kondisi tersebut disebabkan oleh curah hujan tahun 2010 mengalami gangguan (tidak normal) sehingga Kecamatan Jonggol yang biasanya mengalami bulan kering pada MT 2 menjadi bulan basah . Hal ini berdasarkan pemantauan suhu air laut dimana kondisiiklim tahun 2010 teridentifikasi mengalami la Nina1.
Data curah hujan tahun 2010 jika dimasukkan ke dalam program CROPWAT 8.0, maka akan diperoleh kebutuhan air irigasi tanaman padi pada MT 1 sebesar 252.5 mm. Air irigasi paling besar digunakan pada awal persiapan tanam atau digunakan untuk pengolahan lahan yaitu pada Bulan Desember (Gambar 6). Pada Desember 2 air irigasi diberikan sebanyak 49.5 mm/dekade atau 4.95 mm/hari dan Desember 3 sebanyak 103 mm/dekade atau 10.3 mm/hari.
Gambar 6. Grafik pemberian air irigasi pada MT 1 tahun 2010
Jumlah kebutuhan air irigasi pada MT 2 sebesar 210.9 mm dan air irigasi tebesar diberikan pada proses pengolahan lahan yaitu 147.9 mm/dekade atau 14.79 mm/hari pada Bulan April 3 dan Mei 1 seperti yang terlihat pada Gambar 7.
Gambar 7. Grafik pemberian air irigasi pada MT 2 tahun 2010
Tabel 3. Perbandingan kebutuhan air irigasi MT 1 dan MT 2 berdasarkan CROPWAT 8.0 antara data curah hujan tahun 2010 dengan rata-rata tahun 2000-2009
Musim Tanam Tanaman Tahun 2010 (m3) Rata-rata Tahun 2000-2009 (m3) MT 1 Padi 30,312 17,256 MT 2 Padi 25,308 53,796 Jumlah 55,620 71,052
Berdasarkan data curah hujan tahun 2010, perhitungan pada program CROPWAT 8.0 menunjukkan hasil bahwa kebutuhan air irigasi pada MT 2 lebih kecil dibandingkan MT 1. Hasil tersebut sama dengan kebutuhan air irigasi aktual.
Gambar 8. Curah hujan bulanan tahun 2010 dan rata-rata tahun 2000-2009
Berdasarkan Gambar 8 dapat dilihat bahwa curah hujan pada MT 2 tahun 2010 lebih besar dibandingkan curah hujan rata-rata tahun 2000-2009. Hal tersebut yang menyebabkan kebutuhan air irigasi MT 2 pada tahun 2010 lebih kecil dibandingkan rata-rata tahun 2000-2009. Tetapi kondisi berbeda terlihat pada MT 1, dimana curah hujan pada MT 1 tahun 2010 lebih kecil dibandingkan rata- rata tahun 2000-2009. Ini berarti terjadi pergeseran bulan basah dan bulan kering pada tahun 2010, yaitu pada MT 1 merupakan bulan kering sedangkan pada MT 2 merupakan bulan basah. Jika dibandingkan antara jumlah curah hujan tahun 2010 dengan jumlah curah hujan rata-rata tahun 2000- 2009, tidak menunjukkan hasil yang jauh berbeda (Lampiran 7).
Peluang terjadinya tahun normal, kering dan basah dapat diketahui dengan menggunakan
software RAINBOW-window version 1.1. Software tersebut digunakan untuk menganalisis frekuensi
dan perencanaan kemungkinan untuk data hidrologi. Data yang digunakan untuk mengetahui peluang terjadinya tahun normal, kering, dan basah adalah curah hujan tahunan dari tahun 2000-2009. Hasil analisis software RAINBOW dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Curah hujan pada tahun normal, kering dan basah Bulan Curah Hujan (mm)
Tahun Normal Tahun Kering Tahun Basah
Januari 418.2 141.6 694.8 Februari 420.7 189.8 651.6 Maret 319.6 94.2 545.0 April 412.5 153.3 671.7 Mey 206.0 15.6 396.4 Juni 117.6 26.6 208.6 Juli 69.2 0.0 161.6 Agustus 55.3 11.1 99.5 September 135.2 38.8 231.6 Oktober 207.4 82.7 332.0 November 425.4 73.4 777.3 Desember 368.7 51.9 685.6
Tahun normal terjadi apabila peluang terlewati sebesar 50%, tahun kering apabila peluang terlewatinya 80% dan tahun basah apabila peluang terlewatinya 20% . Berdasarkan analisiss software RAINBOW dapat diketahui bahwa wilayah Jonggol akan mengalami tahun normal pada periode ulangan 2 tahun, tahun kering pada periode ulangan 1.25 tahun, dan tahun basah pada periode ulangan 5 tahun.
Kebutuhan air irigasi pada tahun normal, kering, dan basah dapat diketahui dengan memasukan data curah hujan dari software RAINBOW (Tabel 4) ke program CROPWAT 8.0. Hasil yang diperoleh dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Kebutuhan air irigasi pada tahun normal, kering, dan basah Musim Tanam
(MT) Tanaman
Kebutuhan Air Irigasi (mm) Tahun Normal Tahun Kering Tahun Basah MT 1 Padi 143.8 442.8 86.7 MT 2 Padi 448.3 672.8 295.8 MT 3 Kacang Hijau 10.0 266.4 0.0 Sumber : Program CROPWAT 8.0
5.2
EFISIENSI IRIGASI
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi pemanfaatan air irigasi pada tanaman sehingga dapat mengurangi efisiensi irigasi, antara lain perkolasi, rembesan, dan penguapan. Biasanya, ketiga faktor tersebut terjadi pada saat air irigasi didistribusikan. Perkolasi akan semakin tinggi jika jaringan irigasi hanya dilapisi oleh tanah, dibandingkan dilapisi oleh plastik. Penguapan akan semakin kecil jika air disalurkan melalui jaringan pipa dibandingkan saluran terbuka. Perkolasi, rembesan, dan penguapan yang semakin besar, efisiensi irigasi pun akan semakin kecil.
Pada program CROPWAT 8.0 dapat diketahui bahwa perkolasi pada MT 1 sebesar 841.8 mm, MT 2 sebesar 565.2 mm, sedangkan pada MT 3 tidak mengalami perkolasi. Adanya penggenangan pada tanaman padi, memungkinkan terjadinya perkolasi pada MT 1 dan MT 2. Hasil tersebut mempengaruhi efisiensi penggunaan air irigasi pada tanaman.
Air aktual (actual water) yang dimanfaatkan oleh tanaman pada MT 1 sebesar 452.5 mm, MT 2 sebesar 414.7 mm, dan MT 3 sebesar 302.5 mm. Tanaman tidak mengalami kekurangan hasil produksi yang disebabkan oleh defisiensi air, ini ditunjukkan dengan yield reduction 0.0%.
Menurut Etcheverry et al. dalam Munir (1993), tingkat efisiensi distribusi air irigasi pada irigasi pompa lebih tinggi daripada irigasi gravitasi, yaitu 95% untuk irigasi pompa dan 60-90% untuk irigasi gravitasi. Berdasarkan hasil pengukuran di lapangan, efisiensi penyaluran dari sumber air ke saluran sebesar 57%, sedangkan efisiensi penyaluran di lapang yakni dari saluran ke petakan sawah sebesar 73%. Efisiensi penyaluran ini sangat kecil untuk irigasi pompa yang menggunakan saluran tertutup. Hal ini dikarenakan banyak terjadi kebocoran pada pipa dorong (penyalur). Pipa dorong yang digunakan kebanyakan telah melewati umur ekonomisnya. Selain itu penyebab rendahnya efisisiensi penyalur adalah pemasangan sambungan yang kurang tepat sehingga air dapat keluar dari pipa.