HASIL DAN PEMBAHASAN
5.4 Analisis Finansial .1 Produktivitas pohon .1 Produktivitas pohon
5.4.4 Analisis Sensitivitas
Analisis sensitivitas ini didasarkan apabila terjadi perubahan skenario yang mempengaruhi kelayakan usaha. Pada Tabel 28, dilakukan analisis sensitivitas pada kenaikan biaya produksi secara maksimal yaitu sebesar 64%. Nilai 64% ini didapat dari hasil rata-rata biaya produksi pala dari masyarakat di kedua desa. Meskipun terjadi kenaikan biaya produksi pada kedua desa, usaha pala layak dijalankan. Kelayakan ini dilihat dari nilai NPV yang positif, BCR yang lebih besar dari 1, IRR yang lebih besar dari tingkat inflasi yang digunakan.
Tabel 28 Analisis sensitivitas terhadap kenaikan biaya produksi pala pada nilai maksimal
Kriteria Kelayakan Usaha Desa Kinam Desa Kriawaswas
NPV (Rp/ha) 116.336.170 157.924.639
BCR 1,6 2,0
IRR (%) 12 13
Tabel 29 memperlihatkan bahwa apabila terjadi perubahan skenario berupa penurunan harga jual pala kering dan bunga pala yang terjadi pada nilai minimal. Nilai minimal harga ini didapatkan dari hasil wawancara pada masing-masing desa. Hasil NPV pada Desa Kinam dan Desa Kriawaswas berbeda cukup jauh. Hal ini disebabkan harga minimal di Desa Kriawaswas yang lebih tinggi
(10,000,000) (5,000,000) 0 5,000,000 10,000,000 15,000,000 0 20 40 60 80 100 120 NP V ( Rp /h a) Umur pohon (th) ∆ NPV
daripada harga minimal di Desa Kinam, tetapi baik dari kedua desa meskipun adanya penurunan harga jual analisis usaha pala layak dijalankan.
Tabel 29 Analisis Sensitivitas terhadap penurunan harga jual pala kering dan bunga pala pada nilai minimal
Kriteria Kelayakan Usaha Desa Kinam Desa Kriawaswas
NPV (Rp/ha) 91.199.885 183.582.790
BCR 1,7 2,8
IRR (%) 13 16
Tabel 30 memperlihatkan bahwa apabila terjadi perubahan skenario berupa penurunan produksi buah pala yang terjadi pada nilai minimal. Nilai minimal produksi ini didapatkan dari hasil wawancara pada masing-masing desa. Kedua desa meskipun adanya penurunan produksi buah pala usaha pala layak dijalankan.
Tabel 30 Analisis Sensitivitas terhadap penurunan produksi buah pala pada nilai minimal
Kriteria Kelayakan Usaha Desa Kinam Desa Kriawaswas
NPV (Rp/ha) Rp 163.766.929 Rp 194.588.967
BCR 2,3 2,9
IRR (%) 15 17
Ketiga tabel di atas menunjukkan meskipun terjadi skenario terhadap proses usaha pala yaitu meningkatnya biaya, penurunan harga jual, dan penurunan produksi usaha pala tetapi pengembangan pala masih layak untuk dijalankan.
5.5 Kelola Sosial
IUPHHK-HA PT. Arfak Indra dalam Peraturan Pemerintah Nomor 34 Pasal 47 Tahun 2002 disyaratkan bagi setiap pemegang IUPHHK baik hutan alam maupun hutan tanaman wajib memberdayakan masyarakat desa sekitar hutan dan atau di dalam hutan dalam kegiatan pengusahaan hutan baik langsung maupun tidak langsung. Sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: 292/kpts-II/2003 tanggal 26 Agustus 2003 tentang penyelenggaraan kerjasama pemegang IUPHHK atau bukan kayu di hutan produksi dengan koperasi, IUPHHK-HA PT. Arfak Indra merencanakan pelaksanaan pemberdayaan masyarakat desa sekitar hutan dan atau di dalam hutan dengan memberi kesempatan dan meningkatkan partisipasi aktif masyarakat untuk turut serta dalam
kegiatan pemanfaatan hutan baik langsung maupun tidak langsung secara berdaya guna serta berhasil guna untuk meningkatkan kesejahteraannya.
Pada data perusahaan, dapat dilihat jenis kegiatan yang perusahaan lakukan pada tiap jenis kegiatan seperti peningkatan ekonomi, pengembangan sarana dan prasarana umum, sosial budaya, juga KSDH dan lingkungan. Peningkatan ekonomi yang dilakukan perusahaan adalah pemanfaatan tenaga kerja. Pemanfaatan tenaga kerja ini dilaksanakan pada kegiatan pengusahaan hutan yaitu mengikutsertakan masyarakat secara langsung berpartisipasi dalam pengelolaan hutan seperti pada kegiatan ITSP (Inventarisasi Tegakan Sebelum Penebangan), kegiatan penanaman, dll.
Pengembangan sarana dan prasarana yang sudah perusahaan lakukan adalah pengembangan jalan, penerangan, juga bangunan. Pengembangan jalan yang dilakukan di tempat kegiatan perusahaan dapat membantu membukakan dan membantu akses bagi desa sekitar perusahaan karena rata-rata desa di kawasan IUPHHK-HA untuk menuju ke kota harus menggunakan jalur laut, sehingga dengan adanya perusahaan maka masyarakat dapat menggunakan jalur darat dalam akses ke kota atau ke tempat tujuan mereka lainnya. Perusahaan juga membantu dalam hal penerangan, karena setiap bulannya perusahaan menyediakan 1 drum solar untuk desa sekitar areal kerja perusahaan. Solar tersebut digunakan masyarakat untuk keperluan listrik atau penerangan mereka. Pengembangan bangunan yang perusahaan lakukan adalah dengan menyediakan papan kayu yang masyarakat butuhkan untuk keperluan bangunan yang dibutuhkan masyarakat seperti bangunan rumah, tiang-tiang listrik, dll. Kegiatan sosial budaya, perusahaan telah membantu dalam hal kesehatan, beasiswa, juga bantuan dana dalam kompensasi hak ulayat. Kegiatan KSDH dan lingkungan, perusahaan memberi bantuan bibit bagi masyarakat yang menginginkan terutama bibit pala untuk mereka tanam.
Rangkuman aspek kelola sosial yang dilakukan perusahaan diatas menunjukkan bahwa bagian pengembangan masyarakat belum dilakukan. Salah satu ruang lingkup kelola sosial adalah pengembangan masyarakat (Bahruni 2010). Prospek pengembangan pala (Myristica argentea Ware) yang layak dapat menjadi wadah peningkatan ekonomi bagi masyarakat desa sekitar.
Pengembangan usaha pala ini dapat ditingkatkan lagi, namun masyarakat masih membutuhkan bantuan dalam hal pengetahuan. Oleh karena itu, peran perusahaan masih sangat diperlukan. Adapun kendala dalam pengusahaan pala adalah sebagai berikut:
1. Umur kebun pala yang dimiliki oleh masyarakat cukup beragam dan produktivitas kebun pala tersebut semakin menurun dari tahun ke tahun (BPS 2011). Hal ini membuktikan bahwa keragaman pohon pala pada kebun masyarakat sudah tua.
2. Dibuangnya daging buah pala saat panen sangat disayangkan, padahal daging buah tersebut dapat memiliki nilai ekonomi lebih, namun butuh latihan bagi masyarakat dalam pengelolaan lebih lanjut dari daging buah pala.
Pemecahan kendala pertama adalah dengan cara peremajaan pala. Pohon pala yang dimiliki masyarakat rata-rata sudah tua tetapi sepertinya hal ini belum disadari oleh masyarakat, karena masyarakat dalam meningkatkan produksi pala dengan cara membuat kebun baru. Menurut Sunanto (1993) perlu dilakukan peremajaan untuk tanaman pala yang sudah tua. Cara peremajaan yang baik adalah Metode Gradual Thinning. Metode ini adalah metode penanaman sisipan yaitu penanaman tanaman pala muda diantara pohon pala tua. Penyisipan tanaman muda dilaksanakan secara bertahap dan penebangan pohon pala yang sudah tua dilakukan setelah tanaman yang muda berumur 1-3 tahun. Penebangan pohon pala yang tua juga dilaksanakan secara bertahap. Metode ini baik dilakukan karena petani masih memiliki pendapatan dan juga tanaman muda yang baru tumbuh tidak terganggu pertumbuhannya karena pohon pala yang tua sudah ada yang ditebang. Penyuluhan kepada masyarakat sangat diperlukaan untuk mengetahui cara peremajaan yang benar.
Kedua adalah persoalan daging buah pala yang dibuang secara percuma. Olahan daging buah pala yang sudah dimanfaatkan di daerah Fakfak adalah menjadi selai, manisan, dan sirup, namun yang biasanya membuat produk olahan tersebut di daerah Fakfak adalah orang pendatang. Masyarakat membutuhkan keterampilan dan pengetahuan yang perlu diajarkan oleh peran perusahaan dan pemerintah untuk membuat nilai tambah dari daging buah pala. Selain itu, disebabkan banyaknya buah yang dipanen dalam sekali panen, memungkinkan
bahwa daging buah pala yang akan diolah sebaiknya dikerjakan secara berkelompok. Wadah seperti koperasi pala sangat diperlukan untuk pemasaran dari pengolahan daging buah pala.
Pengembangan usaha pala yang layak yaitu dilihat dari kriteria kelayakan, dapat menjadikan sebuah alternatif kelola sosial yang bagus bagi masyarakat sekitar wilayah kerja perusahaan. Adanya kendala dalam pengusahaan pala semakin menunjukkan bahwa masyarakat memerlukan bantuan dalam memecahkan kendala tersebut. Peran perusahaan sangat diperlukan karena masyarakat masih memiliki pengetahuan yang minim dalam pengelolaan pala dan hal ini dapat dituangkan perusahaan dengan pemberian program kelola sosial kepada masyarakat.
BAB VI