VI. KELEMBAGAAN DAN TATA ATURAN KASEPUHAN SINAR
6.2 Aturan Adat Kasepuhan Sinar Resmi
6.2.3 Aturan dalam Kelembagaan Pangan yang Berdampak
Pertanian dijadikan sebagai tradisi yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat kasepuhan. Selain sebagai mata pencaharian utama masyarakat, pertanian juga menjadi bagian budaya masyarakat. Kegiatan pertanian masyarakat kasepuhan masih bersifat tradisional dan memiliki hubungan yang erat dengan sistem kepercayaan serta unsur-unsur alam seperti tanah, air, udara, cuaca, sinar matahari, dan lain-lain. Kegiatan pertanian masyarakat bertumpu pada filosofi “Ibu Bumi, Bapak Langit, dan Guru Mangsa” yang memiliki makna bahwa masyarakat harus menjaga keutuhan alam beserta isinya agar tetap seimbang dan terjaga. Hal tersebut mereka terapkan pada pola sebelum masa tanam, masa menanam padi, dan pascapanen padi.
6.2.3.1 Aturan Kelembagaan Pangan Sebelum Masa Tanam Padi
Aturan dalam memulai waktu musim tanam ditentukan berdasarkan filosofi bapak langit dan guru mangsa. Fisosofi bapak langit menunjukkan adanya pengetahuan masyarakat yang didasarkan pada peredaran rasi bintang di langit sebagai acuan dalam mengelola lahan garapan. Sedangkan filosofi guru mangsa untuk mengetahui waktu yang tepat dalam bertani dengan melihat kondisi alam sekitar. Rasi bintang yang dijadikan sebagai acuan terdiri dari rasi bintang kerti dan rasi bintang kidang. Berikut adalah beberapa posisi rasi bintang yang menentukan kegiatan dalam pertanian:
1. Tanggal kerti kana beusi, tanggal kidang turun kujang, yang berarti masyarakat harus mempersiapkan alat-alat pertanian seperti cangkul, sabit, garpu, dan lain sebagainya.
2. Kidang ngrangsang ti wetan, kerti ngrangsang ti kulon atau kidang-kerti paharep-harep, artinya pertanda musim panas yang lama sehingga waktu yang tepat untuk membakar ranting dan daun di huma.
3. Kerti mudun matang mencrang di tengah langit, artinya saat menanam padi di huma sudah tiba.
4. Kidang dan kerti ka kulon, yang berarti musim hujan akan segera tiba. 5. Kidang medang turun kukang, artinya pertanda adanya hama dan penyakit
yang akan menyerang tanaman padi.
Segala bentuk kegiatan pertanian dari masa persiapan hingga pascapanen dilakukan ritual tertentu sebagai bentuk penghormatan. Kegiatan pertanian dapat dimulai setelah mendapat ijin dari Abah yang diikuti dengan upacara ritual seperti membakar kemenyan dan memanjatkan doa. Awal tanam padi dilakukan secara
serentak bersama-sama agar waktu panen juga dilaksanakan secara bersamaan. Hal tersebut merupakan sebuah bentuk kekompakan dan kekeluargaan yang erat antar anggota masyarakat kasepuhan.
6.2.3.2 Aturan Kelembagaan Pangan dalam Menanam Padi
Jenis lahan pertanian yang terdapat di masyarakat kasepuhan terdiri dari tiga jenis lahan yaitu: lahan kering atau huma, sawah tadah hujan, dan sawah setengah irigasi. Huma merupakan sistem pertanian yang secara turun-temurun diwariskan oleh leluhur mereka. Lahan yang digunakan dalam huma yaitu lahan kering yang biasanya cara penanaman padi berada disela-sela tanaman hutan. Sedangkan lahan sawah tadah hujan dan setengah irigasi yang membedakan hanya asal sumber airnya. Sawah tadah hujan sumber air berasal dari air hujan sedangkan sawah setengah irigasi sumber airnya dari mata air dengan irigasi yang masih sedarhana. Sawah tadah hujan lebih mendominasi dibandingkan sawah setengah irigasi karena tidak ada infrastruktur irigasi yang memadahi.
Lahan pertanian masyarakat desa sinar resmi sebagian besar berada di areal hutan yang berstatus taman nasional yang sebelumnya dikelola oleh perhutani. Luas kepemilikan lahan masyarakat sulit diukur secara universal karena mereka mempunyai ukuran sendiri yang biasa disebut patok. Pola kepemilikan lahan masyarakat berasal dari orang tua yang diwariskan kepada anak-anaknya. Antara laki-laki dan perempuan akan mendapat porsi yang sama. Lahan untuk areal pertanian biasanya digarap sendiri. Terdapat dua tipe petani dalam status kepemilikan lahan yaitu petani pemilik dan petani penggarap. Petani pemilik lahan biasanya mengelola lahannya sendiri atau dikelola orang lain. Sedangkan
petani penggarap tidak memiliki lahan sendiri sehingga mereka hanya menggarap lahan orang lain. Sistem pengelolaan dalam penggarapan lahan antara lain:
1. Maro, sistem pengelolaan pertanian dengan membagi dua hasil panen
setelah dipotong modal.
2. Ngepak, sistem pengelolaan pertanian 5:1 yang artinya bila mendapat hasil lima ikat, maka satu ikat untuk petani penggarap sedangkan empat ikat untuk petani pemilik lahan. Penggarap hanya bermodalkan tenaga kerja saja sehingga pemilik lahan harus menyediakan alat, benih, pupuk, dan input lainnya. Sistem ini yang paling sering dilakukan oleh masyarakat kasepuhan.
3. Gade, sistem pengelolahan pertanian dengan pembayaran jaminan sesuai dengan kesepakatan. Lahan yang digadai dapat diambil kembali oleh pemilik lahan setelah jaminan tersebut telah dikembalikan.
Dalam menggarap lahan pertanian, kedudukan laki-laki dan perempuan seimbang, saling bekerjasama, dan ada bagian yang harus dikerjakan oleh laki-laki dan
perempuan, misalnya dalam hal ngaseuk (melobangi tanah), tugas laki-laki
melubangi tanahnya, selanjutnya perempuan yang memasukkan padinya.
Jenis padi yang ditanam merupakan padi lokal yang biasa disebut pare
ageung. Jenis padi tersebut memiliki perbedaan dengan jenis padi varietas pada umumnya. Perbedaan yang mencolok pada usia tanam, tinggi tanaman, dan bulir- bulir padi yang memiliki bulu halus berwarna hitam. Pemerintah telah mencoba untuk mengganti padi lokal dengan padi verietas unggulan tetapi masyarakat menolak dengan alasan padi lokal lebih baik dan cocok dengan kondisi iklim dan topografi Desa Sinar Resmi. Padi lokal memiliki beberapa jenis yang disesuaikan
dengan jenis lahan yang digunakan. Berikut adalah tabel jenis padi dan jenis lahan yang digunakan:
Tabel 11. Jenis Padi Lokal dan Jenis Lahan yang Digunakan
Jenis Lahan Jenis Padi Lokal
Huma Pare Batu, Jamudin, Loyor, dan Gadog.
Sawah Tadah Hujan Pare Hawara, Cere Buni, dan Sadam.
Sawah Setengah Irigasi
Sri Kuning, Sri Mahi, Raja Denok, Raja Wesi, Para Nemol, Angsana, Para Terong, Tampeu, Pare Jambu, Pare Peteu, Cere Layung, Cere Gelas, dan Cere Kawat.
Sumber: Tokoh Adat Kasepuhan Sinar Resmi, 2011 6.2.3.3 Aturan Kelembagaan Pangan Pascapanen Padi
Terdapat aturan dalam prosesi panen padi di masyarakat Kasepuhan Sinar Resmi. Setelah dipanen, padi harus dijemur dengan cara digantung disekitar areal
lahan tanam menggunakan bambu yang disusun yang biasa disebut nglantay. Padi
yang dipanen tersebut dipotong menggunakan ani-ani yang hanya memotong
bagian ujung bulir-bulir padi. Setelah dipotong, padi diikat sebesar satu genggam ikatan tangan lalu dijemur. Seteleh kering padi diikat kembali dengan aturan dua ikat padi yang basah menjadi satu ikat padi yang kering. Padi yang kering tersebut
diangkut dengan sebilah bambu dan dimasukan dalam leuit rumahtangga. Aturan
dalam memasuki leuit adalah tidak diperkenankan masuk leuit yang bersamaan
dengan hari lahir yang punya leuit tersebut.
Masyarakat kasepuhan memiliki aturan tidak boleh menjaual padi karena mereka menganggap seperti menjual ibu sendiri. Salah satu bentuk pemberian penghargaan terhadap padi maka dibangun tempat khusus untuk menyimpannya
yang disebut leuit. Keberadaan leuit memiliki makna yang penting dalam menjaga
stok pangan masing-masing rumahtangga. Masing-masing rumahtangga setidaknya memiliki satu leuit yang memiliki kasapitas 400 pocong gabah kering.
Leuit merupakan bagunan yang khusus digunakan sebagai tempat
menyimpan padi. Seperti halnya bangunan lain yang ada di kasepuhan, leuit pun
memiliki aturan tersendiri. Aturan pendirian leuit mengikuti pola hitungan yang biasa digunakan oleh masyarakat adat. Hitungan tersebut dimulai dari tanggal
pertama yang disebut kuta yang dikhususkan untuk tanggal membangun kandang
kambing atau kerbau. Tanggal kedua disebut kusang yang dikhususkan untuk
membangun kandang ayam. Tanggal ketiga disebut gelar yang ditujukan sebagai
tanggal membangun masjid atau fasilitas publik. Tanggal keempat disebut naga
yang digunakan untuk membangun leuit. Tanggal kelima disebut jaya yang
digunakan untuk membangun rumah. Arah leuit dikhususkan membujur dari
selatan ke utara dengan salah satu ujungnya terdapat satu pintu. Masing-masing pojok bangunan terdapat daun-daun tertentu yang dimaknai sebagai penjaga leuit dari hama dan pencuri.
Hasil penen padi selain disimpan pada masing-masing leuit rumahtangga,
masyarakat juga memberikan hasil panen ke leuit si jimat (kasepuhan) dengan
aturan 100 : 2 yang berarti hasil panen 100 ikat memberikan ke leuit si jimat
sebanyak 2 ikat. Leuit si jimat digunakan sebagai cadangan pangan bagi
masyarakat kasepuhan saat musim paceklik dan sebagai cadangan dalam berbagai kegiatan kasepuhan seperti saren taun.
Padi sebagai makanan pokok masyarakat disimbolkan sebagai Dewi Sri (ibu). Sesuai dengan aturan adat, padi tidak boleh dijual kecuali masih dalam bentuk pocong. Menurut filosofi masyarakat kasepuhan, padi itu seperti seorang ibu sehingga bila dijual sama dengan menjual ibu sendiri. Kegiatan menumbuk
padi tidak boleh menggunakan mesin tetapi menggunakan halu dan ditumbuk di
lesung. Padi juga harus dimasak menggunakan kayu bakar.
Rangkaian seluruh kegiatan pertanian yang dilakukan oleh masyarakat kasepuhan sinar resmi antara lain:
1. Ngaseuk, merupakan dimulainya kegiatan menanam padi di huma dengan memasukan benih kedalam lubang.
2. Beberes mager, merupakan ritual untuk menjaga padi dari serangan hama. Kegiatan ini dilakukan oleh pemburu di lading milik kasepuhan dengan diawali dengan pembacaan doa. Kegiatan ini dilaksanakan sekitar bulan Muharam.
3. Ngarawunan, merupakan ritual untuk meminta isi padi agar tumbuh subur dan tidak ada gangguan. Kegiatan ini dilakukan oleh semua incu putu setelah padi berumur tiga sampai empat bulan.
4. Mipit, merupakan kegiatan memanen padi yang dilakukan lebih dahulu oelh Abah sebagai pertanda masuknya musim panen.
5. Nutu, merupakan kegiatan menumbuk padi pertama setelah panen.
6. Nganyaran, merupakan kegiatan memasak nasi menggunakan padi hasil penen pertama, dua bulan setelah masa panen.
7. Tutup nyambut, merupakan kegiatan yang menandakan selesainya semua
aktivitas pertanian di sawah yang ditandai dengan acara selamatan. Tutup
nyambut juga dijadikan sebagai pertanda dimulainya masa untuk membajak sawah dan mempersiapkan lahan untuk ditanam kembali.
8. Saren taun, merupakan acara yang ditujukan untuk mensyukuri hasil panen pada tahun tersebut. Acara tersebut berisi hiburan untuk masyarakat
yang telah bekerja dalam pertanian selama satu tahun. Sebulan sebelum
acara saren taun dimulai, sebelumnya ada musyawarah yang melibatkan
seluruh incu putu untuk menentukan besarnya anggaran yang dibutuhkan.
6.2.3.4 Aturan Waktu Tanam Padi
Landasan model pertanian yang diolah berdasarkan pengetahuan lokal
didasarkan atas prinsip adat yaitu “beteung seubeuh, baju weuteuh, imah pageuh,
pamajikan reuneuh“ yang berarti perut kenyang, baju baru, rumah kokoh, istri dapat memberikan keturunan. Hal yang bermakna dalam filosofi tersebut adalah hasil pertanian tidak perlu menunjukkan produktivitas tinggi karena yang terpenting adalah kebutuhan hidup dapat tercukupi. Hal tersebut terbukti dengan
tidak ada incu putu yang meminjam padi kepada Abah untuk mencukupi kebuhan
pangannya.
Kegiatan menanam padi di sawah maupun di huma dilaksanakan sesuai dengan prosesi adat yang berlaku. Masyarakat mengaja tradisi tersebut secara turun-temurun. Sistem pertanian dengan teknik yang tradisional seperti
menggunakan cangkul, aseuk, ani-ani dan sebagainya. Dahulu pemerintah telah
memberikan bantuan seperti masin pembajak dan alat penggiling padi tetapi masyarakat menolak. Mereka beralasan bahawa alat tersebut tidak sesuai dengan tradisi dan tidak sesuai jika digunakan pada areal yang berbukit. Hal tersebut beralasan karena masyarakat bercocok tanam pada areal ladang kering atau huma dan sawah tadah hujan. Berikut ini merupakan tahapan kegiatan menanam padi di huma sesuai dengan waktu pelaksanaannya dapat dilihat pada Tabel 12.
Tabel 12. Tahapan Kegiatan Menanam Padi di Huma Masyarakat Kasepuhan
No. Kegiatan Bulan Pelaksana*
1. Narawas
(menandai lokasi yang akan dijadikan lahan huma)
Jumadil awal Lk
2. Nyacar
(membersihkan lahan, biasanya selama 1 minggu setelah itu dikeringkan selama 15 hari- 1 bulan)
Jumadil awal Lk, Pr, P
3. Ngahuru
(membakar semak kering untuk dijadikan pupuk)
Jumadil akhir Lk
4. Ngerukan
(mengumpulkan sisa-sisa yang belum terbakar)
Jumadil akhir Lk, Pr, P
5. Ngaduruk
(membakar sisa-sisa yang belum terbakar)
Jumadil akhir Lk, Pr
6. Nyara
(meremahkan tanah)
Jumadil akhir Lk, Pr, P
7. Ngaseuk
(menanam bibit padi kedalam lubang dengan tongkat) Rajab Lk, Pr, P 8. Ngored (menyiangi rumput) Ruwah Lk, Pr, P 9. Mipit (memotong padi/panen) Haji Lk, Pr 10. Ngedamel Lantayan
(membuat tempat jemuran padi)
Haji Lk 11. Ngalantaykeun
(menjemur padi pada lantay)
Haji Lk, Pr
12. Mocong
(mengikat padi yang sudah kering)
Muharam Lk, Pr, P
13. Ngunjal
(mengangkut padi ke leuit)
Muharam Lk 14. Ngeleuitkeun
(memasukan padi ke leuit)
Muharam Lk, Pr
15. Ngeuleupkeun
(merapikan padi)
Muharam Lk 16. Ngadieukeun indung pare
(memilih bibit padi)
Muharam Lk 17. Salametan Muharam Lk, Pr, P
Sumber: Tokoh Adat Kasepuhan Sinar Resmi, 2011
Berdasarkan Tabel 12 tersebut yang menggambarkan kegiatan menanam padi di huma yang dilakukan sesuai penanggalan islam. Tahapan kegiatan menanam padi di sawah dapat dilihat pada Tabel 13 di bawah ini.
Tabel 13. Tahapan Kegiatan Menanam Padi di Sawah Masyarakat Kasepuhan
No. Kegiatan Bulan Pelaksana*
1. Numpang galeng (membuat pematang) Muharam Lk, P 2. Ngabaladah (menyiangi lahan) Silih mulud Lk, P 3. Ngambangkeun
(mengisi lahan dengan air/merendam)
Jumadil awal Lk, P
4. Ngangler
(membersihkan permukaan lahan dari gulma)
Ruwah Lk, Pr, P
5. Tebak/ngipuk
(membuat persemaian dengan menebar padi)
Jumadil akhir Lk, Pr
6. Tandur
(menanam padi)
Ruwah Lk, Pr, P
7. Ngarambet
(membersihkan gulma yang ada di sawah)
Puasa Pr 8. Babat galeng
(membersihkan rumput di pematang sawah)
Syawal Lk, Pr, P
9. Dibuaat ku etem/neugel
(panen padi dengan alat etem/ani-ani)
Haji Lk, Pr, P
10. Ngedamel Lantayan
(membuat tempat jemuran padi)
Haji Lk 11. Ngalantaykeun
(menjemur padi pada lantay)
Haji Lk 12. Mocong
(mengikat padi yang sudah kering)
Sapar Lk, Pr, P
13. Ngunjal
(mengangkut padi ke leuit)
Sapar Lk 14. Ngeleuitkeun
(memasukan padi ke leuit)
Sapar Lk 15. Ngeuleupkeun
(merapikan padi)
Sapar Lk, Pr
16. Ngadieukeun indung pare
(memilih bibit padi)
Sapar Lk, Pr
17. Salametan nganyaran Silih Mulud Pr Sumber: Tokoh Adat Kasepuhan Sinar Resmi, 2011