Tempat dan Waktu
Penelitian dilakukan diberbagai lahan pertanaman hortikultura di Kecamatan Cisarua Kabupaten Bogor dan Kecamatan Cipanas Kabupaten
Cianjur, untuk penghitungan jumlah populasi kutukebul dilakukan di Laboratorium Biosistematika Serangga, Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Penelitian dimulai dari bulan November 2011 sampai bulan Februari 2012.
Alat dan Bahan
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kantung plastik, kertas label, streples, kuas, pulpen, buku tulis, jarum bertangkai, alkohol 70%, KOH 10%, akuades, acid fuchsin, glacial acetic acid, acid alcohol 50%, alkohol 100%, carbol xylene, minyak cengkeh dan canada balsam. Sedangkan alat yang digunakan adalah GPS (Global Positioning System) Megellan tipe 315 berfungsi untuk mengetahui posisi lintang dan bujur dari suatu lokasi, kamera, mikroskop stereo, lampu neon, kaca pembesar, alat penghitung, tas survei, gelas ukur, cawan Syracus dan tabung reaksi.
Metode Pengumpulan Informasi
Permintaan informasi dari Dinas Pertanian Kecamatan Cisarua Kabupaten Bogor dan Kecamatan Cipanas Kabupaten Cianjur mengenai:
a. Peta kecamatan b. Profil kecamatan
c. Informasi lokasi pertanaman hortikultura Pengamatan Lapangan (Survei)
Lokasi pengamatan dilaksanakan di dua kecamatan yaitu Kecamatan Cipanas (Cianjur) dan Kecamatan Cisarua (Bogor). Pemilihan lokasi ditentukan berdasarkan informasi bahwa di kedua kecamatan tersebut merupakan sentra tanaman hortikultura. Selain itu adanya informasi mengenai daerah sebar Aleurodicus dugesii cenderung berada di dataran tinggi seperti Cipanas (Murgianto 2010). Survei kutukebul dilaksanakan di 5 (lima) desa pada setiap
16
kecamatan. Untuk Kecamatan Cisarua antara lain Desa Batulayang, Desa Leuwimalang, Desa Tugu Selatan, Desa Tugu Utara dan Desa Citeko (Gambar 4). Sedangkan Kecamatan Cipanas adalah Desa Cimacan, Desa Ciloto, Desa Sindangjaya, Desa Batulawang dan Desa Cipanas (Gambar 5). Pemilihan 5 (lima) desa ditentukan dengan cara membagi peta kecamatan secara diagonal menjadi lima petak contoh (5 desa) pengamatan. Dalam tiap petak contoh dilaksanakan pengamatan-pengamatan pada unit-unit contoh yang tersebar disesuaikan dengan keberadaan inang kutukebul (tanaman hortikultura). Komponen-komponen yang diamati pada saat survei antaralain kisaran inang, kepadatan populasi, tingkat kerusakan akibat serangan kutukebul A. dugesii, pendugaan tingkat kerusakan dan kepadatan populasi A.dugesii pada tanaman alpukat dan labu siam di Desa Citeko serta kehilangan hasil pada tanaman alpukat di Desa Citeko Kecamatan Cisarua.
Gambar 4
Lokasi survei kutukebul di Kecamatan Cisarua (06°42’ LS dan
106°56’ BB): Desa Batulayang, Desa Citeko, Desa Leuwimalang,
Desa Tugu Selatan dan Desa Tugu Utara
17
Gambar 5 Lokasi survei kutukebul di Kecamatan Cipanas (06˚47’LS dan
106˚59˚ BT): Desa Batulawang, Desa Ciloto, Desa Cimacan, Desa
Cipanas dan Desa Sindangjaya Pembuatan Preparat Kutukebul dan Identifikasi
Spesimen kutukebul yang diperoleh dari lapang dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang di dalamnya telah terdapat larutan alkohol 70%, selanjutnya tabung reaksi tersebut dimasukkan ke dalam gelas ukur untuk dipanaskan pada suhu 80 – 100 ºC selama 5 – 10 menit. Setelah itu, spesimen dan larutan alkohol 80% dituangkan ke dalam cawan Syracus. Kemudian spesimen di masukkan ke dalam tabung reaksi yang telah terisi KOH 10% dan dipanaskan. Spesimen dimasukkan ke dalam larutan KOH 10% untuk mengeluarkan cairan tubuh. Langkah berikutnya adalah isi dari tubuh kutukebul dikeluarkan dengan menusuk bagian lingkar dorsal posterior spesimen lalu menekan terus-menerus secara perlahan hingga cairan tubuhnya keluar. Larutan KOH 10% dibuang dengan pipet hingga tidak ada sisa. Selanjutnya aquades dimasukkan untuk mencuci sisa larutan KOH 10%.
Tahap berikutnya adalah proses pewarnaan. Pewarnan pupa menggunakan campuran asam fuchsin dengan asam asetik glacial dengan perbandingan 1:1 pada cawan syracus selama 10 – 20 menit. Setelah melalui
Kab. Cianjur
18
tahap ini, pupa akan berwarna merah pekat. Pupa direndam dalam alkohol 80% sampai warnanya agak memudar. Hal ini bertujuan untuk mengurangi efek pewarnaan. Alkohol 80% dibuang dan diganti dengan larutan Carbol xylene kemudian direndam selama satu menit. Larutan Carbol xylene dibuang dan diganti dengan alkohol absolut dan dipindahkan ke dalam cawan syracus yang berisi minyak cengkeh selama 10 menit. Selanjutnya pupa diambil dan diletakkan di tengah kaca objek. Setelah pupa ditata lurus, diteteskan Canada balsam secara merata dan ditutup dengan kaca penutup, kemudian preparat dikeringkan ke dalam elemen pengering selama 4 – 7 hari. Pembuatan preparat yang berasal dari kantung pupa tidak melalui proses pemanasan dalam alkohol dan perendaman dalam KOH 10%.
Identifikasi kutukebul dilakukan di bawah mikroskop cahaya dengan perbesaran 4x10, 10x10 dan 40x10. Buku kunci identifikasi yang digunakan untuk membantu dalam mengidentifikasi spesies kutukebul yaitu Whiteflies known to occur on bananas (Dooley & Evans 2006).
Pengamatan Kisaran Inang A. dugesii
Pengamatan keliling atau survei kisaran inang dilakukan untuk mengetahui tanaman-tanaman hortikultura yang terserang oleh kutukebul A. dugesii, survei dilaksanakan dengan menjelajahi setiap lokasi pengamatan (petak contoh) yang telah ditetapkan. Pengamatan tanaman inang kutukebul dilakukan pada lahan pertanian dan pekarangan pada setiap petak contoh (desa). Identifikasi tanaman hortikultura dengan menggunakan buku The mountain flora of java karangan Van Stennis (2006) dan 1001 Garden Plants in Singapore (2006).
Pengamatan Kepadatan PopulasiA. dugesii
Pengamatan kepadatan populasi dilakukan untuk mengetahui jumlah nimfa, pupa dan imago kutukebul pada tanaman hortikultura. Pengamatan dilakukan dengan menghitung jumlah nimfa, pupa dan imago kutukebul pada daun di setiap tanaman yang ditemukan terserang oleh kutukebul.
Pengamatan populasi nimfa, pupa dan imago pada tanaman yang berbentuk pohon dilakukan dengan mengambil 12 daun pada setiap tanaman yaitu bagian atas, tengah dan bawah serta masing-masing bagian diambil 4 helai daun arah mata angin. Sedangkan pada tanaman yang merambat seperti labu siam, kacang panjang dan lain-lain dilakukan pengambilan sampel daun sejumlah lima daun secara diagonal pada setiap rambatan. Pengambilan sampel
19 daun pada tanaman dengan kondisi khusus seperti jumlah daun yang terserang sedikit, pohon memiliki duri sehingga sulit untuk dilakukan pemanjatan maka jumlah sampel daun yang diamati disesuaikan. Daun yang akan diambil untuk pengamatan dipotong kemudian dimasukkan ke dalam plastik transparan (Andadari 2009). Pada perkebunan besar penentuan tanaman contoh dilakukan dengan cara diagonal diambil lima tanaman, sedangkan pada pekarangan atau perkebunan kecil pengamatan dilakukan langsung pada tanaman yang terserang. Penghitungan populasi nimfa, pupa dan imago dilakukan di laboratorium dengan menggunakan alat hitung tangan, mikroskop stereo dan kaca loup.
Pengamatan Kerusakan pada Tanaman Hortikultura
Penilaian kerusakan tanaman dilakukan berdasarkan gejala serangan kutukebul A. dugesii yang nampak pada tanaman yaitu berupa filamen lilin putih pada daun, terdapatnya embun jelaga pada daun, daun yang mengering dan tanaman yang mati (Gambar 6). Penilaian kerusakan dilakukan dengan perkiraan secara visual. Perkiraan langsung dilakukan terhadap setiap tanaman yang diamati, selanjutnya diperkirakan dengan nilai kerusakan tertentu. Pada tanaman yang berbentuk pohon, untuk memudahkan pengamatan dilakukan dengan membagi pohon menjadi empat kuadran pengamatan.
Gambar 6 Gejala serangan A. dugesii pada tanaman hortikultura, tanda panah menunjukkan gejala filamen lilin putih (A), embun jelaga (B), embun jelaga (C), daun kering (D), daun kering (E) dan tanaman mati (F)
D
B
A
C
F
E
20
Setiap kuadran diamati persentasi kerusakan daun yang terjadi kemudian dijumlahkan (apabila 1 pohon mati berarti nilai kerusakan adalah 100%). Sedangkan untuk tanaman merambat, pengamatan kerusakan dilakukan secara langsung pada rambatan.
Tingkat Kerusakan dan Kehilangan Hasil pada Tanaman Alpukat dan Labu Siam di Desa Citeko Kecamatan Cisarua
Pemilihan lokasi ditetapkan berdasarkan informasi yang diperoleh dari dinas pertanian yang menyebutkan bahwa Desa Citeko merupakan desa yang memiliki pertanaman alpukat dan labu siam cukup banyak diantara desa lainnya (Gambar 7).
Gambar 7 Lokasi survei kehilangan hasil akibat serangan kutukebul A. dugesii pada tanaman alpukat dan labu siam di Desa Citeko Kecamatan Cisarua 6°41'54"S;106°56'2"E
Desa Citeko terdiri dari 4 dusun, pengamatan dimulai dengan mencari lokasi pertanaman alpukat dan labu siam baik di lahan pertanian maupun pekarangan pada setiap dusun. Pengamatan tanaman pada setiap lokasi atau lahan dihitung dengan menggunakan alat penghitung. Komponen yang diamati saat survei antara lain melakukan penghitungan jumlah total tanaman alpukat,
Kec. Cisarua
21 jumlah tanaman terserang dan jumlah tanaman tidak terserang. Demikian pula dengan tanaman labu siam komponen yang diamati adalah jumlah pertanaman labu siam, jumlah pertanaman yang terserang dan tidak terserang. Hal ini dilakukan untuk mengetahui tingkat serangan A. dugesii pada tanaman alpukat dan labu siam di Desa Citeko.
Komponen selanjutnya adalah menghitung populasi kutukebul pada tanaman terserang. Pada tanaman alpukat pengamatan dilakukan pada 15 tanaman contoh yang berasal dari 3 dusun (5 pohon/dusun). Setiap tanaman contoh diambil 12 daun yaitu bagian atas, tengah dan bawah serta masing- masing bagian diambil 4 helai daun arah mata angin. Pada tanaman contoh juga diamati tingkat kerusakannya, dilakukan dengan membagi pohon menjadi empat kuadran pengamatan kemudian setiap kuadran diamati persentasi kerusakan yang terjadi. Pada tanaman labu siam penghitungan populasi dilakukan pada setiap lokasi pertanaman yang terserang. Pengamatan dilakukan dengan cara mengambil lima daun secara diagonal pada setiap rambatan, kemudian dihitung jumlah nimfa, pupa dan imago pada daun. Sedangkan untuk pengamatan kerusakan dilakukan secara langsung pada rambatan.
Perhitungan kehilangan hasil hanya dilakukan pada tanaman alpukat karena informasi hasil panen pada labu siam tidak diketahui. Labu siam hanya dijadikan sebagai tanaman pekarangan untuk konsumsi pribadi sehingga pemilik tanaman tidak pernah menghitung hasil panen tanaman tersebut. Data pendukung diperoleh dari pengisian kuisioner yang dilakukan kepada lima pemilik tanaman alpukat. Pertanyaan-pertanyaan untuk kuisioner telah disiapkan sebagaimana terdapat pada lampiran 3.
Perhitungan kehilangan hasil menggunakan rumus sebagai berikut: KH = A x B
KH = Kehilangan hasil (kg/tahun)
A = Volume panen tanaman tidak terserang kutukebul (kg/tahun) B = Tingkat Kerusakan (%)
Perhitungan kerugian ekonomi menggunakan rumus: KE = C x D
KE = Kerugian ekonomi (Rp) C = Kehilangan hasil (kg/tahun) D = Harga 1 kg buah alpukat