Tempat dan Waktu
Penelitian ini dilaksanakan pada lahan perkebunan kelapa sawit PT. Bhumireksa Nusasejati, Teluk Bakau Estate, Kecamatan Plangiran, Kabupaten Indragiri Hilir, Propinsi Riau, pada bulan Maret 2004 sampai bulan April 2005. Curah hujan rata-rata 247 mm/bulan dan suhu udara berkisar 27 oC sampai 31 oC dengan jenis tanah gambut hemik. Analisis hara jaringan tanaman dan tanah dilakukan di Laboratorium Kimia Kesuburan Tanah, Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Bahan dan Alat
Bahan tanaman yang digunakan adalah bibit tanaman lidah buaya (Aloe vera chinensis) berasal dari tanaman dewasa dengan tinggi bibit 20 cm dengan jumlah pelepah 5- 6 cm. Bahan lainnya adalah, pupuk Urea (45% N), pupuk Rock Phosphate (33% P2O5), pupuk KCl (10% K2O), Dolomit (22% MgO), pupuk mikro FeSO4.7H2O, MnSO4.4H2O, ZnSO4.7H2O, CuSO4.5H2O, fungisida Benlate, Dithane M-45, Bakterisida Bactomycin 15/5 WP, dan abu janjang kelapa sawit. Alat yang digunakan adalah peralatan pengolahan tanah, meteran, timbangan, tali, spayer, plastik, jangka sorong, serta bahan dan alat untuk analisis jaringan tanaman dan tanaman di laboratorium.
Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan bagian dari penelitian yang disusun secara faktorial dalam lingkungan acak kelompok terdiri dari 4 faktor. Faktor pertama dosis pupuk nitrogen, faktor kedua dosis pupuk fosfat, faktor ketiga dosis pupuk kalium dan faktor keempat dosis pupuk magnesium, dengan tiga ulangan maka diperoleh 256 kombinasi perlakuan sehingga terdapat 768 unit percobaan. Dosis pupuk perlakuan disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2. Dosis Perlakuan N, P, K, dan Mg Perlakuan Taraf N (g N/tan/1 bln) P (g P2O5 /tan/1 bln) K (g K2O/tan/1 bln) Mg (g MgO /tan/1 bln) 0 0 0 0 0 1 5 4 7,5 2,5 2 10 8 15 5 3 20 16 30 10
Keterangan : tan : tanaman, bln : bulan.
Untuk mengetahui pengaruh faktor tunggal N, P, K, dan Mg dan faktor NPKMg lengkap terhadap parameter yang diamati diambil beberapa perlakuan dari penelitian tersebut. Kemudian dikelompokkan menjadi 5 kelompok perlakuan terdiri dari :
1. Dosis pupuk NPKMg terdiri dari 4 perlakuan yaitu: perlakuan N0P0K0Mg0, N1P1K1Mg1, N2P2K2Mg2, dan N3P3K3Mg3.
2. Dosis pupuk N terdiri dari 4 perlakuan yaitu: N0P0K0Mg0 (N0), N1P0K0Mg0 (N1), N2P0K0Mg0 (N2), dan N3P0K0Mg0 (N3)
3. Dosis pupuk P terdiri dari 4 perlakuan yaitu: N0P0K0Mg0 (P0), N0P1K0Mg0 (P1), N0P2K0Mg0 (P2), dan N0P3K0Mg0 (P3).
4. Dosis pupuk K terdiri dari 4 perlakuan yaitu: N0P0K0Mg0 (K0), N0P0K1Mg0 (K1), N0P0K2Mg0 (K2), dan N0P0K3Mg0 (K3),
5. Dosis pupuk Mg terdiri dari 4 perlakuan yaitu: N0P0K0Mg0 (Mg0), N0P0K0Mg1 (Mg1), N0P0K0Mg2 (Mg2), dan N0P0K0Mg3 (Mg3),
Masing-masing kelompok di atas disusun menggunakan rancangan faktorial faktor tunggal dalam lingkungan acak kelompok dengan 3 ulangan sehingga diperoleh 12 unit percobaan untuk masing-masing kelompok dan terdapat total unit percobaan sebanyak 60 unit percobaan. Model linier aditif yang digunakan adalah:
Yij = µ + αi + βj + εij, dimana :
Yij = respon satuan percobaan µ = rerataan umum
αI = pengaruh perlakuan dosis pupuk βj = pengaruh aditif kelompok
εij, = pengaruh acak yang menyebar normal
Pelaksanaan Penelitian
Persiapan lahan
Lahan yang akan digunakan dibersihkan, selanjutnya dibuat parit keliling yang berfungsi untuk membuang air tanah yang berlebihan (drainase). Selanjutnya lahan dicangkul dan dibersihkan dari akar tanaman. Sebelum dilakukan penanaman lahan diolah dan digemburkan, kemudian dibuat petak dengan ukuran 4 m x 4 m sebanyak 768 petak percobaan dengan jarak antar petak 1 m, selanjutnya dibuat lubang tanam dengan ukuran 20 cm x 20 cm x 20 cm.
Penanaman
Penanaman dilakukan dengan cara memasukkan bibit lidah buaya pada lubang tanam dengan jarak tanam 1m x 1m. Bibit lidah buaya yang sudah memenuhi syarat adalah bibit dengan tinggi 25-30 cm yang memilki jumlah 5-6 pelepah. Sebelum ditanam akar dari bibit direndam dahulu dengan fungisida Benlate untuk menghindari terserang jamur. Satu minggu sebelum penanaman dilakukan pemberian pupuk dasar berupa abu janjang kelapa sawit 50 g/tanaman/lubang tanam.
Pemeliharaan
1 Penyiraman. penyiraman dilakukan sesuai dengan kebutuhan tanaman, terutama setelah tanam dan penyulaman.
2 Pembumbunan. pembumbunan bertujuan untuk memperbaiki drainase antar bedengan dan memperkokoh berdirinya tanaman. Dilakukan secara rutin dengan melihat kondisi dilapang.
3 Penyiangan. Penyiangan dilakukan setiap bulan dengan cara mencabut gulma dengan tangan atau kored.
4 Penyulaman. Penyulaman dilakukan bila terdapat tanaman yang mati. 5 Pemupukan. Pemupukan N, P, K dan Mg dilakukan 1 bulan sekali sesuai
dengan dosis perlakuan. Pemberian hara mikro FeSO4.7H2O, MnSO4.4H2O, ZnSO4.7H2O, CuSO4.5H2O ddeennggaannddoossiiss22ppppm dilakukan 2 bulan sekali.m
6 Pengendalian hama dan penyakit Pengendalian penyakit dilakukan dengan penyemprotan fungisida Dithane M-45, Benlate dan bakterisida Bactomycin serta dilakukan pencegahan dengan cara memperbaiki drainase dan menjaga sanitasi lahan.
Pengamatan
Peubah yang diamati dalam penelitian ini adalah :
1. Bobot basah total tanaman, pelepah total, pelepah setiap daun, akar, batang, ditimbang Dilakukan pada saat tanaman berumur 42 minggu setelah tanam.
2. Bobot kering total tanaman, pelepah total, pelepah setiap daun, akar, batang. Dilakukan pada saat tanaman berumur 42 minggu setelah tanam,. dengan memisahkan bagian tanaman kemudian ditimbang bobot basah. Sampel dioven pada suhu 105 oC selama 24 jam kemudian dilakukan penimbangan bobot kering. Untuk pelepah daun bobot kering dilakukan pada beberapa sampel saja kemudian dilakukan perhitungan kadar airnya yang digunakan untuk menghitung bobot kering.
BB - BKT % KA BKT X 100 % Keterangan : KA = Kadar Air
BKT = Bobot Kering Oven BB = Bobot Basah
3. Analisis hara jaringan tanaman meliputi analisis kandungan N, P, K dan Mg.
4. Serapan hara pelepah dengan rumus :
Serapan Hara = % unsur dalam jaringan x bobot kering tanaman
5. Analisis hara tanah dilakukan untuk keadaan sebelum penelitian meliputi: analisis C-organik, pH, N, P, K, Ca, Mg, Cu, Mn, Fe, Zn, dan sesudah penelitian meliputi analisis C-organik, pH, N, P, K, dan Mg.
Metode analisis yang digunakan dalam analisis hara tanah dan tanaman terdapat pada Tabel 3.
Tabel 3. Metode Analisis Hara Tanah dan Tanaman
Hara Ekstraksi Cara penetapan
N total P total P-tersedia K-total K-tertukar Ca-tertukar Mg-tertukar Fe(ppm) Cu (ppm) Zn (ppm) Kjeldahl H2SO4 HCl 25 % Bray I HCl 25 % NH4O asetat 1 N NH4O asetat 1 N NH4O asetat 1 N NH4O asetat 1 N NH4O asetat 1 N NH4O asetat 1 N Auto titrasi Spektrofotometer Spektrofotometer Spektrofotometer Flame fotometer AAS AAS AAS AAS AAS Analisis Data
Data hasil penelitian dari tiap peubah pengamatan dianalisis mengunakan uji F pada taraf kesalahan 1% dan 5%. Untuk mengetahui pola respon peubah terhadap perlakuan dilakukan uji polinomial ortogonal dan kemudian dilanjutkan dengan uji regresi bagi peubah yang nyata dipengaruhi oleh perlakuan.