• Tidak ada hasil yang ditemukan

Benefit Cost Ratio (BCR) adalah perbandingan antara pendapatan dan biaya yang didiskonto. Suatu usaha yang memiliki nilai BCR lebih besar dari satu dikatakan layak (feasible) dan bila terjadi sebaliknya, maka usaha tersebut dikatakan tidak layak (unfeasible).

Nilai IRR dan BCR menentukan tingkat efesiensi suatu usaha dalam penggunaan sumberdaya apakah efisien atau tidak. Sedangkan NPV adalah ukuran absolut yang ditentukan oleh umur usaha, yang berarti NPV pada umumnya akan menjadi besar sesuai dengan besarnya umur usaha. Jika terdapat sejumlah modal atau dana uang pada suku bunga tertentu akan dipilih proyek yang mempunyai nilai NPV, BCR dan IRR terbesar.

Usaha Perdagangan Karbon pada Hutan Alam Produksi

Carbon sink merupakan istilah yang sering dipakai di bidang perubahan iklim. Istilah ini berkaitan dengan fungsi hutan sebagai penyerap (sink) dan penyimpan

(reservoir) karbon. Emisi karbon ini umunya dihasilkan dari kegiatan pembakaran bahan bakar fosil dari sektor industri, transportasi dan rumah tangga (Rusmatoro 2006).

Perdagangan emisi karbon mampu memberikan NPV positif lebih awal dalam rotasi dibandingkan dengan waktu yang dicapai pada pengelolaan hutan sebagai penghasil kayu, menggeser break-even point finansial dan secara umum meningkatkan nilai Internal Rate of Return (IRR). Pengelola hutan dimungkinkan memilih untuk mengelola tegakannya dengan tujuan murni penyerapan karbon atau mengkombinasikan antara menghasilkan kayu dan karbon (Harrisonet al. 2000). Biomassa

Biomassa adalah berat dari bahan tanaman hidup yang terdapat di atas maupun di bawah suatu unit luas permukaan tanah pada suatu titik pada waktu tertentu ( Catur, 2002). Pendugaan biomassa ini sangat diperlukan, khususnya pada hutan-hutan di daerah tropis karena berpengaruh besar dalam siklus karbon. Bila ditinjau dari sisi manajemen hutan, biomassa hutan sangat penting karena keseluruhan operasional pengelolaan hutan sangat dipengaruhi oleh potensi hutan melalui penentuan biomassa. Hutan-hutan tersebut mempunyai potensi yang besar dalam pengurangan kadar CO2 melalui konservasi dan manajemen tegakan hutan. Biomassa dapat memberikan informasi mengenai nutrisi dan kandungan karbon suatu tegakan secara keseluruhan.

Reduce Emission from Deforestation and Degradation (REDD)

REDD adalah mekanisme memberi insentif kepada negara-negara pemilik hutan untuk mempertahankan hutan mereka dari deforestasi dan degradasi. Degradasi hutan merupakan sumber utama emisi gas rumah kaca. Di Indonesia stok hutan berkurang 5% setiap tahun akibat degradasi (Marklund dan Schoene 2006 diacu dalam Mudiyarso et al, 2008). Degradasi di daerah tropis umumnya terjadi karena aktivitas logging, kebakaran hutan dalam skala besar, pengambilan kayu bakar dan hasil hutan non kayu, produksi arang, padang penggembalaan, dan perladangan berpindah (GOFC-GOLD 2008). IPPC (2003) menyebutkan ada lima karbon pool yang digunakan memonitoring deforestasi dan degradasi yaitu

biomassa bagian atas, biomassa bagian bawah, serasah, kayu mati, dan carbon yang berasal dari tanah.

Provinsi Papua mendedikasikan setengah dari total luas hutan produksinya untuk kepentingan mereduksi emisi karbon atau Reduction Emission from Deforestation in Developing Country. Seperempat dari luas hutan konversi Papua juga akan diperuntukkan bagi kepentingan Mekanisme Pembangunan Ramah Lingkungan atauClean Development Mechanism(CDM).

Komitmen pemerintah Papua dalam Konvensi Perubahan Iklim di Bali tahun 2007 menyediakan 15% (3.285.217 ha) dari total luas hutan produksi bagi kegiatan perdagangan karbon merupakan upaya yang cukup strategis dilihat dari kepentingan politik, namun dari sisi ekonomi dan sosial budaya hal tersebut belum memberikan jaminan yang pasti. Setiap 1 juta ha hutan produksi konversi yang diputuskan untuk tetap dipertahankan sebagai hutan alam (infact forest) dan diikutsertakan dalam program carbon trade melalui pendekatan pencegahan deforestasi (avoided deforestation), bisa menghasilkan penerimaan tunai sampai mencapai kurang lebih Rp 3 triliun (Suebu 2007). Apabila penerimaan ini diberikan kepada kurang lebih 2 juta penduduk Papua, maka setiap orang memiliki penerimaan cash sebesar Rp 1.500.000,- atau Rp 375.000,- per orang untuk hutan seluas 15% dari luasan hutan Papua untuk kepentingan tersebut.

Analisis Finansial dan Analisis Ekonomi

Tujuan dari analisis suatu usaha adalah untuk memperbaiki penilaian investasi akibat keterbatasan sumberdaya, sehingga perlu dilakukan pemilihan terhadap berbagai macam usaha. Kesalahan dalam melakukan penilaian berakibat pada pengorbanan sumber-sumber yang langka oleh karena itu sebelum usaha dilaksanakan perlu diadakan perhitungan percobaan untuk mengetahui hasil dan kemungkinan memilih alternatif lain dengan cara menghitung biaya dan manfaat yang dapat diharapkan dari masing-masing usaha (Kadariah 1986).

Analisis finansial dan analisis ekonomi merupakan dua alternatif yang dapat dipergunakan dalam evaluasi usaha. Analisis finansial atau analisis privat ditujukan untuk menghitung manfaat dan biaya usaha dari sudut pandang individu-individu atau swasta sebagai pihak yang berkepentingan dalam proyek. Analisis ekonomi atau

sosial ditujukan untuk menghitung manfaat dan biaya proyek dari sudut pandang pemerintah atau masyarakat secara keseluruhan sebagai pihak yang berkepentingan dalam usaha tersebut (McLeish, et al. 2002).

Menurut Gittinger (1986), pada dasarnya perhitungan dalam analisis finansial dan ekonomi berbeda dalam 4 (empat) hal yaitu :

1. Harga

Dalam analisis finansial harga yang digunakan adalah harga pasar. Harga ini telah memperhitungkan pajak dan subsidi, akan tetapi dalam analisis ekonomi harga yang dipergunakan adalah harga yang mencerminkan secara tepat nilai-nilai sosial ekonomi. Harga yang sudah disesuaikan ini disebut harga bayangan (shadow price) atau harga buku (accounting price) yang merupakanopportunity cost.

2. Pajak dan Subsidi

Dalam analisis ekonomi pajak dan subsidi digunakan sebagai pembayaran transfer. Pendapatan baru timbul oleh suatu usaha termasuk pajak-pajak yang ditanggung selama proses produksi dan pajak penjualan yang dibayar oleh pembeli pada waktu membeli produk hasil usaha. Pajak tersebut merupakan bagian dari manfaat usaha secara keseluruhan. Sebaliknya, subsidi dari pemerintah kepada usaha merupakan biaya masyarakat, karena subsidi menjadi pengeluaran dari sumberdaya sehingga perekonomian harus melakukan pengeluaran untuk menjalankan proyek. Dalam analisis finansial pajak dianggap sebagai biaya dan subsidi dianggap sebagai hasil (return).

3. Bunga

Bunga terhadap modal dalam analisis ekonomi tidak dipisahkan dan dikurangkan dari hasil bruto (gross return), karena modal merupakan bagian dari hasil bruto (total return) terhadap modal yang tersedia untuk masyarakat secara keseluruhan dan sebagai hasil keseluruhan. Bunga merupakan hal yang diperkirakan dalam analisis ekonomi. Dalam analisis finansial bunga dibedakan menjadi bunga yang dibayarkan kepada orang-orang luar dan bunga atas modal sendiri. Bunga yang dibayarkan kepada orang-orang yang meminjamkan uangnya pada kegiatan usaha dianggapcost. Bunga atas modal sendiri tidak dianggap sebagai biaya karena bunga merupakan bagian dari finansialreturn yang diterima.

4. Manfaat dan Biaya Usaha

Dalam hubungan dengan usaha segala sesuatu yang menambah pendapatan nasional atau menambah persediaan barang-barang konsumsi baik secara langsung maupun tidak langsung digolongkan sebagai manfaat usaha. Sebaliknya segala sesuatu yang berhubungan dengan pengurangan barang-barang konsumsi baik secara langsung maupun tidak langsung digolongkan sebagai biaya proyek.

Kontribusi Sektor Kehutanan terhadap Ekonomi Daerah

Dari berbagai indikator ekonomi pendapatan daerah merupakan salah satu indikator penting yang sering kali dirancukan pengertiannya dengan pendapatan masyarakat. Pendapatan daerah dalam nomenklatur pembangunan di Indonesia mencerminkan pendapatan yang diperoleh pemerintah daerah (Gambar 1).

Pendapatan daerah di Indonesia bersumber dari : Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana Perimbangan Pembangunan, Pinjaman Daerah, Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah lainnya, Hibah, Dana Darurat, dan lain-lain.

Berdasarkan Gambar 1 dapat dipahami bahwa Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang tinggi belum merupakan jaminan tingginya pendapatan masyarakat di suatu daerah. Namun demikian tingginya pendapatan asli daerah (PAD) dapat menjadi sumberdaya yang sangat penting bagi pemerintah daerah di dalam pengembangan wilayah termasuk peningkatan pendapatan masyarakat (Rustiadiet al, 2005).

Walaupun demikian pendapatan asli daerah jarang digunakan oleh suatu daerah bahkan negara sebagai ukuran produktivitas wilayah. Pada umumnya yang digunakan sebagai tolak ukur pembangunan daerah adalah Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atau Gross Domestic Regional Product (GDRP), karena ukuran ini yang paling operasional dan diterima secara universal oleh semua negara. Besarnya PDRB suatu wilayah yang diperoleh pada akhirnya akan berpotensi menjadi pendapatan daerah. PDRB merupakan total nilai barang dan jasa yang dihasilkan suatu daerah yang telah dihilangkan unsur-unsur intermediate-cost dalam kurun waktu tertentu.

Gambar 1. Sumber Pendapatan Daerah Berdasarkan UU 33/2004 Penerimaan Daerah dari Sektor Kehutanan

Secara operasional kegiatan pengusahaan hutan atau pemanfaatan hutan diatur dalam UU No 41 Tahun 1999 tentang kehutanan dan PP No 6 Tahun 2007 jo PP 3 Tahun 2008 tentang Tata Hutan dan Penyusunanan Rencana Pemanfaatan Hutan. Berdasarkan kedua Undang-undang tersebut, terdapat 6 macam pungutan yang dikenakan kepada pengusaha:

Sumber-Sumber Penerimaan Daerah

Pendapatan Asli

Daerah (PAD) Dana Perimbangan Pinjaman daerah

Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah Lainnya yang dipisahkan Lain-lain Hibah, Dana Darurat, Penerimaan Lainnya Pajak Retribusi Keuntungan perusda Pengelolaan Aset Daerah Lain-lain D an a B ag i H as il D an a A lo k as i U m u m D an a A lo k as i K h u su s D al am N eg er i L u ar N eg er i B ag ia n L ab a D iv id en P en ju al an S ah am

Pajak Bumi dan Bangunan BPHTB Hasil hutan, tambang umum, perikanan Minyak Bumi Gas Alam Kebutuhan di luar alokasi umum Prioritas Nasional Dana Reboisasi Macthing grant

a. Iuran Izin Usaha Pemanfaatan Hutan (IIUPH) b. Dana Reboisasi (DR)

c. Provisi Sumberdaya Hutan (PSDH) d. Dana Jaminan Kinerja (DJK)

e. Dana Investasi Untuk Penelitian dan Pengembangan, Pendidikan dan Latihan, serta Penyuluhan Kehutanan.

f. Dana Investasi Pelestarian Hutan (DIPH)

Namun demikian pada saat ini yang sudah berjalan karena sudah ada aturan pelaksanaannya hanyalah tiga jenis pungutan yaitu IHPH/IIUPH, DR dan PSDH/IHH. Sedangkan untuk DJK, DIPH , dan Dana Investasi Untuk Penelitian dan Pengembangan, Pendidikan dan Latihan, serta Penyuluhan Kehutanan sama sekali belum diatur.

1. Iuran Hak Pengusahaan Hutan (IHPH/IUPHH)

Iuran Hak Pengusahaan Hutan (licence fee) merupakan iuran yang harus dibayar oleh pemegang HPH. Pungutan ini dikenakan hanya sekali pada saat penetapan konsesi. Dasar hukum pungutan ini adalah PP Nomor 22 Tahun 1967 perubahannya dengan PP Nomor 21 Tahun 1980.

Selain itu, tertuang juga dalam beberapa surat keputusan menteri sebagai berikut : SK Menteri Pertanian Nomor 415/Kpts/um/7/1979, SK Menhut Nomor 479/Kpts-II/1992, serta SK Dirjen PH Nomor 403/KPts/IV-TPHH/1989.

2. Provisi Sumberdaya Hutan (PSDH)

PSDH adalah nilai hasil hutan yang menjadi bagian pemerintah sebagai pemilik sumberdaya. Nilai ini ditentukan harga jual dan jumlah/volume hasil hutan yang dijual. Iuran PSDH ditetapkan berdasarkan Surat Edaran Dirjen BPK Nomor 02/VI-BIKPHH/2005, penetapan harga patokan PSDH berdasarkan Surat Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 436/MPP/Kep/7/2004, sedangkan tarif PSDH berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 74 Tahun 1999. Petunjuk teknis tentang tata cara pengenaan, pemungutan, pembayaran, dan penyetoran PSDH diatur dengan keputusan Menteri Kehutanan Nomor 124/Kpts-II/2003.

3. Dana Reboisasi

Jenis pungutan ini pertama kali diberlakukan pada tahun 1980 dengan nama Dana Jaminan Reboisasi (DJR). Pungutan ini dikenakan terhadap setiap m3kayu yang diambil oleh HPH/IUPHHK sebagai dana jaminan reboisasi. Namun perkembangan selanjutnya pada tahun 1989 pungutan berubah menjadi Dana Reboisasi (DR), dengan ketentuan HPH/IUPHHK wajib melakukan penanaman pengayaan di areal HPH/IUPHHK dan tetap membayar DR. Dana ini juga identik dengan Dana Jaminan Kinerja (DJK), Dana Investasi Pelestarian Hutan (DIPH) (Tim Fahutan IPB, 2003). Dana Reboisasi berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2002 merupakan dana untuk reboisasi dan rehabilitasi hutan serta kegiatan pendukungnya yang dipungut dari Pemegang Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan dari hutan alam yang berupa kayu.

Penentuan tarif DR berdasarkan PP Nomor 29 Tahun 1999, sedangkan petunjuk teknis tentang tata cara pengenaan, pemungutan, pembayaran, dan penyetoran DR diatur dengan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 128/Kpts-II/2003.

4. Pajak Bumi dan Bangunan (PBB)

Pajak merupakan iuran yang diwajibkan kepada warga negara untuk disetor kepada kas negara berdasarkan undang-undang, dengan tidak mendapatkan jasa timbal balik yang langsung, dapat ditujukan dan digunakan untuk membayar pengeluaran umum (Mardiasmo 2006). Pajak Bumi dan Bangunan adalah pajak yang dikenakan terhadap bumi dan bangunan.

Areal konsesi HPH merupakan salah satu obyek pajak, wajib dibayarkan PBB yang besarnya tergantung luasan dan bangunan yang ada. Jika pada luasan terdapat areal yang tidak produktif maka pemegang konsesi dapat mengajukan pengurangan pembayaran. Dasar hukum penetapan PBB adalah UU No. 12 Tahun 1985 sebagaimana telah diubah dengan UU No. 12 Tahun 1994.

Jumlah dan jenis pungutan ini berimplikasi terhadap kelestarian hutan. Disamping pungutan-pungutan pemerintah pusat dengan adanya desentralisasi kehutanan pungutan di tingkat daerah semakin banyak baik jumlah maupun jenis. Hal ini berarti beban pengusaha makin besar sehingga untuk mempertahankan

kelayakan usaha berbagai cara dapat ditempuh termasukillegal logging. Model dan Simulasi

Model merupakan abstraksi dari kenyataan sebenarnya (Hannon dan Ruth, 1994; Grant et al 1997; Banks et al. 1999), yang merupakan penggambaran formal elemen-elemen esensial dari suatu masalah (Grant at el. 1997).

Selain itu model didefinisikan sebagai representasi dari suatu sistem untuk tujuan studi sistem. Model penting untuk mempertimbangkan aspek yang diteliti dari sistem yang mempengaruhi sistem yang diinvestigasi. Aspek-aspek ini direprensetasikan dalam model dari sistem. Disamping itu, model secara detail cukup memungkinkan kesimpulan yang valid untuk menjelaskan sistem yang nyata (real system). Komponen dari sistem adalah unsur (entitas), atribut dan aktifitas dari model.

Pembangunan suatu model dapat membantu menganalisa data dari petak percobaan dan observasi. Model dapat membantu mensintesis dan mengkomunikasi pengetahuan yang ada dan mengidentifikasi kesenjangan pemahaman kita. Pemodelan memungkinkan cara yang paling efisien untuk menguji data percobaan, menginvestigasi implikasi dan merumuskan petunjuk silvikultur yang optimal (Vanclay 2002).

Model adalah suatu bentuk yang dibuat untuk menirukan suatu gejala atau proses. Model biasanya diambil dari berbagai asumsi yang berhubungan dengan operasi sistem. Asumsi ini diekspresikan dalam hubungan matematik, logik dan simbolik antara obyek atau unsur (entities) dari sistem.

Model dapat dikelompokan menjadi model kualitas, model ikonik dan model kuantitatif. Model kuantitatif adalah model yang berbentuk rumus matematik, statistik atau komputer. Model matematik sering dibagi dalam 2 kategori yaiti model statik dan model dinamis. Model statik mempelajari tentang perilaku sistem yang statis (tidak memasukan unsur waktu). Sedangkan model dinamis membantu kita berpikir tentang bagaimana suatu sistem berubah menurut waktu. Pertumbuhan (growth), kerusakan (decay) dan osilasi adalah dasar dari pola sistem dinamis.

Model simulasi dapat digunakan untuk (1) analisa terperinci dari kebijakan tertentu, (2) analisa sensitifitas (3) perbandingan antara beberapa alternatif kebijakan (skenario) dan (4) perilaku antara biaya dan manfaat (Eriyatno 1999).

Pendekatan Sistem Dinamik

Menurut Eriyatno (1999) sistem adalah totalitas himpunan hubungan yang mempunyai struktur dalam nilai posisional serta matra dimensional terutama dimensi ruang dan waktu.

Sistem dapat dibayangkan sebagai suatu koleksi yang terisolir dari komponen-komponen yang berinteraksi. Elemen-elemen sistem dapat berupa benda, fakta, metode, prosedur kebijakan, bagian organisasi, dan sebagainya. Hubungan antar sistem dapat berupa transaksi, interaksi, transmisi, koreksi kaitan, hubungan, dan lain-lain. Dalam sistem terdapat proses transformasi yang mengolah input menjadi output sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.

Menurut Eriyatno (1999), terdapat tiga pola pikir yang menjadi pegangan pokok oleh para ahli sistem dalam menganalisis permasalahan yaitu (1) sibernetik (cybernetic), yaitu berorientasi pada tujuan, (2) holistik (holistic), yaitu cara pandang yang utuh terhadap keputusan sistem, dan (3) efektif (effectiveness), yaitu prinsip yang lebih mementingkan hasil guna yang operasional serta dapat dilaksanakan daripada pendalaman teoritis untuk mencapai eksistensi keputusan. Para ahli memberikan batasan permasalahan yang sebaiknya menggunakan pendekatan sistem dalam pengkajiannya, yaitu permasalahan yang memenuhi karakteristik : (1) kompleks, (2) dinamis dan (3) probabilistik

Sistem dinamik adalah studi mengenai perubahan sistem menurut waktu dengan memperhatikan faktor umpan balik (Purnomo 2004). Sistem dinamik adalah metodologi yang dapat digunakan untuk memahami suatu permasalahan yang rumit dan kompleks. Model sistem dinamik akan melibatkan input-input, hubungan dan output diantara bagian-bagian sistem dan model. Masalah-masalah yang akan dibuat model sistem dinamika harus memiliki sedikitnya dua ciri utama yaitu (1) bersifat dinamis, meliputi kuantitas yang berubah menurut waktu yang dapat digambarkan dalam bentuk grafik perubahan menurut waktu. (2) pemikiran mengenai umpan balik karena semua sistem pada dasarnya mempunyai sistem

umpan balik. Ekosistem hutan adalah suatu sistem yang kompleks yang terdiri dari berbagai interaksi komponen, dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, maka suatu motode khusus yaitu analisis sistem seharusnya diterapkan. Esensi dari analisis sistem bukan terletak pada kumpulan teknik kuantitatif, tetapi lebih pada strategi pemecahan masalah yang sulit atau tidak dapat dipecahkan secara matematis ataupun statistik, seperti disajikan pada Gambar 2.

Banyak

Banyak data Banyak data

Pemahaman rendah Pemahaman tinggi

(statistik) (fisika)

Sedikit data Sedikit data

Pemahaman rendah Pemahaman tinggi

Analisis Sistem dan Simulasi Sedikit

Rendah tinggi

Tingkat pemahaman proses relatif

Gambar 2. Perbandingan Metode Pemecahan Masalah (Grant et al. 1997)

Ju m la h d at a re la ti f

Kerangka pemikiran pengaturan hasil dalam pengelolaan hutan alam dapat dilihat pada Gambar 3. Kelestarian hasil, baik pengusahaan hutan seumur maupun tidak seumur adalah tercapainya suatu kondisi tertentu dari suatu tegakan hutan sehingga dapat diperoleh hasil secara lestari dengan cara pengaturan produktifitas hutan, baik pertumbuhan maupun pemungutan hasil. Hutan yang memiliki manfaat ganda (multiple use) baik secara ekonomi maupun ekologis merupakan ekosistem yang kompleks dan dinamik. Hutan tersebut dikelola berdasarkan unit-unit yang sesuai dengan tujuan pengelolaan. Pengelolaan hutan sebagai suatu ekosistem harus menyesuaikan dengan keadaan lingkungan sekitar hutan (adaptif) sehingga diperoleh preskripsi spesifik yang memungkinkan keseimbangan dinamis ekosistem secara optimal (Purnomoet al. 2003; Purnomo, 2004). Oleh sebab itu pembagian unit-unit pengelolaan hutan ini harus berdasarkan karakteristik ekosistem wilayah setempat yang bersifat spesifik.

Pada setiap unit pengelolaan hutan terdapat kegiatan perencanaan, pemanenan dan pembinaan. Kegiatan perencanaan pangaturan hasil seperti penentuan preskripsi penebangan (intensitas penebangan dan siklus tebang) hutan yang optimal dilakukan berdasarkan kondisi tegakan awal, informasi biaya dan manfaat serta perilaku dinamika struktur tegakan. Intensitas dan siklus tebang optimal berimplikasi terhadap penerimaan pemerintah daerah dan penerimaan masyarakat adat dari kompensasi, yang didasarkan atas informasi biaya dan manfaat pengelolaan hutan. Perilaku dinamika struktur tegakan berdasarkan informasi pertumbuhan dan hasil yang diperoleh dari Petak Ukur Permanen (PUP). Pemahaman terhadap struktur tegakan tidak terlepas dari informasi keanekaragaman jenis pohon dalam PUP dan hutan primer.

Untuk menentukan preskripsi penebangan (intensitas dan siklus tebang) yang optimal dikembangkan model dinamika sistem yang terdiri dari model dinamika struktur tegakan, model pengembalian ekonomi dan model pengaturan hasil serta model penerimaan masyarakat adat. Sedangkan keanekaragaman jenis pohon merupakan informasi yang mendukung model dinamika struktur tegakan. Berbagai model simulasi yang berkaitan dengan intensitas penebangan dan siklus tebang dilakukan untuk menentukan preskripsi pengaturan hasil yang optimal dipandang dari aspek kelestarian produksi dan aspek ekonomi.

Hutan memiliki kompleksitas dan ketidakpastian, sehingga pemanfaatan hasil hutan kayu pada unit manajemen tidak dapat dilakukan secara parsial (terpisah) melainkan secara holistik. Salah satu pendekatan yang dapat mengakomodasi kompleksitas pengelolaan hutan adalah pendekatan analisis sistem dinamik (Grant et al. 997). Analisis sistem sebagai model holistik dapat memberikan skenario dampak dari setiap alternatif kebijakan dengan spektrum yang luas sehingga memudahkan pemilihan alternatif terbaik yang dapat diambil (Purnomo,et al 2003; Grantet al. 1997).

Informasi Keanekaragaman

Jenis

Petak Ukur Permanen

Gambar 3. Kerangka Pemikiran Model Dinamik Pengaturan Hasil Tidak Seumur

Pemanenan Inventarisasi Tegakan Awal Informasi Pertumbuhan & Hasil

Simulasi Model Dinamik Manfaat Ekonomi Manfaat Ekologis Perencanaan Pembinaan Pengaturan Hasil

Penentuan Intensitas Penebangan dan siklus Penebangan yang optimal

Model Pengembalian Ekonomi

Informasi Biaya dan Manfaat

Unit Manajemen Hutan (Kerakteristik Ekosistem) Petak Ukur Permanen Model Dinamika Struktur Tegakan Model Pengaturan Hasil Kelestarian Hasil Kontribusi terhadap Ekonomi masyarakat adat dan daerah

Lokasi dan Waktu Penelitian

Lokasi penelitian berada pada hutan hujan tropis dataran rendah, pada lokasi contoh hutan alam produksi pada wilayah konsesi IUPHHK PT. Bina Balantak Utama (BBU) Kabupaten Sarmi Propinsi Papua. Secara geografis kelompok hutan ini terletak di antara 138005’ - 139000’ Bujur Timur dan 01030’ -02030’ Lintang Selatan, dengan luas 325.300 ha. Pengumpulan data dilakukan pada bulan maret sampai dengan mei 2008 di lokasi PUP petak 56 KK RKT 2000/2001.

Gambar 4 Lokasi penelitian hutan alam produksi PT. BBU Kabupaten Sarmi Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan dalam penelitian adalah data primer pada tegakan hutan alam bekas tebangan dan tegakan hutan primer. Tegakan hutan alam bekas tebangan diambil dari Petak Ukur Permanen (PUP) yang terletak di blok-blok bekas tebangan yang telah dilakukan pengukuran dan pengamatan selama 5 tahun. Sedangkan data tegakan hutan primer diperoleh dari kawasan hutan primer yang berada dalam areal konsesi.

Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi : pita ukur, kompas, meteran, haga, tambang plastik, tally sheet, alat-alat tulis serta seperangkat Personal Computer dengan program-program aplikasi : Microsof Excel, dan Stella Research 9.0.2.

Metode Penelitian Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan meliputi : data pertumbuhan dan hasil tegakan, serta data struktur tegakan hutan primer. Data pertumbuhan tegakan yang digunakan dalam penelitian ini adalah hasil pengukuran PUP-PUP pada Blok RKT yang merupakan areal bekas tebangan 1-2 tahun dan hutan primer.

Data-data lain yang dikumpulkan berkaitan dengan aspek ekonomi adalah : produksi kayu bulat, pendapatan daerah, biaya -biaya TPTI, kompensasi bagi

Dokumen terkait