Selain untuk membunuh bakteri patogen beberapa peneliti menunjukkan bahwa curcumin dapat merangsang organ lambung, untuk menghasilkan cairan yang berfungsi terutama untuk pencernaan protein. Mukherjee et al. (1974) menemukan serbuk rimpang temulawak yang mengandung curcumin yang diberikan pada kelinci percobaan menunjukkan aktivitas peningkatan musin dalam cairan lambung. Kenyataan ini membuka peluang pemanfaatan curcumin untuk meningkatkan kecernaan makanan. Lee et al. (2003) menemukan serbuk rimpang temulawak yang mengandung curcumin yang diberikan pada kelinci percobaan menunjukkan aktivitas peningkatan musin dalam cairan lambung, hal ini akan melindungi lambung dari iritasi. Pemberian curcumin pada marmut dosis 50 mg/kg menunjukkan sifat melindungi lambung dari obat perangsang sakit lambung phenylbutazone (Sinha et al. 1974). Dengan meningkatnya produksi cairan lambung maka diharapkan akan diperoleh kecernaan protein yang lebih tinggi.
b. Pada Usus Halus
Usus diketahui sebagai organ untuk mencerna dan menyerap zat makanan yang diperlukan tubuh, respon usus dua belas jari dalam proses sekresi cairannya akibat berhubungan dengan pangan yang dikonsumsi, sebagian diatur oleh syaraf dan sebagian lagi diatur oleh hormon (Piliang 2000). Beberapa peneliti menemukan bahwa mekanisme curcumin dapat merangsang sekresi enzim dari usus halus seperti yang diuraikan oleh Platel dan Srinivasan, (2000) bahwa curcumin dapat merangsang sektresi enzim usus halus pada tikus antara lain lipase, sukrase dan maltase.
Rao et al. (1982), mempelajari aktivitas natrium curcuminat sebagai Antispasmodic pada ileum usus marmot sangat nyata dalam melawan efek spasmogen. Hasil penelitian menunjukkan aktivitas penghambatan spasmogen natrium curcumin merupakan penghambat tidak spesifik. Jadi dari penelitian ini pemberian curcumin dengan dosis yang tepat akan meningkatkan kecernaan makanan dengan meningkatkan sekresi enzim-enzim pencernaan dan menurunkan peristaltik usus, sehingga memberikan penyerapan zat-zat makanan hasil pencernaan lebih banyak. Sudah menjadi kebiasaan di
masyarakat luas untuk memberikan kunyit sebagai obat tradisional terhadap kelainan saluran pencernaan.
c. Pada Hati
Peranan curcumin terhadap hati ditemukan oleh Bawman (1983), bahwa rimpang temulawak mempunyai aktivitas kolagoga, yaitu meningkatkan produksi dan sekresi empedu yang bekerja kolekinetik dan koleretik. Bawman (1983) juga melaporkan tentang delapan penderita kelainan hati dengan pemberian 9,6 mg curcumin, setiap 10 menit sekresi empedu diamati, diperoleh dapat meningkatkan sekresi empedu yang terlihat nyata pada penurunan kadar bilirubin , kolesterin dan lipase para penderita. Secara umum peningkatan sekresi cairan empedu akan menyebabkan partikel padat dalam empedu berkurang, berdasarkan ini curcumin mempunyai prospek baik untuk digunakan pada gangguan metabolisme lemak yang berhubungan dengan metabolisme kolesterol. Berdasarkan beberapa hasil penelitian ini diharapkan pemberian curcumin dapat meningkatkan kecernaan lemak dan menghasilkan kualitas daging babi yang rendah akan kolesterol, karena curcumin meningkatkan sekresi dari empedu.
Sebagaimana diketahui bahwa pola penyakit di Indonesia (bahkan di dunia) telah mengalami pergeseran dari penyakit infeksi (yang terjadi sekitar tahun 1970 ke bawah) ke penyakit-penyakit metabolik degeneratif (sesudah tahun 1970 hingga sekarang). Hal ini seiring dengan laju perkembangan tingkat ekonomi dan peradaban manusia yang ditandai dengan pesatnya perkembangan ilmu dan teknologi dengan berbagai penemuan baru yang bermanfaat dalam pengobatan dan peningkatan kesejahteraan umat manusia. Akan tetapi timbul penyakit baru yang bukan disebabkan oleh jasad renik, melainkan oleh gangguan metabolisme tubuh akibat konsumsi berbagai jenis makanan yang tidak terkendali serta gangguan faal tubuh sejalan dengan proses degenerasi. Penyakit ini dikenal dengan sebutan penyakit metabolik dan degeneratif, yang termasuk penyakit metabolik antara lain : diabetes (kecing manis), hiperlipidemia (kolesterol tinggi), asam urat, batu ginjal dan hepatitis; sedangkan penyakit degeneratif diantaranya : rematik (radang persendian), asma (sesak nafas), ulser (tukak lambung), haemorrhoid (ambaien/wasir) dan pikun (lost of memory). Sebagaimana diketahui bahwa curcumin mempunyai khasiat meningkatkan sekresi empedu. Empedu diproduksi oleh sel hati
kemudian masuk ke dalam duodenum untuk membantu proses penyerapan. Empedu selain mengandung air, juga mengandung garam empedu, pigmen empedu, kolesterol dan lipida (Hadi, 1983).
Rao et al. (1970) menemukan bahwa tikus betina putih berat 45-50g umur 45 hari, diberikan 0,1 - 0,5% curcumin dalam ransum selama tujuh minggu, menunjukkan peningkatan ekskresi asam empedu dan kolesterol melalui feses, pada akhir penelitian kadar kolestrol darah dan sel hati menunjukkan penurunan. Djamhuri (1981) membandingkan juga obat penurun kolesterol yaitu atromid dengan curcumin dari temulawak terhadap enam ekor anjing dewasa berat 10- 12 kg, diperoleh bahwa dosis Atromid 75 mg/kg BB setara dengan dosis curcumin 400 mg/kg BB selama tiga hari menunjukkan terjadi penurunan kadar kolesterol darah tidak berbeda nyata pada dosis tersebut. Sunaryo et al. (1985) melakukan penelitian pemberian curcumin dosis 0.1 – 0.5 % dalam ransum tikus putih selama 30 hari menunjukkan dapat menurunkan kadar kolesterol serum darah dan meningkatkan persentase kolesterol HDL (High Density Lipoprotein) dalam serum. Berdasarkan hasil ini diperoleh bahwa selain menghilangkan antibiotik juga diharapkan pengganti ini dapat menghasilkan daging yang aman bagi konsumen, untuk mengurangi penyakit diatas.
d. Pada Pankreas
Pankreas adalah kelenjar yang membantu kecernaan makanan dengan menghasilkan beberapa enzim-enzim yang dapat mencerna karbohidrat, lemak dan protein, sekresi dari pankreas dirangsang oleh beberapa faktor diantaranya syaraf vagus, masuknya HCl ke dalam usus dua belas jari dan hormonal yang dihasilkan oleh usus dua belas jari (secretin) (Piliang 2000). Dengan pemberian curcumin, selain meningkatkan ekskresi empedu sebagai hasil produksi dari sel hati, juga meningkatkan sekresi pankreas, hal ini dibuktikan pada penelitian Bawman (1983) yang mengadakan pemeriksaan delapan penderita penyakit hati yaitu tampak kenaikan sekresi empedu dan pankreas, dan terlihat juga penurunan kadar lipase dan penurunan kadar bilirubin dan kolesterin. Chey et al. (1983). pemberian curcumin pada anjing dan manusia dapat meningkatkan sekresi pankreas dan bikarbonat dari pankreas. Platel dan Srinivasan (2000) menambahkan pemberian curcumin pada hewan tikus putih meningkatkan produksi enzim pankreas seperti lipase, amilase, tripsin dan khimotripsin.
Perjalanan dan Distribusi Curcumin dalam Tubuh (Farmakokinetik) Mutu suatu bahan aktif tergantung pada kinetik bahan tersebut dalam tubuh meliputi absorbsi, distribusi, metabolisme dan sekresi. Wahlstrom dan Blennow, (1978) memberikan curcumin secara oral pada tikus mengeluarkan dari tubuh cukup tinggi ditemukan pada feses dan sedikit pada urin.
Ravindranath dan Chandrasekhara (1980) melakukan pemberian curcumin 400, 80 dan 10 mg/ekor/hari pada tikus putih selama dua minggu. Satu jam pemberian, diperoleh 90% terakumulasi di dalam lambung dan usus halus, setelah 24 jam kadarnya tinggal 1%, dan absorbsi dalam usus halus 3 – 7 jam setelah pemberian melalui oral. Setelah lima hari sekitar 40% curcumin diekresikan melalui feses, dan sisanya 60% diabsorbsi oleh tubuh, pemeriksaan distribusinya dalam jaringan, curcumin tidak diketemukan dalam jantung, hanya sebagian kecil dalam pembuluh darah portal hati dan ginjal, penelitiannya juga menunjukkan bahwa curcumin tidak disekresikan melalui urin. Eliminasi curcumin paling tinggi dalam tinja. Pemberian dosis lebih rendah dari 80 dan 10 mg mg/e/h diekresikan setelah 72 jam, dosis lebih dari 400 mg diekresikan setelah 12 hari, pemberian curcumin dalam ransum, 60-66% curcumin dari dosis yang diberikan dapat diabsorbsi oleh tubuh. Dari data ini diketahui bahwa curcumin dengan cepat dikeluarkan dari dalam tubuh tikus. Tabel 2 menunjukkan bahwa penggunaan curcumin bagi beberapa hewan percobaan sangat efektif untuk pertumbuhan dan efisiensi penggunaan ransum, tetapi pada dosis yang berlebihan dapat mengakibatkan kerusakan jaringan atau organ.
Mikroflora Saluran Pencernaan
Saluran pencernaan babi mengandung sekitar 1014 mikroorganisme dimana > 90% merupakan mikroorganisme gram positif, bakteri anaerob, seperti Streptococci, Lactobacilli, Eubacteria, dan Peptostreptococci (Metzler et al. 2005). Kebanyakan mikroorganisme yang menempati saluran pencernaan adalah tidak berbahaya dan tidak menimbulkan penyakit intestinal. Bagaimanapun ada hubungan kompleksitas dari komunitas mikroorganisme saluran pencernaan, dan sebagian besar bakteri dalam saluran pencernaan babi belum dikelompok – kelompokkan. Jika dibandingkan dengan jumlah keseluruhan dari spesies bakteri yang ada dalam saluran pencernaan, hanya sedikit dari mereka (contoh: E coli, Salmonella spp) yang dapat mengganggu
keseimbangan mikroflora usus. Jumlah mikroorganisme dalam saluran pencernaan babi periode finisher dapat dilihat pada Tabel 3 dan 4.
Tabel 2. Dosis curcumin pada hewan percobaan
Peneliti Dosis Pengaruh
Ramdhan (1998) Aziz (1998) Martini (1998) Al-Sultan (2003) Bile et al. (1985) Gupta et al. (1980) Sinaga (2003) Tepung kunyit 1 – 1.5 % pada broiler Tepung kunyit 2% pada broiler Tepung kunyit 1 – 1.5 % pada kelinci Tepung kunyit 0.5% pada broiler Curcumin 240 dan 1551 mg/kg BB dalam ransum babi, Curcumin dan 100 mg/kg pada tikus. Tepung kunyit 0.4% pada babi
Mengurangi lemak abdominal dg tidak mempengaruhi persentase karkas. Pertambahan bobot badan harian tinggi Meningkatkan efisiensi ransum
Pertambahan bobot badan harian terbaik Kerusakan ginjal, hati dan kelenjar tiroid
Menujukkan gejala penyakit lambung. Aktivitas ulserogenik
Menunjukkan efisiensi ransum tertinggi, setara dengan 120 ppm.
Tabel 3. Jumlah mikroorganisme saluran pencernaan babi periode Finisher (transformasi logaritma)
Bagian saluran
pencernaan Bentuk coli Enterokoksi Laktobacillus Kapang Jamur
(Bahan makanan) 5.4* 4.9 3.0 0.8 3.3
Lambung 7.7 6.8 7.9 4.6 3.5
Usus kecil 9.3 6.7 7.8 4.6 3.5
Usus besar 9.2 8.0 8.2 4.4 4.0
Feces 9.9 7.8 8.5 4.1 4.0
Sumber: Horvath, et al. (1958), dilaporkan oleh Pond dan Manner (1974) dalam Parrakasi (1983). Keterangan: * Log dari sel – sel yang hidup/gram bahan kering.
Tabel 4. Hasil perhitungan bentuk antilog jumlah mikroorganisme saluran pencernaan babi finisher
Bagian saluran
pencernaan Bentuk coli Enterokoksi Laktobacillus Kapang Jamur (Bahan makanan) 251 189 79 433 1000 6 1995 Lambung 50 118 723 6 309 573 79 432 824 39 811 3162 Usus kecil 1 995 262 315 5 011 872 63 095 735 39 811 3162 Usus besar 154 893 192 100 000 000 158 489 319 25 119 10 000 Feces 7 943 282 347 39 810 717 316 227 766 12 589 10 000 Sumber: Horvath, et al. 1958. Dilaporkan oleh Pond dan Manner. 1974 dalam Parrakasi, 1983. Keterangan: * Log dari sel – sel yang hidup/gram bahan kering.
Pada babi yang sehat, keseimbangan ini didasari pada kompetisi yang cenderung konstan antara bakteri yang bersaing untuk melekat dan mendapat nutrisi dalam lumen dari saluran pencernaan (Metzler et al. 2005).
Total Plate Count
Total Plate Count (TPC) adalah salah satu metode yang digunakan untuk mengetahui jumlah total bakteri pada suatu sampel. Metode ini digunakan untuk melihat jumlah bakteri dari koloni bakteri yang terbentuk pada media agar yang dipersiapkan untuk pertumbuhan bakteri tersebut (Rusdi et al. 2001). Metode ini pertama kali diperkenalkan oleh Koch pada tahun 1880, setelah beliau mengembangkan agar media untuk pertumbuhan bakteri. Metode ini mengalami perkembangan hingga tahun 1916 menjadi suatu prosedur perhitungan bakteri yang dikenal dunia. Asumsi dasar dari metode ini adalah bahwa satu sel bakteri akan membentuk satu koloni bakteri yang dapat dilihat oleh mata telanjang dari seluruh tipe mikroorganisme pada sampel yang dianalisis untuk perhitungan jumlah total mikroba yang tumbuh pada satu media agar yang diinkubasi pada satu kondisi yang diatur (Cunningham dan Cox 1987).
Terdapat beberapa teknik pengambilan sampel dalam metode Total Plate Count (TPC) ini yaitu diantaranya teknik pour plate atau teknik tuang dan teknik swab atau teknik ulas. Pada teknik pour plate, sampel yang berupa padatan dicincang terlebih dahulu dan kemudian diencerkan dengan menggunakan NaCl fisiologis steril dengan perbandingan tertentu, lalu dituangkan pada agar media yang telah dipersiapkan. Lain halnya pada teknik swab yang dilakukan dengan mengulaskan permukaan sampel yang akan diuji kemudian ulasan tersebut diulaskan pada agar media yang telah dipersiapkan. Koloni mikroba yang terbentuk menunjukkan jumlah total bakteri pada sampel (Rusdi et al. 2001).
Koliform
Koliform merupakan kelompok bakteri gram negaif, tidak berspora, berbentuk batang, bersifat fakultatif anaerob, dapat memfermentasi laktosa, dan pada umumnya hidup dalam saluran pencernaan manusia dan hewan (Board 1988). Bakteri koliform dapat tumbuh pada rentang suhu yang cukup jauh yaitu dari – 2º – 50º C dan suhu optimum untuk pertumbuhannya adalah 37º C , dan juga hidup pada kisaran pH 4.4 sampai 9.0. Kelompok bakteri ini juga dapat tumbuh dengan baik pada media yang mengandung karbon organik dan nitrogen, dan masih tetap tumbuh pada garam empedu yaitu garam yang dapat menghambat pertumbuhan gram positif (Jay 1978).
Cunningham dan Cox (1987) menyebutkan bahwa ada 14 genera bakteri yang termasuk kedalam kelompok koliform, yaitu Escherichia coli, Shigella, Salmonella, Citrobacter, Klebsiella, Enterobacter, Erwinia, Serratia, Hafnia, Edwardsiella, Proteus, Morganella, dan Yersinia. Bakteri – bakteri koliform dapat dibedakan menjadi dua kelompok yaitu kelompok koliform fekal, misalnya Escherichia coli dan kelompok non-fekal misalnya Enterobacter aerogenes. Kelompok bakteri fekal berasal dari kotoran manusia dan hewan, sedangkan kelompok non-fekal ditemukan pada hewan atau tumbuhan yang sudah mati (Fardiaz 1989). Bakteri koliform merupakan kelompok bakteri yang bersifat membahayakan bagi kesehatan manusia (Cunningham dan Cox 1987). Agen yang termasuk infeksi mikroorganisme diantaranya adalah E. Coli, Vibrio cholerae, dan Shigella sp, sedangkan agen yang menghasilkan racun atau toksin penyebab penyakit antara lain adalah Clostridium botulinum, Cl. perfringens, dan Bacillus cereus. Bakteri koliform dapat dijadikan indikator adanya polusi kotoran dan kondisi sanitasi karena bakteri ini ditemukan berasal dari kotoran manusia dan hewan serta pada tanaman dan hewan mati.
Escherichia coli
Escherichia coli merupakan bakteri Gram negatif yang berbentuk batang, termasuk kedalam familia Enterobacteria. Escherichia coli disebut juga coliform fecal karena ditemukan dalam usus hewan dan manusia. Escherichia coli sering digunakan sebagai indikator kontaminasi kotoran (Fardiaz 1989). Escherichia coli berukuran 0.5-1.0 x 1.0-3.0 µm, motil, hidup secara anaerobic fakultatif, cenderung bersifat patogen bagi manusia, hewan dan tumbuhan. Kisaran suhu pertumbuhan Escherichia coli adalah antara 10 oC- 40 oC dengan suhu optimum 300C. Kisaran pH antara 7.0-7.5 dengan nilai Aw (aktivitas air) minimum untuk pertumbuhan adalah 0.96. bakteri ini sangat sensitif terhadap panas sehingga inaktif pada suhu pasteurisasi (70-800C) (Fardiaz 1989)
Bakteri Escherichia coli merupakan flora normal anaerob fakultatif pada saluran pencernaan manusia yang berperan penting dalam mempertahankan fisiologis usus, tetapi beberapa galur bersifat patogen dan dapat menyebabkan penyakit diare (Levine dan Edelman 1987). Pada saluran pencernaan, Escherichia coli menghasilkan endotoksin yang dapat meningkatkan sekresi cairan dan elektrolit, meyebabkan dehidrasi dan ketidakseimbangan larutan
elektrolit yang berakibat kolapsnya sistem peredaran darah yang diikuti stress dan kematian.
Bakteri Escherichia coli diduga menjadi penyebab utama diare apabila populasinya melebihi angka populasi normal (Mitsuoka 1990). Populasi normal bakteri Escherichia coli dapat dilihat pada Tabel 5. Berbagai galur Escherichia coli yang mungkin menyebabkan diare dengan salah satu dari dua mekanisme yaitu: dengan produksi enteroksin yang secara tidak langsung menyebabkan kehilangan cairan dan dengan invasi ke dalam lapisan epitelium dinding usus, yang menyebabkan peradangan dan kehilangan cairan (Volk dan Wheeler 1988).
Tabel 5. Populasi normal bakteri Escherichia coli pada organ usus
Organ Usus Populasi (CFU/gram)
Duodenum 1.3 x 102 Jejenum 3.2 x 102 Ileum 1.6 x 103 Cecum 4.0 x 107 Rectum 1.6 x 107 Sumber: Mitsuoka (1990)
Bakteri Escherichia coli pada babi dapat menyebabkan penyakit Enteritis colibacillosis (White Scours: Neonatal Scours; Coliform Scours; Baby Piq Scours) sehingga pertumbuhannya dapat menurun bahkan dapat menimbulkan kematian (Sihombing 1997).
Karkas Babi
Karkas babi merupakan bagian tubuh ternak setelah dilakukan pemisahan terhadap kepala, bulu, kuku dan isi rongga dada dan perut. Karkas babi yang dihasilkan berkisar antara 60-90% dari berat hidup tergantung pada kondisi, genetik, kualitas pakan dan cara pemotongan (Ensminger 1984). Selanjutnya Soeparno (2005) menambahkan bahwa bobot karkas babi kurang lebih tiga perempat bagian atau 75% dari bobot hidup. Karkas yang ditimbang pada saat pemotongan disebut karkas panas, selanjutnya bila selama 24 jam
atau lebih akan terjadi penyusutan bobot akibat penguapan dipermukaan karkas yang berkisar 1-3% tergantung dari lamanya penyimpanan (Tulloh 1978).
Persentase karkas adalah perbandingan antara bobot karkas dengan bobot potong yang dinyatakan dalam persen (Forrest et al. 1975). Bobot potong yang tinggi tidak selalu menghasilkan bobot karkas yang tinggi. Hal ini dikarenakan sering adanya perbedaan pada berat kepala, bulu, isi rongga dada dan perut (Soeparno 2005), oleh karenanya bobot potong lebih dari 90 kg memang meningkatkan hasil berat karkas tetapi persentase karkas yang dihasilkan akan menurun (Sihombing 1997). Bobot potong optimum dapat dicapai jika terdapat interaksi antara jenis pakan yang diberikan, cara pemberian pakan, bangsa ternak, jenis kelamin dan kematangan seksual (Davendra dan Fuller 1979).
Persentase karkas babi dibagi menjadi beberapa kelas, kelas 1 menurut USDA adalah 68-75% dari berat hidup (Forrest et al. 1975). Persentase ini lebih tinggi pada babi dibandingkan dengan ternak lain seperti domba dan sapi karena babi tidak mempunyai rongga badan yang terlalu besar serta babi mempunyai lambung tunggal. Besarnya persentase karkas dipengaruhi oleh faktor tipe dan ukuran ternak serta penanganan ternak, lamanya pemuasaan, serta banyaknya kotoran yang dikeluarkan (Soeparno 2005).
Biosintesis Kolesterol
Kolesterol yang mempunyai rumus molekul C27H45OH, merupakan
alkohol monohidrat dari derivat sterol yang tidak jenuh. Kolestrol dalam tubuh berasal dari dua sumber, yaitu dari makanan dan hasil biosintesis. Manusia rataan membutuhkan 1.1 g kolesterol/ hari untuk memelihara dinding sel dan fungsi fisiologis lain. Sebanyak 25-40% (200 – 300 mg) secara normal berasal dari makanan dan selebihnya disintesis dalam tubuh. Tempat sintesis kolesterol terutama pada hati, korteks adrenal, usus, kulit, testis dan aorta.
Kolesterol dalam makanan akan mempengaruhi biosintesis kolesterol. Penelitian pada tikus menunjukkan jika hanya 0.05% kolesterol dalam makanan maka 70 – 80% kolesterol hati, usus halus dan kelenjar adrenal disintesis dalam tubuh, tetapi jika kandungan kolesterol makanan naik menjadi 2%, maka biosintesis turun sampai 10 – 30%. Usaha untuk menurunkan kolesterol plasma pada manusia dengan mengurangi jumlah kolesterol dalam makanan adalah
efektif. Namun sebaliknya biosintesis tidak dapat seluruhnya ditekan dengan menaikkan konsumsi kolesterol melalui makanan.
Kolesterol dalam makanan diabsorbsi dalam usus, dan bersama-sama dengan lipida lainnya, termasuk kolesterol yang disintesis dalam usus (kolesterol endogenus), digabungkan dalam kilomikron dan VLDL (Vahouny et al. 1997). Kolesterol diserap dalam limfa 80 – 90% diesterkan dengan asam lemak rantai panjang, namun pengesteran dapat juga terja dalam mukosa usus. Bila sisa kilomikron masuk ke hati, banyak ester kolesterolnya dihidrolisis dan kolesterolnya yang diambil oleh hati, kemudian VLDL yang dibentuk akan mengangkut kolesterol ke dalam plasma.
konsentrasi curcumin yang terbaik pada babi kemudian dilanjutkan pada tahap kedua dengan menguji dosis yang terbaik dengan uji tantangan dengan Escherichia coli (ATCC 25922).