• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. DASAR TEORI TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Dasar Teori

2.1.1 Definisi Mesin AC Mobil

Mesin AC mobil adalah mesin yang di dalamnya terjadi siklus dari bahan

pendingin sehingga terjadi perubahan panas dan tekanan. Mesin AC mobil

menggunakan bahan pendingin (refrigerant) yang bersirkulasi menyerap panas dan melepaskan panas, serta terjadi perubahan tekanan rendah menjadi tekanan

tinggi. Sirkulasi tersebut berulang secara terus menerus. Dalam sistem AC mobil,

jumlah refrigeran yang digunakan adalah tetap, yang berubah adalah bentuknya.

AC mobildigunakan untuk mendinginkan udara di dalam kabin mobil.

Dalam penulisan skripsi ini penulis menggunakan AC mobil siklus

kompresi uap dengan putaran kompresor 1700 rpm.

Gambar 2.1 AC mobil

(Sumber : http://topbengkel.blogspot.com/2011/11/image-series-car-air-conditioner_10.html)

Gambar 2.2 Pemasangan AC pada mobil (Sumber : http://repairpal.com/heating-ac)

2.1.2. AC Mobil menggunakan Siklus Kompresi Uap

AC mobil pada umumnya bekerja dengan siklus kompresi uap. Komponen

utama AC mobil dengan siklus kompresi uap terdiri dari kompresor, katup

ekspansi, kondensor dan evaporator. Kompresor berfungsi untuk menaikkan

tekanan dan mensirkulasikan refigerant. Katup ekspansi berfungsi untuk menurunkan tekanan refigerant. Evaporator berfungsi untuk menyerap panas. Kondensor berfungsi untuk membuang panas.

2.1.2.1. Kompresor

Kompresor adalah suatu alat dalam AC mobilyang cara kerjanya dinamis

rendah ke tekanan tinggi). Kompresor bekerja menghisap sekaligus memompa

refigeran sehingga terjadi sirkulasi (perputaran) refigerant. Kompresor yang sering dipakai pada AC mobil adalah : swash plate, resipro (crank shaft) dan

wobble plate . Pada kompresor jenis swash plate, gerakan torak diatur oleh swash plate pada jarak tertentu dengan 6 atau 10 silinder. Ketika salah satu sisi pada torak melakukan langkah tekan, maka sisi yang lainnya melakukan langkah isap.

Pada dasarnya, proses kompresi pada tipe ini sama dengan proses kompresi pada

kompresor tipe crank shaft. Perbedaannya terletak pada adanya tekanan oleh katup isap dan katup tekan. Selain itu , perpindahan gaya pada tipe swash plate

tidak melalui batang penghubung (connecting rod), sehingga getarannya lebih kecil.

(b)

Gambar 2.3 Kompresor jenis swash plate (a) dan potongan (b)

(Sumber : http://globaldensoproducts.com/climate-control/car-air-conditioning-system/compressor/swash-plate-fixed-displacement-compressor/)

Selain kompresor swash plate terdapat juga kompresor resipro (crank shaft) dan wobble plate yang biasa digunakan dalam mesin AC mobil. Kompresor resipro (crank shaft) bekerja dengan memanfaatkan gerak putar dari mesin yang diterima oleh crank shaft kompresor. Di dalam kompresor gerak putar dari crank shaft diubah menjadi menjadi gerak bolak balik torak untuk menghisap dan memampatkan refrigerant. Prinsip kerja kompresor torak terdiri dari dua langkah, yaitu langkah hisap dan langkah kompresi. Saat langkah hisap torak bergerak

turun dari titik mati atas ke titik mati bawah, volume silinder mengembang

sehingga tekanan di dalam silinder turun atau terjadi kevakuman di dalam silinder.

Akibatnya katup hisap membuka dan refrigerant masuk ke dalam silinder. Proses ini berlangsung sampai torak mencapai titik mati bawah. Pada langkah kompresi,

pemampatan sehingga tekanan dan temperaturnya naik. Akibat tekanan

refrigerant yang tinggi, katup hisap akan menutup dan katup buang membuka sehingga refrigerant keluar dan mengalir ke kondensor.

Gambar 2.4 Kompresor resipro (crank shaft)

(Sumber : https://otogembel.files.wordpress.com/2012/09/bagian-bagian-kompresor-resipro.png)

Sedangkan kompresor wobble plate adalah kompresor yang mempunyai sistem kerja sama dengan kompresor tipe swash plate. Namun dibandingkan dengan kompresor tipe swash plate, penggunaan kompresor tipe wobble plate

lebih menguntungkan, diantaranya adalah kapasitas kompresor dapat diatur secara

otomatis sesuai dengan kebutuhan beban pendinginan. Selain itu, pengaturan

kapasitas yang bervariasi akan mengurangi kejutan yang disebabkan oleh kopling

magnet (magnetic clutch). Cara kerjanya, gerakan putar dari poros kompresor diubah menjadi gerak bolak-balik oleh plat penggerak (drive plate) dan wobble plate dengan bantuan guide ball. Gerakan bolak-balik ini selanjutnya diteruskan

ke torak melalui batang penghubung. Berbeda dengan jenis kompresor swash plate, kompresor jenis wobble plate hanya menggunakan satu torak untuk satu silinder. Meskipun jenis kompresor wobble plate mempunyai cara kerja dan konstruksi yang berbeda, namun pada prinsipnya sama, yaitu menekan refrigerant

dan menghasilkan laju aliran massa refrigerant.

Gambar 2.5 Kompresor wobble plate

(Sumber : https://otogembel.files.wordpress.com/2012/09/bagian-bagian-kompresor-tipe-wobble-plate.png)

Kompresor bekerja secara dinamis atau bergerak. Pergerakanya dengan

menghisap sekaligus memompa udara sehingga terjadilah sirkulasi (perputaran)

udara yang mengalir dari pipa‐pipa AC mobil. Fase refrigerant ketika masuk dan keluar kompresor berupa gas. Kondisi gas keluar kompresor berupa uap panas

lanjut. Suhu gas refigerant keluar dari kompresor lebih tinggi dari suhu kerja kondensor.

2.1.2.2. Kondensor

Kondensor adalah alat yang befungsi sebagai tempat kondensasi atau

penurunan suhu refigerant dari gas panas lanjut ke gas jenuh, proses dari gas jenuh ke cair jenuh, dan proses pendinginan lanjut. Proses pengembunan

refrigerant dari kondisi gas jenuh ke cair jenuh berlangsung pada tekanan dan suhu yang tetap. Saat ketiga proses berlangsung, kondensor mengeluarkan kalor

dari refrigerant ke udara lingkungan. Kalor yang dilepaskan kondensor dibuang keluar dan diambil oleh udara sekitar. Berdasarkan media pendinginannya,

kondensor dibagi menjadi 3 macam, yaitu kondensor berpendingin air, kondensor

berpendingin udara dan kondensor berpendingin air serta udara.

Kondensor yang sering dipakai pada mesin pendingin kapasitas kecil

adalah jenis pipa dengan jari-jari penguat, pipa dengan pelat besi dan pipa dengan

bersirip. Pada umumnya jenis kondensor yang sering dipakai pada AC mobil

adalah jenis pipa bersirip. Pada penelitian ini, kondensor yang digunakan adalah

kondensor pipa bersirip.

Gambar 2.6 Kondensor pipa bersirip

(Sumber : http://www.carid.com/replace/a-c-condenser-mpn-cnddpi4011.html)

2.1.2.3. Evaporator

Evaporator adalah tempat terjadinya perubahan fase refrigerant dari cair menjadi gas (penguapan). Pada saat proses perubahan fase, diperlukan energi

kalor. Energi kalor diambil dari lingkungan evaporator. Untuk AC mobil, energi

kalor diambil dari beban pendinginan di ruangan kabin mobil. Proses penguapan

freon di evaporator berlangsung pada tekanan dan suhu tetap. Jenis evaporator

yang banyak digunakan pada AC mobiladalah pipa bersirip.

Gambar 2.7 Evaporator pipa bersirip

(Sumber : http://www.carid.com/auto7/ac-evaporator-core.html)

2.1.2.4. Katup ekspansi

Katup ekspansi adalah salah satu alat ekspansi. Alat ekspansi ini

mempunyai dua kegunaan yaitu untuk menurunkan tekanan refrigerant dan untuk mengatur aliran refigerant ke evaporator. Katup ekspansi merupakan suatu pipa dan katup yang mempunyai diameter yang paling kecil jika dibandingkan dengan

pipa‐pipa lainnya. Penurunan tekanan refrigerant dikarenakan adanya gesekan dengan bagian dalam katup ekspansi. Proses penurunan tekanan dalam katup

ekspansi diasumsikan berlangsung pada entalpi konstan atau sering disebut

isoenthalpy (proses yang ideal ). Pada saat refrigerant masuk ke dalam katup ekspansi, refrigerant berada dalam fase cair penuh, tetapi ketika masuk evaporator fase refrigerant berupa campuran fase cair dan gas.

Gambar 2.8 Katup Ekspansi

(Sumber : http://www.asia.ru/en/ProductInfo/931301.html )

2.1.2.5. Receiver/Drier

Receiver/drier merupakan tabung penyimpan refrigerant cair, berisikan fiber dan desiccant (bahan pengering) untuk menyaring benda-benda asing dan uap air yang terikat pada sirkulasi refigerant. Receiver/Drier menerima cairan refrigerant bertekanan tinggi dari kondensor dan mengalirkan ke katup ekspansi (katup ekspansi). Filter / Reciever drier mempunyai 3 fungsi , yaitu : menyimpan refigerant, menyaring benda-benda asing dan uap air dan memisahkan gelembung gas dengan cairan refrigerant sebelum dimasukkan ke katup ekspansi.

Receiver drier dilengkapi dengan filter,desiccant, sight glass dan fusible plug.Filter berfungsi membersihkan kotoran yang ada dalam refrigerant. Jika

refrigerant kotor akan menyebabkan karat pada komponen-komponen pada sistem AC. Desiccant berfungsi untuk mencegah terjadinya pembekuan kotoran di dalam lubang katup ekspansi dan evaporator. Kotoran yang membeku tersebut

menghambat aliran refrigerant, fusible plug berfungsi sebagai alat sebagai alat pengaman . Jika kondensor rusak atau beban pendinginan berlebihan, maka

tekanan akan merusak komponen, dalam keadaan ini solderan khusus pada fusible plug meleleh sehingga refigerant dapat keluar. Dengan demikian, komponen tidak rusak dan solderan khusus tersebut meleleh pada suhu 950C sampai dengan

1000C.

Gambar 2.9 Receiver/Drier

(Sumber :

http://www.autoatlanta.com/porsche- parts/accessories.php?sec=Body&model=944%201982-85&subsec=A/C-and-Climate-Control)

2.1.2.6. Blower

Blower adalah alat yang berfungsi mensirkulasikan udara di dalam dan di luar kabin. Umumnya, blower yang sering digunakan adalah bertipe sirrocco.

Blower pada kabin terdiri atas motor penggerak dan blower/ sudu-sudu yang digerakkan. Blower berfungsi untuk memasukkan udara segar dan mensirkulasikan udara hasil pengkondisian ke dalam kabin.

Gambar 2.10 Blower

2.1.2.7. Kopling Magnet

Kopling magnet adalah alat yang berfungsi menghubungkan dan

memutus kompresor dengan motor penggeraknya. Cara kerja kopling magnet :

bila sakelar dihubungkan, magnet listrik akan menarik plat penekan sampai

berhubungan dengan roda pulley dan poros kompresor terputar. Pada waktu

sakelar diputuskan pegas plat pengembali akan menarik plat penekan sehingga

putaran motor penggerak terputus dari poros kompresor (putaran mesin hanya

Gambar 2.11 Kopling Magnet

(Sumber : http

://m-edukasi.kemdikbud.go.id/online/2008/sistemac/komponen.html)

2.1.3. Bahan Pendingin (Refrigerant)

Untuk terjadinya suatu proses pendinginan diperlukan suatu bahan yang

mudah diubah bentuknya dari gas menjadi cair atau sebaliknya. Bahan pendingin

ini disebut refrigerant. Refrigerant yaitu fluida atau zat pendingin yang memegang peranan penting dalam sistem pendingin. Refrigerant digunakan untuk menyerap panas melalui perubahan fase dari cair ke gas (evaporasi) dan

membuang panas melalui perubahan fase dari gas ke cair (kondensasi).

Refrigerant mengalami beberapa proses atau perubahan fase (cair dan uap), yaitu

refigerant yang mula-mula pada keadaan awal (cair) setelah melalui beberapa proses akan kembali ke keadaan awalnya. Berikut beberapa contoh refrigerant

yang ada di lapangan.

2.1.3.1. Udara

Penggunaan udara sebagai refrigerant umumnya dipergunakan dipesawat terbang, sistem pendingin menggunakan refrigerant udara menghasilkan COP yang rendah tetapi aman.

2.1.3.2. Amoniak (NH3)

Amoniak adalah satu-satunya refrigerant selain kelompok fluorocarbon

yang masih digunakan sampai saat ini. Walaupun amoniak (NH3) beracun dan

kadang-kadang mudah terbakar atau meledak pada kondisi tertentu, namun

amoniak (NH3) biasa digunakan pada instalasi-instalasi suhu rendah pada industri

besar.

2.1.3.3. Karbondioksida (CO2 )

Karbondioksida merupakan refrigerant pertama dipakai seperti halnya amoniak. Refrigerant ini kadang-kadang digunakan untuk pembekuan dengan cara sentuhan langsung dengan bahan makanan. Tekanan pengembunannya yang

tinggi membatasi penggunaannya hanya pada bagian suhu rendah, untuk suhu

tinggi digunakan refrigerant lain. Pada mobil produksi baru, beberapa jenis mobil menggunakan CO2 untuk refrigerant mesin pendingin udaranya.

2.1.3.4. Refrigerant-12

Refrigerant ini biasa dilambangkan R-12 dan mempunyai rumus kimia CCl2 F2(Dichloro Difluoro Methane). Refigerant jenis ini dilarang digunakan pada saat ini karena tidak ramah lingkungan. R-12 mempunyai titik didih -21,6 oF

(-29,8 oC) pada tekanan 1 atm. Untuk melayani refrijerasi rumah tangga dan

didalam pengkondisian udara kendaraan otomotif.

2.1.3.5. Refrigerant -22

Refrigerant ini biasa dilambangkan R-22 dan mempunyai rumus kimia CHClF2 . R-22 mempunyai titik didih -40,8 oC pada tekanan 1 atm. Refrigerant

ini telah banyak digunakan untuk menggantikan R-12, tetapi pada saat ini

penggunaan refigerant jenis ini dilarang untuk digunakan karena kurang ramah lingkungan.

2.1.3.6. HFC (Hydro Fluoro Carbon)

Refrigerant jenis ini yang saat ini paling sering digunakan karena memiliki sifat yang ramah lingkungan sehingga tidak merusak lapizan ozon.

Pada saat ini penulis memilih menggunakan jenis refigerant yang aman dipergunakan dalam sistem pendingin. Maka refigerant yang dipilih adalah

refigerant jenis HFC (hydro fluoro carbon) atau R-134a. Freon 134a ataupun HFC-134a adalah refrigerant haloalkana yang tidak menyebabkan penipisan ozon dan memiliki sifat-sifat yang mirip dengan R-12 (diklorodiflorometana). R134a

mempunyai rumus molekul CH2FCF3 dan titik didih pada−96,6 °C pada tekanan 101,321 kPa (1 atm). Secara khusus sifat dari refigerant 134a adalah tidak mudah terbakar, tidak merusak lapisan ozon, tidak beracun, tidak berwarna, tidak berbau,

relatif mudah diperoleh, memiliki kestabilan yang tinggi, dan umur hidup

atmosfer pendek.

2.1.4. Siklus Kompresi Uap

Komponen utama dari sebuah siklus kompresi uap adalah kompresor,

evaporator, kondensor dan katup ekspansi. Gambar 2.12. adalah skema susunan

komponen utama dari kompresi uap.

Gambar 2.12 Skema siklus kompresi uap

2.1.5. Tahapan Siklus Kompresi Uap

Untuk mengetahui tahapan siklus kompresi uap pada AC mobil, digunakan

diagram P-h. Dengan adanya diagram P-h, dapat diketahui proses-proses yang

terjadi dalam suatu siklus kompresi uap pada AC mobil. Siklus kompresi uap

Gambar 2.13 Siklus kompresi uap dengan pemanasan lanjut dan pendinginan lanjut pada diagram P-h.

Gambar 2.14 Siklus kompresi uap dengan pemanasan lanjut dan pendinginan lanjut pada diagram T-s.

Keterangan proses-proses pada Gambar 2.13 dan Gambar 2.14 adalah sebagai

berikut :

Proses ini dilakukan oleh kompresor. Kondisi awal refrigerant pada saat masuk ke dalam kompresor adalah uap panas lanjut (superheated) bertekanan rendah,

setelah mengalami kompresi refrigerant akan menjadi uap panas lanjut (superheated) bertekanan tinggi. Karena proses ini berlangsung secara isentropik

(iso entropi atau entropi tetap), maka temperatur keluar kompresor pun

meningkat. Proses 1 - 2 adalah kompresi isentropik adiabatis. Dalam proses ini

diperlukan tenaga dari luar untuk menggerakkan kompresor (Win).

 Proses 2-2’ (Proses Penurunan Suhu Gas Panas Lanjut)

Proses ini adalah proses penurunan suhu dari das panas lanjut ke gas jenuh.

Proses ini berlangsung di kondensor. Proses berlangsung pada tekanan yang tetap.

Pada saat proses, kalor dari refrigerant dibuang keluar, sehingga suhunya turun. Perpindahan kalor dapat terjadi karena suhu refrigerant lebih tinggi dibandingkan dengan suhu udara di sekitar kondensor.

 Proses 2’-3’ (Proses Pengembunan)

Proses ini berlangsung di dalam kondensor. Refrigerant yang bertekanan tinggi dan bertemperatur tinggi akan membuang kalor sehingga fasenya berubah dari gas

jenuh menjadi cair jenuh. Hal ini berarti bahwa di dalam kondensor terjadi

pertukaran kalor antara refrigerant dengan lingkungannya. Proses ini berlangsung pada tekanan dan suhu tetap, meskipun refrigerant mengeluarkan kalor.

 Proses 3’-3 (Proses Pendinginan Lanjut)

Pada proses pendinginan lanjut terjadi penurunan suhu. Proses pendinginan

lanjut membuat membuat refrigerant yang keluar dari kondensor benar-benar dalam keadaan cair. Hal ini membuat refrigerant lebih mudah mengalir melalui

katup ekspansi dalam sebuah sistem pendingin. Proses ini terjadi pada entalpi

tetap.

 Proses 3-4 (Proses Penurunan Tekanan)

Proses penurunan tekanan ini berlangsung di katup ekspansi. Pada proses ini

tidak terjadi perubahan entalpi tetapi terjadi penurunan tekanan dan temperatur.

Katup ekspansi selain berfungsi menurunkan tekanan dan suhu, berfungsi untuk

mengatur laju aliran refrigerant. Pada proses ini, refrigerant mengalami perubahan fase dari fase cair menjadi campuran cair dan gas.

 Proses 4-1’(Proses Pendidihan)

Proses ini berlangsung didalam evaporator. Panas dari dalam ruangan akan

diserap oleh cairan refrigerant bertekanan rendah sehingga refrigerant berubah fase dari campuran cair dan gas menjadi gas bertekanan rendah. Kondisi

refrigerant saat masuk evaporator dalam fase campuran cair dan gas. Proses pendidihan berlangsung pada tekanan konstan, dan suhu konstan.

 Proses 1’-1 (Proses Pemanasan Lanjut)

Pada proses pemanasan lanjut terjadi kenaikan suhu. Proses berlangsung pada

tekanan konstan. Dengan adanya pemanasan lanjut, refrigerant yang akan masuk ke dalam kompresor benar-benar dalam kondisi gas. Hal ini membuat kompresor

bekerja lebih ringan dan aman.

2.1.6 Rumus-Rumus Perhitungan Karakteristik Untuk Mesin Pendingin.

Dalam analisa unjuk kerja mesin pendingin diperlukan beberapa rumusan

per satuan masa refrigerant, kalor yang diserap evaporator per satuan massa

refrigerant, COP aktual, COP ideal, efisiensi dan laju aliran massa. a) Kerja Kompresor.

Besar kerja kompresi per satuan massa refrigerant dapat dihitung dengan menggunakan Persamaan (2.1).

Win = h2– h1 (2.1) Pada Persamaan (2.1) :

o Win : kerja kompresor persatuan massa refrigerant(kJ/kg)

o h1 : entalpi refrigerant saat masuk kompresor (kJ/kg)

o h2 : entalpi refrigerant saat keluar kompresor (kJ/kg) b) Kalor yang dilepas kondensor

Besar kalor per satuan massa refrigerant yang dilepas kondensor dapat dihitung dengan menggunakan Persamaan (2.2)

Qout = h2– h3 (2.2) Pada Persamaan (2.2) :

o Qout : besar kalor persatuan massa refrigerant yang dilepas kondensor (kJ/kg)

o h2 : entalpi refrigerant saat keluar kompresor (kJ/kg)

o h3 : entalpi refrigerant saat masuk katup ekspansi (kJ/kg)

c) Kalor yang diserap evaporator

Besar kalor per satuan massa refrigerant yang diserap evaporator dapat dihitung dengan menggunakan Persamaan (2.3)

Qin = h1– h4 (2.3) Pada Persamaan (2.3) :

o Qin : besar kalor persatuan massa refrigerant yang diserap evaporator (kJ/kg)

o h1 : entalpi refrigerant saat masuk kompresor (kJ/kg)

o h4 : entalpi refrigerant saat masuk evaporator (kJ/kg) d) Coefficient Of Performance (COP aktual)

COP dipergunakan untuk menyatakan perfomance (unjuk kerja) dari siklus refrijerasi. Semakin tinggi COP yang dimiliki oleh suatu mesin pendingin maka

akan semakin baik mesin pendingin tersebut. COP tidak mempunyai satuan

karena merupakan perbandingan antara dampak refrigerasi (h1-h4) dengan kerja

kompresor (h2-h1) dinyatakan dalam Persamaan (2.4)

COP aktual =

−ℎ4

−ℎ (2.4)

Pada Persamaan (2.4) :

o COP aktual : koefisien prestasi mesin AC mobil aktual

o h1 : entalpi refrigerant saat masuk kompresor (kJ/kg)

o h2 : entalpi refrigerant saat keluar kompresor (kJ/kg)

o h4 : entalpi refrigerant saat masuk evaporator (kJ/kg) e) COP ideal (Coefficient Of Performance).

Besarnya koefisien yang menyatakan performance dalam posisi ideal pada siklus kompresi uap dapat dihitung dengan Persamaan (2.5)

COP ideal =

−� (2.5)

o COP ideal : koefisien prestasi maksimum mesin AC mobil,

o Te : suhu evaporator (K)

o Tc : suhu kondensor (K)

f) Efisiensi mesin AC mobil

Besarnya efisiensi mesin AC mobil dapat dihitung dengan menggunakan

Persamaan (2.6)

h =

� � � % (2.6)

Pada Persamaan (2.6) :

o COPideal : koefisien prestasi maksimum mesin AC mobil

o COPaktual : koefisien prestasi aktual mesin AC mobil

g) Laju liran massa refrigerant.

Besarnya laju aliran massa refrigerant dapat dihitung dengan mempergunakan Persamaan (2.7) m = � / �� = �� (2.7) Catatan : 1 watt = 1 J/s Pada Persamaan (2.7) :

o m : laju aliran massa refrigerant (kg/s)

o V : Voltase kompresor (v)

o I : Arus kompresor (ampere)

o Win: kalor besar kerja kompresor (kJ/kg)

Dengan bantuan diagram tekanan-entalpi, besaran yang penting seperti

kerja kompresor, kerja kondensor, kerja evaporator dan COP dalam siklus

kompresi uap dengan pemanasan lanjut dan pendinginan lanjut dapat diketahui.

Dalam penggunaan diagram entalpi-tekanan tergantung jenis bahan pendingin

(refrigerant) yang dipakai. Untuk diagram tekanan-entalpi pada jenis refrigerant

Gambar 2.15. Grafik P-h untuk refrigerant R134a (Sumber : http://www.engr.siu.edu)

2.1.7. Perpindahan Kalor

Perpindahan kalor (heat transfer) terjadi karena adanya perbedaan temperatur antara kedua medium. Sebagai contoh perbedaan temperatur pada

kedua medium plat padat, atau medium padat dengan fluida. Energi yang

berpindah biasanya disebut dengan istilah kalor (heat). Kalor (heat) akan selalu bergerak dari temperatur tinggi ke temperatur rendah. Proses ini akan berlangsung

secara terus menerus sampai tidak ada perubahan temperatur diantara kedua

medium tersebut. Perpindahan kalor dapat terjadi dengan berbagai cara seperti

perpindahan kalor konduksi, perpindahan kalor konveksi dan radiasi. Namun

dalam mesin pendingin perpindahan panas terjadi hanya melalui perpindahan

panas secara konduksi dan konveksi.

a. Perpindahan Kalor Konduksi

Perpindahan kalor konduksi adalah perpindahan kalor tanpa disertai

bagian-bagian zat perantaranya. Perpindahan panas secara konduksi dapat

berlangsung pada benda padat, cair dan gas. . Untuk zat cair dan gas, kondisi zat

cair dan gas harus dalam keadaan diam atau tidak bergerak. Contoh perpindahan

kalor secara konduksi dalam kehidupan sehari-hari misalkan sebatang besi yang

ujungnya dipanasi dengan api, sehingga ujung satunya akan ikut menjadi panas.

Gambar 2.16 memperlihatkan perpindahan kalor secara konduksi yang

dapat dirumuskan sebagai pesamaan laju umum untuk perpindahan kalor

Gambar 2.16 Perpindahan kalor konduksi. q = - k A.∆� ∆� = - kA. � −� ∆� ( 2.8) Pada Persamaan (2.8) :

q : laju perpindahan panas, watt

k : konduktifitas thermal bahan, w/moC

.∆�

∆� = gradien suhu perpindahan kalor, oC/m

 ∆� : tebal dinding, m

 ∆� : perubahan suhu, oC

 � : suhu dinding 1, oC

 � : suhu dinding 2, oC

A : luas penampang benda, m2

Pada persamaan (2.8) memperlihatkan bahwa laju perpindahan kalor

bernilai minus (-) karena kalor akan selalu berpindah ketemperatur yang lebih

rendah

b. Perpindahan Kalor Konveksi

Kalor konveksi adalah perpindahan kalor dengan disertai perpindahan

molekul molekul atau zat perantaranya. Dengan kata lain, perpindahan kalor

perpindahan kalor secara konveksi dalam kehidupan sehari-hari adalah saat proses

merebus air.

Gambar 2.17 Perpindahan Kalor Konveksi

Gambar 2.17 memperlihatkan perpindahan kalor secara konveksi atau

sering dikenal dengan hukum newton untuk pendinginan, yang dapat dirumuskan

seperti pada Persamaan 2.9.

q = hA(TsT∞) (2.9) Pada persamaan (2.9) :

q : laju perpindahan panas, watt

h : koefisien perpindahan panas konveksi, watt/m2.oC

A : luas permukaan yang bersentuhan dengan fluida, m2

Ts : temperatur permukaan, oC

T∞ : temperatur fluida yang mengalir dekat permukaan, oC

Perpindahan kalor secara konveksi terjadi pada udara atau fluida yang

mengalir (zat cair dan gas). Perpindahan kalor konveksi tidak dapat berlangsung

pada benda padat. Perpindahan kalor secara konveksi ada dua macam yaitu

konveksi paksa dan konveksi bebas. Berikut penjelasan dan contoh dari keduanya:

Konveksi bebas adalah konveksi yang disebabkan oleh beda suhu dan

perbedaan massa jenis dan tanpa peralatan bantu penggerak dari luar yang

mendorongnya. Jadi aliran fluida atau udara pada konveksi bebas terjadi karena

adanya perbedaan kerapatan. Contoh: plat panas dibiarkan berada di udara sekitar

tanpa ada sumber gerakan dari luar yang menggerakkan udara.

b) Konveksi paksa (forced convection)

Pada konveksi paksa perpindahan panas aliran gas atau fluida disebabkan

adanya tenaga atau peralatan bantu dari luar. Contoh: plat panas diberi aliran air

atau udara dengan blower.

2.1.8 Beban Pendinginan

Dokumen terkait