• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV JEMAAT AHMADIYAH INDONESIA DALAM PERTARUNGAN

B. Desire dalam Pergumulan Identitas Ahmadiyah

Dalam pandangan psikoanalisa Lacanian, subjek selalu melakukan identifikasi dengan masyarakat, yang kemudian menghasilkan split.Subjek yang

split mengalami lack, dan mencari lost object (baca : other atau autre)untuk dapat

mewujudkan desire nya. Pemenuhan desire ini bisa melalui hegemoni sebagai

sebuah cara kerja, karena hegemoni merupakan artikulasi yang memerlukan bahasa, sebagaimana dimanifestasikan dalam omongan, dan bukan dalam sistem

umum seperti halnya Saussure. Proses menjadi subjek atau pada dasarnya sedang mengidentifikasi diri dengan totalitas terstruktur inilah yang disebut identitas.

Desire, dalam pandangan Lacan, hanya akan dialami setelah subjek

merasa tidak pernah puas akan dunia simbolik atau Liyan. Ketika subjek memahami bahwa ternyata hukum dan dunia verbal tidak bisa memuaskan sama

sekali, saat itulah muncul hasrat untuk menemukan kembali objek a (baca: autre).

Desire merupakan upaya untuk menemukan kembali jejak-jejak yang

menyebabkan subjek mengalami lack. Konsep ini berbeda dengan need atau

kebutuhan. Dalam tataran simbolik, kebutuhan yang disuarakan secara verbal disebut demand atau tuntutan. Munculnya tuntutan berdasarkan need yang

semata-mata merupakankebutuhan organik atau hewani untuk bertahan.

Salah satu kebutuhan atau need yang diharapkan JAI adalah bisa

mengartikulasikan suara sebagai pembentuk identitas, sehingga Liyan menerima kehadiran mereka. Ada kebutuhan dari JAI untuk diakui sebagai subjek. Meskipun dalam sejarahnya Ahmadiyah belum atau bahkan tidak diterima sepenuhnya oleh masyarakat khususnya di Lombok, namun harapan JAI masih tetap ada.

Janji-janji atau tuntutan tersebut hendak dicapai melalui kelas berkuasa. Namun dalam hal ini, kelas berkuasa mengalami dilema. Di satu sisi mereka tidak bisa melarang Ahmadiyah karena legalitas dan konstitusi yang menjamin keberadaan JAI. Di sisi lain ada ketakutan dikecam oleh umat Islam lainnya, yang secara jumlah jauh lebih besar dibandingkan JAI. Dunia simbolik juga memiliki

demand, yaitu agar JAI mengubah akidahnya seperti ajaran Islam “mainstream”

lainnya. Lalu, tuntutan atau kebutuhan masyarakat mana yang hendak diwujudkan? Negara akhirnya menanggapinya dengan setengah-setengah. Adanya pembiaran, pengabaian, dan membuat pengungsi berdiam di Transito menjadi indikasinya.

Hal inilah yang oleh Laclau-Mouffe disebut sebagai birokratisasi hubungan sosial, yakni adanya intervensi negara dalam melindungi rakyat namun

secara paradoks justru menghasilkan hubungan subordinatif baru. Gerakan sipil keagamaan seperti JAI bisa dibaca sebagai munculnya bentuk antagonisme baru dalam masyarakat karena adanya jenis-jenis hubungan subordinatif yang belum terlihat di zaman sebelumnya. Apabila menggunakan istilah Laclau-Mouffe, jenis- jenis hubungan subordinatif itu sebagai akibat komodifikasi hubungan sosial (karena sistem produksi kapitalis), birokratisasi hubungan sosial (karena intervensi negara dalam melindungi rakyat namun secara paradoks justru menghasilkan hubungan subordinatif baru), dan hegemonisasi hubungan sosial (karena moda baru dalam penyebaran budaya lewat media massa).

Para pengungsi Jemaat Ahmadiyah cukup menyayangkan sikap pemerintah sebagaimana tercermin dalam pernyataan berikut : “Kalau diibaratkan, rakyat kan jadi anak, pemerintah sebagai orang tua, masa kalau ada perbedaan kita selsaikan antarsaudara, otomatis orang tua dong yang harus turun tangan. Dari pimpinan kami juga ada ajaran patuhi pemerintah siapapun yang berkuasa, karena itu sudah menjadi ajaran Islam”.99

Adanya pola pembinaan pada 2011-2012 bagi pengungsi JAI di Transito dianggap sebagai jalan tengah oleh pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat. Hal ini dilihat sebagai upaya untuk memastikan ideologi yang ada di kelas dominan tersebar dan tersampaikan ke JAI di Lombok. Pola pembinaan tersebut berisi kegiatan ceramah mengenai agama Islam dan ajakan untuk “kembali” ke ajaran Islam bagi warga JAI yang ada di pengungsian. Jika JAI menanggalkan identitas ke-Ahmadiyah-annya, maka umat Islam di Indonesia akan membiarkan

      

99

Wawancara dengan Koordinator Pengungsi, Syahidin. 2010, 14 Desember 2010 di Asrama Transito. 

mereka hidup bebas. Atau dengan pilihan lain, yaitu benar-benar keluar dari entitas Islam dan mewujud menjadi agama baru.

Pola pembinaan seperti ini memperlihatkan Liyan salah membaca need

atau kebutuhan Jemaat Ahmadiyah Indonesia di Lombok. Memang, setelah berjalan kurang lebih 2 bulan, Jemaat Ahmadiyah di Lombok menilai positif terhadap kegiatan tersebut. Kalau membahas masalah esensi ke-Islam-an, JAI merasa sudah mendapatkannya. Materi yang disampaikan oleh para tokoh agama juga diajarkan oleh pemimpin atau mubalig JAI. Hanya saja, menurut mereka hal itu tidak menyentuh substansi yang sedang dibutuhkan oleh penghuni Transito. Substansi yang dimaksud oleh JAI adalah bagaimana mereka memenuhi kebutuhan ekonomi, hidup layak, pelayanan dengan fasilitas yang sama sebagaimana dinikmati oleh warga masyarakat lainnya, serta pemenuhan fasilitas publik lainnya.

Adanya benturan identitas ini menyebabkan Jemaat Ahmadiyah khususnya di Lombok memiliki pola untuk tetap bisa bertahan. Identitas JAI terbentuk melalui resistensi yang unik, yakni dengan melibatkan unsur keagamaan atau pemaknaan pada level religiusitas. Justru dengan adanya kekerasan dan kecaman kepada JAI, mereka semakin mempertegas identitas ke-Islam-annya. JAI menjadi minoritas yang semakin memperkuat keyakinan Islam dan ke-Ahmadiyah-an mereka. Sayangnya, hidup damai berdasar keyakinan merupakan fantasi bagi para warga JAI.

Fantasi seperti itu akan lebih bisa dimengerti bila dihubungkan dengan konsep Lacanian lainnya yaitu simtom. Dalam analisis sosial, simtom adalah pemikiran ideologi untuk memperkenalkan adanya disharmoni dalam masyarakat

yang sebaliknya akan menjadi harmoni di bawah utopia ideal tertentu. Simtom adalah tanda-tanda bagi sesuatu yang direpresi. Dari simtom inilah muncul objek a. Simtom menjadi begitu penting karena didalamnya dapat dibaca apa yang direpresi. Atau dengan kata lain, residu jouissance dapat ditemukan dalam

simtom-simtom tersebut.

Kata-kata atau ungkapan simtomatik (baca: sakit) inilah yang bisa melampaui demand dalam tataran simbolik. Justru hal-hal tak terungkapkan dan

tak terkatakan adalah sesuatu menuju objek a. Dilihat dari logika artikulasi, masyarakat terdiri dari identitas-identitas yang tidak pernah selesai diartikulasikan. Masyarakat sebagai praktik artikulatoris tidak sepenuhnya bisa dituntaskan dalam artikulasi (dengan momen-momen sebagai satuannya) melainkan senantiasa meninggalkan residu-residu. Dalam identitas hegemonik tampak sesuatu yang tidak terkatakan, disebut absent fullness suatu masyarakat,

karena represi.

Hal ini bisa dilihat dalam komunitas pengungsi JAI Lombok di Asrama Transito, yakni bahwa ada hal-hal yang tidak bisa dibahasakan karena mereka terepresi oleh penyerangan yang dilakukan dalam kurun waktu satu dekade. Bisa jadi, memang ada yang disembunyikan untuk melindungi dirinya sendiri—yang oleh MUI atau kelompok penuding—disebut dengan istilah takiyah. Meskipun

secara tersurat agen sosial seperti Jemaat Ahmadiyah bisa mengungkapkan segala hal yang direpresi oleh Liyan dengan berbagai wadah, akan tetapi tak menutup kemungkinan ada hal-hal tersirat yang tak terjelaskan.

Jemaat Ahmadiyah Indonesia menggunakan simtom untuk melampaui

simtom yang muncul adalah perlawanan secara santun. Mereka selalu menyebut diri mereka taat terhadap Ulil Amri dan berdialog dengan menggunakan kata-kata

yang hikmah. Misalnya dalam penutup setiap surat yang ditulis mereka selalu menggunakan kata-kata : “Wassalam, hamba yang lemah”. Sementara itu, di awal surat, mereka selalu menggunakan kata pembuka yang santun dan mendoakan. Hal itu agaknya meniru pemimpin Jemaat Ahmadiyah atau mujaddid-nya yaitu Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad yang selalu menutup surat dengan kata-kata “yang lemah” dan doa-doa kebaikan. (Lih. Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad : 2008). Misalnya : “Semoga Allah SWT selalu memberikan kepada Bapak nikmat kesehatan, kekuatan dan kelancaran dalam mengabdi, melayani, mengayomi masyarakat, bangsa dan negara…”100

Doktrin yang ditanamkan Ahmadiyah pada jemaatnya pun terbilang kuat dan cenderung seia-sekata. Hal ini bisa dilihat dari segi pendapat, analogi-analogi yang diucapkan, harapan, serta pandangan mereka tentang kekerasan yang dialami. Banyak persamaan kata-kata yang diucapkan warga JAI, koordinator pengungsi, mubalig, ataupun pengurus organisasi.

Meskipun kekerasan menimpa mereka dengan beruntun, tetapi ke- Ahmadiyah-an mereka semakin kuat. Gejala ini tak hanya terjadi pada warga JAI yang sudah dewasa, melainkan juga termasuk para remaja dan anak-anak yang merasakan kepedihan mengungsi. Ini semacam adanya interpelasi dari ideologi mereka terhadap kehidupannya. Hal ini cukup mencengangkan apabila melihat kehidupan remaja pada umumnya yang biasanya sarat dengan ke-labil-an karena sibuk mencari Liyan untuk memenuhi need-nya. Ada sebuah kalimat yang

      

100

Dokumen Jemaat Ahmadiyah Indonesia, sebuah surat evaluasi yang dilayangkan pada Kepala Kesbangpoldagri prov NTB di Mataram pada 19 September 2011 tentang evaluasi hasil pembinaan yang dilakukan Pemerintah Provinsi kepada JAI di Asrama Transito. 

dilontarkan seorang remaja Ahmadiyah tentang teror yang mereka hadapi, “Pak, kalau kami masih disuruh keluar dari Ahmadiyah, gini aja suruh kami baris semua, tembak kami satu-satu. Itu kalau bapak tidak mengizinkan kami jadi Ahmadiyah”.101

JAI khususnya di Lombok sebagai subjek sangat butuh berdialog dan untuk didengar oleh Liyan. Mereka masih memiliki keinginan untuk diakui oleh

Liyan dalam hal ini entitas Islam dan bangsa Indonesia. Mereka bahkan tidak takut identitasnya ditulis dalam penelitian. Warga JAI memiliki hasrat untuk diketahui oleh masyarakat luas tentang omongan mereka yang belum bisa

diartikulasikan. Selain untuk pengakuan, hasrat berdialog tersebut dibutuhkan untuk menangkis bentuk-bentuk kekeliruan masyarakat memandang JAI serta menghindari diri sebagai sasaran kekerasan lagi.

Selain itu, mereka juga berharap bisa hidup merdeka tanpa intervensi dan intimidasi dari siapapun, karena mereka yakin bahwa masalah keyakinan merupakan hak privat seseorang dengan Tuhan-nya. Bagi mereka, asalkan keyakinan tersebut tidak membahayakan diri sendiri dan orang lain, tidak memperburuk citra Islam di mata agama lain, serta tidak merongrong kewibawaan pemerintah yang sah, maka tak ada salahnya menjadi JAI. Selain itu, mereka juga sangat berharap agar segera mendapatkan kepastian hukum dan jaminan keamanan di manapun mereka akan tinggal.

Terbentuknya kelompok pengungsi JAI di Lombok sebagai hasil dari praktik artikulatoris juga dipengaruhi oleh wacana di luar dirinya. Satuan wacana tersebut membentuk identitas mereka secara kolektif. Adanya Ahmadiyah versi

      

101

Kutipan kata kata seorang remaja JAI berdasarkan wawancara dengan para pengungsi remaja Jemaat Ahmadiyah Indonesia pada 15 Desember 2010 di Asrama Transito. 

MUI, NU, Muhammadiyah, atau elemen lain baik yang pro maupun kontra dengan Ahmadiyah merupakan bagian dari wacana tersebut.

Yang menjadi bahan perdebatan adalah Apakah JAI termasuk Islam atau tidak? Tak sedikit dari kelompok Islam yang menginginkan Ahmadiyah keluar dari entitas bernama Islam. Namun, JAI menanggapi hal tersebut dengan tenang dan santun, seolah tidak mengalami lack secara internal. Walaupun pada dasarnya,

warga JAI sangat ingin diakui. Mereka menyadari sulitnya hidup di tengah bangunan besar (superstruktur) yang turut membentuk identitas sekaligus menentukan kelanjutan hidupnya. Dalam hal ini, JAI melakukan konformitas dengan bersikap damai, sabar, dan taat terhadap Ulil Amri.

Pada tataran simbolik, JAI memiliki need pada Liyan. Akan tetapi, JAI

mengaku sudah melampaui kebutuhan tersebut, karena sudah memiliki fantasi yang diperjuangkan. Fantasi ini kemudian bermuara pada desire yang mendorong

mereka untuk melampaui yang legal formal, dan mencapai jouissance. Hal ini

untuk menjaga apabila demand atau tuntutan di dunia verbal tidak didapatkan oleh

JAI, maka mereka memiliki fantasi, yaitu berpasrah dengan menyerahkan sepenuhnya pada mahkamah Ilahi.

Dalam konteks keimanan, Tuhan lagi-lagi dihadirkan, karena diyakini sebagai zat yang bisa memenuhi desire mereka. Hal ini seperti diungkapkan oleh

Ketua JAI NTB : “Walaupun penjelasan kami sudah final, maka bagi siapa saja yang masih menyangsikan, ragu-ragu, muncul syak wasangka dan belum paham, maka kami masih membuka diri untuk diskusi bil-hikmah, selebihnya kami

serahkan sepenuhnya kepada keputusan MI (Mahkamah Ilahi). 102 Inilah ciri khas

yang muncul dari JAI, sebuah entitas yang disatukan oleh prinsip tunggal gerakan keagamaan.

Reaksi tersebut menunjukkan JAI sudah melampaui need atau kebutuhan

dalam tataran verbal, dan sedang menuju desire atau hasrat. Mereka merasa

tuntutan pada dunia simbolik (hukum dan masyarakat) tidak bisa memenuhi hasratnya. Saat ini, mereka tengah memelihara fantasi, untuk menemukan gairah kembali pada kediriannya yang utuh. Akan tetapi, di sisi lain mereka tengah menggunakan strategi untuk melawan hegemoni tersebut. Jemaat Ahmadiyah melakukan counter hegemony dengan caranya sendiri, damai, yaitu jihad dengan

pena.