• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PELAKSANAAN PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Persiapan Pelaksanaan Penelitian

1. Persiapan Penelitian

Penelitian dilakukan di SLB Yapenas. Subyek penelitian adalah 2 orang siswa kelas V SD SLB B, dimana mereka memiliki keterbatasan dalam pendengaran atau tuna rungu . SLB Yapenas adalah sekolahan yang didirikan yayasan Yapenas. Jenjang pendidikan disekolah ini adalah SD, SMP dan SMA. Dalam penelitian ini peneliti adalah fasilitator yang menyediakan alat peraga dan membantu serta sebagai pengamat, materi yang akan dibahas disini adalah operasi hitung bilangan bulat yang dibatasi dalam pengurangan dan penjumlahan menggunakan alat bantu berupa alat peraga yang diberi nama bola bermuatan. Materi penjumlahanan pengurangan bilangan bulat sebelumnya telah diterima siswa pada saat kelas IV SD. Sebelum melakukan penelitian, peneliti melakukan observasi terlebih dahulu. Tujuan dilakukannya observasi adalah untuk melihat kegiatan pembelajaan sehari-hari dan melihat model pembelajaran yang dilakukan di SLB Yapenas, sehingga dapat membantu dalam merancang pmbelajaran penelitian, selain itu kegiatan observasi juga dilakukan untuk membantu peneliti mengakrabkan diri dengan siswa

yang akan dijadikan obyek penelitian sehingga dapat membantu dalam kelancaran penelitian.

Dari kegiatan observasi, peneliti melihat kurikulum yang digunakan di SLB Yapenas sama dengan sekolah-sekolah umumnya, hanya saja pemberian materi pembelajarannya mengikuti kemampuan dan pemahaman siswa karena seperti diketahui bersama bahwa siswa-siswa di SLB mempunyai keistimewaan tersendiri. Yang berbeda dari sekolah umum adalah, di SLB Yapenas pembelajaran reguler hanya dilakukan dari hari senin sampai rabu, sementara hari kamis sampai sabtu dilakukan pelatihan keterampilan seperti menjahit, berkebun, pantomim,dan sebagainya. Untuk usia, rata-rata anak tuna rungu B di SLB Yapenas memiliki usia yang sesuai dengan kelasnya seperti pada anak-anak pada sekolah umum, karena anak-anak tuna rungu memiliki IQ yang sama dengan anak-anak pada umurnya, hanya saja perkembangannya terhambat karena keterbatasan pendengaran yang dimiliki, sehingga dalam pembelajaran dikelas mereka tidak hanya menerima materi pembelajaran saja, melainkan masih juga harus belajar berbicara dan belajar menuliskan dan memaknai berbagai kata, beban belajar yang lebih banyak ini membuat siswa mudah lupa akan bahan pelajaran yang baru diberikan.

Peneliti melihat pula karakter-karakter yang dimiliki siswa, yaitu : Ika : Ika adalah anak yang aktif. Banyak mengemukakan pendapat-pendapatnya dan selalu mengemukakan pendapat-pendapatnya dengan keras. Ika

sudah terhitung lancar dalam menggunakan bahasa verbal. Ika memiliki kepercayaan diri yang tinggi, ia selalu aktif menjawab pertanyaan dan pernyataan yang diberikan oleh guru. Daya tangkapnya terhadap pelajaran cepat, namun Ika juga cenderung cepat puas, sehingga jika ia merasa bisa, kemudian ia berhenti belajar, dan tidak mencoba hal-hal lain lagi. Ika juga mudah bosan, jadi jika mengerjakan soal-soal, ia akan bersemangat diawalnya kemudian jika ia tidak bisa mengerjakannya, ia memilih menyerah. Ika rajin bertanya saat dia kurang mengerti pembelajaran yang diberikan, meskipun tidak bertanya scara langsung, melainkan menggunakan bahasa verbal atau ekspresi wajahnya. Pengelolaan emosi Ika kurang baik, jika ia sedang marah atau memiliki masalah dengan temannya, akan berpengaruh pada belajarnya, ia jadi tidak mau memperhatikan guru, tidak mau mendengarkan guru, bahkan pernah tidak masuk sekolah karena bermasalah dengan temannya.

Dyah : Dyah aktif dalam pembelajaran, dan selalu fokus dalam pelajaran. Jika dibandingkan dengan Ika, kemampuan dalam menangkap pelajaran yang dimiliki Dyah lebih rendah, namun Dyah lebih tekun dan selalu memperhatikan penjelasan guru saat pembelajaran berlangsung. Dyah rajin mencatat hal-hal penting saat pembelajaran berlangsung. Dyah tidak terlalu banyak bicara dan bertanya, namun selalu menjawab dan menanggapi pertanyaan ataupun pernyataan guru dengan baik, menggunakan bahasa verbal maupun

gerakan tubuhnya. Daya ingat Dyah juga baik, karena ia selalu rajin mengikuti pelajaran. Dalam penggunaan bahasa verbal, kemampuan Dyah kurang baik jika dibandingkan dengan Ika, Dyah mampu mengucapkan kata-kata manggunakan isyarat bibirnya dengan jelas, namun dari segi suara, ia kurang jelas dalam mengucapkan kata-kata. Karena kurang percaya diri, Dyah juga sering mengucapkan kata-kata dengan tidak bersuara (hanya menggunakan bibirnya). Dyah terhambat dalam pelajarannya karena ia memiliki penyakit jantung yang mengharuskannya tidak masuk sekolah seminggu setidaknya dua kali. Hal ini juga menghambat pembelajarannya karena ia sering tertinggal pelajaran. Namun dengan semangat dan ketekunannya, Dyah sidikit-demi sedikit mampu mengejar ketertinggalannya. Pengelolaan emosi dalam diri Dyah sangat baik, ia selalu ceria dalam pembelajaran, tidak mudah menyerah.

Suasana dikelas saat observasi, kelas sangat kondusif saat pembelajaran. Di SLB Yapenas, dalam satu ruangan terbagi untuk beberapa kelas. Dikelas tempat penelitian terdapat siswa kelas I, II, dan III yang diampu oleh Ibu Saryati. Sementara Ibu Sayekti adalah guru kelas kelas V yang mengajar Ika dan Dyah. Namun dalam waktu yang bersamaan, Ibu Sayekti juga mengajar seorang siswa bernama Rita kelas IV SD. Jadi Ibu sayekti memberikan pembelajaran dengan bergantian, namun untuk pembelajaran bahasa verbal, mereka melakukannya bersamaan. Jadi jika disuatu materi, baik kelas IV

maupun kelas V, terdapat bahasa baru yang ditemukan, yang mereka belum mengerti, mereka kemudian mempelajarinya bersama-sama. Untuk bobot materi pembelajaran, tetap disesuaikan dengan tingkatan kelas dan kurikulum masing-masing. Meskipun dalam satu ruangan terdapat siswa dengan kelas yang berbeda, namun tidak berpengaruh dalam pembelajaran, karena semuanya adalah anak tuna rungu, jadi walaupun terkadang ribut, tidak berpengaruh. Mereka juga tidak saling mengganggu dan berada dalam pengawasan guru masing-masing. Pembelajaran yang terjadi saat observasi sangat baik, guru tidak terlalu cepat dalam menjelaskan materi pembelajaran, selalu meminta siswa maju kedepan mengerjakan soal, menuliskan jawaban, maupun mengucapkan kata-kata yang dituliskan dan diajarkan guru untuk mengasah kemampuan bahasa verbal. Guru juga selalu mengantarkan siswanya untuk bekerja sama saat menghadapi materi yang sulit, sehingga mereka saling berkomunikasi dengan bertanya dan memecahkan masalah bersama sambil melatih kemampuan berbahasa siswa. Saat pagi hari, semangat siswa masih sangat baik sehingga mereka juga masih dapat berkonsentrasi dengan baik selama pembelajaran sedangkan semakin siang konsentrasi siswa berkurang. Agar siswa tidak bosan, terkadang guru meminta siswa bercerita tentang hal-hal yang pernah dialaminya berkaitan dengan pembelajaran sambil melatih kemampuan mereka dalam berbahasa.

Sebelum penelitian dilakasanakan, saat observasi peneliti juga memperkenalkan terlebih dahulu beberapa alat peraga, yaitu penggaris bilangan, otelo matematika, dan bola bermuatan. Setelah diperkenalkan ketiga alat tersebut, ternyata siswa lebih tertarik terhadap alat peraga bola bermuatan. Dan alat peraga ini dipilih karena sesuai dengan materi pembelajaran, dapat digunakan untuk bermain dan belajar, juga dapat merangsang daya pikir siswa untuk menemukan sendiri cara perhitungan penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat sehingga siswa tidak mudah lupa.

2. Pelaksanaan Penelitian di Lapangan (didalam kelas)

Pelaksanaan penelitian dilaksanakan sebanyak lima kali pertemuan, yaitu :

a. Pertemuan Pertama

Pertemuan hari pertama dilaksanakan pada tanggal 3 September 2012. Pada penelitian hari pertama dilakukan pre-test untuk mengetahui seberapa pemahaman siswa sebelum diakukan pmbelajaran menggunakan alat peraga. Sebelumnya siswa sendiri telah menerima materi pembelajaran tentang operasi hitung bilangan bulat pada kelas IV. Karena keterbatasan siswa dalam mengingat (terutama karena baru selesai masa liburan) dan dalam kemampuan berbahasa, sebelum melakukan pre-test siswa terlebih dahulu sedikit diingatkan tentang materi pembelajaran. Siswa diajarkan kembali cara membaca dan menulis kata negatif, positif,

dan membaca serta menulis bilangan-bilangan. Karena terkadang mereka masih salah menyebutkan sebuah angka. Misalnya untuk angka sebelas sering salah membaca menjadi „satu satu‟ atau „satu belas‟.

Berikut ini adalah kegiatan pembelajaran pada pertemuan pertama : G : Guru I : Ika D : Dyah

G : Ini ada mbak yang kemarin, datang mau belajar bersama. Tapi kerjakan soal ini dulu ya.

(Siswa terlihat bingung ketika menghadapi soal, dan guru mengamati kemudian berfikir untuk sedikit mengingatkan mengenai bilangan)

G : Kenapa? Lupa ya? Ini mba, mereka suka lupa. Diingatkan sebentar ya mba? (berkata kepada peneliti. Ini coba lihat. (menuliskan angka 9 ) Ini berapa? I : Sembilan.

G : Kalau yang ini? (menuliskan angka sepuluh) Dyah ayo jawab. D : Sepuluh.

G : Kalau yang ini? (menuliskan angka sebelas (11) ) Ika? I : Satu satu.

G : Satu satu? Ya, tidak papa. Tuh kan mba, anak-anak sering lupa begini (berkata kepada peneliti). Dyah tahu ini berapa?

D : satu belas.

G : Satu belas? Hayo.. kok pada lupa ini? Dulu sudah pernah diajarkan bacanya kan?

I : Lupa.

G : Lupa? Ya.. perhatikan ya, ini dibaca sebelas ditulis sebelas. Ayo ucapkan sama –sama.

G, I, D : sebelas.

G : Ingat ya, diingat-ingat. Jangan lupa lagi. Kalau ini? (menuliskan angka tiga belas dipapan tulis (13) ). Dibaca apa? Ika?

I : Satuuu... (menggaruk-garuk kepala) G : Dyah, ini dibaca berapa?

D : Tiga.. G : Tiga?? D : Belas. G : Jadi? D : Tiga belas.

G : tiga belas. Sebutkan, Ika. I : Tiga belas.

G : Iya, diingat-ingat ya. Yok, kalau yang ini berapa? Yang keras suaranya biar ibu dengar, Dyah?

D : Lima belas. G : Ika? I : Lima belas.

G : Bisa ya? Diingat-ingat jangan lupa-lupa lagi, ya? (Ika dan Dyah menganggukkan kepala)

G : Kalau ini? (menuliskan angka dua puluh satu (21) ) D : Dua puluh satu.

I : Dua puluh tiga.

G : Perhatikan disini. (sambil menuliskan lambang bilangan negatif (-) dan positif (+) ) Ini, (menunjuk ke negatif) dibaca ne..ga..tif. Apa?

I : Netif.

G : Salah, Negatif. Ne..Ga..Tif. Coba Dyah. D : Negatif.

G : Sekali lagi, yag keras supaya ibu dengar ya.. Ayo. D : Negatif (memperkeras suaranya)

G : Bagus, coba Ika.. apa tadi? I : Negatif.

G : Bagus bisa ya, ayo ucapkan bersama-sama. G, I, D : Negatif.

G : Kalau tanda yang ini? (menunjuk ke tanda positif (+) ). Ika? Dyah? ( Ika dan Dyah hanya diam)

G : Ini dibaca Positif. Po..Si..Tif. Positif. Ulangi Ika. I : Potif?

G : Dyah? D : Positif.

G : Coba dyah menghadap Ika, ajarkan Ika membaca positif. Ika perhatikan Dyah ya?

(Ika dan Dyah berhadapan, Dyah mengucapkan kata positif dan Ika menirukan berkali-kali)

G : Sudah bisa belum? Coba Ika.. I : Positif.

G : Oke, bisa ya. Diingat-ingat. Sekarang kembali ke gelas lagi ya, ayo perhatikan ini, penggaris yang ibu masukkan menunjuk angka berapa? I : tiga.

G : Tiga? Kok tandanya tidak dibaca? I : Negatif tiga.

G : Oke, sekarang Dyah, ini berapa? (penggaris menunjukk negatif lima) D : Negatif lima.

G : (menunjukkan angka 5). Ika? I : Positif lima.

G : ( menunjukkan angka 7) . Dyah? D : Positif tujuh.

G : Baik, sekarang Ika tunjukkan angkanya, biar Dyah yang baca, nanti bergantian, ya? Ayo Ika dicoba.

Ika dan Dyah saling menunjukkan bilangan menggunakan alat peraga gelas, dan saling menyebutkan bilangannya secara bergantian.

I : (menunjuk angka negatif tiga) D : Negatif tiga

I : (menunjuk angka negatif lima) D : Negatif lima

I : (menunjuk angka positif sepuluh) D : Positif sepuluh.

I : (menunjuk angka negatif sepuluh) D : negatif sepuluh.

G : Bisa?

(Dyah menganggukkan kepala) G : Sekarang gantian.

D : (menunjuk angka negatif lima) I : Negatif lima

D : (menunjuk angka positif tujuh) I : Positif tujuh

I : Negatif dua

D : ( menunjuk angka positif delapan) I : Positif delapan

G : Sudah, bisa ya? Jadi bilangan bulat ada dua, negatif dan positif. Coba sekarang, belajar menuliskannya didepan ya? Yok, dilihat disini. Ini (menuliskan +3) dibaca?

I : Positif tiga.

G : Coba Ika maju menuliskan positif tiga. I : (maju kedepan dan manulis „potisif‟ tiga) G : Coba Dyah maju kedepan bantu ibu tulis ya? D : (maju kedepan menuliskan “positif tiga”)

G : Sama atau beda yang yang ditulis Dyah dengan Ika? I & D : Beda

G : Yang benar yang mana?

(Ika menggelengkan kepala tidak tahu)

G : Yang benar punya Dyah ini ya, Ika salah. Coba Ika maju perbaiki. (Ika maju kedepan dan membenarkan tulisannya)

G : Coba yang ini Ika.(sambil menuliskan +11) I : (menuliskan “poitif sebelas”)

G : Yak, Dyah, lihat tulisan Ika, benar atau salah? D : Salah.

G : Coba maju kedepan dibenarkan.

D : (Maju kedepan menuliskan “positif sebelas”)

G : Ika, coba, dilihat, dibandingkan, punyamu salah yang mana? Ayo dibenarkan.

I : (membenarkan menulis positif sebelas”) G : Coba Ika sekali lagi ya, tulis (menulis +21) I : (menulis “positif dua puluh satu”)

G : Bisa ya?

(Ika dan Dyah mengangguk)

G : Sekarang yang ini (menulis -6), coba tuliskan, Ika. I : (menulis “negtif enam”)

G : Dyah.. ini benar atau salah? D : Salah.

G : Ayo benarkan penulisannya. D : (menulis “ negatif enam”)

G : Ayo Ika perhatikan ya supaya tidak salah lagi. Ayo diperbaiki tulisannya. I : (menuliskan “negatif enam”)

G : Untuk Ika sekali lagi ya. Coba tuliskan (menulis -13). I : (menulis “ negatif tiga belas”)

G : Sudah bisa? Ika? I : sudah

G : Sekarang dikerjakan soalnya, sebisa kalian, diingat-ingat waktu dulu kelas empat kita sudah pernah belajar

(Ika dan Dyah mengangguk dan mengerjakan soal)

b. Pembahasan Pertemuan Pertama

Pada pertemuan pertama ini siswa mengerjakan dengan baik soal pre-test berdasarkan kemampuan mereka sebelumnya. Siswa mengerjakan soalnya sendiri-sendiri. Sebelum dilakukan

pembahasan singkat tentang negatif, positif, dan pebelajaran penulisan serta pengucapan angka-angka seperti transkrip video yang diajukan diatas, siswa terlihat sangat bingung, namun mereka tidak bertanya secara langsung kepada guru, hanya menunjukkan ekspresi kebingungan yang diikuti dengan gerakan tubuhnya, seperti menggaruk-garuk kepala atau saling pandang antara satu siswa dengan siswa lain dengan menunjukkan ekspresi bingungnya. Saat pembelajaran berlangsung, setelah diberikan sedikit petunjuk melalui pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh guru, Dyah lebih cepat mengingat sehingga banyak memberikan jawaban yang tepat saat guru bertanya. Namun, Dyah hanya menjawab jika pertanyaan diajukan kepada dirinya, selebihnya ia banyak memperhatikan. Sementara Ika lebih banyak menjawab meskipun jawaban yang diberikannya banyak yang kurang tepat. Seperti biasa, Ika selalu menjawab dengan suara lantang saat guru bertanya ataupun saat pertanyaan diajukan kepada kedua siswa sekaligus maka Ika banyak menjawab lebih dahulu. Setelah siswa cukup mengingat, mereka langsung diminta mengerjakan soal-soal pre-test. Saat pengerjaan kali ini siswa sedikit lebih lancar dalam mengerjakan, guru sesekali memberi petunjuk tentang perintah soal, sehingga siswa tidak salah mengartikan soalnya. Pengerjaan soal pre-test ini seharusnya diulai pada pukul 08.00 pagi, namun karena ternyata dilakukan pembahasan ulasan maka pre-test baru

dilaksanakan setelah selesai pembahasan. Pre-test selesai dalam waktu sekitar 45 menit (pembelajaran singkat yang dilakukan sebelum pre-test tidak termasuk dalam hitungan waktu), ini lebih cepat dari waktu yang diberikan yaitu 60 menit.

c. Pertemuan Kedua

Pertemuan kedua diadakan pada tanggal 10 September 2012, dimulai pukul 08.00 pagi. Pada pertemuan kali ini siswa pertama kali dikenalkan dengan alat peraga bola bermuatan, namun karena mengingat keterbatasan siswa dalam mengingat, maka sebelumnya dilakukan terlebih dahulu pembahasan (mengulang) secara singkat apa yang telah dibahas pada pertemuan sebelumnya. Berikut ini adalah kegiatan pembelajaran pada pertemuan kedua :

G : Guru I : Ika D : Dyah

G : Selamat pagi anak-anak, sudah siap? Berdoa dulu ya?

G : Baik anak-anak, sekarang keluarkan buku berhitungnya. Kita belajar berhitung. (intinya belajar ucap angka-angka, dan positif negatif, positif 12 tulisnya gmana dsb kaya atas)

G : Kemarin kan kita sudah belajar sekilas mengenai bilangan bulat. Ayo sekarang ini bacanya gimana (sambil menuliskan angka 17). Ayo Dyah, ini dibaca apa?

D : Satu puluh...

G : Satu puluh? Benar satu puluh? Ayo ingat-ingat yang kemarin gimana bacanya. Ayo coba Ika.

I : Tujuh belas

G : Iya bagus. Ayo Dyah udah ingat belum? Kalau ini dibaca apa? (sa,bil menuliskan angka 18)

D : Delapan belas

G : Iya bagus. Sekarang perhatikan ini (sambil menuliskan lambang bilangan negatif (-) dan positif (+) ) Ini, (menunjuk ke negatif) dibaca ne..ga..tif. Apa? D & I : Ne..tif.

G : Ne..ga..tif. Ayo Dyah dibaca apa? D : Ne..ga..tif

G : Iya bagus. Ayo Ika ini dibaca apa? (sambil menunjuk ke negatif) I : Ne..ga..tif.

G : Iya bagus. Kalau in (menunjuk ke positif) dibaca po..si..tif.Ayo Ika dibaca apa?

G : Bagus. Ayo Dyah dibaca apa ini (sambil menunjuk ke positif) D : Po..si..tif.

G : Bagus, sekarang kalau ini (menulisakan bilangan -9) dibaca apa? Ayo Dyah. D : Ne..tif sembilan

G : Ayo Dyah diulangi, dibaca apa? D : Ne..ga..tif sembilan.

G : Bagus. Kalau yang ini (menuliskan bilangan -13) dibaca apa? Ayo Ika. I : Negatif tiga belas

G : Bagus, sekarang ayo tuliskan di papan tulus. Coba ini dibaca apa (sambil menuliskan bilangan -15). Ayo siapa yang mau maju? Ayo Ika.

I : Menuliskan dengan kata kata negatif lima belas di papan tulis. G : Sudah betul belum itu Dyah?

D : (Mengangguk)

G : Ayo kalau sekarang ini dibaca apa (menuliskan bilangan -11) Ayo Dyah. D : Menuliskan dengan kata-kata negatif sebelas di papan tulis.

G : Baik sekarang ayo tuliskan di papan tulis (sambil menuliskan bilangan -19 dan -16). Ayo Ika dan Dyah maju kerjakan satu-satu.

I : Mengerjakan soal pertama dan menuliskan dengan kata-kata negatif sembilan belas di papan tulis.

D : Mengerjakan soal kedua dan menuliskan dengan kata-kata negatif enam belas di papan tulis.

G : Ayo Ika, jawabannya Dyah udah bener apa belum? I : (Mengangguk)

G : Kalau jawabannya Ika udah bener apa belum, Dyah? D : (Mengangguk)

G : Iya bagus, udah bisa ya? D & I : (Mengangguk)

G : Masih ingat ya kalau yang ini, baik kita teruskan. Tadi ibu sudah bilang kita mau belajar bilangan bulat. Ingat waktu kelas empat kemarin ya... ini namanya garis bilangan. Ingat ini? (menggambar garis bilangan)

( Ika dan Dyah menganggukkan kepala )

G : Nah, kalau bilangan bulat itu, ada negatif, ini yang sebelah kiri dan ada yang positif ini disebelah kanan. Ingat ya? Masih ingat? Atau lupa?

( Ika dan Dyah hanya diam dan saling memandang bingung)

G : Ya, kalau lupa, ini lihat ada gelas disini, ada nomornya... nah dibatas air ini angkanya 0. Kalau dibawah air ada tanda seperti ini namanya negatif, kalau ini namanya positif, tidak ada tandanya ya.. tapi sama dengan ditulis ada tandanya. Contohnya +5 dibaca positif lima, kalau ini 5 juga dibaca lima atau positif lima. Sama ya.. sama.

(Ika dan Dyah menganggukkan kepala)

G : Coba perhatikan. Ini penggaris ibu masukkan ya, ibu masukkan sampai ke air. Lihat, ini menunjuk angka berapa? Ika?

I : tiga

G : Tadi kalau dibawah air dan ada tanda ini dibaca apa? I : (menggaruk-garuk kepala)

G : Sudah lupa lagi? Ya , tidak papa. Dyah juga lupa? D : (menganggukkan kepala)

G : Coba tadi diingat, lihat gelas ini, yang diatas air bilangan apa ya? I : positif

G : Apa Dyah? D : Positif

G : Bagus, kalau yang dibawah air tadi? Ayo apa Dyah? D : Negatif.

I : Negatif.

G : Ya, bagus. Coba kalo lima ini (sambil menunjuk positif lima pada penggaris digelas), positif ya? Kalau angka lima yang dibawah air, positif atau negatif? I & D : Negatif.

G : Bagus, jadi bilangan yang diatas air itu lawannya bilangan yang dibawah air. Yang diatas air bilangan apa tadi?

I & D : Positif

G :Terus yang dibawah air bilangan apa? I & D : Negatif.

G : Jadi, bilangan positif lawannya bilangan negatif. Coba sekarang, (-9) >< (sambil menuliskan dipapan tulis) lawannya apa? (sambil menuliskan dipapan tulis) Kalau tanda ini (><) artinya lawan ya? Ayo coba ucapkan. Lawan. I & D : Lawan

G : Ya,sekarang Siapa mau maju kerjakan? Dyah? D : (maju lalu menulis angka 9)

G : Coba dituliskan menggunakan kata-kata, ibu beri contoh, „negatif sembilan lawan dari „(sambil menuliskan dipapan) apa? Jawabanmu coba dituliskan. D : (menulis „positif sembilan‟)

G : bagus, coba sekarang ika, langsung kata-kata saja ya, positif tujuh lawan dari? (sambil menuliskannya dipapan)

I : (maju kedepan dan menuliskan jawaban „negatif tujuh‟) G : Oke, sekarang latihan soal saja ya, ini soalnya dikerjakan ya. (Ika dan Dyah mengangguk langsung mengerjakan soal latihan).

d. Pembahasan Pertemuan Kedua

Pada pertemuan kedua ini siswa sudah masuk kedalam materi pembelajaran mengenai bilangan bulat. Pertama-tama mereka diperkenalkan tentang bilangan bulat yang terdiri dari bilangan bulat negatif dan bilagan blat positif, lalu belajar mengenai lawan bilangan bulat. Dalam pembelajaran ini digunakan alat peraga untuk membantu pemahaman siswa tentang lawan bilangan bulat yaitu gelas yang berisi air dan sudah dilengkapi dengan penggaris bilangan. Bilangan yang berada dibawah air adalah bilangan negatif sedangkan yang berada diatas air adalah bilangan positif.

Pada penggunaan alat peraga menggunakan gelas berisi air ini siswa sangat terbantu untuk membedakan bilangan bulat positif

dan negatif dan tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mempelajari lawan bilangan bulat. Mereka juga terlihat antusias saat mempraktekkan penggunaan alat peraga terutama saat mereka bergantian menggunakannya. Saat Ika memegang alat peraga dan menunjuk sebuah bilangan, Dyah merespon dengan cepat dan menjawabnya, begitu pula sebaliknya.

e. Pertemuan Ketiga

Pertemuan ketiga diadakan pada tanggal 12 September 2012. Pertemuan ini dimulai pada pukul 07.30 dan berakhir pukul 08.40. Pertemuan ketiga ini adalah pertemuan dimana anak dikenalkan dengan alat peraga, pembelajaran operasi hitung penjumlahan bilangan bulat positif dengan bilangan bulat positif dan operasi hitung penjumlahan bilangan bulat negatif dengan bilangan bulat negatif menggunakan alat peraganya. Berikut ini adalah kegiatan pembelajaran pada pertemuan ketiga :

G : Guru I : Ika D : Dyah

G : Kemarin masih ingat ini tanda apa ini ? (sambil menuliskan lambang bilangan negatif dipapan tulis)

I : negatif

G : negatif. Tanda apa Dyah? D : Negatif.

G : Masih ingat ya?

Ika dan dyah menganggukkan kepala. G : Sekarang, kalau yang ini tanda apa? Ika?

Ika hanya diam dan mengingat-ingat lalu menggelengkan kepala. G : Lupa? Dyah, tanda apa ini?

D : Positif.

G : Coba ika ulangi Ika masih terlihat bingung G : Dyah ajari Ika coba

Dyah menghadap Ika dan mengucapkan kata Positif G: Apa Ika?

Ika : Positif

G : Bagus. Coba ulangi. Ini tanda apa? Ika? (sambil menunjukkan lambang bilangan negatif)

I : negatif. G : Dyah? D : Negatif.

G: Kalo yang ini? (sambil menunjukkn lambang bilangan positif) D: Positif

G : Ika? I : Positif

G : Coba lihat ini sekarang. Ada bola. Warnanya ada 2. Ini warna orange. Apa Ika?

I : Orange. G : Dyah ? D : Orange.

G : Bola yang satunya lagi ini, ada yang tahu warna apa? (sambil mennjukkan bola biru)

I : (diam sambil mengingat-ngat) G : Dyah?

D : Biru

G : Yak, Dyah, warna apa? D : Biru.

G : Coba Ika perhatikan Dyah, ini warna apa ? I : Biru.

G : Ya, jadi ini warna apa? (Sambil menunjukkan bola berwarna orange) I & D : Orange.

G : Kalo yang ini? (Sambil menunjukkan bola berwarna Biru) I & D : Biru

G : Baik. Diingat-ingat ya? Jangan lupa lagi (Ika dan Dyah mengangguk-angguk)

G : Sekarang kita beri tanda dibolanya ya... (Sambil menuliskan lambang posiif di bola biru). Nah, iki opo? Tandanya?

I : aaaa... Positif.

G : ah, bola biru positif. Coba kalau ini. (Sambil menuliskan lambang bilangan negatif pada bola orange).

I : Negatif. G : Negtif. Dyah? D : Negatif. G : Tau ya? Bisa?

( Ika dan Dyah mengangguk-angguk)

G : Iya, jadi bola biru adalah positif dan bola orange adalah negatif. (Sambil menulis dipapan tulis apa yang diucapkan). Diingat ya? Diingat ya? ( Ika dan Dyah mengangguk)

G : Kalau nanti ibu ambil bola biru, biru, artinya bola positif, kalo ibu ambil bola warnanya orange artinya?

I : Negatif.

G : Satu bola ini artinya 1, ya... Ingat.

G : mmm, mau dihitung dulu bolanya yang negatif berapa yang positif berapa? Yok Coba.Dibedakan dibedakan mana yang negatif dan positif. Yok Ika,

Dokumen terkait