4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.7. Analisis Kebijakan Dalam Pengelolaan Sumberdaya
4.7.3 Dinamika Ekologi dan Sosial di Pulau Kabalutan
Berdasarkan sejarah pemanfaatan sumberdaya laut oleh masyarakat Kabalutan serta analisis kebijakan pengelolaan sumberdaya di Kepulauan Togean, dapat dipetakan tipologi akses terhadap sumberdaya serta moda (corak) produksi komunitas (Gambar 18) yang memperlihatkan dinamika ekologi dan sosialnya. Tipologi dibagi menjadi empat quadran (Q) atau pola yaitu: akses terbuka pada komunitas subsisten (Q I), akses terbuka pada komunitas pasar (Q II), akses tertutup pada komunitas pasar (Q III), dan akses tertutup pada komunitas subsisten (Q IV). Setiap pola memiliki konsekuensi terhadap kondisi ekologi maupun sosial-ekonomi (Tabel 16).
Pada awalnya suku Bajau Kabalutan hanya memanfaatkan sumberdaya laut untuk kebutuhan subsisten yaitu pada kurun waktu sekitar tahun 1960 an (Q1), dimana mereka melakukan proses penggaraman terhadap hasil tangkapannya. Mengikuti penjelasan teori Chayanov (1967) mengenai perilaku ekonomipeisan,
bahwa motivasi komunitas peisan subsisten berbeda dengan motivasi sistem kapitalis/pasar dimana tujuan utama produksi bukan untuk kepentingan akumulasi keuntungan melainkan memenuhi kebutuhan subsisten (Kerblay 1971).
Akses Terhadap SDL Terbuka 1990an -2004 <1960 I II Subsisten Pasar / Ekonomi IV III 2004-Sekarang Akses Terhadap SDL Tertutup/Terbatas
Gambar 18 Tipologi akses dan corak produksi komunitas
Komunitas Bajau sendiri sejak dahulu memiliki sejarah penangkapan tradisional dengan segala bentuk adaptasinya terhadap lingkungan laut. Secara subsisten, nelayan suku Bajau sejak dahulu menggunakan kail untuk menangkap berbagai jenis ikan karang, khususnya ikan kerapu. Hutabarat (2001) mencatat bahwa dalam memanfaatkan sumberdaya laut masyarakat Bajau memiliki berbagai teknik tangkap, diantaranya “Missi” (memancing), Bapatape, Ngarinta/Baninta, Ngetu/Baetul/Barenjo, Nonda/Batonda (Menggunakan pancing tonda), Ngarua/Bapukat (memukat), Nyingkel/Bakanjai (Menombak), Nuong (Menyelam), Mana/Bapanah (memanah), Ngal’kima (mengambil kima).
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dikatakan bahwa penggunaan teknik penangkapan tradisional oleh masyarakat Bajau ada yang berpengaruh terhadap kondisi terumbu karang tetapi ada juga yang tidak. Teknik Missi, Bapatape, Ngarinta, Ngetu, dan Nonda memiliki kesamaan, yaitu menggunakan tali nilon dan mata pancing sebagai bahan utama, sehingga tidak berdampak negatif terhadap terumbu karang. Masyarakat Bajau memadukan pengetahuan mengenai kecerahan air, hembusan angin, cahaya bulan, kedalaman, serta kuat lemahnya cahaya lampu petromaks dalam menangkap ikan. Sementara itu, untuk beberapa teknik tradisional seperti nyingkel, Nuong, Bapanah dan Ngal’kima menyebabkan kerusakan terumbu karang.
Pada tipe masyarakat subsisten dengan akses terbuka (Q I), tujuan produksi pada komunitas subsisten bukan dalam rangka mengakumulasi keuntungan (ekonomi), seperti yang terjadi pada komunitas Bajau di Kabalutan di era 1960- an. Pada era itu, akses terhadap sumberdaya masih terbuka dan komunitas Bajau masih menggunakan pengetahuan dan teknologi yang telah turun-temurun (local knowledge). Meskipun sebagian dari cara dan teknologi yang digunakan pada saat itu memungkinkan dapat merusak terumbu karang, namun laju dan tingkat kerusakan masih tergolong sangat kecil, yang memungkinkan ekosistem terumbu karang melakukan regenerasi.
Kemudian pola tersebut berubah seiring dengan waktu dengan meningkatnya permintaan pasar ekport ikan hidup tahun 1990-an hingga tahun 2000an. Modernisasi, komodifikasi dan komersialisasi komoditas perikanan mendorong perubahan pola pemanfaatan serta pola pengelolaan komunitas terhadap sumberdaya. Komersialisasi dan komodifikasi sendiri adalah muculnya pasar baru untuk produk perikanan yang bernilai tinggi, yang dapat mempengaruhi dan menekan sistem pengelolaan berbasis lokal atau tradisional, dengan membawa nilai baru yang merubah cara pandang persepsi lokal mengenai nilai (Ruddle 1996). Perubahan struktural dalam perekonomian lokal yang menyebabkan nelayan akan terus melanggar aturan atau kebiasaan tradisional. Selain itu, komunitas Bajau sendiri tidak memiliki pimpinan adat atau lembaga adat yang kuat yang berfungsi untuk mengelola dan mengontrol sumberdaya laut untuk menekan laju pengikisan nilai-nilai lokal yang sebenarnya telah dijalani sejak dahulu oleh komunitas Bajau.
Hal ini turut tercermin pada komunitas nelayan di Kabalutan pada era 1990- an seiring meningkatnya permintaan pasar eksport ikan hidup yaitu ikan Napoleon (Q II). Berbeda dengan corak produksi subsisten, faktor tingginya permintaan (harga) pasar ekspor ikan hidup (market driven), tujuan produksi dimaksudkan untuk memaksimalkan keuntungan (profit maximization). Selain mendorong migrasi warga luar Kabalutan masuk ke dalam wilayah Kabalutan, tingginya harga penawaran ikan hidup di pasar global memacu nelayan meningkatkan jumlah tangkapannya, salah satunya dengan menggunakan bom dan obat bius. Dalam era perdagangan ikan hidup, laju kerusakan terumbu karang di wilayah
Kabalutan meningkat. Meski pendapatan nelayan Bajau meningkat, namun dalam seluruh rantai nilai perdagangan ikan hidup justru pedagang dan pengumpul (komunitas non Bajau) yang memperoleh surplus terbesar.
Pada tahun 2005, melalui insiatif pemerintah pusat bersama NGO konservasi (CII) mendorong hadirnya tata kelola kawasan konservasi yang bersifat tertutup dan terbatas. Penutupan atau pembatasan akses terhadap sebuah kawasan untuk kepentingan konservasi seperti taman nasional atau daerah perlindungan lainnya sangat berdampak pada tingkat kesejahteraan komunitas subsisten (Q IV). Dalam kondisi ini, selain mengancam sumber nafkah, juga rawan terhadap kriminalisasi komunitas subsisten dan tradisional seperti yang banyak terjadi di Indonesia saat ini.
Sementara saat ini pada pada karakteristik komunitas pasar dengan akses terbatas (Q III) yaitu pada saat hadirnya insiatif insiasi Taman Nasional Kepulauan Togean (TNKT) oleh pemerintah pusat bersama NGO lingkungan trans-nasional melalui DPL, tetap tidak memperbaiki kualitas terumbu karang karena dengan dorongan pasar tetap tinggi. Meskipun inisiasi zona inti DPL (dekat wilayah pemukiman nelayan Bajau) oleh CII berhasil menekan laju kerusakan terumbu karang, namun penggunaan alat tangkap yang merusak masih terjadi meski secara diam-diam dan kerusakan di tempat lain (Selatan Kabalutan) justru menunjukkan tren meningkat.
Saat ini nelayan Kabalutan mengalami penurunan kualitas terumbu karang yaitu dengan ditandai oleh penurunan tangkapan yang berimplikasi pada penurunan pendapatan. Sebagian kecil dari mereka masih tetap melakukan pemboman dan menggunakan potas sebagai cara cepat mendapatkan tangkapan disaat mereka sulit mendapatkan ikan dengan menggunakan alat tangkap tradisional, hal ini dikarenakan karena pasar tetap mendorong mereka untuk menyediakan stok ikan. Pengumpul masih tetap membeli ikan hasil pemboman atau ikan Napoleon yang seharusnya tidak boleh dilakukan. Di sisi lain, komunitas bajau sangat rawan ekonomi dan paling termarjinalkan karena tidak memiliki alternatif mata pencaharian seperti halnya suku non bajau yang mengusahakan kebun.
Sementara itu, sebagai respon dalam mengatasi masalah penggunaan alat tangkap merusak dan membangun alternatif mata pencaharian, pemerintah daerah memiliki beberapa upaya dan program yang diberikan kepada nelayan Kabalutan, yaitu program bantuan kapal, pembentukan tim pengawasan serta program budidaya rumput laut. Hanya saja, dirasakan program tersebut belum bisa secara optimal mengurangi penggunaan alat tangkap merusak. Hal ini disebabkan oleh, pertama : bantuan kapal yang diberikan terlalu boros bensin sehingga tidak terpakai oleh nelayan, kedua untuk bantuan budidaya laut, bibit yang diberikan tidak sebanding dengan alat yang diberikan.
Pembentukan tim pengawasan belum mampu mengurangi laju penggunaan bom dan potas, karena pada dasarnya tim pengawas masih bekerja mengawasi perairan di sekitar pemukiman yaitu dekat pos penjagaan. Selain itu, adanya keengganan melaporkan tindak pelanggaran yang dilakukan oleh tetangga dan kerabatnya sendiri menjadi satu hambatan psikologis. Dengan kata lain kesadaran komunitas akan pentingnya terumbu karang masih rendah.
Disisi lain tumpang tindih kebijakan pengelolaan yang muncul pada masa desentralisasi antara pemerintah pusat dan daerah menyebabkan kondisi terumbu karang tetap mengalami kerusakan, karena pemerintah pusat melalui BTNKT belum bisa membuat zonasi wilayah konservasi akibat penolakan yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah Tojo Una Una dan mayoritas masyarakat Kepulauan Togean. Sementara itu, Pemerintah Daerah Tojo Una Una mengalami hambatan dalam merealisasikan kebijakan Taman Wisata Laut karena terbitnya SK No. 418 Tahun 2004 mengenai penunjukan Taman Nasional Kepulauan Togean, selain itu Perpres No 88 tahun 2011 mengenai rencana tata ruang Sulawesi yang menyebutkan bahwa Kepulauan Togean sebagai Taman Wisata Laut terlambat diterbitkan. Sehingga kedua belah pihak masih bersitegang dalam melegalisasi kebijakan pengelolaan yang seharusnya berlaku. Secara hirerarki, Peraturan Presiden memiliki kedudukan lebih tinggi dibandingkan dengan SK Menteri Kehutanan, seharusnya SK tersebut dengan sendirinya tidak berlaku. Hanya saja, Kementrian Kehutanan masih belum memberikan pernyataan atas tumpang tindih kebijakan ini dan terus melakukan aktivitas di Kepulauan Togean. Berdasarkan hasil identifikasi masalah pengelolaan dan pemanfaatan di Pulau Kabalutan
tersebut, dapat dibuat skema yang menempatkan identifikasi masalah sesuai dengan posisinya, yaitu seperti terlihat pada gambar 19.
Akar Masalah
Driven market : Pasar Ikan hidup & Pasar Ikan
hasil Pemboman
Dualisme Pengurusan Kepulauan Togean antara Pusat & Daerah : Dorongan Harga dan
kemudahan tekhnologi
Tumpang tindihnya kebijakan
Masalah Antara
Penggunaan metode dan alat tangkap yang
merusak
Penurunan hasil tangkapan dan pendapatan, Tidak ada diversifikasi pencaharian
Sumber daya manusia yang rendah
Penegakan Hukum yang Masih belum Optimal melibatkan komunitas
Fenomena Lapang
Kerusakan TR yang masih berlangsung
Komunitas bajau dalam strata terendah
Penjualan Ikan Napoleon dan Ikan hasil Bom
Program Pengawasan yang dibentuk belum
efektif
Migrasi Masuk
Program Bantuan yang masih “satu arah” Tidak berlakunya
pengelolaan tradisional
Gambar 19 Identifikasi masalah pengelolaan dan pemanfaatan di Pulau Kabalutan(Sumber: Hasil Analisis 2012)
Jika menggunakan periodesasi rejim pengelolaan yaitu pada periodesasi sentralisasi dan desentralisasi, bisa disimpulkan kondisi ekologi, sosial dan ekonomi sebagai berikut :
1. Pada masa desentralisasi, kondisi terumbu karang tidak menunjukan kondisi yang baik. Hal ini ditunjukan dengan peningkatan tutupan karang mati di wilayah bagian Selatan Pulau Kabalutan sebesar 125 %.
2. Secara ekonomi pada masa sentralistik pendapatan nelayan meningkat secara drastis karena tingginya harga jual ikan hidup jenis Napoleon (Cheilinus undulatus) serta kemudahaan mendapatkan ikan dengan metode pemboman.
Sedangkan pada periode desentralisasi, pendapatan nelayan menurun karena turunnya daya dukung yang menyebabkan ikan sulit didapatkan saat ini.
3. Pada masa desentralisasi, tingkat partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sumberdaya meluas. Hal ini dicerminkan dari adanya inisiasi Daerah Perlindungan Laut (DPL) berbasis masyarakat di Pulau Kabalutan.