BAB III MEMBACA JEJAK FENOMENA PONARI DALAM MEDIA MASSA
1. Dramatisasi Fenomena Ponari dalam Media Massa
Kisah Ponari dan “batu ajaib”-nya sempat menarik perhatian masyarakat Indonesia, terutama ketika “batu ajaib” itu mampu membuat puluhan ribu orang datang berduyun-duyun untuk berobat pada Ponari. Ponari sendiri awalnya hanya seorang anak kecil yang masih duduk di bangku kelas III SD dan tidak mempunyai kemampuan mengobati. Suatu hari Ponari menemukan “batu ajaib” dan menggunakan batu itu untuk mengobati orang, sehingga Ponari mulai dikenal orang- orang di sekitarnya sebagai bocah yang bisa mengobati. Kemampuan mengobati yang dimiliki Ponari mulai menarik perhatian lebih banyak orang setelah pemberitaan media massa menjadikan Ponari sebagai “dukun cilik” yang lebih dikenal masyarakat
luas pada tahun 2009. Ada narasi dramatis yang disuguhkan media massa mengenai Ponari dan “batu ajaib”-nya. Narasi tersebut kebanyakan mengangkat soal awal mula Ponari menemukan batu dan perjalanan pengobatan yang dikerjakan Ponari selama menjadi “dukun cilik”, kedatangan puluhan ribu orang, banyaknya reaksi dari berbagai pihak mengenai praktik Ponari, hingga perubahan hidup Ponari dari seorang bocah biasa menjadi “dukun cilik” yang terkenal.
Perjalanan panjang pengobatan Ponari yang ditulis dalam bab ini berdasarkan narasi yang dihadirkan media massa, cetak maupun elektronik. Media cetak yang digunakan sebagai sumber adalah Kompas, Kedaulatan Rakyat, dan Jawa Pos. Media elektronik yang dipakai yaitu berita-berita dari SCTV, Metro TV, RCTI, ANTV, TV One, dan Trans TV. Ponari ramai dibicarakan dalam media massa pada bulan Februari-Maret 2009 dan mulai surut pada Mei 2009. Berita-berita media massa membuat Ponari menjadi perhatian masyarakat, terutama masyarakat yang memerlukan pengobatan dan membuat mereka datang pada Ponari, serta menarik perhatian pihak-pihak tertentu untuk menunjukkan sikap setuju atau tidak setuju pada praktik Ponari.
Media massa menampilkan beragam gambaran tentang “dukun cilik” Ponari. Karena sifat dan pekerjaan media massa adalah menceritakan peristiwa-peristiwa, maka kesibukan utama media massa adalah mengkonstruksikan berbagai realitas yang akan dipublikasikan kepada masyarakat. Pembuatan berita di media massa pada dasarnya adalah penyusunan realitas-realitas hingga membentuk sebuah cerita atau
wacana yang bermakna102. Media massa memiliki ideologi, pengetahuan, dan acuan- acuan tertentu sehingga berita yang disampaikan memberikan makna yang berbeda antara media massa yang satu dengan media massa lainnya. Institusi media menyelenggarakan produksi, reproduksi, dan distribusi pengetahuan dalam pengertian serangkaian simbol yang mengandung acuan bermakna tentang pengalaman dalam kehidupan sosial103. Segala macam pemberitaan tentang Ponari yang dilakukan media massa menimbulkan berbagai pemaknaan yang berbeda-beda.
Setiap media massa memiliki cara masing-masing untuk menarasikan Ponari dan praktik pengobatannya. Media di sini dipandang sebagai instrumen ideologi, melalui cara yang mana satu kelompok menyebarkan pengaruh dan dominasinya kepada kelompok lain. Media di sini tidak dipandang sebagai wilayah yang netral di mana berbagai kepentingan dan pemaknaan dari berbagai kelompok ditampung. Media justru bisa menjadi subjek, di mana ia mengkonstruksi realitas atas penafsiran dan definisinya sendiri untuk disebarkan kepada khalayak104.
Dalam pemberitaan media massa ada alur serangkaian peristiwa yang dihadirkan media dan membuat orang tertarik untuk mengikuti pemberitaan tentang Ponari. Dengan menggunakan konsep hermeneutik (dengan tahap enigma, delay, dan resolusi) dari Roland Barthes sebagai aspek penting dalam bernarasi, maka pada pemberitaan Ponari dapat diketahui ada banyak pelaku, jalan cerita, dan peristiwa
102
Ibnu Hamad. 2004. Konstruksi Realitas Politik dalam Media Massa: Sebuah Studi Critical Discourse Analysis terhadap Berita-berita Politik. Jakarta: Granit, hlm. 11.
103
Denis McQuail. 1987. Teori Komunikasi Massa. Terj. Agus Dharma & Aminuddin Ram. Jakarta: Penerbit Erlangga, hlm. 51.
104
yang membuat orang penasaran dan mencari tahu bagaimana peristiwa-peristiwa terjadi, mulai dari awal hingga akhir perjalanan si “dukun cilik”. Narasi yang ditampilkan media massa merupakan cara media massa bercerita tentang Ponari. Narasi menjadikan pembaca/penonton berita terus membaca/menonton berita dengan menghadirkan jalan cerita yang masuk akal bagi konsumen berita. Berikut analisis narasi fenomena Ponari dalam pemberitaan media massa.
a. “Batu Ajaib” Mengubah Seorang Bocah Biasa menjadi “Dukun Cilik” Dalam narasi yang dihadirkan media massa seluruh peristiwa dan cerita yang muncul dalam pemberitaan media massa berpusat pada keberadaan “dukun cilik” Ponari. Ponari yang awalnya hanyalah seorang bocah biasa, berubah menjadi orang yang mampu menggerakkan puluhan ribu orang datang kepadanya dengan tujuan:
mendapat kesembuhan dari “batu ajaib” kepunyaan Ponari. Kehidupan Ponari mulai
berubah setelah dia menemukan “batu ajaib”. Penemuan “batu ajaib” menjadi awal seluruh perjalanan Ponari, sebagai bocah biasa hingga menjadi “dukun cilik” yang terkenal. Pada awal berita-berita Ponari ada teka-teki (enigma) yang muncul mengenai siapa Ponari, bagaimana Ponari menemukan “batu ajaib”, dan bagaimana Ponari, yang semula seorang bocah biasa, kemudian berubah menjadi “dukun cilik”. Pada bagian ini media massa menceritakan bagaimana Ponari menemukan “batu ajaib” dan mulai menjadi “dukun cilik”. Dengan menampilkan bagian awal dari perjalanan Ponari, maka narasi yang dibangun media massa menjadi menarik perhatian pembaca/penonton untuk tetap mengikuti berita fenomena Ponari.
Ponari, bocah kelahiran Jombang, 6 Juli 1999105, anak pasangan Kamsen- Mukaromah, konon bisa mengobati segala macam penyakit dengan medium sebuah batu. Batu berwarna cokelat yang digunakan untuk mengobati itu ditemukan Ponari pada 17 Februari 2009106. Saat Ponari hujan-hujan, tiba-tiba muncul petir dan sebuah batu mengenai kepalanya. Batu itu kemudian dibawa pulang oleh Ponari107. Setelah memperoleh batu itu, Ponari menggunakannya sebagai jimat yang bermanfaat bagi banyak orang sesuai petunjuk dari kakek buyutnya108.
105
Kompas, Kamis 5 Februari 2009. “Pengobatan Tradisional: Mendadak Sembuh pada Zaman
Kaliyuga”.
106
“Praktik Dukun Cilik Tutup. Bupati Tak Jamin Berlaku Permanen” (Jawa Pos, Rabu, 11 Februari 2009). Berbeda dengan yang disampaikan dalam “‟Dukun Cilik‟ Hebohkan Jombang: 4 Tewas, Tempat Praktik Ditutup” (Kedaulatan Rakyat, Rabu, 11 Februari 2009), yaitu tiga minggu sebelum berita dimuat, kira-kira minggu kedua/ketiga Januari dan berita “Pengobatan Tradisional:
Mendadak Sembuh pada Zaman Kaliyuga” (Kompas, Kamis, 5 Februari 2009) yang menuliskan penemuan batu pada tanggal 12 Desember 2008. Awal Januari disebutkan sebagai waktu penemuan batu dalam berita “Ribuan Warga Berobat ke Dukun Cilik” (Kabar Petang, TV One, diunggah
pada 10 Februari 2009. http://www.youtube.com/watch?v=vQ-FG2ufOQ0&feature=related, diunduh: 16 Maret 2012). Batu Ponari dapat dilihat pada foto 10 (lihat lampiran).
107
Kisah penemuan batu tersebut berdasarkan kisah yang dipaparkan dalam “4 Tewas, Tempat Praktik
Ditutup: ‟Dukun Cilik‟ Hebohkan Jombang” (Kedaulatan Rakyat, Rabu, 11 Februari 2009). Kisah awal mula penemuan batu itu serupa dengan yang diinformasikan dalam “Heboh Ponari Dukun
Cilik dari Jombang” (Sigi 30 Menit, SCTV, disiarkan 18 Februari 2009. http://www.youtube.com/watch?v=M_AUuG7M2Gk, diunduh: 16 Maret 2012), “Ponari, Dukun
Cilik dengan Ribuan Pasien” (Topik Siang, ANTV, diunggah 8 Februari 2009.
http://www.youtube.com/watch?v=_n5RITiLyfo, diunduh: 16 Maret 2012), dan “Ribuan Warga
Berobat ke Dukun Cilik” (Kabar Petang, TV One, diunggah pada 10 Februari 2009.
http://www.youtube.com/watch?v=vQ-FG2ufOQ0&feature=related, diunduh: 16 Maret 2012). Dalam berita “Pengobatan Tradisional: Mendadak Sembuh pada Zaman Kaliyuga” (Kompas, Kamis, 5 Februari 2009) diceritakan batu tersebut didapatkan Ponari bertepatan dengan lewatnya petir di atas kepala Ponari. Ada pula berita yang mengungkapkan batu berwarna cokelat itu ditemukan Ponari saat disambar petir ketika bermain di bawah hujan lebat (“Praktik Dukun Cilik
Tutup. Bupati Tak Jamin Berlaku Permanen”, Jawa Pos, Rabu, 11 Februari 2009). Berita “Dukun
Ndeso Jadi Tamu Wong Katrok” (Jawa Pos, Kamis, 5 Maret 2009) menyebutkan batu didapat saat Ponari bermain yoyo, dan batu ada di depannya, kemudian dijadikan mainan.
108
Batu itu digunakan sebagai medium pengobatan setelah Ponari mendapat petunjuk dari kakek buyutnya. Hal ini disebutkan dalam berita “Heboh Ponari Dukun Cilik dari Jombang” (Sigi 30
Menit, SCTV, disiarkan 18 Februari 2009. http://www.youtube.com/watch?v=M_AUuG7M2Gk,
diunduh: 16 Maret 2012). Dalam berita ini ayah Ponari memberikan keterangan bahwa kakek buyut Ponari menyuruh Ponari menyimpan batu itu dan menggunakannya untuk menolong orang sakit, tapi tidak disebutkan melalui cara apa kakek buyut itu memberi petunjuk pada Ponari.
“Pasien” pertama Ponari adalah tetangganya dan konon langsung sembuh109. Praktik pengobatan yang dikerjakan Ponari pun cukup mudah, yaitu batu cukup dicelupkan dalam air atau digosok-gosokkan pada bagian tubuh yang terasa sakit110 atau batu dimasukkan ke dalam segelas air putih, kemudian airnya diminumkan ke orang yang sakit111. Ponari pertama kali praktik mengobati orang banyak pada tanggal 19 Januari 2009112 dan di tanggal itulah awal Ponari tidak pernah masuk sekolah lagi. Dengan menjadi “dukun cilik”, Ponari yang semula bersekolah akhirnya harus meninggalkan bangku sekolah agar bisa mengobati puluhan ribu pasiennya. Pasien Ponari datang dari berbagai daerah dan bisa mengantri hingga berhari-hari demi mendapat kesembuhan dari “batu ajaib”. Dengan kedatangan puluhan ribu pasien inilah praktik pengobatan yang dikerjakan Ponari semakin menarik perhatian lebih banyak orang dan menimbulkan reaksi yang beragam dari berbagai pihak.
109
“4 Tewas, Tempat Praktik Ditutup: ‟Dukun Cilik‟ Hebohkan Jombang” (Kedaulatan Rakyat, Rabu,
11 Februari 2009). Dalam “Ponari, Dukun Cilik dengan Ribuan Pasien” (Topik Siang, ANTV,
diunggah 8 Februari 2009. http://www.youtube.com/watch?v=_n5RITiLyfo, diunduh: 16 Maret 2012) disebutkan orang yang disembuhkan pertama kali adalah anak tetangga Ponari. Sedangkan berita “Heboh Ponari Dukun Cilik dari Jombang” (Sigi 30 Menit, SCTV, disiarkan 18 Februari
2009.http://www.youtube.com/watch?v=M_AUuG7M2Gk, diunduh: 16 Maret 2012) dan “Dukun
Cilik” (Liputan 6, SCTV, disiarkan 5 Februari 2009. http://www.youtube.com/watch?v=8pNEgfsRP1k&feature=related, diunduh: 16 Maret 2012) menyebutkan orang yang disembuhkan Ponari pertama kali adalah adik temannya yang sakit panas.
110
“Pengobatan Tradisional: Mendadak Sembuh pada Zaman Kaliyuga” (Kompas, Kamis, 5 Februari 2009).
111
“Praktik Dukun Cilik Tutup. Bupati Tak Jamin Berlaku Permanen” (Jawa Pos, Rabu, 11 Februari
2009). Pengobatan pasien dengan cara mencelupkan batu ke dalam gelas air minum serupa dengan yang disebut dalam “Ponari, Dukun Cilikdengan Ribuan Pasien” (Topik Siang, ANTV, diunggah 8
Februari 2009. http://www.youtube.com/watch?v=_n5RITiLyfo, diunduh: 16 Maret 2012) dan
“Ribuan Warga Berobat ke Dukun Cilik” (Kabar Petang, TV One, diunggah: 10 Februari 2009.
http://www.youtube.com/watch?v=vQ-FG2ufOQ0&feature=related, diunduh: 16 Maret 2012).
112
“Praktik Dukun Cilik Tutup. Bupati Tak Jamin Berlaku Permanen” (Jawa Pos, Rabu, 11 Februari 2009). Cara praktik Ponari dapat dilihat dalam foto 11 (lihat lampiran).
b. “Dukun Cilik” Ponari Kebanjiran Puluhan Ribu Pasien
Enigma/teka-teki masih muncul ketika para pasien mendatangi praktik Ponari. Di sini pembaca/penonton berita dibuat bertanya-tanya apakah Ponari memang mampu menyembuhkan dan mengapa banyak orang datang berobat pada Ponari. Dengan menampilkan cerita kedatangan puluhan ribu pasien di lokasi praktik Ponari beserta kesaksian para pasien yang berobat, pembaca/penonton berita dibuat semakin penasaran tentang kemampuan si “dukun cilik”.
Praktik pengobatan yang dikerjakan Ponari pada mulanya hanya diketahui oleh orang-orang di sekitar lingkungan Ponari. Namun, lama-kelamaan praktik pengobatan ini mampu mengundang puluhan ribu orang ke lokasi praktik Ponari di Dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Setiap hari hampir 50.000 nomor antrian dikeluarkan pihak panitia. Dalam sehari Ponari hanya bisa mengobati 10.000 orang mulai pukul 07.00 hingga pukul 16.00113. Praktik Ponari buka setiap hari kecuali hari Jumat dan praktik ini melibatkan hampir 300 orang warga Desa Balongsari. Sejak kemampuan Ponari terdengar ke berbagai daerah, Desa Balongsari dipenuhi banyak pengunjung. Jalan-jalan menjadi macet, gang-gang kampung berubah menjadi lahan parkir. Rumah-rumah penduduk dipenuhi para calon pasien114.
113
“4 Tewas, Tempat Praktik Ditutup: ‟Dukun Cilik‟ Hebohkan Jombang” (Kedaulatan Rakyat, Rabu,
11 Februari 2009). Para pasien Ponari dapat dilihat dalam foto 9 dan foto 16 (lihat lampiran).
114
“Kontroversi Pengobatan Ala Ponari”. Barometer, SCTV, disiarkan 26 Februari 2009.
http://www.youtube.com/watch?v=yHGEGvASmcc, diunduh: 16 Maret 2012. Situasi desa Ponari dapat dilihat dalam foto 5 dan foto 7 (lihat lampiran).
Puluhan ribu pasien yang datang pada Ponari sering menjadi sorotan utama dalam pemberitaan media massa. Puluhan ribu pasien dari berbagai daerah dalam hitungan beberapa minggu telah memadati tempat praktik Ponari. Para pasien ingin Ponari menyembuhkan penyakit mereka, mulai dari penyakit ringan hingga penyakit berat, dan penyakit yang baru sebentar diderita hingga penyakit yang sudah diderita bertahun-tahun. Selama berobat pada Ponari, para pasien wajib mengantri dan menunggu giliran. Setelah berobat pada Ponari, banyak pasien yang mengaku sembuh, tetapi ada juga yang mengaku tidak mengalami kesembuhan. Pasien Ponari kebanyakan berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah.
Berita berjudul “Banyak Sembuh, Tidak Sedikit Kecewa”115
memberikan gambaran ada pasien yang mengaku sembuh dan pasien yang mengaku tidak ada perubahan setelah berobat pada Ponari. Dalam berita ini disebutkan seorang pasien bernama Haji Nawawi mengaku sembuh setelah tiga tahun menderita sakit linu tulang. Haji Nawawi sudah berobat ke dokter, tetapi tidak mengalami perubahan. Akhirnya Haji Nawawi memutuskan berobat pada Ponari dan penyakitnya langsung hilang. Berbeda dengan pengakuan Khomsatun, warga Jombang, yang mengalami ngilu persendian. Meskipun mengaku percaya Ponari memiliki kelebihan, Khomsatun tetap tidak sembuh setelah meminum air Ponari116. Berita ini menampilkan hasil
115
Jawa Pos, Rabu, 11 Februari 2009.
116
Dalam berita “Banyak Sembuh, Tidak Sedikit Kecewa” (Jawa Pos, Rabu, 11 Februari 2009)
disebutkan juga beberapa pasien lain yang sembuh dan tidak sembuh. Pasien yang mengaku sembuh yaitu Sumardi (58) yang sakit stroke dan Musali (60) yang mengalami lumpuh total. Pasien tidak sembuh adalah Ismail Marzuki (55) yang menderita batuk menahun dan asam urat, serta dua orang yang mengalami gangguan jiwa, Luluk Jamilah (30) dan Sutomo (28). Ada pula beberapa pasien yang mengaku sembuh dan sempat diteliti dokter. Para pasien itu adalah Achmad Fatoni
berobat pada Ponari melalui kesaksian dari dua pasien yang mengalami hasil berbeda. Pasien pertama mengalami kesembuhan, sedangkan pasien yang kedua tidak sembuh sama sekali. Dalam berita ini pasien tidak menanyakan bagaimana air Ponari bisa menyembuhkan mereka. Para pasien hanya berbekal rasa percaya saja bahwa air celupan batu itu bisa menyembuhkan mereka.
Sama halnya dengan yang dialami Haji Nawawi, asal Jombang. Nawawi mengaku sembuh dari penyakit linu tulang yang sudah tiga tahun dideritanya. Selama tiga tahun itu, Nawawi sudah keluar masuk ruang dokter dan rumah sakit. Termasuk menjalani rontgen lima kali. Oleh dokter, Nawawi didiagnosis menderita penyakit pengeroposan tulang (osteoporosis). Namun, dari berbagai obat yang ditelannya, tetap saja tidak membuat Nawawi sembuh. Setelah mengonsumsi air yang dicelupi batu Ponari, dia
mengaku penyakitnya langsung hilang. “Saya bisa main tenis sampai dua set. Sakit itu tidak pernah saya rasakan lagi,” ungkapnya.
Nawawi bahkan membantah jika kesembuhannya hanya sugesti. Sebab selama berobat ke dokter dan rumah sakit, dia juga terus memiliki sugesti akan sembuh. Tetapi pada kenyataannya, dia tetap saja merasakan sakit.
Begitu pula dengan Khomsatun, 52, warga Jombang, yang menderita ngilu persendian.
“Saya percaya jika Ponari memiliki kelebihan. Tetapi setelah meminum air itu,
penyakit saya tetap tidak sembuh,” ungkap Khomsatun117
.
Berita ini menyebutkan awalnya Haji Nawawi merupakan pasien yang mengandalkan sugesti ketika berobat di rumah sakit. Sugesti yang dipegang oleh Haji Nawawi ini merupakan pengaruh yang muncul dari dalam dirinya sendiri bahwa dia akan sembuh. Dengan mengandalkan sugesti ini tampaknya Haji Nawawi kurang percaya
yang mengaku sembuh dari sakit batu ginjal dan Siti Mariyam, pasien yang menderita gangguan
jiwa (“Tim Dokter Teliti Pasien yang Mengaku Sembuh”, Jawa Pos, Minggu, 1 Maret 2009),
Pasien lain yang mengaku mendapat kesembuhan dan lebih dari satu kali datang pada Ponari adalah Suwaji. Suwaji mengaku sudah lima kali datang pada Ponari dan keluarganya sembuh. Kemudian Suwaji datang lagi yang keenam kalinya meminta air pada Ponari untuk juragan Suwaji
(“Fenomena Tabib Cilik: Mitos Kesaktian dan Kesembuhan Instan”, Kompas, Sabtu, 14 Februari
2009). Program Barometer SCTV juga menampilkan pernyataan seorang pasien bernama Yayuk yang mengaku sakit kanker. Yayuk sudah empat kali datang pada Ponari dan hampir sembuh dari kanker yang dideritanya (“Kontroversi Pengobatan Ala Ponari”. Barometer. Disiarkan 26 Februari
2009. http://www.youtube.com/watch?v=yHGEGvASmcc, diunduh: 16 Maret 2012).
117
pada pengobatan biomedis yang diterimanya dari rumah sakit. Setelah tidak kunjung sembuh selama berobat di rumah sakit, Haji Nawawi mulai tidak yakin pada sugesti yang ia miliki semula. Keyakinan untuk dapat sembuh cukup mempengaruhi Haji Nawawi selama berobat di rumah sakit walaupun pada akhirnya Haji Nawawi tidak memperoleh kesembuhan dari pengobatan rumah sakit. Dan setelah berobat pada Ponari Haji Nawawi langsung sembuh dan sempat membantah bahwa kesembuhannya itu hanya sugesti. Dari pernyataannya, Haji Nawawi meyakini Ponari memang punya kemampuan untuk mengobati orang sakit.
Melalui pernyataan Haji Nawawi tersebut, berita ini ingin memberikan gambaran adanya benturan antara pengobatan biomedis dengan pengobatan tradisional. Pengobatan biomedis yang selama ini sangat dipercaya masyarakat dan sudah menggunakan peralatan modern ternyata tidak menjamin pasien bisa sembuh, sementara pengobatan tradisional seperti yang dikerjakan Ponari malah mendapat kepercayaan dari masyarakat karena pasien merasa langsung sembuh ketika berobat pada Ponari. Haji Nawawi maupun Khomsatun merupakan contoh pasien yang mencoba “khasiat” air celupan batu Ponari. Dengan menampilkan pernyataan dari Haji Nawawi dan Khomsatun, berita ini tampak ingin mengatakan bahwa dari praktik pengobatan oleh Ponari tidak semua pasien bisa mengalami kesembuhan. Tetap ada pasien yang tidak sembuh walaupun batu Ponari dikabarkan “sakti” dan mampu menyembuhkan berbagai penyakit.
Dalam pernyataan Khomsatun, berita ini menunjukkan semula Khomsatun percaya saja bahwa Ponari memang punya kelebihan untuk menyembuhkan. Tidak
ada pasien yang sebelum berobat pada Ponari menanyakan apakah memang air celupan batu itu dapat mengobati mereka. Para pasien tampak langsung percaya pada “keajaiban” batu Ponari dan ikut mengantri berobat. Khomsatun juga ikut mengantri, mencoba minum air dari Ponari, tetapi pada akhirnya tetap tidak sembuh. Dalam berita ini tidak ditampilkan apakah Khomsatun mempertanyakan mengapa air dari Ponari tidak bisa menyembuhkannya meskipun ada pasien lain yang bisa sembuh.
Dengan menampilkan pernyataan dari pasien yang sembuh dan pasien yang tidak sembuh, media massa memberikan gambaran bagaimana batu Ponari dikabarkan memiliki kemampuan mengobati, tetapi pada praktiknya tidak bisa mengobati semua orang yang telah meminum air celupan batu. Dalam berita-berita media massa juga bisa dilihat apakah setelah meminum air celupan batu Ponari para
pasien pada akhirnya memikirkan ulang mengenai “kemampuan” batu Ponari, benar-
benar bisa menyembuhkan atau tidak bisa.
Banyak pasien Ponari yang datang dengan berbekal rasa percaya karena pengaruh cerita orang banyak tentang kemampuan Ponari dalam mengobati. Dalam
berita “Pengobatan Tradisional: Mendadak Sembuh pada Zaman Kaliyuga”118
salah satu pasien Ponari, Sriyati, mengalami gangguan pada saraf mata kirinya selama bertahun-tahun. Sriyati datang pada Ponari karena mendapatkan cerita dari banyak orang bahwa Ponari bisa menyembuhkan penyakit apa saja.
“Sudah bertahun-tahun saraf mata sebelah kiri saya tak berfungsi baik sehingga
penglihatan pun terganggu,” tuturnya.
118
Sejumlah metode pengobatan medis telah dicobanya, tetapi hasilnya nihil. “Makanya
saya ke sini. Sebab menurut sejumlah orang Ponari bisa menyembuhkan penyakit apa
saja,” tambah Sriyati119
.
Melalui pernyataan Sriyati berita ini memberikan gambaran Ponari telah menjadi harapan terakhir untuk mendapat kesembuhan. Dalam kasus pasien Sriyati berita ini menunjukkan setelah mencoba berbagai pengobatan medis dan tidak sembuh juga, akhirnya Ponari menjadi pilihan pengobatan bagi Sriyati. Pengobatan oleh Ponari terlihat menjadi pengobatan yang sangat penting bagi Sriyati sebab untuk bisa datang pada Ponari Sriyati harus mengikuti petunjuk sejumlah orang yang diyakini telah mencoba berobat pada Ponari. Dengan datang berobat pada Ponari, Sriyati tampaknya telah kecewa pada pengobatan medis yang ada karena tidak mampu menyembuhkan Sriyati dari penyakitnya. Sriyati secara tidak langsung telah meyakini Ponari mampu menyembuhkan penyakit apa saja, termasuk penyakit Sriyati, walaupun Sriyati baru pertama kali mencoba datang langsung untuk mendapat pengobatan dari Ponari.
Hartini, seorang pasien yang sudah mencoba berobat pada Ponari, dalam tayangan Sigi 30 Menit mengungkapkan dia kurang percaya pada pengobatan Ponari.
Hartini (pasien Ponari): Nggak ada perubahan. Saya tuh ya, maaf ya, perasaan saya tuh ngambang, nggak sreg, masa batu bisa menyembuhkan.
(Tampilan visual: Hartini diwawancara dan mengungkapkan ketidakpercayaannya pada batu Ponari, kemudian dilanjutkan tampilan seorang pasien yang menggunakan air Ponari untuk membersihkan muka)120.
119
“Pengobatan Tradisional: Mendadak Sembuh pada Zaman Kaliyuga”. Kompas, Kamis, 5 Februari 2009.
120
“Heboh Ponari Dukun Cilik dari Jombang”. Program Sigi 30 Menit, SCTV, disiarkan 18 Februari