Kecamatan Cigombong merupakan salah satu kecamatan yang terletak di Kabupaten Bogor, yang secara geografis terletak pada 60 49' Lintang Selatan dan 106º 48' Bujur Timur. Kecamatan ini berbatasan dengan beberapa wilayah, antara lain: Kecamatan Cijeruk di sebelah utara, Kecamatan Caringin di sebelah timur, Kabupaten Sukabumi di sebelah barat, dan Kabupaten Sukabumi di sebelah selatan. Kecamatan Cigombong memiliki kondisi bentangan lahan daratan dan berbukit, terletak pada ketinggian 536 meter diatas permukaan laut dengan curah hujan rata-rata 2 150 – 2 650 mm per tahun dan suhu antara 240C - 310C.
Bedasarkan data monografi Kecamatan Cigombong tahun 2011, Kecamatan Cigombong memiliki sembilan desa, yaitu Desa Cigombong, Desa Watesjaya, Desa Tugujaya, Desa Ciburuy, Desa Srogol, Desa Cisalada, Desa Ciadeg, Desa Ciburayut, dan Desa Pasirjaya. Selain itu, Kecamatan Cigombong memiliki luas wilayah meliputi 4 402.52 hektar yang terdiri dari 2.00 hektar sawah dengan sistem irigasi teknis; 210.80 hektar sawah dengan sistem pengairan setengah teknis; 276.66 hektar sawah dengan sistem irigasi sederhana; 50.00 hektar sawah tadah hujan; 312.50 hektar tegalan atau kebun; 51.5 ladang atau huma; 95 hektar perkebunan; 19.30 hektar perikanan darat atau air tawar; dan sisa lahan lainnya digunakan untuk 41 unit fasilitas umum, pemakaman serta pemukiman.
Jumlah penduduk Kecamatan Cigombong pada tahun 2011 adalah sebesar 82 042 jiwa, yang terdiri dari 41 848 laki-laki dan sebesar 40 194 jiwa perempuan. Mayoritas penduduk di Kecamatan Cigombong bekerja di bidang pertanian yaitu sebanyak 10 680 jiwa yang terdiri dari 4 800 jiwa pemilik tanah, 2 130 petani atau penggarap, dan 3 750 buruh tani. Penduduk lainnya kebanyakan bekerja sebagai buruh industri, buruh bangunan, pedagang, pengemudi, pengrajin, dan pegawai negeri sipil.
Kecamatan Cigombong merupakan salah satu daerah yang memberikan peran penting pada subsektor tanaman pangan, khususnya sebagai kecamatan yang berkontribusi nyata dalam hal budidaya padi di Kabupaten Bogor. Padi memberikan dampak yang positif yaitu pemasukan cukup besar bagi Kecamatan Cigombong dengan rata-rata 3 229.6 ton per hektar. Selain padi, produksi pertanian tanaman pangan lainnya yang menonjol adalah palawija seperti jagung, ubi kayu, kacang tanah, kacang panjang, ubi jalar, dan mentimun. Sedangkan untuk produksi buah-buahan yang menonjol ialah pepaya, mangga, belimbing, alpukat, dan jeruk.
Desa Ciburuy Kecamatan Cigombong
Desa Ciburuy merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat, yang berbatasan dengan Desa Ciadeg di sebelah utara, Desa Cigombong di sebelah selatan, Desa Cisalada di sebelah barat dan Desa Srogol di sebelah timur. Desa ini memiliki luas wilayah sebesar 160 hektar. Dari sejumlah luas lahan tersebut, 53 hektar diantaranya termasuk lahan sawah, dan lahan sawah tersebut terdiri dari 2 hektar sawah irigasi
33 teknis, 30 hektar sebagai sawah irigasi sederhana, dan 21 hektar sawah tadah hujan.
Desa Ciburuy termasuk dalam daerah dataran tinggi dengan ketinggian 1 300 meter di atas permukaan laut, dengan curah hujan sebesar 23.1 milimeter per tahun dan suhu rata-rata 30 derajat celcius. Jumlah penduduk di Desa Ciburuy pada tahun 2011 adalah 11 993 orang yang terdiri dari 2 458 kepala keluarga. Dari total jumlah peduduk tersebut diketahui sebanyak 6 129 orang berjenis kelamin laki-laki, dan sisanya sebanyak 5 864 orang berjenis kelamin perempuan. Mata pencaharian penduduk di Desa Ciburuy (Tabel 4) sebagian besar berprofesi sebagai petani.
Tabel 4 Pengggolongan penduduk berdasarkan jenis mata pencaharian di Desa Ciburuy tahun 2011
Jenis Pekerjaan Jumlah petani Persentase (%)
Petani 1 416 52.70
Wirausahawan 306 11.39
Pegawai Negeri Sipil 24 0.90
Karyawan swasta 614 22.85 Tukang ojek 259 9.64 Pengemudi 30 1.12 Dokter 2 0.07 Bidan 2 0.07 Paraji/dukun 34 1.26 Total 2 687 100.00
Sumber: Data monografi Desa Ciburuy Kecamatan Cigombong Pemerintah Kabupaten Bogor (2012)
Berdasarkan Tabel 4, mata pencaharian penduduk sebagai petani sebanyak 1 416 orang (52.7 persen). Selanjutnya sebagai wirausahawan sebanyak 306 orang (11.39 persen), sebagai pegawai negeri sipil sebanyak 24 orang (0.9 persen), sebagai karyawan swasta sebanyak 614 orang (22.85 persen), sebagai tukang ojek sebanyak 259 orang (9.64 persen), sebagai pengemudi sebanyak 30 orang (1.12 persen), sebagai dokter sebanyak dua orang (0.07 persen), sebagai bidan sebanyak dua orang (0.07 persen), dan sisanya sebagai paraji atau dukun sebanyak 34 orang (1.26 persen). Sebagian besar penduduk Desa Ciburuy yang berprofesi di bidang pertanian merupakan pemilik lahan, yaitu berjumlah 920 orang (64.97 persen), sisanya merupakan petani penggarap sebesar 350 orang (24.72 persen) dan buruh tani sebesar 146 orang (10.31 persen).
Desa Pasir Jaya Kecamatan Cigombong
Desa Pasir Jaya terletak di Kecamatan Cigombong Kabupaten Bogor, dengan jarak jangkauan kurang lebih 4 km ke kantor kecamatan dan kurang lebih 35 km ke ibu kota Kabupaten Bogor. Desa ini berbatasan dengan kaki Gunung Salak di sebelah timur, Desa Ciburayut di sebelah utara, Desa Cisalada di sebelas selatan, dan Desa Ciburuy di sebelah timur. Jumlah penduduk Desa Pasir Jaya tahun 2010 adalah 6 912 jiwa. Luas wilayah desa ini terdiri dari 141.84 hektar lahan sawah dan 48.70 hektar lahan kering.
34
Komoditi pertanian yang paling unggul di desa ini adalah padi yakni dengan luasan sebesar 43 hektar, kemudian disusul oleh komoditi jagung sebesar 10 hektar, pala 10 hektar, kelapa 10 hektar ubi kayu 5 hektar, ubi jalar 4 hektar, cengkeh 4 hektar, buah-buahan 3 hektar, dan kacang tanah 1 hektar, dan lain-lain. Jika dilihat dari status kepemilikan lahan seperti pada Tabel 5, sebagian besar petani di Desa Pasir jaya merupakan buruh tani, yakni sebesar 800 kk atau sebesar 47.88 persen, kemudian disusul oleh pemilik lahan sebesar 38.06 persen, dan penggarap sebesar 14.06 persen.
Tabel 5 Status kepemilikan lahan di Desa Pasir Jaya tahun 2010
Status kepemilikan lahan Jumlah (kk) Persentase (%)
Pemilik lahan 636 38.06
Penggarap 235 14.06
Buruh tani 800 47.88
Total 1 671 100.00
Sumber: Data monografi Desa Pasir Jaya Kecamatan Cigombong (2011)
Karakteristik Petani Sampel
Karakteristik umum petani diperoleh dari hasil wawancara dengan para petani sampel di lapangan untuk melihat karakteristik umum petani seperti umur, pendidikan, pengalaman bertani padi semi organik, status usaha, status kepemilikan lahan, dan luas lahan garapan untuk padi semi organik. Petani yang digunakan sebagai sampel dalam penelitian terdiri dari 55 petani. Karakteristik petani sampel berdasarkan umur hingga status usaha dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6 Karakteristik petani berdasarkan umur, pendidikan, pengalaman, dan status usaha di Kecamatan Cigombong tahun 2013
Karakteristik petani Jumlah petani (orang) Persentase (%) Berdasarkan umur (tahun)
a. 20 - 59 37 67.27
b. 60 - 69 18 32.73
Berdasarkan pendidikan
a. Tidak sekolah dan SD 40 72.73
b. SMP dan SMU 13 23.64
c. Perguruan tinggi 2 3.64
Berdasarkan pengalaman (tahun)
a. 1 - 5 19 34.55
b. > 5 36 65.45
Status usaha
a. Utama 47 85.45
b. Sampingan 8 14.55
35 Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh bahwa petani padi semi organik di Kecamatan Cigombong pada umumnya tergolong pada usia produktif karena sebesar 67.27 persen petani berusia 20-59 tahun, dan sisanya berumur 60-81 tahun atau sebesar 32.73 persen. Dengan demikian para petani di desa ini masih tergolong mampu mengelola usahataninya dengan baik. Sebagian besar dari petani tersebut memiliki pendidikan yang rendah yakni tidak bersekolah hingga pendidikan SD sebesar 72.73 persen, petani berpendidikan SMP dan SMA sebesar 23.64 persen, sementara pendidikan perguruan tinggi hanya sebesar 3.64 persen.
Tingkat pendidikan akan mempengaruhi teknik usahatani khususnya terkait dengan penggunaan teknologi pertanian. Sementara jika dilihat dari karakteristik pengalaman, petani di Kecamatan Cigombong tergolong pada petani yang cukup berpengalaman dalam membudidayakan padi semi organik, karena sebesar 65.45 persen petaninya tergolong pada petani yang memiliki pengalaman bertani padi selama 6 sampai 15 tahun, dan sisanya berpengalaman di bawah 1 sampai 5 tahun. Pengalaman tersebut akan mempengaruhi keterampilan petani dalam budidaya padi. Selain itu petani sampel pada penelitian ini pada umumnya menjadikan pertanian padi semi organik menjadi pekerjaan utama yakni sebesar 85.45 persen, dan sisanya sebesar 14.55 persen memiliki pekerjaan lain sebagi pekerjaan utama misalnya sebagai karyawan, PNS, sekuriti, pembajak lahan atau pengemudi traktor/kerbau, penyedia jasa warnet dan foto copy, penjaga vila, hingga sebagai pedagang.
Keragaan petani juga dilihat berdasarkan kepemilikan Lahan, yang menunjukkan bahwa sebagian besar petani di Kecamatan Cigombong tidak memiliki lahan. Petani yang memiliki lahan di Kecamatan Cigombong hanya sebesar 18.18 persen, sisanya yakni sebesar 81.82 persen petani tidak memiliki lahan. Petani yang tidak memiliki lahan pada umumnya menggapap lahan orang lain dengan sistem bagi hasil 50:50 dan 60:40. Bagi hasil 50:50 merupakan sistem bagi hasil yang 50 persen produksinya menjadi milik petani penggarap dan sisanya sebesar 50 persen dari produksinya menjadi milik pemilik lahan.
Sementara bagi hasil 60:40 merupakan sistem bagi hasil yang 60 persen produksinya menjadi milik petani penggarap dan sisanya sebesar 40 persen dari produksinya menjadi milik pemilik lahan. Sebagian besar petani padi semi organik di Kecamatan ini membayar lahan dengan bagi hasil 50:50 yakni sebesar 74.29 persen petani, dan sisanya mengelola lahan dengan bagi hasil 60:40. Selain itu beberapa petani yang tidak memiliki lahan juga menyewa lahan dengan biaya sewa rata-rata sebesar Rp6 414 286.00 per hektar per musim tanam.
Hasil penelitian mengenai para petani padi semi organik di Kecamatan Cigombong juga menunjukkan bahwa luas lahan garapan untuk usahatani padi semi organik yang dilakukan tergolong pada skala kecil karena sebesar 87.27 persen petani menngarap lahan 0.00-0.50 hektar. Sisanya hanya sebesar 12.73 persen petani yang menggarap lahan dengan luasan di atas 0.50 hektar. Data kepemilikan lahan dan luas lahan yang digarap untuk usahatani padi semi organik di Kecamatan Cigombong dapat dilihat pada Tabel 7.
36
Tabel 7 Sebaran petani berdasarkan status kepemilikan lahan dan luas garapan usahatani padi semi organik di Kecamatan Cigombong tahun 2013 Sebaran petani Jumlah petani (orang) Persentase (%) Status kepemilikan lahan
a. Milik sendiri 10 18.18
b. Bagi hasil dan sewa 45 81.82
Luas lahan garapan (ha)
a. 0 - 0.50 48 87.27
b. > 0.50 7 12.73
Sumber: Data primer (2013)
Keragaan Usahatani Padi Semi Organik di Daerah Penelitian
Komoditas padi semi organik merupakan komoditas unggulan di Kecamatan Cigombong mengingat bahwa padi semi organik sudah dibudidayakan di Kecamatan ini sejak tahun 2002, khususnya di Desa Ciburuy Kecamatan Cigombong Kabupaten Bogor. Teknik budidaya ini masih tergolong baru. Peralihan teknik ini dilakukan dalam mendukung program pemerintah Go Organic 2010, dan melihat bahwa peluang pasar beras dari hasil pertanian ramah lingkungan cukup berprospek karena permintaannya yang cukup tinggi pada era ini. Budidaya padi semi organik yang dilakukan petani adalah proses produksi padi sawah yang tidak menggunakan pestisida kimia, menggunakan teknologi terapan lainnya yang mendukung sistem pertanian berkelanjutan yang ramah lingkungan.
Beras yang dihasilkan dari padi semi organik akan mendapat pengawasan dari dinas kesehatan, untuk mendapatkan sertifikasi POM (Pengawasan Obat dan Makanan) sesuai dengan kadar pestisida dan unsur kimia yang terkandung dalam makanan. Penggunaan pestisida pada usahatani padi semi organik sudah mampu dilepas, namun penggunaan pupuk masih tetap dilakukan dengan jumlahnya berangsur menurun dengan harapan untuk menghasilkan padi yang benar-benar pure organik dalam jangka panjang. Ketergantungan penggunaan pupuk kimia ini juga disebabkan oleh penurunan produktivitas padi secara drastis apabila pengunaan pupuk benar-benar dihentikan, karena unsur hara tanah yang sudah sangat tergantung pada unsur sintetik akibat penggunaan pupuk kimia yang berlebihan yang dilakukan selama ini. Seperti teknik usahatani komoditi lain, usahatani padi semi organik ini dimulai dari persiapan lahan, persemaian hingga panen. Teknik budidaya yang dilakukan oleh para petani responden secara umum dapat digambarkan sebagai berikut.
Pengolahan Lahan
Pengolahan lahan dilakukan untuk menciptakan struktur tanah yang mendukung bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman, sehingga diharapkan hasil yang diperoleh akan maksimal. Beberapa kegiatan yang dilakukan dalam pengolahan lahan yaitu pembajakan, penghalusan struktur tanah hasil pembajakan, mencangkul lahan yang tidak terjangkau untuk dibajak, mempersiapkan pematang sawah, dan memperbaiki serta meratakan pematang. Setelah kegiatan pembajakan selesai dilakukan, kemudian lahan diberakan selama
37 beberapa minggu. Lamanya waktu pemberaan tanah tergantung pada umur bibit disemai.
Pembibitan
Kegiatan pembibitan dilaksanakan dalam rangka penyediaan bibit unggul bersertifikat untuk mendukung pelaksanaan budidaya padi semi organik secara berkelanjutan. Benih yang digunakan berlabel biru dan memiliki daya tumbuh minimum 90 persen. Kebutuhan benih sebanyak 8 sampai 15 kilogram per hektar. Tujuan pembibitan ini untuk memperoleh bibit yang siap tanam pada umur 12 sampai 20 hari. Pembibitan terdiri dari beberapa tahap-tahap seperti berikut: a. Persiapan lahan pembibitan, biasanya dilakukan setelah lahan selesai dibajak
atau saat lahan diberakan. Lahan yang telah dibajak pada pengolahan tanah dibuat menjadi beberapa petak. Petak-petakan tersebut dibuat lebih tinggi dari permukaan lahan sekitarnya yang kemudian petak semai tersebut diratakan permukaannya. Media persemaian menggunakan campuran tanah dan kompos dengan perbandingan 1:1. Luas persemaian yang digunakan adalah 200 m2 untuk memenuhi kebutuhan bibit seluas 1 hektar.
b. Perlakuan benih sebelum sebar, untuk mendapatkan benih yang bernas, yang dapat menekan dan menghilangkan penyakit yang ada pada benih. Kemudian merangsang meratanya pengecambahan benih, sehingga mengalami pertumbuhan yang serempak. Perendaman benih dilakukan dengan menggunakan garam atau air abu. Cara perendaman yang dilakukan petani adalah dengan mencampur 1 sendok makan garam atau 3 sendok abu setiap 1 liter air dengan air bersih secukupnya. perendaman dilakukan selama 24 jam. Setelah perendaman, benih dicuci sambil dipisahkan antara benih yang bernas dengan benih hampa dan kotoran lainnya. Setelah itu, benih kembali didiamkan selama 12 jam sebelum tanam.
Penanaman
Penentuan umur bibit untuk padi semi organik lebih didasarkan pada pertumbuhan dan perkembangan tanaman di lahan. Bibit umur muda akan menghasilkan anakan yang banyak karena masih dalam masa pertumbuhan generatif yang tinggi. Petani padi ramah lingkungan menggunakan bibit yang relatif masih muda (12 sampai 20 hari). Bibit pada umur ini sudah memiliki empat helai daun atau lebih, dengan tinggi 10 sampai 15 cm. Pada umumnya, musim tanam padi semi organik dimulai pada bulan Desember hingga Maret dan dilanjutkan pada Agustus hingga November. Sementara musim tanam kedua dimulai pada bulan April sampai Juli.
Sebelum penanaman, pola jarak tanam dibuat dengan jarak tanam lebar yaitu 12.5 x 25 cm2. Jarak kelompok barisan tanam yaitu 50 cm, untuk memudahkan pemeliharaan dan penghematan penggunaan pupuk serta cakupan unsur hara menjadi luas. Bibit ditanam dua hingga 4 per rumpun (lobang tanam) dengan kedalaman yang dianjurkan sekitar 1 sampai 1.5 cm. Batang dan akar bibit ditanam membentuk huruf L. Selanjutnya dilakukan penyulaman dengan menggunakan bibit 2 sampai 4 rumpun.
Pengaturan Air
Tujuan pengaturan air antara lain memperoleh aerasi dan pertumbuhan biota tanah yang sempurna, memperoleh anakan yang produktif, usahatani hemat
38
air, kualitas tani hemat air, dan kualitas hasil panen lebih baik (kematangan gabah merata).
Penyiangan
Penyiangan dilakukan untuk membersihkan atau mengurangi tanaman selain tanaman pokok (padi) atau tanaman gulma, mencegah serangan hama terutama tikus, penggemburan tanah, menekan persaingan penggunaan hara tanah, dan menjaga tanaman untuk tumbuh sehat yang memiliki anakan produktif. Penyiangan pada umumnya dilakukan dua kali. Penyiangan pertama dilakukan pada umur 20 sampai 22 HST (Hari Setelah Tanam) sambil melakukan penyulaman, penyiangan dilakukan dengan jalan mengacak lahan secara sempurna sampai dengan akar rumput putus, rumput hasil penyiangan dibenamkan. Penyiangan kedua dilaksanakan pada 15 hari setelah penyiangan pertama, penyiangan bersifat menghilangkan rumput pengganggu dengan cara dibenamkan.
Pemupukan
Kegiatan pemupukan yang dilakukan petani pada semi organik terdiri dari 2 sampai 3 kali pemupukan. Pemupukan untuk padi ini dilakukan tiga kali untuk pupuk urea, sementara pupuk phonska diberikan sekaligus saat pemupukan pertama. Dosis pupuk yang diberikan per hektar sebagai berikut ± 62 kilogram urea, ± 140.85 kilogram pupuk phonska. Petani padi semi organik di Desa Ciburuy menggunakan pupuk dasar yaitu kompos dan LOF (Liquid Organic Fertilizer). Namun penanaman pada periode yang diteliti tidak menggunakan LOF. Pemupukan dasar ini berguna untuk menggemburkan tanah, menambah bahan organik, menambah hara tanah.
Pupuk dasar kompos ditabur pada waktu membajak. Komposisi pupuk kompos jerami sebanyak 1 sampai 5 ton per hektar. Pemupukan susulan pertama dilakukan pada 21 hingga 25 HST. Komposisi pupuk yang diberikan pada waktu ini adalah 32 kilogram urea, 90 kilogram Ponska. Kedua jenis pupuk ini ditabur sampai merata dalam petakan secara homogen, dilakukan sesudah daun padi tidak ada embun. Pemupukan susulan kedua dilakukan pada 45 hingga 25 HST. Komposisi pupuk yang diberikan pada waktu ini adalah 30 kilogram urea, dan 50 kilogram phonska. Kedua jenis pupuk ini ditabur sampai merata dalam petakan secara homogen, dilakukan sesudah daun padi tidak ada embun.
Pengendalian Hama dan Penyakit
Kegiatan pengendalian hama dan penyakit dapat dilakukan dengan kultur teknis, mekanis, biologis, dan kimia (pestisida nabati). Petani padi semi organik umumnya menggunakan pestisida nabati dengan bahan-bahan yang diperoleh dari lingkungan sekitar yang diketahui efektif dalam mengendalikan hama, misalnya; daun picung, daun mimba, daun tuba, dan kacang babi. Pengendalian hama dan penyakit tanaman dilakukan untuk memutus siklus hama penyakit tanaman, meningkatkan daya tahan fisik tanaman, menekan hama utama padi (penggerek batang), menekan populasi hama secara umum agar produksi secara ekonomi menguntungkan dan lingkungan tetap lestari.
Pestisida nabati disemprot merata dengan dosis larutan ± 50 liter pada 45 HST dengan dosis larutan 2 sampai 5 cc per liter air. Penanganan hama penyakit tanaman juga dilakukan dengan pergiliran varietas, penggunaan pupuk kompos,
39 penggunaan pupuk suplemen organik, gropyokan dan pengumpanan, sanitasi lingkungan, penggunaan varietas yang tahan hama penyakit tertentu, penggunaan agensi hayati, nematoda patogen serangga dan jamur beauveria, pelestarian musuh alami (predator) hama.
Pemeliharaan Pematang Sawah
Kegiatan pemeliharaan pematang dilakukan untuk mengurangi gulma atau mencegah perkembangan hama pengganggu tanaman disekitar tanaman. Pematang yang dipenuhi dengan rumpun gulma menjadi tempat yang tempat perkembangannya hama, sehingga perlu dibersihkan untuk mencegah kemungkinan tersebut. Kegiatan ini diselesaikan dengan menggunakan cangkul dan parang. Pemeliharaan pematang sawah dilakukan bersamaan dengan penyiangan.
Panen
Kegiatan panen dilakukan setelah bulir padi sebagian besar telah menguning (90 persen). Tanaman dipotong menggunakan pisau potong khusus untuk panen (arit). Setelah dipotong kemudian dikumpulkan pada suatu tempat untuk di rontokkan. Merontokan bulir padi dilakukan secara sederhana dengan cara dibanting pada papan perontok. Setelah gabah diperoleh dari hasil perontokan, gabah dibersihkan dari sisa-sisa daun dan kotoran lain dengan cara diangin-anginkan.
Kegiatan Pasca Panen
Kegiatan pasca panen meliputi kegiatan bagi hasil panen dan pengangkutan. Bagi hasil panen biasanya dilakukan di lahan. Kedua belah pihak (pemilik dan buruh panen) memperoleh bagiannya masing-masimg sesuai sistem bagi hasil yang disepakati. Sistem bagi hasil panen ini dilakukan sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak. Kesepakatan yang berlaku bagi buruh tani terkait dengan upah bekerja dari beberapa kegiatan yang dilakukannya, seperti kegiatan menanam, penyiangan, dan panen. Kebijakan pembayaran upah tergantung pada sistem bagi hasil yang digunakan.