• Tidak ada hasil yang ditemukan

Wilayah Pegunungan Kendeng merupakan bagian dari Kabupaten Pati dengan kondisi umum yang tidak terpisahkan dari kondisi Kabupaten Pati. Kondisi wilayah Pegunungan Kendeng yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kondisi yang menjelaskan secara umum keadaan dan situasi yang terdapat di Kabupaten Pati dan secara khusus Pegunungan Kendeng, yang meliputi: letak geografis, iklim, tofografi dan tanah, pengunaan lahan.

Letak Geografis Kabupaten Pati

Kabupaten Pati merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Tengah,

yang terletak pada 110050’sampai dengan 111015’ Bujur Timur dan 6025’ sampai

dengan 7000’ Lintang Selatan, dengan batas-batas sebagai berikut:

- Sebelah Utara : Kabupaten Jepara dan Laut Jawa

- Sebelah Timur : Kabupaten Rembang dan Laut Jawa

- Sebelah Selatan : Kabupaten Grobogan dan Blora

- Sebelah Barat : Kabupaten Kudus dan Jepara

Luas daratan Kabupaten Pati sebesar 150.368 hektar dan laut sebesar

444.480 km2 (Bappeda 2010). Secara administratif Kabupaten Pati terbagi dalam

21 kecamatan, yaitu: Kecamatan Pati, Margorejo, Gembong, Tlogowungu, Tayu, Cluwak, Dukuhseti, Gunungwungkal, Margoyoso, Juwana, Trangkil, Batangan, Wedarijaksa, Jakenan, Jaken, Pucakwangi, Winong, Kayen, Sukolilo, Gabus, dan Tambakromo.

Deretan Pegunungan Kendeng memanjang dari Kabupaten Pati, Rembang sampai dengan Kabupaten Blora. Pegunungan Kendeng mendominasi wilayah selatan Kabupaten Pati, yang meliputi: Kecamatan Tambakromo, Kayen, Sukolilo, Winong dan Pucak Wangi.

Iklim Kabupaten Pati

Pada tahun 2010 rata-rata curah hujan sebanyak 1.602 mm yang terjadi selama 88 hari per tahun. Menurut Oldeman Kabupaten Pati memiliki tiga tipe iklim, yaitu: (1) Tipe C, agak basah yang memiliki bulan basah sebanyak 5-6 bulan berturut-turut ; (2) Tipe D, sedang yang memiliki bulan basah sebanyak 3-4 bulan berturut-turut ; dan (3) Tipe E, agak kering yang memiliki bulan basah

kurang dari 3 bulan berturut-turut. Suhu udara berkisar antara 230C sampai

dengan 390C.

Tipe iklim pada Pegunungan Kendeng adalah tipe C dan D. Tipe iklim C, terdapat di Kecamatan Winong dan Pucak Wangi, sedangkan tipe iklim D terletak di Kecamatan Tambakromo, Kayen dan Sukolilo (BPS 2009). Tanaman yang sesuai dengan tipe iklim C antara lain padi sawah dan palawija, sedangkan tipe iklim D adalah tanaman palawija.

Topografi dan Tanah Kabupaten Pati

Topografi Kabupaten Pati datar dan berbukit-bukit. Topografi berbukit dapat di jumpai pada wilayah Pati bagian Barat dan Selatan. Kabupaten Pati mempunyai ketinggian terendah 1 meter dari permukaan air laut (m dpl) dan tertinggi 380 m dpl, dengan ketinggian rata-rata 17 m dpl. Wilayah terendah terletak di Kecamatan Juana, Batangan, Cluwak, Tayu, Trangkil, Margoyoso, Wedarijaksa dan Dukuhseti. Sedangkan wilayah tertinggi terletak di Kecamatan Gembong.

Wilayah Pati bagian Selatan atau Pegunungan Kendeng memiliki daratan terendah 10 m dpl, dan tertinggi 201 m dpl dengan rata-rata ketinggian 21,2 m dpl. Rincian ketinggian Pegunungan Kendeng dari permukaan air laut tersaji pada Tabel 22.

Tabel 22. Rincian Ketinggian Pegunungan Kendeng ( m dpl).

No Kecamatan Tertinggi (m dpl) Terendah (m dpl) Rerata (m dpl)

1. Sukolilo 201 10 24

2. Kayen 201 10 24

3. Tambakromo 201 10 15

4. Pucak Wangi 125 11 25

5. Winong 120 11 18

Sumber: BPS Kabupaten Pati Tahun 2009.

Jenis tanah Kabupaten Pati (BPS 2009) terdiri atas: (1) Jenis tanah red

yellow mediteran adalah tanah yang banyak mengandung liat, kejenuhan basa

lebih dari 50 persen dan warna tanah merah kekuningan; (2) Jenis tanah latosol

adalah tanah dengan kadar liat lebih dari 60 persen, remah sampai gumpal, gembur, warna tanah seragam dan solum dalam, yaitu lebih dari 150 cm; (3) Jenis

tanah alluvial adalah tanah berasal dari endapan baru, berlapis-lapis, dan

kandungan pasir kurang dari 60 persen; (4) Jenis tanah hidromer sama dengan

tanah podsolik, artinya tanah yang banyak mengandung liat dan kejenuhan basa

kurang dari 50 persen; (5) Jenis tanah regosol adalah tanah bertekstur kasar

dengan kadar pasir lebih dari 60 persen; dan (6) Jenis tanah gromosol adalah

tanah dengan kadar liat lebih dari 30 persen, dapat mengembang dan mengerut. Bila musim kering tanah keras dan retak-retak dan pada kondisi basah lengket atau mengembang.

Jenis tanah yang terdapat di Pegunungan Kendeng adalah: (1) Jenis tanah

alluvial terdapat di Kecamatan Tambakromo, Kayen dan Sukolilo; (2) Jenis tanah

hidromer terdapat di Kecamatan Kayen, Tambakromo, Pucak Wangi dan Winong;

dan (3) Jenis tanah gromosol terdapat di Kecamatan Pucak Wangi dan Winong.

Selain ketiga jenis tanah tersebut, sepanjang Pegunungan Kendeng didominasi

jenis tanah padas (karst) sebagai bahan bahu semen dan marmer.

Penggunaan Lahan di Kabupaten Pati

Penggunaan lahan dibedakan dalam dua kategori yaitu: lahan sawah dan lahan bukan sawah. Luas lahan sawah sebesar 58.448 hektar atau 38,87 persen, dan lahan bukan sawah sebesar 91.920 hektar atau sekitar 61,13 persen. Penggunaan lahan di Pegunungan Kendeng, juga dibedakan menjadi dua, yaitu: lahan sawah sebesar 24.278 hektar atau 16,1 persen dan lahan bukan sawah seluas 28.607 hektar atau 19,07 persen. Rincian penggunaan lahan di Kabupaten Pati dan Pegunungan Kendeng selengkapnya, disajikan pada Tabel 23.

Sesuai dengan keadaan topografi, tipe iklim dan jenis tanah, wilayah Pegunungan Kendeng merupakan daerah kering dan kritis. Keadaan tersebut berpengaruh terhadap pola penggunaan lahan. Penggunaan lahan di Pegunungan Kendeng, cenderung untuk tanaman palawija yang dipadukan dengan tamanan keras atau pepohonan. Hal ini tercermin dari luas lahan tadah hujan dan hutan negara, sebesar 52,4 persen dari luas keseluruhan kedua lahan tersebut ditanami dengan palawija dan pepohonan. Demikian juga, luas lahan tegalan sebesar 33,9 persen dari keseluruhan luas tegalan di Kabupaten Pati. Bahkan, luas hutan rakyat di Kabupaten Pati 96,4 persennya terletak di Pegunungan Kendeng (BPS 2009).

Tabel 23. Perbandingan Penggunaan Lahan di Kabupaten Pati dan Pegunungan Kendeng

Penggunaan Lahan Kabupaten Pati Pegunungan Kendeng Luas (Ha) Persentase Luas (Ha) Persentase 1. Lahan Sawah

- Pengairan teknis 18.150 12,1 7.962 5,3 - Pengairan semi teknis 8.871 5,9 3.667 2,4 - Pengairan sederhana 9.073 6,0 2.286 1,5

- Tadah hujan 22.162 14,7 10.363 6,9

- Lain-lain 192 0,13 - -

2. Lahan Bukan Sawah

- Pekarangan 26.258 17,5 8.075 5,4 - Tegalan 28.347 18,9 9.297 6,2 - Hutan rakyat 1.667 1.1 1.607 1,07 - Hutan Negara 16.548 11,0 9,630 6,4 - Perkebunan 2.314 1,5 - - - Tambak/kolam/rawa 11.040 7,3 - - - Lain-lain 5.746 3,8 - - Jumlah 150.368 100 52.887 35,2

Sumber: BPS Kabupaten Pati Tahun 2009 (diolah).

Pola pengelolaan lahan petani Pegunungan Kendeng secara garis besar dibedakan menjadi dua macam yaitu sebelum era reformasi (tahun 1999) dan sesudah reformasi. Sebelum era reformasi, petani secara intensif mengelola lahan milik dan atau lahan gadu (menggarap lahan milik orang lain), dengan jenis tanaman semusim terutama padi dan palawija. Setelah era reformasi yang ditandai

dengan penjarahan kayu (illegal logging) pada kawasan hutan Perhutani, pola

pengelolaan lahan berubah. Perubahan ini terjadi, karena petani diberikan akses untuk dapat mengelola dan memanfaatkan lahan kawasan hutan Perhutani yang dikemas dalam bentuk kelompok tani lembaga masyarakat desa hutan (LMDH).

Kegiatan LMDH tersebut, pengelolaan lahan dilakukan dengan sistem tumpang sari atau agroforestri sederhana. Petani diwajibkan menanam taman pokok (jati), dan di sela-selanya ditanami dengan tanaman semusim. Pembagian

hasil dari tanaman dilakukan dengan pola bagi hasil (sharing). Pengaturan pola

bagi hasil disepakati bersama antara anggota kelompok yang diwakili oleh ketua kelompok dengan pihak Perhutani. Selain petani mendapatkan penghasilan dari pengelolaan lahan, petani juga dilibatkan secara aktif dalam perencanaan,

pelaksanaan, dan pengawasan. Pelibatan petani dalam perencanaan, antara lain petani diberikan kewenangan untuk merencanakan tanaman semusim yang sesuai dengan umur tanaman pokok. Keterlibatan petani dalam pelaksanaan, antara lain: membuat lubang tanam, menanam, memelihara dan melakukan penjarangan. Sedangkan keterlibatan dalam pengawasan, petani diberikan tanggung jawab untuk menjaga hutan yang dikelola bersama dalam bentuk LMDH.

Keterlibatan petani dalam pelaksanaan kegiatan LMDH, memberikan dampak pada pola pengelolaan lahan milik petani. Pola pengelolaan lahan milik petani meniru seperti yang dilakukan dalam kegiatan LMDH. Lahan-lahan tadah hujan dan tegalan yang dahulu ditanami secara intensif ditanami dengan tanaman semusim mulai dipadukan dengan tanaman keras seperti jati dan mahoni, sehingga membentuk sistem agroforestri sederhana atau hutan rakyat campuran. Pola pengelolaan lahan dengan sistem agroforestri sederhana tersebut, pada saat

ini telah menjadi trend di Kabupaten Pati. Hal ini terbukti dalam kurun waktu

lima tahun terakhir penambahan hutan rakyat campuran (agroforestri sederhana) seluas 4.545 hektar atau rata-rata per tahunnya seluas 909 hektar (Bappeda 2010).

Karakteristik Individu Petani

Petani Pegunungan Kendeng yang berumur lebih dari 50 tahun sebesar 61,5 persen; berpendidikan rendah atau setingkat sekolah dasar (SD) sebanyak 66,5 persen; jarang sekali mengikuti pendidikan non formal sebanyak 86,0 persen. Memiliki pengalaman bertani lebih dari 31 tahun sebanyak 63,0 persen; sebagian besar (61,5 persen) berpengalaman melaksanakan agroforestri lebih dari 27 tahun; dan keterdedahan terhadap informasi termasuk sedang (skor rerata 62,9). Sebaran karekteristik individu petani sekitar hutan dalam penerapan sistem agroforestri selengkapnya disajikan pada Tabel 24.

Tabel 24. Sebaran Karekteristik Individu Petani dalam Penerapan Sistem Agroforestri

No Sub Peubah Skor Ketegori n Persentase (%)

1. Umur 30 – 39 th Muda 51 12,8

Rerata 50,4 tahun 40 – 49 th Agak tua 103 25,7

50 – 69 th Tua 246 61,5

2. Pendidikan formal 0 – 6 th Rendah 266 66,5

Rerata 5,8 ≈ 6 tahun 7 – 12 th Sedang 80 20,0

13 – 16 th Tinggi 54 13,5

3. Pendidikan non formal 0 – 2 kali Rendah 344 86,0

Rerata 1 kali 3 – 4 kali Sedang 45 11,3

5 – 6 kali Tinggi 11 2,7

4. Pengalaman bertani 10 – 20 tahun Rendah 72 18,0

Rerata 31,2 tahun 21 – 30 tahun Sedang 76 19,0

31 – 40 tahun Tinggi 252 63,0

5. Pengalaman agroforestri 5 – 15 tahun Rendah 74 18,5

Rerata 27,4 tahun 16 – 26 tahun Sedang 80 20,0

27 – 39 tahun Tinggi 246 61,5

6. Keterdedahan thd informasi 0 – 50,0 Rendah 70 17,5

Skor rerata = 62,9 50,1 – 75,0 Sedang 216 54,0

75,1 – 100 Tinggi 114 28,5

Terdapat hubungan nyata (α=0,01) dan positif, antara umur petani dengan

pengalaman bertani dan pengalaman melaksanakan agroforestri. Hubungan nyata

(α=0,01) dan negatif, antara umur petani dengan pendidikan formal dan non

formal. Selanjutnya, terdapat hubungan nyata dan negatif, antara pendidikan formal dengan pengalaman melaksanakan agroforestri, serta antara pendidikan

non formal dan pengalaman bertani. Hubungan antar indikator yang mencirikan karakteristik individu petani dalam penerapan sistem agroforestri selengkapnya disajikan pada Tabel 25.

Tabel 25. Hubungan antar Indikator Karakteristik Individu Petani dalam Penerapan Sistem Agroforestri

Karakteristik Individu

Karakteristik Individu Petani

Umur Pendidikan formal Pendidikan non formal Pengalaman bertani Pengalaman agroforestri Keterdedahan thd informasi Umur 1 -0,764** -0,523** 0,837** 0,670** -0,115 Pendidikan formal 1 0,560** -0584** -0,397* 0,386* Pendidikan non formal 1 -0,384* -0,287 0,146 Pengalaman bertani 1 0,801 0,065 Pengalaman agroforestri 1 0,022 Keterdedahan thd informasi 1 Keterangan: **) Nyata pada α=0,01; dan *) Nyata pada α=0,05

Umur Petani

Rentang umur responden berkisar antara 30 sampai dengan 69 tahun, dengan rerata 50,4 tahun, yang termasuk kategori berumur tua. Fenomena ini terjadi karena generasi muda kurang berminat dan tertarik menjadi petani. Mereka lebih memilih berurbanisasi dan bekerja sebagai buruh bangunan, buruh pabrik, karyawan toko, pedagang keliling dan pegawai. Selain itu, mereka memilih merantau ke luar pulau Jawa seperti Sumatera, Kalimantan, dan Papua, serta menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) ke luar negeri seperti Malaysia, Singapura, Taiwan, Korea Selatan dan Arab Saudi. Data Bappeda (2010) menunjukkan bahwa pada tahun 2009 masyarakat Kabupaten Pati yang menjadi TKI ke luar negeri sebanyak 18.627 orang.

Akibatnya, wilayah Pegunungan Kendeng kekurangan tenaga kerja yang potensial untuk menggarap lahan pertanian maupun kehutanan. Kondisi ini berpengaruh pada: (1) Program pemerintah tentang ketahanan pangan menjadi terganggu, padahal Kabupaten Pati merupakan salah satu sentra panghasil beras di Jawa Tengah (Distannak 2010); (2) Hutan rakyat dengan sistem agroforestri bertambah luas, karena petani yang berumur tua secara alamiah tenaga fisiknya mulai melemah sehingga mencari alternatif tanaman yang kurang membutuhkan

tenaga. Padmowihardjo (1999) menyatakan bahwa kemampuan belajar seseorang mencapai puncaknya pada umur 25 tahun kemudian turun secara gradual sampai dengan umur 46 tahun, kemudian turun secara nyata pada umur 55 sampai dengan 65 tahun, tetapi kedewasaan dan pengalamannya semakin meningkat.

Hasil temuan ini, diharapkan menjadi perhatian bagi pihak-pihak yang berkepentingan supaya merencanakan dan menciptakan program-program unggulan di bidang pertanian dan kehutanan yang menarik minat generasi muda, agar mereka tidak meninggalkan desa dan merasa bangga menjadi petani.

Pendidikan Formal

Rentang tingkat pendidikan formal responden berkisar antara 0 sampai dengan 16 tahun, dengan rerata 5,8 tahun atau setara dengan lulus sekolah dasar (SD). Bahkan, ditemukan terdapat responden yang tidak pernah mengenyam

bangku sekolah sama sekali. Terdapat hubungan nyata (α=0,01) dan negatif,

antara tingkat pendidikan formal dengan umur petani. Semakin tua umur petani semakin rendah tingkat pendidikan formal yang dimilikinya. Kondisi ini berarti, bahwa pendidikan formal pada masa itu belum menjadi kebutuhan petani.

Pendidikan masih dianggap sebagai “barang mahal” yang hanya dapat dinikmati

oleh kaum priyayidan petani-petani kaya.

Pada saat ini, kondisi tersebut telah berubah, anak-anak petani sebagian ada yang lulus SMP dan SMA. Terjadinya hal tersebut karena petani telah sadar bahwa pendidikan merupakan bekal untuk meraih masa depan yang lebih baik. Tidak dipungkiri bahwa kebijakan pemerintah tentang wajib belajar sembilan tahun juga berperan meningkatkan pendidikan formal anak-anak petani. Sebenarnya, ditemukan hal lain yang menjadi pendorong kuat yaitu keinginan orang tua agar anak-anaknya dapat menjadi pegawai, perangkat desa atau guru. Petani melihat orang-orang tersebut memiliki tingkat kehidupan yang lebih sejahtera dibandingkan dengan petani biasa.

Pendidikan formal dibutuhkan petani dalam penerapan sistem agroforestri pada lahan kritis. Hal ini terkait dengan pengetahuan dan wawasan dalam menemukan dan memecahkan masalah yang dihadapi. Tidak jarang ditemukan petani kurang tepat dalam memecahkan permasalahan yang dihadapinya, karena keterbatasan pendidikan dan tradisi yang dimiliknya. Sebagai contoh: mulai

menanam padi harus dilakukan pada bulan ganjil, karena kalau bulan genap diyakini gagal panen.

Pendidikan Non Formal

Selaras dengan pendidikan formal sebanyak 86,0 persen responden jarang sekali mengikuti pendidikan non formal atau pelatihan. Bahkan, ditemukan petani sama sekali tidak pernah mengikuti pelatihan, magang dan sejenisnya. Pelatihan merupakan sarana untuk meningkatkan keterampilan, agar kinerja petani meningkat. Sumpeno (2004) menyatakan bahwa peningkatan keterampilan tidak hanya dilakukan secara formal tetapi dapat melalui pelatihan, lokakarya,

kunjungan silang, magang dan on the job training. Davies (2005) menyatakan

bahwa pelatihan merupakan jawaban atas perubahan yang terjadi dan untuk memenuhi kebutuhan sebagai sarana untuk mempersiapkan perubahan perilaku ke arah yang lebih baik.

Terdapat hubungan nyata (α=0,01) dan negatif, antara umur petani dengan

tingkat pendidikan non formal. Semakin tua umur petani semakin jarang mengikuti pelatihan. Penyebabnya adalah lembaga yang menyelenggarakan pelatihan menetapkan persyaratan tertentu, antara lain: (1) Peserta pelatihan minimal berpendidikan SMP atau sederajat; atau (2) Ketua atau pengurus kelompok tani. Mengacu persyaratan tersebut, petani berumur tua tidak dapat mengikuti pelatihan karena mereka maksimal hanya lulus SD dan tidak semua petani menjadi pengurus kelompok.

Sampai dengan saat ini, pelatihan yang telah dilaksanakan antara lain: (1) Sistem penanaman jagung tanpa oleh tanah (TOT) yang dilaksanakan oleh perusahaan pabrik jagung bisi dan pioneer; (2) Sistem agroforestri yang dilaksanakan oleh Perhutani dan Dinas Kehutanan dan Perkebunan pada 2003/2004 dalam kegiatan gerakan rehabilitasi lahan (gerhan); dan (3) Silvikultur intensif (silin) yang dilaksanakan oleh Dinas Kehutanan dan Perkebunan.

Mengingat pentingnya pelatihan sebagai sarana untuk menyiapkan perubahan perilaku petani dalam ranah peningkatkan keterampilan, sepatutnya lembaga yang berwenang mendesain dan menyelenggarakan pelatihan yang

bersifat mobile, yaitu pelatihan yang dilaksanakan secara berpindah-pindah

dilakukan dengan jalan bekerja sama dengan penyuluh dan kelompok tani. Penyuluh dapat berperan sebagai fasilitator dan kelompok tani sebagai penyelenggara, dengan demikian petani generasi tua berkesempatan mengikuti pelatihan untuk meningkatkan keterampilannya dalam pengelolaan lahan kritis.

Pengalaman Bertani

Rentang pengalaman bertani responden berkisar antara 10 sampai dengan 40 tahun, dengan rerata 31,2 tahun termasuk dalam kategori tinggi. Terdapat keselarasan antara umur petani dengan pengalaman bertaninya. Hal ini menunjukkan bahwa dunia pertanian telah ditekuni responden sejak usia remaja. Panjangnya pengalaman bertani menyebabkan petani dapat melihat dengan cermat dan teliti tentang hal-hal yang berkaitan dengan pengelolaan pertanian di lahan kritis.

Dipandang dari dunia pendidikan termasuk penyuluhan, pengalaman merupakan suatu akumulasi dari proses belajar yang dialami petani, yang dilakukan secara gradual atau pelan-pelan. Pengalaman tersebut diperoleh dari setiap peristiwa yang terjadi, baik gagal maupun berhasil. Melalui setiap kejadian tersebut, petani dapat mengambil pelajaran yang dimanfaatkan untuk bertaninya.

Hal ini dipertegas oleh hubungan nyata (α=0,01) dan positif, antara pengalaman

bertani dan umur petani. Padmowiharjo (1999) menyatakan bahwa rangkaian setiap pengalaman yang berhasil merupakan suatu hasil proses belajar yang bersifat abstrak dan membentuk suatu peta kognitif.

Pengalaman Melaksanakan Agroforestri

Selaras dengan pengalaman bertani, pengalaman melaksanakan sistem agroforestri di lahan kritis sebanyak 61,5 persen responden, lebih dari 27 tahun. Sebenarnya, pengalaman melaksanakan sistem agroforestri tersebut sama dengan pengalaman bertani, karena petani telah melaksanakan salah satu bentuk sistem

agroforestri yaitu “tumpang sari” sejak masa remaja. Hairiah et al. (2003)

menyatakan bahwa ilmu sistem agroforestri merupakan ilmu lama yang dikemas dalam bentuk baru.

Panjangnya pengalaman petani melakukan kegiatan agroforestri, menyebabkan petani mampu mengelola lahannya dengan efesien dan efektif. Efesiensi dan efektivitas pengelolaan lahan tersebut tercermin dari penggunaan

lahan pekarangan rumah dan tegalan yang dilakukan petani secara tradisonal, sederhana dan terpadu. Tradisional, karena kebiasaan petani menanam tanaman untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Sederhana, karena penanaman dilakukan petani tanpa perencanaan, penanaman dilakukan agar lahan tidak kosong atau gersang. Terpadu, karena semua jenis tanaman ditanam, termasuk untuk memelihara ternak. Kondisi ini terlihat dari pekarangan rumah yang ditanami dengan berbagai jenis tanaman keras (jati, mahoni, mangga, rambutan dan kelapa), sayuran, tanaman obat dan untuk memelihara ternak.

Keterdedahan terhadap Informasi

Tingkat keterdedahan terhadap informasi termasuk dalam kategori sedang, dinyatakan sebanyak 54,0 persen responden. Hal ini mengindikasikan bahwa petani telah mampu mengakses atau mendapatkan informasi dari berbagai sumber informasi. Sumber informasi petani, diperoleh dari sesama petani, pedagang atau tengkulak, penebas, dan perangkat desa yang sekaligus sebagai pengurus kelompok. van den Ban dan Hawkins (1999) dan Mardikanto (2009) menyatakan bahwa sumber informasi petani berasal dari para petani yang lain, agen penyuluh dan lembaga informasi.

Penyebaran informasi dilakukan dengan cara dari mulut ke mulut. Tempat yang digunakan petani seperti: warung kopi, sawah dan pos jaga. Tempat-tempat tersebut menjadi tempat berkumpul para petani pada pagi dan sore hari. Jenis informasi yang disebarluaskan cukup beragam yaitu: harga benih jagung, pupuk dan bibit tanaman, serta harga jual kayu, jagung, singkong dan ternak. Khusus informasi tentang pengelolaan lahan dengan sistem agroforestri petani mendapatkannya dari perangkat desa. Perangkat desa sekaligus sebagai pengurus kelompok telah mengikuti pelatihan pengelolaan lahan kritis dengan sistem agroforestri sehingga mereka memiliki banyak informasi tentang hal tersebut yang dibutuhkan oleh petani.

Motivasi Petani dalam Penerapan Sistem Agroforestri

Motivasi petani sekitar hutan dalam penerapan sistem agroforestri di lahan kritis sebagai sarana untuk meningkatkan kinerja termasuk kategori sedang. Hal ini terlihat dari tiga skor rerata indikatornya sedang yaitu: tingkat pemenuhan kebutuhan dasar sebesar 69,0; intensitas hubungan sosial sebesar 63,9 dan tingkat

kompetisi atau daya saing sehat sebesar 71,7. Skor rerata yang indikatornya tinggi adalah tingkat pengakuan atas keberhasilan pengolahan lahan kritis sebesar 75,3. Sebaran tingkat motivasi petani sekitar hutan dalam penerapan sistem agroforestri selengkapnya disajikan pada Tabel 26.

Tabel 26. Sebaran Tingkat Motivasi Petani Sekitar Hutan dalam Penerapan Sistem Agroforestri di Lahan Kritis

No Sub Peubah Skor Ketegori n Persentase (%)

1. Pemenuhan kebutuhan dasar 0 – 50,0 Rendah 26 6,5

Skor rerata = 69,0 50,1 – 75,0 Sedang 230 57,5

75,1 – 100 Tinggi 144 36,0

2. Intensitas hubungan sosial 0 – 50,0 Rendah 58 14,5

Skor rerata = 63,9 50,1 – 75,0 Sedang 232 58,0

75,1 – 100 Tinggi 110 27,5

3. Tingkat pengakuan atas keberhasilan pengolahan lahan kritis

0 – 50,0 Rendah 40 10,0

Skor rerata = 75,3 50,1 – 75,0 Sedang 94 23,5

75,1 – 100 Tinggi 266 66,5

4. Tingkat kompetisi 0 – 50,0 Lemah 10 2,5

Skor rerata = 71,7 50,1 – 75,0 Sedang 228 57,0

75,1 – 100 Tinggi 162 40,5

Skor rerata motivasi petani = 70,2 Sedang

Terdapat hubungan nyata (α=0,01) dan positif, antara intensitas hubungan

sosial dengan umur petani, pengalaman melaksanakan agroforestri dan tingkat pemenuhan kebutuhan dasar. Hubungan antara indikator motivasi petani sekitar dengan karakteristik individu dalam penerapan sistem agroforestri di lahan kritis selengkapnya disajikan pada Tabel 27.

Tabel 27. Hubungan antara Motivasi Petani dengan Karakteristik Individu Petani Sekitar Hutan dalam Penerapan Sistem Agroforestri.

Indikator Motivasi Karakteristik Individu Pemenuhan kebutuhan dasar Intensitas hubungan sosial Pengakuan atas keberhasilan Tingkat kompetisi Umur 0,133 0,482** -0,021 -0,432** Pendidikan formal 0,129 0,318 0,220 0,100

Pendidikan non formal 0,138 0,373* 0,291 0,173

Pengalaman bertani 0,364* 0,368* 0,301 -0,169

Pengalaman agroforestri 0,538** 0,631** 0,404* -0.131

Keterdedahan thd informasi 0,405* 0,392* 0,395* 0,496**

Pemenuhan kebutuhan dasar 1 0,527** 0,418* 0,304

Intensitas hubungan sosial 1 0,393* 0,395*

Pengakuan atas keberhasilan 1 0,446*

Tingkat kompetisi 1

Pemenuhan Kebutuhan Dasar

Tingkat pemenuhan kebutuhan dasar petani sekitar hutan dalam penerapan sistem agroforestri termasuk dalam kategori sedang sampai dengan tinggi, sebanyak 93,5 persen responden. Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan dasar petani sekitar hutan telah terpenuhi dari hasil penerapan sistem agroforestri. Hasil temuan ini memperkuat penelitian Suharjito (2000) di Desa Bumiwangi Sukabumi, bahwa hasil produk sistem agroforestri dapat untuk memenuhi

kebutuhan subsisten, sosial dan komunal. Hal serupa ditemukan Yuniandra et al.

(2007) yang melakukan penelitian di Gunung Cermai, bahwa hasil sistem agroforestri dapat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan meningkatkan pendapatan.

Pada praktek sistem agroforestri, menurut petani, kebutuhan dasarnya dipenuhi melalui hasil tanaman semusim, tanaman keras dan hasil pemeliharaan

ternak. Hasil tanaman semusim seperti: jagung, singkong, senthik dan gembili

digunakan petani untuk memenuhi kebutuhan pangan dan sandang, sedangkan hasil tanaman keras seperti: jati dan mahoni, digunakan petani untuk memenuhi kebutuhan papan. Kebutuhan pendidikan dan kesehatan terpenuhi dari hasil tanaman semusim, tanaman keras dan pemeliharaan ternak. Tanaman keras dan ternak selain untuk memenuhi kebutuhan dasar juga berfungsi sebagai tabungan.

Terkait dengan pemenuhan kebutuhan pendidikan dan kesehatan, meskipun dapat terpenuhi dari hasil sistem agroforestri namun petani juga

Dokumen terkait