• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jumlah santri dalam penelitian ini sebanyak 86 orang yang berada di Pondok Pesantren Modern Sahid Gunung Menyan (PPMSGM). Jumlah santri tersebut dilihat karakteristik individu yang bermanfaat dalam menganalisis faktor yang dapat mempengaruhi persepsi konsumen tentang susu kambing. Karakteristik individu santri yang diamati meliputi umur, jenis kelamin, pengeluaran per bulan, sumber informasi dan pengetahuan produk. Tabel 8 menunjukkan hasil klasifikasi santri berdasarkan karakteristik individu.

Tabel 8. Karakteristik Individu Santri

No Karakteristik Individu Jumlah (orang) Persentase (%) 1 Umur

10-12 tahun (Anak-anak) 6 7

13-15 tahun (Remaja awal) 54 63

16-18 tahun (Remaja lanjut) 26 30

2 Pengeluaran per bulan

100.000-300.000 (rendah) 20 23 300.000-600.000 (sedang) 37 43 >600.000 (tinggi) 29 34 3 Sumber Informasi Teman 15 17 Keluarga 21 24 Televisi 4 5 Sekolah 46 54 4 Pengetahuan Produk Kurang 8 9 Baik 63 73 Sangat baik 15 18

Umur

Hasil penelitian pada Tabel 8 menunjukkan bahwa sebagian besar santri berumur 13-15 tahun, hal ini berarti 63% para santri sudah bermukim di PPMSGM antara satu sampai dua tahun. Sementara itu, 30% lainnya berumur 16-18 tahun yang termasuk ke dalam kategori remaja lanjut. Hal ini menunjukkan bahwa 30% santri sedang menempuh pendidikan di tingkat Madrasah Aliyah (MA) atau setingkat dengan SMA. Namun tidak dapat diperkirakan sudah berapa lama 30% santri tersebut bermukim di PPMSGM, hal ini dikarenakan santri di tingkat MA ada yang melanjutkan dari tingkat Madrasah Tsanawiah (MTs) atau setingkat SMP dan ada pula yang baru masuk PPMSGM hanya pada tingkat MA.

Jenis Kelamin

Keputusan mengkonsumsi susu kambing untuk setiap kelompok jenis kelamin disajikan pada Tabel 9.

Tabel 9. Keputusan Mengkonsumsi pada Setiap Kelompok Jenis Kelamin. Keputusan Mengkonsumsi No Jenis Kelamin Jumlah Responden

(orang)

Jumlah (orang) Persentase (%)

1 Laki-laki 47 30 64

2 Perempuan 39 25 64

Sebanyak 64% santri laki-laki maupun perempuan memutuskan untuk mengkonsumsi susu kambing minimal sepekan sekali setelah makan siang. Hasil tersebut menunjukkan bahwa keputusan mengkonsumsi susu kambing relatif tidak berbeda di antara laki-laki dan perempuan. Baik laki-laki maupun perempuan sama- sama menyukai susu kambing, dengan alasan rata-rata ingin menjaga kesehatan tubuh.

Pengeluaran Per bulan

Pengeluaran per bulan dalam penelitian ini didefinisikan sebagai jumlah uang saku santri yang digunakan untuk seluruh keperluan pribadi tidak termasuk uang saku yang digunakan untuk makan dan laundry dalam satu bulan terakhir pada saat penelitian ini dilakukan. Tingkat pengeluaran sangat penting diketahui karena secara tidak langsung dapat mengindikasikan pendapatan konsumen yang besangkutan. Indikator pengeluaran merupakan pengganti dari indikator pendapatan. Indikator

pendapatan dalam kuisioner tidak ditanyakan secara langsung karena biasanya indikator ini merupakan salah satu hal yang bersifat pribadi sehingga sangat sensitif jika ditanyakan kepada orang lain.

Tabel 1 menunjukkan bahwa diantara 86 santri yang mengisi kuesioner, 23% diantaranya mempunyai pengeluaran per bulan antara Rp 100.000,- sampai dengan Rp 300.000,-. Sedangkan 43% santri pengeluaran per bulannya antara Rp 300.000,- sampai dengan Rp 600.000,-. Pengeluaran perbulan santri yang lebih dari Rp 600.000,- mencapai 34% dari keseluruhan santri yang mengisi kuisioner. Informasi tersebut dapat dilihat bahwa sebagian besar santri memiliki pengeluaran per bulannya termasuk dalam kategori sedang dan tinggi, bahkan dari pengakuan sebagian santri menyebutkan tidak sedikit santri yang pengeluaran per bulannya lebih dari Rp 1.000.000,-. Mengenai pendapatan yang diterima santri, sebagian besar mengatakan bahwa pendapatan berasal dari orang tua dan beasiswa PPMSGM. Sumber Informasi

Berdasarkan hasil analisis data yang disajikan pada Tabel 8, sumber informasi pembentuk persepsi yang didapat konsumen terbesar adalah berasal dari sekolah (54%), diikuti dengan keluarga (24%), teman (17%), dan televisi (5%). Data tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar santri mengetahui tentang susu kambing setelah bersekolah di PPMSGM, hal ini dikarenakan santri menerima pelajaran tentang pertanian dan peternakan di sekolah. Teknik budidaya yang diberikan kepada santri adalah budidaya kambing Etawa, budidaya lidah buaya, budidaya holtikultura dan tanaman padi.

Pengetahuan Produk

Tabel 8 mengungkapkan bahwa sebagian besar (73%) santri memiliki pengetahuan yang baik tentang susu kambing, bahkan 18% diantaranya memiliki pengetahuan sangat baik. Hal ini menunjukkan bahwa PPMSGM cukup berhasil dalam memperkenalkan susu kambing kepada para santri.

Indikator pengetahuan produk yang ditanyakan dalam kuisioner meliputi pengetahuan santri tentang gizi dan nutrisi yang terkandung dalam susu kambing, komposisi susu kambing dan manfaat susu kambing.

Persepsi Santri tentang Susu Kambing

Persepsi tidak akan terjadi jika tidak didahului dengan perhatian konsumen terhadap produk. Perhatian terhadap suatu objek berfungsi sebagai sarana seleksi dan pemilihan berbagai stimulus menjadi suatu informasi yang dapat diterima kemudian dapat dirasakan oleh konsumen. Konsumen yang mengevaluasi suatu produk menilai berbagai atribut di antaranya adalah aroma, citarasa, penyajian, kemasan, besar porsi dan khasiat. Indikator-indikator inilah yang ditanyakan dalam kuisioner.

Tabel 10. Rataan Skor Persepsi Santri tentang Susu Kambing.

Indikator Persepsi Rataan skor*

Aroma 1,55 Cita rasa 2,08 Penyajian 2,00 Kemasan 1,97 Besar porsi 2,18 Khasiat 2,23

Total rataan skor 2,00

*Keterangan : 1 = Kurang sesuai, 2 = Cukup sesuai, 3 = Sesuai

Berdasarkan Tabel 10, terlihat bahwa rataan skor persepsi santri tentang susu kambing adalah 2,00. Hal ini menunjukkan bahwa mutu pelayanan dan produk susu kambing di PPMSGM cukup sesuai dengan apa yang diharapkan oleh konsumen. Tabel 10 juga menunjukkan bahwa khasiat memiliki nilai rataan skor yang paling tinggi. Khasiat merupakan salah satu indikator yang mempengaruhi keputusan santri dalam mengkonsumsi susu kambing. Indikator lain yang diperhatikan berturut-turut adalah besar porsi, cita rasa, penyajian dan kemasan serta yang terakhir adalah aroma.

Aroma

Aroma merupakan salah satu parameter yang mempengaruhi daya terima konsumen terhadap suatu produk. Hidung adalah alat indra yang dapat mencium

aroma dari suatu makanan, sedangkan lidah bisa mengecap lima rasa yaitu manis, asam, asin, pahit dan gurih. Informasi tentang nilai suatu makanan dapat bertambah dengan adanya aroma yang ditimbulkan dari makanan tersebut.

Persepsi terhadap aroma susu kambing memiliki rataan skor paling rendah yaitu 1,55. Hal ini menunjukkan bahwa persepsi santri terhadap aroma susu kambing di PPMSGM masih kurang sesuai dengan apa yang diharapkan para santri. Walaupun demikian, seperti dapat dilihat pada Tabel 11, 72% santri menyatakan suka dengan aroma susu kambing. Para santri menyatakan aroma bau kambing yang biasanya tercium, saat ini sudah lebih baik setelah ditambahkan rasa strawberry dan vanila sehingga aroma susu kambing menjadi lebih harum. Sebanyak 22 orang atau 26% santri menyatakan tidak suka terhadap aroma susu kambing. Hal ini dikarenakan para santri mengaku masih mencium aroma bau di dalam susu tersebut.

Tabel 11. Penilaian Santri terhadap Aroma Susu Kambing

Aroma Susu Jumlah (orang) Persen (%)

Tidak suka 22 26

Suka 62 72

Sangat suka 2 2

Total 86 100

Cita Rasa

Citarasa adalah kesan yang diterima lidah saat mengkonsumsi suatu makanan. Rasa susu kambing yang terdapat di PPMSGM adalah vanila dan strawberry. Namun susu kambing di PPMSGM mempunyai keunikan, walaupun rasa susu kambing strawberry dan vanila tapi warna susunya tidak berubah atau sesuai dengan warna aslinya yaitu putih. Keunikan ini menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi konsumen.

Persepsi terhadap citarasa pada susu kambing memiliki rataan skor 2,08. Nilai ini termasuk ke dalam kategori cukup sesuai dengan yang diharapkan oleh santri. Hal ini menunjukkan bahwa rasa susu kambing di PPMSGM ini termasuk dalam kategori enak. Enam puluh lima persen santri yang menyatakan bahwa rasa

susu kambing enak dan 31% sangat enak. Menurut pengakuan para santri rasa strawberry lebih banyak disukai karena lebih manis dan rasa buahnya menyegarkan apalagi diminum ketika siang hari.

Tabel 12. Penilaian Santri terhadap Rasa Susu Kambing

Rasa Susu Jumlah (orang) Persen (%)

Tidak enak 3 4

Enak 56 65

Sangat enak 27 31

Total 86 100

Penyajian

Penyajian merupakan kegiatan setelah proses produksi. Jika pada tahap ini konsumen mengalami kekecewaan, maka makanan tersebut dinilai kurang baik. Penyajian susu kambing di PPMSGM yaitu dalam bentuk beku atau es, kemudian es susu kambing ini diberikan saat makan siang di kantin. Petugas kantin menyimpan es susu dalam termos es dan santri mengambil sendiri es susunya. Cara penyajian susu kambing ini memiliki rataan skor 2,00 yang termasuk ke dalam kategori cukup sesuai dengan yang diharapkan oleh santri. Penyajian susu kambing yang dilakukan PPMSGM pada dasarnya sangat disukai, hal ini dikarenakan konsumen mendapatkan keleluasaan untuk mengambil susu kambingnya sendiri. Hal tersebut dapat dilihat pada Tabel 13 yang menyatakan 66% santri suka dan 29% santri sangat suka dengan penyajian susu kambing di PPMSGM.

Tabel 13. Penilaian Santri terhadap Penyajian Susu Kambing

Penyajian Susu Jumlah (orang) Persen (%)

Tidak suka 4 5

Suka 57 66

Sangat suka 25 29

Kemasan

Kemasan adalah sejenis bahan yang digunakan untuk membungkus makanan atau minuman. Kemasan susu kambing yang ada di PPMSGM menggunakan bahan plastik polos yang tidak mudah bocor, kemudian susu di tutup rapat dengan menggunakan alat sealler. Persepsi santri terhadap kemasan susu kambing ini memiliki rataan skor yang cukup tinggi yaitu 1,97. Kemasan susu kambing produksi PPMSGM masih belum dikatakan baik, sesuai dengan data pada Tabel 14 yang menyatakan bahwa sebanyak 62% santri menganggap kemasan susu kambing di PPMSGM tidak menarik dan 30% santri menyatakan cukup menarik. Maka untuk membuat kemasan lebih informatif, akan lebih baik jika dilakukan proses labeling.

Tabel 14. Penilaian Santri terhadap Kemasan Susu Kambing

Kemasan Susu Jumlah (orang) Persen (%)

Tidak menarik 53 62

Cukup Menarik 26 30

Sangat menarik 7 8

Total 86 100

Besar Porsi

Besar porsi merupakan salah satu yang dapat dinilai dalam mempersepsikan suatu produk. Besar porsi adalah seberapa banyak minuman yang dihidangkan, cukup atau tidaknya porsi yang disajikan tergantung dari karakteristik konsumen yang mengkonsumsi. Persepsi santri terhadap besar porsi susu kambing di PPMSGM berada pada rataan skor 2,18 yang termasuk dalam kategori cukup sesuai dengan yang diharapkan para santri. Tabel 15 menyajikan bahwa 45% dan 51% santri menyatakan setuju dan sangat setuju dengan besar porsi susu kambing yang diberikan PPMSGM karena sesuai dengan kebutuhan konsumen. Hal ini dikarenakan pada proses penyajian susu kambing ini, para santri mendapatkan keleluasaan untuk mengambil sendiri susu kambing dari dalam termos es, sehingga besar porsi yang

diberikan sesuai dengan kebutuhan masing-masing konsumen. Hanya 4% santri saja yang menyatakan bahwa besar porsi kemasan susu kambing tidak sesuai.

Tabel 15. Penilaian Santri terhadap Besar Porsi Susu Kambing

Porsi Susu Jumlah (orang) Persen (%)

Tidak sesuai 3 4

Sesuai 39 45

Sangat sesuai 44 51

Total 86 100

Khasiat

Khasiat dalam hal ini merupakan manfaat yang ditawarkan suatu produk bagi tubuh manusia yang mengkonsumsinya. Berdasarkan Tabel 10, khasiat memiliki rataan skor yang paling tinggi yaitu 2,23 dan termasuk dalam kategori cukup sesuai dengan yang diharapkan para santri. Data tersebut menunjukkan sebagian besar santri setuju bahwa susu kambing memiliki banyak khasiat yang baik untuk tubuh. Sesuai dengan Tabel 16 yang menyajikan 62% santri menyatakan setuju susu kambing memiliki banyak khasiat, selebihnya 37% menyatakan sangat setuju.

Susu kambing dikenal memiliki banyak khasiat, seperti pernyataan Setiawan dan Tanius (2003), manfaat susu kambing di antaranya dapat mengobati berbagai penyakit yaitu tuberkulosis, bronchitis, asma, maag, lemah syahwat, osteoporosis, reumatik, dan asam urat. Sesuai dengan pengakuan salah seorang santri yang menderita penyakit bronchitis menyatakan mengkonsumsi susu kambing secara rutin sangat membantu dalam proses penyembuhan penyakitnya.

Tabel 16. Penilaian Santri terhadap Khasiat Susu Kambing.

Khasiat Susu Jumlah (orang) Persen (%)

Tidak berkhasiat 1 1

Berkhasiat 53 62

Total 86 100

Hasil penelitian di atas sesuai dengan penelitian Destriana (2008) menyatakan bahwa 54,29% alasan orang mengkonsumsi susu karena ingin menjaga kesehatan tubuh. Hal ini menunjukkan bahwa konsumen mengkonsumsi susu karena melihat banyak khasiat yang terkandung dalam susu yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh.

Keputusan Mengkonsumsi

Berdasarkan analisis hampir 90% santri PPMSGM tertarik untuk mengkonsumsi susu kambing setelah mendapat informasi tentang susu kambing di sekolah. Walaupun demikian, tingginya persentase ketertarikan tersebut ternyata tidak diikuti dengan perilaku keputusan mengkonsumsi. Hal ini ditunjukkan oleh Tabel 17, yaitu sebanyak 64% santri mengkonsumsi susu kambing, sedangkan 36% santri memilih untuk tidak mengkonsumsi susu kambing.

Tabel 17. Keputusan Mengkonsumsi atau Tidak Mengkonsumsi

No Keputusan Mengkonsumsi Jumlah (Orang) Persentase (%)

1 Mengkonsumsi 55 64

2 Tidak Mengkonsumsi 31 36

Total 86 100

Hasil penelitian Chidayah (2007), menyebutkan bahwa dari 85 mahasiswa yang bermukim di Babakan Raya, hanya 48% yang mengkonsumsi susu. Sedangkan hasil penelitian Destriana (2008), menyatakan bahwa frekuensi konsumsi susu pada konsumen keluarga di wilayah Babakan kecamatan Dramaga adalah sebanyak 81% masyarakat mengkonsumsi susu dua sampai empat kali dalam satu minggu. Data tersebut menunjukan konsumsi susu di masyarakat masih terbilang cukup rendah.

Hubungan Karakteristik Individu Santri dengan Persepsi tentang Susu Kambing

Karakteristik individu santri yang diukur hubungannya dengan persepsi konsumen tentang susu kambing adalah umur, jenis kelamin, pengeluaran per bulan, sumber informasi, dan pengetahuan produk. Hubungan antara jenis kelamin dan sumber informasi diukur dengan menggunakan Chi Square, sedangkan hubungan antara umur, pengeluaran per bulan dan pengetahuan produk serta persepsi diukur dengan menggunakan Rank Spearman. Hubungan antara karakteristik individu santri dengan persepsi tentang susu kambing disajikan pada Tabel 18.

Tabel 18. Hubungan Karakteristik Individu Santri dengan Persepsi tentang Susu Kambing

Persepsi Karakteristik

individu

Aroma Citarasa Penyajian Kemasan Besar porsi Khasiat Umur -0,105 -0,125 -0,040 0,030 0,162 -0,103 Jenis kelamin 0,291 0,776 1,488 0,185 1,312 1,412 Pengeluaran per bulan -0,141 0,138 -0,017 -0,274* -0,085 0,195 Sumber informasi 14,359** 4,719 3,243 6,782 5,693 16,978** Pengetahuan Produk 0,050 0,034 -0,051 0,263* 0,095 0,155

Keterangan : * Berhubungan nyata (p<0,05) ** Berhubungan sangat nyata (p<0,01) Umur

Tabel 18 menunjukan bahwa umur tidak berhubungan nyata (p>0,05) dengan persepsi santri tentang susu kambing yang terdiri dari aroma, citarasa, penyajian, kemasan, besar porsi dan khasiat. Namun demikian dapat dilihat bahwa kemasan dan besar porsi memiliki nilai yang positif. Hal ini dikarenakan umur santri relatif sama, yaitu termasuk dalam kategori remaja.

Hasil ini sejalan dengan studi Chidayah (2007), bahwa umur merupakan gambaran pengalaman terutama pada objek yang dipersepsikan, sehingga umur

seseorang tidak dapat menyamakan persepsi antar individu orang yang satu dengan orang yang lain. Walaupun proses pembentukan persepsi yang terjadi dipengaruhi oleh pengalaman, kebiasaan dan kebutuhan, namun yang dimaksud bukanlah pengalaman dalam kehidupan secara umum akan tetapi pengalaman tentang objek yang dipersepsikan.

Jenis Kelamin

Tabel 18 memperlihatkan bahwa jenis kelamin tidak berhubungan nyata (p>0,05) dengan persepsi konsumen tentang susu kambing berdasarkan aspek aroma, citarasa, penyajian, kemasan, besar porsi dan khasiat. Dengan demikian apapun jenis kelamin konsumen baik itu laki-laki maupun perempuan tidak mempengaruhi persepsi santri tentang susu kambing di PPMSGM. Hal ini sesuai dengan hasil analisis yang disajikan sebelumnya pada Tabel 9 bahwa jenis kelamin juga tidak mempengaruhi santri dalam pengambilan keputusan mengkonsumsi.

Pengeluaran Per bulan

Tabel 18 menunjukan bahwa pengeluaran per bulan tidak berhubungan nyata (p>0,05) dengan persepsi responden tentang susu kambing yang terdiri dari aroma, citarasa, penyajian, besar porsi dan khasiat. Pengeluaran per bulan hanya berhubungan nyata (p<0,05) dengan persepsi terhadap kemasan, akan tetapi dalam penelitian ini memperoleh tanda negatif. Sesuai dengan pengakuan para santri yang menyatakan bahwa santri lebih menyukai susu kambing dikemas dengan cup atau botol sehingga lebih menarik, namun pada kenyataannya di PPMSGM susu kambing dikemas hanya dengan menggunakan plastik polos. Sedangkan pengeluaran responden rata-rata tergolong tinggi. Semakin banyak pengeluaran per bulan konsumen, maka semakin tidak sesuai dengan persepsinya tentang kemasan.

Sumber Informasi

Hasil penelitian pada Tabel 18 menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang sangat nyata (p<0,01) antara sumber informasi terhadap persepsi tentang aroma dan khasiat susu kambing. Semakin tinggi kredibilitas sumber informasi, semakin sesuai persepsi tentang aroma dan khasiat susu kambing.

Tabel 10 menunjukkan persepsi santri terhadap aroma susu kambing memiliki rataan skor paling rendah, namun pada Tabel 18 aroma memiliki hubungan yang sangat erat dengan sumber informasi. Hal ini diduga para santri belum mengetahui secara utuh persepsinya terhadap aroma. Sesuai dengan keterangan beberapa santri bahwa sebagian besar santri mengetahui produk susu kambing hanya dari satu sumber informasi dan mengkonsumsi susu kambing setelah berada di PPMSGM, sehingga tidak dapat membandingkan produk susu kambing yang berada di PPMSGM dengan produk susu kambing lainya. Sumber informasi yang terpercaya diharapkan dapat melengkapi persepsi konsumen terhadap aroma susu kambing, sehingga dapat menepis citra negatif bahwa aroma susu kambing berbau tajam (prengus). Begitu pula dengan khasiat, semakin tinggi kualitas sumber informasi maka kesadaran masyarakat akan manfaat mengkonsumsi susu kambing semakin tinggi juga.

Pengetahuan Produk

Tabel 18 menunjukan bahwa terdapat hubungan yang nyata (p<0,05) antara pengetahuan tentang produk dengan persepsi terhadap kemasan. Seorang konsumen akan melihat suatu produk berdasarkan karakteristik atau atribut dari produk tersebut, namun tidak semua konsumen memiliki kemampuan yang sama dalam menyebutkan karakteristik atau atribut produk. Hal ini disebabkan konsumen memiliki pengetahuan yang berbeda mengenai produk tersebut. Kemudian salah satu sarana memberitahukan informasi tentang suatu produk adalah di dalam kemasan, karena kemasan bisa dijadikan sarana informatif dan promosi. Semakin banyak pengetahuan produk, semakin sejalan dengan apa yang diharapkan konsumen terhadap kemasan produk tersebut.

Hubungan Persepsi Santri tentang Susu Kambing dengan Keputusan Mengkonsumsi

Hubungan antara persepsi santri tentang susu kambing dengan keputusan mengkonsumsi dapat dilihat pada Tabel 19 dengan menggunakan uji korelasi Chi Square. Peubah pesepsi santri tentang susu kambing yang dikorelasikan dengan keputusan mengkonsumsi adalah aroma, citarasa, penyajian, kemasan, besar porsi dan khasiat.

Tabel 19. Hubungan Persepsi Santri tentang Susu Kambing dengan Keputusan Mengkonsumsi

No Persepsi Santri tentang Susu Kambing Keputusan Mengkonsumsi

1 Aroma 2,534 2 Citarasa 6,228* 3 Penyajian 0,531 4 Kemasan 2,724 5 Besar Porsi 3,375 6 Khasiat 1,814

Keterangan : * Berhubungan sangat nyata (p<0,01)

Berdasarkan Tabel 19 menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang sangat nyata (p<0,01) antara persepsi santri terhadap citarasa dengan keputusan mengkonsumsi. Konsumen terdorong untuk mengambil keputusan mengkonsumsi berdasarkan citarasa. Hal ini dikarenakan citarasa merupakan salah satu indikator yang dapat menentukan suatu produk enak atau tidak enak, sehingga kesan yang diterima lidah orang yang mengkonsumsi akan melekat dalam memori dan mempengaruhi keputusannya untuk mengkonsumsi kembali ataupun tidak mengkonsumsi kembali suatu produk.

Selain citarasa sebetulnya secara teoritis terdapat atribut persepsi lain yang juga memiliki hubungan dengan keputusan mengkonsumsi. Akan tetapi dalam penelitian ini tarafnya tidak nyata.

Dokumen terkait