Desa Pakunden terdiri dari sembilan kampung, terletak pada ketinggian 202 m di atas permukaan laut (dpl) dengan kisaran suhu antara 27-32 0C dan kelembaban berkisar antara 72 hingga 92%. Bentang lahan hanya terdiri dari dataran dengan luas 308,82 ha. Dilihat dari segi lingkungan Desa Pakunden kurang kondusif untuk mendapatkan produktivitas yang optimal bagi kelinci. Menurut hasil penelitian Suarjaya (1985), kelinci yang diberi perlakuan suhu kandang 30 0C mengalami pertambahan bobot badan per minggu yang terendah (104,9 g) dibandingkan dengan perlakuan suhu kandang 20-30 0C dan suhu kurang dari 20 0C yang dapat mencapai pertambahan bobot badan 185,4 g dan 193,6 g/minggu. Lukhefahr dan Cheeke (1990b) menyatakan bahwa, produktivitas kelinci dapat optimal pada kondisi lingkungan dengan suhu udara 18 0C dan tingkat kelembaban udara 70%. Pada suhu yang tinggi, yaitu 30 0C bobot hidup kelinci betina rendah, bobot total anak saat lahir yang relatif rendah, pertumbuhan yang lambat dan ketahanan hidup yang rendah pada anak kelinci (Fernandez et al., 1995). Data geografis Desa Pakunden disajikan pada Tabel 3.
Tabel 3. Kondisi Geografis Desa Pakunden
Uraian Pakunden
Luas desa (ha) 308,82
Ketinggian dpl (m) 202,00
Curah hujan (mm/thn) 1123,00
Suhu rata-rata (0C) 27,60
Bentang lahan (ha)
a. Dataran 308,82
b. Perbukitan/pegunungan -
Sumber: Data Monografi Desa 2005
Perkembangan ternak kelici di Desa Pakunden didukung dengan letak wilayah yang tidak jauh dari tempat pemasaran. Pasar khusus untuk ternak kelinci di Magelang telah berkembang dari tahun 2005, tepatnya di daerah Muntilan. Selain itu kelinci biasanya dipasarkan di tempat-tempat wisata antara lain Borobudur dan di wilayah Yogjakarta.
Data penggunaan lahan di Desa Pakunden disajikan pada Tabel 4. Areal persawahan yang cukup luas di Desa Pakunden (60,88%) dengan hasil utama padi. Potensi lahan untuk tanaman padi cukup baik dengan didukung adanya usaha penggilingan padi, sehingga menjadikan desa tersebut sebagai salah satu desa swasembada di Kecamatan Ngluwar. Dari hasil pertanian tersebut dapat dijadikan sebagai salah satu sumber pakan ternak kelinci, yaitu sisa hasil produk pertanian berupa dedak padi.
Tabel 4. Penggunaan Lahan di Desa Pakunden.
Penggunaan Lahan Persentase
(%)
Persawahan 60,88
Pekarangan/bangunan 27,52
Tegalan 2,59
Lain-lain (sungai, jalan dan makam) 9,01
Total 100,00
Sumber: Data Monografi Desa 2005
Tanah pekarangan yang dimiliki penduduk umumnya ditanami pohon kelapa, aren, melinjo dan salak. Pohon kelapa yang tercatat dalam laporan monografi desa berjumlah 975 pohon, lima pohon aren dan 298 pohon melinjo. Tanah tegalan biasanya ditanami singkong atau kacang tanah, namun data produksi tanaman tersebut belum tercatat pada laporan monografi desa baik untuk tahun 2005 maupun ditahun-tahun sebelumnya. Adanya sungai di sekitar desa tersebut menyebabkan banyak penduduk yang memelihara itik.
Kependudukan
Jumlah penduduk di Desa Pakunden sebanyak 3.703 jiwa, terdiri dari 929 kepala keluarga (KK). Komposisi penduduk pria dan wanita pada desa tersebut hampir seimbang, persentase pria dan wanita adalah 51,34 dan 48,66%. Usia kerja produktif merupakan salah satu faktor pendukung pengembangan ternak kelinci. Persentase tenaga kerja produktif di Desa Pakunden sebesar 56,17%. Pada Tabel 5 dapat dilihat bahwa penduduk yang bermata pencaharian di sektor pertanian jauh lebih tinggi dibanding di luar sektor pertanian yaitu dengan persentase 64,81 dan
35,19%. Data tersebut dapat diasumsikan bahwa apabila anggota keluarga terlibat dalam usaha tani secara efisien maka penduduk cukup potensial untuk pengembangan usaha pertanian dan peternakan yang ada.
Tabel 5. Komposisi Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin, Usia, Mata Pencaharian dan Tingkat Pendidikan di Desa Pakunden
Uraian Jumlah Persentase
(orang) (%) Jumlah Penduduk (929 KK) 3703 100,00 Jenis Kelamin: Pria 1901 51,34 Wanita 1802 48,66 Usia: 0-15 tahun 741 20,01 >15-50 tahun 2080 56,17 >50 tahun 882 23,82 Mata Pencaharian: Sektor pertanian 2105 64,81
Di luar sektor pertanian 1143 35,19
Tingkat Pendidikan SD 1125 35,60 SMP 594 18,80 SMA 654 20,70 S1 45 1,42 Tidak tamat SD 391 12,37 Tidak sekolah 351 11,11
Sumber: Data Monografi Desa 2005
Tingkat pendidikan penduduk di desa tersebut masih rendah, karena sebagian besar (35,60) hanya sampai Sekolah Dasar. Penduduk yang mencapai tingkat pendidikan SMP sebanyak 594 orang (18,80%), SMA sebanyak 654 orang (20,70%) dan perguruan tinggi hanya 1,42%. Pendidikan cukup berpengaruh dalam mengadopsi teknologi dan pengetahuan, selain itu faktor yang menentukan keberhasilan usaha ternak kelinci yaitu adanya keinginan peternak untuk maju
dengan memperbanyak pengalaman dan tidak menutup diri untuk saling bertukar informasi.
Karakteristik Peternak Kelinci Kelompok Peternak Kelinci Mandiri (KPKM)
Awal berdirinya Kelompok Peternak Kelinci Mandiri (KPKM) di Desa Pakunden atas dasar keinginan masyarakat untuk dapat mengembangkan ternak kelinci khususnya para penggemar kelinci. Adanya program pemerintahan yang bertujuan untuk menjadikan Kabupaten Magelang sebagai salah satu daerah sentra kelinci juga menjadikan faktor berdirinya KPKM. Kelompok Peternak Kelinci Mandiri (KPKM) berdiri sejak Oktober 2002 dengan jumlah anggota 55 orang dan populasi kelinci dewasa ±842 ekor. Pada saat penelitian berlangsung jumlah anggota yang masih aktif dan memiliki kelinci hanya 24 orang. Penurunan anggota tersebut disebabkan peternak tidak mampu menjamin kelanjutan usahanya, karena faktor- faktor tertentu sehingga kelinci yang dimiliki telah habis. Faktor-faktor tersebut antara lain kelinci telah terjual, kurang modal, sulitnya mendapatkan bibit serta kematian.
Identitas Peternak Kelinci
Identitas responden peternak kelinci di Desa Pakunden disajikan pada Tabel 6. Peternak kelinci yang berjenis kelamin laki-laki sebesar 91,67% sedangkan wanita hanya 8,33%. Tujuan pemeliharaan ternak kelinci menurut responden sebagai tambahan penghasilan, hobi menjadikan hewan kesayangan, konsumsi keluarga, terutama dibutuhkan pada waktu tertentu, sebagai tabungan, karena dapat dijual dengan cepat dan dari segi pakan yang mudah didapat yaitu rumput, dedak padi dan ampas tahu. Rumput yang digunakan sebagai pakan kelinci adalah rumput lapang yang didapat dari sawah, tegalan dan dipinggir-pinggir sawah. Limbah pertanian dedak diperoleh dari tempat penggilingan padi maupun penjual makanan ternak, sedangkan ampas tahu diperoleh dari perusahaan pembuat tahu yang berada di Desa tersebut.
Usia peternak kelinci di Desa Pakunden 95,83% tergolong usia produktif. Pendidikan dan ketrampilan merupakan salah satu faktor keberhasilan dalam melakukan suatu usaha. Persentase pendidikan peternak di desa Pakunden yang terbanyak adalah Sekolah Menengah Umum, hal ini sangat berpengaruh terhadap
tingkat kemampuan peternak dalam mengadopsi dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Namun tidak hanya tingkat pendidikan yang dapat dijadikan tolak-ukur cepat lambatnya adopsi teknologi, tetapi juga tempat yang mendukung informasi cepat didapat.
Tabel 6. Identitas Responden Anggota KPKM
Uraian Jumlah Persentase
(orang) (%) Jumlah Anggota 24 100,00 Jenis Kelamin Pria 22 91,67 Wanita 2 8,33 Usia (thn) < 30 2 8,33 30-50 21 87,50 > 50 1 4,17 Pendidikan S1 2 8,33 SMA 12 50,00 SLTP 1 4,17 SD 6 25,00 Tidak sekolah 3 12,50 Pekerjaan Tani 12 50,00 Buruh tani/tukang 3 12,50 Padagang/Wiraswasta 6 25,00 Peternak 2 8,33 PNS 1 4,17
Mata pencaharian responden umumnya sebagai petani, baik yang memiliki lahan sendiri maupun sebagai buruh tani. Hanya sebagian kecil saja responden yang bekerja diluar sektor pertanian, diantaranya sebagai pedagang/wiraswasta dan Pegawai Negeri Sipil (PNS). Beternak kelinci dapat dijadikan sebagai usaha sampingan yang cocok untuk petani, karena waktu yang dibutuhkan untuk
merawatnya cukup singkat, selain itu limbah kelinci yang berupa kotoran, urin dan sisa pakannya dapat dijadikan pupuk.
Populasi dan Kepadatan Ternak
Penyebaran dan kepadatan populasi ternak di suatu wilayah perlu diketahui untuk mengetahui kemampuan daya tampung lahan di wilayah tersebut. Menurut Murtidjo (1993), kapasitas tampung adalah kemampuan areal padang penggembalaan atau kebun rumput untuk menampung sejumlah ternak sehingga kebutuhan pakan hijauan cukup tersedia. Data Laporan Monografi Desa Pakunden per 27 Februari 2005 disajikan pada Tabel 7.
Tabel 7. Jenis dan Jumlah Ternak di Desa Penelitian
Pemilikan Ternak Jumlah Persentase
(ekor) (ST) (%) Sapi Perah - - - Sapi Biasa/pedaging 82 58,50 1,53 Kerbau 55 46,25 3,24 Kambing/Domba 174 18,22 3,24 Kuda 1 1,00 0,02 Babi - - - Ayam Kampung 3155 31,55 58,85 Ayam Ras 1500 15,00 27,98 Itik 394 3,94 7,35 Total 5361 174,46 100,00
Keterangan: ST: Satuan Ternak Sumber: Data Monografi Desa 2005
Ternak yang banyak dipelihara oleh masyarakat adalah ayam kampung, ayam ras dan itik. Ternak sapi biasa/daging dan kerbau jumlahnya lebih sedikit dari ternak lain dikarenakan sudah banyak penduduk yang tidak lagi menggunakan tenaga kerbau atau sapi untuk membajak sawahnya melainkan dengan mesin traktor. Berdasarkan data tersebut tidak didapatkan populasi sapi perah, hal ini disebabkan keterbatasan modal, pakan dan pemasaran hasil produksi. Populasi ternak unggas merupakan ternak terbesar di desa Pakunden. Pemeliharaan yang mudah dan tidak memerlukan lahan yang luas untuk pemeliharaan mendukung ternak unggas lebih berkembang.
Berdasarkan Tabel 7, dapat diketahui bahwa di Desa Pakunden terdapat 0,57 Satuan Ternak (ST)/ha. Berarti desa tersebut termasuk daerah minus ternak, karena satuan ternaknya berbanding luasan lahan (ha) lebih kecil dari satu, sehingga memungkinkan untuk dilakukan pengembangan ternak besar maupun kecil, karena ternak yang dipelihara tidak berimbang dengan luasan lahan dan pakan yang tersedia di alam.
Populasi Kelinci
Hasil survei terhadap paternak responden menunjukkan bahwa total populasi kelinci Flemish Giant, English Spot dan New Zealand White yaitu 651 ekor, Flemish Giant merupakan kelinci dengan populasi tertinggi yaitu 341 ekor (54,82%), diikuti kelinci English Spot 200 ekor (27,33%) dan New Zealand White 110 ekor (17,85%). Kelinci Flemish Giant lebih diminati, karena ukurannya yang besar dan persentase karkas yang tinggi. Menurut Lukhefahr (1981), Flemish Giant murni memiliki persentase karkas tertinggi dan rasio daging:tulang yang sama seperti New Zealand White. Meskipun demikian, karena rendahnya kualitas induk (mothering ability), disarankan tidak menggunakan Flemish Giant murni pada produksi kelinci secara komersial.
Tabel 8. Struktur Populasi Ternak Kelinci
Kelompok Flemish Giant English Spot NZW
(ekor) (%) (ekor) (%) (ekor) (%)
Anak ≤ 2bulan 208 61,00 103 51,50 65 59,09 Muda (100-150 hari): Jantan 13 3,81 11 5,50 12 10,91 Betina 20 5,87 18 9,00 13 11,82 Dewasa: Jantan 25 7,33 15 7,50 5 4,54 Betina 75 21,99 53 26,50 15 13,64 Jumlah 341 100,00 200 100,00 110 100,00
Peternak kelinci di Desa Pakunden kurang menyukai kelinci New Zealand White, diduga karena kelinci tersebut telah banyak tercampur dengan kelinci lokal
yang memiliki ukuran tubuh kecil. Menurut Adjisoedarmo (1985), kelinci lokal Indonesia bertubuh kecil, bobot dewasa hanya mencapai 1,8-2,3 kg.
Bardasarkan Tabel 8, jumlah kelinci betina dewasa lebih banyak dibanding kelinci jantan. Hal ini karena kelinci betina mampu menghasilkan anak yang banyak, sedangkan kelinci jantan dipelihara hanya untuk menjadi pejantan saja. Beberapa peternak tidak memiliki kelinci jantan, untuk melakukan perkawinan dilakukan peminjaman kelinci jantan milik tetangga. Kepemilikan kelinci dewasa jantan berbanding betina kurang diperhatikan, dengan rasio perbandingan jantan dan betina 1:3. Perbandingan penggunaan jantan dan betina tidak berbeda dengan hasil penelitian Khusnia (2001) yaitu di Desa Salajambe dan Mangunkerta 1:2, sedangkan di Desa Galudra 1:3. Menurut Morrow (1994), rasio jantan dan betina yang baik adalah satu banding sepuluh ekor. Perbandingan penggunaan pejantan dan betina yang masih terlalu tinggi diperlukan optimasi penggunaan pejantan yakni dengan tidak menjual semua anak kelinci maupun kelinci muda, melainkan harus menekan pengeluaran kelinci betina yang akan dijadikan sebagai replacement stock serta dilakukan seleksi pejantan yang lebih intensif.
Penjualan, Pembelian dan Pemotongan Kelinci
Total penjualan kelinci muda dan dewasa baik jantan maupun betina pada bangsa kelinci Flemich Giant lebih tinggi dibanding kelinci English Spot maupun New Zealand White. Penjualan kelinci muda Flemish Giant sebanyak 17 ekor atau sebesar 19,05% dari penjualan kelinci Flemish Giant dan 43,59% dari total penjualan tiga bangsa kelinci. Jumlah penjualan kelinci English Spot menempati urutan kedua yaitu 20,51% untuk kelinci muda dan 7,69% kelinci dewasa dari total penjualan tiga bangsa kelinci. Kelinci New Zealand White, penjualan tertinggi terjadi pada anak yaitu sebesar 54,14% dari total penjualan New Zealand White atau sebesar 10,26% dari total penjualan tiga bangsa kelinci, tingkat penjualan yang tinggi pada anak disebabkan anak kelinci tersebut dijual sebelum lepas sapih bersama induknya.
Sistem penjualan kelinci biasanya telah ditetapkan oleh peternak yaitu dengan sistem paket. Satu paket kelinci muda terdiri dari dua betina dan satu pejantan, tetapi untuk penjualan induk tergantung permintaan pembeli. Tidak jarang peternak menjual induk kelinci bersama anak-anak sepelahiran yang belum disapih. Harga satu paket kelinci muda berkisar Rp 125.000,00 sampai Rp 200.000,00, kelinci
betina dewasa Rp 150.000,00 sampai Rp 225.000,00 dan kelinci jantan dewasa Rp 100.000,00 sampai 175.000,00.
Perbandingan antara penjualan dan pembelian kelinci yaitu 1:1 sampai 1:3. Jumlah penjualan ternak yang lebih tinggi dibanding jumlah pembelian, dapat menyebabkan kurangya bibit ternak pengganti, pembibitan tidak berjalan dengan baik, karena ternak unggul telah ikut terjual dan peternak tidak dapat menjamin kontinuitas produksi.
New Zealand White merupakan kelinci dengan tingkat pemotongan tertinggi yaitu sebesar 71,43% dari jumlah pemotongan tiga bangsa kelinci. Pemotongan kelinci dilakukan apabila ternak sudah terlalu tua, produksi rendah dan apabila terjadi kecacatan pada kelinci baik bawaan dari lahir maupun akibat kecelakaan. Selain itu pemotongan juga dilakukan secara sengaja untuk konsumsi keluarga sebagai sumber protein hewani.
Mortalitas Kelinci
Selain penjualan, pembelian dan pemotongan, pengurangan jumlah kelinci juga disebabkan oleh kematian. Kematian yang sering terjadi yaitu pada anak kelinci. Mortalitas merupakan salah satu faktor yang menentukan efisiensi produksi suatu usaha ternak. Menurut Sastrodihardjo (1985), biasanya yang menyebabkan kematian antara lain anak mati sejak lahir, terjepit kandang, jatuh ke lantai, dimakan predator, persaingan dalam menyusu, produksi susu induk yang kurang, terkena penyakit dan pemeliharaan yang kurang baik. Faktor penyebab kematian anak kelinci di peternakan rakyat Desa Pakunden disajikan pada Tabel 9.
Tabel 9. Faktor Penyebab Kematian pada Anak Kelinci
Penyebab Kematian Flemish Giant English Spot New Zealand White (ekor) (%) (ekor) (%) (ekor) (%)
Penyakit 33 46,48 11 37,93 6 33,33
Terinjak Induk 20 28,17 8 27,59 3 16,67
Predator 8 11,27 4 13,79 7 38,89
Kecelakaan 10 14,08 6 20,69 2 11,11
Hasil survei menunjukkan tingkat kematian anak tertinggi disebabkan karena penyakit. Penyakit yang biasa terjadi yaitu diare, kembung dan kudis. Penanganan terhadap diare dan kembung dilakukan dengan cara pengurangan pemberian pakan yang berkadar air tinggi dan sebelum hijauan diberikan dilayukan terlebih dahulu. Kelinci yang menderita kudis dipisahkan dari kelinci yang lain, karena penyakit ini cepat menyebar dan menular. Menurut Sardjono (1997), dalam pencegahan dan pengendalian penyakit kudis perlu diperhatikan pola hidup, sanitasi, pemindahan kelinci, karantina dan pengobatan.
Kematian anak kelinci Flemish Giant adalah 34,14% dari 208 jumlah anak yang lahir, English Spot 28,16% dari 103 ekor jumlah anak yang lahir dan 27,69% pada New Zealand White dari 65 ekor jumlah anak yang lahir. Hasil tersebut lebih rendah dari penelitian Balfas (2002), rataan kematian anak pada sistem produksi intensif dan semi intensif pada kelinci New Zealand White yaitu sebesar 54,84% dan 34,61%. Tingkat kematian anak kelinci yang lebih rendah diperoleh Khusnia (2001) di Kabupaten Cianjur yaitu sebesar 16,31%-25,29%. Cara penanganan yang kurang tepat, kualitas pakan yang rendah serta cuaca merupakan faktor-faktor yang berkaitan dengan tingkat kematian anak kelinci.
Faktor kematian terendah karena terinjak induk terjadi pada kelinci New Zealand White yaitu 16,67%. Lukhefahr et al. (1983), menyatakan bahwa New Zealand White tekenal dengan sifat perindukan (mothering ability) yang baik. Selain itu kematian anak kelinci juga disebabkan oleh predator yaitu tikus. Kecelakaan yang terjadi pada kelinci disebabkan manajemen perkandangan yang kurang diperhatikan, antara lain kandang berlubang sehingga kelinci bisa melompat keluar, penyusunan bambu/kayu lantai kandang yang terlalu lebar dan kelalaian peternak tidak menutup pintu kembali setelah memberi makan.
Pemeliharaan Kelinci Perkandangan
Bahan kandang yang digunakan terdiri dari bambu, kayu dan kawat. Bahan dinding kandang umumnya terbuat dari kawat (87,5%), bahan atap dari seng, plastik/terpal, kayu/papan, dan genteng. Lantai kandang dibuat bercelah untuk mempermudah kotoran dan urin ternak dapat jatuh ke tanah atau di tempat penampungan, sehingga memudahkan membersihkannya.
Menurut Raharjo (2005), kandang kelinci dapat dibuat dari kayu, bambu atau kawat. Kandang kawat lebih higienis dan terlihat bersih, namun dapat menyebabakan luka pada kaki. Kandang alas bambu, lebih elastis dan tidak menyebabkan luka, tetapi perlu dibersihkan setiap hari dan kesannya kurang bersih, serta lebih mudah mengakibatkan diarhae pada kelinci. Kandang yang baik adalah kombinasi dari kayu, bambu dan kawat.
Rerata ukuran kandang yaitu 69,71±6,72 cm untuk lebar, 81,47±13,89 cm untuk panjang, dan 61,76±7,28 cm untuk tinggi. Menurut Raharjo (2005), ukuran kandang kelinci induk minimal adalah 75x70x40 cm dan lebih besar lebih baik. Ukuran kandang serupa dapat digunakan untuk anak lepas sapih, atau 2-3 ekor anak umur 3-4 bulan. Jenis bahan, model dan letak kandang yang digunakan di peternakan rakyat Desa Pakunden disajikan pada Tabel 10.
Tabel 10. Jenis Bahan, Model dan Letak Kandang
Uraian Jumlah Responden Persentase
(orang) (%)
Jumlah Responden 24 100,00 Jenis Bahan Kandang:
Bambu dan Kayu 1 4,17
Bambu dan Kawat 2 8,33
Bambu, Kayu dan Kawat 21 87,50
Model Kandang:
Battery 16 66,67
Battery dan Postal 8 33,33
Letak Kandang:
Di dalam Rumah 3 12,50
Di luar Rumah 21 87,50
Sebagian besar masyarakat (66,67%) memilih membuat model kandang
battery (Gambar 3), yaitu kandang yang hanya diisi satu ekor kelinci dengan tujuan untuk menghindari perkelahian antar kelinci. Model kandang battery bisa bebentuk berjajar atau bentuk bertingkat. Kandang sistem postal mempunyai ruang yang lebih luas, dengan setiap ruang diisi dengan beberapa ekor kelinci yang berjenis kelamin sama. Kandang sistem ini biasanya digunakan untuk pembesaran atau panggemukan
kelinci yang telah disapih sampai menjelang dewasa. Kandang yang berisi 3-5 ekor kelinci berukuran 100 cm untuk panjang, dan 75 cm untuk lebar.
Gambar 3. Disain Kandang Battery Bertingkat yang Banyak Terdapat Di Peternakan Rakyat
Hasil penelitian Kurniawati (2001) menunjukkan bahwa rataan pertambahan bobot hidup kelinci dengan kepadatan kandang 4 ekor/m2 lebih tinggi dibanding kepadatan 8 ekor/m2 yaitu 13,418±2,754 g/ekor/hari dan 12,568±2,704 g/ekor/hari. Secara statistik perbedaan kepadatan kandang tersebut tidak bebeda nyata terhadap pertambahan bobot hidup (P>0,05), meskipun terdapat kecenderungan bahwa kepadatan kandang 8 ekor/m2 pertambahan bobot hidupnya lebih rendah dibanding kepadatan 4 ekor/m2.
Tabel 11. Frekuensi Pembersihan Kandang
Frekuensi Jumlah Responden Persentase
(orang) (%) 1 kali/hari 5 20,84 2 kali/hari 9 37,50 2 kali/minggu 2 8,33 1 kali/minggu 6 25,00 1 kali/2 minggu 2 8,33 Jumlah 24 100,00
Peternakan yang baik, harus mencegah semua sumber penyakit yang menyebabkan kelinci terganggu kesehatannya. Pengelolaan kandang tidak hanya ditujukan untuk sanitasi, tetapi juga untuk kerapihan yang akan memberikan suasana
yang baik untuk bekerja, serta memberikan kepercayaan kepada pembeli bahwa peternakan tersebut sangat baik.
Pembawa penyakit adalah insekta, kotoran yang menumpuk di dalam kandang dan air minum yang tidak bersih. Kandang perlu dibersihkan dari kotoran, urin dan sisa pakan, paling tidak satu kali sehari, termasuk tempat pakan dan tempat air minum yang baru diberikan (Herman, 2002). Pada Tabel 11 memperlihatkan bahwa kesadaran peternak akan kebersihan sudah cukup baik. Pembersihan kandang dilakukan sebelum pemberian pakan pada pagi atau sore hari. Pembersihan kandang yang dilakukan per minggu ditujukan untuk pengomposan. Sisa hijauan yang tidak termakan dan telah bercampur urin dan kotoran dibiarkan dibawah kandang, setelah 1-2 minggu digunakan sebagai pupuk di sawah.
Pakan Kelinci
Peningkatan efisiensi pakan merupakan salah satu faktor yang senantiasa diupayakan dalam usaha ternak, antara lain melalui pemanfaatan bahan pakan potensial bagi kelinci dalam arti ketersediaan tinggi, komponen gizi memadai dan harganya murah.
Pada Tabel 12 memperlihatkan bahwa jenis pakan/bahan pakan yang diberikan pada ternak kelinci sebagian besar berupa campuran ampas tahu, konsentrat, dan rumput lapang (33,33%). Perbandingan pemberian ampas tahu dan konsentrat yaitu antara 20:1 sampai 10:1. Konsentrat yang diberikan yaitu konsentrat sapi dengan harga ± Rp 2.500,00/kg. Pakan yang berupa hijauan diberikan ad libitum.
Ampas tahu telah lama digunakan sebagai pakan ternak terutama ruminansia. Selain itu juga digunakan untuk kelinci pada pola peternakan rakyat. Menurut Murtisari (2005), pemberian ampas tahu untuk kelinci mampu memberikan respon yang lebih baik, karena dapat meningkatkan bobot badan. Pada penelitian tersebut ampas tahu diberikan sebagai konsentrat tunggal dan ampas tahu dikombinasikan dengan bekatul, dibandingkan dengan pemberian bekatul bersama konsentrat komersial. Ketiga macam konsentrat tersebut diberikan bersama rumput lapang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PBBH yang diperoleh sebesar 31,95; 30,53 dan 33,95 g/ekor/hari.
Tabel 12. Jenis Pakan dan Frekuensi Pemberian Pakan
Uraian Jumlah Peternak Persentase
(orang) (%) Jenis Pakan RL 4 16,67 RL+D 2 8,33 AT+RL 6 25,00 AT+K+RL 8 33,33 AT+D+RL 1 4,17 AT+K+D+RL 3 12,50 Jumlah 24 100,00 Frekuensi Pemberian Pakan (per hari)
1 kali 1 4,17
2 kali 21 87,50
3 kali 2 6,33
Jumlah 24 100,00 Keterangan: RL : Rumput Lapang
D : Dedak/bekatul AT : Ampas Tahu K : Konsentrat
Pakan komersial bentuk pelet yang merupakan campuran hijauan dan konsentrat pada peternakan intensif dibuat dengan imbangan 50-60% hijauan, 50- 40% konsentrat (Ensminger, 1991). Dalam kaitannya dengan pemberian konsentrat, Rahardjo et al. (2004) melaporkan hasil penelitiannya pada ternak kelinci Rex yang diberi rumput lapang ad libitum (100%) dan rumput lapang ad libitum ditambah konsentrat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa performans produksi terbaik ditunjukkan oleh pemberian rumput lapang ad libitum ditambah 60 g konsentrat dengan pertambahan bobot badan sebesar 1191 g/ekor, selama 12 minggu, sedangkan pada kelinci yang diberikan rumput lapang ad libitum tanpa konsentrat, pertambahan bobot badannya hanya sebesar 610 g/ekor.
Menurut hasil penelitian Patriansyah (2001), pemberian pakan (konsentrat dan rumput lapang) secara ad libitum dapat memberikan pertambahan bobot badan harian pada kelinci dengan pola warna bercak-bercak hitam (pola warna English Spot) sebesar 30,240±6,190 g/ekor/hari, disusul oleh kelompok kelinci warna putih (pola warna New Zealand White) yaitu 21,728±0,987 g/ekor/hari dan yang paling
rendah adalah kelompok kelinci dengan pola warna coklat yaitu 18,528±5,287 g/ekor/hari.
Umumnya pemberian pakan dilakukan dua kali sehari yaitu pagi hari pada pukul 06.00 dan sore hari pada pukul 15.00. Mengingat kelinci termasuk binatang malam, dimana aktivitasnya lebih banyak dilakukan pada malam hari, maka pemberian volume pakan terbanyak pada sore hari sampai malam hari (Muslih et al., 2005). Menurut Harsojo dan Lestari (1988), kelinci yang diberi pakan dari pukul 18.00-06.00 bobot badannya lebih tinggi dibanding kelinci yang diberi pakan dari