TINJAUAN PUSTAKA
HASIL DAN PEMBAHASAN
Keadaan umum penelitian
Berdasarkan hasil analisis tanah yang dilakukan di laboratorium Departemen Tanah IPB (Lampiran 3) menunjukkan bahwa lahan penelitian bersifat asam dengan dengan pH sebesar 4.60, Kandungan N-total 0.09 % /1g sampel, kandungan P 0.028 % /1g sampel, sedangkan kandungan K tanah 0.03315 % /1g sampel, Hasil analisis menunjukkan bahwa kandungan unsur makro rendah. Lahan penelitian tergolong bertekstur liat karena kandungan liatnya lebih dari 30%.
Penambahan pupuk organik dapat mengubah sifat fisik dan kimia tanah. Hal ini terlihat dengan perubahan pH tanah dan kandungan unsur hara makro. pH tanah yang telah dicampur kapur dan biokompos adalah 6.70, dimana kandungan N-total nya 0.11 % /1g sampel, kandungan P 0.00093 % dan kandungan K 0.01989 % /1g sampel. Sedangkan tanah yang telah dicampur kapur dan pupuk kandang kambing dengan pH 6.60, kandungan N-total 0.12% /1g sampel, kandungan P 0.0008 % /1g sampel dan kandungan K 0.02886 % /1g sampel, dengan tekstur tanah berubah menjadi liat berdebu. Sehingga diharapkan hara sudah dapat tersedia bagi tanaman. Curah hujan bulanan dari bulan April- Juli sebesar 15.75 mm/bulan, rata-rata temperatur udara selama bulan April- Juli sebesar 25.9oC sedangkan kelembaban udara (RH) sebesar 82 %.
Hama yang sering menyerang tanaman kacang tanah selama penelitian adalah ulat gayak. Larva ini memakan seluruh bagian daun muda kecuali tulang daun, sehingga dicegah dengan menggunakan insektisida Curacon.
Pengaruh Aplikasi Pupuk Organik dan Pupuk Anorganik Terhadap Komponen Pert umbuhan Tanaman Kacang Tanah
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa pada berbagai aplikasi pupuk organik dan anorganik berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman 40 HST, jumlah cabang 20 HST dan 40 HST, jumlah daun 40 HST, luas daun 40 HST dan 60 HST, jumlah bintil akar 30 HST, bobot basah bintil akar 30 HST, bobot kering bintil akar 30 HST. Aplikasi pupuk organik dan pupuk anorganik terhadap
pertumbuhan tanaman kacang tanah tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman 20 HST dan 60 HST, jumlah cabang 60 HST, jumlah daun 20 HST dan 60 HST, luas daun 20 HST, kandungan N pada tanaman 30 HST, kandungan P pada tanaman 30 HST, kandungan K pada tanaman 30 HST. Hasil analisis ragam pengaruh aplikasi pupuk organik dan anorganik terhadap komponen pertumbuhan disajikan pada Lampiran 4-21.
Rekapitulasi hasil analisis ragam dari Pengaruh aplikasi pupuk organik dan pupuk anorganik terhadap tolok ukur pertumbuhan kacang tanah (Arachis hypogea L.) yang diamati disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2 Rekapitulasi Sidik Ragam Komponen Pertumbuhan pada Berbagai Aplikasi Pupuk Organik dan Pupuk Anorganik.
Tolok Ukur Hasil analisis ragam Koefisien keragaman (%) Tinggi tanaman 20 HST Tinggi tanaman 40 HST Tinggi tanaman 60 HST tn ** tn 8.72 3.81 8.15 Jumlah cabang 20 HST Jumlah cabang 40 HST Jumlah cabang 60 HST ** ** tn 2.87 5.40 4.98 Jumlah daun 20 HST Jumlah daun 40 HST Jumlah daun 60 HST tn ** tn 21.88 5.81 7.24 Luas daun 20 HST Luas daun 40 HST Luas daun 60 HST tn ** ** 20.25 7.71 14.27 Jumlah bintil akar 30 HST
Berat basah bintil akar 30 HST Berat kering bintil akar 30 HST Kandungan N pada daun 30 HST Kandungan P pada daun 30 HST Kandungan K pada daun 30 HST
** ** ** tn tn tn 7.24 3.29 10.49 7.60 12.33 31.05 Keterangan: ** = Berpengaruh sangat nyata pada taraf kepercayaan 99 %, tn = Tidak nyata
Tinggi Tanaman
Pengamatan tinggi tanaman pada 20 HST aplikasi pupuk organik dan anorganik tidak menunjukkan pengaruh yang nyata. Hal ini diduga, tanaman baru memulai fase pertumbuhan dan masih belum beradaptasi dengan berbagai perlakuan pemupukan. Pengamatan tinggi tanaman pada 40 HST pemupukan organik dan anorganik menunjukkan pengaruh yang sangat nyata. Hal ini diduga bahwa pada berbagai perlakuan pemupukan organik dan anorganik tanaman sudah
dapat disuplai unsur hara dengan baik. Pengamatan tinggi tanaman pada 60 HST pemupukan organik dan anorganik tidak menunjukkan pengaruh yang nyata. Hal ini diduga karena tanaman telah melewati masa puncak vegetatif.
Nilai rata-rata tinggi tanaman pada 20, 40 dan 60 HST tercantum pada Tabel 3.
Tabel 3 Nilai Rata-Rata Tinggi Tanaman Kacang Tanah pada Berbagai Aplikasi Pupuk Organik dan Pupuk Anorganik
Hari setelah tanam (HST) Perlakuan 20 40 60 cm P1 13.1 29.6b 36.1 P2 14.9 32.9a 38.5 P3 15.3 31.0ab 33.6 P4 14.1 24.8c 31.9 P5 13.3 24.9c 29.3 P6 12.8 25.4c 32.8 P7 12.9 30.1b 36.7 P8 12.8 29.2b 34.2 P9 13.7 25.3c 32.2
Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada kolom yang sama, berbeda nyata pada taraf uji DMRT 5%.
PI = Pupuk anorganik dosis rekomendasi (20 kg/ha Urea, 45 kg/ha TSP dan 50 kg /ha KCl) P2 = Pupuk kandang kambing (5 ton/ha)
P3 = Pupuk kandang kambing (5 ton/ha) dan pupuk anorganik 20 kg/ha Urea, 45 kg/ha TSP, 50 kg/ha KCI
P4 = Inokulan rhizobium (40 g / 2000 M2)
P5 = Inokulan rhizobium (40 g / 2000 M2) dan pupuk anorganik 10 kg/ha Urea, 22.5 kg/ha TSP, 25 kg/ha KCI
P6 = Biokompos (5 ton /ha)
P7 = Inokulan rhizobium (40 g / 2000 M2), Biokompos (5 ton /ha). P8 = MTM (200 g/ha)
P9 = MTM (200 g/ha) dan pupuk anorganik 20 kg/ha Urea, 22.5 kg/Ha TSP, 25 kg/ha KCI
Berdasarkan Tabel 3 terlihat bahwa pengamatan 40 HST, tinggi tanaman berkisar antara 24.8-32.9 cm. Nilai tinggi tanaman terbesar terdapat pada perlakuan P2 (Pupuk kandang kambing 5 ton/ha ) sebesar 32.9 cm, yang tidak berbeda nyata dengan P3 (31.0) dan berbeda nyata dengan P1, P4, P5, P6, P7, P8, dan P9. hal ini diduga bahwa pada pupuk kandang kambing kandungan N nya tinggi selain itu juga terdapat unsur hara P dan K. Hardjowigeno (2003) yang menyatakan bahwa unsur hara pada pupuk kandang kambing terdiri dari dari N, P dan K, dimana N=0.55%, P2O5=0.31% dan K2O=0.15%. Dimana dari hasil
berikisar 0.12%, P=0.0008% dan K 0.02886 %. Hal ini sesuai dengan Mazurak (1977) dan Soepardi (1983), pemberian pupuk kandang pada tanah dapat memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Perbaikan sifat fisik tanah yaitu: meningkatkan kapasitas menahan air dan menurunkan konsistensi pengikatan air oleh pupuk kandang kambing, perbaikan sifat kimia tanah seperti: meningkatkan kapasitas tukar kation (KTK) dan meningkatkan ketersediaan unsur hara, perbaikan sifat biologi tanah pupuk kandang sumber energi bagi mikroba tanah dan meningkatkan populasi serta aktivitas organisme tanah sehingga pertumbuhan tanaman baik.
Berdasarkan Tabel 3, Pengamatan pada 40 HST tinggi tanaman pada perlakuan P4 Inokulan rhizobium (40 g / 2000 M2), P5 = Inokulan rhizobium dan pupuk anorganik 10 kg/ha Urea, 22.5 kg/ha TSP, 25 kg/ha KCI, P6 = Biokompos (5 ton /ha), P9 = MTM dan pupuk anorganik 20 kg/ha Urea, 22.5 kg/Ha TSP, 25 kg/ha KCI memberikan nilai tinggi tanaman lebih kecil dibandingkan nilai tinggi tanaman dengan PI = Pupuk anorganik dosis rekomendasi (20 kg/ha Urea, 45 kg/ha TSP dan 50 kg /ha KCl). Pemberian pupuk organik inokulan rhizobium, biokompos, dan MTM secara tunggal atau dicampur dengan pupuk anorganik tidak memberikan nilai tinggi tanaman berbeda nyata dengan perlakuan P1.
Jumlah Cabang
Nilai rata-rata jumlah cabang yang diamati pada 20, 40, dan 60 HST tercantum pada Tabel 4. Pertumbuhan tanaman kacang tanah dengan tolok ukur jumlah cabang dipengaruhi secara sangat nyata untuk perlakuan pemupukan organik dan anorganik pada 20 dan 40 HST. Nilai jumlah cabang pada 60 HST tidak dipengaruhi oleh perlakuan pemupukan.
Pada pengamatan 20 HST nilai jumlah cabang terbesar pada P8 (2.7) adalah pemupukan MTM, tidak berbeda secara statistik dengan jumlah cabang pada P3, P4, dan P7 (2.6). Nilai jumlah cabang terendah ialah 2.4 yang dihasilkan dari P1 (Pupuk anorganik dosis rekomendasi (20 kg/ha Urea, 45 kg/ha TSP dan 50 kg /ha KCl)) dan secara statistik tidak berbeda dengan nilai jumlah cabang dari P2, P5, P6, dan P9. Pengaruh positif pupuk mikroorganisme terhadap pertumbuhan tanaman kacang tanah sudah terlihat pada 20 HST. Pupuk P8, P4
dan P7 memberikan nilai jumlah cabang lebih tinggi dan berbeda nyata dengan P1, inokulan rhizobium, bakteri pelarut fosfat dan cendawan mikorhiza serta suplai hara dari biokompos berperan dalam pembentukan cabang pada 20 HST.
Pengamatan jumlah cabang pada 40 HST, nilai tertinggi didapat dari P3 (8.4) tidak berbeda nyata dengan P5 (8.1). jumlah cabang dari P1 tidak berbeda nyata dengan P2, P6, P7, P8, dan P9.
Tabel 4 Nilai Rata-Rata Jumlah Cabang Kacang Tanah pada Berbagai Aplikasi Pupuk Organik dan Pupuk Anorganik
Hari setelah tanam (HST) Perlakuan 20 40 60 P1 2.4d 7.6b 7.8 P2 2.5bcd 7.8b 8.7 P3 2.6ab 8.4a 8.8 P4 2.6abc 6.8c 8.5 P5 2.5bcd 8.1ab 8.4 P6 2.5bcd 7.8b 8.1 P7 2.6abc 7.5bc 8.6 P8 2.7a 7.6b 8.5 P9 2.5cd 7.3bc 8.3
Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada kolom yang sama, berbeda nyata pada taraf uji DMRT 5%.
PI = Pupuk anorganik dosis rekomendasi (20 kg/ha Urea, 45 kg/ha TSP dan 50 kg /ha KCl) P2 = Pupuk kandang kambing (5 ton/ha)
P3 = Pupuk kandang kambing (5 ton/ha) dan pupuk anorganik 20 kg/ha Urea, 45 kg/ha TSP, 50 kg/ha KCI
P4 = Inokulan rhizobium (40 g / 2000 M2)
P5 = Inokulan rhizobium (40 g / 2000 M2) dan pupuk anorganik 10 kg/ha Urea, 22.5 kg/ha TSP, 25 kg/ha KCI
P6 = Biokompos (5 ton /ha)
P7 = Inokulan rhizobium (40 g / 2000 M2), Biokompos (5 ton /ha). P8 = MTM (200 g/ha)
P9 = MTM (200 g/ha) dan pupuk anorganik 20 kg/ha Urea, 22.5 kg/Ha TSP, 25 kg/ha KCI
Pupuk kandang kambing yang diberikan bersamaan dengan pupuk anorganik dosis rekomendasi (P3) dan inokulasi rhizobium ditambah pupuk anorganik ½ dosis rekomendasi (P5) memberikan nilai jumlah cabang lebih tinggi dibandingkan dengan P1 (pupuk anorganik dosis rekomendasi). Hal ini diduga pupuk kandang yang diberikan mengandung unsur hara yang tinggi dan ditambah lagi dengan pupuk anorganik dosis rekomendasi, sehingga pembentukan cabang lebih banyak. Tanaman kacang tanah memerlukan nitrogen dalam jumlah yang tinggi untuk fase pertumbuhan vegetatif.
Peningkatan nilai karakter vegetatif seperti tinggi tanaman, jumlah cabang, bobot kering tajuk serta jumlah ruas disebabkan oleh peranan dari unsur nitrogen. Peranan utama nitrogen bagi tanaman adalah untuk merangsang pertumbuhan secara keseluruhan, khususnya batang, cabang dan daun (Lingga 1998). Pengaruh unsur P terhadap jumlah cabang tanaman kacang tanah telah terlihat dari penelitian Susanto (1988) menunjukkan bahwa pemupukan fosfor berpengaruh nyata terhadap jumlah cabang sebesar 8.14 sampai11% dibandingkan dengan perlakuan tanpa pupuk.
Menurut Pringadi et al. (1990) pemupukan nitrogen, fosfor dan kalium dapat meningkatkan tinggi dan jumlah cabang tanaman. Gardner et al. (1991) menyatakan peningkatan jumlah cabang merupakan hasil pertumbuhan dengan cara pembelahan dan pembesaran sel didalam meristem, jumlah meristem dalam suatu tanaman cukup besar, tetapi dalam hal massa keseluruhan, jaringan meristem itu kecil. Meristem mungkin bersaing satu sama lain secara kuat untuk mendapatkan nutrien organik dan mineral yang membutuhkan energi berupa ATP yang berasal dari P dan ion penggerak berupa K, sehingga proses pembentukan cabang dapat meningkat
Jumlah Daun
Pemupukan organik dan anorganik mempengaruhi sangat nyata terhadap jumlah daun pada 40 HST. Sedangkan jumlah daun pada 20 dan 60 HST tidak dipengaruhi. Nilai jumlah daun yang diamati pada 20, 40 dan 60 HST dicantum pada Tabel 5.
Tabel 5 menunjukkan nilai jumlah daun tertinggi ada pada P8 (MTM 200g/ha), tidak berbeda nyata dengan P1, P2, P3, P5 dan P6. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian pupuk organik pupuk kandang kambing tunggal atau ditambah pupuk anorganik (P2, P3), inokulan rhizobium ditambah pupuk anorganik, biokompos, serta MTM dapat menyamai atau tidak berbeda nyata secara statistik dengan pupuk anorganik dosis rekomendasi (P1) dalam mempengaruhi pertumbuhan tanaman kacang tanah.
Tabel 5 Nilai Rata-Rata Jumlah Daun Kacang Tanah pada Berbagai Aplikasi Pupuk Organik dan Pupuk Anorganik
Hari setelah tanam (HST) Perlakuan 20 40 60 P1 31.2 171.5ab 175.7 P2 39.7 169.7abc 187.3 P3 30.0 175.5ab 201.6 P4 32.2 152.7cd 182.2 P5 34.8 174.3ab 176.5 P6 28.4 168.7abc 178.5 P7 27.7 162.3bc 167.1 P8 29.2 182.3a 182.8 P9 34.5 142.9d 183.9
Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada kolom yang sama, berbeda nyata pada taraf uji DMRT 5%.
PI = Pupuk anorganik dosis rekomendasi (20 kg/ha Urea, 45 kg/ha TSP dan 50 kg /ha KCl) P2 = Pupuk kandang kambing (5 ton/ha)
P3 = Pupuk kandang kambing (5 ton/ha) dan pupuk anorganik 20 kg/ha Urea, 45 kg/ha TSP, 50 kg/ha KCI
P4 = Inokulan rhizobium (40 g / 2000 M2)
P5 = Inokulan rhizobium (40 g / 2000 M2) dan pupuk anorganik 10 kg/ha Urea, 22.5 kg/ha TSP, 25 kg/ha KCI
P6 = Biokompos (5 ton /ha)
P7 = Inokulan rhizobium (40 g / 2000 M2), Biokompos (5 ton /ha). P8 = MTM (200 g/ha)
P9 = MTM (200 g/ha) dan pupuk anorganik 20 kg/ha Urea, 22.5 kg/Ha TSP, 25 kg/ha KCI
Nilai jumlah daun P4 (Inokulan rhizobium (40 g / 2000 M2), P7 (Inokulan rhizobium (40 g / 2000 M2 + biokompos 5 ton/ha), P6 (Biokompos 5 ton /ha) dan P9 (MTM 200 g/ha dan pupuk anorganik 20 kg/ha Urea, 22.5 kg/Ha TSP, 25 kg/ha KCI) lebih kecil dan berbeda nyata dengan kelima perlakuan yang lain. Rendahnya pH tanah mempengaruhi bakteri rhizobium sendiri maupun rhizobium yang ada pada MTM untuk aktivitasnya dalam ketersediaan hara bagi tanaman, sehingga pertumbuhan tidak maksimal. Walaupun pengaruh positif perlakuan P4 dan P7 terhadap pertumbuhan tanaman dengan tolok ukur jumlah daun tidak terlihat, namun pengaruh positif perlakuan P4 dan P7 terhadap pertumbuhan tanaman sudah nampak pada 20 HST dengan tolok ukur jumlah cabang.
Hasil dari penelitian ini sama dengan pernyataan Tjitrosoepomo (1999) bahwa jumlah daun akan seiring dengan banyaknya cabang yang muncul. Jumlah daun terkecil pada P9, hal yang sama terjadi pada jumlah cabang P9 termasuk kecil nilainya.
Luas Daun
Pertumbuhan tanaman kacang tanah dengan tolok ukur luas daun dipengaruhi secara sangat nyata oleh perlakuan pemupukan organik dan anorganik pada 40 dan 60 HST. Nilai luas daun pada 20, 40, dan 60 HST dicantum pada Tabel 6.
Tabel 6 Nilai Rata-Rata Luas Daun Kacang Tanah pada Berbagai Aplikasi Pupuk Organik dan Pupuk Anorganik
Hari setelah tanam Perlakuan 20 40 60 ....cm2... P1 119.4 449.6bc 456.8ab P2 142.3 304.8d 378.9bcd P3 141.3 461.4ab 506.1a P4 122.9 217.8e 274.2e P5 110.6 506.6a 528.7a P6 113.3 451.2bc 486.2ab P7 87.9 232.0e 318.1de P8 114.8 308.2d 351.1cde P9 145.7 402.5c 422.2abcd Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada kolom yang sama, berbeda
nyata pada taraf uji DMRT 5%.
PI = Pupuk anorganik dosis rekomendasi (20 kg/ha Urea, 45 kg/ha TSP dan 50 kg /ha KCl) P2 = Pupuk kandang kambing (5 ton/ha)
P3 = Pupuk kandang kambing (5 ton/ha) dan pupuk anorganik 20 kg/ha Urea, 45 kg/ha TSP, 50 kg/ha KCI
P4 = Inokulan rhizobium (40 g / 2000 M2)
P5 = Inokulan rhizobium (40 g / 2000 M2) dan pupuk anorganik 10 kg/ha Urea, 22.5 kg/ha TSP, 25 kg/ha KCI
P6 = Biokompos (5 ton /ha)
P7 = Inokulan rhizobium (40 g / 2000 M2), Biokompos (5 ton /ha). P8 = MTM (200 g/ha)
P9 = MTM (200 g/ha) dan pupuk anorganik 20 kg/ha Urea, 22.5 kg/Ha TSP, 25 kg/ha KCI
Berdasarkan Tabel 6 terlihat bahwa pada pengamatan 40 HST menunjukkan nilai luas daun kacang tanah yang tertinggi terdapat pada perlakuan P5 (Inokulan rhizobium, 10 kg/ha Urea, 22.5 kg/ha TSP, 25 kg/ha KCI) yang berbeda nyata dengan P1, P2, P4, P6, P7, P8 dan P9, tetapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan P3. Pada pengamatan 60 HST nilai luas daun tertinggi tanaman kacang tanah terdapat pada perlakuan P5 (Inokulan rhizobium, 10 kg/ha Urea, 22.5 kg/ha TSP, 25 kg/ha KCI) berbeda nyata dengan perlakuan P2, P4, P7 dan P8, tetapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan P1, P3, P6 dan P9.
Pada perlakuan P5 jumlah hara yang dibutuhkan untuk pertumbuhan vegetatif dan pembentukan daun cukup tersedia bagi tanaman, selain hara didapat
dari fiksasi N2 bakteri rhizobium juga dari pemupukan N, P dan K.
Menurut Yahya (1994) bila tanaman menyerap N dalam jumlah berlebihan, maka pertumbuhan tanaman vigor, dan luas daun akan meningkat
Pada pengamatan 40 HST Luas daun terendah terdapat pada perlakuan P4 Inokulan rhizobium (40 g / 2000 m2) dan P7 (Inokulan rhizobium 40 g / 2000 M2), P6 (Biokompos 5 ton /ha). Pada pengamatan 60 HST nilai luas daun terendah pada P4, P7, dan P8. Pada 40 dan 60 HST daun tanaman kacang tanah sudah banyak sehingga ada daun-daun yang terna ungi daun lain. Daun yang ternaungi mempunyai luas daun lebih kecil. Menurut Gardner et al. (1991) luas daun yang rendah diduga karena daun tersebut terlindung, mempunyai laju asimilasi CO2 yang rendah sehingga memberikan sedikit asimilasi ke bagian yang
lain. peningkatan luas daun lebih lanjut hanya akan menaungi daun yang lebih bawah, yang kemudian tidak dapat menghasilkan cukup fotosintat untuk memenuhi kebutuhan respirasi dan yang mungkin menggunakan produk fotosintesis dari daun yang lain, sehingga akan mengakibatkan luas daun akan menjadi kecil.
Kandungan N, P dan K pada Daun
Perlakuan pemupukan organik dan anorganik pada tanaman kacang tanah tidak berpengaruh nyata terhadap kandungan N, P dan K daun yang dianalisis. Nilai rata-rata N, P dan K daun yang diamati pada 30 HST dicantum pada Tabel 7.
Kandungan N, P dan K pada penelitian ini diamati dari daunnya. Perlakuan pemupukan organik dan anorganik tidak mempengaruhi kandungan N, P dan K daun pada 30 HST. Hal ini diduga karena penambahan unsur N, P dan K yang dihasilkan berbagai pemupukan dialokasikan pada bagian lain, sehingga penggunaan daun sebagai bagian yang dianalisis kurang tepat.
Tabel 7 Nilai Rata-Rata Kandungan N, P Dan K Daun Kacang Tanah pada Berbagai Aplikasi Pupuk Organik dan Pupuk Anorganik 30 HST
Perlakuan N (%) P (%) K (%) P1 3.94 0.56 1.64 P2 3.82 0.50 1.38 P3 3.90 0.45 1.28 P4 4.04 0.50 1.14 P5 3.90 0.51 1.13 P6 4.03 0.53 1.06 P7 4.17 0.50 1.21 P8 3.84 0.52 1.24 P9 4.12 0.59 1.26
Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada kolom yang sama, berbeda nyata pada taraf uji DMRT 5%.
PI = Pupuk anorganik dosis rekomendasi (20 kg/ha Urea, 45 kg/ha TSP dan 50 kg /ha KCl) P2 = Pupuk kandang kambing (5 ton/ha)
P3 = Pupuk kandang kambing (5 ton/ha) dan pupuk anorganik 20 kg/ha Urea, 45 kg/ha TSP, 50 kg/ha KCI
P4 = Inokulan rhizobium (40 g / 2000 M2)
P5 = Inokulan rhizobium (40 g / 2000 M2) dan pupuk anorganik 10 kg/ha Urea, 22.5 kg/ha TSP, 25 kg/ha KCI
P6 = Biokompos (5 ton /ha)
P7 = Inokulan rhizobium (40 g / 2000 M2), Biokompos (5 ton /ha). P8 = MTM (200 g/ha)
P9 = MTM (200 g/ha) dan pupuk anorganik 20 kg/ha Urea, 22.5 kg/Ha TSP, 25 kg/ha KCI
Tidak nyatanya pengaruh aplikasi pupuk organik dan anorganik terhadap N, P dan K daun, dimana kandungan N, P dan K daun tanaman sudah mulai berkurang karena telah ditranslokasi untuk pertumbuhan generatif. Hal ini terbukti dengan tanaman telah mulai berbunga pada saat pengambilan sampel. Menurut Hidayat dan Ismunadji (1978), kandungan N, P dan K pada daun menur un dengan bertambahnya umur tanaman. Pada waktu pembentukan benih ± 75% N, P dan K yang terdapat dalam tanaman terakumulasi ke dalam benih (Ismunadji 1974). Hal ini lebih tepat menganalisis N, P dan K dengan menggunakan benih.
Jumlah Bintil Akar, Bobot Basah Bintil Akar dan Bobot Kering Bintil Akar. Jumlah bintil akar, bobot basah bintil akar dan bobot kering bintil akar dipengaruhi secara nyata oleh perlakuan pemupukan organik dan anorganik. Nilai rata-rata Jumlah bintil akar, bobot basah bintil akar dan bobot kering bintil akar dicantumkan pada Tabel 8.
Tabel 8 Nilai Rata-Rata Jumlah Bintil Akar, Bobot Basah Bintil Akar dan Bobot Kering Bintil Akar Tanaman Kacang Tanah pada Berbagai Aplikasi Pupuk Organik dan Pupuk Anorganik Pada 30 HST
Perlakuan Jumlah bintil Akar/tanaman Bobot basah Bintil akar/tananaman (g)
Bobot kering Bintil akar/tanaman (g) P1 85.73ab 1.82c 0.34cd P2 91.83a 1.81c 0.40bc P3 69.73cd 1.48e 0.34cd P4 76.36bc 0.56g 0.33d P5 38.03e 0.85f 0.14f P6 90.97a 1.39c 0.39bcd P7 65.00d 2.27b 0.44b P8 98.40a 3.22a 0.74a P9 78.87bc 1.64d 0.22e
Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada kolom yang sama, berbeda nyata pada taraf uji DMRT 5%.
PI = Pupuk anorganik dosis rekomendasi (20 kg/ha Urea, 45 kg/ha TSP dan 50 kg /ha KCl) P2 = Pupuk kandang kambing (5 ton/ha)
P3 = Pupuk kandang kambing (5 ton/ha) dan pupuk anorganik 20 kg/ha Urea, 45 kg/ha TSP, 50 kg/ha KCI
P4 = Inokulan rhizobium (40 g / 2000 M2)
P5 = Inokulan rhizobium (40 g / 2000 M2) dan pupuk anorganik 10 kg/ha Urea, 22.5 kg/ha TSP, 25 kg/ha KCI
P6 = Biokompos (5 ton /ha)
P7 = Inokulan rhizobium (40 g / 2000 M2), Biokompos (5 ton /ha). P8 = MTM (200 g/ha)
P9 = MTM (200 g/ha) dan pupuk anorganik 20 kg/ha Urea, 22.5 kg/Ha TSP, 25 kg/ha KCI
Berdasarkan Tabel 8 terlihat bahwa pengamatan jumlah bintil akar yang tertinggi terdapat pada perlakuan P8 (MTM (200 g/ha) yang berbeda nyata dengan P3, P4, P5, P7, dan P9 serta tidak berbeda nyata dengan perlakuan P1, P2 dan P6. MTM lebih baik dari pada pupuk mikroorganisme yang lain seperti inokulan rhizobium tunggal maupun kombinasi dengan pupuk anorganik karena memberikan pengaruh positif terhadap pembentukan dan perkembangan bintil akar. Menurut Saraswati dan Kobayashi (1992) beberapa bakteri mampu berasosiasi dalam pembentukan akar serta efektif dan efisien dalam membentuk bintil akar pada tanaman dan melarutkan hara tanah, serta jumlah populasi mikroba yang membentuk bintil akar.
Mulder et al. (2005) menunjukkan bahwa terdapat beberapa phytohormon yang mempengaruhi pembentukan nodul akar tanaman legum yaitu etilen, auksin, dan sitokinin. Menurut Brewin dan Kardailsky (1977) selama perkembangan bintil akar, gen lektin berada di tiga tempat yaitu di permukaaan akar rambut, di
dalam bintil akar muda, dan di dalam bintil dewasa serta di permukaan akar rambut. Gen lektin berfungsi merangsang berkumpulnya bakteri untuk melakukan infeksi akar, dan di bintil akar muda gen lektin berfungsi untuk merangsang aktivitas mitosis dan di bintil akar dewasa berfungsi untuk menyalurkan cadangan nitrogen sehingga jumlah bintil yang terbentuk lebih banyak
Laju fiksasi N2 pada rhizobium selain dipengaruhi adanya mikroorganisme
lain juga tergantung faktor lingkungan dan tahap pertumbuhan tanaman. Perkembangan bint il akar sangat dipengaruhi faktor lingkungan, salah satunya suhu. Dimana suhu udara pada saat penelitian rata-rata sebesar 25.9oC /bulan dengan kelembapan udara (RH) sebesar 82 %/bulan, kondisi lingkungan ini sangat cocok untuk pembentukkan bintil akar. Sesuai dengan pendapat Imas et al. (1989) yang menyatakan bahwa suhu yang baik bagi nodulasi adalah suhu-suhu tanah yang dapat ditolerir oleh tumbuhan itu sendiri, suhu yang tidak terlampau dingin atau terlampau panas dapat meningkatkan jumlah bintil akar yang terbentuk dan berat bintil akar. Suhu tanah yang sesuai untuk pembentukan nodul yaitu berkisar antara 25-30 0C.
Jumlah bintil akar terendah dan berbeda nyata dengan tanaman perlakuan lain terdapat pada perlakuan P5 (Inokulan rhizobium, 10 kg/ha Urea, 22.5 kg/ha TSP, 25 kg/ha KCI). Hal ini diduga dengan adanya kadar nitrogen berlebih dalam tanah karena penambahan pupuk nitrogen, sehingga mengakibatkan bakteri rhizobium tidak bekerja dengan sempurna. Bakteri rhizobium akan giat mengadakan fiksasi N2 pada tanah yang kandungan N-nya rendah dan akan
berkurang pada tanah yang kandungan N-nya tinggi. Oleh karena itu , pemupukan nitrogen yang berlebihan dapat menghambat aktivitas rhizobium dalam menambat N2 dari udara dan N tanah sehingga jumlah bintil akar yang terbentuk menjadi
rendah (Imas et al. 1989)
Pengamatan bobot basah bintil akar yang tertinggi terdapat pada perlakuan P8 (MTM 200g/ha) yang berbeda nyata dengan P1, P2, P3, P4, P5, P6, P7 dan P9. Hal ini diduga ada pengaruh positif fosfat terhadap pemb entukan dan berat bintil akar, karena bakteri rhizobium, bakteri pelarut fosfat dan cendawan mikroriza yang terdapat dalam pupuk MTM dapat memfiksasi N2 dan penyediaan unsur P
sebagai bahan dasar pembentukan bintil. Semakin banyaknya jumlah bintil akar maka akan semakin tinggi bobot basah bintil akar.
Pengamatan bobot basah bintil akar yang terendah terdapat pada perlakuan P4 (Inokulan rhizobium 40 g / 2000 M2) diduga inokulan rhizobium lebih efektif bila di kombinasikan dengan mikroorganisme lain seperti dengan bakteri pelarut fosfat dan mikorhiza dalam pupuk MTM.
Bobot kering bintil akar tertinggi terdapat pada perlakuan P8 yang berbeda nyata dengan semua perlakuan. Bobot kering bintil akar menunjukkan tren yang sama dengan tolok ukur jumlah bintil akar dan bobot basah bintil akar. MTM yang mengandung inokulan rhizobium, bakteri pelarut fosfat dan cendawan mikorhiza mampu menyediakan unsur N dan P yang cukup untuk tanaman kacang tanah. Aktivitas enzim nitrogenase dipengaruhi oleh adanya ketersediaan N dan P yang cukup, diduga aktivitas nitrogenase meningkat bila ketersediaan P tinggi. Nilai jumlah bintil akar, bobot basah bintil akar dan bobot kering bintil akar pada P8 sesuai dengan analisis Acetylene Reduction Assay (ARA)