• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pencapaian produksi tebu yang diharapkan tidak terlepas dari pengaruh komponen-komponen produksi. Berdasarkan ketersediaan data pada PTPN II Unit Kwala Bingai, komponen-komponen produksi tanaman tebu ialah hablur, SHS (Superior Head Sugar) dan tetes.

Berikut disajikan data komponen produksi tebu di PTPN II Unit Kwala Bingai selama lima tahun (2009-2013) pada tabel 2.

Tabel 2. Komponen produksi tebu di PTPN II Unit Kwala Bingai selama 5 tahun (2009-2013) Tahun Hablur SHS Tetes X1 X2 X3 2009 2010 2011 2012 2013 3.159.240 2.816.030 4.343.570 4.085.860 3.487.280 3.154.805 2.749.850 4.431.196 4.088.473 3.487.399 10.863.939 2.395.060 3.977.984 3.083.533 2.545.553

Hasil uji korelasi pada komponen-komponen produksi tebu di PTPN II Unit Kwala Bingai, Kabupaten Langkat, dapat dilihat pada tabel 3.

Tabel 3. Uji korelasi pada komponen-komponen produksi tebu

Variabel Statistik Uji

Variabel Hablur SHS SHS Pearson Corelation 0.981** Sig. (2-tailed) 0.000 Tetes Pearson Corelation 0.413* 0.439* Sig. (2-tailed) 0.001 0.013

Keterangan : ** = Berbeda sangat nyata pada taraf uji 1% * = Berbeda sangat nyata pada taraf uji 5%

Dari tabel 3 diketahui bahwa nilai pearson correlation (koefisien korelasi) yang menunjukkan korelasi yang sangat kuat antara variabel hablur dengan SHS yaitu sebesar 98,1%. Korelasi yang sangat kuat memperlihatkan bahwa berpengaruhnya komponen produksi terhadap pencapaiaan produksi tebu. Sedangkan korelasi antara variabel hablur dengan tetes dan variabel SHS dengan tetes menunjukkan korelasi yang cukup yaitu 41,3% dan 43,9%.

Dari hasil uji korelasi pada komponen (hablur, SHS, tetes) selama 5 tahun (2009, 2010, 2011, 2012, 2013) pada tanaman tebu menunjukkan hubungan yang nyata, searah dan sangat kuat antara varibel hablur dan SHS.

Dari tabel 3 diatas hasil uji korelasi menunjukkan bahwa terdapat angka signifikan yang baik antara variabel hablur dan SHS dilihat dari hasil signifikansi lebih kecil dari 1% (sig < α 0,01).

Data rataan produksi tebu (kg/bulan) pada tabel 4, curah hujan (mm/bulan) pada tabel 5, dan hari hujan (hari/bulan) pada tabel 6 selama 5 tahun (2009, 2010,

2011, 2012, 2013) di PTPN II Kebun Kwala Bingai, Kota Stabat, Kabupaten Langkat pada tanaman tebu selama 5 tahun (2009, 2010, 2011, 2012, 2013).

Dari hasil uji regresi linear berganda pada tabel 11 yang di dapat dari data rataan produksi tebu (kg/bulan), curah hujan (mm/bulan) dan hari hujan (hari/bulan) selama 5 tahun (2009, 2010, 2011, 2012, 2013) menunjukkan bahwa jumlah curah hujan dan banyaknya hari hujan berpengaruh nyata meningkatkan produksi tebu.

Dari hasil uji korelasi produksi tebu (kg/bulan), curah hujan (mm/bulan) dan hari hujan (hari/bulan) selama 5 tahun (2009, 2010, 2011, 2012, 2013) pada tanaman tebu pada tabel 13 menunjukkan hubungan yang kuat antara variabel curah hujan dengan hari hujan yang berpengaruh terhadap produksi tebu.

Analisis korelasi juga memperlihatkan arah korelasi yang searah atau yang berlawanan arah yang dapat dilihat dari nilai koefisien yang bernilai positif atau negatif. Hubungan searah ditunjukkan oleh tiga komponen produksi antara variabel hablur dengan SHS, variabel SHS dengan tetes, dan variabel hablur dengan tetes. Jumlah SHS per kilogram diduga berpengaruh terhadap dua komponen produksi yaitu hablur dan tetes.

Nilai korelasi pada ketiga komponen produksi memiliki hubungan nyata, searah, dan sangat kuat antara variabel hablur dengan SHS. Hasil korelasi ini dapat diartikan bahwa semakin besar jumlah hablur semakin besar pula jumlah SHS terhadap pencapaiaan produksi tebu yang diharapkan. Hal ini disebabkan oleh hablur yang diamati dihasilkan oleh tanaman tebu dimana tanaman tersebut berumur dewasa dan optimal (posisi puncak). Pada komposisi umur tanaman

dewasa dan optimal akan menghasilkan hablur yang lebih banyak dibandingkan tanaman remaja atau muda. Selain itu, hablur juga dipengaruhi oleh SHS. Komposisi umur tanaman berubah setiap tahunnya sehingga juga berpengaruh terhadap pencapaiaan produksi per hektar per tahunnya. Produksi tebu yang dihasilkan tanaman tebu diumur dewasa akan lebih banyak dan beratnya lebih banyak dibandingkan tanaman tebu berumur muda.

Produksi Tebu (kg), Curah Hujan (mm) dan Hari Hujan (hari) pada Tanaman Tebu Selama 5 Tahun

Data rataan produksi tebu (kg/bulan) selama 5 tahun (2009-2013) dari PTPN II Kebun Kwala Bingai pada tanaman tebu dapat dilihat pada tabel 4.

Tabel 4. Rataan produksi tebu (kg/bulan) selama 5 tahun (2009-2013)

Bulan Tahun Rataan 2009 2010 2011 2012 2013 Januari 0 5.244.720 0 0 0 1.048.944 Februari 12.694.720 9.800.180 7.473.240 12.670.600 9.717.750 10.471.298 Maret 15.947.720 8.689.500 17.794.790 17.078.890 14.542.910 14.810.762 April 10.665.280 6.464.010 16.695.910 10.696.250 10.455.860 10.995.462 Mei 9.552.450 7.524.060 13.104.870 10.435.070 12.385.030 10.600.296 Juni 7.230.270 7.685.270 11.290.240 2.564.130 3.594.230 6.472.828 Juli 0 575.08 9.466.380 576.94 65.686 2.255.052 Agustus 0 0 0 12.738.870 0 2.547.774 Total 56.090.440 45.982.820 75.825.430 66.760.750 51.352.640

Dari tabel 4 dapat dilihat bahwa rataan produksi tebu tertinggi pada tanaman tebu terdapat pada bulan Maret sebesar 14.810.762 kg/bulan dan rataan

terendah terdapat pada bulan Juli sebesar 2.255.052 kg per bulan. Berikut disajikan grafik perkembangan produksi tebu (kg) pada tanaman tebu selama 5 tahun (2009-2013) pada gambar 1.

Gambar 1. Grafik perkembangan produksi tebu (kg/bulan) selama 5 tahun (2009-2013).

Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa tahun 2009 tanaman tebu, total produksi tebu tertinggi terdapat pada bulan Maret sebesar 15.947,720 ton dan total terendah terdapat pada bulan Juni sebesar 7.230,270 ton. Pada tahun 2010, total produksi tebu tertinggi terdapat pada bulan Februari sebesar 9.800,180 ton dan total terendah terdapat pada bulan Juli sebesar 575,080 ton. Pada tahun 2011, total produksi tebu tertinggi terdapat pada bulan Maret sebesar 17.794,790 ton dan total terendah produksi tebu terdapat pada bulan Februari sebesar 7.473,240 ton. Pada tahun 2012, total produksi tebu tertinggi terdapat pada bulan Februari 17.078,890 ton dan total terendah terdapat pada bulan Juli sebesar 579,640 ton. Pada tahun

0 2000 4000 6000 8000 10000 12000 14000 16000 18000 20000 1 2 3 4 5 6 7 8 R at aan P rod u k si ( ton /h a) Bulan 2009 2010 2011 2012 2013

2013, total produksi tebu tertinggi terdapat pada bulan Maret sebesar 14.542,910 ton dan total terendah terdapat pada bulan Juli sebesar 656,860 ton.

Data rataan curah hujan (mm/bulan) selama 5 tahun (2009-2013) dari PTPN II Kebun Kwala Bingai pada tanaman tebu dapat dilihat pada tabel 5.

Tabel 5. Rataan Curah Hujan (mm/bulan) pada tanaman tebu selama 5 tahun (2009-2013) Bulan Tahun Rataan 2009 2010 2011 2012 2013 Januari 99.00 92.66 86.83 131.33 154.66 112.90 Februari 22.50 12.50 16.16 152.00 254.50 91.53 Maret 219.16 85.66 212.33 135.16 42.50 138.96 April 229.50 49.00 107.66 286.16 124.16 159.30 Mei 412.83 156.16 173.33 356.33 159.83 251.70 Juni 81.50 173.33 246.50 50.00 78.00 125.87 Juli 143.83 171.66 159.50 108.66 268.00 170.33 Agustus 303.00 150.66 165.33 180.66 159.83 191.90 September 213.66 152.83 130.50 336.66 153.16 197.36 Oktober 360.00 148.00 220.00 283.16 682.66 338.76 November 132.33 190.33 107.50 385.66 77.16 178.60 Desember 123.16 209.50 233.83 149.66 207.66 184.76 Total 2340.47 1592.29 1859.47 2555.44 2362.12

Dari tabel 5 dapat dilihat bahwa rataan curah hujan tertinggi pada tanaman tebu terdapat pada bulan Oktober sebesar 338,76 mm/bulan dan rataan terendah terdapat pada bulan Februari sebesar 91,53 mm/bulan. Berikut disajikan grafik

perkembangan curah hujan (mm) pada tanaman tebu selama 5 tahun (2009-2013) pada gambar 2.

Gambar 2. Grafik perkembangan curah hujan (mm/bulan) selama 5 tahun di kebun Kwala Bingai.

Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa tahun 2009 pada tanaman tebu, total curah hujan tertinggi terdapat pada bulan Mei sebesar 412,83 mm dan total terendah terdapat pada bulan Februari sebesar 22,50 mm. Pada tahun 2010, total curah hujan tertinggi terdapat pada bulan Desember sebesar 209,50 mm dan total terendah terdapat pada bulan Februari sebesar 12,50 mm. Pada tahun 2011, total curah hujan tertinggi terdapat pada bulan Desember sebesar 233,83 mm dan total terendah terdapat pada bulan Februari sebesar 16,16 mm. Pada tahun 2012 total curah hujan tertinggi terdapat pada bulan November sebesar 385,66 mm dan total terendah terdapat pada bulan Juni sebesar 50,00 mm. Pada tahun 2013, total curah

0 100 200 300 400 500 600 700 800 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 C ur ah H uj an ( m m ) Bulan 2009 2010 2011 2012 2013

hujan tertinggi terdapat pada bulan Oktober sebesar 682,66 mm dan total terendah terdapat pada bulan Maret sebesar 42,50 mm.

Data rataan hari hujan (hari/bulan) pada tanaman tebu selama 5 tahun (2009-2013) dari PTPN II Kebun Kwala Bingai pada tanaman tebu dapat dilihat pada tabel 6.

Tabel 6. Rataan hari hujan (hari/bulan) pada tanaman tebu selama 5 tahun (2009-2013) Bulan Tahun Rataan 2009 2010 2011 2012 2013 Januari 4.00 6.83 7.83 6.33 6.50 6.29 Februari 1.00 1.83 1.50 7.33 10.50 4.43 Maret 10.33 4.83 9.00 7.33 2.16 6.73 April 9.50 2.83 5.16 10.66 5.50 6.73 Mei 13.66 6.16 10.00 11.83 8.50 10.03 Juni 3.16 8.66 8.66 3.33 4.66 5.69 Juli 6.16 4.66 8.16 5.00 9.00 6.59 Agustus 9.00 5.50 4.83 8.33 7.16 6.96 September 8.66 7.50 7.50 10.00 11.00 8.93 Oktober 13.66 6.66 10.66 10.66 15.33 11.39 November 8.00 12.00 8.00 14.00 11.50 10.70 Desember 5.66 11.50 10.00 7.83 11.00 9.19 Total 92.83 79.00 91.33 102.66 102.83

Dari Tabel 6 dapat dilihat bahwa rataan hari hujan tertinggi pada tanaman tebu terdapat pada bulan Oktober sebesar 11 hari/bulan dan rataan terendah

terdapat pada bulan Februari sebesar 4 hari/bulan. Berikut disajikan grafik perkembangan hari hujan (hari) pada tanaman tebu selama 5 tahun (2009-2013) pada gambar 3.

Gambar 3. Grafik perkembangan hari hujan (hari/bulan) pada tanaman tebu selama 5 tahun.

Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa pada tahun 2009 pada tanaman tebu, total hari hujan tertinggi terdapat pada bulan Mei dan Oktober sebesar 13 hari/bulan dan total terendah terdapat pada bulan Februari sebesar 1 hari/bulan. Pada tahun 2010, total hari hujan tertinggi terdapat pada bulan November sebesar 12 hari/bulan dan total terendah terdapat pada bulan Februari sebesar 1 hari/bulan. Pada tahun 2011, total hari hujan tertinggi terdapat pada bulan Oktober sebesar 10 hari/bulan dan total terendah terdapat pada bulan Februari sebesar 1 hari/bulan. Pada tahun 2012, total hari hujan tertinggi terdapat pada bulan November sebesar 14 hari/bulan dan total terendah terdapat pada bulan Juni sebesar 3 hari/bulan.

0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Har i Hu jan ( Har i) Bulan 2009 2010 2011 2012 2013

Pada tahun 2013, total hari hujan tertinggi terdapat pada bulan Oktober sebesar 15 hari/bulan dan total terendah terdapat pada bulan Maret sebesar 2 hari/bulan.

Hubungan Curah Hujan dan Hari Hujan Terhadap Produksi Tebu

Pola hujan tahunan mempengaruhi perilaku pertumbuhan dan produksi tebu. Curah hujan yang tinggi mendorong peningkatan pertumbuhan pelepah daun. Kadar air di dalam pelepah daun mempunyai korelasi positif dengan kecepatan tumbuh karena dimasa kecilnya pertumbuhan berjalan cepat, maka kadar air pada pelepah daun tinggi. Untuk melihat hubungan curah hujan dan hari hujan terhadap produksi tebu selama 5 tahun (2009-2013) dapat dilihat pada tabel 7.

Tabel 7. Rataan produksi tebu, curah hujan dan hari hujan pada tanaman tebu selama 5 tahun (2009-2013)

Bulan

Rataan

Produksi Tebu Curah Hujan Hari Hujan

(kg) (mm) (hari) Januari 1.048.944 112.896 6.298 Februari 10.471.298 91.532 4.432 Maret 14.810.762 138.962 6.730 April 10.995.462 159.296 6.730 Mei 10.600.296 251.696 10.030 Juni 6.472.828 125.866 5.694 Juli 2.255.052 170.330 6.596 Agustus 2.547.774 191.896 6.964 Total 59.202.416 2.141.958 93.698

Dari tabel 7 dapat diketahui bahwa total rataan produksi tebu pada tanaman tebu selama 5 tahun (2009-2013) sebesar 59.202,416 ton sedangkan total rataan curah hujan sebesar 2141,958 mm dan total rataan hari hujan sebesar 93 hari.

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa rataan produksi tertinggi pada tanaman tebu selama 5 tahun (2009-2013) terdapat pada bulan Maret sebesar 14.810,76 ton/bulan dan rataan produksi terendah terdapat pada bulan Januari sebesar 1048,94 ton/bulan. Rataan curah hujan tertinggi terdapat pada bulan Mei sebesar 251,69 mm/bulan dan rataan curah hujan terendah terdapat di bulan Februari sebesar 91,53 mm/bulan sedangkan rataan hari hujan tertinggi terdapat pada bulan Mei sebesar 10 hari/bulan dan rataan hari hujan terendah terdapat pada bulan februari sebesar 4 hari/bulan.

Analisis Data

Analisis produksi tebu pada tahun 2009, 2010, 2011, 2012, 2013 di PTPN II Kebun Kwala Bingai dilakukan dengan menggunakan analisis regresi linear berganda dan analisis korelasi. Analisis linear berganda untuk mengetahui apakah variabel curah hujan dan hari hujan akan memberikan pengaruh terhadap produksi tebu. Analisis korelasi berguna untuk melihat kuat lemahnya hubungan antara variabel bebas dan terikat. Alat bantu untuk mengolah data menggunakan SPSS.v.17 for windows.

Analisis Regresi Linear Berganda

Dalam uji regresi berganda dikenal nilai koefisien korelasi (R), koefisien determinasi (R2), dan koefisien determinasi terkoreksi (Adjusted R2). Koefisien

korelasi (R) digunakan untuk melihat besarnya hubungan antar variabel bebas dan variabel terikat. Koefisien determinasi (R2) digunakan untuk mengetahui persentase sumbangan pengaruh serentak variabel-variabel bebas terhadap varabel terikat. Berikut disajikan nilai koefisien pada model persamaan regresi linear berganda pada tanaman tebu selama 5 tahun (2009-2013) di PTPN II Kebun Kwala Bingai pada tabel 8.

Tabel 8. Nilai koefisien persamaan regresi linear berganda pada tanaman tebu selama 5 tahun (2009-2013)

Model

Nilai Koefisien

R R2 Adjusted R2

Produksi Tebu 0.376 0.141 0.08

Pada tabel 8 dapat diperoleh bahwa pada tanaman tebu nilai koefisien (R) sebesar 37,6 %, koefisien determinasi (R2) sebesar 14,1 % dan kofisien determinasi terkoreksi (Adjusted R2) sebesar 8 %. Nilai koefisien (R) sebesar 37,6 % menunjukkan besarnya hubungan variabel hubungan curah hujan dan hari hujan terhadap variabel produksi tebu selama 5 tahun ialah lemah (dilihat pada tabel 8). Koefisien determinasi (R2) menandakan bahwa 14,1% variasi produksi tebu dapat dijelaskan oleh variasi variabel curah hujan dan hari hujan yang terjadi dan sisanya sebesar 85,9 % dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan ke dalam model.

Uji t-parsial dilakukan dengan membandingkan nilai t-hitung dengan nilai t-tabel. Berikut disajikan uji t-parsial pada tanaman tebu selama 5 tahun (2009-2013) pada tabel 9.

Tabel 9. Uji t-parsial curah hujan dan hari hujan pada tanaman tebu Selama 5 tahun (2009-2013) Peubah Tebu t-hitung Sig Curah Hujan -1,657 0.109tn Hari Hujan 2.038 0.051tn

Keterangan : tn : tidak berbeda nyata

Hasil uji t-parsial di atas,terlihat bahwa nilai signifikansi pada tanaman tebu lebih besar dari alpha 5% (Sig > α 0,05), maka dapat dikatakan t-hitung berbeda tidak nyata pada taraf kepercayaan 95% dengan nilai t-tabel sebesar 2.048. Variabel yang berpengaruh tidak nyata adalah curah hujan dengan nilai hitung 1,657 dan nilai signifikansi sebesar 0,109 serta hari hujan dengan nilai t-hitung sebesar 2,038 dan nilai signifikansi sebesar 0,051. Berikut disajikan analisis sidik ragam untuk persamaan regresi linear berganda variabel curah hujan dan hari hujan pada tanaman tebu selama 5 tahun (2009-2013) pada tabel 10.

Tabel 10. Sidik ragam persamaan regresi linear berganda pada tanaman tebu selama 5 tahun (2009-2013)

Tahun

Sumber Derajat Jumlah Kuadrat

F-Hitung Sig. Keragaman Kebebasan Kuadrat Tengah

5 Tahun

Regresi 2 945400,13 472700,13 2,301 0,119 Residuan 28 575300,14 205500,13

Total 30 669800,14

Keterangan : tn = tidak berbeda nyata

Berdasarkan pendugaan model produksi diatas, pada tanaman tebu di tahun 2009-2013, diperoleh F-hitung sebesar 2,301 dengan F-tabel = 3,34 dan

nilai signifikansi pada uji ini adalah 0,119. Nilai signifikansi pada uji F lebih besar daripada alpha 5% (Sig > α 0,05), maka dapat dikatakan F-hitung berbeda tidak nyata pada taraf kepercayaan 95%. Hal tersebut mengartikan bahwa variabel curah hujan dan hari hujan pada model secara bersama-sama berpengaruh tidak nyata terhadap produksi tanaman tebu. Berikut disajikan hasil model pengujian analisis regresi linear berganda pada tanaman tebu selama 5 tahun (2009-2013) pada tabel 11.

Tabel 11. Model pengujian analisis regresi linear berganda pada tanaman tebu selama 5 tahun (2009-2013)

Tahun Variabel Koefisien Regresi Sig.

5 Tahun

Konstanta 5.970.216,787 0.007 Curah Hujan -38.624,866 0.109 Hari Hujan 1.413.214,829 0.051 Keterangan : tn = tidak berbeda nyata

Berdasarkan hasil analisis di atas , dapat di bentuk persamaan regresi yang dihasilkan oleh variabel curah hujan dan hari hujan dalam memprediksi produksi tebu pada tanaman tebu berikut ini :

Y = 5.970.216,78 – 38.624,87 X1 + 1.413.214,83 X2 + E

Model persamaan dapat diartikan bahwa setiap penambahan satu satuan nilai curah hujan akan menurunkan nilai produksi tebu sebesar -38.624,866 satuan dan setiap penambahan satu satuan nlai hari hujan akan menaikkan nilai produksi tebu sebesar 1.413.214,829 satuan.

Analisis Korelasi

Analisis korelasi berguna untuk melihat kuat-lemahnya hubungan antara variabel bebas dan terikat. Berikut disajikan interpretasi nilai R pada analisis korelasi pada Tabel 12.

Tabel 12. Interpretasi nilai R pada analisis korelasi

Nilai R Interpretasi

0,00 Tidak ada korelasi

0,01-0,20 Sangat lemah 0,21-0,40 Lemah 0,41-0,60 Agak lemah 0,61-0,80 Cukup 0,81-0,99 Kuat 1,00 Sangat kuat

Sumber: Husain dan Setiadi, 1995

Berikut disajikan hasil analisis korelasi antara variabel produksi tebu, curah hujan dan hari hujan pada tanaman tebu selama 5 tahun (2009-2013) pada tabel 13.

Tabel 13. Uji analisis korelasi pada tanaman tebu selama 5 tahun (2009-2013)

Variabel Statistik Uji

Variabel

Produksi Curah Hari

Tebu Hujan Hujan

Produksi Tebu Pearson Correltion 1 0.117 0.239

Curah Hujan 0.117 1 0.932

Hari Hujan 0.239 0.932** 1

Produksi Tebu 0.265 0.098

Curah Hujan Sig. (2-tailed) 0.265 -

Hari Hujan 0.098 -

Produksi Tebu 31 31 31

Curah Hujan N 31 31 31

Hari Hujan 31 31 31

Keterangan : ** = berbeda sangat nyata pada uji taraf 1%

Hasil uji analisis korelasi diatas, tanaman tebu menunjukan hubungan keeratan yang kuat antara variabel curah hujan dan hari hujan yaitu 0,932. Hubungan yang kuat memperlihatkan berpengaruhnya antara variabel curah hujan dan hari hujan terhadap pencapaian produksi tebu. Hal ini terlihat dari nilai signifikasi lebih kecil dari 1% (sig < α 0,01) dan korelasi lainnya memperlihatkan hubungan keeratan yang agak lemah dan lemah terhadap pencapaian produksi tebu yang disebabkan nilai signifikasi lebih besar dari 1% (sig > α 0,01). Korelasi terlemah pada tanaman tebu terjadi pada variabel produksi tebu dengan curah hujan yaitu dengan sebesar 0,117.

Uji Asumsi Klasik

Dilakukan untuk mengetahui apakah persamaan regresi berganda layak atau tidak untuk digunakan. Uji asumsi klasik terdiri dari uji normalitas, uji heteroskedastisitas, uji multikolinearitas dan uji autokorelasi.

Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah populasi data berdistribusi normal atau tidak. Persyaratan uji normalitas adalah data berdistribusi normal. Data dianalisis dengan uji One Sample Kolmogoro-Smirnov pada taraf uji 0,05. Data dinyatakan berdistribusi normal jika nilai signifikansi lebih besar dari 0,05 (sig > α 0,05). Untuk persamaan regresi pada tanaman tebu diproleh nilai Kolmogoro-Smirnov dan nilai signifikansi yaitu 0,865 (α = 0,600) (Lampiran 9) yang berarti data terdistribusi dengan normal.

Uji Heteroskedastisitas digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya penyimpangan asumsi klasik heteroskedastisitas yaitu adanya ketidaksamaan varian dan residual untuk semua pengamatan pada model regresi. Pra syarat yang harus terpenuhi pada model regresi adalah tidak adanya gejala heteroskedastisitas atau biasa disebut homoskedastisitas. Metode pengujian yang digunakan ialah uji Glejser. Uji Glejser dilakukan dengan meregresikan absolute residual terhadap variabel independen lainnya. Jika nilai β signifikan maka mengindikasikan terdapat heteroskedastisitas dalam model. Berikut disajikan uji heteroskedastisitas menggunakan uji Glejser pada model persamaan regresi linear berganda pada tanaman tebu selama 5 tahun (2009-2013) pada tabel 14 (Lampiran 10).

Tabel 14. Nilai signifikansi pada uji heteroskedastisitas pada tanaman tebu selama 5 tahun (2009-2013)

Tahun Variabel Sig.

5 Tahun

Konstanta 0

Curah Hujan 0.156

Hari Hujan 0.133

Berdasarkan uji heteroskedastisitas diatas menunjukkan bahwa variabel curah hujan memiliki nilai signifikansi pada tanaman tebu selama 5 tahun yaitu sebesar 0,156 sedangkan variabel hari hujan memiliki nilai signifikansi sebesar 0,133. Variabel curah hujan dan hari hujan memiliki nilai signifikansi diatas 0,01 dalam model ini sehingga memiliki sebaran varian yang sama (homogen). Dengan kata lain, tidak terdapat heteroskedastisitas pada model ini.

Uji multikolinealitas digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan linear antar variabel independen dalam model regresi. Prasyarat yang harus terpenuhi dalam model regresi adalah tidak adanya multikolinealitas. Uji multikolinealitas dilakukan dengan melihat varian inflation factor (VIF) dan nilai Tolerance pada model regresi. Model regresi yang baik ialah tidak terjadi multikolinearitas yang dibuktikan dengan nilai VIF < 5 dan nilai Tolerance > 0,1. Berikut disajikan nilai VIF dan Tolerance model regresi linear berganda pada produksi tebu selama 5 tahun (2009-2013) di PTPN II Kebun Kwala Bingai pada tabel 15 (Lampiran 7).

Tabel 15. Uji Multikolinealitas nilai VIF dan Tolerance pada tanaman tebu selama 5 tahun (2009-2013)

Tahun Variabel Tolerance VIF

5 Tahun

Curah Hujan 0.131 7.613

Hari Hujan 0.131 7.613

Berdasarkan hasil uji multikolinearitas diatas diproleh nilai VIF yang lebih besar dari 5 dan nilai Tolerance lebih besar dari 0,1 untuk kedua variabel diuji dapat diartikan bahwa terdapat sedikit multikolinearitas pada model persamaan regresi tersebut.

Uji autokorelasi digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya penyimpangan yang terjadi antara residual pada satu pengamatan dengan pengamatan lain pada model regresi. Untuk mengetahui ada tidaknya autokorelasi dapat dilihat dari nilai Durbin Watson (d) yang dibandingkan dengan nilai dari tabel Durbin Watson (Lampiran 11). Untuk model persamaan regresi pada tanaman tebu diatas, diproleh nilai Durbin Watson (d) ialah 1,242 dengan nilai dL = 1,30 nilai dU = 1,57 dari tabel Durbin Watson.

Berdasarkan pada kriteria uji autokorelasi, jika d terletak pada 0 dan dL, maka autokorelasi positif, jika d terletak antara dL dan dU atau diantara (4-dU) dan (4-dL), maka tidak dapat disimpulkan, jika d terletak antara dU dan 4-dU, maka tidak ada autokorelasi, jika d terletak antara 4-dL dan 4, maka ada autokorelasi negatif. Oleh karena itu, pada persamaan regresi pada tanaman tebu selama 5 tahun maka autokorelasi positif karena d terletak antara 0 dan dL. Dari

keempat uji asumsi tersebut dinyatakan bahwa persamaan regresi pada tanaman tebu selama 5 tahun telah memenuhi syarat.

Pengaruh Curah Hujan (mm) dan Hari hujan (hari) Terhadap Produksi

Tebu pada Tanaman Tebu Selama 5 Tahun

Dalam Indra wanto,dkk (2010) menyatakan bahwa tanaman tebu dapat tumbuh dengan baik di daerah dengah curah hujan berkisar antara 1.000-1300 mm per tahun dengan sekurang-kurangnya 3 bulan kering. Distribusi curah hujan yang ideal untuk pertanaman tebu adalah: pada periode pertumbuhan vegetatif diperlukan curah hujan yang tinggi (200 mm per bulan) selama 5-6 bulan. Periode selanjutnya selama 2 bulan dengan curah hujan 125 mm dan 4 – 5 bulan dengan curah hujan kurang dari 75 mm/bulan yang merupakan periode kering. Periode ini merupakan periode pertumbuhan generatif dan pemasakan tebu.

Berdasarkan data curah hujan di PTPN II Unit Kwala Bingai, klasifikasi iklim menurut Schimidth-Ferguson termasuk ke dalam tipe A yaitu daerah sangat basah (Lampiran 3). Data curah hujan tertinggi terdapat pada tahun 2012 sebesar 2555 mm/tahun dengan rataan bulan basah sebanyak 11 bulan dan rataan bulan kering sebanyak 1 bulan, dan curah hujan terendah terdapat pada tahun 2010 sebesar 1592,33 mm/tahun dengan rataan bulan basah sebanyak 8 bulan dan rataan bulan kering sebanyak 2 bulan (Lampiran 2). Data rataan curah hujan pada tanaman tebu di PTPN II Unit Kwala Bingai ialah 2.141,89 mm/tahun sedangkan rataan hari hujan tahunan ialah 93 hari . Oleh karena itu jumlah curah hujan sudah sesuai dengan kebutuhan dan syarat tumbuh tanaman tebu.

Berdasarkan hasil analisis regresi, diperoleh nilai koefisien regresi curah hujan selama 5 tahun (2009-2010) pada tanaman tebu memiliki tanda negatif

sebesar 38624,866 (Tabel 11). Hal tersebut mengartikan bahwa setiap penambahan satu millimeter curah hujan maka akan menurunkan produksi tebu sebesar 38624,866 kg dengan asumsi variabel lain dianggap konstan. Sedangkan nilai koefisien regresi hari hujan memiliki tanda positif sebesar 1413214,829 (Tabel 11). Hal tersebut mengartikan bahwa setiap penambahan satu hari hujan maka akan menaikkan produksi tebu sebesar 1413214,829 kg dengan asumsi variabel lain dianggap konstan.

Hasil analisis secara serempak (uji-F) memperlihatkan bahwa variabel curah hujan yang berpengaruh tidak nyata pada taraf uji 5% terhadap produksi tebu. Nilai F-hitung pada analisis ini lebih kecil daripada nilai F-tabelnya yakni sebesar 2,301 (2,301 < 3,34) dengan signifikansi 0,119 (Sig > 0,05). Ini membuktikan bahwa curah hujan dan hari hujan secara bersama-sama (serempak) berpengaruh tidak nyata terhadap produksi tebu di PTPN II Unit Kwala Bingai.

Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa curah hujan dan hari hujan secara statistik berpengaruh tidak nyata terhadap produksi tebu pada tanaman tebu di PTPN II Kebun Kwala Bingai. Hal ini diduga disebabkan karena curah hujan terlalu tinggi juga akan berpengaruh kurang baik karena pertumbuhan vegetatif lebih dominan daripada pertumbuhan generatif sehingga bunga atau buah yang terbentuk relatif lebih sedikit. Selain itu, jumlah curah hujan yang terlalu tinggi akan menggangu kegiatan kebun seperti pemeliharaan tanaman, kelancaran

Dokumen terkait